Sumber : Harian Duta Masyarakat, Jumat, 22 Agustus 2008
Proyek Sudah Disusun, Saatnya Skenario Batu Dijalankan
Menguak Tabir Dana Dekon Pendidikan (4)
Pertemuan tripartit berjalan mulus. Kini saatnya para 'penghamba'
proyek ilegal menjalankan skenario Batu.
"Saatnya skenario dijalankan". Mungkin itulah yang ada di benak
rekanan yang terlibat pertemuan tripartit (Disdik Jatim, Kejati Jatim
& Rekanan) di Hotel Orchid Batu, 9 Juli 2008. Sebab, dari data
lapangan menunjukkan, marketing rekanan yang bersangkutan rajin
menagih komitmen itu.
Ya, tak salah jika banyak yang curiga atas pertemuan janggal
tripartit Hotel Orchid Batu. Aroma tak sedap di balik itu tampaknya
terlalu sulit untuk dihapus begitu saja.
Sebab, data lapangan yang dikumpulkan orang?orang Himpunan Pengusaha
Muda Indonesia (Hipmi) Jatim yang berniat memberantas praktik ilegal
di birokrasi Jatim, menunjukkan fakta yang selaras dengan kecurigaan-
kecurigaan itu.
Ketua Hipmi Jatim, Diar Kusuma Putra SE mengungkapkan, data lapangan
menunjukkan konsorsium rekanan PT BI aktif mendatangi Kepala Dinas
kabupaten/kota untuk proyek DAK dan Dekonsentrasi Pendidikan 2008. ?
Tujuannya jelas, menjalankan skenario merebut proyek yang sudah
disusun dengan cara-cara tidak fair dan tidak transparan,? katanya.
Disebutkannya, dari laporan-laporan yang masuk ke Hipmi, marketing
konsosorsium itu menagih komitmen pertemuan di Batu. ?Bapak/Ibu kan
datang di pertemuan di Batu Malang. Komitmennya jelas,? ujarnya
menirukan tekanan psikologis yang dilakukan marketing itu.
Sekadar mengingatkan, dalam pertemuan tripartit itu, kepala-kepala
dinas yang hadir merasa terintimidasi karena aparat penegak hukum
seolah menggiring agar menggunakan rekanan yang terlibat di pertemuan
Hotel Orchid Batu itu dengan menakut-nakuti akan ekses hukumnya.
Saat itu, dalam pertemuan yang justru diprakarsai Kejati Jatim
sebagai pengundang tersebut, ada kalimat-kalimat intimidatif secara
psikologis. ?Dari informasi yang kami terima, kalimat-kalimat yang
muncul, awas dipenjara, nanti kalau tidak dijalankan bisa
dikerangkeng dan lain-lain. Maksudnya apa? Yang omong seperti itu
malah penegak hukum,? kata Diar.
Meski demikian, Diar sedikit banyak mengaku bersyukur karena ada
beberapa Kadis yang berani melawan dominasi tersebut. Mereka berani
menolak marketing konsorsium itu meskipun posisinya terancam.
?Ada yang bilang pokoknya nurut aturan di Juklak & Juknis. Jadi,
semua suplier disilakan masuk menawarkan. Asalkan di verifikasi
barang sesuai dengan regulasi. Keberanian ini patut kita dorong,?
tambah Diar.
Apa ancaman itu, Diar mengatakan salah satunya ancaman tidak mendapat
proyek lagi untuk tahun depan. Dia mengungkapkan seorang Kadisdik di
Nganjuk mengatakan kalau berani melawan Genteng Kali (Kantor Kadisdik
Jatim, Ir Rasiyo, red), maka tidak akan mendapat proyek lagi di tahun
depan.(faisal/bersambung)