Skip to search.
Komunikasi_Empati · Komunikasi Empati

Group Information

  • Members: 270
  • Category: Social Sciences
  • Founded: Jul 8, 2006
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Messages

  Messages Help
Advanced
Kesadaran dan Kepastian Tidak Ada Hubungannya   Message List  
Reply Message #3965 of 5463 |
Kesadaran dan Kepastian Tidak Ada Hubungannya

Ditulis oleh: Liong Vincent Christian / Vincent Liong dan Anton Widjojo
Tempat, Hari dan Tanggal: Jakarta, Sabtu, 6 September 2008

>+==============================+<
note: artikel ini adalah rangkuman hasil kutip-mengkutip dari banyak artikel
kompatiologi berbeda, yang diurutkan ditambahkan dan disesuaikan sesuai tema
yang ingin disajikan penulis.
>+==============================+<




“Semenjak manusia sadar bahwa dia memiliki kesadaran diri, dan
kesadaran diri adalah sesuatu yang pasti, maka manusia menganggap semua ilmu
pengetahuan harus dibangun atas dasar kepastian. Sehingga semua pengetahuan yang
didapat dari pengalaman dan dan ketidak pastian tidak dapat dipandang sebagai
ilmu.
Tetapi jangan lupa kesadaran diri dan pengalaman tidaklah ada
hubungannya. Pengalaman akan menghasilkan pemahaman yang berbeda bagi tiap
individu. Jadi pengetahuan yang didapat dari pengalaman tidak dapat dengan
begitu saja dikatakan benar atau salah dengan memakai metode kepastian.”
(dikutip dari bagian Pendahuluan dari e-book “Kompatiologi Logika Komunikasi
Empati”)

-----

Orang yang memilih jalan hidup sebagai orang kebanyakan (95%) tidak secara
otomatis dapat dipastikan memiliki kewarasan, mengikuti norma dan peraturan yang
berlaku.
Menjadi orang yang memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan orang (5%)
tidak secara otomatis bisa dipastikan tidak memiliki kewarasan, tidak mengikuti
norma dan peraturan yang berlaku.

Orang gila adalah orang yang tidak menyadari kegilaannya, sehingga kegilaan
tersebut dapat muncul dengan tidak terkontrol; Kalau seseorang telah mampu
menyadari adanya kegilaan-kegilaan yang dimilikinya, maka tentunya orang
tersebut tidak akan melampiaskan kegilaannya di sembarang waktu dan tempat. Dia
hanya melampiaskannya pada tempat-tempat tertentu, di mana suatu kegilaan dapat
dilampiaskan tanpa merugikan pihak lain di luar diri kita. Sebab jika
pelampiasan kegilaan dilakukan pada waktu dan tempat yang salah, maka dapat
merugikan pihak lain, yang menimbulkan konsekwensi; orang lain tersebut akan
merespon dengan membalas merugikan diri kita.

-----

Umpamanya pada sebuah kehidupan di dunia malam dimana aturan budaya yang berlaku
melekat pada peran masing-masing individu di dalamnya;
Seorang konsumen mempunyai Hak dapat bertingkah sesuai dengan kemauannya, yang
jika dilakukan di luar wilayah kehidupan malam, tindakan itu dapat disebut
melecehkan, pada para wanita/pria penghibur di dalam ruangan tsb; dengan
Kewajiban membayar sesuai tarif yang berlaku.
Seorang wanita/pria penghibur memiliki Kewajiban untuk menerima perlakuan
konsumen Tanpa Memiliki Hak untuk menolak atau menunjukkan ketidaksenangannya;
dengan konsekwensi positifnya wanita/pria penghibur tsb memiliki Hak atas
bayaran uang dari konsumen sesuai tariff yang berlaku.
Dan para pelayan yang bekerja di dunia malam berKewajiban menghidangkan minuman
dan membersihkan sisa-sisa minuman tamu, tetap bertingkahlaku selayaknya orang
yang bekerja di wilayah 95% seperti layaknya sopan-santun pegawai; para pelayan
Tidak berHak untuk marah terhadap resiko bila terlecehkan oleh orang mabuk,
keuntungannya mereka berHak mendapatkan upah yang lebih dibandingkan mereka
menjadi pelayan di wilayah 95%.

Pelanggaran aturan terjadi bilamana; Seorang konsumen tidak melaksanakan
Kewajibannya membayar sesuai tarif yang berlaku, Seorang wanita/pria penghibur
dan pelayan marah karena dilecehkan konsumen. Seorang wanita/pria penghibur
menghalangi konsumen dalam memaksimalkan Hak-nya untuk melecehkan si wanita/pria
penghibur.

Aturan budaya yang melekat pada masing-masing peran di kehidupan dunia malam
baik kepada; si konsumen, si wanita/pria penghibur maupun si pelayan
menginjinkan setiap individu untuk memaksimalkan Hak-nya selama masih melunasi
Kewajibannya masing-masing. Si konsumen boleh merayu si wanita/pria penghibur
dan membuatnya mabuk agar kehilangan kontrol dan bisa dimaksimalkan untuk
dipermainkan lebih jauh. Si wanita/pria penghibur bisa berusaha merayu si
konsumen agar membeli service yang lebih sehingga mendapatkan uang tips dan uang
jasa yang lebih dari kesepakatan sebelumnya. Si pelayan bisa memberikan
pelayanan misalnya; pemesanan minuman yang cepat, membersihkan meja dari sampah
atau berprilaku lebih ramah dan ‘ringan tangan’ (suka membantu) agar
mendapatkan uang tips yang lebih.

Peraturan yang sama dari semuanya adalah aturan tentang fairness. Siapa yang
mendapatkan lebih dituntut lebih dan siapa yang mendapatkan kurang dituntut
kurang, itulah yang disebut kesepakatan yang fair. Untuk mendapatkan Hak-nya
seseorang harus melakukan Kewajiban-nya.

Segala kesepakatan antar peran masing-masing individu di dalam dunia malam hanya
berlaku di dalam ruangan itu saja dan saat itu saja. Mungkin saja ketika
masing-masing individu keluar dari ruangan, kembali ke dunianya masing-masing,
satu sama lain mereka menjadi tidak saling kenal, seolah-olah tidak pernah
bertemu, tidak ada yang pernah terjadi. Kesepakatan budaya ala dunia malam hanya
berlaku di dalam ruangan itu saja dan saat itu saja, di luar masing-masing
individu kembali menjadi manusia 95% dengan norma, aturan, dan sopan santun yang
berlaku di masyarakat umum.

-----

Jikalau seorang supir Bajaj memukul seorang polisi, lalu seorang polisi membalas
dengan menangkap supir Bajaj tersebut, maka bisa saja terjadi
“korps”(persaudaraan seprofesi) yaitu para supir Bajaj tersebut akan
bersama-sama mengeroyok polisi yang menangkap supir Bajaj tersebut tanpa mencari
tahu sebab-musebab asal-usulnya permasalahan.
Jikalau seorang Polisi menyalahgunakan kekuasaannya kepada seorang anggota
“masyarakat” (yang bukan anggota korps polisi), lalu orang tersebut melapor
ke kantor tempat polisi tersebut bertugas, maka bisa saja terjadi bilamana
anggota masyarakat tsb malah akan dikerjai oleh “rekan sejawat” si polisi
yang melakukan kesalahan. Tindakan yang tepat untuk dilakukan oleh anggota
masyarakat tersebut adalah melaporkan pelanggaran tsb kepada yang lebih tinggi
posisinya misalkan ke polisi militer.
Jikalau seorang dokter melakukan malpraktek dan si korban mengadukannya ke
rumahsakit tempat dokter tersebut bertugas, maka bisa saja terjadi para rekan
sejawat si dokter yang melakukan malpraktek akan mati-matian menutupi kesalahan
rekan sejawatnya. Tindakan yang tepat untuk dilakukan oleh si korban adalah
mengadukan kasus tsb ke lembaga bantuan hukum yang menangani kasus malpraktek
atau mengadukan hal tsb ke badan yang mengawasi kode etik kedokteran.

Kepolisian memiliki peran sebagai Polisi Hukum Masyarakat; Kedokteran memiliki
peran sebagai Polisi Kesehatan Masyarakat; dan Psikologi memiliki peran sebagai
Polisi Superego Masyarakat. Tiap bidang kegiatan professional yang memiliki
perannya sebagai “Polisi” terhadap suatu bidang di masyarakat, sudah
seharusnya juga memiliki “Polisi Militer”-nya masing-masing.

-----

I * Ketika orang mulai beranggapan bahwa “kesadaran berhubungan dengan
kepastian”;
II * Ketika “fair-ness” tidak dijalankan (Siapa yang mendapatkan lebih
dituntut lebih dan siapa yang mendapatkan kurang dituntut kurang, itulah yang
disebut kesepakatan yang fair);
III * Ketika suatu jenis kegiatan professional yang memiliki perannya sebagai
“Polisi” terhadap suatu jenis bidang kegiatan di masyarakat, tidak memiliki
“Polisi Militer”-nya masing-masing.

Jika ketiga hal ini terjadi bersamaan, maka yang tercipta adalah pemerintahan
“Tiran” yang akan berakhir dengan keruntuhannya secara alami.

-----

“Akal yang diharapkan akan menghasilkan hal yang lebih baik dan
bermoral, ternyata malah menghasilkan kekacauan dan kesengsaraan bagi manusia
dan hanya menghasilkan keuntungan bagi kelompok atau dirinya dan tidak pernah
mempertimbangkan kerugian dipihak lain. Sedangkan strategi bertujuan
meminimalkan kerugian dari semua pihak.
Semenjak manusia sadar bahwa dia memiliki kesadaran diri, dan kesadaran
diri adalah sesuatu yang pasti, maka manusia menganggap semua ilmu pengetahuan
harus dibangun atas dasar kepastian. Sehingga semua pengetahuan yang didapat
dari pengalaman dan dan ketidak pastian tidak dapat dipandang sebagai ilmu.
Tetapi jangan lupa kesadaran diri dan pengalaman tidaklah ada
hubungannya. Pengalaman akan menghasilkan pemahaman yang berbeda bagi tiap
individu. Jadi pengetahuan yang didapat dari pengalaman tidak dapat dengan
begitu saja dikatakan benar atau salah dengan memakai metode kepastian.
Kini tiba pada pengertian baru, bahwa pengalaman tidak dapat menjadi
tolok ukur, tetapi menghasilkan jangkauan variasi yang berskala. Ini sebenarnya
sudah kita ketahui sejak dulu, tetapi tidak pernah kita sadari, seperti waktu,
tidak kita sadari adalah suatu dimensi sampai Einstein mengenalkan pada kita
bahwa waktu adalah dimensi. Setelah kita menyadari waktu adalah dimensi, banyak
pengetahuan yang dahulu terasa benar, akhirnya kebenarannya hanya di dalam
lingkup dan kondisi yang sangat sempit dan tertentu.
Anda mempunyai kesadaran akan adanya pilihan. Pilihan ada di tangan
anda. Tetap tinggal di kepastian, atau berani mengalami realita baru dalam hidup
anda.”
(dikutip dari bagian Pendahuluan dari e-book “Kompatiologi Logika Komunikasi
Empati”)



Download for Free (tidak perlu membership) Update Terbaru E-Book Kompatiologi
http://rapidshare.com/files/137418283/kompatiologi_logika_komunikasi_empati.pdf.\
html

http://rapidshare.com/files/137418284/kompatiologi_logika_komunikasi_empati.rtf.\
html

http://rapidshare.com/files/137418285/catatan_harian_seorang_pendekon_kompatiolo\
gi_andy_ferdiansyah.pdf.html

http://rapidshare.com/files/137418286/catatan_harian_seorang_pendekon_kompatiolo\
gi_andy_ferdiansyah.rtf.html

http://rapidshare.com/files/137418287/Kitab_Angin_Kompatiologi_Juswan_Setyawan.r\
ar.html




Need a holiday? Check out Yahoo!Xtra Travel - http://nz.travel.yahoo.com/



Sat Sep 6, 2008 4:53 pm

vincentliong
Offline Offline
Send Email Send Email

Message #3965 of 5463 |
Expand Messages Author Sort by Date

Kesadaran dan Kepastian Tidak Ada Hubungannya Ditulis oleh: Liong Vincent Christian / Vincent Liong dan Anton Widjojo Tempat, Hari dan Tanggal: Jakarta, Sabtu,...
Vincent Liong
vincentliong Offline Send Email
Sep 6, 2008
4:53 pm
Advanced

Copyright 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help