Search the web
Sign In
New User? Sign Up
Migas_Indonesia · Mailing List Migas Indonesia
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Re: korelasi pendidikan terhadap proyeksi karir   Message List  
Reply | Forward Message #50290 of 84998 |
Sebagai seorang education motivator dan pendiri milis beasiswa (jumlah
member hanya 40 ribu orang lebih), saya selalu tertarik untuk
membicarakan tentang pendidikan. (Baca blog saya
http://milisbeasiswa.wordpress.com )

Kalau ditanyakan bagaimana proyeksi karir dengan pendidikan, jawaban
saya: sekitar 20% saja. Lho kok sedikit sekali. Ya karena pada
kenyataannya, tingkat karir sering kali tidak berkorelasi linier
dengan tingkat pendidikan. Seorang dengan pendidikan S2 tidak selalu
akan mendapatkan karir yang baik. Anda mungkin tahu orang-orang dengan
tingkat pendidikan tinggi yang ternyata karirnya biasa-biasa saja.
Saya tahu seseorang yang lulus dengan gelar Master dari salah satu
universitas terkenal di dunia ternyata tidak pernah mendapatkan
promosi. Bahkan, perusahaan melihat kinerjanya rendah dan sedang
memikirkan cara yang terbaik untuk me-utilisasinya.

Tapi anehnya, ada saja orang-orang yang tingkat pendidikannya tidak
"standar", ternyata bisa mencapai karir yang dahsyat. Saya pernah
membaca tentang seorang wanita yang tingkat pendidikannya hanya D3
dari sebuah akademi sekretaris yang akhirnya menjadi Direktur Regional
untuk Quality Management di salah satu produsen komputer terbesar di
dunia. Tanggung jawabnya di posisi itu meliputi daerah Asia Pasifik!
Ibu tersebut sekarang berkiprah di salah satu training provider. D3
dari akademi sekretaris! (Saya yang MBA dari New York aja malu).

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang gadis muda. Usia
masih 30 something. Pendidikan terakhir: D1 Sastra Inggris. Sekali
lagi: Diploma 1 tahun jurusan Sastra Inggris. Penghasilannya sekarang?
Wah, mungkin lebih besar daripada kebanyakan member milis ini, yaitu
lebih dari Rp 60 juta rupiah per bulan. Pekerjaan terakhirnya?
National Buyer Manager untuk sebuah supermarket besar. (Dia tidak
bekerja di situ lagi sekarang).

Oh ya, dua orang dalam kedua contoh terakhir ini kebetulan sama-sama perempuan.

Pendidikan rendah bakal punya karir rendah? No way. Pendidikan tinggi
pasti karir baik? Maybe (masih maybe lho).

Jadi apa yang paling penting? Seperti disebutkan seorang pembicara
terkenal di radio: IQ gets you hired, but EQ gets you promoted.

EQ, emotional quotient, saya pikir inilah yang terpenting. Saya senang
sekali berbicara tentang hal ini karena saya yakin sekali akan
kekuatan emotional quotient ini.

Tapi mungkin ada yang bakal bertanya: lha kok bisa ngaku2 jadi
education motivator kalau ternyata malah nyuruh orang nggak sekolah.
Well, saya bukannya menyuruh orang tidak sekolah. Dari pendidikan
Master saya, saya merasakan banyak sekali manfaat yang saya dapatkan.
Saya benar-benar terbantu dengan pendidikan Master saya. Tapi apakah
hard skill dari pendidikan ini yang menolong saya? Saya rasa tidak.
Saya merasa bahwa soft skill yang saya kembangkan saat saya studi S2
lah yang membantu saya dalam karir saya sekarang di sebuah oil and gas
company. Pendidikan saya tentu saja memberikan advantage, tapi soft
skill lah yang menolong saya dalam karir saya.

Saran saya, if you really know what you want, then go to school. Do
your best during your study and learn the things you want to learn
passionately. Nggak ada untungnya kalau seseorang sekolah S2 hanya
buat dapetin gelar. Tiga bulan lalu saya mewawancara seseorang yang
baru pulang dari studi S2 di negara paling maju di Eropa yang rela
mendapatkan kerja apa saja. Come on. Pendidikan S2 nya tidak
menolongnya mengembangkan karakter, perilaku, dan keahlihan-keahlian
yang dibutuhkan untuk berhasil dalam karirnya. Sayang sekali.



Fri Jul 6, 2007 3:18 pm

togap_siagian
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #50290 of 84998 |
Expand Messages Author Sort by Date

Sebagai seorang education motivator dan pendiri milis beasiswa (jumlah member hanya 40 ribu orang lebih), saya selalu tertarik untuk membicarakan tentang...
Togap Siagian
togap_siagian
Offline Send Email
Jul 6, 2007
8:02 pm

Artikel menarik Pak Togap, Supaya lebih afdol apakah Pak Togap mempunya data statistiknya yg menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tanpa disertai EQ, ujung...
Zein Wijaya
zein_wijaya
Offline Send Email
Jul 6, 2007
11:25 pm

Menarik sekali melihat tulisan dari pak rovicky dan pak togap, memang pendidikan formal tidak selalu menjamin masa depan kita lebih baik tapi kalau menurut...
Firman Susilo Hidayat
firman.h@...
Send Email
Jul 7, 2007
1:17 am

... pak Zein, ada perguruan tinggi yg mewajibkan mahasiswa baru ikut training esq dan biayanya bisa mencapai sepertiga dari total biaya orientasi mahasiswa...
Hasta Purnama
hasta_p
Offline Send Email
Jul 7, 2007
7:38 pm

Dear Rekans milis Yth, ijinkanlah sy ikut sharing sehubungan dg topik yg sedang hangat di minggu ini yaitu : "korelasi pendidikan terhadap proyeksi karier" sy...
Danar Listiawan
danar.listiawan@...
Send Email
Jul 9, 2007
4:28 am

Yang menentukan keberhasilan prestasi pendidikan di sekolah adalah IQ. Kematangan emosional dan keterampilan sosial (EQ) lebih menentukan pada performa dan...
Administrator Migas
migas_indonesia
Offline Send Email
Jul 8, 2007
5:20 pm

Saya kok tidak sependapat dengan Pak Togap Siagian. Menurut saya pendidikan "formal" berbanding lurus dengan karier dan prestasi. Saya memang tidak (punya)...
Rovicky Dwi Putrohari
rovicky
Offline Send Email
Jul 7, 2007
12:51 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help