Sebagai seorang education motivator dan pendiri milis beasiswa (jumlah
member hanya 40 ribu orang lebih), saya selalu tertarik untuk
membicarakan tentang pendidikan. (Baca blog saya
http://milisbeasiswa.wordpress.com )
Kalau ditanyakan bagaimana proyeksi karir dengan pendidikan, jawaban
saya: sekitar 20% saja. Lho kok sedikit sekali. Ya karena pada
kenyataannya, tingkat karir sering kali tidak berkorelasi linier
dengan tingkat pendidikan. Seorang dengan pendidikan S2 tidak selalu
akan mendapatkan karir yang baik. Anda mungkin tahu orang-orang dengan
tingkat pendidikan tinggi yang ternyata karirnya biasa-biasa saja.
Saya tahu seseorang yang lulus dengan gelar Master dari salah satu
universitas terkenal di dunia ternyata tidak pernah mendapatkan
promosi. Bahkan, perusahaan melihat kinerjanya rendah dan sedang
memikirkan cara yang terbaik untuk me-utilisasinya.
Tapi anehnya, ada saja orang-orang yang tingkat pendidikannya tidak
"standar", ternyata bisa mencapai karir yang dahsyat. Saya pernah
membaca tentang seorang wanita yang tingkat pendidikannya hanya D3
dari sebuah akademi sekretaris yang akhirnya menjadi Direktur Regional
untuk Quality Management di salah satu produsen komputer terbesar di
dunia. Tanggung jawabnya di posisi itu meliputi daerah Asia Pasifik!
Ibu tersebut sekarang berkiprah di salah satu training provider. D3
dari akademi sekretaris! (Saya yang MBA dari New York aja malu).
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang gadis muda. Usia
masih 30 something. Pendidikan terakhir: D1 Sastra Inggris. Sekali
lagi: Diploma 1 tahun jurusan Sastra Inggris. Penghasilannya sekarang?
Wah, mungkin lebih besar daripada kebanyakan member milis ini, yaitu
lebih dari Rp 60 juta rupiah per bulan. Pekerjaan terakhirnya?
National Buyer Manager untuk sebuah supermarket besar. (Dia tidak
bekerja di situ lagi sekarang).
Oh ya, dua orang dalam kedua contoh terakhir ini kebetulan sama-sama perempuan.
Pendidikan rendah bakal punya karir rendah? No way. Pendidikan tinggi
pasti karir baik? Maybe (masih maybe lho).
Jadi apa yang paling penting? Seperti disebutkan seorang pembicara
terkenal di radio: IQ gets you hired, but EQ gets you promoted.
EQ, emotional quotient, saya pikir inilah yang terpenting. Saya senang
sekali berbicara tentang hal ini karena saya yakin sekali akan
kekuatan emotional quotient ini.
Tapi mungkin ada yang bakal bertanya: lha kok bisa ngaku2 jadi
education motivator kalau ternyata malah nyuruh orang nggak sekolah.
Well, saya bukannya menyuruh orang tidak sekolah. Dari pendidikan
Master saya, saya merasakan banyak sekali manfaat yang saya dapatkan.
Saya benar-benar terbantu dengan pendidikan Master saya. Tapi apakah
hard skill dari pendidikan ini yang menolong saya? Saya rasa tidak.
Saya merasa bahwa soft skill yang saya kembangkan saat saya studi S2
lah yang membantu saya dalam karir saya sekarang di sebuah oil and gas
company. Pendidikan saya tentu saja memberikan advantage, tapi soft
skill lah yang menolong saya dalam karir saya.
Saran saya, if you really know what you want, then go to school. Do
your best during your study and learn the things you want to learn
passionately. Nggak ada untungnya kalau seseorang sekolah S2 hanya
buat dapetin gelar. Tiga bulan lalu saya mewawancara seseorang yang
baru pulang dari studi S2 di negara paling maju di Eropa yang rela
mendapatkan kerja apa saja. Come on. Pendidikan S2 nya tidak
menolongnya mengembangkan karakter, perilaku, dan keahlihan-keahlian
yang dibutuhkan untuk berhasil dalam karirnya. Sayang sekali.