Search the web
Sign In
New User? Sign Up
SbyAstroClub · Surabaya Astronomy Club
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Messages 1 - 30 of 377   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Messages: Show Message Summaries   (Group by Topic) Sort by Date v  
#30 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 3:21 am
Subject: ekspedisi pertama..(stasiun lapan watukosek, gempol)
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum..
Usul!! bagaimana kalau untuk mengawali kegiatan SbyAstroClub ini, kita
mengadakan ekspedisi/pengamatan ke stasiun pengamatan Watukosek milik
Lapan yang terletak di pasuruan?? menurut informasi disana ada beberapa
teropong untuk mengamati aktivitas matahari dan benada-benda langit
lainnya, bagaimana ada yang setuju ???

Wassalamualaikum..

#29 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 4:32 am
Subject: Memata-matai Matahari dari Watukosek
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
HADIRNYA Matahari setiap hari yang selama ini dianggap lazim,
ternyata begitu istimewa bagi Stasiun Pengamat Matahari atau Solar
Observatory.

Stasiun dari berbagai belahan dunia intens memata-matai dan memasok
data hasil aktivitas bintang berjarak delapan menit cahaya atau
sekitar 144 juta kilometer tersebut. Salah satunya adalah stasiun
pengamatan Matahari di bukit yang disebut Gunung Perahu, Watukosek,
Pasuruan, Jawa Timur.

"Daerah ini dipilih karena rata- rata curah hujannya paling sedikit
dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa. Ketinggiannya sekitar
54 meter di atas permukaan laut. Bahkan, Watukosek Solar Observatory
(WKSO) mempunyai hari cerah paling banyak dibandingkan dengan
observatorium Matahari lain di dunia," ungkap Kepala WKSO Bambang
Setiahadi Phamudji yang berkerja sama dengan enam orang peneliti
lainnya.

Pusat pemantauan yang terletak di dalam kompleks Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan) itu tidak langsung terlihat dari jalan
utama penghubung Mojokerto-Pasuruan. Pengunjung masih harus berjalan
satu kilometer lagi menapaki lahan tandus berbatu dan membelah
perkebunan jambu mete milik PT Perhutani.

Tidak terlalu kompleks struktur bangunan di stasiun itu. Terdiri atas
dua bangunan. Sebuah bangunan berisi kantor staf dan teleskop sunspot
(bintik Matahari) lengkap dengan ruang pengendalinya. Bangunan lain
berisi teleskop flare.

Sekalipun berlokasi di Desa Watukosek yang terpencil, kegiatan
peneliti di sana termasuk salah satu mata rantai observatorium
Matahari internasional. Sejak beberapa tahun lalu Stasiun Watukosek
telah diakui di dunia. Hasil pengamatannya tercantum dalam Sunspot
Index Data Center News, Solar Influence Data Analysis Center, dan
sejak 1991 tergabung dalam National Oceanic and Atmosphere
Administration.

GERHANA Matahari total tahun 1983 menjadi titik awal kerja sama Lapan
dengan Jepang untuk mendirikan tempat pengamatan itu. Aktivitas
Matahari yang langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia di Bumi
menjadi sangat menarik diamati.

Pengamatan Matahari di Watukosek menggunakan dua teleskop. Yang
pertama berfungsi sebagai pengambilan data sunspot secara manual
(sunspot sketch) dan fotografi. Teleskop berdiameter 15 sentimeter
dengan panjang 3 meter itu bagian belakang lensa okulernya dilengkapi
layar proyeksi. Bayangan Matahari yang jatuh kemudian disket manual.
Data bintik Matahari diambil pula secara fotografi dengan meletakan
kamera standar Asahi Pentax di salah satu tabung.

Teleskop kedua digunakan untuk mengamati flare. Data diambil secara
fotografi dan digital sehingga teleskop dilengkapi kamera fotografi
dan CCD.

"Sejauh ini, aktivitas Matahari baru dapat diamati dari reaksi
kegiatan Matahari yang tampak pada lapisan luar seperti sunspot dan
flare, belum dari inti Matahari itu sendiri," kata Bambang.

Sunspot (bintik/noda Matahari) merupakan daerah di lapisan fotosfer
yang temperaturnya lebih rendah daripada sekelilingnya, sehingga
tampak seperti noda-noda gelap.

Bambang mengibaratkan bintik Matahari seperti jerawat yang muncul
ketika terjadi ketidakseimbangan hormon dan metabolisme di dalam
tubuh. Dari pengamatan sunspot dapat dilakukan studi prediksi
terhadap siklus Matahari. Kemunculan bintik hitam di Matahari yang
berkembang cepat menjadi bintik hitam raksasa, sekaligus merupakan
peristiwa paling meyakinkan akan datangnya badai antariksa.

FENOMENA menarik lainnya dari kegiatan pengamatan bintik Matahari
adalah peristiwa pelontaran materi oleh flare besar atau coronal mass
ejection dan pengaruh fisik terhadap Bumi akibat mekanisme perambatan
gelombang kejut MHD (Magnetohydrodynamics).

Sunspot akan tumbuh dan berevolusi menjadi flare besar, yaitu
pelepasan energi berupa ledakan besar. Peristiwa ledakan tersebut
melontarkan materi ke angkasa Matahari dan memancarkan radiasi pada
semua gelombang panjang.

Salah satu peristiwa penting yang tidak dilupakan awak Watukosek
terjadi tanggal 28-30 Oktober 2003. Matahari melepaskan tenaganya
yang mahadahsyat berupa ledakan disertai dengan embusan angin sangat
kuat. Tak kurang dari 100 juta ton materi dari permukaan Matahari
ditembakkan dengan kecepatan 500 km per detik atau sekitar 1.800.000
km per jam. Peristiwa itu disebut pula dengan badai antariksa.

Badai antariksa yang menghasilkan gelombang besar itu bisa
berpengaruh kepada kegiatan yang berkaitan dengan gelombang di Bumi.
Sejak lama para peneliti di Watukosek mengembangkan cara peringatan
dini antariksa untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya aktivitas
Matahari, terutama sebelum terjadinya badai antariksa.

Untuk menggambarkan dampak badai antariksa kepada masyarakat sebelum
badai tiba di Bumi, dilakukan simulasi dengan perangkat utama
teleskop sebagai mata dan sebuah komputer. Dengan sejumlah perintah
yang sudah disusun sebelumnya, komputer akan menyimulasikan badai
seperti yang sesungguhnya terjadi di antariksa dan menghitung dampak
lanjutannya terhadap Bumi.

Informasi itu dapat digunakan untuk mengantisipasi bahaya atau
kerugian yang akan ditimbulkan badai antariksa terhadap peralatan
navigasi yang digunakan operator penerbangan dan pelayaran nasional
maupun internasional.

Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, pihak
lain yang berkepentingan mengantisipasi badai Matahari adalah
operator satelit dan telekomunikasi. Ribuan satelit menjadi bangkai
karena terhantam badai antariksa.

Stasiun Pengamat Matahari tak sekadar mengamati, tetapi mampu menjadi
stasiun peringatan dini. Mereka selalu berjaga kalau-kalau sang Surya
bergejolak dan mempengaruhi kehidupan kita di Bumi.

Sumber : Kompas (26 Juni 2004)

#28 From: Rya Xenitux <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 4:39 am
Subject: Memata-matai Matahari dari Watukosek
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
HADIRNYA Matahari setiap hari yang selama ini dianggap lazim, ternyata begitu istimewa bagi Stasiun Pengamat Matahari atau Solar Observatory.
Stasiun dari berbagai belahan dunia intens memata-matai dan memasok data hasil aktivitas bintang berjarak delapan menit cahaya atau sekitar 144 juta kilometer tersebut. Salah satunya adalah stasiun pengamatan Matahari di bukit yang disebut Gunung Perahu, Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur.
"Daerah ini dipilih karena rata- rata curah hujannya paling sedikit dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa. Ketinggiannya sekitar 54 meter di atas permukaan laut. Bahkan, Watukosek Solar Observatory (WKSO) mempunyai hari cerah paling banyak dibandingkan dengan observatorium Matahari lain di dunia," ungkap Kepala WKSO Bambang Setiahadi Phamudji yang berkerja sama dengan enam orang peneliti lainnya.
Pusat pemantauan yang terletak di dalam kompleks Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu tidak langsung terlihat dari jalan utama penghubung Mojokerto-Pasuruan. Pengunjung masih harus berjalan satu kilometer lagi menapaki lahan tandus berbatu dan membelah perkebunan jambu mete milik PT Perhutani.
Tidak terlalu kompleks struktur bangunan di stasiun itu. Terdiri atas dua bangunan. Sebuah bangunan berisi kantor staf dan teleskop sunspot (bintik Matahari) lengkap dengan ruang pengendalinya. Bangunan lain berisi teleskop flare.
Sekalipun berlokasi di Desa Watukosek yang terpencil, kegiatan peneliti di sana termasuk salah satu mata rantai observatorium Matahari internasional. Sejak beberapa tahun lalu Stasiun Watukosek telah diakui di dunia. Hasil pengamatannya tercantum dalam Sunspot Index Data Center News, Solar Influence Data Analysis Center, dan sejak 1991 tergabung dalam National Oceanic and Atmosphere Administration.
GERHANA Matahari total tahun 1983 menjadi titik awal kerja sama Lapan dengan Jepang untuk mendirikan tempat pengamatan itu. Aktivitas Matahari yang langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia di Bumi menjadi sangat menarik diamati.
Pengamatan Matahari di Watukosek menggunakan dua teleskop. Yang pertama berfungsi sebagai pengambilan data sunspot secara manual (sunspot sketch) dan fotografi. Teleskop berdiameter 15 sentimeter dengan panjang 3 meter itu bagian belakang lensa okulernya dilengkapi layar proyeksi. Bayangan Matahari yang jatuh kemudian disket manual. Data bintik Matahari diambil pula secara fotografi dengan meletakan kamera standar Asahi Pentax di salah satu tabung.
Teleskop kedua digunakan untuk mengamati flare. Data diambil secara fotografi dan digital sehingga teleskop dilengkapi kamera fotografi dan CCD.
"Sejauh ini, aktivitas Matahari baru dapat diamati dari reaksi kegiatan Matahari yang tampak pada lapisan luar seperti sunspot dan flare, belum dari inti Matahari itu sendiri," kata Bambang.
Sunspot (bintik/noda Matahari) merupakan daerah di lapisan fotosfer yang temperaturnya lebih rendah daripada sekelilingnya, sehingga tampak seperti noda-noda gelap.
Bambang mengibaratkan bintik Matahari seperti jerawat yang muncul ketika terjadi ketidakseimbangan hormon dan metabolisme di dalam tubuh. Dari pengamatan sunspot dapat dilakukan studi prediksi terhadap siklus Matahari. Kemunculan bintik hitam di Matahari yang berkembang cepat menjadi bintik hitam raksasa, sekaligus merupakan peristiwa paling meyakinkan akan datangnya badai antariksa.
FENOMENA menarik lainnya dari kegiatan pengamatan bintik Matahari adalah peristiwa pelontaran materi oleh flare besar atau coronal mass ejection dan pengaruh fisik terhadap Bumi akibat mekanisme perambatan gelombang kejut MHD (Magnetohydrodynamics).
Sunspot akan tumbuh dan berevolusi menjadi flare besar, yaitu pelepasan energi berupa ledakan besar. Peristiwa ledakan tersebut melontarkan materi ke angkasa Matahari dan memancarkan radiasi pada semua gelombang panjang.
Salah satu peristiwa penting yang tidak dilupakan awak Watukosek terjadi tanggal 28-30 Oktober 2003. Matahari melepaskan tenaganya yang mahadahsyat berupa ledakan disertai dengan embusan angin sangat kuat. Tak kurang dari 100 juta ton materi dari permukaan Matahari ditembakkan dengan kecepatan 500 km per detik atau sekitar 1.800.000 km per jam. Peristiwa itu disebut pula dengan badai antariksa.
Badai antariksa yang menghasilkan gelombang besar itu bisa berpengaruh kepada kegiatan yang berkaitan dengan gelombang di Bumi. Sejak lama para peneliti di Watukosek mengembangkan cara peringatan dini antariksa untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya aktivitas Matahari, terutama sebelum terjadinya badai antariksa.
Untuk menggambarkan dampak badai antariksa kepada masyarakat sebelum badai tiba di Bumi, dilakukan simulasi dengan perangkat utama teleskop sebagai mata dan sebuah komputer. Dengan sejumlah perintah yang sudah disusun sebelumnya, komputer akan menyimulasikan badai seperti yang sesungguhnya terjadi di antariksa dan menghitung dampak lanjutannya terhadap Bumi.
Informasi itu dapat digunakan untuk mengantisipasi bahaya atau kerugian yang akan ditimbulkan badai antariksa terhadap peralatan navigasi yang digunakan operator penerbangan dan pelayaran nasional maupun internasional.
Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, pihak lain yang berkepentingan mengantisipasi badai Matahari adalah operator satelit dan telekomunikasi. Ribuan satelit menjadi bangkai karena terhantam badai antariksa.
Stasiun Pengamat Matahari tak sekadar mengamati, tetapi mampu menjadi stasiun peringatan dini. Mereka selalu berjaga kalau-kalau sang Surya bergejolak dan mempengaruhi kehidupan kita di Bumi.


Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

#27 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 4:32 am
Subject: Memata-matai Matahari dari Watukosek
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
HADIRNYA Matahari setiap hari yang selama ini dianggap lazim,
ternyata begitu istimewa bagi Stasiun Pengamat Matahari atau Solar
Observatory.

Stasiun dari berbagai belahan dunia intens memata-matai dan memasok
data hasil aktivitas bintang berjarak delapan menit cahaya atau
sekitar 144 juta kilometer tersebut. Salah satunya adalah stasiun
pengamatan Matahari di bukit yang disebut Gunung Perahu, Watukosek,
Pasuruan, Jawa Timur.

"Daerah ini dipilih karena rata- rata curah hujannya paling sedikit
dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa. Ketinggiannya sekitar
54 meter di atas permukaan laut. Bahkan, Watukosek Solar Observatory
(WKSO) mempunyai hari cerah paling banyak dibandingkan dengan
observatorium Matahari lain di dunia," ungkap Kepala WKSO Bambang
Setiahadi Phamudji yang berkerja sama dengan enam orang peneliti
lainnya.

Pusat pemantauan yang terletak di dalam kompleks Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan) itu tidak langsung terlihat dari jalan
utama penghubung Mojokerto-Pasuruan. Pengunjung masih harus berjalan
satu kilometer lagi menapaki lahan tandus berbatu dan membelah
perkebunan jambu mete milik PT Perhutani.

Tidak terlalu kompleks struktur bangunan di stasiun itu. Terdiri atas
dua bangunan. Sebuah bangunan berisi kantor staf dan teleskop sunspot
(bintik Matahari) lengkap dengan ruang pengendalinya. Bangunan lain
berisi teleskop flare.

Sekalipun berlokasi di Desa Watukosek yang terpencil, kegiatan
peneliti di sana termasuk salah satu mata rantai observatorium
Matahari internasional. Sejak beberapa tahun lalu Stasiun Watukosek
telah diakui di dunia. Hasil pengamatannya tercantum dalam Sunspot
Index Data Center News, Solar Influence Data Analysis Center, dan
sejak 1991 tergabung dalam National Oceanic and Atmosphere
Administration.

GERHANA Matahari total tahun 1983 menjadi titik awal kerja sama Lapan
dengan Jepang untuk mendirikan tempat pengamatan itu. Aktivitas
Matahari yang langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia di Bumi
menjadi sangat menarik diamati.

Pengamatan Matahari di Watukosek menggunakan dua teleskop. Yang
pertama berfungsi sebagai pengambilan data sunspot secara manual
(sunspot sketch) dan fotografi. Teleskop berdiameter 15 sentimeter
dengan panjang 3 meter itu bagian belakang lensa okulernya dilengkapi
layar proyeksi. Bayangan Matahari yang jatuh kemudian disket manual.
Data bintik Matahari diambil pula secara fotografi dengan meletakan
kamera standar Asahi Pentax di salah satu tabung.

Teleskop kedua digunakan untuk mengamati flare. Data diambil secara
fotografi dan digital sehingga teleskop dilengkapi kamera fotografi
dan CCD.

"Sejauh ini, aktivitas Matahari baru dapat diamati dari reaksi
kegiatan Matahari yang tampak pada lapisan luar seperti sunspot dan
flare, belum dari inti Matahari itu sendiri," kata Bambang.

Sunspot (bintik/noda Matahari) merupakan daerah di lapisan fotosfer
yang temperaturnya lebih rendah daripada sekelilingnya, sehingga
tampak seperti noda-noda gelap.

Bambang mengibaratkan bintik Matahari seperti jerawat yang muncul
ketika terjadi ketidakseimbangan hormon dan metabolisme di dalam
tubuh. Dari pengamatan sunspot dapat dilakukan studi prediksi
terhadap siklus Matahari. Kemunculan bintik hitam di Matahari yang
berkembang cepat menjadi bintik hitam raksasa, sekaligus merupakan
peristiwa paling meyakinkan akan datangnya badai antariksa.

FENOMENA menarik lainnya dari kegiatan pengamatan bintik Matahari
adalah peristiwa pelontaran materi oleh flare besar atau coronal mass
ejection dan pengaruh fisik terhadap Bumi akibat mekanisme perambatan
gelombang kejut MHD (Magnetohydrodynamics).

Sunspot akan tumbuh dan berevolusi menjadi flare besar, yaitu
pelepasan energi berupa ledakan besar. Peristiwa ledakan tersebut
melontarkan materi ke angkasa Matahari dan memancarkan radiasi pada
semua gelombang panjang.

Salah satu peristiwa penting yang tidak dilupakan awak Watukosek
terjadi tanggal 28-30 Oktober 2003. Matahari melepaskan tenaganya
yang mahadahsyat berupa ledakan disertai dengan embusan angin sangat
kuat. Tak kurang dari 100 juta ton materi dari permukaan Matahari
ditembakkan dengan kecepatan 500 km per detik atau sekitar 1.800.000
km per jam. Peristiwa itu disebut pula dengan badai antariksa.

Badai antariksa yang menghasilkan gelombang besar itu bisa
berpengaruh kepada kegiatan yang berkaitan dengan gelombang di Bumi.
Sejak lama para peneliti di Watukosek mengembangkan cara peringatan
dini antariksa untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya aktivitas
Matahari, terutama sebelum terjadinya badai antariksa.

Untuk menggambarkan dampak badai antariksa kepada masyarakat sebelum
badai tiba di Bumi, dilakukan simulasi dengan perangkat utama
teleskop sebagai mata dan sebuah komputer. Dengan sejumlah perintah
yang sudah disusun sebelumnya, komputer akan menyimulasikan badai
seperti yang sesungguhnya terjadi di antariksa dan menghitung dampak
lanjutannya terhadap Bumi.

Informasi itu dapat digunakan untuk mengantisipasi bahaya atau
kerugian yang akan ditimbulkan badai antariksa terhadap peralatan
navigasi yang digunakan operator penerbangan dan pelayaran nasional
maupun internasional.

Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, pihak
lain yang berkepentingan mengantisipasi badai Matahari adalah
operator satelit dan telekomunikasi. Ribuan satelit menjadi bangkai
karena terhantam badai antariksa.

Stasiun Pengamat Matahari tak sekadar mengamati, tetapi mampu menjadi
stasiun peringatan dini. Mereka selalu berjaga kalau-kalau sang Surya
bergejolak dan mempengaruhi kehidupan kita di Bumi.

Sumber : Kompas (26 Juni 2004)

#26 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 4:32 am
Subject: Memata-matai Matahari dari Watukosek
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
HADIRNYA Matahari setiap hari yang selama ini dianggap lazim,
ternyata begitu istimewa bagi Stasiun Pengamat Matahari atau Solar
Observatory.

Stasiun dari berbagai belahan dunia intens memata-matai dan memasok
data hasil aktivitas bintang berjarak delapan menit cahaya atau
sekitar 144 juta kilometer tersebut. Salah satunya adalah stasiun
pengamatan Matahari di bukit yang disebut Gunung Perahu, Watukosek,
Pasuruan, Jawa Timur.

"Daerah ini dipilih karena rata- rata curah hujannya paling sedikit
dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa. Ketinggiannya sekitar
54 meter di atas permukaan laut. Bahkan, Watukosek Solar Observatory
(WKSO) mempunyai hari cerah paling banyak dibandingkan dengan
observatorium Matahari lain di dunia," ungkap Kepala WKSO Bambang
Setiahadi Phamudji yang berkerja sama dengan enam orang peneliti
lainnya.

Pusat pemantauan yang terletak di dalam kompleks Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan) itu tidak langsung terlihat dari jalan
utama penghubung Mojokerto-Pasuruan. Pengunjung masih harus berjalan
satu kilometer lagi menapaki lahan tandus berbatu dan membelah
perkebunan jambu mete milik PT Perhutani.

Tidak terlalu kompleks struktur bangunan di stasiun itu. Terdiri atas
dua bangunan. Sebuah bangunan berisi kantor staf dan teleskop sunspot
(bintik Matahari) lengkap dengan ruang pengendalinya. Bangunan lain
berisi teleskop flare.

Sekalipun berlokasi di Desa Watukosek yang terpencil, kegiatan
peneliti di sana termasuk salah satu mata rantai observatorium
Matahari internasional. Sejak beberapa tahun lalu Stasiun Watukosek
telah diakui di dunia. Hasil pengamatannya tercantum dalam Sunspot
Index Data Center News, Solar Influence Data Analysis Center, dan
sejak 1991 tergabung dalam National Oceanic and Atmosphere
Administration.

GERHANA Matahari total tahun 1983 menjadi titik awal kerja sama Lapan
dengan Jepang untuk mendirikan tempat pengamatan itu. Aktivitas
Matahari yang langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia di Bumi
menjadi sangat menarik diamati.

Pengamatan Matahari di Watukosek menggunakan dua teleskop. Yang
pertama berfungsi sebagai pengambilan data sunspot secara manual
(sunspot sketch) dan fotografi. Teleskop berdiameter 15 sentimeter
dengan panjang 3 meter itu bagian belakang lensa okulernya dilengkapi
layar proyeksi. Bayangan Matahari yang jatuh kemudian disket manual.
Data bintik Matahari diambil pula secara fotografi dengan meletakan
kamera standar Asahi Pentax di salah satu tabung.

Teleskop kedua digunakan untuk mengamati flare. Data diambil secara
fotografi dan digital sehingga teleskop dilengkapi kamera fotografi
dan CCD.

"Sejauh ini, aktivitas Matahari baru dapat diamati dari reaksi
kegiatan Matahari yang tampak pada lapisan luar seperti sunspot dan
flare, belum dari inti Matahari itu sendiri," kata Bambang.

Sunspot (bintik/noda Matahari) merupakan daerah di lapisan fotosfer
yang temperaturnya lebih rendah daripada sekelilingnya, sehingga
tampak seperti noda-noda gelap.

Bambang mengibaratkan bintik Matahari seperti jerawat yang muncul
ketika terjadi ketidakseimbangan hormon dan metabolisme di dalam
tubuh. Dari pengamatan sunspot dapat dilakukan studi prediksi
terhadap siklus Matahari. Kemunculan bintik hitam di Matahari yang
berkembang cepat menjadi bintik hitam raksasa, sekaligus merupakan
peristiwa paling meyakinkan akan datangnya badai antariksa.

FENOMENA menarik lainnya dari kegiatan pengamatan bintik Matahari
adalah peristiwa pelontaran materi oleh flare besar atau coronal mass
ejection dan pengaruh fisik terhadap Bumi akibat mekanisme perambatan
gelombang kejut MHD (Magnetohydrodynamics).

Sunspot akan tumbuh dan berevolusi menjadi flare besar, yaitu
pelepasan energi berupa ledakan besar. Peristiwa ledakan tersebut
melontarkan materi ke angkasa Matahari dan memancarkan radiasi pada
semua gelombang panjang.

Salah satu peristiwa penting yang tidak dilupakan awak Watukosek
terjadi tanggal 28-30 Oktober 2003. Matahari melepaskan tenaganya
yang mahadahsyat berupa ledakan disertai dengan embusan angin sangat
kuat. Tak kurang dari 100 juta ton materi dari permukaan Matahari
ditembakkan dengan kecepatan 500 km per detik atau sekitar 1.800.000
km per jam. Peristiwa itu disebut pula dengan badai antariksa.

Badai antariksa yang menghasilkan gelombang besar itu bisa
berpengaruh kepada kegiatan yang berkaitan dengan gelombang di Bumi.
Sejak lama para peneliti di Watukosek mengembangkan cara peringatan
dini antariksa untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya aktivitas
Matahari, terutama sebelum terjadinya badai antariksa.

Untuk menggambarkan dampak badai antariksa kepada masyarakat sebelum
badai tiba di Bumi, dilakukan simulasi dengan perangkat utama
teleskop sebagai mata dan sebuah komputer. Dengan sejumlah perintah
yang sudah disusun sebelumnya, komputer akan menyimulasikan badai
seperti yang sesungguhnya terjadi di antariksa dan menghitung dampak
lanjutannya terhadap Bumi.

Informasi itu dapat digunakan untuk mengantisipasi bahaya atau
kerugian yang akan ditimbulkan badai antariksa terhadap peralatan
navigasi yang digunakan operator penerbangan dan pelayaran nasional
maupun internasional.

Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, pihak
lain yang berkepentingan mengantisipasi badai Matahari adalah
operator satelit dan telekomunikasi. Ribuan satelit menjadi bangkai
karena terhantam badai antariksa.

Stasiun Pengamat Matahari tak sekadar mengamati, tetapi mampu menjadi
stasiun peringatan dini. Mereka selalu berjaga kalau-kalau sang Surya
bergejolak dan mempengaruhi kehidupan kita di Bumi.

Sumber : Kompas (26 Juni 2004)

#25 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 4:32 am
Subject: Memata-matai Matahari dari Watukosek
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
HADIRNYA Matahari setiap hari yang selama ini dianggap lazim,
ternyata begitu istimewa bagi Stasiun Pengamat Matahari atau Solar
Observatory.

Stasiun dari berbagai belahan dunia intens memata-matai dan memasok
data hasil aktivitas bintang berjarak delapan menit cahaya atau
sekitar 144 juta kilometer tersebut. Salah satunya adalah stasiun
pengamatan Matahari di bukit yang disebut Gunung Perahu, Watukosek,
Pasuruan, Jawa Timur.

"Daerah ini dipilih karena rata- rata curah hujannya paling sedikit
dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa. Ketinggiannya sekitar
54 meter di atas permukaan laut. Bahkan, Watukosek Solar Observatory
(WKSO) mempunyai hari cerah paling banyak dibandingkan dengan
observatorium Matahari lain di dunia," ungkap Kepala WKSO Bambang
Setiahadi Phamudji yang berkerja sama dengan enam orang peneliti
lainnya.

Pusat pemantauan yang terletak di dalam kompleks Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan) itu tidak langsung terlihat dari jalan
utama penghubung Mojokerto-Pasuruan. Pengunjung masih harus berjalan
satu kilometer lagi menapaki lahan tandus berbatu dan membelah
perkebunan jambu mete milik PT Perhutani.

Tidak terlalu kompleks struktur bangunan di stasiun itu. Terdiri atas
dua bangunan. Sebuah bangunan berisi kantor staf dan teleskop sunspot
(bintik Matahari) lengkap dengan ruang pengendalinya. Bangunan lain
berisi teleskop flare.

Sekalipun berlokasi di Desa Watukosek yang terpencil, kegiatan
peneliti di sana termasuk salah satu mata rantai observatorium
Matahari internasional. Sejak beberapa tahun lalu Stasiun Watukosek
telah diakui di dunia. Hasil pengamatannya tercantum dalam Sunspot
Index Data Center News, Solar Influence Data Analysis Center, dan
sejak 1991 tergabung dalam National Oceanic and Atmosphere
Administration.

GERHANA Matahari total tahun 1983 menjadi titik awal kerja sama Lapan
dengan Jepang untuk mendirikan tempat pengamatan itu. Aktivitas
Matahari yang langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia di Bumi
menjadi sangat menarik diamati.

Pengamatan Matahari di Watukosek menggunakan dua teleskop. Yang
pertama berfungsi sebagai pengambilan data sunspot secara manual
(sunspot sketch) dan fotografi. Teleskop berdiameter 15 sentimeter
dengan panjang 3 meter itu bagian belakang lensa okulernya dilengkapi
layar proyeksi. Bayangan Matahari yang jatuh kemudian disket manual.
Data bintik Matahari diambil pula secara fotografi dengan meletakan
kamera standar Asahi Pentax di salah satu tabung.

Teleskop kedua digunakan untuk mengamati flare. Data diambil secara
fotografi dan digital sehingga teleskop dilengkapi kamera fotografi
dan CCD.

"Sejauh ini, aktivitas Matahari baru dapat diamati dari reaksi
kegiatan Matahari yang tampak pada lapisan luar seperti sunspot dan
flare, belum dari inti Matahari itu sendiri," kata Bambang.

Sunspot (bintik/noda Matahari) merupakan daerah di lapisan fotosfer
yang temperaturnya lebih rendah daripada sekelilingnya, sehingga
tampak seperti noda-noda gelap.

Bambang mengibaratkan bintik Matahari seperti jerawat yang muncul
ketika terjadi ketidakseimbangan hormon dan metabolisme di dalam
tubuh. Dari pengamatan sunspot dapat dilakukan studi prediksi
terhadap siklus Matahari. Kemunculan bintik hitam di Matahari yang
berkembang cepat menjadi bintik hitam raksasa, sekaligus merupakan
peristiwa paling meyakinkan akan datangnya badai antariksa.

FENOMENA menarik lainnya dari kegiatan pengamatan bintik Matahari
adalah peristiwa pelontaran materi oleh flare besar atau coronal mass
ejection dan pengaruh fisik terhadap Bumi akibat mekanisme perambatan
gelombang kejut MHD (Magnetohydrodynamics).

Sunspot akan tumbuh dan berevolusi menjadi flare besar, yaitu
pelepasan energi berupa ledakan besar. Peristiwa ledakan tersebut
melontarkan materi ke angkasa Matahari dan memancarkan radiasi pada
semua gelombang panjang.

Salah satu peristiwa penting yang tidak dilupakan awak Watukosek
terjadi tanggal 28-30 Oktober 2003. Matahari melepaskan tenaganya
yang mahadahsyat berupa ledakan disertai dengan embusan angin sangat
kuat. Tak kurang dari 100 juta ton materi dari permukaan Matahari
ditembakkan dengan kecepatan 500 km per detik atau sekitar 1.800.000
km per jam. Peristiwa itu disebut pula dengan badai antariksa.

Badai antariksa yang menghasilkan gelombang besar itu bisa
berpengaruh kepada kegiatan yang berkaitan dengan gelombang di Bumi.
Sejak lama para peneliti di Watukosek mengembangkan cara peringatan
dini antariksa untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya aktivitas
Matahari, terutama sebelum terjadinya badai antariksa.

Untuk menggambarkan dampak badai antariksa kepada masyarakat sebelum
badai tiba di Bumi, dilakukan simulasi dengan perangkat utama
teleskop sebagai mata dan sebuah komputer. Dengan sejumlah perintah
yang sudah disusun sebelumnya, komputer akan menyimulasikan badai
seperti yang sesungguhnya terjadi di antariksa dan menghitung dampak
lanjutannya terhadap Bumi.

Informasi itu dapat digunakan untuk mengantisipasi bahaya atau
kerugian yang akan ditimbulkan badai antariksa terhadap peralatan
navigasi yang digunakan operator penerbangan dan pelayaran nasional
maupun internasional.

Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, pihak
lain yang berkepentingan mengantisipasi badai Matahari adalah
operator satelit dan telekomunikasi. Ribuan satelit menjadi bangkai
karena terhantam badai antariksa.

Stasiun Pengamat Matahari tak sekadar mengamati, tetapi mampu menjadi
stasiun peringatan dini. Mereka selalu berjaga kalau-kalau sang Surya
bergejolak dan mempengaruhi kehidupan kita di Bumi.

Sumber : Kompas (26 Juni 2004)

#24 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 4:32 am
Subject: Memata-matai Matahari dari Watukosek
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
HADIRNYA Matahari setiap hari yang selama ini dianggap lazim,
ternyata begitu istimewa bagi Stasiun Pengamat Matahari atau Solar
Observatory.

Stasiun dari berbagai belahan dunia intens memata-matai dan memasok
data hasil aktivitas bintang berjarak delapan menit cahaya atau
sekitar 144 juta kilometer tersebut. Salah satunya adalah stasiun
pengamatan Matahari di bukit yang disebut Gunung Perahu, Watukosek,
Pasuruan, Jawa Timur.

"Daerah ini dipilih karena rata- rata curah hujannya paling sedikit
dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa. Ketinggiannya sekitar
54 meter di atas permukaan laut. Bahkan, Watukosek Solar Observatory
(WKSO) mempunyai hari cerah paling banyak dibandingkan dengan
observatorium Matahari lain di dunia," ungkap Kepala WKSO Bambang
Setiahadi Phamudji yang berkerja sama dengan enam orang peneliti
lainnya.

Pusat pemantauan yang terletak di dalam kompleks Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (Lapan) itu tidak langsung terlihat dari jalan
utama penghubung Mojokerto-Pasuruan. Pengunjung masih harus berjalan
satu kilometer lagi menapaki lahan tandus berbatu dan membelah
perkebunan jambu mete milik PT Perhutani.

Tidak terlalu kompleks struktur bangunan di stasiun itu. Terdiri atas
dua bangunan. Sebuah bangunan berisi kantor staf dan teleskop sunspot
(bintik Matahari) lengkap dengan ruang pengendalinya. Bangunan lain
berisi teleskop flare.

Sekalipun berlokasi di Desa Watukosek yang terpencil, kegiatan
peneliti di sana termasuk salah satu mata rantai observatorium
Matahari internasional. Sejak beberapa tahun lalu Stasiun Watukosek
telah diakui di dunia. Hasil pengamatannya tercantum dalam Sunspot
Index Data Center News, Solar Influence Data Analysis Center, dan
sejak 1991 tergabung dalam National Oceanic and Atmosphere
Administration.

GERHANA Matahari total tahun 1983 menjadi titik awal kerja sama Lapan
dengan Jepang untuk mendirikan tempat pengamatan itu. Aktivitas
Matahari yang langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia di Bumi
menjadi sangat menarik diamati.

Pengamatan Matahari di Watukosek menggunakan dua teleskop. Yang
pertama berfungsi sebagai pengambilan data sunspot secara manual
(sunspot sketch) dan fotografi. Teleskop berdiameter 15 sentimeter
dengan panjang 3 meter itu bagian belakang lensa okulernya dilengkapi
layar proyeksi. Bayangan Matahari yang jatuh kemudian disket manual.
Data bintik Matahari diambil pula secara fotografi dengan meletakan
kamera standar Asahi Pentax di salah satu tabung.

Teleskop kedua digunakan untuk mengamati flare. Data diambil secara
fotografi dan digital sehingga teleskop dilengkapi kamera fotografi
dan CCD.

"Sejauh ini, aktivitas Matahari baru dapat diamati dari reaksi
kegiatan Matahari yang tampak pada lapisan luar seperti sunspot dan
flare, belum dari inti Matahari itu sendiri," kata Bambang.

Sunspot (bintik/noda Matahari) merupakan daerah di lapisan fotosfer
yang temperaturnya lebih rendah daripada sekelilingnya, sehingga
tampak seperti noda-noda gelap.

Bambang mengibaratkan bintik Matahari seperti jerawat yang muncul
ketika terjadi ketidakseimbangan hormon dan metabolisme di dalam
tubuh. Dari pengamatan sunspot dapat dilakukan studi prediksi
terhadap siklus Matahari. Kemunculan bintik hitam di Matahari yang
berkembang cepat menjadi bintik hitam raksasa, sekaligus merupakan
peristiwa paling meyakinkan akan datangnya badai antariksa.

FENOMENA menarik lainnya dari kegiatan pengamatan bintik Matahari
adalah peristiwa pelontaran materi oleh flare besar atau coronal mass
ejection dan pengaruh fisik terhadap Bumi akibat mekanisme perambatan
gelombang kejut MHD (Magnetohydrodynamics).

Sunspot akan tumbuh dan berevolusi menjadi flare besar, yaitu
pelepasan energi berupa ledakan besar. Peristiwa ledakan tersebut
melontarkan materi ke angkasa Matahari dan memancarkan radiasi pada
semua gelombang panjang.

Salah satu peristiwa penting yang tidak dilupakan awak Watukosek
terjadi tanggal 28-30 Oktober 2003. Matahari melepaskan tenaganya
yang mahadahsyat berupa ledakan disertai dengan embusan angin sangat
kuat. Tak kurang dari 100 juta ton materi dari permukaan Matahari
ditembakkan dengan kecepatan 500 km per detik atau sekitar 1.800.000
km per jam. Peristiwa itu disebut pula dengan badai antariksa.

Badai antariksa yang menghasilkan gelombang besar itu bisa
berpengaruh kepada kegiatan yang berkaitan dengan gelombang di Bumi.
Sejak lama para peneliti di Watukosek mengembangkan cara peringatan
dini antariksa untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya aktivitas
Matahari, terutama sebelum terjadinya badai antariksa.

Untuk menggambarkan dampak badai antariksa kepada masyarakat sebelum
badai tiba di Bumi, dilakukan simulasi dengan perangkat utama
teleskop sebagai mata dan sebuah komputer. Dengan sejumlah perintah
yang sudah disusun sebelumnya, komputer akan menyimulasikan badai
seperti yang sesungguhnya terjadi di antariksa dan menghitung dampak
lanjutannya terhadap Bumi.

Informasi itu dapat digunakan untuk mengantisipasi bahaya atau
kerugian yang akan ditimbulkan badai antariksa terhadap peralatan
navigasi yang digunakan operator penerbangan dan pelayaran nasional
maupun internasional.

Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, pihak
lain yang berkepentingan mengantisipasi badai Matahari adalah
operator satelit dan telekomunikasi. Ribuan satelit menjadi bangkai
karena terhantam badai antariksa.

Stasiun Pengamat Matahari tak sekadar mengamati, tetapi mampu menjadi
stasiun peringatan dini. Mereka selalu berjaga kalau-kalau sang Surya
bergejolak dan mempengaruhi kehidupan kita di Bumi.

Sumber : Kompas (26 Juni 2004)

#23 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 3:21 am
Subject: ekspedisi pertama..(stasiun lapan watukosek, gempol)
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum..
Usul!! bagaimana kalau untuk mengawali kegiatan SbyAstroClub ini, kita
mengadakan ekspedisi/pengamatan ke stasiun pengamatan Watukosek milik
Lapan yang terletak di pasuruan?? menurut informasi disana ada beberapa
teropong untuk mengamati aktivitas matahari dan benada-benda langit
lainnya, bagaimana ada yang setuju ???

Wassalamualaikum..

#22 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 3:21 am
Subject: ekspedisi pertama..(stasiun lapan watukosek, gempol)
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum..
Usul!! bagaimana kalau untuk mengawali kegiatan SbyAstroClub ini, kita
mengadakan ekspedisi/pengamatan ke stasiun pengamatan Watukosek milik
Lapan yang terletak di pasuruan?? menurut informasi disana ada beberapa
teropong untuk mengamati aktivitas matahari dan benada-benda langit
lainnya, bagaimana ada yang setuju ???

Wassalamualaikum..

#21 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 3:21 am
Subject: ekspedisi pertama..(stasiun lapan watukosek, gempol)
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum..
Usul!! bagaimana kalau untuk mengawali kegiatan SbyAstroClub ini, kita
mengadakan ekspedisi/pengamatan ke stasiun pengamatan Watukosek milik
Lapan yang terletak di pasuruan?? menurut informasi disana ada beberapa
teropong untuk mengamati aktivitas matahari dan benada-benda langit
lainnya, bagaimana ada yang setuju ???

Wassalamualaikum..

#20 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 3:21 am
Subject: ekspedisi pertama..(stasiun lapan watukosek, gempol)
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum..
Usul!! bagaimana kalau untuk mengawali kegiatan SbyAstroClub ini, kita
mengadakan ekspedisi/pengamatan ke stasiun pengamatan Watukosek milik
Lapan yang terletak di pasuruan?? menurut informasi disana ada beberapa
teropong untuk mengamati aktivitas matahari dan benada-benda langit
lainnya, bagaimana ada yang setuju ???

Wassalamualaikum..

#19 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 3:21 am
Subject: ekspedisi pertama..(stasiun lapan watukosek, gempol)
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum..
Usul!! bagaimana kalau untuk mengawali kegiatan SbyAstroClub ini, kita
mengadakan ekspedisi/pengamatan ke stasiun pengamatan Watukosek milik
Lapan yang terletak di pasuruan?? menurut informasi disana ada beberapa
teropong untuk mengamati aktivitas matahari dan benada-benda langit
lainnya, bagaimana ada yang setuju ???

Wassalamualaikum..

#18 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 29, 2007 3:21 am
Subject: ekspedisi pertama..(stasiun lapan watukosek, gempol)
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum..
Usul!! bagaimana kalau untuk mengawali kegiatan SbyAstroClub ini, kita
mengadakan ekspedisi/pengamatan ke stasiun pengamatan Watukosek milik
Lapan yang terletak di pasuruan?? menurut informasi disana ada beberapa
teropong untuk mengamati aktivitas matahari dan benada-benda langit
lainnya, bagaimana ada yang setuju ???

Wassalamualaikum..

#17 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 8, 2007 4:54 am
Subject: Re: tanya:???
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
--- In SbyAstroClub@yahoogroups.com, yudhiakto pramudya
<yudhirek@...> wrote:
>
>
> --- xeNINTHux <xeninthux@...> wrote:
>
> > Ass,
> >  pada beberapa gerahana baik matahari ataupun bulan
> > banyak ilmuwan
> > yang memburu gerahana tersebut, keba yakan para
> > ilmuwan tersebut adalah
> > penganut teori konspirasi yang bertentangan dengan
> > teori einstein bahwa
> > cahaya dapat dibelokkan oleh gravitasi. yang ingin
> > saya tanyakan
> > bagaimana cara/metode ilmuwan tuntuk mengamati gerak
> > cahaya pada saat
> > gerhana tersebut??
> >
>
>
> halo, apa kabar?
>
> saya sendiri kurang tahu banyak tentang lensa
> gravitasi, sejauh yang saya tahu sudah dilakukan
> pengamatan pada saat gerhana matahari. tapi saya belum
> tahu detailnya.
>
>
> milisnya sepi ya, anggotanya juga dikit, makanya kasih
> tahu temen2nya ya :)
>
> basecampnya? ehmm kalo gak salah dulu dulu pernah ada
> kumpul2 di rumahnya pak Zani di Peneleh deket masjid.
>
> Anda sendiri dimana?
>
> Sampai jumpa
>
> Salam manis
>
> Yudhi
>
>
>
> saya bertempat di kedung sroko II/5, kebetulan setiap jumat pagi
saya ke masjid peneleh, rumahnya pak zani sebelah mana??
sekedar info kemarin (senin, 5 Maret 2007) di ITS ada pelatihan Ilmu
Falak 1 tentang penentuan arah kiblat oleh Bpk. Agus Darwito, Dsc.
pakar fisika teorotik Jur Fisika FMIPA ITS, tapi maaf saya lupa
memberikan info ini ke tmn2 SbyAxtroClub, saya sendiri juga tidak
bisa ikut karena ada kuliah  hari itu.
>
>
> >
> > > >
>
>
> hanya seorang petualang di alam semesta
>
> -------------------------------------------------
>
> http://ypramudya.blogspot.com/
>
>
>
>
______________________________________________________________________
______________
> Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
> Ask your question on www.Answers.yahoo.com
>

#16 From: yudhiakto pramudya <yudhirek@...>
Date: Tue Mar 6, 2007 2:22 am
Subject: Re: tanya:???
yudhirek
Offline Offline
Send Email Send Email
 
--- xeNINTHux <xeninthux@...> wrote:

> Ass,
>  pada beberapa gerahana baik matahari ataupun bulan
> banyak ilmuwan
> yang memburu gerahana tersebut, keba yakan para
> ilmuwan tersebut adalah
> penganut teori konspirasi yang bertentangan dengan
> teori einstein bahwa
> cahaya dapat dibelokkan oleh gravitasi. yang ingin
> saya tanyakan
> bagaimana cara/metode ilmuwan tuntuk mengamati gerak
> cahaya pada saat
> gerhana tersebut??
>


halo, apa kabar?

saya sendiri kurang tahu banyak tentang lensa
gravitasi, sejauh yang saya tahu sudah dilakukan
pengamatan pada saat gerhana matahari. tapi saya belum
tahu detailnya.


milisnya sepi ya, anggotanya juga dikit, makanya kasih
tahu temen2nya ya :)

basecampnya? ehmm kalo gak salah dulu dulu pernah ada
kumpul2 di rumahnya pak Zani di Peneleh deket masjid.

Anda sendiri dimana?

Sampai jumpa

Salam manis

Yudhi






>
> NB: 1.milis ini kok sepi2 aja ya...
>     2.basecamnya SbyAstroClub dmn ya...???
>
>


hanya seorang petualang di alam semesta

-------------------------------------------------

http://ypramudya.blogspot.com/



________________________________________________________________________________\
____
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
Ask your question on www.Answers.yahoo.com

#15 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Tue Mar 6, 2007 1:35 am
Subject: tanya:???
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Ass,
  pada beberapa gerahana baik matahari ataupun bulan banyak ilmuwan
yang memburu gerahana tersebut, keba yakan para ilmuwan tersebut adalah
penganut teori konspirasi yang bertentangan dengan teori einstein bahwa
cahaya dapat dibelokkan oleh gravitasi. yang ingin saya tanyakan
bagaimana cara/metode ilmuwan tuntuk mengamati gerak cahaya pada saat
gerhana tersebut??


NB: 1.milis ini kok sepi2 aja ya...
     2.basecamnya SbyAstroClub dmn ya...???

#14 From: "xeNINTHux" <xeninthux@...>
Date: Thu Mar 1, 2007 6:41 am
Subject: Introducing...
xeninthux
Online Now Online Now
Send Email Send Email
 
Assalamualaikum...
   Perkenalkan saya orang baru di bidang ini, astronomy. saya baru
mulai belajar dan pengen tahu lebih dalam (sebenarnya minat udah ada
sejak lama tapi ga t harus ngapain). kesibukan saya saat ini adalah
sebagai mahasiswa semester 4 di jurusan teknik fisika FTI - ITS
surabaya. melalui forum ini saya ingin menggali ilmu dari saudara-
saudara yang lebih dulu tahu di bidang astronomi. mohon bimbingannya,
dan jangan sungkan2 utk bagi ilmu kpd saya..

Wassalam.

#13 From: SbyAstroClub@yahoogroups.com
Date: Tue Feb 27, 2007 11:17 pm
Subject: New file uploaded to SbyAstroClub
SbyAstroClub@yahoogroups.com
Send Email Send Email
 
Hello,

This email message is a notification to let you know that
a file has been uploaded to the Files area of the SbyAstroClub
group.

   File        : /445712a.pdf
   Uploaded by : yudhirek <yudhirek@...>
   Description : shooting for the moon

You can access this file at the URL:
http://groups.yahoo.com/group/SbyAstroClub/files/445712a.pdf

To learn more about file sharing for your group, please visit:
http://help.yahoo.com/help/us/groups/files

Regards,

yudhirek <yudhirek@...>

#12 From: SbyAstroClub@yahoogroups.com
Date: Tue Feb 27, 2007 11:17 pm
Subject: New file uploaded to SbyAstroClub
SbyAstroClub@yahoogroups.com
Send Email Send Email
 
Hello,

This email message is a notification to let you know that
a file has been uploaded to the Files area of the SbyAstroClub
group.

   File        : /445474a.pdf
   Uploaded by : yudhirek <yudhirek@...>
   Description : back to the moon

You can access this file at the URL:
http://groups.yahoo.com/group/SbyAstroClub/files/445474a.pdf

To learn more about file sharing for your group, please visit:
http://help.yahoo.com/help/us/groups/files

Regards,

yudhirek <yudhirek@...>

#11 From: JeSsiCa StePhaNiE <jez_equinox@...>
Date: Fri Dec 15, 2006 11:41 am
Subject: Re: ketemuan yux
jez_equinox
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Aku ke jkt tuh dr tgl 21 des - 2 jan
Klo tgl 13-16 jan sih di sby


Yudhiakto Pramudya <yudhirek@...> wrote:
Hai dulur2, apa kabar semua?

Aku mau ke Surabaya tanggal 30 Des- 2 Jan, trus ke Jkt dan ke Sby lagi
tanggal 13 - 16 Jan.

Kira2 bisa ketemuan gak ya? soalnya mungkin aku bisa bawa peta
bintang, tapi hrs ketemu ama Ian dulu.

Sampai Jumpa

Yudhi

no telp rumah surabaya: 5478785



Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

#10 From: "Yudhiakto Pramudya" <yudhirek@...>
Date: Thu Dec 14, 2006 2:48 am
Subject: ketemuan yux
yudhirek
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Hai dulur2, apa kabar semua?

Aku mau ke Surabaya tanggal 30 Des- 2 Jan, trus ke Jkt dan ke Sby lagi
tanggal 13 - 16 Jan.


Kira2 bisa ketemuan gak ya? soalnya mungkin aku bisa bawa peta
bintang, tapi hrs ketemu ama Ian dulu.


Sampai Jumpa


Yudhi


no telp rumah surabaya: 5478785

#9 From: Mutoha MMC <astroman_jac@...>
Date: Thu Nov 2, 2006 4:21 pm
Subject: Event Astronomi Indonesia November 2006
astroman_jac
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dear penggemar & pecinta astronomi,
Telah kami susun Kalender Even Astronomi Indonesia untuk bulan November 2006.
Ada beberapa event yang mungkin menarik untuk disaksikan selama bulan ini.
Diantaranya Leonids Meteor Shower dan Transit Merkurius. Demikian semoga bermanfaat.
 
 
 
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club (JAC)
Yogyakarta - Indonesia
============ ========= ========= ====
Bringing Astronomy to the People
============ ========= ========= ====


We have the perfect Group for you. Check out the handy changes to Yahoo! Groups.

#8 From: Tersia Marsiano <nesa_id@...>
Date: Tue Oct 31, 2006 7:27 am
Subject: Re: Orionid Meteor Shower, Star Observation at Van Vleck Observatory
nesa_id
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Cak Zani sepurane gak sempet mampir nang peneleh. Sak
jane wingi aku nggowo peta langit, tapi yo berhubung
agenda kunjungan nang dulur-dulur padet, gak sempet
mampir

Mars

--- Yudhiakto Pramudya <yudhirek@...> wrote:

> Assalammualaikum
>
> turut serta ikut melaporkan pandangan mata dari
> Hartford, CT, USA,
> bahwasnya terlihat meteor (cuma satu) menjelang
> sahur pada hari
> Sabtu tanggal 21 Oktober lalu, selepas Itikaf di
> Trinity College.
> Arah jatuhnya melintang diantara Orion dan Taurus.
>
> Dan rabu tanggal 25 Oktober sekitar jam 8 lewat
> waktu setempat saya
> mengunjungi Van Vleck Observatorium, Wesleyan
> University,
> Middletown, CT. Malam itu sempat melihat 2 obyek
> benda langit, yang
> pertama, Albireo, binary star system, kemaren yang
> terlihat satunya
> besar berwarna kuning dan satunya lebih kecil
> berwarna biru. tetapi
> sebenarnya ini kan triple star, ya toh, soalnya yang
> besar itu
> terdiri dari 2 bintang yang berdekatan. Trus
> kemudian, pengamatan
> dilanjutkan dengan obyek andromeda.
>
>
> Ya sekian dulu laporan pandangan matanya
>
> Salam Manis
>
> Wassalam
>
> Yudhiakto Pramudya
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>




________________________________________________________________________________\
____
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited
(http://music.yahoo.com/unlimited)

#7 From: SbyAstroClub@yahoogroups.com
Date: Mon Oct 30, 2006 3:25 am
Subject: New file uploaded to SbyAstroClub
SbyAstroClub@yahoogroups.com
Send Email Send Email
 
Hello,

This email message is a notification to let you know that
a file has been uploaded to the Files area of the SbyAstroClub
group.

   File        : /(ebook - pdf) stephen hawking - book - theory of everything.pdf
   Uploaded by : yudhirek <yudhirek@...>
   Description :

You can access this file at the URL:
http://groups.yahoo.com/group/SbyAstroClub/files/%28ebook%20-%20pdf%29%20stephen\
%20hawking%20-%20book%20-%20theory%20of%20everything.pdf

To learn more about file sharing for your group, please visit:
http://help.yahoo.com/help/us/groups/files

Regards,

yudhirek <yudhirek@...>

#6 From: "Yudhiakto Pramudya" <yudhirek@...>
Date: Mon Oct 30, 2006 3:22 am
Subject: Orionid Meteor Shower, Star Observation at Van Vleck Observatory
yudhirek
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Assalammualaikum

turut serta ikut melaporkan pandangan mata dari Hartford, CT, USA,
bahwasnya terlihat meteor (cuma satu) menjelang sahur pada hari
Sabtu tanggal 21 Oktober lalu, selepas Itikaf di Trinity College.
Arah jatuhnya melintang diantara Orion dan Taurus.

Dan rabu tanggal 25 Oktober sekitar jam 8 lewat waktu setempat saya
mengunjungi Van Vleck Observatorium, Wesleyan University,
Middletown, CT. Malam itu sempat melihat 2 obyek benda langit, yang
pertama, Albireo, binary star system, kemaren yang terlihat satunya
besar berwarna kuning dan satunya lebih kecil berwarna biru. tetapi
sebenarnya ini kan triple star, ya toh, soalnya yang besar itu
terdiri dari 2 bintang yang berdekatan. Trus kemudian, pengamatan
dilanjutkan dengan obyek andromeda.


Ya sekian dulu laporan pandangan matanya

Salam Manis

Wassalam

Yudhiakto Pramudya

#5 From: JeSsiCa StePhaNiE <jez_equinox@...>
Date: Thu Oct 19, 2006 12:45 pm
Subject: Help...
jez_equinox
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Minta saran donk...
Kira2 gmana ya biar SbyAstroClub ini bisa jalan dengan berbagai keminiman,
minim anggota, minim pengetahuan ttg astronomi, minim peralatan&perlengkapan, minim waktu (waktu aku banyak tersita sama urusan kuliah, kerja, dll), dan minim yang lainnya.


Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.

#4 From: "Yudhiakto Pramudya" <yudhirek@...>
Date: Thu Oct 5, 2006 6:40 pm
Subject: nasa for student
yudhirek
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Natalie Godwin 818-354-0850

Jet Propulsion Laboratory, Pasadena , Calif.



Cheryl Thompson 760-946-5414 ext. 202

Lewis Center for Educational Research


News Release: 2006-120
                              October 5, 2006


Student Telescope Program at Goldstone Turns 10



The Goldstone Apple Valley Radio Telescope Program in California 's
Mojave Desert celebrates its 10th anniversary this month. Since its
inception in October 1996, the program has partnered with NASA and the
Jet Propulsion Laboratory in Pasadena , Calif. , in creating an
educational program for K-12 students. This premier educational
program has trained 21,000 students at 177 schools in 27 states and 13
countries, and it continues to expand.



An anniversary celebration will be held on Tues., Oct. 17, at NASA's
Goldstone's Deep Space Communication Complex. During the celebration,
the telescope will be renamed the Dr. Michael J. Klein Radio
Observatory, in honor of the late JPL scientist who was instrumental
in helping to form the program.



The program's telescope, Deep Space Station-12, was once on the list
to be decommissioned by NASA. In the early 1960s, the telescope was
used to track unmanned spacecraft missions such as Voyager, Viking and
Galileo, and Apollo spacecraft returning from the moon.



The Lewis Center for Educational Research in Apple Valley operates the
telescope as a unique learning tool for students, with the goal of
partnering students with scientists in real-life, hands-on activities.
Research studies have shown that the program allows students to feel a
sense of accomplishment that they are collecting relevant data for
NASA and JPL.



Students from around the world connect to the 34-meter (111-foot)
telescope via the Internet. Once they are connected, mission control
operators at the Lewis Center assist them in taking control of the
telescope and collecting data from the deepest regions of space.



   In 2001, students participated in the Cassini Jupiter Microwave
Observing campaign, collecting data that were helpful in refining the
calibrations of the passive radiometer instrument on the Cassini
spacecraft as it made its way past Jupiter. Students also observed the
landing sites for the Mars rovers, Spirit and Opportunity .



For more information about the Lewis Center for Educational Research
on the Internet, visit www.lewiscenter.org .  For more information
about JPL on the Internet, visit www.jpl.nasa.gov .



- end -

#3 From: JeSsiCa StePhaNiE <jez_equinox@...>
Date: Mon Oct 2, 2006 2:32 am
Subject: Re: Event Astronomi Oktober 2006
jez_equinox
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Terima kasih atas infonya
^_^


MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...> wrote:
Dear penggemar & pecinta astronomi,
Telah kami susun Kalender Even Astronomi untuk wil. Indonesia, Malaysia, Brunei & sekitarnya untuk Oktober 2006.
Ada beberapa event yang mungkin menarik untuk disaksikan selama bulan ini.
Demikian semoga bermanfaat. Jikalau ada salahan harap maklum.
 
 
 
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club (JAC)
Yogyakarta - Indonesia
==================================
Bringing Astronomy to the People
==================================
 
 

Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.


Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

#2 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Sun Oct 1, 2006 7:30 pm
Subject: Event Astronomi Oktober 2006
jogja_astroclub
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Dear penggemar & pecinta astronomi,
Telah kami susun Kalender Even Astronomi untuk wil. Indonesia, Malaysia, Brunei & sekitarnya untuk Oktober 2006.
Ada beberapa event yang mungkin menarik untuk disaksikan selama bulan ini.
Demikian semoga bermanfaat. Jikalau ada salahan harap maklum.
 
 
 
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club (JAC)
Yogyakarta - Indonesia
==================================
Bringing Astronomy to the People
==================================
 
 


Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.

#1 From: "jez_equinox" <jez_equinox@...>
Date: Thu Sep 28, 2006 11:09 am
Subject: Welcome to Surabaya Astronomi Club
jez_equinox
Offline Offline
Send Email Send Email
 
Selamat datang di mailing list Surabaya Astronomi Club
Untuk posting message ke : SbyAstroClub@yahoogroups.com

Messages 1 - 30 of 377   Newest  |  < Newer  |  Older >  |  Oldest
Advanced
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help