Itu sudah diperhitungkan. Orbit Bulan memang orbit ellips (dengan eksentrisitas ellips 0,0549) dengan setengah sumbu mayor orbitnya sebesar 377.113 km (dihitung dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Nah pertambahan jarak sebesar 3,6 cm/tahun itu terjadi di setengah sumbu mayor orbitnya ini, yang membawa konsekuensi bahwa titik terdekat Bulan dengan Bumi (atau titik perigee) dan titik terjauh Bulan dengan Bumi (atau titik apogee) pun bertambah jauh sebesar 3,6 cm/tahun pula dari pusat Bumi. Harus dicatat bahwa tahun yang digunakan di sini adalah tahun solar (Syamsiyyah), bukan tahun lunar (Qomariyyah).
Dinamika ini membawa beberapa implikasi. Yang pertama, jika di-setback ke belakang, memang pada 4,6 milyar tahun silam (atau pada masa bayi tata surya), Bulan pernah berada sangat dekat dengan Bumi, yakni hanya 22.000 km dari pusat Bumi. Pada area inilah memang Bulan terbentuk, mengingat gaya pasang surut gravitasi membatasi bahwa Bulan tidak boleh mendekat ke Bumi hingga kurang dari jarak 18.500 km dari pusat Bumi (jika harga kerapatan Bumi dan Bulan pada masa itu tetap sama dengan masa kini, yakni 5,5 banding 3,5). Kondisi ini ,membawa pada satu pemikiran bahwa Bulan memang terbentuk dari terpecahnya Bumi-purba (alias proto-Bumi) pada masa awal tata surya. Perpecahan ini terjadi akibat hantaman benda langit seukuran Mars (yang secara umum disebut Theia) pada Bumi-purba, yang pada saat itu masih berwujud gumpalan cair panas. Hantaman tersebut menyebabkan sebagian lapisan terluar Bumi dan Theia (kita sebut saja sebagai lapisan proto-kerak) terlempar terhambur ke angkasa pada ketinggian 18.500 - 22.000 km dari pusat proto-Bumi, sementara inti Theia melesak masuk ke dalam proto-Bumi dan menjadi bagian dari inti Bumi sekarang. Hantaman ini yang menyebabkan sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan 23,5 derajat dari ekliptika. Sementara hamburan material yang beredar pada jarak 18.500 - 22.000 km dari pusat Bumi itu kemudian mengalami kondensasi, memadat dan akhirnya membentuk benda langit tersendiri dengan massa 1/81 massa Bumi dan itu yang kemudian dikenal sebagai Bulan. Sisa material yang tidak ikut berkondensasi diyakini sempat membentuk "cincin" pada Bumi, sama persis dengan cincin-cincin planet Saturnus. Namun akibat gaya pasang surut Bumi, material penyusun cincin kemudian menghilang ke angkasa dilemparkan oleh gravitasi Bumi sehingga cincin Bumi pun lenyap. terlebih lagi karena pada Bumi tidak ada sumber material pengganti bagi material cincin yang lenyap tersebut, seperti yang terjadi pada sistem cincin Jupiter.
Implikasi yang kedua, Bulan akan terus menjauh, namun bukannya tanpa batas. Posisi Bulan saat ini dikontrol, selain oleh gravitasi Bumi, juga oleh gravitasi Matahari, Venus dan Mars. Ketika Bulan makin menjauh dari Bumi, maka ia akan tiba pada suatu lokasi dimana dinamikanya lebih dikontrol oleh gravitasi Matahari. Pada saat itu Bulan tetap menjadi satelit Bumi, namun orbitnya mungkin sangat berubah dibandingkan dengan saat ini. Sebenarnya dinamika semacam ini tidaklah aneh. Dua satelit Mars misalnya, yakni Phobos dan Deimos, pun memiliki dinamika hampir mirip, hanya saja keduanya tidak bergerak makin nmenjauh namun justru makin mendekat ke planet Mars. Dan dalam beberapa juta tahun ke depan baik Phobos maupun Deimos akan menumbuk permukaan Mars. Perbedaan dinamika ini disebabkan oleh beda asal-susl : satelit Mars yang merupakan satelit tangkapan yang semula hanyalah asteroid biasa yang kebetulan saja melintas di dekat Mars sehingga tersekap oleh gravitasi Mars, sementara Bulan berasal dari terpecahnya Bumi.
Salam,
Ma'rufin
Dinamika ini membawa beberapa implikasi. Yang pertama, jika di-setback ke belakang, memang pada 4,6 milyar tahun silam (atau pada masa bayi tata surya), Bulan pernah berada sangat dekat dengan Bumi, yakni hanya 22.000 km dari pusat Bumi. Pada area inilah memang Bulan terbentuk, mengingat gaya pasang surut gravitasi membatasi bahwa Bulan tidak boleh mendekat ke Bumi hingga kurang dari jarak 18.500 km dari pusat Bumi (jika harga kerapatan Bumi dan Bulan pada masa itu tetap sama dengan masa kini, yakni 5,5 banding 3,5). Kondisi ini ,membawa pada satu pemikiran bahwa Bulan memang terbentuk dari terpecahnya Bumi-purba (alias proto-Bumi) pada masa awal tata surya. Perpecahan ini terjadi akibat hantaman benda langit seukuran Mars (yang secara umum disebut Theia) pada Bumi-purba, yang pada saat itu masih berwujud gumpalan cair panas. Hantaman tersebut menyebabkan sebagian lapisan terluar Bumi dan Theia (kita sebut saja sebagai lapisan proto-kerak) terlempar terhambur ke angkasa pada ketinggian 18.500 - 22.000 km dari pusat proto-Bumi, sementara inti Theia melesak masuk ke dalam proto-Bumi dan menjadi bagian dari inti Bumi sekarang. Hantaman ini yang menyebabkan sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan 23,5 derajat dari ekliptika. Sementara hamburan material yang beredar pada jarak 18.500 - 22.000 km dari pusat Bumi itu kemudian mengalami kondensasi, memadat dan akhirnya membentuk benda langit tersendiri dengan massa 1/81 massa Bumi dan itu yang kemudian dikenal sebagai Bulan. Sisa material yang tidak ikut berkondensasi diyakini sempat membentuk "cincin" pada Bumi, sama persis dengan cincin-cincin planet Saturnus. Namun akibat gaya pasang surut Bumi, material penyusun cincin kemudian menghilang ke angkasa dilemparkan oleh gravitasi Bumi sehingga cincin Bumi pun lenyap. terlebih lagi karena pada Bumi tidak ada sumber material pengganti bagi material cincin yang lenyap tersebut, seperti yang terjadi pada sistem cincin Jupiter.
Implikasi yang kedua, Bulan akan terus menjauh, namun bukannya tanpa batas. Posisi Bulan saat ini dikontrol, selain oleh gravitasi Bumi, juga oleh gravitasi Matahari, Venus dan Mars. Ketika Bulan makin menjauh dari Bumi, maka ia akan tiba pada suatu lokasi dimana dinamikanya lebih dikontrol oleh gravitasi Matahari. Pada saat itu Bulan tetap menjadi satelit Bumi, namun orbitnya mungkin sangat berubah dibandingkan dengan saat ini. Sebenarnya dinamika semacam ini tidaklah aneh. Dua satelit Mars misalnya, yakni Phobos dan Deimos, pun memiliki dinamika hampir mirip, hanya saja keduanya tidak bergerak makin nmenjauh namun justru makin mendekat ke planet Mars. Dan dalam beberapa juta tahun ke depan baik Phobos maupun Deimos akan menumbuk permukaan Mars. Perbedaan dinamika ini disebabkan oleh beda asal-susl : satelit Mars yang merupakan satelit tangkapan yang semula hanyalah asteroid biasa yang kebetulan saja melintas di dekat Mars sehingga tersekap oleh gravitasi Mars, sementara Bulan berasal dari terpecahnya Bumi.
Salam,
Ma'rufin
From: Eriyawan E <erimilis@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, July 2, 2009 8:26:09 AM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Bulan Ternyata Makin Menjauh...
apakah itu sudah diperhitungkan bila bulan bergerak secara elips
terhadap bumi, sehingga pada satu saat berjarak sangat dekat dan saat
tertentu lainnya dia berjarak sangat jauh. bergerak elips maka setelah
mencapai jarak terjauh akan bergerak mendekat lagi, dst...
2009/6/29 Ufonesia <mrdmudmmVM@...>:
> Bulan Ternyata Makin Menjauh...
> Oleh Yulvianus Harjono
>
> KOMPAS.com-Pada suatu masaâ€"jutaan tahun ke depanâ€"keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang.
>
> Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.
>
> Bukan tanpa alasan Neil Armstrongâ€"manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulanâ€"meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.
>
> Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.
>
> Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.
>
> Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).
>
> Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.
>
> Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?
>
> Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.
>
> Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun.
>
> Stabilitas iklim
>
> Fakta menjauhnya orbit bulan ini menjadi ancaman tidak hanya populasi manusia, tetapi juga kehidupan makhluk hidup di bumi. Pergerakan bulan, seperti diungkapkan Dr Jacques Laskar, astronom dari Paris Observatory, berperan penting menjaga stabilitas iklim dan suhu di bumi.
>
> †Bulan adalah regulator iklim bumi. Gaya gravitasinya menjaga bumi tetap berevolusi mengelilingi matahari dengan sumbu rotasi 23 derajat. Jika gaya ini tidak ada, suhu dan iklim bumi akan kacau balau. Gurun Sahara bisa jadi lautan es, sementara Antartika menjadi gurun pasir,†ucapnya kepada Science Channel.
>
> Sejumlah penelitian menyebutkan, pergerakan bulan juga berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup. Terumbu karang, misalnya, biasa berkembang biak, mengeluarkan spora, ketika air pasang yang disebabkan bulan purnama tiba.
>
> Bulan penuh juga dipercaya meningkatkan perilaku agresif manusia. Di Los Angeles, AS, kepolisian wilayah setempat biasanya akan lebih waspada terhadap peningkatan aktivitas kriminal saat purnama.
>
> Menjauhnya bulan dari bumi diyakini ahli geologis juga berpengaruh terhadap aktivitas lempeng bumi. Beberapa ahli telah lama menghubungkan kejadian sejumlah gempa dengan aktivitas bulan. †Kekuatan yang sama yang menyebabkan laut pasang ikut memicu terangkatnya kerak bumi,†ucap Geoff Chester, astronom yang bekerja di Pusat Pengamatan Angkatan Laut AS, seperti dikutip dari National Geographic.
>
> Beberapa kejadian gempa besar di Tanah Air yang pernah tercatat diketahui juga terkait dengan pergerakan bulan. Gempa-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (2004), Nabire (2004), Simeuleu (2005), dan Nias (2005) terjadi saat purnama. Gempa Mentawai (2005) dan Yogyakarta (2005) terjadi pada saat bulan baru dan posisi bulan di selatan.
>
> Misi terbaru NASA
>
> Kini, bulan sebagai tetangga terdekat bumi kembali menjadi perhatian riset astronomi di dunia. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada Jumat (19/6) meluncurkan wahana LCRoS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) di Cape Canaveral, AS. Wahana ini adalah bagian dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yaitu persiapan program mengembalikan astronot ke bulan tahun 2020 setelah terakhir dilakukan pada 1969-1972 (Reuters, 18/6).
>
> Sasaran utama misi LCRoS untuk memastikan ada tidaknya air beku yang dipercaya berada di kawasan kawah gelap dekat kutub bulan. Dibantu dengan LRO yang memetakan permukaan di bulan secara detail, kedua misi baru ini mengisyaratkan hal besar: menancapkan tonggak baru soal kemungkinan membangun koloni di luar bumi!
>
> Namun, dengan penuh kerendahan hati, Craig Tooley, LRO Project Manager, mengatakan, †Pengetahuan kita tentang bulan secara keseluruhan saat ini masih minim. Kita punya peta lebih baik tentang Mars, tetapi tidak untuk bulan kita sendiri.â€
>
>
> Sumber : Kompas Cetak
> http://sains.kompas.com/read/xml/2009/06/22/05384639/bulan.ternyata.makin.menjauh...
>
>
>
> ------------------------------------
>
> **************************************************************************
> Arsip Milis bisa diakses di: http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia
> Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
> **************************************************************************
> Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia-subscribe@yahoogroups.com
> Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
> **************************************************************************
> NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
> **************************************************************************Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
------------------------------------
**************************************************************************
Arsip Milis bisa diakses di: http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia
Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
**************************************************************************
Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia-subscribe@yahoogroups.com
Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
**************************************************************************
NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
**************************************************************************Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:astronomi_indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:astronomi_indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
astronomi_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/