Itu sekedar pendapat saya. Kalo dalam tafsir-tafsir yang ada, sejauh ini belum spesifik menjelaskan langit sebagai apa. Ada memang yang menafsirkan langit sebagai ruang antarplanet, sehingga orbit Mars dikatakan sebagai perbatasan langit pertama, orbit Jupiter sebagai batas langit kedua dan seterusnya hingga langit ketujuh itu ada di Pluto. Dan kemudian dijelaskan pula, Sidratil Muntaha yang dikunjungi Nabi SAW dalam Mi'rajnya itu ada di Pluto (!). Sedikit "aneh" memang, karena dengan keluasan jagat raya yang mencapai 13,7 milyar tahun cahaya ini, sebenarnya jarak Bumi-Pluto bukanlah apa-apa, padahal kata-kata Sidratil Muntaha itu merujuk kepada tempat yang jauh. Namun ya harus dipahami bahwa sangat jarang ada mufassir yang uptodate terhadap semua perkembangan sains.
Sependapat. Aneh jika blackhole dikatakan sebagai retakan langit. Karena sejatinya nggak ada yang retak di sana. Di sana 'hanya' ada asimtot ruang waktu, ya kasarnya pilinan ruang-waktu, namun tetap dalam bentuk kurva tertutup, tidak "robek". Robeknya atau retaknya ruang-waktu terjadi bukan oleh blackhole, namun oleh pengembangan jagat raya sendiri yang terus bertambah cepat oleh dorongan dark energy, sehingga dalam 50 milyar tahun ke depan gravitasi takkan sanggup lagi mempertahankan keutuhan jagat raya dan membuat ruang-waktu menjadi "robek", sehingga keseluruhan materi dari skala makro seperti galaksi dan bintang-bintang hingga ke skala mikro seperti atom dan partikel-partikel subatomik akan lenyap. Skenario macam ini dinamakan the big rip.
Salam,
Ma'rufin
From: Edwards <edwards.taufiqurrahman@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, July 1, 2009 2:17:24 PM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Langit Retak?
IMO: Ada 2 hal yang mesti diperhatikan dulu, yakni
1. Bagaimana penafsiran jumhur ulama terhadap ayat2 tersebut, dan terutama sekali dari ulama yang up to date terhadap sains?
2. Langit itu apa sih?
Pertanyaan tentang apa itu langit pernah muncul di milis ini beberapa waktu lalu. Langit menurut definisi umum ya itu tuh, yang warnanya biru kalau di siang hari yang cerah. Tapi kalau dilihat lebih lanjut, warna biru itu muncul karena kita punya atmosfer. Kalau di bulan, lain lagi warnanya, demikian juga di planet lain. Nah, kalau sudah begitu, definisi langit apa dong?
Apakah langit yang dimaksudkan dalam Al Quran itu atmosfer? Lapisan2 langit itu orbit planet2 di tata surya? Atau galaksi? Atau ada semesta paralel di lapisan lain semesta kita? Wallahu a'lam.
Saya sendiri merasa agak aneh menyatakan blackhole sebagai "retakan langit".
Salam.
salam,maaf kalo OOT atau ngawur, tapi ada yang menarik dari diskusi di milis tetangga ini ...satriyo
--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28
“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?” [50:6]
Keterangan “langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun” ditegaskan dalam ayat lain:
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” [67:3,4]
Langit yang tidak mempunyai retak-retak sedikitpun menjadi tanda atas keMahaTelitian Allah. Keretakan, walaupun kecil, akan melemahkan suatu bangunan. Suatu saat bangunan itu akan roboh. Dan ketiadaan keretakan pada langit yang begitu besar menunjukkan bahwa Allah Maha Teliti dalam membangun dan memelihara setiap detil terkecil dari langit.
Namun ada sebagian orang yang memandang Black Hole sebagai sebuah retakan langit:
http://netindonesia .net/blogs/ agung/archive/ 2006/09/25/ Lubang-Cacing- di-Langit. aspx
[[ “Dia yang mencipta tujuh langit berlapis-lapis, Tidak engkau lihat pada ciptaan Allah suatu cacat pun, pandanglah lagi, adakah kau lihat ada retak di sana ? Lalu ulangi pandanglah sekali lagi, niscaya pandanganmu akan tunduk takluk. ” [Al Mulk 67:3-4]
Ayat di atas biasanya ditafsirkan sebagai ajaran bagi manusia agar tunduk memandangi kehebatan langit ciptaan Allah swt yang mulus tanpa cacat. Sebetulnya, tidak perlu bagi Allah swt menyuruh kita memperhatikan langit sampai dua kali agar kita kagum tertuntunduk akan kehebatan ciptaan-Nya. Sekali menatap langit di malam hari sudah cukup mampu mencekam jiwa dan bisa membuat manusia merasakan kekerdilan dirinya karena luasnya alam semesta. Kita seharusnya penasaran membaca ayat di atas. Pasti ada sesuatu di balik peirntah Allah untuk ‘dua kali mencari retak di langit’. Ahli tafsir lama hanya mengartikan bahwa retak di langit itu mustahil, karena ciptaan Allah pasti sempurna. Tapi betulkah retak itu suatu kegagalan ? Bagaimana dengan retak yang disengaja oleh Allah ?
Lubang Hitam (black hole) merupakan tempat di ruang angkasa yang menyedot segala sesuatu di dekatnya, cahaya dan radiasi tidak bisa memancar ke luar, sehingga gelap tak terlihat. Bitang yang berukuran 10 kali massa matahari bila runtuh akan menjadi lubang hitam yang sangat padat dengan radius 3 km. Menurut Stephen Hawking, lubang-lubang hitam sebesar ujung jarum tersebar di penjuru alam ini. Sedangkan di pusat-pusat galaksi ada lubang hitam super-masif berukuran sejuta massa matahari yang dengan dahsyat menyedot apa pun di sekitarnya. Teori ‘General Relativity’, Einstein mengharuskan adanya suatu tempat yang merupakan kebalikannya, dengan persamaan akar kuadrat negatif, yakni disebut Lubang Putih (white hole), dimana segala sesuatu dimuntahkan keluar. Lokasinya tidak di alam semesta yang kita diami ini tetapi di dalam kembarannya (paralel universe). ]]
Benarkan pandangan tersebut?.
--
"The hardest part was letting go not taking part" (Coldplay - The Hardest Part)
Edwards Taufiqurrahman
http://www.edskywalker.co.cc