Langit Bulan nampak hitam, itu memang sudah seharusnya demikian. Kita bisa mengecek ulang bahwa semua misi Apollo yang mendarat di Bulan (dari Apollo 11 sampai 17, terkecuali 13) mendarat di wajah Bulan yang berhadapan dengan Bumi (alias di area nearside) dan semuanya berlangsung tidak pada periode konjungsi Bulan - Matahari (ijtima'). Sehingga lokasi-lokasi pendaratan mereka sedang dalam kondisi tersinari cahaya Matahari alias dalam kondisi siang. Dan karena jarak Bulan ke Matahari tidak berbeda (secara makro) dengan jarak Bumi ke Matahari, kita bisa mengatakan bahwa kondisi penyinaran Matahari di Bulan sama dengan di Bumi sehingga kondisi langit yang dilihat di Bulan pun sama dengan di Bumi. Perkecualian ada pada warna langit, karena Bulan tidak punya atmosfer, maka langitnya berwarna hitam. Namun dalam kondisi siang, tentu saja cahaya dari bintang-bintang kalah jauh dengan penyinaran Matahari sehingga bintang-bintang tetap tidak akan nampak. Ini sama saja lah dengan di Bumi, dimana pada siang hari dan dalam kondisi langit yang cerah sekali (tanpa awan sedikitpun) kita pun takkan mungkin melihat bintang-bintang bukan? Justru jika disebutkan di langit Bulan yang hitam "harusnya" terlihat bintang-bintang, malah ketahuan kalo itu jelas bohong.
Soal bayangan yang nggak konsisten, alias ada lebih dari satu "sumber" cahaya yang melatarbelakanginya, penjelasannya juga sederhana. Permukaan Bulan itu tersusun oleh regolith, yakni sejenis pasir yang sangat halus (sehalus bedak) dan berwarna putih sehingga berkemampuan memantulkan cahaya Matahari. Sehingga berdiri di permukaan Bulan bisa diibaratkan seperti berdiri di area singkapan marmer atau gamping atau dolomit, yang kaya akan Kalsium Karbonat itu dan punya warna keputih-putihan sehingga sinar Matahari dipantulkan dari mana-mana. Pandangan kita akan terasa silau di sini, tak peduli meski kita membelakangi Matahari (itulah sebabnya kenapa para penambang gamping atau marmer selalu mengenakan kaca mata hitam ketika bekerja). Kondisi iluminasi seperti ini yang membuat seolah ada "sumber" cahaya tambahan, padahal itu cuman pantulan.
Okelah, masalah foto ini, bisalah dianggap tipuan. Anggaplah zaman itu sudah ada mbahnya Photoshop atau pengolah citra sejenisnya. Namun, ada bukti-bukti non fotografis yang sampai saat ini tidak bisa dibantah oleh para pengusung teori manusia tidak pernah mendarat di Bulan. Saya ambil 3 saja di antaranya.
Yang pertama, tentang gempa Bulan alias moonquake. Ada rekaman seismogram yang runtut selama 1 dekade (1969 - 1977) tentang aktivitas gempa Bulan. Dan karakter gempa Bulan sangat berbeda dengan Bumi, baik dari pola getaran, hiposentrum maupun durasinya. Gempa Bulan bisa memiliki durasi hingga 0,5 jam meski magnitudenya hanya 5 skala Richter. Sebaliknya gempa terdahsyat di Bumi, seperti gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang memiliki magnitude 9,2 skala Richter itu, durasinya "hanya" 15 menit. Dan gempa berskala 5 skala Richter di Bumi hanya berlangsung selama 20 detik. Tanpa perlu belajar lebih lanjut tentang geofisika, satu-satunya cara untuk mendapatkan rekaman seismogram gempa Bulan adalah dengan menempatkan seismograf disana. Dan satu-satunya cara memasang seismograf adalah harus dengan bantuan manusia, mulai dari menempatkannya di batuan kompak yang cocok hingga melakukan penyetelan. Sebagai gambaran, Uni Soviet pernah mencoba mendaratkan seismograf dalam misi tak berawak Venera ke Venus. Hasilnya? Peralatan ini gagal bekerja untuk memantau gempa Venus. Demikian juga AS dalam misi Viking ke Mars. Seismografnya pun gagal bekerja.
Yang kedua, tentang dinamika orbit Bulan. Pasca 1969 barulah diketahui bahwa orbit Bulan yang ellips itu mengalami perubahan secara gradual dan konsisten, dimana setengah sumbu utama ellipsnya senantiasa bertambah besar dengan rate 3,6 cm/tahun, yang berimplikasi pada melambatnya rotasi Bumi sebesar 0,000017 detik/tahun. Dinamika ini baru diketahui pasca 1969 berdasarkan pengukuran jarak Bumi-Bulan yang teramat presisi dengan menggunakan sinar laser, dimana seberkas sinar laser yang dipancarkan dari Bumi dipantulkan oleh cermin LLR (Lunar Laser Retroreflektor). Sama halnya dengan pemasangan seismograf, pemasangan cermin LLR di Bulan mau-tak-mau membutuhkan campur tangan manusia.
Dinamika orbit Bulan membuat Bulan pada masa silam (berjuta tahun silam) berada lebih dekat dengan Bumi dan konsekuensinya rotasi Bumi saat itu lebih cepat dari sekarang. Ini konsisten dengan data dari fosil moluska purba yang menunjukkan pada 400-an juta tahun silam Bumi berotasi dengan periode 22 jam sehingga 1 tahun Matahari saat itu berjumlah 400 hari. Kenapa dinamika orbit Bulan baru diketahui setelah 1969? Musababnya sederhana saja, penggunaan cermin LLR membuat jarak Bumi-Bulan bisa diukur dengan sangat teliti sehingga ketidakpastiannya maksimum hanya beberapa milimeter. Jika pengukuran dilakukan dengan menggunakan gelombang radar, maka ketidakpastiannya akan membengkak menjadi beberapa kilometer, sementara jika dilakukan pengukuran berdasarkan posisi satelit yang mengorbit Bulan, pun ketidakpastiannya sampai beberapa kilometer mengingat efek relativitas umum dan ketidakhomogenan distribusi massa di Bulan.
Yang ketiga, tentang batu Bulan. Ada 380 kg batu Bulan yang saat ini ada di Bumi dan dengan 6 misi pendaratan di Bulan, sehingga jika dirata-ratakan tiap misi membawa pulang 63 kg batu Bulan. Okelah, anggap keenam misi pendaratan di Bulan tidak menyertakan manusia, dan mereka hanya membawa Lunar Rover yang dilengkapi sekop listrik, yang mengumpulkan 63 kg batu Bulan dalam setiap misinya, untuk kemudian dibawa ke modul pendarat dan diterbangkan lagi ke Bumi. Nah silahkan dilihat berapa kebutuhan daya untuk sekop listrik semacam ini. Kalkulasi kasar saja, sekop listrik membutuhkan 4 motor DC dengan kebutuhan daya nominal per motor untuk misi Bulan adalah 2 kW. Sementara Lunar Rover sendiri punya 4 roda yang masing-masing ditenagai mesin DC 2 kW pula. Sehingga total kebutuhan daya minimal adalah 16 kW, hanya untuk roda dan sekop. Anggaplah kebutuhan listrik untuk sistem pendukung telemetri mencapai 1 kW, sehingga total dibutuhkan listrik 17 kW. Nah listriknya datang darimana? Jika menggunakan sel surya, sel surya yang paling bagus pun (yakni yang sekarang dipasang di ISS) membutuhkan luasan 770 meter persegi (alias ukuran 28 x 28 m) untuk bisa membangkitkan daya listrik sebesar itu. Jika menggunakan batere radioaktif semacam RTG, dengan output per RTG berdasar teknologi 1960-an yang baru mencapai 30 W, maka dibutuhkan 560 buah RTG dan ini sangat kompleks (sekaligus sangat berat). Bobot yang luar biasa berat membuat biaya peluncuran menjadi jauh melangit dan jauh di atas ongkos mengirimkan manusia ke Bulan. Jika manusia dikirimkan ke Bulan, maka pekerjaan akan menjadi lebih mudah karena semua fungsi sekop bisa diambil alih, sementara transport tetap menggunakan Lunar Rover.
Batu Bulan punya ciri spesifik yang sangat berbeda dengan batuan di Bumi. Seluruh sampel batu Bulan memiliki umur sangat tua (milyaran tahun, berdasarkan radiogenic dating) sementara batuan Bumi mayoritas berumur ratusan juta tahun. Seluruh sampel batu Bulan tidak mengandung air baik dalam bentuk mineral terhidrat yang umum dijumpai dalam batuan Bumi. Dan seluruh sampel batu Bulan memiliki mikrokawah (mikrocekungan) di permukaannya sebagai akibat hantaman mikrometeorit, yang tak mungkin ditemukan dalam batuan Bumi. Dan di dalam sampel batu Bulan ditemukan konsentrasi isotop Helium-3, yang tak pernah ada di batuan Bumi. Karakteristik tersebut membuat batuan Bulan tak mungkin pernah ada di Bumi, apalagi sengaja dibuat dalam laboratorium. Dan 380 kg batu Bulan itu tidak hanya disimpan NASA saja, namun telah didistribusikan ke banyak negara dan banyak diantaranya yang tidak berpartisipasi langsung terhadap program pendaratan manusia di Bulan, sehingga lebih independen. Namun hasil analisisnya untuk keempat ciri spesifik di atas tetap sama.
Nah bagaimana tanggapan para pengusung teori manusia tidak mendarat di Bulan terhadap data-data non fotografis tersebut? Sampai saat ini tidak ada !
Sebagai tambahan, program pendaratan manusia di Bulan melibatkan hampir setengah juta orang dalam aktivitasnya selama hampir 1 dekade. Di inner circle-nya terdapat ratusan insinyur dan PhD yang kritis di Houston, dan banyak diantaranya yang kini sudah menerbitkan memoarnya masing-masing pasca pensiun. Dalam perspektif psikologi massa, jauh lebih sulit dan lebih mahal guna menciptakan hegemoni pemikiran kepada hampir setengah juta orang dan membungkam mulut-mulut kritis itu dibandingkan dengan mengirimkan manusia ke Bulan. Jangan dibandingkan dengan hoax nuklir dalam kasus invasi Irak 2003, karena informasi nuklir Irak sengaja diproduksi kalangan terbatas di inner circle neocon (hawkish) disekeliling Bush seperti Rumsfeld, Wolwofitz, Rice, Fareed Zakaria, Fukuyama dll, meski data-data dari CIA dan Hans Blix tidak menunjukkan Irak bisa mengembangkan senjata nuklir. Silahkan dilihat di bukunya penulis kritis seperti Tim Weiner (Legacy of Ashes) ataupun Bob Woodward (The War Within : A Secret White House History 2000 - 2006). Ada ratusan publikasi kritis dengan validitas luar biasa yang membahas tentang hoax nuklir Irak ini dan banyak yang tak dapat dibantah Gedung Putih. Bandingkan dengan teori manusia tidak mendarat di Bulan, yang sejauh ini hanya berasal dari satu sumber (Bill Kaysing, 1974), itupun dengan penyajian yang sulit diukur validitasnya
Salam,
Ma'rufin
From: Sulaiman <sulaimanbb09@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, July 8, 2009 1:52:51 AM
Subject: Re: Bls: [astronomi_indonesia] Re: numpang tanya..
Di youtube bisa dilihat video2 rekaman aktivitas manusia di bulan. Sumbernya dari nasa.
Kalo soal roket pergi ke bulan, mengorbit bulan, ambil foto2 permukaan bulan n foto bumi dr kejauhan, bahkan menerjunkan robot pendarat ke bulan pun, bisa dipercaya.
Yg sulit dipercaya bagaimana tingkatan teknologi saat itu mampu menerjunkan manusia ke bulan dgn selamat berikut perangkat2nya, main2 di bulan, lalu memberangkatkan manusia kembali ke orbit bulan, lalu pulang kembali ke bumi.
Bisa jadi memang ada peluncuran astronot ke luar angkasa bahkan ke orbit bulan sekalipun, namun tidak ada pendaratan astronot di bulan.
Motifnya apa, buat apa amrik melakukan itu? Apalagi kalo bukan dlm rangka menancapkan hegemoni memenangkan kompetisi luar angkasa dgn soviet yg sudah lebih dulu maju.
Bukan sekali dua amrik bikin hoax kayak gitu. Ingat laporan2 mereka mengenai pabrik senjata nuklir irak? Lengkap dgn rekaman video, citra
satelit, foto2 dsb. Sampe2 'data' itu dipaparkan dlm SU PBB. Begitu irak berhasil dikuasai sampai skrg tdk diketemukan tuh.
Sent from my granma's BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: Graifhan Ramadhani
Date: Tue, 07 Jul 2009 20:51:57 +0800
To: <astronomi_indonesia @yahoogroups. com>
Subject: Re: Bls: [astronomi_indonesi a] Re: numpang tanya..
At 11:21 07/07/2009, you wrote:
>Lihat aja di youtube banyak sekali rekaman apollo n aktivitas
>astronot di bulan. Baik rekaman video maupun foto2.Keliatan sekali
>rekayasa2 nya. Dari mulai analisa bayangan subjek foto yg tdk
>konsisten, sampe gaya nir-gravitasi yg kelihatan sekali hasil
>rakayasa kawat yg diikatkan ke belakang baju astronot.
Di bulan itu
bukannya nir-gravitasi. Astronot di Bulan terikat
gravitasi juga koq, hanya saja gravitasi bulan besarnya hanya
seperenam gravitasi bumi, makanya cara mereka berjalan kelihatan seperti itu.
>Tambahan lagi, di rekaman itu langit keliatan hitam gelap tanpa
>bintang. Aneh kan? Lha wong bumi yg ada atmosfernya aja keliatan tuh
>bintang. Agaknya penghitaman langit/background memang ditujukan utk
>menutupi alat2 rekayasa. Yah kayak di dunia sulap gitu.
Anda pernah melihat foto/film yg diambil pada malam hari nggak? Apa
anda bisa melihat ada bintang disana? Ini cuma soal fokus pengambilan
gambar. Kalau nggak percaya, silahkan malam ini anda keluar rumah dan
berpose di depan kamera. Lantas lihat hasilnya, apa ada bintang yg kelihatan?
Terakhir, kalau anda memang kepingin mencari tahu jangan cuma lihat
di Youtube donk. Tolong dibaca dari sumber2 yg lebih ilmiah. Ada
bejibun tuh
di Internet. Masak anda masih lebih percaya Youtube
daripada NASA. :D
--dhani