Thanks mas Iwal atas infonya. Saya kutip saja fotonya dari blog yang bersangkutan, yang mendapat laporan dari seseorang bernama Devy yang kebetulan berada di Pantai Nusa Dua Bali pada 28 Oktober 2009 lalu. Fotonya sebagai berikut :


Obyek nampak bergerak "cepat" (cepat di sini relatif, berdasar persepsi pengamat) di sore hari, menjelang Matahari terbenam. Pada obyek terlihat ada lampu yang berkela-kelip mirip pesawat.
Yang jelas obyek ini bukan komet. Mengapa? Karena komet jika dilihat dari Bumi memiliki gerakan yang kecepatannya relatif tak jauh berbeda dengan kecepatan langit (yakni bergeser 1 derajat per 4 menit), dimana untuk komet ada tambahan 1 - 2 derajat per hari. Pengamat yang berhasil melihat komet akan terpersepsikan bahwa komet itu "diam", seolah tidak bergerak terhadap Bumi. Ini bisa dimengerti karena jarak Bumi dan komet-komet yang melintas di tata surya umumnya sangat jauh, sama dengan jarak bumi ke planet-planet, sehingga dinamika pergerakan komet layaknya pergerakan planet-planet jika dilihat dari Bumi.
Karena terlihat bergerak "cepat", maka obyek posisinya masih berada di lingkungan Bumi. Namun obyek tersebut bukan sampah antariksa (space debris), karena energinya tak cukup untuk itu. Sampah antariksa pada umumnya memiliki kecepatan 8 km/detik, sehingga untuk bisa menghasilkan goresan cahaya tersebut massanya harus sangat besar sehingga energi kinetiknya cukup besar, melebihi 10 ton. Untuk obyek secepat sampah antariksa, hanya pesawat ulang alik (space shuttle) yang bisa menghasilkan fenomena tersebut saat reentry kembali ke Bumi.
Sehingga tinggal tersisa dua kemungkinan : obyek tersebut adalah meteor/fireball, atau obyek tersebut adalah pesawat terbang biasa. Jika meteor, obyek tersebut tentulah merupakan fireball karena bisa terlihat di siang hari sehingga kecerlangannya lebih besar ketimbang planet Venus, atau dalam bahasa yang lebih rinci, magnitude visualnya lebih besar ketimbang -4 (minus empat). Untuk akhir Oktober, pelacakan menunjukkan ada sumber meteor (radiants) yang aktif, yakni Orionids yang bersumberkan dari remah-remah yang tersisa di orbit komet Halley. Namun Orionids di Indonesia baru akan teramati selepas tengah malam, sehingga obyek di sore hari itu bukanlah meteor Orionids. Selain itu Orionids hanyalah aktif pada 18 hingga 25 Oktober saja, dengan puncaknya pada 21 Oktober 2009 yang memiliki rate 60 meteor/jam. Sehingga, jika obyek itu merupakan meteor, kemungkinan besar ia bersumber dari asteroidal, yakni pecahan-pecahan asteroid dekat Bumi yang kebetulan tertarik oleh gravitasi Bumi dan jatuh sebagai meteor sangat cemerlang. Berbeda dengan hujan meteor yang sifatnya periodik sehingga jadwalnya bisa diprediksikan, meteor asteroidal ini random, tak terprediksi dan dalam sejumlah kasus (jika ukuran pecahan asteroidnya cukup besar), ia bisa menjangku permukaan Bumi sebagai meteorit.
Sementara kemungkinan yang kedua, obyek ini mungkin hanyalah pesawat terbang biasa khususnya pesawat bermesin jet. Ini diperkuat oleh kelap kelip lampu, sesuatu yang tak ada di dalam meteor. Gas buangan yang dihasilkan oleh mesin jet akan terkondensasi ketika pesawat cukup tinggi di atmosfer, sehingga menghasilkan fenomena contrail (condensation trail) karena hasil kondensasi tersebut mirip awan, namun bentuknya lurus.
Salam,
Ma'rufin
From: Iwal <iwal99@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Sent: Mon, November 2, 2009 6:53:06 PM
Subject: [ RHI ] Di Bali, tampak komet? Meteor? Yang jelas bukan UFO


Obyek nampak bergerak "cepat" (cepat di sini relatif, berdasar persepsi pengamat) di sore hari, menjelang Matahari terbenam. Pada obyek terlihat ada lampu yang berkela-kelip mirip pesawat.Yang jelas obyek ini bukan komet. Mengapa? Karena komet jika dilihat dari Bumi memiliki gerakan yang kecepatannya relatif tak jauh berbeda dengan kecepatan langit (yakni bergeser 1 derajat per 4 menit), dimana untuk komet ada tambahan 1 - 2 derajat per hari. Pengamat yang berhasil melihat komet akan terpersepsikan bahwa komet itu "diam", seolah tidak bergerak terhadap Bumi. Ini bisa dimengerti karena jarak Bumi dan komet-komet yang melintas di tata surya umumnya sangat jauh, sama dengan jarak bumi ke planet-planet, sehingga dinamika pergerakan komet layaknya pergerakan planet-planet jika dilihat dari Bumi.
Karena terlihat bergerak "cepat", maka obyek posisinya masih berada di lingkungan Bumi. Namun obyek tersebut bukan sampah antariksa (space debris), karena energinya tak cukup untuk itu. Sampah antariksa pada umumnya memiliki kecepatan 8 km/detik, sehingga untuk bisa menghasilkan goresan cahaya tersebut massanya harus sangat besar sehingga energi kinetiknya cukup besar, melebihi 10 ton. Untuk obyek secepat sampah antariksa, hanya pesawat ulang alik (space shuttle) yang bisa menghasilkan fenomena tersebut saat reentry kembali ke Bumi.
Sehingga tinggal tersisa dua kemungkinan : obyek tersebut adalah meteor/fireball, atau obyek tersebut adalah pesawat terbang biasa. Jika meteor, obyek tersebut tentulah merupakan fireball karena bisa terlihat di siang hari sehingga kecerlangannya lebih besar ketimbang planet Venus, atau dalam bahasa yang lebih rinci, magnitude visualnya lebih besar ketimbang -4 (minus empat). Untuk akhir Oktober, pelacakan menunjukkan ada sumber meteor (radiants) yang aktif, yakni Orionids yang bersumberkan dari remah-remah yang tersisa di orbit komet Halley. Namun Orionids di Indonesia baru akan teramati selepas tengah malam, sehingga obyek di sore hari itu bukanlah meteor Orionids. Selain itu Orionids hanyalah aktif pada 18 hingga 25 Oktober saja, dengan puncaknya pada 21 Oktober 2009 yang memiliki rate 60 meteor/jam. Sehingga, jika obyek itu merupakan meteor, kemungkinan besar ia bersumber dari asteroidal, yakni pecahan-pecahan asteroid dekat Bumi yang kebetulan tertarik oleh gravitasi Bumi dan jatuh sebagai meteor sangat cemerlang. Berbeda dengan hujan meteor yang sifatnya periodik sehingga jadwalnya bisa diprediksikan, meteor asteroidal ini random, tak terprediksi dan dalam sejumlah kasus (jika ukuran pecahan asteroidnya cukup besar), ia bisa menjangku permukaan Bumi sebagai meteorit.
Sementara kemungkinan yang kedua, obyek ini mungkin hanyalah pesawat terbang biasa khususnya pesawat bermesin jet. Ini diperkuat oleh kelap kelip lampu, sesuatu yang tak ada di dalam meteor. Gas buangan yang dihasilkan oleh mesin jet akan terkondensasi ketika pesawat cukup tinggi di atmosfer, sehingga menghasilkan fenomena contrail (condensation trail) karena hasil kondensasi tersebut mirip awan, namun bentuknya lurus.
Salam,
Ma'rufin
From: Iwal <iwal99@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Sent: Mon, November 2, 2009 6:53:06 PM
Subject: [ RHI ] Di Bali, tampak komet? Meteor? Yang jelas bukan UFO
| Pak Ma'rufin dan rekan-rekan astronom, Saya dapat info dari sini, bahwa di Bali (28/10/2009) ada seseorang yang sempat melihat benda langit menyerupai komet (atau meteor?). Mohon infonya, apakah info ini benar, apakah ada "rekaman" yang menunjukkan aktifivtas benda langit di atmosfer sekitar Bali pada tanggal segitu? Mohon keterangan tentang hal ini, mengingat saat ini memang langit kelihatannya sedang "rajin" menampakkan gejala-gejala yang cukup langka untuk diamati secara awam. Wassalam |