Alhamdulillah saya bisa berkorespondensi dengan salah satu ilmuwan di Bidang Kendali Roket di LAPAN. Dan beliau menjelaskan bahwa semua proses pembuatan roket, mulai dari tahap desain, simulasi, fabrikasi dan assembling, dikerjakan sendiri oleh LAPAN tanpa ada campur tangan asing. Sehingga dua aspek terpenting dalam teknologi peroketan, yakni sistem propulsi dan sistem kendali, sebenarnya sudah dikuasai Indonesia. Untuk sistem propulsi LAPAN sepertinya memfokuskan terlebih dahulu kepada bahan bakar padat. Disini LAPAN sudah berhasil mengembangkan dan memfabrikasi sendiri bahan bakar komposit HTPB dengan AP. Dan baru setelah itu, propulsi bahan bakar cair mulai dipelajari.
Seperti telah disebutkan, roket RX-420 ini rencananya akan menjadi bagian sistem pengorbit satelit Indonesia yang saat ini dinamakan RPS (Roket Pengorbit Satelit). RPS akan memiliki panjang total 9,5 meter dan terdiri dari 4 tingkat. RX-420 menjadi roket tingkat pertama, kedua dan ketiga. Sementara roket RX-320 akan menjadi roket tingkat keempat yang sekaligus berperan sebagai PAM (Payload Assist Module) untuk menempatkan satelit ke orbit. Roket tingkat pertama akan didampingi dua booster yang juga berupa roket RX-420. Total massa keseluruhan RPS belum jelas benar, namun kemungkinan di sekitar 5,5 ton. Dalam rencana awal RPS ini pertama kalinya akan digunakan untuk menempatkan minisatelit bermassa 50 kg pada orbit setinggi 400 km dari permukaan laut, namun dengar-dengar ada perubahan payload sehingga yang akan diluncurkan adalah mikrosatelit bermassa 5 kg. Dan seperti diketahui, teknologi minisatelit juga sudah dikuasai LAPAN seiring dengan keberhasilan pengorbitan satelit LAPAN-TUBSAT pada Januari 2007 silam dan sampai sekarang masih beroperasi dengan baik.
Roket RX-420 ini sebenarnya bisa dikembangkan menjadi peluru kendali alias rudal, karena jarak jangkaunya yang cukup jauh (yakni 100 km). Dalam klasifikasi rudal, RX-420 ini bisa ditempatkan ke dalam rudal balistik berjarak dekat alias SRBM sehingga berfungsi sebagai senjata taktis seperti untuk menghancurkan kapal, jembatan, bangunan-bangunan tertentu seperti pos militer, pusat komunikasi dll. Dalam sebuah kalkulasi kasar, jika payload roket ditambahkan dengan sensor rudal (baik homing radar ataupun inframerah, atau INS, atau Tercom atau GPS) masih memungkinkan untuk memasukkan hululedak yang cukup berat. Saya pikir ini tinggal political will dari pemerintah saja, apakah mau mengembangkan ke arah itu (sehingga negara ini bisa memiliki kekuatan deteren alias penggentar untuk kawasan Asia Tenggara) atau tidak. Dan roket berbahan bakar padat macam RX-420 ini memiliki keunggulan tersendiri jika hendak dimanfaatkan sebagai rudal, karena mudah penanganannya dan memiliki waktu reaksi cepat jika hendak digunakan apabila dibandingkan dengan roket berbahan bakar cair.
Salam,
Ma'rufin
Seperti telah disebutkan, roket RX-420 ini rencananya akan menjadi bagian sistem pengorbit satelit Indonesia yang saat ini dinamakan RPS (Roket Pengorbit Satelit). RPS akan memiliki panjang total 9,5 meter dan terdiri dari 4 tingkat. RX-420 menjadi roket tingkat pertama, kedua dan ketiga. Sementara roket RX-320 akan menjadi roket tingkat keempat yang sekaligus berperan sebagai PAM (Payload Assist Module) untuk menempatkan satelit ke orbit. Roket tingkat pertama akan didampingi dua booster yang juga berupa roket RX-420. Total massa keseluruhan RPS belum jelas benar, namun kemungkinan di sekitar 5,5 ton. Dalam rencana awal RPS ini pertama kalinya akan digunakan untuk menempatkan minisatelit bermassa 50 kg pada orbit setinggi 400 km dari permukaan laut, namun dengar-dengar ada perubahan payload sehingga yang akan diluncurkan adalah mikrosatelit bermassa 5 kg. Dan seperti diketahui, teknologi minisatelit juga sudah dikuasai LAPAN seiring dengan keberhasilan pengorbitan satelit LAPAN-TUBSAT pada Januari 2007 silam dan sampai sekarang masih beroperasi dengan baik.
Roket RX-420 ini sebenarnya bisa dikembangkan menjadi peluru kendali alias rudal, karena jarak jangkaunya yang cukup jauh (yakni 100 km). Dalam klasifikasi rudal, RX-420 ini bisa ditempatkan ke dalam rudal balistik berjarak dekat alias SRBM sehingga berfungsi sebagai senjata taktis seperti untuk menghancurkan kapal, jembatan, bangunan-bangunan tertentu seperti pos militer, pusat komunikasi dll. Dalam sebuah kalkulasi kasar, jika payload roket ditambahkan dengan sensor rudal (baik homing radar ataupun inframerah, atau INS, atau Tercom atau GPS) masih memungkinkan untuk memasukkan hululedak yang cukup berat. Saya pikir ini tinggal political will dari pemerintah saja, apakah mau mengembangkan ke arah itu (sehingga negara ini bisa memiliki kekuatan deteren alias penggentar untuk kawasan Asia Tenggara) atau tidak. Dan roket berbahan bakar padat macam RX-420 ini memiliki keunggulan tersendiri jika hendak dimanfaatkan sebagai rudal, karena mudah penanganannya dan memiliki waktu reaksi cepat jika hendak digunakan apabila dibandingkan dengan roket berbahan bakar cair.
Salam,
Ma'rufin
From: Zaenal Arief <zaenal@...>
To: sains@yahoogroups.com
Sent: Friday, July 10, 2009 11:41:52 AM
Subject: RE: [sains] Selamat atas Peluncuran Roket RX-420
Apakah lapan ikuti kebijakan JK.."harus dengan upaya sendiri, dengan pikiran
sendiri, jangan ada campur tangan asing!!" (kira2 gitukan)
Kalo bidang teknologi roket kan ada negara yg udah maju, apakah kita nggak
bisa belajar sama mereka biar lebih cepat pencapaiannya?
Kalo misalanya minta belajar dari Amerika mungkin mereka nggak mau buka
rahasia
Kalo minta sama negara yg lebih Friendly gimana?? Misalnya India, atau
China, atau Iran??
Mereka kan udah berhasil bikin rudal yg kayaknya udah jauh lebih canggih
dari pada roket lapan??
Apa rekan milis ada pandangan lain??
Zaenal