Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

jogja_astroclub · Jogja Astro Club (JAC)

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 287
  • Category: Amateur
  • Founded: Jul 5, 2005
  • Language: Indonesian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 34 - 67 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#34 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Jan 11, 2006 8:01 am
Subject: Re: [FISIKA] RelativitasKhusus
marufins
Send Email Send Email
 
Tentang relativitas khusus


1. Transformasi Galileo

Ada yang perlu diluruskan disini mengenai ruang dan
waktu mutlak. Konsepsi ruang mutlak adalah hasil
pemikiran Aristoteles, bukan Newton. Aristoteles
menganggap setiap obyek hanya bisa dianggap bergerak
apabila telah terjadi perubahan jarak yang mengacu
kepada kerangka referensi bintang-bintang tetap (fixed
stars), yang disebutnya berada di luar lingkungan tata
surya. Model ruang mutlak ini kemudian diadopsi oleh
Gereja Katolik dan disebutkan bahwa dalam lingkungan
bintang-bintang tetap inilah terdapat surga dan neraka
(lihat lengkapnya di A Brief History of Time-nya
Hawking).

Newton, dengan mengacu pada transformasi Galileo,
menolak adanya ruang mutlak. Menurut Newton, sebuah
obyek hanya bisa disebut bergerak jika telah terjadi
perubahan jarak dengan obyek lain (sembarang obyek) di
dunia ini. Jadi yang ada hanya ruang relatif. Karena
konsepsinya ini, Galileo kemudian diinkuisisi Gereja
dan dijatuhi tahanan rumah. Namun baik Galileo maupun
Newton tetap meyakini adanya waktu mutlak. Yakni waktu
bagi seluruh obyek di alam semesta ini adalah identik,
tanpa dipengaruhi kedudukan dan kecepatan setiap
obyek. Nah, anggapan tentang waktu mutlak inilah yang
direvisi oleh Einstein dengan relativitas khususnya.

Cara mudah memahami relativitas khusus adalah dengan
meninjau kerangka acuan di bawah ini :

            |Y'
            |
            |======> V
            |_ _ _ _ _
           /O'        X'
     |Y   /
     |   /
     |  /Y'
     |_ _ _ _ _
    /O         X
   /
  /
/Y

Ada dua macam obyek dengan kerangka acuannya
masing-masing. Obyek O dengan kerangka XYZ dan obyek
O' dengan kerangka X'Y'Z'. O melihat O' bergerak
dengan kecepatan V ke arah sumbu X'.

Jika kita merunut pada pemikirannya Galileo (yang
kemudian dikembangkan Newton menjadi hukum2 geraknya),
karena sumbu Y sejajar dengan Y' dan sumbu Z sejajar
pula dengan Z', maka bisa dikatakan Y = Y' dan Z = Z',
sehingga yang perlu diperhatikan hanyalah sumbu X dan
X'. Menurut Galileo, O melihat O' bergerak sejauh :

X' = X + vt  (1)

Sementara jika dibalik, O' melihat O bergerak sejauh :

X = X' - vt  (2)

Perhatikan bahwa baik di O maupun O', waktu t
senantiasa bernilai sama. Inilah yang dikenal sebagai
" transformasi Galileo ".

2. Transformasi Lorentz

Sekarang kita lihat perkembangan fisika di akhir abad
ke-19, yang memunculkan nama Hendrik Antoon Lorentz
dari Belanda. Lorentz memandang bahwa transformasi
Galileo tidaklah cukup mampu menjelaskan apa yang
terjadi pada dunia elektromagnetis dan Lorentz
mengusulkan revisinya. Ia berpegang pada asumsi bahwa
tiap obyek memiliki " waktu sendiri " (proper time),
merujuk kepada gagasannya Sir Joseph Larmor. Untuk
gambar di atas, waktu bagi obyek O adalah t sementara
waktu bagi O' adalah t' dimana t tidak lagi sama
dengan t'. Maka persamaan transformasi Galileo
kemudian ditulisnya ulang menjadi :

X' = k(X + vt)  (3)

dan :

X = k(X' - vt')  (4)

dengan k sebuah konstanta, yang tidak dipengaruhi oleh
waktu. Inilah " transformasi Lorentz ". Bila kedua
persamaan itu disubstitusikan, kita akan mendapatkan
hubungan antara t' dan t dalam bentuk :

t' = kt - X(1-k^2)/kV

Jelas sekali bukan, bahwa t' tidak lagi sama dengan t
?

3. Relativitas

Berapa nilai konstanta k baru bisa dipecahkan setelah
Albert Einstein, saat itu masih menjadi pegawai pos
dan paten di Zurich, berfikir tentang cahaya setelah
kegagalan A.A. Michelson dan E.W. Morley di AS untuk
menemukan bukti adanya eter luminiferus lewat
interferometer-nya. Ketiadaan eter - yang semula
dianggap sebagai kerangka acuan untuk mengukur
kecepatan cahaya menurut mekanika Newton - membuat
Einstein berfikir, bila dirinya dapat bergerak secepat
cahaya, apakah cahaya itu sendiri (yang menurut
Einstein adalah berbentuk partikel/butir, merujuk pada
konsepsi efek fotolistriknya. Ingat bahwa pada tahun
1905 itu Einstein meluncurkan tiga makalah yang
menggemparkan : tentang gerak Brown, tentang efek
fotolistrik dan tentang relativitas khusus) akan
nampak diam layaknya gletser ?  Menurut mekanika
Newton, harusnya memang begitu ! Namun Einstein merasa
tidak demikian. Soal ini tak bisa dideduksi dengan
mekanika Newton dan membutuhkan kerangka berfikir baru
yang lebih luas.

Kita tinjau lagi kerangka acuan di atas dan persamaan
transformasi Lorentz. Einstein menganggap O dan O'
adalah partikel cahaya dan Einstein dengan sangta
berani mengambil asumsi bahwa kecepatan cahaya adalah
tetap, dimanapun dan seperti apapun pengamat berusaha
mengamatinya. Berdasarkan pada teorema Euclid, jarak
tempuh cahaya O dalam ruang tiga dimensi untuk
kerangka acuan XYZ dituliskan sebagai :

X^2 + Y^2 + Z^2 = c^2 t^2

dan bisa dituliskan lagi sebagai :

X^2 + Y^2 + Z^2 - c^2 t^2 = 0 (5)

Untuk cahaya O' yang ada di kerangka X'Y'Z' :

(X')^2 + (Y')^2 + (Z')^2 - c^2 (t')^2 = 0 (6)

Karena kedua persamaan ini memberikan hasil nol (0),
kita bisa menyetarakan keduanya.Kita sudah tahu bahwa
Y = Y' dan Z = Z', sementara hubungan antara X dan X'
serta t dan t' telah dinyatakan oleh persamaan
transformasi Lorentz. Maka kita mendapatkan :

X^2 - c^2 t^2 = (X')^2 - c^2 (t')^2

Hasil penyelesaian persamaan ini adalah sebuah
hubungan sederhana antara k dan V, dimana :

k = 1/sqrt(1-V^2/c^2)

sqrt = akar kwadrat.

Dengan hasil konstanta ini (kemudian dinamakan
konstanta Lorentz), Einstein bisa mengembangkan
transformasi Lorentz hingga mendapatkan inti dari
relativitas khusus : kesetaraan massa dan energi,
dimana keduanya bisa saling menggantikan dalam
hubungan E = mc^2. Tentu saja, Einstein juga
mendapatkan beragam turunan relativitas khusus :
dilatasi waktu, kontraksi Lorentz, paradoks si kembar
dll.

4. Ruang Waktu

Kita tinjau lagi persamaan (5) dan (6). Di kemudian
hari Einstein menyadari bahwa persamaan (5) bisa
dituliskan secara umum sebagai :

X^2 + Y^2 + Z^2 - c^2 t^2 = S

Dalam bentuk diferensial bisa dituliskan lagi sebagai
:

dX^2 + dY^2 + dZ^2 - c^2 dt^2 = dS  (7)

Untuk obyek O' dalam kerangka X'Y'Z', penulisannya
sama. Untuk cahaya, ds = 0, namun untuk obyek lain
yang kecepatannya lebih rendah dari cahaya , ds tidak
sama dengan nol. Inilah persamaan yang menunjukkan
bahwa ruang di alam semesta ini tidak bisa lagi
dilihat sebagai teorema Euclidean dengan ruang
3-dimensi saja, namun harus dipandang sebagai ruang
4-dimensi, dengan dimensi keempat (waktu) berada di
koordinat imajiner (ingat bahwa sqrt (-1) adalah
identitas bagi koordinat imajiner), sehingga muncullah
istilah " ruang-waktu (spacetime) ".

Konsep relativitas khusus memandang ruang-waktu
sebagai jalinan koordinat mirip sehelai permadani yang
dibentangkan di lantai, alias datar. Dua tahun
kemudian, Eisntein tidak bisa mempertahankan anggapan
ruang-waktu yang datar ini ketika ia mencoba
menerapkan kaitan antara relativitas khusus dan
gravitasi. Akhirnya setelah menguatk-atik lebih lanjut
(dengan matematika yang cukup rumit !) dan dengan
menganggap bahwa cahaya adalah partikel yang
sebenar-benarnya hingga bisa dipengaruhi gravitasi,
didapatkanlah relativitas umum, yang dirumuskan
Einstein di tahun 1916 dan demikian menggemparkan.
Pada intinya, ketika di ruang-waktu terdapat obyek
yang cukup massif (seperti planet, bintang2 dan
galaksi), ruang-waktu akan melengkung (mirip mangkok)
dan itulah yang disebut gravitasi. Pada masa kini,
selain mekanika kuantum, relativitas umum adalah "
permata "-nya fisika, yang sanggup menjelaskan
perilaku alam semesta dalam struktur berskala besar.

5. Epilog

Pada akhirnya, bisa disimpulkan bahwa menurut
relativitas (umum dan khusus) :

a. besarnya kecepatan cahaya senantiasa sama meski
diukur oleh pengamat dengan posisi dan kecepatan yang
beragam,

b. massa dan energi bisa saling menggantikan,

c. ruang-waktu bisa meregang dan melipat.

Maaf kalo uraiannya jadi demikian panjang :). Saya
sendiri beranggapan bahwa hanya lewat " bahasa
matematika " saja kita bisa memahami relativitas. Dan
bahasa matematika ini kadangkala memang susah
ditransliterasikan ke dalam bahasa sipil, bukan ? Saya
sendiri juga belum begitu paham relativitas umum. Kalo
merujuk pada kata2nya Sir Arthur Eddington di tahun
1930-an, pada saat itu pun dengar2 hanya ada 3 orang
di dunia yang bisa memahami relativitas umum, yakni
Einstein dan Eddington sendiri, serta orang muda India
yang saat itu sedang berlayar ke Inggris untuk
menuntut ilmu di Cambridge di bawah asuhan Eddington,
Subrahmanyan Chandrasekhar.

(note : Dalam pelayaran ini Chandrasekhar berhasil
memahami proses evolusi bintang menuju katai putih,
bintang neutron dan lubang hitam, dimana ia berhasil
menetapkan batas massa minimal agar sebuah bintang
bisa berevolusi menjadi bintang neutron, yang dikenal
sebagai limit Chandrasekhar dan membuatnya harus
'bermusuhan' dengan sang guru : Eddington).

Jadi, jangan khawatir bila belum benar2 memahami
relativitas :).

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

#35 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Jan 11, 2006 8:10 am
Subject: Re: [FISIKA] Massa Negatif
marufins
Send Email Send Email
 
Tentang Massa Negatif

Istilah " massa negatif " sebenarnya sudah muncul
sejak tahun 1930-an, saat jenius muda dari Inggris,
Paul Adrian Maurice Dirac, menggunakan relativitas
khusus untuk memecahkan persoalan elektron. Kita
mengetahui, bahwa dalam relativitas khusus, hubungan
antara energi total partikel (E) dengan massa diam
(Mo) dan momentumnya (p) dinyatakan oleh :

E^2 = Mo^2 c^4 + p^2 c^2

Maka kita mendapatkan Mo sebagai :

Mo^2 = (E^2/c^4) - (p^2/c^2)

Penyelesaian dari persamaan kuadrat ini menghasilkan
dua nilai Mo, yakni Mo >0 (massa positif) dan Mo <0
(massa negatif). Umumnya kita 'membuang' nilai negatif
(karena beranggapan tak mungkinlah ada massa negatif),
namun Dirac tetap menggunakannya dalam persamaan
Einstein sehingga ia tetap mendapatkan dua nilai E,
yakni E >0 (energi positif) dan E <0 (energi negatif).

Nah, elektron bisa memiliki kedua status energi ini.
Dalam status energi positif, elektron akan eksis,
sementara dalam status energi negatif, elektron tidak
eksis. Yang unik, bila terjadi loncatan energi dari
status energi negatif ke status energi positif,
ternyata akan terbentuk dua partikel elektron, namun
muatannya saling berlawanan. Yang muatannya positif,
kini kita kenal sebagai positron, antipartikelnya
elektron. Dirac semula tidak meyakini keberadaan
positron ini, namun setahun berikutnya (1932) Carl D.
Anderson ternyata menemukan jejak positron pada pelat
fotografis yang diguyur sinar kosmis.

Dari teori Dirac inilah kemudian muncul istilah "
antipartikel ", dan diyakini tiap jenis partikel di
alam semesta ini, baik hadron, meson maupun lepton
memiliki antipartikelnya masing2. Antipartikel
terbentuk bersamaan dengan partikel dan karena berasal
dari loncatan energi negatif, maka pembentukannya
(dari sebutir foton gamma berenergi > 1,022 MeV)
membutuhkan media perantara, yakni inti atom. Proses
ini disebut " produksi pasangan ". Berbeda jika
prosesnya dibalik. Bila antipartikel dipertemukan
dengan partikel, maka terjadi proses " pemusnahan
(annihilasi) " dimana keduanya lenyap dan sebagai
gantinya muncul 2 foton gamma, dan proses ini tidak
membutuhkan media perantara.

Soal massa negatif ini, apakah ada atau tidak, menurut
Dirac memang ada. Dan dulu (1987) ada mahasiswa fisika
ITB (saya lupa siapa namanya, tapi idenya pernah
dimuat di majalah AKUTAHU) yang mengembangkan
pemikiran tentang massa negatif ini ke dalam hukum
gravitasi-nya newton sehingga didapatkan istilah "
gaya tolak gravitasi ", karena F bernilai negatif.
Setelah Hubble Space Telescope diluncurkan, kita
mengetahui bahwa gaya tolak gravitasi ini memang ada,
yang dilakukan oleh materi gelap (dark matter). Dan
materi gelap ini sama sekali tidak bisa dilihat secara
langsung oleh semua instrumen yang manusia miliki di
zaman ini, meski ia diduga kuat merupakan 90 % massa
jagat raya. Kita hanya tahu adanya materi ini
berdasarkan pembelokan cahaya bintang jauh akibat
gravitasi. Tapi belum jelas bener apa materi gelap ini
terbuat dari partikel yang memiliki massa negatif apa
tidak.

Dari materi gelap ini, kita sekarang juga mengetahui
bahwa jagat raya ini terus saja mengembang dan
mengembang, berbeda dengan yang dibayangkan para
fisikawan sebelumnya (berdasarkan pada hipotesa
Alexander Friedmann). Dalam 20 milyar tahun ke depan,
diduga akan terjadi " sobekan besar " (big rip) di
ruang-waktu jagat raya, yang akan menghilangkan
seluruh materi dan energi, alias kiamat !

Mengenai tachyon, itu sebenarnya partikel hipotetik
(alias belum teruji kebenarannya di laboratorium).
Partikel itu memang punya kecepatan > c alias
berkecepatan superluminal. Karena itu, menurut
Einstein, partikel seperti ini haruslah memiliki massa
negatif, alias bermassa imajiner, sehingga sulit eksis
terkecuali jika terjadi transisi dari massa imajiner
menuju massa real. Karena menurut Einstein, waktu saja
bisa berada pada sumbu imajiner dalam konsep
ruang-waktu 4-dimensinya, maka sah2 saja bila massa
sebuah benda juga (bisa) berada dalam sumbu imajiner.
Soal kecepatan superluminal sendiri, di tahun 1973,
Crough dan Clay telah melaporkan adanya lintasan
partikel superluminal dalam pengamatannya terhadap
guyuran sinar kosmis. Namun pengamatan ini tidak bisa
dikonfirmasikan lagi pada penelitian2 sejenis di lain
waktu. Konsep tachyon kini banyak digunakan pada teori
medan kuantum ataupun beberapa versi dari teori string.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

#36 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Jan 26, 2006 1:23 am
Subject: Re: [FISIKA] Gempa Aceh
marufins
Send Email Send Email
 
--- moonsterdownload <moonsterdownload@...>
wrote:

> assalamu alaikum wr. wb.
>
> saya mendapat sebuah file mengenai teori terjadinya
> tsunami di aceh
> tahun lalu, tolong dipikirkan apakah teori yang
> dikemukakan itu bisa
> jadi benar atau salah total
> apakah mungkin kita bisa membuat tsunami dari sebuah
> bom nuklir?
>
> masalahnya sebagaimana kita ketahui bersama terumbu
> karang di perairan
> hindia hancur total, bukankah terlalu aneh apabila
> ini hanya akibat
> gerakan tektonik atau gelombang laut.
> juga banyaknya tubuh yang berwarna kehitaman karena
> terbakar atau baju
> korban yang terkelupas, bisakah ini menjadi bukti
> untuk memperkuat
> teori ini?
>
> nama filenya adalah Did  New York Orchestrate The
> Asian Tsunami.doc
> berformat file word, saya taruh di bagian files
>
> terima kasih
>

Tentang gempa Aceh, ada sebuah tulisan tapi tak pernah
dipublish, lama ngendon di disket. Baru sekali saja
diposting, utk seseorang, itu pun versi yang benar2
diekstrak. Ya maklum saja, saya bukan fisikawan, bukan
pula geolog, bukan juga seismolog. Cuman sedang
belajar, dan rada suka ngumpul2in dan baca2 tulisan2
orang. Ketika semuanya coba dirangkum, jadinya malah
panjaang bgt...mau ngedit malah jadi susah juga.

----------------------------------------------------------

Tentang gempa 26 Desember 2004


1. Teori Konspirasi Vialls

Artikel " Did New York Orchestrate Asian Tsunami ?"
itu ditulis oleh Joe Vialls pada Februari 2005 (lihat
di http://www.vialls.com). Vialls menyebut dirinya
seorang analis independen dan telah berpengalaman
selama lebih dari tigapuluh tahun di dunia intelejen.
Kini ia tinggal di Australia.

Sedikit catatan, nama Joe Vialls pernah sangat populer
di Indonesia pasca ledakan hebat di Bali (12 Oktober
2002). Ketika itu ia menggemparkan banyak pihak dengan
teori konspirasi-nya tentang penyebab ledakan itu,
yang disebutnya sebagai aksi konspirasi AS-Israel
lewat peledakan SADM (Small Atomic Demolition
Munition) alias mikronuklir. Hingga kini masih banyak
yang percaya apa yang terjadi di Bali saat itu
merupakan ledakan mikronuklir, meski banyak lembaga -
termasuk MUI yang menerjunkan penelitinya ke sana -
memastikan tidak ada bekas-bekas ledakan nuklir di
Bali.

Singkatnya, Vialls menyebutkan bahwa gempa dahsyat 26
Desember 2004 disusul tsunami besar yang
meluluhlantakkan 11 negara di pesisir Samudera Hindia
hingga menewaskan sedikitnya seperempat juta jiwa
manusia bukanlah peristiwa alam biasa, namun ada peran
campur tangan manusia. Vialls mendasarkan teorinya
dokumen rahasia OSS (embrio CIA) tentang pengunaan
bahan peledak untuk memicu gempa bumi di Kep. Jepang
dalam Perang Dunia 2 dan fakta-fakta berikut :

a. perbedaan magnitude gempa antara versi BMG
(Indonesia) dan India dengan versi USGS (AS),dimana
menurut BMG 'hanya' 6,8 skala Richter, sementara
menurut USGS 9,3 skala Richter.

b. perbedaan hiposentrum gempa, versi BMG berada di
selatan Meulaboh (atau sebelah utara P. Simeulue),
sementara versi USGS di sebelah barat P. Weh.

c. pola gelombang gempa pada seismogram stasiun BMG
Padang menunjukkan kemiripan dengan pola gelombang
gempa produk ledakan nuklir bawah tanah di medan
percobaan Gurun Nevada 4 dekade silam.

d. tiadanya korban manusia di P. Diego Garcia,
pangkalan militer AS-Inggris yang ada di tengah2
Samudera Hindia, sebelah selatan Jazirah Arabia,
padahal di sepanjang pesisir Afrika yang letaknya
lebih jauh justru muncul korban manusia.

e. adanya pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln
(sebagai representasi militer AS) di perairan barat
Sumatera dengan mengangkut sejumlah pasukan siap
tempur yang tidak dilaporkan.

f. adanya pergerakan militer Australia yang telah
mengambil posisi di semenanjung Malaya hanya beberapa
saat setelah gempa terjadi.

g. sejumlah jenazah korban tsunami nampak menghitam
seperti hangus, mengesankan seperti terkena radiasi
panas.

h. dalam gempa Nias 28 Maret 2005, meski magnitudenya
hampir sama (8,7 SR) namun tidak muncul tsunami

Vialls berteori bahwa gempa dahsyat itu adalah hasil
perbuatan tangan2 kotor AS-Israel-Australia yang
diwujudkan dalam peledakan bom termonuklir 9 megaton
di dasar Samudera Hindia. Bom itu dikirimkan ke
sasaran dengan pesawat tempur yang bertolak dari
pangkalan rahasia di Kepulauan Andaman. Titik tempat
peledakan bom dipilih sedemikian rupa sehingga tepat
berada di triple junction (titik persinggungan 3
lempeng tektonik) antara Lempeng India, lempeng
Eurasia dan mikrolempeng Burma yang berada di antara
P. Simeulue dan P. Nias. Secara geologis triple
junction memang merupakan kawasan yang rapuh.

Ledakan itu menghasilkan gempa bumi dan meruntuhkan
dasar laut disekelilingnya, hingga muncullah gelombang
pasang (tsunami) besar. Ledakan itu juga menjadi
pemicu (trigger) ketidakstabilan kawasan triple
junction hingga  terjadilah patahan2 baru yang
berujung pada munculnya gempa2 tektonik.

Sekilas, teori konspirasi ini sangat menarik, apalagi
jika dibuat filmnya, seperti kebiasaan para sineas
Hollywood. Namun teori ini juga mengandung banyak
kelemahan mendasar.

2. Magnitude Gempa

Vialls tidak membedakan definisi magnitude gempa, yang
penting terdapat perbedaan mencolok antara magnitude
versi BMG (6,8) dengan versi USGS (9,3).

Pada saat ini ada beberapa macam magnitude yang sering
digunakan untuk mendeskripsikan kekuatan gempa, yakni
surface magnitude (Ms), local magnitude (ML),
body-wave magnitude (Mb), moment magnitude (Mw),
energy magnitude (Me) dan duration magnitude (Md).
Namun hanya dua yang sering digunakan, yakni Mb dan
Mw.

Body-wave magnitude (Mb) adalah kekuatan gempa yang
didasarkan pada profil gelombang P/primer (gelombang
longitudinal, kecepatan = 5 km/detik) yang terekam
dalam seismogram. Magnitude ini murni berdasar pada
analisis pola gelombang pada frekuensi 1 Hertz dan
bersatuan skala Richter (SR). Magnitude ini bisa
digunakan pada tiap jenis gempa.

Sementara moment magnitude (Mw), pertama kali
diperkenalkan Tom Hanks (seismolog, bukan aktor :) )
dan Hiroo Kanamori pada 1979 di Caltech, dengan tujuan
untuk membandingkan energi yang terlepaskan dari
gempa. Magnitude ini terkait dengan luas zona patahan
(fault) atau zona retakan (rupture) yang menjadi
sumber gempa dan besarnya pergeseran (slip) dalam zona
tersebut. Magnitude ini tidak bersatuan, namun di
Indonesia biasa dikenakan "satuan" skala magnitudo
(SM) kepadanya. Karena berkait dengan terbentuknya
patahan/rupture, magnitude ini hanya digunakan untuk
mendeskripsikan gempa tektonik.

Kelebihan moment magnitude dibanding magnitude jenis
lainnya adalah tidak adanya saturasi untuk nilai2 yang
besar, sehingga setiap gempa besar selalu menghasilkan
moment magnitude yang berbeda.

Secara matematis, hubungan antara moment magnitude
dengan luas patahan (A) dan besarnya pergeseran (h)
dinyatakan dalam :

Mw = 0,67(log Mo - 16,1)  (1)

dengan Mo = uAh

dimana u = rigiditas batuan (sebesar 300
Gigadyne/cm^2) dengan satuan A dan h masing2 cm^2 dan
cm.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada 26 Desember 2004
silam. Awalnya Hendra Suwarta dari BMG Medan menyebut
gempa itu berkekuatan 6,8 SR dengan hiposentrum 2,9deg
LU 95,6deg BT pada kedalaman 20 km (lihat Kompas,
27/12/2004 hal 1). Beberapa hari kemudian, lewat situs
resminya (http://www.bmg.go.id) kepala BMG menyebutkan
telah dilakukan reanalisis terhadap data2 seismogram
dan didapatkan bahwa gempa itu memiliki Mb = 6,8 SR
dan Mw = 8,7 SM. Sementara data dari USGS menyebutkan
Mb = 6,4 SR dan Mw = 9,0 dengan hiposentrum pada
3,3deg LU 95,8deg BT pada kedalaman 10 km. Jadi data
kedua lembaga itu tidak jauh berbeda.

3. Panjang Patahan/Rupture

Adanya moment magnitude pada gempa 26 Desember 2004
itu jelas menunjukkan bahwa gempa itu adalah gempa
tektonik.  Secara empirik, Ambrosey dan Zatopak (1968)
telah memformulasikan hubungan antara magnitude gempa
(M) dengan panjang patahan/rupture (L, dalam satuan
km) :

log L = 1,13M - 6,4 (2)

Dengan M = 9,0 didapatkan L = 5.900 km ! Namun
analisis seismogram dan pola distribusi hiposentrum
gempa2 susulan - dari 3deg LU (sebelah barat P.
Sumatra) hingga 14deg LU (Kepulauan Andaman) -
menunjukkan panjang patahan/rupture yang terbentuk
sekitar 1.200 km (lihat Carayannis; 2005; The Great
Earthquake and Tsunami of 26 December 2004 in South
East Asia and the Indian Ocean; Special Reports,
http://www.drgeorgepc.com).

Survey dasar laut dengan kapal riset Natsushima pada
Februari - Maret 2005 di sepanjang lokasi yang diduga
menjadi zona patahan/rupture menunjukkan tidak
ditemukan adanya patahan. Namun dijumpai rupture
sepanjang 1300 km dengan lebar 200 km. Di rupture ini
telah terjadi pergeseran sebesar 15 m (rata2,
pergeseran maksimal 20 m). Pergeseran ini telah
menyebabkan terjadinya pengangkatan vertikal dasar
laut setinggi 10 m (rata2, pengangkatan maksimal 13 m)
dengan lebar daerah yang betul2 terangkat vertikal
mencapai 70 km (lihat Kompas, 26/07/2005).

Lewat persamaan (1), kita mendapatkan Mo = 1,17 .
10^30 dyne cm dan Mw = 9,3 atau sedikit lebih besar
dari versi BMG maupun USGS sebelumnya. Ini sesuai
dengan hasil penyelidikan ilmuwan Northwestern
University, AS (Carayannis, 2005; Ibid).

4. Energi Gempa

Magnitude sebuah gempa berhubungan dengan energi yang
terlepaskan dari gempa tersebut. Secara umum hubungan
antara magnitude gempa (M) dan energi gempa (Ee, dalam
satuan erg), dinyatakan oleh :

log Ee = 1,5M + 11,8 (3)

Carayannis (1985) telah mendapatkan hubungan antara
panjang patahan/rupture (L, dalam satuan km) dengan Ee
secara empirik, yang dinyatakan sebagai :

log Ee = log L + 22,53 (4)

Namun, khusus untuk moment magnitude, besarnya energi
gempa diekspresikan dalam :

Ee = Mo/62500  (5)

Dengan menggunakan data Mo dari riset Natsushima, kita
mendapatkan Ee = 1,872 . 10^25 erg atau 450 megaton
TNT. Sementara dengan data panjang rupture dari riset
Natsushima, kita mendapatkan Ee = 4,405 . 10^25 erg
atau 1050 megaton TNT. Sebagai pembanding, Hiroshima
luluh lantak oleh bom berenergi 'hanya' 20 kiloton
saja.

Kita logikakan saja, sanggupkah bom termonuklir dengan
energi 9 megaton menciptakan gempa besar dengan energi
450 - 1050 megaton alias 50 - 117 kali lipat lebih
besar dari energi bom itu sendiri? Itu tidak masuk
akal ! Bahkan energi bom termonuklir terbesar yang
pernah diledakkan dalam sejarah, Tsar Bomba (King of
the Bomb) produk Uni Soviet di era 1960-an yang
berkekuatan 50 megaton itu masih kalah jauh dibanding
energi gempa 26 Desember 2004 !

5. Ledakan Nuklir dan Gempa Bumi

Titik berat teori Vialls terletak pada kemampuan
ledakan nuklir untuk memicu (trigger) aktivitas
guncangan tanah atau gempa bumi. Ledakan nuklir,
khususnya dengan titik ledak di permukaan dan di bawah
permukaan tanah, memang bisa memproduksi gempa bumi
dengan pola gelombang yang khas, yakni dilational.
Pada gempa bumi tektonik, gelombang yang terbentuk
berpola deviatoris (menurut USGS FAQ) dan seringkali
didahului dengan pola compresional .

perbedaan pola compresional dan dilational

        /\
       /  \      /
   _ _/_ _ \ _ _/_ _ _ _
	    \  /
	     \/

	 ===>    <===

pola compresional dalam seismogram, gelombang awal
bergerak ke atas, dengan arah gerakan tanah (panah
bawah) saling menekan (kompresi)


	        /\
   _ _ _ _ _ _ / _\_ _ _ _
	 \    /    \
	  \  / 	   \
	   \/

	 <===    ===>

pola dilational dalam seismogram, gelombang awal
bergerak ke bawah, dengan arah gerakan tanah (panah
bawah) saling menjauh (meregang)


Gempa bumi dalam ledakan nuklir sebenarnya merupakan
wujud konversi energi ledakan menjadi energi gempa.
Secara matematis energi gempa (Ee) berkait dengan
energi ledakan (E) lewat :

Ee = kE

dengan k sebuah faktor konversi, yang dalam praktiknya
k berharga 0,00001 s/d 0,001 (untuk ledakan di
permukaan tanah) dan 0,001 s/d 0,1 (untuk ledakan di
bawah permukaan tanah). Dengan memodifikasi persamaan
log Ee = 1,5M + 11,8 didapatkan :

1,5Mb = log W + 7,82 + log k  (6)

Dengan Mb = body-wave magnitude (satuan skala Richter)
dan W = energi ledakan (satuan kiloton TNT).

Atomic Energy Commission (AEC) - lanjutan dari
Manhattan Project-nya Jend. Leslie R. Grooves dan
fisikawan Johann Robert Oppenheimer - telah
melaksanakan serangkaian eksperimen detonasi senjata
nuklir dengan titik ledak pada permukaan dan di bawah
permukaan tanah selama era 1950 - 1960-an. Eksperimen
itu berlangsung di Gurun Nevada, berdekatan dengan
pangkalan AU Nellis, Utah. Daerah ini secara geologis
tergolong aktif, karena berdekatan dengan zona
subduksi lempeng Juan de Fuca dengan lempeng Amerika
Utara, yang salah satu efeknya membentuk panorama
mengagumkan di Grand Canyon dan sekitarnya.

Eksperimen AEC di Nevada yang paling terkenal adalah
detonasi bom " Sedan " (6 Juli 1962) dengan energi 104
kiloton TNT pada kedalaman 194 m. " Sedan " membentuk
cekungan (kawah) besar berbentuk mangkuk berdiameter
390 m dengan kedalaman 98 m yang menghamburkan 10,9
juta ton aluvial berkadar air 12 %. Bersama ledakan
ini terdeteksi pula perambatan gelombang gempa bumi
khas dengan Mb = 4,75 SR (k = 0,002).

Namun peristiwa paling menghebohkan terjadi pada 19
Januari 1968, ketika AEC meledakkan bom termonuklir "
Faultless " dengan energi 1 megaton dalam sebuah
eksperimen bawah tanah. Secara bersamaan dalam
beberapa kilometer dari titik ledakan terbentuk
rupture sepanjang 1200 m yang nampak jelas di
permukaan tanah. Seismograf di lokasi ujicoba pun
merekam adanya getaran gelombang gempa berpola
deviatoris bersamaan dengan gelombang gempa berpola
dilational (produk ledakan). Namun gempa tektonik itu
dipastikan lebih lemah dibanding gempa produk ledakan.
Analisis awal menunjukkan adanya 70 - 80 % gelombang
berpola dilational dan sisanya berpola deviatoris,
menunjukkan dominannya pengaruh ledakan terhadap
guncangan tanah.

Meski semula diduga ledakan " Faultless "-lah penyebab
gempa tektonik itu, namun analisis AEC menunjukkan
bahwa kedua peristiwa itu berdiri sendiri2 dan tidak
saling terkait, hanya saja terjadi pada saat yang
bersamaan. Analisis komprehensif sepanjang 1965 - 1968
mengenai pengaruh eksperimen2 detonasi bawah permukaan
dan gempa2 tektonik di Amerika barat (terutama dengan
magnitude > 3,5 SR) memperkuat kesimpulan AEC, bahwa
ledakan nuklir bawah permukaan tidaklah sanggup
menciptakan sebuah gempa tektonik.

Kesimpulan AEC diperkuat lagi dengan hasil eksperimen
termonuklir bawah permukaan " Cannikin " (6 November
1971) di P. Amchitka, sebuah pula dalam gugus Kep.
Aleut (Alaska). Secara geologis lokasi ini tergolong
takstabil dan terhimpit di antara dua tempat yang
pernah menjadi lokasi gempa dahsyat, yakni semenanjung
Kamchatka di sebelah barat (gempa 1737 dengan Mw = 9,3
dan gempa 1952 dengan Mw = 9,0) serta semenanjung
Alaska di sebelah timur (gempa Good Friday 1964 dengan
Mw = 9,2). Hingga kini pun para seismolog meyakini
gugusan Kep. Aleut secara geologi berada dalam kondisi
" locked " (terkunci) dan akan menjadi lokasi
berlangsungnya gempa besar periode berikutnya (setelah
gempa 26 Desember 2004). " Cannikin " melepaskan
energi 5 megaton dan menimbulkan guncangan gempa bumi
dengan Mb = 6,9 SR (k = 0,068). Namun guncangan kuat
ini ternyata tidak diikuti oleh munculnya gempa
tektonik maupun gempa2 susulannya, apalagi gempa
dahsyat.

Bisa saja kita mengatakan, semua data di atas dibuat
oleh AEC/Pentagon dan sangat berbau " Amerika " dan
tentu sudah " dibersihkan " agar hasilnya nampak baik2
saja, sementara data2 yang mengkhawatirkan sudah masuk
ke file " classified ". Namun data soal eksperimen
bawah permukaan tanah ternyata tidak hanya dipunyai
Amerika saja. India dan Pakistan pun memilikinya.

India melaksanakan eksperimen detonasi bawah permukaan
pertamanya pada 18 Mei 1974 di bawah pemerintahan
Indira Gandhi, dengan meledakkan bom plutonium "
Smiling Budha " (kini disebut Pokhran-1) pada
kedalaman 107 m dengan energi 6 kiloton di Gurun Thar,
Rajasthan. Ledakan menghasilkan gempa bumi dengan Mb =
4,9 SR (k = 0,056). Eksperimen kedua dilakukan pada 11
Mei 1998 dengan meledakkan bom termonuklir " Pokhran-2
" berenergi 43 kiloton, menghasilkan gempa bumi dengan
Mb = 5,2 SR (k = 0,022). Sementara Pakistan menyusul
pada 28 Mei 1998 dengan meledakkan bom " Chagai-1 "
(10 kiloton) di Pegunungan Baluchistan yang
mengguncangkan tanah dengan Mb = 4,9 SR (k = 0,034).
Gurun Thar dan Peg. Baluchistan berada saling
berdekatan (terpisah 1000-an km) dan berada di daerah
yang secara geologis takstabil karena berdekatan
dengan triple junction lempeng Arabia, lempeng India
dan lempeng Eurasia (di muara Sungai Indus). Namun tak
ada gempa tektonik yang terjadi akibat eksperimen2
tersebut, seperti yang dilaporkan USGS dan PIDC
(embrio badan PBB yang mengurusi masalah larangan
eksperimen senjata nuklir/CTBT) (lihat Wallace; 1998;
The May 1998 India and Pakistan Nuclear Tests; Seismic
Research Letters vol 69 page 386 - 393).

Eksperimen kedua Pakistan, " Chagai-2 " (6 kiloton)
dilakukan pada 30 Mei 1998 yang menghasilkan guncangan
dengan Mb = 4,7 SR (k = 0,028). Eksperimen ini sempat
membingungkan para ilmuwan karena setengah jam
sebelumnya meletup gempa kuat di Afghanistan dengan Ms
= 6,9 SR sehingga akurasi pantauannya tidaklah
setinggi " Chagai-1 ". Namun eksperimen ini makin
meyakinkan kesimpulan sebelumnya bahwa sebuah ledakan
nuklir (bawah permukaan sekalipun) takkan sanggup
menciptakan gempa tektonik.

Dari uraian di atas, kita mendapatkan gambaran bahwa
apa yang diteorikan Vialls berlawanan dengan data2
hasil eksperimen ledakan nuklir bawah permukaan yang
pernah ada. Data seismogram yang ditampilkan Vialls
dalam situsnya (http://www.vialls.com), yang
disebutnya direkam oleh stasiun seismograf Padang,
juga tidak menunjukkan pola dilational. Berkait dengan
dokumen rahasia OSS (kini CIA), harus diingat bahwa
dokumen itu dibuat pada dekade 1940-an, sementara
teori tektonik lempeng, yang bisa menjelaskan asal
usul dan dinamika gempa tektonik, baru muncul pada
tahun 1960-an.

6. Tectonic Setting

Vialls memang benar, di antara P. Nias dan P. Simeulue
terdapat triple junction lempeng India, lempeng
Eurasia (Sunda) dan mikrolempeng Burma. Mengenai
tectonic setting untuk P. Sumatra dan sekitarnya, ada
artikel sangat menarik dari geolog Awang Satyana (di
mailing list-nya Unpad, diposting pada 25/04/2004 dan
05/01/2005), Carayannis (2005) serta geoseismolog
Danny Hilman (2005).

Awalnya, Sumatra dan Jawa merupakan satu pulau besar
yang menjadi margin lempeng Eurasia. Oleh desakan
lempeng Australia (di Jawa dan sebagian Sumatra) serta
lempeng India (di ujung Sumatra), pulau besar ini
"robek" bagian tengahnya dan terbukalah Selat Sunda
yang bentuknya mirip segitiga dan makin melebar ke
arah selatan. Selanjutnya Jawa dan Sumatra terotasi
dengan arah berbeda. Jawa mengalami rotasi berlawanan
arah dengan jarum jam (sehingga posisi Jawa Timur
dulunya lebih ke selatan dari sekarang) akibat
subduksi tegak lurus (frontal) lempeng Australia yang
bergerak dengan kecepatan 20 mm/tahun ke utara.
Sedangkan Sumatra terotasikan searah dengan jarum jam
oleh subduksi miring lempeng Australia (kecepatan 52 -
60 mm/tahun, lebih tinggi dibanding di Jawa) dan India
(kecepatan 61 mm/tahun) ke timur laut. Dan berbeda
dengan di Jawa yang stabil, di Sumatra lempeng Eurasia
bergerak ke barat daya (dengan kecepatan 10 - 27
mm/tahun) untuk mengimbangi desakan kedua lempeng "
lawannya ".

Akibatnya bisa dibayangkan, desak mendesak antar
lempeng ini, ditambah subduksi miring, membuat daratan
Sumatra terbelah. Muncul retakan besar yang membelah
pulau itu secara asimetrik, mulai dari Selat Sunda
hingga ke P. Sabang. Itulah patahan besar Sumatra
(sesar Semangko), yang menjadi dasar berdirinya
gunung2 berapi Sumatra. Patahan sejenis, yang paralel
dengan panjang hampir sama, muncul pula di dasar laut
antara Sumatra dengan pulau2 kecil di sebelah
baratnya. Itulah patahan Mentawai, yang menjadi
populer saat meletup gempa kuat Bengkulu (2000).
Bersama palung Sunda (zona subduksi) di sebelah barat,
patahan Mentawai menjadi pembatas yang memisahkan 7
segmen pulau2 kecil itu (mulai Enggano di selatan
hingga Nias di utara) terhadap daratan Sumatra.

Situasi yang lebih kompleks muncul di ujung utara
Sumatra hingga Kep. Andaman. Disini terdapat dua
segmen : Simeulue dan Andaman. Di antara Simeulue dan
Nias memang terdapat sebuah triple junction (seperti
yang dimaksud Vialls), dimana melintang patahan
Pre-Batee dari zona subduksi menuju dataran tinggi
Gayo-Alas untuk bertemu dengan patahan besar Sumatra.
Patahan Pre-Batee bersifat divergen dan kelak diyakini
akan semakin melebar hingga terbentuk lembah memanjang
yang besar seperti Laut Merah, dengan punggungan
pemekaran samudera (mid oceanic ridge) di tengah2nya.
Patahan Pre-Batee inilah yang membuat provinsi NAD
terbelah menjadi dua, sebelah barat (bersama Kep.
Andaman dan Nicobar) merupakan bagian mikrolempeng
Burma, sementara sebelah timur tetap menjadi bagian
lempeng Sunda. Adanya mikrolempeng Burma juga membuat
posisi zona subduksi lebih menjorok ke lautan terhadap
daratan Sumatra (berpola konvex ke arah samudera),
dibandingkan zona subduksi yang ada di segmen Nias -
Enggano. Inilah prisma akresi Sumatra.

Berbeda dengan segmen Nias - Enggano, tumbukan lempeng
India dan mikrolempeng Burma di segmen Simeulue tidak
berbentuk zona subduksi (palung laut), melainkan
saling berhadapan/bergesekan (orthogonal, hampir
frontal) membentuk patahan. Kondisi hampir mirip
muncul di segmen Andaman, dimana interaksi kedua
lempeng membentuk patahan kompresif (thrust). Secara
sederhana bisa dikatakan, di kedua segmen ini, kedua
lempeng berada dalam posisi " terkunci " (locked),
berbeda bila ada zona subduksi " normal ", dimana
sebuah lempeng yang menyusup di bawah lempeng lainnya
bisa terus bergerak leluasa tanpa banyak hambatan.
Pada segmen Simeulue pula patahan Mentawai berakhir.

Menurut Danny Hilman N (2004), segmen yang " terkunci
" bukanlah monopoli Simeulue dan Andaman semata, namun
juga menghinggapi semua segmen di barat Sumatra. Kep.
Mentawai misalnya, karena segmennya " terkunci ", ia
bergerak mendekati daratan Sumatra dengan kecepatan 30
- 50 mm/tahun ke arah utara-timur. Desakan lempeng
Australia membuat lempeng Sunda tempat berdirinya Kep.
Mentawai mengalami pemendekan (shortening) dan
sekaligus penggelembungan, sehingga pantai barat
Sumatra terangkat sementara Kep. Mentawai mengalami
penurunan ketinggian 1 - 6 mm/tahun (lihat Kompas,
10/01/2005). Begitu batas daya tahan lempeng Eurasia
tercapai, yang memunculkan letupan energi ke permukaan
Bumi sebagai gempa Bengkulu (2000), terjadi proses
pemanjangan kembali (extension) lempeng Sunda disertai
kenaikan (uplift) P. Nias dan penurunan (subsidence)
pantai barat Sumatra. Pemanjangan ini membuat Kep.
Mentawai kembali menjauhi daratan Sumatra dengan
tambahan jarak 15 cm. Analisis mikroatol di sekitar
pulau2 kecil itu menunjukkan terjadinya gempa2 kuat
dan besar dengan mekanisme yang sama telah terjadi
pada tahun 1797 (Kep. Mentawai, Mw = 8,4), 1833 (Kep.
Mentawai, Mw = 8,7), 1843 (P. Nias, Mw tidak
diketahui), 1861 (P. Nias, Mw = 8,5), 1881 (Kep.
Andaman, Mw = 7,9), 1941 (Kep. Andaman, Mw = 7,7) dan
2002 (P. Simeulue, Mw > 7). Ilustrasi menarik soal
pemendekan dan pemanjangan lempeng yang tertekan di
zona subduksi ini bisa dilihat di situs Univ of
Washington (Ocean 410 : Marine Geology and Geophysics,
Unit 12 : Geological Hazards in the Pacific Northwest,
http://gore.ocean.washington.edu/classpages/ocean410/notes/unit12.htm).
Sayangnya Danny Hilman tidak bisa menyelidiki segmen
Simeulue akibat konflik berkepanjangan di NAD,
sehingga bagaimana situasi segmen Simeulue tidak bisa
diketahui dengan pasti.

Gempa besar 26 Desember 2004 silam terjadi akibat
segmen Simeulue yang " terkunci " mengalami kompresi
(thrust) oleh desakan lempeng India. Pada segmen yang
" terkunci " seperti ini, tidak ada upaya apapun yang
bisa dilakukan oleh manusia untuk
memperlambat/mempercepat terjadinya kompresi, meski
diupayakan dengan ledakan nuklir bawah permukaan
sekalipun (seperti diilustrasikan Hollywood dalam film
" 10.5 " nya).

Yang luar biasa, sewaktu kompresi terjadi, pada saat
bersamaan lempeng India juga mulai melakukan subduksi,
menelusup di bawah mikrolempeng Burma, setelah
sebelumnya selama berjuta-juta tahun hanya berhadapan
frontal. Yang luar biasa lagi, subduksi pada segmen
Simeulue juga menyeret segmen Andaman untuk melakukan
hal yang sama. Akibatnya, selain terjadi guncangan
tanah yang luar biasa (dengan Mw = 9,3), durasi gempa
juga berlangsung cukup lama (> 5 menit, ada pula yang
menyebut hingga 15 menit). Seismologi menyebut
kejadian ini sebagai gempa megathrust dan terakhir
kali dialami dunia 4 dekade silam, dalam gempa Good
Friday 1964 di Alaska.

Gempa besar ini menimbulkan perubahan besar di segmen
Simeulue. Telah terdeteksi terjadinya extension dan
subsidence secara bersamaan pada mikrolempeng Burma.
Pantai utara dan barat P. Simeulue - daerah terdekat
dengan hiposentrum gempa -  mengalami uplift setinggi
1 - 1,5 m dengan lebar daratan bertambah panjang
hingga 1 km ke arah laut (International Tsunami Survey
Team, dalam Kompas, 01/02/2005). Extension membuat
pulau ini (dan juga P. Nias) menjauhi daratan Sumatra
dengan pertambahan jarak 10 m (LIPI, dalam Kompas,
01/01/2005).  Data kapal riset Natsushima menunjukkan,
uplift ini terjadi di seluruh sisi barat segmen
Simeulue dan Andaman (yang berdekatan dengan zona
subduksi), dengan kenaikan rata2 10 - 13 m. Daerah
yang mengalami uplift berbentuk persegi panjang,
dengan panjang 1300 km dan lebar 70 km. Akibat
extension ini, terjadi pergeseran berskala besar. Di
Langsa dan Tapaktuan, pergeseran yang terjadi mencapai
0,6 - 4 m, sementara di pantai timur Thailand mencapai
0,3 m. Secara keseluruhan ujung utara Sumatra itu,
beserta sebagian kecil semenanjung Malaya, mengalami
pergeseran rata2 sebesar 1 - 3 m ke arah barat daya.
Bukan hanya itu. Posisi kutub utara geografis pun
dipastikan bergeser 2,5 cm ke arah garis 135deg BT,
sementara posisi tiap titik di seluruh dunia, tanpa
terkecuali, telah bergeser 1 cm dari semula.

Sebaliknya, subsidence terjadi di daratan Sumatra.
Subsidence di garis pantai kota Banda Aceh membuat
batas air laut masuk ke daratan hingga 57 m dari
semula. Sementara garis pantai pesisir barat propvinsi
NAD mengalami subsidence rata2 sebesar 2 m
(International Tsunami Survey Team, dalam Kompas,
23/02/2005). Subsidence dipastikan juga terjadi pada
dasar lautan di utara Simeulue, atau sering pula
disebut cekungan Aceh. Di dasar lautan ini juga
terjadi kerusakan yang luar biasa. Kapal riset Baruna
Jaya IV (BPPT) selama pelayarannya (16/01/2005 -
04/02/2005) menemukan rusaknya struktur sedimen di
perairan dangkal dekat Meulaboh. Sementara di utara,
di perairan lepas pantai Calang, ditemukan adanya
rupture lebar berarah timur laut - barat daya, yang
terisi sedimen baru dari daratan. Survey kapal HMS
Scott (Inggris) di sebelah barat Simeulue menunjukkan
adanya runtuhan dasar laut selebar 5 - 15 km, persis
di dekat zona subduksi (lihat Kompas, 23/02/2005).
Sementara di utara, di Kep. Andaman dan Nicobar,
subsidence telah memecah P. Trinket menjadi 2 bagian
dan sekaligus membuat mud volcano Baratang bererupsi.

Yang menarik, selama dua bulan seelah gempa utama 26
Desember 2004, terdeteksi 18.000 gempa susulan
(aftershock) dengan distribusi hiposentrum menunjukkan
kecenderungan lebih banyak di segmen Andaman. Hal ini
terjadi karena lempeng India bergerak ke timur laut,
sementara lempeng Eurasia bergerak ke barat daya,
sehingga mikrolempeng Burma yang terjepit di
tengah2nya menyetabilkan diri dengan mengarahkan sisa
energi gempa utama 26 Desember 2004 ke arah resultan
gerakan dua lempeng besar tersebut, yakni ke barat
laut, dimana  terdapat segmen Andaman.

Dengan semua data ini, teori Vialls tidak bisa
diterima mengingat tidak adanya perubahan dasar laut
di antara Simeulue - Nias. Bila ledakan nuklir yang
dimaksud Vialls bisa memicu ketidakstabilan di triple
junction - meski dari pengalaman eksperimen detonasi
senjata nuklir bawah permukaan kita tahu bahwa hal itu
tidak terjadi, maka logikanya, yang berperanan dalam
menciptakan gempa seharusnya segmen Simeulue dan Nias.
Maka seharusnya kita bisa mendapatkan data adanya
subsidence atau uplift di sekitar triple junction itu,
yakni di Simeulue selatan, Nias utara dan pulau2 kecil
diantaranya. Namun ternyata subsidence/uplift itu
tidak terjadi dari Simeulue selatan hingga ke Nias.
Selain itu, dengan adanya desakan lempeng India dan
Eurasia, seharusnya distribusi hiposentrum gempa2
susulannya mengarah ke barat laut dari titik triple
junction, alias di segmen Simeulue. Hal ini
bertentangan dengan fakta yang ada.

7. Ketinggian dan Energi Tsunami

Ledakan nuklir - di dasar laut - memang dikenal
sebagai salah satu penyebab terjadinya tsunami, selain
gempa tektonik, letusan gunung berapi, tanah longsor
dan tumbukan asteroid di laut. Tsunami produk ledakan
nuklir juga merupakan tsunami hasil kreasi manusia,
selain tanah longsor (buatan). Ledakan nuklir di dasar
laut menyebabkan terbentuknya cekungan (kawah besar),,
yang memerosotkan kolom air laut di atasnya. Akibatnya
pada kolom air laut tersebut terjadi olakan yang
diikuti dengan arus balik ke atas dan disusul
penjalaran gelombang mendatar sebagai upaya dari kolom
tersebut untuk memperoleh kembali kesetimbangan
permukaannya. Mengenai tsunami akibat tanah longsor
(buatan), kasus menarik terjadi di Perancis selatan,
pada 1983, saat terjadi pembangunan bandara dengan
landasan yang menjorok ke arah laut (persis seperti
landasan bandara Ngurah Rai di Bali). Rupanya getaran
alat berat membuat sedimen lunak di lepas pantai
rontok, dan akibatnya timbul tsunami lokal yang
merusak dermaga Thebes.

Dilihat dari bentuk TGA (tsunami generating area)-nya,
ledakan nuklir memiliki TGA berbentuk lingkaran, sama
halnya dengan tanah longsor, letusan gunung berapi dan
tumbukan asteroid. Sementara gempa bumi menghasilkan
TGA berbentuk elliptik/persegi panjang, sesuai dengan
bentuk patahan/rupture-nya.

Eksperimen detonasi senjata nuklir di Kep. atol
Bikini, Samudra Pasifik, yang dilakukan AEC sejak
pasca Perang Dunia 2 hingga pertengahan dekade 1960-an
menyajikan banyak informasi mengenai sifat-sifat
tsunami dengan TGA berbentuk lingkaran, khususnya
tsunami produk ledakan nuklir. Tinggi tsunami (H,
dalam meter) merupakan fungsi dari energi ledakan (W,
dalam kiloton), kedalaman laut di titik ledakan (d,
dalam meter) dan jarak horizontal dari titik ledakan
(r, dalam meter), yang dinyatakan dalam bentuk :

H = 45 (d/r) W^(0,25) (7)

Hubungan ini didapatkan ketika AEC meledakkan bom "
Baker " pada 24 Juli 1946, yang melepaskan energi 21
kiloton (setara bom Nagasaki). Peledakan2 berikutnya
mengonfirmasikan hubungan tersebut.

Tsunami merupakan gelombang panjang yang menjalar
dengan kecepatan tinggi, dimana tinggi gelombangnya
sangat kecil bila dibandingkan dengan panjang
gelombangnya. Pengamatan satelit TOPEX/Posseidon
(NASA) dalam kejadian 26 Desember 2004 menunjukkan,
tinggi tsunami saat itu 'hanya' 30 cm (di laut lepas),
namun panjang gelombangnya melebihi 500 km.

Kedahsyatan sebuah tsunami dipengaruhi oleh besarnya
energi yang diangkutnya serta bentuk garis pantai yang
dihantamnya. Kita mengetahui bahwa pada pantai2 yang
berteluk/bermuara sungai, tsunami menjadi lebih
dahsyat karena bentuk2 pantai seperti itu membuat
energi dan massa air laut terakumulasikan demikian
rupa bila dibandingkan garis pantai yang datar.
Menurut Yabushita (1998), tsunami dahsyat umumnya
memiliki energi sekitar 2 megaton. Sementara daya
jangkau tsunami bergantung pada bentuk gelombangnya,
yang berarti dipengaruhi juga oleh TGA-nya. Menurut
Crawford dan Mader (1998), sebuah tsunami yang berdaya
jangkau sangat jauh haruslah berbentuk gelombang
koheren, sehingga tidak terjadi proses dissipasi
(kehilangan) energi yang substansial saat tsunami
menempuh jarak yang sangat jauh. Untuk menghasilkan
gelombang koheren, diameter " cekungan temporer " pada
permukaan air laut di atas TGA-nya harus 3 - 5 kali
lebih besar dari kedalaman laut setempat (Paine; 1999;
Tsunami from Asteroid/Comet Impacts; Australian
Spaceguard Survey;
http://www1.tpgi.com.au/users/tps-seti/spacegd7.html).
Dari rangkaian eksperimen AEC, Glasstone dan Dolan
(1972) secara empirik mendapatkan hubungan antara
diameter cekungan (D, dalam meter) dengan energi
ledakan (W, dalam kiloton) sebagai berikut :

D = 2CW^(0,33) (dl)^(-0,25)  (8)

dengan d densitas media di titik ledak (dalam g/cc), l
kedalaman titik ledak (dalam meter) dan C konstanta
yang bergantung pada jenis media di titik ledak. Untuk
dasar laut, dimana medianya berupa tanah alluvial
(endapan), C = 64,33 - 76,45 dan d = 2,0 g/cc.

Mari kita uji teori Vialls. Dengan kedalaman titik
ledak sekitar 5 km dan W = 9 megaton, maka menurut
persamaan 8  kita mendapatkan diameter " cekungan
temporer " di permukaan air laut antara 270 - 320
meter. Ini sangat kecil bila dibandingkan batas
minimal menurut Crawford dan Mader, yang harus sebesar
15 km, agar berbentuk gelombang koheren. Maka bisa
dikatakan bahwa tsunami teori Vialls bukanlah jenis
tsunami yang mampu merambat sangat jauh.

Berdasarkan persamaan 7, ketinggian tsunami dalam
berbagai jarak ditabulasikan sebagai berikut :

Tabel 1

--------------------------
r (km)  H (meter)
--------------------------
   10  220
   50 	 44
  100 	 22
  150 	 15
  200 	 11
  300 	  7
  500 	  4
1000 	  2
2000 	  1
5000 	  0,5
---------------------------

Tsunami dengan TGA lingkaran dikenal memiliki
ketinggian awal yang cukup mencengangkan, namun dalam
jarak yang lebih jauh, ketinggiannya mengalami
penyusutan yang luar biasa. Carayannis (1985)
melaporkan fenomena ini teramati dalam kejadian
tsunami akibat letusan Gunung Krakatau (Agustus 1883)
dan tsunami Teluk Lituya, sebuah teluk sepanjang 11 km
dengan lebar 3 km yang terletak di Taman Nasional
Glacier, Alaska (AS). Pada 8 Juli 1958, gempa tektonik
(Mw = 7,9 - 8,3) mengguncang kawasan Teluk Lituya
dengan durasi guncangan 1 menit. Akibatnya tebing
curam Peg. Fairweather di tepi teluk rontok,
menimbulkan longsoran gigantis dengan volume 30 juta
km kubik (massa sekitar 45.000 trilyun ton). Sebagian
besar longsoran ini diyakini berbentuk bongkahan
raksasa, yang jatuh ke teluk Lituya layaknya tumbukan
asteroid. Akibatnya di Gilbert Inlet - muara salah
satu gletser ke teluk dan titik terdekat dengan sumber
longsoran - tinggi tsunami mencapai 520 m ! Di pantai2
teluk, tinggi tsunami bervariasi antara 30 - 200 m.
Namun begitu memmasuki Samudra Pasifik, tinggi tsunami
< 1 m dan dengan cepat menghilang. Fenomena tsunami
Teluk Lituya memunculkan istilah megatsunami, yang
diperuntukkan bagi tsunami2 dengan ketinggian > 100
meter.

Di antara Nias dan Simeulue terdapat Kep. Banyak, yang
posisinya sangat berdekatan dengan triple junction.
Maka bila berdasar pada teori Vialls, seharusnya di
kepulauan ini terjadi megatsunami, yang menenggelamkan
seluruh pulau untuk beberapa lama. Sementara Simeulue
selatan dan Nias utara, yang jarak kasarnya sekitar
100 km dari triple junction, seharusnya menderita
tsunami dengan ketinggian 22 meter. Sibolga,
Tapaktuan, dan Singkel, masing2 di pantai barat
Sumatra yang jaraknya sekitar 200 km dari triple
junction, seharusnya mengalami tsunami dengan
ketinggian 11 meter. Pada jarak yang lebih jauh, yakni
di Srilanka (> 2.000 km) dan pesisir timur Afrika (
5.000 km), seharusnya ketinggian tsunami < 1 meter,
sehingga tidak memakan korban. Ke arah utara,
penjalaran tsunami dibatasi oleh daratan Sumara yang
berarah tenggara - barat laut, sehingga logikanya
penjalaran tsunami pun hanya mengarah ke barat laut,
yakni ke pesisir Myanmar dan Bangladesh saja, tidak ke
Thailand, sebagian semenanjung Malaysia dan pantai
timur Sumatra.

Dalam realitanya, kita tahu bahwa tsunami 26 Desember
2004 itu menjalar ke mana2. Di pantai barat Sumatra
dan pulau2 sekitarnya, terjangan tsunami mencapai
ketinggian rata2 13 meter dengan variasi cukup besar,
sebagai berikut :

Tabel 2

---------------------------------
daerah 	 H (meter)
---------------------------------
Lhoknga 	 34,5
Banda Aceh  20,8
Ulee Lheu  15,6
Simeulue utara  15
Simeulue selatan 3 - 4
Sibolga 	 3
Sirombu (Nias)  3
----------------------------------
(International Tsunami Survey Team dalam Kompas,
01/02/2005).

Sementara di tempat2 lain di sepanjang pesisir Samudra
Hindia, ketinggian tsunami juga cukup bervariasi :

Tabel 3

---------------------------------
daerah/negara  H (meter)
---------------------------------
Idi (Aceh timur) 3
Khao-Lak (Thailand) 11,6
Phi-phi (Thailand) 11
Malaysia  n/a
Nicobar (India)  15
Kerala (India)  n/a
Andra Pradesh (India) n/a
Tamil Nadu (India) n/a
Bangladesh  n/a
Sri Lanka 	 14
Myanmar 	 n/a
Maladewa  4
Somalia 	 1,3
Kenya 	 n/a
Tanzania  n/a
Madagaskar  1,6 - 10
Afrika selatan  2 - 3
Australia  1,6
----------------------------------
n/a : tidak ada data tentang ketinggian tsunami, namun
terjadi korban jiwa/kerusakan yang cukup signifikan.

(Carayannis; 2005; The Great Earthquake and Tsunami of
26 December 2004 in South East Asia and the Indian
Ocean; Special Reports, http://www.drgeorgepc.com dan
National Geographic Indonesia, April 2005).

Dari tabulasi ini kita tahu bahwa tsunami 26 Desember
2004 itu menjalar hingga ke jarak yang sangat jauh.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa teori Vialls tidak
bisa dipertahankan, mengingat tsunami produk ledakan
nuklir, dengan TGA berbentuk lingkaran, hanyalah
menghasilkan kerusakan yang bersifat lokal seperti
yang dimodelkan dalam tabel 1. Perbandingan antara
pemodelan (tabel 1) dan fakta di lapangan (tabel 2)
juga menunjukkan ketidaksinkronan, yang turut
memperlemah teori Vialls, karena tsunami tertinggi
justru terjadi di Lhoknga dan Banda Aceh, bukan di
Simeulue selatan, Sibolga dan Sirombu (Nias).
Sementara data tabel 3 menunjukkan adanya tempat2 di
timur Sumatra yang terkena hantaman tsunami, satu hal
yang tidak mungkin bila kita mengacu pada teori
Vialls.

Carayannis (1985) telah mendeduksi persamaan untuk
menghitung energi sebuah tsunami (E, dalam erg)
sebagai fungsi dari luas patahan/rupture dasar laut
yang terbentuk (A, dalam cm^2) dan besarnya pergeseran
vertikal (h, dalam cm) dalam bentuk :

E = (dgAH^2)/6 (9)

dengan d = densitas air laut (1,03 g/cc) dan g =
percepatan gravitasi Bumi (981 cms^-2).

Kita tahu dalam gempa tektonik, tsunami-nya memiliki
TGA berbentuk ellips/persegi panjang. Carayannis
(2005) - dari analisis distribusi hiposentrum gempa2
susulan - menduga TGA itu berbentuk elliptik memanjang
(seperti sosis) dengan luas 280.000 - 300.000 km^2.
Namun dari data riset Natsushima, kita tahu bahwa luas
TGA = 1300 x 70 = 91.000 km^2. Dengan pergeseran
vertikal sebesar 10 - 13 m, kita mendapatkan besarnya
energi tsunami 1,532 - 2,589 . 10^23 erg (3,66 - 6,19
megaton). Dengan energi > 2 megaton ini, kita tahu
bahwa tsunami 26 Desember 2004 itu memang jenis
tsunami dahsyat. Dengan daya jangkau sedemikian jauh,
tsunami dahsyat ini dipastikan juga merupakan
gelombang koheren. Dahsyatnya tsunami ini juga dipicu
oleh terjadinya perombakan besar (berbentuk longsoran
dasar laut yang gigantis) dalam  lapisan sedimen di
segmen Andaman. Penyelidikan kapal Natsushima
menunjukkan, lapisan sedimen yang berasal dari erosi
Peg. Himalaya ini mengalami uplift dan kemudian
terlongsorkan hingga kedalaman 1 km (Kompas,
26/07/2005).

8. Sedimen Tsunami

Titik lemah lain dari teori Vialls terletak pada
kandungan unsur2 dalam sedimen yang diendapkan oleh
tsunami (tsunamit, berdasar istilah para geolog). Kita
tahu bahwa senjata nuklir berbahan dasar unsur2 berat
yang bersifat radioaktif, seperti Uranium-235
diperkaya dan Plutonium-239. Dalam perancangan senjata
nuklir, menurut Carey Sublette (2001, lihat dalam
Nuclear Weapons FAQ), dikenal istilah efisiensi fissi,
yakni perbandingan antara jumlah inti2 yang mengalami
reaksi fissi dengan jumlah inti keseluruhan. Efisiensi
fissi tidak pernah mencapai 100 %. Dua bom nuklir
pertama dalam sejarah, yakni " Little Boy " dan " Fat
Man ", masing2 memiliki efisiensi 1,4 % dan 17 % saja.
Untuk meningkatkan efisiensi fissi ini, biasanya para
perancang senjata nuklir menyertakan campuran
Tririum-Deuterium dalam berbagai bentuk (yang terkenal
adalah Sloika/Alarm Clock karya Andrei Sakharov yang
digunakan Uni Soviet dan Teller - Ulam sausage/Staged
Radiation Implosion karya Edward Teller - Stanislav
Ulam yang digunakan AS) untuk menjalankan reaksi fusi
nuklir (yang dipicu reaksi fissi awal) guna
menciptakan banjir neutron yang akan memicu reaksi
fissi utama. Namun, nilai efisiensi tertinggi, yang
berhasil didapatkan Afrika Selatan selama menjalankan
program nuklirnya (dan kini sudah diakhiri), hanyalah
50 %. Artinya, masih ada sisa dari inti2 yang tidak
mengalami reaksi dan kemudian ikut tercampur dalam
produk reaksi fissi (sampah nuklir).

Produk reaksi fissi itu sendiri bermacam-macam, namun
senantiasa mengandung empat isotop penting :
Strontium-90 (half life = 28 tahun), Cesium-137 (half
life = 30 tahun), Iodium-131 (half life = 8 hari) dan
Carbon-14 (half life > 5.000 tahun). Sebuah ledakan
nuklir biasanya menghasilkan isotop unsur2 berat
sejumlah 5 kg, diantaranya sisa
Uranium-235/Plutonium-239 dan unsur2 transuranik
pemancar sinar alfa dan gamma (Plutonium-240 dan
Amerisium-241). Isotop2 inilah yang (harusnya)
terkandung dalam tsunamit versi teori Vialls.
Logikanya, ketika bom itu diledakkan di atas triple
junction, sampah nuklirnya akan terbawa ke permukaan
bersamaan dengan ovreshoot, dan selanjutnya bergerak
ke daratan lewat tsunami. Dengan demikian (seharusnya)
tsunamit yang mengandung sampah nuklir berkonsentrasi
tinggi bisa ditemukan di Simeulue selatan, Nias utara
dan pantai barat Sumatra (dari Sibolga hingga
Tapaktuan).

Dalam menganalisis Bom Bali I, Vialls pernah berteori,
dengan teknik tertentu isotop2 pemancar sinar gamma
(Cesium-137, Iodium-131 dan unsur2 berat) bisa
dihilangkan sehingga tinggal menyisakan isotop
pemancar alfa-nya saja. Hal ini jelas bertentangan
dengan konsep fisika modern, dimana sifat radioaktif
dari isotop tertentu hanya bisa diubah bila
berlangsung transmutasi nuklir, baik dalam bentuk
peluruhan radioaktif (yang bersifat alami) maupun
lewat reaksi nuklir (yang bersifat buatan). Maka untuk
menghilangkan beberapa isotop itu, harus dilakukan
reaksi nuklir tambahan (dengan proyektil proton
berenergi tinggi) yang beroperasi bersamaan dengan
reaksi fissi itu sendiri. Hal itu jelas tidak mungkin,
mengingat untuk memproduksi proton berenergi tinggi
membutuhkan perangkat akselerator khusus berukuran
besar (siklotron maupun cosmotron). Sementara ledakan
nuklir jelas akan menghancurkan akselerator tersebut.

Stronsium-90 secara kimiawi mampu menyubstitusi
Kalsium sehingga akan didepositkan dalam tulang dan
menyebabkan kanker tulang. Sifat kimiawi Cesium-137
sangat mirip dengan Kalium, sehingga bisa masuk ke
dalam darah dan menyebabkan leukemia. Adapun
Iodium-131, secara kimiawi terendapkan di dalam
kelenjar tiroid dan sangat merusak, karena waktu
paruhnya yang sangat pendek (sehingga aktivitas
radiasinya luar biasa besarnya dibanding produk2 fissi
lainnya), memicu kanker tiroid. Sedangkan Carbon-14,
bisa tertransfer ke dalam inti sel dan menjadi bagian
dari material genetik (DNA maupun RNA) yang bisa
memicu mutasi (genetik maupun somatis), meski
pengalaman di Hiroshima dan Nagasaki menunjukkan hanya
mutasi somatis saja yang terjadi. Sementara unsur2
berat umumnya terdepositkan dalam paru2 dan mampu
menyebabkan kanker paru2.

Realitanya, tsunamit di pantai barat Sumatra tidak
mengandung isotop2 khas sampah nuklir, namun justru
mengandung unsur Belerang yang berlebih (Syamsul
Rizal, dalam Kompas 17/03/2005). Terbentuknya rupture
hingga ke segmen Andaman membuat segmen ini turut
mengalami extension dan subsidence/uplift. Proses ini
diyakini menghasilkan retakan2/patahan2 kecil di dasar
laut sekitar Kep. Andaman/Nicobar, yang merobek
deposit2 Belerang di dalamnya hingga bersentuhan
dengan lingkungan perairan. Keberadaan deposit2
Belerang ini sangat memungkinkan, karena Kep
Andaman/Nicobar merupakan kepulauan vulkanis, dengan
sejumlah kerucut gunung berapi, baik yang masih aktif
(Gunung Barren, Gunung Baratang) maupun yang sudah
padam. Beberapa diantara gunung berapi itu ada di
bawah permukaan laut. Busur vulkanis ini berakhir di
ujung utara Sumatra, tepatnya di P. Weh (Carayannis;
2005; The Great Earthquake and Tsunami of 28 March
2005 in Sumatra, Indonesia; A Special Report;
http://www/drgeorgepc.com).

Melimpahnya unsur Belerang juga menjadi jawaban
mengapa sejumlah jenazah korban tsunami tampak
menghitam, seperti hangus. Proses pembentukan rupture
(demikian juga retakan2 dan patahan2 kecil yang
menyertainya) selalu diikuti dengan terjadinya
pelelehan batuan setempat akibat suhu tinggi menyusul
besarnya gesekan. Batuan yang meleleh ini - baik
batuan beku maupun sedimen - kemudian membeku kembali
dan berubah wujud menjadi batuan malihan (metamorf)
lewat proses milonitisasi. Suhu tinggi itu juga
membuat sebagian Belerang dalam depositnya terpanaskan
dan akibatnya terjadi reaksi kimiawi dengan atom2
Oksigen, sehingga terbentuklah Sulfur Dioksida (SO2)
dan Sulfur Trioksida (SO3). Ketika bersentuhan dengan
air laut, Sulfur Dioksida dan Sulfur Trioksida
langsung bereaksi menghasilkan Asam Sulfit (asam
lemah) dan Asam Sulfat (asam kuat). Persentuhan Asam
Sulfat dengan jaringan kulit manusia membuat kulit
rusak dan nampak hangus.

Kondisi seperti ini, dalam skala yang lebih kecil dan
konteks bencana yang berbeda, pernah terjadi pada
Februari 1979 saat Kawah Sinila (Dieng, Banjarnegara)
meletus dan merobek deposit solfatara (sumber gas
Belerang) di dalamnya. Akibatnya gas Belerang
terpanaskan dan segera bercampur dengan uap air panas
di sekitarnya, menghasilkan " Awan Asam Sulfat " yang
bergerak ke desa Sinila, Simbar dan Kepucukan
didekatnya, hingga menewaskan 140 orang dengan tubuh
hangus.

Jadi, jenazah2 yang tampak hitam itu bukan disebabkan
oleh radiasi panas produk ledakan bom, seperti halnya
korban2 di Nagasaki dan Hiroshima 6 dekade silam.
Lagipula, dari serangkaian eksperimen AEC di Kep. atol
Bikini, diketahui bahwa dalam ledakan nuklir di bawah
permukaan laut, radiasi panas yang terbentuk - dibawa
oleh foton2 sinar inframerah - tidak mampu menembus
kolom air laut di sekitarnya. Karena foton inframerah
memang memiliki karakteristik untuk diserap oleh
molekul2 air.

9. Perbandingan dengan Gempa Besar 28 Maret 2005

Hanya berselang 3 bulan setelah gempa besar 26
Desember 2004, terjadi gempa besar yang mengguncang P.
Nias dan sekitarnya, pada 28 Maret 2005 pukul 23:10
WIB. BMG menyebut gempa ini memiliki Mw = 8,7
sementara menurut USGS dan Pacific Tsunami Warning
Center Mw = 8,2. Hiposentrum gempa terletak di dasar
Kep. Banyak, berdekatan dengan titik triple junction,
dan hanya berjarak 160 km dari hiposentrum gempa besar
26 Desember 2004.

Dari analisis distribusi hiposentrum gempa2
susulannya, Danny Hilman (2005) menyimpulkan gempa ini
dipicu oleh terbentuknya patahan/rupture sepanjang 400
km dengan lebar 200 km dan pergeseran (slip) maksimal
sebesar 6 meter. Dengan menggunakan persamaan 4 dan 5,
untuk Mw = 8,7 kita mendapatkan besarnya energi gempa
54 - 324 megaton. Dengan energi sebesar ini, cukup
mengherankan bahwa gempa besar tersebut tidak
menimbulkan tsunami sedahsyat tsunami 26 Desember
2004. Padahal secara teoritis, untuk kedalaman
hiposentrum 32 km, gempa dengan Mw > 6,8 sudah cukup
untuk menghasilkan tsunami yang merusak. Keanehan ini
juga yang menjadi salah satu argumen teori Vialls.

Tsunami yang diproduksi gempa 28 Maret 2005 ini kecil.
Stasiun pasang surut di P. Cocos, sebelah barat
Australia, mencatat ketinggian tsunami 28 Maret 2005
di laut lepas sebesar 25 cm. Berbeda dengan tsunami 26
Desember 2004 yang mencapai 33 cm.

Carayannis (2005) menjawab persoalan timbulnya gempa
besar 28 Maret 2005 ini dan ketiadaan tsunami merusak
dengan menggunakan pendekatan yang sama seperti saat
membahas gempa dan tsunami 26 Desember 2005, yang
berbasis pada hasil penyelidikan Danny Hilam dan Kerry
Sieh. Munculnya subduksi lempeng India terhadap
mikrolempeng Burma dalam segmen Simeulue, dimana
lempeng India bergerak ke timur laut dan segmen
Simeulue sendiri mengalami pergeseran besar (20 m) ke
arah barat laut menimbulkan tekanan tektonis yang
sangat besar terhadap segmen Nias. Segmen Nias
sendiri, yang bertumbukan dengan lempeng Australia,
terakhir kali mengalami gempa besar hampir 1,5 abad
silam (pada 1861 dengan Mw = 8,5), sehingga sangat
berpotensi untuk meletupkan gempa besar lagi mengingat
pada seluruh segmen di barat Sumatra, periode
pengulangan gempa2 besar (rata2) sekitar 200 tahun.
Tambahan tekanan akibat pergeseran segmen Simeulue
disebelah utara nampaknya membuat periode pengulangan
gempa besar di segmen Nias menjadi lebih pendek.

Namun mekanisme tektonis yang bekerja di segmen Nias
sangat berbeda dibandingkan yang terjadi di segmen
Simeulue. Pada segmen Simeulue, mekanismenya sangat
didominasi kompresi ultrabesar (megathrust) dengan
komponen minor berupa pergeseran horizontal
(strike-slip) ke arah barat laut, maka pada segmen
Nias mekanisme dominannya berupa pergeseran
horizontal, juga ke arah barat laut. Dalam segmen Nias
juga terjadi kompresi (thrust) dengan segala
gejalanya, seperti extension dan uplift/subsidence.
Subsidence terjadi di pantai barat dan barat laut P.
Nias, sementara uplift mengangkat pantai timur dan
tenggara P. Nias hingga ketinggian 2 meter dari
semula. Memang menakjubkan bahwa uplift terjadi di
sisi timur zona patahan/rupture segmen Nias, sehingga
otomatis tsunami yang terbentuk akan didisipasikan
menuju barat daya, ke tengah Samudra Hindia, seperti
yang disimulasikan Pacific Tsunami Warnig Genter,
Hawaii (Carayannis; 2005; The Great Earthquake and
Tsunami of 28 March 2005 in Sumatra, Indonesia; A
Special Report; http://www/drgeorgepc.com). Hal ini
juga menunjukkan situasi yang sangat berbeda
dibandingkan dengan gempa 1883, yang menghasilkan
tsunami sedahsyat tsunami 26 Desember 2004 silam.

Kecilnya tsunami dalam gempa besar 28 Maret 2005 juga
ditopang oleh tipisnya lapisan sedimen dasar laut di
segmen Nias. Dengan mekanisme tektonis dominan berupa
pergeseran horizontal, sedimen yang tipis ini relatif
tidak mengalami kerusakan berat dalam bentuk longsoran
gigantis. Situasi yang sangat berbeda terjadi di
segmen Simeulue dan Andaman, dimana gempa yang
didominasi kompresi ultrakuat (megathrust) mengenai
lapisan sedimen tebal dan diikuti longsoran dasar laut
gigantis sehingga terbitlah tsunami dahsyat itu.

Survey kapal riset Natsushima mendukung kesimpulan
Carayannis. Tidak ditemukan patahan dasar laut yang
baru, sama seperti kondisi di segmen Simeulue (lihat
Kompas, 26/07/2005). Topografi dasar laut juga relatif
utuh, dengan beberapa longsoran kecil di sana-sini.
Sisi barat rupture ini berada di zona subduksi,
sementara sisi timur dibatasi oleh patahan Mentawai.
Rupture ini sama persis dengan rupture yang terbentuk
pada gempa besar 1861, hanya saja lebih pendek. Hal
ini memunculkan dugaan bahwa kompresi dan pergeseran
horizontal yang terjadi di rupture baru ini belum
mencapai kondisi maksimumnya, yang mengindikasikan
kemungkinan belum terlepasnya semua tekanan tektonis
dalam segmen Nias. Artinya, ada kemungkinan segmen ini
akan kembali meletup untuk melepaskan semua sisa
tekanan tektonis yang dikandungnya dalam gempa besar
berikutnya.

10. Epilog

Dengan semua uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
gempa besar dan tsunami dahsyat 26 Desember 2004
bukanlah berasal atau dipicu oleh ledakan nuklir dasar
laut, namun memang dihasilkan oleh aktivitas tektonik
yang luar biasa. Dengan demikian, teori konspirasi
Vialls tidak bisa dibuktikan.

Harus diakui, teori Vialls sungguh menggelitik. Saya
pribadi membayangkannya seperti apa yang ada dalam "
Under Siege 2 ", yang dibintangi aktor bertampang
dingin Steven Seagal. Dimana diceritakans ekelompok
teroris berteknologi tinggi berhasil membajak satelit
" Grazer 1 " milik Pentagon, satelit yang berkemampuan
meletupkan gempa di suatu kawasan yang dikehendaki
dengan metode subterranean. Namun jika kita keluar
sejenak dari dunia fiksi ini, nampak bahwa metode
pembangkitan gempa lewat satelit sama sekali tidak
bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Demikian pula
dengan pembangkitan gempa besar 26 Desember 2004 lewat
ledakan nuklir dasar laut sebagai pemicu.

Yang justru harus kita pikirkan, gempa besar 26
Desember 2004 menyadarkan kita bahwa kepulauan
Nusantara tempat Indonesia berdiri ini secara geologis
memang tergolong sangat rapuh, mengingat tiga lempeng
tektonik utama di Bumi bertemu di sini. Danny Hilman
dan mentornya Kerry Sieh telah memberikan sumbangan
signifikan dalam memahami siklus gempa2 besar di
Indonesia, namun mereka baru menyelidiki zona subduksi
Sumatra saja. Masih ada zona subduksi Jawa dan zona2
subduksi yang lebih kompleks seperti Nusa Tenggara,
Sulawesi Utara, Kep. Maluku dan Irian utara yang sama
sekali belum diselidiki, padahal potensi bahaya gempa
besar yang dikandungnya sama saja dengan potensi zona
subduksi Sumatra.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

#37 From: "MUTOHA MMC" <jogja_astroclub@...>
Date: Mon Feb 6, 2006 5:31 pm
Subject: ##INFO KOLEKSI BUKU ASTRONOMY##
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Buat Member/Anggota

Setelah sekian lama hunting Buku-buku Astronomi (Bhs. Indonesia) di
seluruh wil Jogja, alhamdulillah dapat ketemu 31 judul (saya borong
semua). Bagi yang berminat dapat baca di Markas JAC. Atau tunggu
sebentar lagi saya buat e-book (pdf file) biar dapat masuk sekeping CD.

Koord.

#39 From: "MUTOHA MMC" <jogja_astroclub@...>
Date: Mon Feb 6, 2006 8:25 pm
Subject: Bulan Waxing Gibbous
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Dengan menggunakan teleskop refraktor yang pernah dibuat terdahulu,
saya mencoba menggunakannya untuk meneropong bulan malam ini karena
kebetulan langit cerah dan bulan pada posisi bagus untuk dilihat
(waxing gibbous). Dari belakang rumah walaupun agak2 takut (maklum
sampingnya makam) setelah merakit sebentar bulanpun sudah nampak di
depan mata. Setelah fokus tepat sederetan kawah bulanpun mulai
nampak menghiasi permukaannya. Cukup jelas ternyata teleskop dari
lensa bekas fotokopi ini pikir saya. Tak lupa saya coba ambil gambar
dg kamera digital prolink yg sudah lama nganggur. Maka sekarang yang
mengintip bukan lagi mata tapi lensa kamera yg secara manual saya
pegang. Sambil mengatur posisi, lewat lcd gambar bulan nampak
dan ..jepret2... entah berapa kali. Ternyata hasilnya tidak sejelas
ketika saya lihat langsung. Ya lumayan untuk alat sekualitas itu.
Gambarnya di sini :
1. http://mmc-jogja.20m.com/artikel-teleskop-atm.html
     (teropong lensa fotokopi itu.)
2. http://mmc-jogja.20m.com/gambarbulan.html
    -(file asli foto bulan dari kamera)
    -(foto bulan setelah di RegiStax)
    -(jika dilihat pake program StarryNihgtPro 571)

terimakasih
Salam: Mutoha

#40 From: "Djengkar Subagyo" <jengkars@...>
Date: Mon Feb 6, 2006 11:30 pm
Subject: RE: [Jogja_Astroclub] Bulan Waxing Gibbous
jengkars@...
Send Email Send Email
 
Pak Mutoha,
Wah gambarnya lumayan lho.... Saya yakin hasil jepreten camera biasanya radha2
blur...
namun waktu lihat langsung dg mata pasti lebih indah.
Karena saya buat spt yg diinstruksikan belum juga berhasil (mkn ilmu fisika saya
kurang good)
shg saya putuskan beli saja.... Memang mahal...namun puas melihat hasilnya
Cuman saat ini sering mendung dan hujan... Jd belum sempat berburu bintang dan
planet....

Salam.


-----Original Message-----
From: MUTOHA MMC [mailto:jogja_astroclub@...]
Sent: Tuesday, February 07, 2006 4:26 AM
To: Jogja_Astroclub@yahoogroups.com
Subject: [Jogja_Astroclub] Bulan Waxing Gibbous


Dengan menggunakan teleskop refraktor yang pernah dibuat terdahulu, saya mencoba
menggunakannya untuk meneropong bulan malam ini karena kebetulan langit cerah
dan bulan pada posisi bagus untuk dilihat (waxing gibbous). Dari belakang rumah
walaupun agak2 takut (maklum sampingnya makam) setelah merakit sebentar bulanpun
sudah nampak di depan mata. Setelah fokus tepat sederetan kawah bulanpun mulai
nampak menghiasi permukaannya. Cukup jelas ternyata teleskop dari lensa bekas
fotokopi ini pikir saya. Tak lupa saya coba ambil gambar dg kamera digital
prolink yg sudah lama nganggur. Maka sekarang yang mengintip bukan lagi mata
tapi lensa kamera yg secara manual saya pegang. Sambil mengatur posisi, lewat
lcd gambar bulan nampak dan ..jepret2... entah berapa kali. Ternyata hasilnya
tidak sejelas ketika saya lihat langsung. Ya lumayan untuk alat sekualitas itu.
Gambarnya di sini : 1. http://mmc-jogja.20m.com/artikel-teleskop-atm.html
     (teropong lensa fotokopi itu.)
2. http://mmc-jogja.20m.com/gambarbulan.html
    -(file asli foto bulan dari kamera)
    -(foto bulan setelah di RegiStax)
    -(jika dilihat pake program StarryNihgtPro 571)

terimakasih
Salam: Mutoha







Yahoo! Groups Links

#41 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Tue Feb 7, 2006 12:07 pm
Subject: Event Astronomi 2006
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Salam Antariksa,
Meskipun sudah agak terlambat eks. materi presentasi perdana JAC 2006 ini ( 3 mb/50 halaman) mungkin dapat bermanfaat juga bagi orang lain yang mencintai astronomi. File aslinya adalah Animasi Powerpoint (.ppt) tapi karena terlalu besar (20 mb) saya tranfer ke pdf shg tidak ber-animasi lagi tapi cukup terbaca. Semoga bermanfaat. Mohon maaf kalo ada yang salah. Terimaksih.
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club
============


Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.

#42 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Wed Feb 8, 2006 4:19 am
Subject: Kuning Telor
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Kalo' sempat mengamati permukaan matahari beberapa hari ini (hampir 10 hari) nampaknya ia lagi berseri-seri sebab jerawat (sunspot) di wajahnya nyaris gak ada alias 'bedaknya cocok' shg aktivitasnya lagi turun dan kalo' kita teropong cuman seperti kuning telor aja.
 
JogjaAstroClub
 


Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.

#43 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Wed Feb 8, 2006 1:42 pm
Subject: Second Moon Waxing Gibbous
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Ini foto malam berikutnya :
 
Diolah menggunakan : Registac V 3.0.1.23 (http://registac.astronomy.net)
 
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club
 
Mohon masukan..


Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!

#44 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Wed Feb 8, 2006 1:43 pm
Subject: Second Moon Waxing Gibbous
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Ini foto malam berikutnya :
 
Diolah menggunakan : Registac V 3.0.1.23 (http://registax.astronomy.net)
 
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club
 
Mohon masukan..


Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.

#45 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Wed Feb 8, 2006 6:13 pm
Subject: Re: [Jogja_Astroclub] Event Astronomi 2006 RALAT URL
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
RALAT URL:

MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...> wrote:
Salam Antariksa,
Meskipun sudah agak terlambat eks. materi presentasi perdana JAC 2006 ini ( 3 mb/50 halaman) mungkin dapat bermanfaat juga bagi orang lain yang mencintai astronomi. File aslinya adalah Animasi Powerpoint (.ppt) tapi karena terlalu besar (20 mb) saya tranfer ke pdf shg tidak ber-animasi lagi tapi cukup terbaca. Semoga bermanfaat. Mohon maaf kalo ada yang salah. Terimaksih.
Salam,
Mutoha
Jogja Astro Club
============

Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.


Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!

#46 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Wed Feb 15, 2006 7:31 am
Subject: # Moon Waxing Gibbous 3-rd #
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Malam ini ( 8 Februari 2006 / 22:05 WIB) saya mencoba kembali melakukan pemotretan wajah bulan yang mulai bulat. Kali ini setelah seharian mencoba membuat sistem dudukan kamera digital pada eyepiece di teleskop agar tidak goyang, serta perbaikan sistem fokus  pada teleskop rakitan itu, saya coba melakukan puluhan kali bidikan dengan harapan ada salah satu yang paling bagus. Namun sayang karena kamera hanya dilengkapi auto fokus  dan auto exposure maka saya tidak bisa berbuat banyak dengan kamera ini sehingga hasilnya masih kurang sempurna. Gambar di atas tidak jauh berbeda dg file aslinya dan hanya mengalami proses grayscale convert serta sedikit pengurangan brightness dan contrast menggunakan CorelDRAW 12.
Gambarnya di sini :
 
Saya pingin bisa memotret dg sistem CCD (webcam) menggunakan laptop/komputer, ada yang pernah coba? Tolong saya diajari. Merk webcam apa yang bagus? Berapa harganya? Apa harus pak eleskop mahal? terimakasih
 
Mohon tanggapan...
 
Salam,
Mutoha
JogjaAstroClub
 


Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.

#47 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Sat Feb 18, 2006 7:34 am
Subject: ## Update Starry Night Versi 5.8.2 ##
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Salam,
 
Ada info baru bagi pengguna Program Astronomi StarryNight (SN) semua versi, kini telah direlease Versi terbaru yaitu 5.8.2 di alamat ini :
 
-  Info New Feature
 
- Info Download :
 
 
Salam,
Mutoha
JogjaAstroClub (JAC)


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#50 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Sun Feb 19, 2006 5:48 pm
Subject: # Gerhana Antares #
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Salam,
Menurut perhitungan astronomis ( saya menggunakan StarryNight Pro 5.8.2). Hari Rabu dini hari, 22 Februari 2006 mulai sekitar pukul 01:30 s.d 02.30 WIB di arah Timur, (yg mau menyaksikan) bakal ada peristiwa yg cukup menarik berupa "Gerhana Antares" yaitu peristiwa tertutupnya (closed) bintang Antares (bintang merah pada rasi Scorpius) selama hampir satu jam oleh bulan. Selama itu pula bintang Antares akan bersembunyi di balik bulan yg hampir sabit tua. Moga2 malam itu cerah, tidak hujan dan sempat bangun.
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta
 
 
Ini Gambarnya :
 
 
 
Info Program : http://starrynoght.com
 


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#51 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Mon Feb 20, 2006 3:15 am
Subject: # Gerhana Antares #
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Maaf, ada kendala server gratis....
 
Link gambarnya di sini aja:
moga2 bisa dibuka..
 
 
 


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#52 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Feb 23, 2006 3:30 pm
Subject: Kehancuran Bumi tahun 2053 dan tumbukan benda langit
marufins
Send Email Send Email
 
Betul, itu hoax. Benturan antar planet terakhir di Bumi terjadi pada awal terbentuknya tata surya, ketika semua masih serba chaotic. Benturan proto Bumi yang masih cair panas dengan obyek sebesar Mars itulah yang melemparkan gumpalan besar ke angkasa dan kini menjadi Bulan. Kalo periode ulangan benturan ini kita hitung dengan persamaannya Near Earth Object Science Definition Team 2003, benturan yang sama akan terjadi lagi beberapa milyar tahun mendatang. Itu pun dengan syarat karakter orbit planet besar itu sama dengan orbit asteroid2 yang eksis saat ini, hal yang sulit dibayangkan mengingat planet2 pada umumnya berorbit stabil : memiliki inklinasi dan eksentrisitas kecil. Terkecuali Pluto dan 2003 UB 313, sang planet ke-10 itu. Namun status Pluto sudah menjadi debate of decades, karena di masa kini diketahui bahwa Pluto dan 2003 UB 313 hanyalah anggota terbesar dari milyaran asteroid transneptunik yang bergentayangan di Sabuk Kuiper, sama halnya dengan Ceres yang superior di kalangan anggota Sabuk Asteroid. Penetapan Pluto sebagai planet, diyakini banyak orang sebagai " kesalahan sejarah " warisan abad ke-20, namun rasanya International Astronomical Union belum mau 'mengakui' kesalahan ini.
 
Kalo soal mengiamatkan Bumi dengan benturan benda langit, itu sih tak perlu menunggu datangnya planet besar yang nyasar. Bila kita baca makalah bersama Owen B. Toon dkk (Owen B. Toon, Kevin Zahnle, David Morrison; 1995; Environmental Perturbations Caused by the Impact of Asteroids and Comets; NASA Ames Research Centre; prosiding Planetary Defense Workshop 1995 di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore California), cukup dengan tumbukan komet/asteroid berdiameter 4 - 6,5 km, yang melepaskan energi 1 - 10 juta megaton TNT dan menghasilkan kawah besar berdiameter 80 - 130 km, Bumi sudah kiamat akibat berlangsungnya musim dingin nuklir disusul pemanasan global selama ribuan tahun. Selang waktu terjadinya tumbukan itu, menurut hitungan, tiap 150 juta tahun. Dan terakhir tumbukan itu terjadi pada 35 juta tahun silam, yang membentuk kawah Chesapeake Bay dan kini terkubur di bawah megapolitan New York. Jadi tenang saja, masih ada sisa waktu 115 juta tahun lagi untuk bersenang-senang, teorinya :).
 
Namun berdasar pendapat almarhum Carl Sagan, selang waktu kiamat itu sebenarnya jauh lebih pendek. Sagan telah lama mengemukakan hipotesis Shiva, tentang selang waktu tumbukan2 komet/asteroid besar dengan dampak global bagi Bumi tiap 35 juta tahun sekali, dengan error beberapa juta tahun. Contohnya, 65 juta tahun silam asteroid berdiameter 10 km jatuh di Teluk Meksiko, membentuk kawah raksasa (kawah Chicxulub) yang diameternya 200 km dan membuat 75 % populasi makhluk hidup musnah. Kejadian yang sama, dalam skala lebih kecil, terulang 35 juta tahun silam dengan terbentuknya kawah Chesapeake Bay (diameter 100 km) akibat tumbukan asteroid berdiameter 5 km. Maka, kalo Sagan bisa dipercaya, (seharusnya) tumbukan besar itu sudah terjadi kembali dekat2 masa sekarang ini.
 
Menarik sekali bahwa para astrogeolog sudah lama curiga bahwa tumbukan itu sudah terjadi pada 0,7 juta tahun lalu. Tempatnya belum diketahui pasti, namun yang jelas di kawasan Asia Tenggara, di Indocina. Jejaknya terlihat jelas dari sebaran mineral tektit (bekuan produk tumbukan) yang dinamakan tektit Austral-asia, yang terdistribusi dalam daerah sangat luas mulai dari New Zealand, Australia, Asia Tenggara, Madagaskar, Cina, hingga pedalaman Russia. Edward Chao - yang bersama almarhum Eugene M. Shoemaker dan Nicholas M. Short di tahun 1960-an memelopori studi perbandingan batuan di dasar kawah Meteor dan kawah2 produk ujicoba nuklir di gurun Nevada dan memastikan bahwa kawah Meteor diproduksi oleh aksi energi tinggi yang melepaskan tekanan superkuat, like nuclear explosion, jauh melebihi tekanan letusan gunung berapi, dan secara alami hanya bisa terjadi dalam tumbukan benda langit - bahkan menyamakan sebaran tektit Austral-asia ini dengan sebaran lapisan tipis lempung hitam yang terjepit di antara sedimen zaman Kapur dan Tersier, jejak dari tumbukan asteroid 65 juta tahun silam.Khusus di Indocina, tektit itu tidaklah kecil2 dan ringan, namun berat dengan struktur berlapis, disebut tektit Muong Nong. Model2 aerodinamika pembentukan tektit menunjukkan bahwa tektit Munong Nong tidak akan terlontar jauh dari sumbernya. Hal ini menarik sekali, karena salah satu satelit NASA - yang mengamati variasi tinggi muka air laut - di tahun 1988 mendeteksi adanya anomali di lepas pantai Vietnam, di perairan Laut Cina Selatan, pada koordinat kasar 13deg LU 110deg BT dan hanya berjarak beberapa puluh / ratus kilometer saja dari lokasi singkapan2 tektit Muong Nong. Anomali itu diterjemahkan sebagai adanya " depresi bulat " berdiameter 100-an km di dasar laut. Mungkin inilah kawah itu, hanya saja belum diselidiki lebih lanjut, dan akan sangat menarik jika kemudian dikaitkan dengan nasib Homo erectus, yang menurut para arkeolog pada saat itu sudah mulai tersebar di Asia tenggara
 
 
Ma'rufin
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, February 21, 2006 9:52 AM
Subject: Re: [HAAJ] Fwd: FW: Kehancuran Bumi tahun 2053

Well, just another hoax. Setahu gue planet besar yg
paling dekat yg dideteksi baru sejauh 60 tahun cahaya
(CMIIW). Terlalu jauh untuk bisa menubruk bumi dalam
50 tahun lagi bahkan jika tuh planet bergerak dalam
kecepatan cahaya which is imposible menurut teori
manusia sekarang ini. Sayang yah. kita masih harus
menunggu einstein baru yg bisa bikin teori bergerak
melebihi kecepatan cahaya nih. Btw beberapa minggu
lalu ada berita sedih dari Nasa mengenai perburuan
planet extra solar ini. Mereka membatalkan teleskop
ruang angkasa yg didesain khusus buat mencari planet
batu seukuran bumi karena budget terbatas dan kalah
ama misi pendaratan manusia di Mars. Mereka dah mulai
jadi kolonialis klasik abad lampau nih. Mencari tanah
baru buat ditancapin bendera asal sehingga bisa
diklaim jadi bagian dari negara mereka.


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#53 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Feb 23, 2006 3:30 pm
Subject: Greatest Elongation Mercury
marufins
Send Email Send Email
 
Tambahan info juga :
 
Kalo dilihat dari Jakarta, Merkurius pada 24 Februari ada di ketinggian sekitar 15 derajat di langit barat saat Matahari terbenam pukul 18 : 14 WIB. Merkurius baru tenggelam pada pukul 19 : 12, jadi teorinya ada selang waktu 58 menit untuk mengamatinya, waktu yang cukup panjang.
 
Namun berkaca dari pengalaman memburu hilal, dalam praktiknya Merkurius mungkin baru nampak setelah Matahari 5 derajat di bawah horizon, yang akan terjadi selepas pukul 18 : 31. Musababnya sederhana, bila hilal saja (dengan magnitude - 5) biasanya baru nampak setelah Matahari 5 derajat di bawah horizon, mestinya untuk Merkurius yang 70 kali lebih redup dari hilal (dengan magnitude- 0,38) kasusnya sama, akan terpapar cahaya senja (zodiak light / gegenschein) dulu sebelum bisa terlihat. Pengalaman saya, ketika mencoba mengukur selang waktu antara terbenamnya Matahari dengan mulai nampaknya Venus, pada bulan November kemarin, ketika Venus berada di ketinggian 50 derajat saat sunset, Venus pun (dengan magnitude - 4,3 alias 37 kali lebih terang dari Merkurius) baru mulai nampak 10-an menit pasca sunset.
 
----- Original Message -----
From: MUTOHA MMC
Sent: Tuesday, February 21, 2006 8:51 PM
Subject: Re: [HAAJ] konjungsi Vs. transit ??

Tambahan Info :
===============
Sedangkan Greatest Elongation Mercury (Merkurius bersudut terbesar thd matahari) terjadi
pada 24 Februari 2006 pukul 05:00 UT (12:00 WIB) dengan sudut 18°08' 29" tetapi planet ini
baru bisa kita amati sore harinya selepas magrib di arah kanan-atas sunset (Dg teleskop & filter apapun
sangat sulit atau tidak mungkin mengamati Merkurius saat matahari masih kelihatan). Dengan 48% permukaannya
yang menghadap bumi mendapat sinar matahari sehingga memiliki magnitudo -0,38, Merkurius menjadi benda paling terang di langit sore itu.
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta
============


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#54 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Feb 23, 2006 3:47 pm
Subject: Konjungsi dan Gerhana
marufins
Send Email Send Email
 
Tambahan info juga :)
 
Bicara soal gerhana menggerhanai benda-benda langit, sebelum okultasi Antares dan Uranus oleh Bulan, ada juga satu peristiwa ' biasa ' yang tetap menarik : Gerhana Bulan
 
Gerhana Bulan (penumbral) akan terjadi pada 14 Maret 2006 mulai pukul 21:21:32 UT dan berakhir pukul 02:13:32 UT. Buat kita yang berada di Kepulauan Indonesia (sedihnya) gerhana ini mulai terjadi justru ketika sang Bulan sedang bersiap-siap untuk terbenam. Hanya 80 % Kepulauan Indonesia yang diramalkan bisa menyaksikan gerhana ini, mulai dari Halmahera ke arah barat. Jika mengambil Jakarta sebagai titik referensi, Gerhana Bulan penumbral akan berlangsung tanggal 15 Maret 2006 mulai pukul 04 : 21 : 32 WIB ketika Bulan berada di ketinggian 13 derajat di langit barat. Cukup rendah, sehingga pengamatan harus dilakukan di ruang terbuka, namun buat anda yang sudah terbiasa memburu hilal, ketinggian 13 derajat itu tidak sulit untuk dilihat. Gerhana akan berakhir pada pukul 09 : 13 : 32 WIB, namun sayangnya Bulan sudah terbenam pada pukul 05 : 19 : 16 WIB. Sehingga Gerhana Bulan penumbral ini hanya akan bisa kita nikmati maksimal 57 menit saja, dan dalam praktiknya mungkin sekitar 22 menit saja, saat Bulan sudah mencapai ketinggian 4 derajat dan mulai sulit teramati. Untuk daerah lain, angka2nya tidak jauh beda koq. So, buat anda yang muslim dan pengin melakukan shalat gerhana, hanya tersedia waktu tidak lebih dari 1 jam dan di waktu subuh. Maka silahkan bicarakan dengan takmir masjid masing2 :).
 
Okultasi Antares oleh Bulan mulai terjadi saat Bulan ada di ketinggian 14 derajat di langit timur, termasuk rendah juga. Tapi saat okultasi berakhir, ketinggian Bulan sudah cukup tinggi, mencapai 32 derajat di langit timur. Pengamatan terbaik memang harus dilakukan di tempat terbuka, namun kalo mau di lantai 2 / atap rumah sebenarnya juga bisa. Yang harus diperhatikan, saat okultasi terjadi, Bulan baru 3 hari meninggalkan status purnamanya, dengan fase 98 % dan magnitude - 12,3. Jadi langit akan 'bersih' dari bintang, karena cahaya Bulan masih cukup terang. Namun karena Antares memiliki magnitude + 0,96, ia masih bisa terlihat. Sehingga kita masih bisa menyaksikan bagaimana detik2 Antares 'bercinta' dengan sang Bulan. Tapi, beda dengan ungkapannya Dr. RV van Bemmelen, geolog fenomenal Indonesia, sang penulis Geology Indonesia and Adjacent Archipelago, Insya' Allah manusia tidak akan menangisi percintaan ini :).
 
Okultasi Uranus oleh Bulan terjadi saat kedudukan Bulan sudah cukup tinggi, 56 derajat. Namun karena Bulan juga baru saja meninggalkan status purnamanya, peristiwa tidak bisa diamati, mengingat magnitude Uranus tidaklah secemerlang Antares dan dalam keadaan normal pun (saat langit tanpa Bulan), kita masih harus menggunakan teleskop untuk melihat Uranus. Sebenarnya lebih menarik untuk disimak proses okultasi Uranus/Neptunus/Pluto dengan bintang, karena cahaya bintang akan melewati atmosfer planet-planet tersebut sehingga terbentuk spektrum absorpsi yang bisa menceritakan kepada kita apa saja kandungan molekul/unsur di atmosfer planet2 itu. Kalo tidak salah, sebelum Voyager kembar mengirimkan citra2 cincin2 Uranus/Neptunus (1986 - 1989), keberadaan cincin2 di sekitar kedua planet trans-Saturnus itu sudah diketahui 10 tahun sebelumnya lewat pengamatan variasi intensitas cahaya bintang2 yang mengalami okultasi dengan Uranus/Neptunus.
 
Yang menarik, hanya berselang dua jam setelah okultasi Uranus oleh Bulan, terjadi peristiwa Gerhana Bulan sebagian. Gerhana dimulai pada pukul 16 : 42 : 23 UT dan berakhir pada 21 : 00 : 20 UT, dengan kontak umbral dimulai pada pukul 18 : 05 : 03 UT dan diakhir pada 19 : 37 : 41 UT. Seluruh tahapan gerhana bisa disaksikan dari 90 % Kepulauan Indonesia, hanya sebagian papua saja yang tidak bisa melihat gerhana secara utuh akibat posisi Bulan sudah mendekati terbenam ketika kontak umbral berakhir. Dilihat dari Jakarta, Gerhana dimulai saat Bulan berada di ketinggian 88 derajat di langit timur dan berakhir pada ketinggian 25 derajat di langit barat.
 
So, buat anda yang muslim, silahkan diskusikan dengan takmir masjid masing2, karena Gerhana ini terjadi tepat pada malam tanggal 15 Sya'ban dan (sebagian) umat Islam umumnya menyelenggarakan shalat tasbih bersama di malam itu.Nah dengan adanya fenomena ini, silahkan dilanjutkan dengan shalat gerhana :).
 
Ma'rufin


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#55 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Sat Feb 25, 2006 12:51 pm
Subject: Komet Pojmanski di pagi hari
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Selama beberapa hari komet Pojmansi (C2006/A1) dengan magnitudo sekitar 6,5 akan menghiasi langit Timur pada pagi hari selepas Subuh tepatnya di rasi Capricorn. Sebagai acuan bisa digunakan Planet Venus yang terlihat cukup terang. Minggu pagi (26/02) komet Pojmanski akan berada sekitar 8 derajat tepat di bawah Planet venus. Selain itu langit pagi itu juga dihiasi oleh indahnya bulan sabit tua dia tas horison. Saya kurang tahu banyak mengenai data komet tsb. Gambar kedudukan komet selama beberapa hari saya coba track menggunakan SNP5.8.2 di link ini:
 
 
Mungkin ada yang punya infonya??
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta
 
 


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

#56 From: "Djengkar Subagyo" <jengkars@...>
Date: Mon Feb 27, 2006 3:40 am
Subject: RE: [Jogja_Astroclub] Komet Pojmanski di pagi hari
jengkars@...
Send Email Send Email
 
bung Toha.
dari starry night, apa diketahui event2 penting atau dianggap penting oleh penggemar dunia malam ?
 
salam.
-----Original Message-----
From: MUTOHA MMC [mailto:jogja_astroclub@...]
Sent: Saturday, February 25, 2006 8:52 PM
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com; haaj84@yahoogroups.com; astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Subject: [Jogja_Astroclub] Komet Pojmanski di pagi hari

Selama beberapa hari komet Pojmansi (C2006/A1) dengan magnitudo sekitar 6,5 akan menghiasi langit Timur pada pagi hari selepas Subuh tepatnya di rasi Capricorn. Sebagai acuan bisa digunakan Planet Venus yang terlihat cukup terang. Minggu pagi (26/02) komet Pojmanski akan berada sekitar 8 derajat tepat di bawah Planet venus. Selain itu langit pagi itu juga dihiasi oleh indahnya bulan sabit tua dia tas horison. Saya kurang tahu banyak mengenai data komet tsb. Gambar kedudukan komet selama beberapa hari saya coba track menggunakan SNP5.8.2 di link ini:
 
 
Mungkin ada yang punya infonya??
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta
 
 


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

#57 From: "Djengkar Subagyo" <jengkars@...>
Date: Mon Feb 27, 2006 7:59 am
Subject: RE: [HAAJ] ## Update Starry Night Versi 5.8.2 ##
jengkars@...
Send Email Send Email
 
Tanya pak,
saya sudah download versi upgrade dan sudah diinstall dg sukses.
kmen minta quicktime 6.xx, sudah dipasang yg versi 7.x
namun ternyata tidak bisa dibuka program starry night nya.
apa diperlukan s/w installer induknya ? maksudnya yg bukan versi upgrade
ada info lebih lanjut ?
 
trims.
 
salam.
-----Original Message-----
From: MUTOHA MMC [mailto:jogja_astroclub@...]
Sent: Saturday, February 18, 2006 3:35 PM
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com; haaj84@yahoogroups.com; astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Subject: [HAAJ] ## Update Starry Night Versi 5.8.2 ##

Salam,
 
Ada info baru bagi pengguna Program Astronomi StarryNight (SN) semua versi, kini telah direlease Versi terbaru yaitu 5.8.2 di alamat ini :
 
-  Info New Feature
 
- Info Download :
 
 
Salam,
Mutoha
JogjaAstroClub (JAC)


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#58 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Mon Feb 27, 2006 5:11 pm
Subject: Re: [Jogja_Astroclub] RE: [HAAJ] ## Update Starry Night Versi 5.8.2 ##
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Betul pak, versi yg ada di link itu adalah patchingnya shg sebelum menginstall upgradenya program aslinya harus terinstall lebih dahulu. Saya coba melacak kembali link program instalernya yg versi download (Starrynight Digital Download) (50mb) tapi nampaknya Imaginova lagi pelit sebab linknya sudah gak ada. Kayaknya biar dagangannya laku. Tapi Pak Jengkar jangan khawatir saya coba cari jalan bagaimana supaya Starrynight saya bisa sampe di Kalimantan.
Ohya Pak.. mengenai proyek astrophotografi with webcam sudah sukses belum? kalao ada ide saya boleh juga dikasih tahu....
 
Sekian.. nanti disambung lagi..
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta

Djengkar Subagyo <jengkars@...> wrote:
Tanya pak,
saya sudah download versi upgrade dan sudah diinstall dg sukses.
kmen minta quicktime 6.xx, sudah dipasang yg versi 7.x
namun ternyata tidak bisa dibuka program starry night nya.
apa diperlukan s/w installer induknya ? maksudnya yg bukan versi upgrade
ada info lebih lanjut ?
 
trims.
 
salam.
-----Original Message-----
From: MUTOHA MMC [mailto:jogja_astroclub@...]
Sent: Saturday, February 18, 2006 3:35 PM
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com; haaj84@yahoogroups.com; astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Subject: [HAAJ] ## Update Starry Night Versi 5.8.2 ##

Salam,
 
Ada info baru bagi pengguna Program Astronomi StarryNight (SN) semua versi, kini telah direlease Versi terbaru yaitu 5.8.2 di alamat ini :
 
-  Info New Feature
 
- Info Download :
 
 
Salam,
Mutoha
JogjaAstroClub (JAC)

Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

#59 From: Djengkar Subagyo <jengkars@...>
Date: Mon Feb 27, 2006 11:54 pm
Subject: RE: [Jogja_Astroclub] RE: [HAAJ] ## Update Starry Night Versi 5.8 .2 ##
jengkars@...
Send Email Send Email
 
Pak,
terima kasih sebelumnya... dan saya tunggu installernya, biar tau event2 penting yg bisa dilihat krn kalau cuman berbekal peta bintang sptnya agak sulit. mkn installernya di upload saja pak, hanya krn cukup besar (50mb) mkn perlu waktu beberapa jam untuk connect ke internet.
 
perihal astrophotografi dg webcam, hasil sudah bisa dicoba saya bisa lihat obyek di eyepiece tanpa harus intip sana-intip sini cukup di notebook, hanya hasilnya masih kurang memuaskan, masih perlu diutak-atik, saya coba pakai sensor CCD (saya mau cari yg CMOS untuk ngebandingin hasilnya).  si webcam malah berfungsi sebagai focuser juga shg are penglihatan jd sangat terbatas. hasil jepretennya terlampir dan masih sangat blur.
 
kalau perlu sumber idenya,  bisa dilihat di address berikut : http://home.freeuk.com/m.gavin/cheapcam.htm, ide saya juga muncul lewat address ini.
semoga bermanfaat.
 
salam.
 

#60 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Tue Feb 28, 2006 8:29 am
Subject: Rukyatul Hilal Indonesia
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
▀ Rukyatul Hilal Bulan Shafar 1427 Hijriyah Wilayah Indonesia ▀
 
Salam,
Bagi para penggemar rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menentukan awal penanggalan lunar/komariyah untuk bulan Shafar 1427 H. dapat melihat di link ini :
(IE: klik kanan - Open in New Window saja)
 
 
Saya punya obsesi bagaimana kalo di Indonesia juga punya komunitas Rukyatul Hilal yang beranggotakan masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia yang peduli dengan ilmu yang satu ini. Anggota itu nantinya akan membuat laporan kenampakan hilal "yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun syariah" dari lokasi masing2 di seluruh Indonesia (bukan mau bersaing dg Badan Hisab & Rukyat lho) dan kepada para anggota akan dibekali dengan ilmu dan ketrampilan teknik rukyatul hilal dan sistem hisab/perhitungan astronomis dsb. Selama ini setiap menjelang puasa maupun hari raya, masyarakat sering dibingungkan dengan perbedaan penentuan awal bulan Hijriyah, apalagi pemerintah kadang mengesampingkan kriteria ilmiah terhadap sebuah laporan terlhatnya hilal di Indonesia. Yang sering terjadi
 
Dengan ini kita bisa memasyarakatkan Sistem Penanggalan Lunar yang dipaikai umat Islam dalam rutinitas ibadah khususnya memulai Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha yang sering menjadi perdebatan (perbedaan). Saya sangat prihatin ketika melihat kenyataan bahwa sangat sedikit diantara masyarakat kita yang paham bgmn kalender Hijriyah disusun, awal puasa, idul fitri & idul ditentukan dan sangat asing dg istilah rukyat. Malah yg sekarang populer adalah "ruqyah" badaniah (mengetahui jin/aura yg bersemayam didalam tubuh kita dsb lho..piye iki!).
 
Nah, lewat milis ( http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/ ) atau website ( http://rukyatulhilal.tripod.com ) kita bisa saling memberikan informasi mengenai laporan tersbut, perkembangan sistem hisab dan rukyat sampai informasi sistem global mengenai kenampakan hilal di seantero belahan dunia lain.
 
Kita juga bisa bekerjasam dengan Badan Hisab Rukyat (BHR) baik dari Tingkat Kabupaten sampai BHR Pusat di Jakarta mengenai Teknik Hisab (program Komputer) yang akurat atau terobosan penggunaan alat bantu optik (teleskop, binokuler dsb) termasduk kemungkinan menggunakan "hight technology" untuk mewrukyat hilal tsb.
Kita juga bisa bergabung nantinya di Proyek Rukyat Hilal Internasional dengan menjadi anggota ICOP ( http://icoproject.org ) dsb. Maaf ngelantur.
 
Ada yang mau terima tantangan ini.... kami tunggu...
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta
 
 


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#61 From: "Fikrizuhara Muzakkin" <zakkin@...>
Date: Tue Feb 28, 2006 12:42 pm
Subject: Re: [Jogja_Astroclub] Rukyatul Hilal Indonesia
muzakkin
Send Email Send Email
 
Tidak ..., tidak ngelantur, mas. Saya kira ini sebuah obsesi positif yang memang perlu dukungan dan sosialisasi.
Bismillah, meskipun pengetahuan saya di bidang ilmu ini sangat rendah saya terima tantangan ini, saya ikut menjadi anggotanya. Tetapi jangan lupa bekalnya, lho. Kebetulan tempat tinggal saya tidak jauh dari lokasi rukyat Hilal Tanjung Kodok untuk pos Lamongan - Gresik. 
 
Wassalam,
Muzakkin
----- Original Message -----
From: MUTOHA MMC
Sent: Tuesday, February 28, 2006 3:29 PM
Subject: [Jogja_Astroclub] Rukyatul Hilal Indonesia

▀ Rukyatul Hilal Bulan Shafar 1427 Hijriyah Wilayah Indonesia ▀
 
Salam,
Bagi para penggemar rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menentukan awal penanggalan lunar/komariyah untuk bulan Shafar 1427 H. dapat melihat di link ini :
(IE: klik kanan - Open in New Window saja)
 
 
Saya punya obsesi bagaimana kalo di Indonesia juga punya komunitas Rukyatul Hilal yang beranggotakan masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia yang peduli dengan ilmu yang satu ini. Anggota itu nantinya akan membuat laporan kenampakan hilal "yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun syariah" dari lokasi masing2 di seluruh Indonesia (bukan mau bersaing dg Badan Hisab & Rukyat lho) dan kepada para anggota akan dibekali dengan ilmu dan ketrampilan teknik rukyatul hilal dan sistem hisab/perhitungan astronomis dsb. Selama ini setiap menjelang puasa maupun hari raya, masyarakat sering dibingungkan dengan perbedaan penentuan awal bulan Hijriyah, apalagi pemerintah kadang mengesampingkan kriteria ilmiah terhadap sebuah laporan terlhatnya hilal di Indonesia. Yang sering terjadi
 
Dengan ini kita bisa memasyarakatkan Sistem Penanggalan Lunar yang dipaikai umat Islam dalam rutinitas ibadah khususnya memulai Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha yang sering menjadi perdebatan (perbedaan). Saya sangat prihatin ketika melihat kenyataan bahwa sangat sedikit diantara masyarakat kita yang paham bgmn kalender Hijriyah disusun, awal puasa, idul fitri & idul ditentukan dan sangat asing dg istilah rukyat. Malah yg sekarang populer adalah "ruqyah" badaniah (mengetahui jin/aura yg bersemayam didalam tubuh kita dsb lho..piye iki!).
 
Nah, lewat milis ( http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/ ) atau website ( http://rukyatulhilal.tripod.com ) kita bisa saling memberikan informasi mengenai laporan tersbut, perkembangan sistem hisab dan rukyat sampai informasi sistem global mengenai kenampakan hilal di seantero belahan dunia lain.
 
Kita juga bisa bekerjasam dengan Badan Hisab Rukyat (BHR) baik dari Tingkat Kabupaten sampai BHR Pusat di Jakarta mengenai Teknik Hisab (program Komputer) yang akurat atau terobosan penggunaan alat bantu optik (teleskop, binokuler dsb) termasduk kemungkinan menggunakan "hight technology" untuk mewrukyat hilal tsb.
Kita juga bisa bergabung nantinya di Proyek Rukyat Hilal Internasional dengan menjadi anggota ICOP ( http://icoproject.org ) dsb. Maaf ngelantur.
 
Ada yang mau terima tantangan ini.... kami tunggu...
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta
 
 


Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

#62 From: nu nung <wahida_nq@...>
Date: Thu Mar 2, 2006 1:36 am
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Rukyatul Hilal Indonesia
wahida_nq@...
Send Email Send Email
 
Dear All,
Siapa takut..... Nunung terima tantangannya... jadi tak ada lagi peristiwa umat islam bercerai berai hanya karena tidak seiya sekata dalam menentukan awal puasa dan idul fitri/idul adha... masak sama-sama islam hari rayanya 2 kali hiks..hiks..hiks...hiks...sedih....

MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...> wrote:
&#9600; Rukyatul Hilal Bulan Shafar 1427 Hijriyah Wilayah Indonesia &#9600;
  
  Salam,
  Bagi para penggemar rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menentukan awal penanggalan lunar/komariyah untuk bulan Shafar 1427 H. dapat melihat di link ini :
  (IE: klik kanan - Open in New Window saja)
  
  http://rukyatulhilal.tripod.com/shafar1427.html
  
  Saya punya obsesi bagaimana kalo di Indonesia juga punya komunitas Rukyatul Hilal yang beranggotakan masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia yang peduli dengan ilmu yang satu ini. Anggota itu nantinya akan membuat laporan kenampakan hilal "yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun syariah" dari lokasi masing2 di seluruh Indonesia (bukan mau bersaing dg Badan Hisab & Rukyat lho) dan kepada para anggota akan dibekali dengan ilmu dan ketrampilan teknik rukyatul hilal dan sistem hisab/perhitungan astronomis dsb. Selama ini setiap menjelang puasa maupun hari raya, masyarakat sering dibingungkan dengan perbedaan penentuan awal bulan Hijriyah, apalagi pemerintah kadang mengesampingkan kriteria ilmiah terhadap sebuah laporan terlhatnya hilal di Indonesia. Yang sering terjadi
  
  Dengan ini kita bisa memasyarakatkan Sistem Penanggalan Lunar yang dipaikai umat Islam dalam rutinitas ibadah khususnya memulai Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha yang sering menjadi perdebatan (perbedaan). Saya sangat prihatin ketika melihat kenyataan bahwa sangat sedikit diantara masyarakat kita yang paham bgmn kalender Hijriyah disusun, awal puasa, idul fitri & idul ditentukan dan sangat asing dg istilah rukyat. Malah yg sekarang populer adalah "ruqyah" badaniah (mengetahui jin/aura yg bersemayam didalam tubuh kita dsb lho..piye iki!).
  
  Nah, lewat milis ( http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/ ) atau website ( http://rukyatulhilal.tripod.com ) kita bisa saling memberikan informasi mengenai laporan tersbut, perkembangan sistem hisab dan rukyat sampai informasi sistem global mengenai kenampakan hilal di seantero belahan dunia lain.
  
  Kita juga bisa bekerjasam dengan Badan Hisab Rukyat (BHR) baik dari Tingkat Kabupaten sampai BHR Pusat di Jakarta mengenai Teknik Hisab (program Komputer) yang akurat atau terobosan penggunaan alat bantu optik (teleskop, binokuler dsb) termasduk kemungkinan menggunakan "hight technology" untuk mewrukyat hilal tsb.
  Kita juga bisa bergabung nantinya di Proyek Rukyat Hilal Internasional dengan menjadi anggota ICOP ( http://icoproject.org ) dsb. Maaf ngelantur.
  
  Ada yang mau terima tantangan ini.... kami tunggu...
  
  Salam,
  Mutoha
  JAC-Yogyakarta
  
  

           
---------------------------------
Yahoo! Mail
Use Photomail to share photos without annoying attachments.

[Non-text portions of this message have been removed]





Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

#63 From: "Djengkar Subagyo" <jengkars@...>
Date: Thu Mar 2, 2006 5:56 am
Subject: RE: [Jogja_Astroclub] Komet Pojmanski di pagi hari
jengkars@...
Send Email Send Email
 
sayang sekali....sudah seminggu langit balikpapan tidak bersahabat.... tiap pagi mendung melulu...lebih-lebih hujan gerimis....
mudah2an di hari2 berikutnya bisa ikut ngintip komet ini.....
 
 
salam
 
 
-----Original Message-----
From: MUTOHA MMC [mailto:jogja_astroclub@...]
Sent: Saturday, February 25, 2006 8:52 PM
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com; haaj84@yahoogroups.com; astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Subject: [Jogja_Astroclub] Komet Pojmanski di pagi hari

Selama beberapa hari komet Pojmansi (C2006/A1) dengan magnitudo sekitar 6,5 akan menghiasi langit Timur pada pagi hari selepas Subuh tepatnya di rasi Capricorn. Sebagai acuan bisa digunakan Planet Venus yang terlihat cukup terang. Minggu pagi (26/02) komet Pojmanski akan berada sekitar 8 derajat tepat di bawah Planet venus. Selain itu langit pagi itu juga dihiasi oleh indahnya bulan sabit tua dia tas horison. Saya kurang tahu banyak mengenai data komet tsb. Gambar kedudukan komet selama beberapa hari saya coba track menggunakan SNP5.8.2 di link ini:
 
 
Mungkin ada yang punya infonya??
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta
 
 


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

#64 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Thu Mar 2, 2006 3:45 pm
Subject: Buat : Pak Jengkar
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Salam,
Pak Jengkar, kita (temen2 di JAC) bermaksud merealisasikan pengadaan Teleskop yang standard, namun nampaknya kita kesulitan informasi tempat pembelian. Rencananya kita mau pengadaan EQMount-nya dulu, yg manual berapa, merknya apa. Lalu yg pake motor brapa mereknya apa? sebab kita rencana mau astrophoto dulu menggunakan kamera SLR baik yg digital maupun manual (film).  Kalo komplet pake teleskopnya berapa? yg kita2 bisa buat njepret saturnus ato jupiter.. Syukur Pak Jengkar mau memberikan harga promo gitu biar banyak yg tahu (soalnya vendor teleskop yg lain yg saya kenal harganya agak tinggi gitu) Oh ya sementara hasil donasi JAC masih tersisa 3 jutaan sebab kemaren buat beli 5 binokuler 5 kompas dan 3 tripod, kamera digital, lensa tele 300mm, 135mm dan kamera SLR Zenith dan pengadaan buku2 astro (saya beli sekitar 30 judul setelah hunting hampir 3 bulan di seluruh Toko buku di Jogja, Solo dan Semarang...) juga kemaren buat tranfer online pembelian beberapa majalah astro serta software astro. Syukur lagi Pak Jengkar mau nambahin..... hehe..
 
Kalo yg ada sekarang teleskop di rumah mereknya apa?
Terimaksih atas infonya.
 
Oh ya mengenai program itu saya coba upload tapi selalu gagal.. maaf. Bagaimana diatur untuk via pos saja?
 
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

#65 From: MUTOHA MMC <jogja_astroclub@...>
Date: Thu Mar 2, 2006 4:25 pm
Subject: Portal Centaurus Online Ilang???
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Kamis, 2 Mret 2006 @ 23:22 WIB
 
This Account Has Been Suspended????
 
begitu pesannya ketika saya coba buka portal ini :
 
http:// centaurusonline.com
 
kenapa??
 
Satu2 nya portal Astronomi Indonesia kok sampe disuspended... gimana?
Moga2 hanya kendala teknis.. iya khan?
 
Salam,
Mutoha
JAC


Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.

#67 From: "Mutoha MMC" <jogja_astroclub@...>
Date: Fri Mar 3, 2006 10:15 am
Subject: Silahkan bergabung
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Buat Mas Yusa:

Ya, meteor memang hampir setiap saat jatuh ke  bumi namun yang dapat
sempat terlihat manusia memang tidak terlalu banyak bahkan ketika
event meteor shower. Sebaiknya ketika liat meteorpun dilacak ia
berasal dari rasi/konstelasi apa, kapan (tgl, bln, thn, jam) shg
kita tahu meteor tsb berasal dari kuadran mana atao anggota meteor
shower yg mana.. memang pemandangan yang amat indah di langit saat
cuata cerah shg bintang-bintang tampak bertaburan ...... jadi ingat
lagu anak2 dulu :
"Kupandang langit penuh bintang bertaburan... berkelap-kelip
seumpama intan berlian ..... hehehe..

Kalo anda suka sama peristiwa2 yg berkaitan dg kejadian2 di langit
sebaiknya Mas Yusa bisa salurkan lewa bergabung dg klub2 astronomi
yg ada :  di Jakarta di HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta), di
Bandung ada HAAB dan kalo anda di Jogja ada Jogja Astro Club (JAC)
milisnya di sini :

http://groups.yahoo.com/group/jogja_astroclub


Saya tunggu atensinya...
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta


yusa_cahya <yusa_cahya@...> wrote:
Yah memang sayang gak aku catat maklum waktu
itu aku nggak tahu apa yang mesti kulakukan
dan mesti tanya ke mana . Tapi kalo antena
radio jelas bukan ,wong itu cahaya muncul di
antarabintang -bintang di atas kepalaku (betul-betul
di atas 90 derajat ).
Kalo pesawat juga bukan ,karena lampu naviga-
si pesawat kedipannya jauh lebih cepat di
banding cahaya itu.
Kalo satelit aku sangsi sebab biasanya selama
ini satelit biasanya entah kenapa hanya terlihat antara
pukul 18.00 - 19.00 (hingga satu jam setelah
matahari terbenam),coba saja buktikan pada jam-jam
itu perhatikan langit pasti akan ada cahaya bergerak.

Tambahan :- jeda waktu kemunculan sekitar 4-6 detik
            - kedipannya lebih lama dari lampu navigasi
              pesawat ,jadi bisa dikatakan seperti berdenyut
              cepat

Oya selain  itu (ini lain cerita) sekitar pukul 22.00-24.00
Tahun 1997 aku melihat 2 meteor jatuh ,oya rumahku
di Jogja ,waktu itu aku di kota .Arah jatuh meteor
pertama ke selatan dari utara ,yang kedua dari Timur
ke barat,tapi kok nggak ada laporan meteor jatuh ya ?
Padahal yang pertama itu besar sekali sampai kukira
pesawat,tapi ternyata setelah keluar dari awan (waktu itu
cerah berawan)terlihat seperti batu besar terbakar warnanya
campuran kuning ,oranye ,merah.

Messages 34 - 67 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help