Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

jogja_astroclub · Jogja Astro Club (JAC)

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 287
  • Category: Amateur
  • Founded: Jul 5, 2005
  • Language: Indonesian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 824 - 853 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#824 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Sun Feb 1, 2009 1:23 pm
Subject: Foto-Foto Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Berikut disajikan foto2 Gerhana Matahari Cincin 26 januari 2009 silam, dijepret dari pesisir Cirebon (6,72 deg LS 108,57 deg BT elevasi 2 m dpl). Dijepret dengan menggunakan kamera poket Sony DSC S-600 dengan ISO 1000 dan 3x optical zoom, serta kamera DSLR Sony D-60 dengan f/5,6, ISO 2000, 1/800 detik dengan lensa Nikon DX SWM ED Aspherical. Sebagai filter digunakan negative film Fujicolor Superia 200 berwarna 1 lapis, yang direkatkan pada kotak kertas. Filter ini sebenarnya tak ideal, sebab untuk pemotretan dengan kamera seperti DSLR setidaknya dibutuhkan 4 lapis filter. Namun dengan menjaga agar rentang pemotretan tidak terlalu kerap, dan sempat juga diselingi untuk melaksanakan ibadah Shalat Sunnah Gerhana, maka filter 1 lapis ini dirasa mencukupi.

Pemotretan dilakukan tanpa menggunakan teleskop/binokuler. Sebenarnya ada sih binokuler, TASCO 7 x 35 mm dengan field of view 3,5 derajat. Namun tripodnya tidak ada, sehingga sulit dipakai karena jika satu tangan musti megang kamera dan satunya lagi megang binokuler, sumbu kamera dan binokuler sulit sejajar (baik dengan teknik fotografi afokal, apalagi prime fokus).

Pengamatan di lokasi ini sebenarnya aksidental. Jauh-jauh hari sebenarnya saya hendak melakukan pengamatan di Anyer bersama tim JAC-RHI, mengingat hanya di tempat ini bentuk cincin (annularitas) pada gerhana bisa teramati. Namun apa mau dikata, 2 hari menjelang hari-H, mendadak radang tenggorok temporer yang rutin menghampiri tiap 3 bulan sekali itu datang menerjang. Alhasil terkaparlah, dan sebagai "obat"nya ya ngamatlah di Cirebon. Sebelum pengamatan, semua kamera dikalibrasikan waktunya dengan standar waktu WIB menggunakan Telkom 103. Kalibrasi alat dilakukan menjelang jam 10.00 WIB pagi, dengan memotret Matahari secara langsung yang saat itu berada dalam kondisi langit cerah tanpa awan.

Alhamdulillah cuaca cerah pada saat gerhana. Menjelang kontak awal gerhana, langit memang dalam kondisi partially cloud, namun bundaran Matahari tetap jelas terlihat jika menggunakan filter. Starry Night Backyard menunjukkan kontak awal gerhana terjadi pukul 15:22 WIB dan itu sesuai dengan yang teramati di lapangan. Sejak 15:22 WIB hingga 15:51 WIB, pemotertan dilakukan dengan menggunakan kamera poket Sony DSC S-600 dengan hasil yang....yaaa, tidak mengecewakan. Pada 15:55 WIB, pengamatan dihentikan sementara untuk melaksanakan Shalat Sunnah Gerhana dan dilanjutkan dengan Shalat 'Asar.

Pengamatan kemudian dilanjutkan lagi pada pukul 16:21 WIB. Saat itu kondisi langit sudah mulai berubah. Meski bundaran Matahari masih nampak, namun tutupan awan lebih luas dan area di atas horizon barat (hingga ketinggian +/- 15 derajat, estimasi pengukuran dengan acuan jari tangan) tertutupi sepenuhnya oleh awan tebal (mendung). Pada puncak gerhana (16:42 WIB), Matahari telah berada di balik awan dan hanya sesekali terlihat lewat celah-celah awan sehingga filter dilepas dan mencoba mencari momen menarik (dimana 'cincin' tersembul di balik awan). Karena Matahari semakin tak teramati, pengamatan dihentikan pada 16:51 WIB.

Tidak terdeteksi adanya perubahan cuaca dramatik (misalnya mendadak mendung, ataupun mendadak hujan). Termometer menunjukkan suhu tetap stabil di rentang 30-an derajat Celcius, namun fluktuasinya tidak bisa diukur mengingat termometer yang digunakan memiliki skala terkecil 1 derajat C. Intensitas cahaya terasa meredup sejak 16:21 WIB (dimana kondisinya menyerupai saat Matahari menjelang terbenam), meski kuantitas intensitas cahaya tidak bisa diukur (karena gak ada fotometer).

Demikian, semoga bermanfaat. Maaf jikalau ukuran file-nya besar2.

Salam,


Ma'rufin


#825 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Sun Feb 1, 2009 3:46 pm
Subject: Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia
marufins
Send Email Send Email
 
Makalahnya pak Tjia HD, geolog yang mendapatkan gelar doktornya dengan meneliti bebatuan unik di Karangsambung (Kebumen) dan kini bermukim di Malaysia. Tak disangka, Pulau Langkawi yang populer itu ternyata merupakan sisa tumbukan benda langit setidaknya dalam kurun waktu 10 juta tahun silam.

Pada seminar 28 Oktober 2008 silam di ITB, mbak Dewi Pramesti Kusumaningrum telah mempresentasikan rencana penelitiannya dengan judul Initiation Study in Search of Impact Crater in Indonesia dalam sesi Earth and Space Sciences yang diketuai pak Dr. Moedji Raharto. So, perburuan kawah meteor di Indonesia telah dimulai..

Ayo pak Praboto, terus berburu via Google Earth

Salam,


Ma'rufin


HC Potential of Meteorite Impact Structures, Focus on Sundaland

H. D. Tjia
Jakarta, January 21,  2004


Craters abound on the surfaces of the Moon, solid planets and their satellites. Prior to the manned Apollo missions, views that the craters of the Moon were products of volcanism or of meteorite impacts were shared about equally. The collected Moon rocks show definitive features of high pressure but relatively low-temperature metamorphism that overwhelmingly favour impact origin. On Earth, the suspected impact depression in the Southwestern United States known as Meteor crater, was found associated with high-pressure quartz, or coesite. Currently some 300 terrestrial structures are considered products of impacts by extraterrestrial objects. Almost two hundred of these have been proven as such by combinations of the following: (1) arcuate to circular surface morphology, (2) circular gravity anomaly patterns, (3) shatter cones, (4) poly-megabreccias containing cleaved quartz, (5) quartz and feldspars with mosaicism (patchy extinction), (6) high-pressure quartz polymorphs of coesite and stishovite, (7) anomalously high Iridium, (8) diaplectic glass, and (9) microdiamonds. The comparatively low density of terrestrial impact craters on the Earth's surface is attributable to reworking by exogenous processes of weathering, erosion, organic activity, burial by younger deposits, and the 70 per cent surface cover by water. Impact craters should be as common on Earth as on the solid extraterrestrial bodies. Calculations suggest a mean probability of over 15,000 significant impact craters having hit land since the Archaean. On land the average depth to diameter ratio of an impact crater is 1 : 0.2 , while rim height is about 4 per cent of the total diameter. Also on land, the diameter of simple, bowl-shaped impact craters probably do not exceed 4 km in igneous rocks and about 2 km in sedimentary rock. Beyond these limits, complex crater morphologies develop as result of flattening through gravity.

The petroleum significance of meteorite impact structures is -so far- very minor, but may be more important for several reasons. Renewed attention to impact structure plays is relatively recent and was fueled by the 1991 single-strike discovery (25 MMBO, 15 BCFG recoverable reserves) in the vicinity of Ames, Oklahoma, U.S.A. About twenty years earlier other significant discoveries were made at Red Wing Creek, North Dakota (20 MMBO, 25 BCFG), and at the world-famous Chicxulub region, Yucatan Peninsula, Mexico (total recoverable reserves of 30 BBO, 15 TCFG). However, the structures of these earlier finds were not identified as astroblemes and at the time of their discoveries the respective reservoirs were considered ordinary fractured carbonates and fractured granite-and-carbonates. The petroleum occurrences in the vicinity of Ames, a small town in Oklahoma, U.S.A., were the main topic of a special meeting in the early 1990s. The reservoir rocks of the Ames structure are lithified "basement" granodiorite and Cambro-Ordovician Arbuckle dolomite breccia on the crater rim; 2D seismic indicates an erratic, pocket-like distribution of its porosity and permeability. Trapping is by subsurface closures with one known structural closure. A dolomite caprock and overlying Middle Ordovician Simpson Shale provide the cap and seal. The source consists of the Arbuckle sediments or rocks that were exposed to the "cracking" environment of the meteor impact, and the shales that were deposited in the crater. Flow is c. 250 to 500 BOPD; with some of the wells producing in excess of 250,000 bbl oil, while one particular well has yielded 3 BCFG. Recovery has been in the 10% to 60% range.

Continental Southeast Asia includes the tectonic platforms of Indosinia and Sundaland . By virtue of its longer exposure, its thinly covered pre-Tertiary "basement" areas can be expected to host more impact structures than regions containing thick Cenozoic sediments. Good reservoir is provided by brecciated and fractured basement rocks, while traps may comprise rim anticlines, irregularly distributed breccia pockets within craters, and central rebound peaks (in the larger impact structures). Internal seals may be provided by impact-melt cloaks and a top seal by the blanketing sediments. For the Southeast Asian impact structures, the hydrocarbon charge is likely to originate in the Tertiary basins. Several impact structures have been recently discovered in pre-Tertiary Peninsular Malaysia. In the Langkawi islands three of four arcuate ridges are associated with cleaved quartz that crops out as a sill and dyke complex. Other shock-metamorphic features include ribbon quartz and mosaicism.

The two major craters, named Mahsuri Rings, partially overlap and each is about 2.4 km across. In 280o - 100o direction their centres are 600 metres apart. Bouguer gravity cross sections prove their crater form, one being 45 m deep, the other attaining 107 m depth into the target rocks of Carbo-Permian Singa Formation. Both depressions are filled, the top surface consisting of Quaternary alluvium. The partially encircling hills of Singa Formation crest at less than 150 m elevation and are open to the west. Towards SW are two other circular/arcuate topographic features: Temoyong Ring and horseshoe-shaped Tepor Island. The diameters decrease in the same direction: approximately 800 m and 500 m, respectively. These four ring-like structures have been interpreted as products of serial impacts by a flight of extraterrestrial projectiles arriving from the Southwest. The impact age is not yet determined and field relations only indicate a post-granite (Triassic-Jurassic) event. In the case that the morphologically young Mahsuri Rings are not exhumed features, impact could have occurred within the last 10 million years.

Another proven impact structure is the Paloh Ring that straddles the state boundary between Terengganu and Pahang. The proof consists of planar deformation features (PDFs) and mosaicism in vein quartz intruded into undivided Carboniferous metasedimentary strata that compose the lower eastern slope of the 623m high Paloh peak. PDFs are also seen in thin sections of quartz phenoclasts of polymict-breccia boulders in Sungai Mengkuang that drains the east side of the hill. Bukit Paloh is the peak on the high, circular topography surrounding a deep depression, now referred to as Paloh Ring-1. This ring-like topography is 3.5 km across and has local relief of the order of 150 to 200 metres. A small -about 0.5 km across-circular depression is located on the Paloh Ring-1. The south half of the larger ring consists of felsic igneous rock whose K/Ar age is 243 Ma, while the north half is composed of Carboniferous metasedimentary rocks. The youthful morphology of Paloh Ring-1 points to a geologically young impact event, estimated to be not later than Late Miocene. More than a decade earlier, PDFs in quartz were discovered in partly weathered granite underlying the Quaternary basalt at Gebeng, some 40 km SE of Bukit Paloh. The granite at Bukit Ubi quarry, located in the same area but nearer to Kuantan town, also contains quartz with PDFs. These two findings are the initial proofs for impact products in the whole of Malaysia. It is unresolved if the Gebeng-Bukit Ubi impact products and those at Bukit Paloh originated from the same event.

The third proven impact products are at Bukit Bunuh near the world-famous palaeolithic site of Kota Tampan along the Perak River. Recently Mokhtar Saidin, geo-archaeologist of Universiti Sains Malaysia, verbally reported a 1.74 Ma fission-track age for a volcanic agglomerate composed of unsorted small to huge fragments of quartz, quartzite, schist, felsic igneous rocks, and other as yet unspecified rock types. The megabreccia is set in light-coloured groundmass, superficially resembling volcanic tuff. Thin-section examination of the quartz turned up parallel planar fractures, mosaicismal extinction and also several cleavage sets. Detailed studies are in progress, but there is little doubt that this "agglomerate" is in fact suevite , an impact breccia. In spite of alteration by oxidation, hydrolisis and local secondary mineralisation of fractures and other voids, porosity estimates by visual inspection are of the order of 10 per cent.

Satellite and synthetic-aperture radar images complemented by topographic maps and aerial photographs indicate over 60 prominent arcuate and circular features throughout Malaysia. Craters, geological and geophysical field studies, presence of suevite, and PDFs in quartz prove the impact origin for the Mahsuri Rings in Langkawi, the Paloh Ring-1 on the Terengganu-Pahang border, and the megabreccia at Bukit Bunuh (Kota Tampan) in central Perak. Thirty seven other arcuate/circular features could be impact products and will need confirmatory studies; eight other structures appear to represent domal intrusions or exhumed volcanic complexes, while the remaining sixteen are meander scrolls and structural basins. Contributing factors of extraterrestrial impacts to petroleum systems comprise depressions favouring source-rock development, enhancement of reservoir quality in most of the target rocks, providing a trapping environment for fluids, and perhaps accelerate maturation. Given that prominent impact structures are not rare in Malaysia and that during the Cretaceous-Palaeogene vast regions of continental Southeast Asia were subaerially exposed, impact-structures probably occur in significant numbers. The initial steps of testing impact-structure plays include expansion and verification of the regional database of impact structures and re-examination of seemingly anomalous subsurface structures that are already known.


#826 From: datyo praboto <datyopraboto@...>
Date: Sun Feb 1, 2009 4:16 pm
Subject: Re: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia
datyopraboto
Send Email Send Email
 
Wah wah...bisa dilihat dari google earth ini pak ?
 
Salam
Datyo Praboto
 
praboto.wordpress.com


--- On Sun, 2/1/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@...> wrote:
From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Subject: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia
To: "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@yahoogroups.com>, "Himpunan Astronom Amatir Jakarta" <haaj84@yahoogroups.com>, "Astronomi Indonesia" <astronomi_indonesia@yahoogroups.com>, "Astro_Semarang" <astronomi_semarang@yahoogroups.com>, "Rukyat" <rukyatulhilal@yahoogroups.com>
Cc: "Rovicky Dwi Putrohari" <rovicky@...>, "Dr. Moedji Raharto" <moedji@...>, "Dr. Thomas Djamaluddin" <t_djamal@...>, "Agus Hendratno MT" <agushendratno@...>, "Pak Sofwan Jannah" <sofwanjanah@...>, "Pak Praboto" <datyopraboto@...>
Date: Sunday, February 1, 2009, 7:46 AM

Makalahnya pak Tjia HD, geolog yang mendapatkan gelar doktornya dengan meneliti bebatuan unik di Karangsambung (Kebumen) dan kini bermukim di Malaysia. Tak disangka, Pulau Langkawi yang populer itu ternyata merupakan sisa tumbukan benda langit setidaknya dalam kurun waktu 10 juta tahun silam.

Pada seminar 28 Oktober 2008 silam di ITB, mbak Dewi Pramesti Kusumaningrum telah mempresentasikan rencana penelitiannya dengan judul Initiation Study in Search of Impact Crater in Indonesia dalam sesi Earth and Space Sciences yang diketuai pak Dr. Moedji Raharto. So, perburuan kawah meteor di Indonesia telah dimulai..

Ayo pak Praboto, terus berburu via Google Earth

Salam,


Ma'rufin


HC Potential of Meteorite Impact Structures, Focus on Sundaland

H. D. Tjia
Jakarta, January 21,  2004


Craters abound on the surfaces of the Moon, solid planets and their satellites. Prior to the manned Apollo missions, views that the craters of the Moon were products of volcanism or of meteorite impacts were shared about equally. The collected Moon rocks show definitive features of high pressure but relatively low-temperature metamorphism that overwhelmingly favour impact origin. On Earth, the suspected impact depression in the Southwestern United States known as Meteor crater, was found associated with high-pressure quartz, or coesite. Currently some 300 terrestrial structures are considered products of impacts by extraterrestrial objects. Almost two hundred of these have been proven as such by combinations of the following: (1) arcuate to circular surface morphology, (2) circular gravity anomaly patterns, (3) shatter cones, (4) poly-megabreccias containing cleaved quartz, (5) quartz and feldspars with mosaicism (patchy extinction), (6) high-pressure quartz polymorphs of coesite and stishovite, (7) anomalously high Iridium, (8) diaplectic glass, and (9) microdiamonds. The comparatively low density of terrestrial impact craters on the Earth's surface is attributable to reworking by exogenous processes of weathering, erosion, organic activity, burial by younger deposits, and the 70 per cent surface cover by water. Impact craters should be as common on Earth as on the solid extraterrestrial bodies. Calculations suggest a mean probability of over 15,000 significant impact craters having hit land since the Archaean. On land the average depth to diameter ratio of an impact crater is 1 : 0.2 , while rim height is about 4 per cent of the total diameter. Also on land, the diameter of simple, bowl-shaped impact craters probably do not exceed 4 km in igneous rocks and about 2 km in sedimentary rock. Beyond these limits, complex crater morphologies develop as result of flattening through gravity.

The petroleum significance of meteorite impact structures is -so far- very minor, but may be more important for several reasons. Renewed attention to impact structure plays is relatively recent and was fueled by the 1991 single-strike discovery (25 MMBO, 15 BCFG recoverable reserves) in the vicinity of Ames, Oklahoma, U.S.A. About twenty years earlier other significant discoveries were made at Red Wing Creek, North Dakota (20 MMBO, 25 BCFG), and at the world-famous Chicxulub region, Yucatan Peninsula, Mexico (total recoverable reserves of 30 BBO, 15 TCFG). However, the structures of these earlier finds were not identified as astroblemes and at the time of their discoveries the respective reservoirs were considered ordinary fractured carbonates and fractured granite-and- carbonates. The petroleum occurrences in the vicinity of Ames, a small town in Oklahoma, U.S.A., were the main topic of a special meeting in the early 1990s. The reservoir rocks of the Ames structure are lithified "basement" granodiorite and Cambro-Ordovician Arbuckle dolomite breccia on the crater rim; 2D seismic indicates an erratic, pocket-like distribution of its porosity and permeability. Trapping is by subsurface closures with one known structural closure. A dolomite caprock and overlying Middle Ordovician Simpson Shale provide the cap and seal. The source consists of the Arbuckle sediments or rocks that were exposed to the "cracking" environment of the meteor impact, and the shales that were deposited in the crater. Flow is c. 250 to 500 BOPD; with some of the wells producing in excess of 250,000 bbl oil, while one particular well has yielded 3 BCFG. Recovery has been in the 10% to 60% range.

Continental Southeast Asia includes the tectonic platforms of Indosinia and Sundaland . By virtue of its longer exposure, its thinly covered pre-Tertiary "basement" areas can be expected to host more impact structures than regions containing thick Cenozoic sediments. Good reservoir is provided by brecciated and fractured basement rocks, while traps may comprise rim anticlines, irregularly distributed breccia pockets within craters, and central rebound peaks (in the larger impact structures). Internal seals may be provided by impact-melt cloaks and a top seal by the blanketing sediments. For the Southeast Asian impact structures, the hydrocarbon charge is likely to originate in the Tertiary basins. Several impact structures have been recently discovered in pre-Tertiary Peninsular Malaysia. In the Langkawi islands three of four arcuate ridges are associated with cleaved quartz that crops out as a sill and dyke complex. Other shock-metamorphic features include ribbon quartz and mosaicism.

The two major craters, named Mahsuri Rings, partially overlap and each is about 2.4 km across. In 280o - 100o direction their centres are 600 metres apart. Bouguer gravity cross sections prove their crater form, one being 45 m deep, the other attaining 107 m depth into the target rocks of Carbo-Permian Singa Formation. Both depressions are filled, the top surface consisting of Quaternary alluvium. The partially encircling hills of Singa Formation crest at less than 150 m elevation and are open to the west. Towards SW are two other circular/arcuate topographic features: Temoyong Ring and horseshoe-shaped Tepor Island. The diameters decrease in the same direction: approximately 800 m and 500 m, respectively. These four ring-like structures have been interpreted as products of serial impacts by a flight of extraterrestrial projectiles arriving from the Southwest. The impact age is not yet determined and field relations only indicate a post-granite (Triassic-Jurassic) event. In the case that the morphologically young Mahsuri Rings are not exhumed features, impact could have occurred within the last 10 million years.

Another proven impact structure is the Paloh Ring that straddles the state boundary between Terengganu and Pahang. The proof consists of planar deformation features (PDFs) and mosaicism in vein quartz intruded into undivided Carboniferous metasedimentary strata that compose the lower eastern slope of the 623m high Paloh peak. PDFs are also seen in thin sections of quartz phenoclasts of polymict-breccia boulders in Sungai Mengkuang that drains the east side of the hill. Bukit Paloh is the peak on the high, circular topography surrounding a deep depression, now referred to as Paloh Ring-1. This ring-like topography is 3.5 km across and has local relief of the order of 150 to 200 metres. A small -about 0.5 km across-circular depression is located on the Paloh Ring-1. The south half of the larger ring consists of felsic igneous rock whose K/Ar age is 243 Ma, while the north half is composed of Carboniferous metasedimentary rocks. The youthful morphology of Paloh Ring-1 points to a geologically young impact event, estimated to be not later than Late Miocene. More than a decade earlier, PDFs in quartz were discovered in partly weathered granite underlying the Quaternary basalt at Gebeng, some 40 km SE of Bukit Paloh. The granite at Bukit Ubi quarry, located in the same area but nearer to Kuantan town, also contains quartz with PDFs. These two findings are the initial proofs for impact products in the whole of Malaysia. It is unresolved if the Gebeng-Bukit Ubi impact products and those at Bukit Paloh originated from the same event.

The third proven impact products are at Bukit Bunuh near the world-famous palaeolithic site of Kota Tampan along the Perak River. Recently Mokhtar Saidin, geo-archaeologist of Universiti Sains Malaysia, verbally reported a 1.74 Ma fission-track age for a volcanic agglomerate composed of unsorted small to huge fragments of quartz, quartzite, schist, felsic igneous rocks, and other as yet unspecified rock types. The megabreccia is set in light-coloured groundmass, superficially resembling volcanic tuff. Thin-section examination of the quartz turned up parallel planar fractures, mosaicismal extinction and also several cleavage sets. Detailed studies are in progress, but there is little doubt that this "agglomerate" is in fact suevite , an impact breccia. In spite of alteration by oxidation, hydrolisis and local secondary mineralisation of fractures and other voids, porosity estimates by visual inspection are of the order of 10 per cent.

Satellite and synthetic-aperture radar images complemented by topographic maps and aerial photographs indicate over 60 prominent arcuate and circular features throughout Malaysia. Craters, geological and geophysical field studies, presence of suevite, and PDFs in quartz prove the impact origin for the Mahsuri Rings in Langkawi, the Paloh Ring-1 on the Terengganu-Pahang border, and the megabreccia at Bukit Bunuh (Kota Tampan) in central Perak. Thirty seven other arcuate/circular features could be impact products and will need confirmatory studies; eight other structures appear to represent domal intrusions or exhumed volcanic complexes, while the remaining sixteen are meander scrolls and structural basins. Contributing factors of extraterrestrial impacts to petroleum systems comprise depressions favouring source-rock development, enhancement of reservoir quality in most of the target rocks, providing a trapping environment for fluids, and perhaps accelerate maturation. Given that prominent impact structures are not rare in Malaysia and that during the Cretaceous-Palaeoge ne vast regions of continental Southeast Asia were subaerially exposed, impact-structures probably occur in significant numbers. The initial steps of testing impact-structure plays include expansion and verification of the regional database of impact structures and re-examination of seemingly anomalous subsurface structures that are already known.



#827 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Feb 2, 2009 12:31 am
Subject: Re: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia
marufins
Send Email Send Email
 
Bisa pak. Tepor Islands itu pulau kecil di sebelah barat daya Bandara Langkawi, pada koordinat 6deg 16min LU 99deg 43min BT. Bentuk pulaunya mirip pulau Panaitan, dimana ada teluk di sisi utaranya yang sebenarnya merupakan kawah tumbukan berdiameter 600 m. Temoyong Ring dan Mahsuri Ring terletak di sebelah timur laut Pulau Tepor ini, alias sudah berada di daratan utama Langkawi.

Monggo dicari untuk Indonesia, terutama di daerah-daerah yang "tua" macam Bangka dan Belitung, Kalimantan, sebagian Nusa Tenggara dan sebagian Papua. Kalo Jawa itu masih tergolong "muda".

Salam,


Ma'rufin


From: datyo praboto <datyopraboto@...>
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com
Sent: Sunday, February 1, 2009 11:16:48 PM
Subject: Re: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia

Wah wah...bisa dilihat dari google earth ini pak ?
 
Salam
Datyo Praboto
 
praboto.wordpress. com


--- On Sun, 2/1/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com> wrote:
From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>
Subject: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia
To: "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@ yahoogroups. com>, "Himpunan Astronom Amatir Jakarta" <haaj84@yahoogroups. com>, "Astronomi Indonesia" <astronomi_indonesia @yahoogroups. com>, "Astro_Semarang" <astronomi_semarang@ yahoogroups. com>, "Rukyat" <rukyatulhilal@ yahoogroups. com>
Cc: "Rovicky Dwi Putrohari" <rovicky@gmail. com>, "Dr. Moedji Raharto" <moedji@.... ac.id>, "Dr. Thomas Djamaluddin" <t_djamal@bdg. lapan.go. id>, "Agus Hendratno MT" <agushendratno@ yahoo.com>, "Pak Sofwan Jannah" <sofwanjanah@ yahoo.com>, "Pak Praboto" <datyopraboto@ yahoo.com>
Date: Sunday, February 1, 2009, 7:46 AM

Makalahnya pak Tjia HD, geolog yang mendapatkan gelar doktornya dengan meneliti bebatuan unik di Karangsambung (Kebumen) dan kini bermukim di Malaysia. Tak disangka, Pulau Langkawi yang populer itu ternyata merupakan sisa tumbukan benda langit setidaknya dalam kurun waktu 10 juta tahun silam.

Pada seminar 28 Oktober 2008 silam di ITB, mbak Dewi Pramesti Kusumaningrum telah mempresentasikan rencana penelitiannya dengan judul Initiation Study in Search of Impact Crater in Indonesia dalam sesi Earth and Space Sciences yang diketuai pak Dr. Moedji Raharto. So, perburuan kawah meteor di Indonesia telah dimulai..

Ayo pak Praboto, terus berburu via Google Earth

Salam,


Ma'rufin


HC Potential of Meteorite Impact Structures, Focus on Sundaland

H. D. Tjia
Jakarta, January 21,  2004


Craters abound on the surfaces of the Moon, solid planets and their satellites. Prior to the manned Apollo missions, views that the craters of the Moon were products of volcanism or of meteorite impacts were shared about equally. The collected Moon rocks show definitive features of high pressure but relatively low-temperature metamorphism that overwhelmingly favour impact origin. On Earth, the suspected impact depression in the Southwestern United States known as Meteor crater, was found associated with high-pressure quartz, or coesite. Currently some 300 terrestrial structures are considered products of impacts by extraterrestrial objects. Almost two hundred of these have been proven as such by combinations of the following: (1) arcuate to circular surface morphology, (2) circular gravity anomaly patterns, (3) shatter cones, (4) poly-megabreccias containing cleaved quartz, (5) quartz and feldspars with mosaicism (patchy extinction), (6) high-pressure quartz polymorphs of coesite and stishovite, (7) anomalously high Iridium, (8) diaplectic glass, and (9) microdiamonds. The comparatively low density of terrestrial impact craters on the Earth's surface is attributable to reworking by exogenous processes of weathering, erosion, organic activity, burial by younger deposits, and the 70 per cent surface cover by water. Impact craters should be as common on Earth as on the solid extraterrestrial bodies. Calculations suggest a mean probability of over 15,000 significant impact craters having hit land since the Archaean. On land the average depth to diameter ratio of an impact crater is 1 : 0.2 , while rim height is about 4 per cent of the total diameter. Also on land, the diameter of simple, bowl-shaped impact craters probably do not exceed 4 km in igneous rocks and about 2 km in sedimentary rock. Beyond these limits, complex crater morphologies develop as result of flattening through gravity.

The petroleum significance of meteorite impact structures is -so far- very minor, but may be more important for several reasons. Renewed attention to impact structure plays is relatively recent and was fueled by the 1991 single-strike discovery (25 MMBO, 15 BCFG recoverable reserves) in the vicinity of Ames, Oklahoma, U.S.A. About twenty years earlier other significant discoveries were made at Red Wing Creek, North Dakota (20 MMBO, 25 BCFG), and at the world-famous Chicxulub region, Yucatan Peninsula, Mexico (total recoverable reserves of 30 BBO, 15 TCFG). However, the structures of these earlier finds were not identified as astroblemes and at the time of their discoveries the respective reservoirs were considered ordinary fractured carbonates and fractured granite-and- carbonates. The petroleum occurrences in the vicinity of Ames, a small town in Oklahoma, U.S.A., were the main topic of a special meeting in the early 1990s. The reservoir rocks of the Ames structure are lithified "basement" granodiorite and Cambro-Ordovician Arbuckle dolomite breccia on the crater rim; 2D seismic indicates an erratic, pocket-like distribution of its porosity and permeability. Trapping is by subsurface closures with one known structural closure. A dolomite caprock and overlying Middle Ordovician Simpson Shale provide the cap and seal. The source consists of the Arbuckle sediments or rocks that were exposed to the "cracking" environment of the meteor impact, and the shales that were deposited in the crater. Flow is c. 250 to 500 BOPD; with some of the wells producing in excess of 250,000 bbl oil, while one particular well has yielded 3 BCFG. Recovery has been in the 10% to 60% range.

Continental Southeast Asia includes the tectonic platforms of Indosinia and Sundaland . By virtue of its longer exposure, its thinly covered pre-Tertiary "basement" areas can be expected to host more impact structures than regions containing thick Cenozoic sediments. Good reservoir is provided by brecciated and fractured basement rocks, while traps may comprise rim anticlines, irregularly distributed breccia pockets within craters, and central rebound peaks (in the larger impact structures). Internal seals may be provided by impact-melt cloaks and a top seal by the blanketing sediments. For the Southeast Asian impact structures, the hydrocarbon charge is likely to originate in the Tertiary basins. Several impact structures have been recently discovered in pre-Tertiary Peninsular Malaysia. In the Langkawi islands three of four arcuate ridges are associated with cleaved quartz that crops out as a sill and dyke complex. Other shock-metamorphic features include ribbon quartz and mosaicism.

The two major craters, named Mahsuri Rings, partially overlap and each is about 2.4 km across. In 280o - 100o direction their centres are 600 metres apart. Bouguer gravity cross sections prove their crater form, one being 45 m deep, the other attaining 107 m depth into the target rocks of Carbo-Permian Singa Formation. Both depressions are filled, the top surface consisting of Quaternary alluvium. The partially encircling hills of Singa Formation crest at less than 150 m elevation and are open to the west. Towards SW are two other circular/arcuate topographic features: Temoyong Ring and horseshoe-shaped Tepor Island. The diameters decrease in the same direction: approximately 800 m and 500 m, respectively. These four ring-like structures have been interpreted as products of serial impacts by a flight of extraterrestrial projectiles arriving from the Southwest. The impact age is not yet determined and field relations only indicate a post-granite (Triassic-Jurassic) event. In the case that the morphologically young Mahsuri Rings are not exhumed features, impact could have occurred within the last 10 million years.

Another proven impact structure is the Paloh Ring that straddles the state boundary between Terengganu and Pahang. The proof consists of planar deformation features (PDFs) and mosaicism in vein quartz intruded into undivided Carboniferous metasedimentary strata that compose the lower eastern slope of the 623m high Paloh peak. PDFs are also seen in thin sections of quartz phenoclasts of polymict-breccia boulders in Sungai Mengkuang that drains the east side of the hill. Bukit Paloh is the peak on the high, circular topography surrounding a deep depression, now referred to as Paloh Ring-1. This ring-like topography is 3.5 km across and has local relief of the order of 150 to 200 metres. A small -about 0.5 km across-circular depression is located on the Paloh Ring-1. The south half of the larger ring consists of felsic igneous rock whose K/Ar age is 243 Ma, while the north half is composed of Carboniferous metasedimentary rocks. The youthful morphology of Paloh Ring-1 points to a geologically young impact event, estimated to be not later than Late Miocene. More than a decade earlier, PDFs in quartz were discovered in partly weathered granite underlying the Quaternary basalt at Gebeng, some 40 km SE of Bukit Paloh. The granite at Bukit Ubi quarry, located in the same area but nearer to Kuantan town, also contains quartz with PDFs. These two findings are the initial proofs for impact products in the whole of Malaysia. It is unresolved if the Gebeng-Bukit Ubi impact products and those at Bukit Paloh originated from the same event.

The third proven impact products are at Bukit Bunuh near the world-famous palaeolithic site of Kota Tampan along the Perak River. Recently Mokhtar Saidin, geo-archaeologist of Universiti Sains Malaysia, verbally reported a 1.74 Ma fission-track age for a volcanic agglomerate composed of unsorted small to huge fragments of quartz, quartzite, schist, felsic igneous rocks, and other as yet unspecified rock types. The megabreccia is set in light-coloured groundmass, superficially resembling volcanic tuff. Thin-section examination of the quartz turned up parallel planar fractures, mosaicismal extinction and also several cleavage sets. Detailed studies are in progress, but there is little doubt that this "agglomerate" is in fact suevite , an impact breccia. In spite of alteration by oxidation, hydrolisis and local secondary mineralisation of fractures and other voids, porosity estimates by visual inspection are of the order of 10 per cent.

Satellite and synthetic-aperture radar images complemented by topographic maps and aerial photographs indicate over 60 prominent arcuate and circular features throughout Malaysia. Craters, geological and geophysical field studies, presence of suevite, and PDFs in quartz prove the impact origin for the Mahsuri Rings in Langkawi, the Paloh Ring-1 on the Terengganu-Pahang border, and the megabreccia at Bukit Bunuh (Kota Tampan) in central Perak. Thirty seven other arcuate/circular features could be impact products and will need confirmatory studies; eight other structures appear to represent domal intrusions or exhumed volcanic complexes, while the remaining sixteen are meander scrolls and structural basins. Contributing factors of extraterrestrial impacts to petroleum systems comprise depressions favouring source-rock development, enhancement of reservoir quality in most of the target rocks, providing a trapping environment for fluids, and perhaps accelerate maturation. Given that prominent impact structures are not rare in Malaysia and that during the Cretaceous-Palaeoge ne vast regions of continental Southeast Asia were subaerially exposed, impact-structures probably occur in significant numbers. The initial steps of testing impact-structure plays include expansion and verification of the regional database of impact structures and re-examination of seemingly anomalous subsurface structures that are already known.




#828 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Feb 2, 2009 12:37 am
Subject: Re: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia
marufins
Send Email Send Email
 
Bisa pak. Tepor Islands itu pulau kecil di sebelah barat daya Bandara Langkawi, pada koordinat 6deg 16min LU 99deg 43min BT. Bentuk pulaunya mirip pulau Panaitan, dimana ada teluk di sisi utaranya yang sebenarnya merupakan kawah tumbukan berdiameter 600 m. Temoyong Ring dan Mahsuri Ring terletak di sebelah timur laut Pulau Tepor ini, alias sudah berada di daratan utama Langkawi.

Monggo dicari untuk Indonesia, terutama di daerah-daerah yang "tua" macam Bangka dan Belitung, Kalimantan, sebagian Nusa Tenggara dan sebagian Papua. Kalo Jawa itu masih tergolong "muda".

Salam,


Ma'rufin


From: datyo praboto <datyopraboto@...>
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com
Sent: Sunday, February 1, 2009 11:16:48 PM
Subject: Re: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia

Wah wah...bisa dilihat dari google earth ini pak ?
 
Salam
Datyo Praboto
 
praboto.wordpress. com


--- On Sun, 2/1/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com> wrote:
From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>
Subject: [[ JAC ]] Kawah Tumbukan Semenanjung Malaysia
To: "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@ yahoogroups. com>, "Himpunan Astronom Amatir Jakarta" <haaj84@yahoogroups. com>, "Astronomi Indonesia" <astronomi_indonesia @yahoogroups. com>, "Astro_Semarang" <astronomi_semarang@ yahoogroups. com>, "Rukyat" <rukyatulhilal@ yahoogroups. com>
Cc: "Rovicky Dwi Putrohari" <rovicky@gmail. com>, "Dr. Moedji Raharto" <moedji@.... ac.id>, "Dr. Thomas Djamaluddin" <t_djamal@bdg. lapan.go. id>, "Agus Hendratno MT" <agushendratno@ yahoo.com>, "Pak Sofwan Jannah" <sofwanjanah@ yahoo.com>, "Pak Praboto" <datyopraboto@ yahoo.com>
Date: Sunday, February 1, 2009, 7:46 AM

Makalahnya pak Tjia HD, geolog yang mendapatkan gelar doktornya dengan meneliti bebatuan unik di Karangsambung (Kebumen) dan kini bermukim di Malaysia. Tak disangka, Pulau Langkawi yang populer itu ternyata merupakan sisa tumbukan benda langit setidaknya dalam kurun waktu 10 juta tahun silam.

Pada seminar 28 Oktober 2008 silam di ITB, mbak Dewi Pramesti Kusumaningrum telah mempresentasikan rencana penelitiannya dengan judul Initiation Study in Search of Impact Crater in Indonesia dalam sesi Earth and Space Sciences yang diketuai pak Dr. Moedji Raharto. So, perburuan kawah meteor di Indonesia telah dimulai..

Ayo pak Praboto, terus berburu via Google Earth

Salam,


Ma'rufin


HC Potential of Meteorite Impact Structures, Focus on Sundaland

H. D. Tjia
Jakarta, January 21,  2004


Craters abound on the surfaces of the Moon, solid planets and their satellites. Prior to the manned Apollo missions, views that the craters of the Moon were products of volcanism or of meteorite impacts were shared about equally. The collected Moon rocks show definitive features of high pressure but relatively low-temperature metamorphism that overwhelmingly favour impact origin. On Earth, the suspected impact depression in the Southwestern United States known as Meteor crater, was found associated with high-pressure quartz, or coesite. Currently some 300 terrestrial structures are considered products of impacts by extraterrestrial objects. Almost two hundred of these have been proven as such by combinations of the following: (1) arcuate to circular surface morphology, (2) circular gravity anomaly patterns, (3) shatter cones, (4) poly-megabreccias containing cleaved quartz, (5) quartz and feldspars with mosaicism (patchy extinction), (6) high-pressure quartz polymorphs of coesite and stishovite, (7) anomalously high Iridium, (8) diaplectic glass, and (9) microdiamonds. The comparatively low density of terrestrial impact craters on the Earth's surface is attributable to reworking by exogenous processes of weathering, erosion, organic activity, burial by younger deposits, and the 70 per cent surface cover by water. Impact craters should be as common on Earth as on the solid extraterrestrial bodies. Calculations suggest a mean probability of over 15,000 significant impact craters having hit land since the Archaean. On land the average depth to diameter ratio of an impact crater is 1 : 0.2 , while rim height is about 4 per cent of the total diameter. Also on land, the diameter of simple, bowl-shaped impact craters probably do not exceed 4 km in igneous rocks and about 2 km in sedimentary rock. Beyond these limits, complex crater morphologies develop as result of flattening through gravity.

The petroleum significance of meteorite impact structures is -so far- very minor, but may be more important for several reasons. Renewed attention to impact structure plays is relatively recent and was fueled by the 1991 single-strike discovery (25 MMBO, 15 BCFG recoverable reserves) in the vicinity of Ames, Oklahoma, U.S.A. About twenty years earlier other significant discoveries were made at Red Wing Creek, North Dakota (20 MMBO, 25 BCFG), and at the world-famous Chicxulub region, Yucatan Peninsula, Mexico (total recoverable reserves of 30 BBO, 15 TCFG). However, the structures of these earlier finds were not identified as astroblemes and at the time of their discoveries the respective reservoirs were considered ordinary fractured carbonates and fractured granite-and- carbonates. The petroleum occurrences in the vicinity of Ames, a small town in Oklahoma, U.S.A., were the main topic of a special meeting in the early 1990s. The reservoir rocks of the Ames structure are lithified "basement" granodiorite and Cambro-Ordovician Arbuckle dolomite breccia on the crater rim; 2D seismic indicates an erratic, pocket-like distribution of its porosity and permeability. Trapping is by subsurface closures with one known structural closure. A dolomite caprock and overlying Middle Ordovician Simpson Shale provide the cap and seal. The source consists of the Arbuckle sediments or rocks that were exposed to the "cracking" environment of the meteor impact, and the shales that were deposited in the crater. Flow is c. 250 to 500 BOPD; with some of the wells producing in excess of 250,000 bbl oil, while one particular well has yielded 3 BCFG. Recovery has been in the 10% to 60% range.

Continental Southeast Asia includes the tectonic platforms of Indosinia and Sundaland . By virtue of its longer exposure, its thinly covered pre-Tertiary "basement" areas can be expected to host more impact structures than regions containing thick Cenozoic sediments. Good reservoir is provided by brecciated and fractured basement rocks, while traps may comprise rim anticlines, irregularly distributed breccia pockets within craters, and central rebound peaks (in the larger impact structures). Internal seals may be provided by impact-melt cloaks and a top seal by the blanketing sediments. For the Southeast Asian impact structures, the hydrocarbon charge is likely to originate in the Tertiary basins. Several impact structures have been recently discovered in pre-Tertiary Peninsular Malaysia. In the Langkawi islands three of four arcuate ridges are associated with cleaved quartz that crops out as a sill and dyke complex. Other shock-metamorphic features include ribbon quartz and mosaicism.

The two major craters, named Mahsuri Rings, partially overlap and each is about 2.4 km across. In 280o - 100o direction their centres are 600 metres apart. Bouguer gravity cross sections prove their crater form, one being 45 m deep, the other attaining 107 m depth into the target rocks of Carbo-Permian Singa Formation. Both depressions are filled, the top surface consisting of Quaternary alluvium. The partially encircling hills of Singa Formation crest at less than 150 m elevation and are open to the west. Towards SW are two other circular/arcuate topographic features: Temoyong Ring and horseshoe-shaped Tepor Island. The diameters decrease in the same direction: approximately 800 m and 500 m, respectively. These four ring-like structures have been interpreted as products of serial impacts by a flight of extraterrestrial projectiles arriving from the Southwest. The impact age is not yet determined and field relations only indicate a post-granite (Triassic-Jurassic) event. In the case that the morphologically young Mahsuri Rings are not exhumed features, impact could have occurred within the last 10 million years.

Another proven impact structure is the Paloh Ring that straddles the state boundary between Terengganu and Pahang. The proof consists of planar deformation features (PDFs) and mosaicism in vein quartz intruded into undivided Carboniferous metasedimentary strata that compose the lower eastern slope of the 623m high Paloh peak. PDFs are also seen in thin sections of quartz phenoclasts of polymict-breccia boulders in Sungai Mengkuang that drains the east side of the hill. Bukit Paloh is the peak on the high, circular topography surrounding a deep depression, now referred to as Paloh Ring-1. This ring-like topography is 3.5 km across and has local relief of the order of 150 to 200 metres. A small -about 0.5 km across-circular depression is located on the Paloh Ring-1. The south half of the larger ring consists of felsic igneous rock whose K/Ar age is 243 Ma, while the north half is composed of Carboniferous metasedimentary rocks. The youthful morphology of Paloh Ring-1 points to a geologically young impact event, estimated to be not later than Late Miocene. More than a decade earlier, PDFs in quartz were discovered in partly weathered granite underlying the Quaternary basalt at Gebeng, some 40 km SE of Bukit Paloh. The granite at Bukit Ubi quarry, located in the same area but nearer to Kuantan town, also contains quartz with PDFs. These two findings are the initial proofs for impact products in the whole of Malaysia. It is unresolved if the Gebeng-Bukit Ubi impact products and those at Bukit Paloh originated from the same event.

The third proven impact products are at Bukit Bunuh near the world-famous palaeolithic site of Kota Tampan along the Perak River. Recently Mokhtar Saidin, geo-archaeologist of Universiti Sains Malaysia, verbally reported a 1.74 Ma fission-track age for a volcanic agglomerate composed of unsorted small to huge fragments of quartz, quartzite, schist, felsic igneous rocks, and other as yet unspecified rock types. The megabreccia is set in light-coloured groundmass, superficially resembling volcanic tuff. Thin-section examination of the quartz turned up parallel planar fractures, mosaicismal extinction and also several cleavage sets. Detailed studies are in progress, but there is little doubt that this "agglomerate" is in fact suevite , an impact breccia. In spite of alteration by oxidation, hydrolisis and local secondary mineralisation of fractures and other voids, porosity estimates by visual inspection are of the order of 10 per cent.

Satellite and synthetic-aperture radar images complemented by topographic maps and aerial photographs indicate over 60 prominent arcuate and circular features throughout Malaysia. Craters, geological and geophysical field studies, presence of suevite, and PDFs in quartz prove the impact origin for the Mahsuri Rings in Langkawi, the Paloh Ring-1 on the Terengganu-Pahang border, and the megabreccia at Bukit Bunuh (Kota Tampan) in central Perak. Thirty seven other arcuate/circular features could be impact products and will need confirmatory studies; eight other structures appear to represent domal intrusions or exhumed volcanic complexes, while the remaining sixteen are meander scrolls and structural basins. Contributing factors of extraterrestrial impacts to petroleum systems comprise depressions favouring source-rock development, enhancement of reservoir quality in most of the target rocks, providing a trapping environment for fluids, and perhaps accelerate maturation. Given that prominent impact structures are not rare in Malaysia and that during the Cretaceous-Palaeoge ne vast regions of continental Southeast Asia were subaerially exposed, impact-structures probably occur in significant numbers. The initial steps of testing impact-structure plays include expansion and verification of the regional database of impact structures and re-examination of seemingly anomalous subsurface structures that are already known.




#829 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Feb 2, 2009 1:16 am
Subject: Re: Bls: [FISIKA] Re: Bulan Baru dan Purnama Jadi Alternatif Peringatan Dini (iya gitu???)
marufins
Send Email Send Email
 
Maaf baru sempet direply

Berikut articles yang ngebahas soal relasi gaya pasang surut dengan frekuensi kegempaan di Bumi. Ada yang berkesimpulan itu memang saling berkorelasi, namun ada juga yang menyimpulkan korelasinya lemah. Ya saya pikir ini wajar saja, ilmu gempa belum lama lahir (belum ada seabad), pemahaman tentang tektonik lempeng juga baru muncul pada 1960-an. Dan jikalau mau dibandingkan, model kegempaan yang paling banyak digunakan pada saat ini, yakni ellastic dislocation modelling, ternyata juga tidak sanggup menjelaskan fenomena seismic cluster seperti yang terjadi pada patahan2 aktif kayak San Andreas Fault System di California sana, ataupun juga yang terjadi di Great Sumatran Fault System di Indonesia.

Masih ada banyak hal yang musti diselidiki lebih lanjut. Masih banyak jalan menuju "rumus" empirik untuk meramalakan timing dan magnitude gempa dengan basis fase Bulan.

Salam,


Ma'rufin



From: Michael DeGuzman <deguzmanbusang@...>
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, January 8, 2009 4:57:23 PM
Subject: Re: Bls: [FISIKA] Re: Bulan Baru dan Purnama Jadi Alternatif Peringatan Dini (iya gitu???)

 
Mas maryanto, saya juga berfikir semua yang kita liat adalah nisbi dan relatif. Saya juga mengerti jalan kita-kita yg basic-nya fisika, yg awalnya serba 'refference' (base on international journal?), matematis, logis atau apapun basic awalnya, kemudian berubah menjadi "logis tapi berkemungkinan" . sebagaimana jalan pikiran para geologist. Semua serba mungkin asal ada dasar pikiran logikanya (interpretasi) darimana asalnya.
 
Tapi pada tataran fisika murni pun sebenarnya kita harus membebaskan pikiran dengan me-logis-kan ide-ide kita dengan dasar atau fenomena-fenomena yg ada, dan matematika dan fisika hanyalah alat untuk kebebasan khayalan. 
 
Dalam dunia material ataupun di-fisika-kan menjadi fisika materal pun sebenarnya juga tidak exact kalau hanya base on refferences. Saya dulu belajar menganalisa karakteristik mineral alam dengan kandungan senyawa-senyawa atau unsur-unsur yang sama. Namun dari hasil analisa X-ray, setiap mineral mempunyai karakteristik yg berbeda (spectrum energi yg berbeda) walau kandungan dan nama mineralnya sama, ternyata tergantung dari mana mineral itu berasal. Mineral X dari daerah Bangka tentunya berbeda dgn mineral X dari Riau misalnya, walau rumus kimianya sama, komposisi2 nya juga sama. Akhirnya pada jarak yang satu meter pun akan berbeda karakteristiknya.
 
Mungkin kalau dalam dunia seismic, seperti mas maryanto jalani, kita mungkin memaksa alam dgn model wavelet extraction pada awalnya, sebelum kita memodelkan lapisan subsurface.
 
Kalau semua harus di-exact-kan jatuh2nya diperlukan 'tindakan', semisal ekstraksi ataupun 'pemaksaan model matematis' atau base on journal ilmiah dari peneliti2 terdahulu. Pikiran dan ide2 kita tidak akan pernah bebas. Dan kenyataanya alam tidak bisa dipaksa masuk dalam model matematis, fisika atau kimia berdasarkan logika yang dibuat manusia, kecuali dibuatkan asumsi-asumsi yang begitu banyak.      
   
Begitu kita sering berinteraksi  dengan alam secara langsung, kita pada akhirnya menjadi kecil untuk berani2nya memodelkan alam dgn model yg exact kecuali dgn asumsi2 yang kadang asumsi2nya pun kita tidak tahu. Semacam differential assumsi??
 
salam
 
Guzman

--- Pada Kam, 8/1/09, Maryanto <maryanto7@yahoo. com> menulis:
Dari: Maryanto <maryanto7@yahoo. com>
Topik: Re: Bls: [FISIKA] Re: Bulan Baru dan Purnama Jadi Alternatif Peringatan Dini (iya gitu???)
Kepada: fisika_indonesia@ yahoogroups. com
Tanggal: Kamis, 8 Januari, 2009, 11:20 AM

Salam,
 
Sayangnya, kata scientific, logis, nalar, masih tergantung dari "seberapa data versi yang di universikan" orang itu. Dan tiap waktu, universi orang bisa berbeda, apalagi orang yang berbeda. Tak logis bagi seseorang, bisa saja itu logis bagi orang lain.
 
Versi-versi yang saya "unified" (universitiku) ,  yang saya buat sejak th 2004, ada dua publikasi pada th 2006, bisa di baca abstractnya di bawah, yang mungkin bisa menolong.
 
 
Memang pernah terpikir, bahwa kenapa bulan purnama kok di sunatkan puasa, yang saya duga karena perlunya lebih berfikir pada hari-hari itu.
 
Bagaimana Mas Satria, ata yang lain?
 
Salam,
 

From: Satria Zulkarnaen <izoel13@yahoo. com>
To: fisika_indonesia@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 8, 2009 9:33:08 AM
Subject: Re: Bls: [FISIKA] Re: Bulan Baru dan Purnama Jadi Alternatif Peringatan Dini (iya gitu???)

Iya gitu ada hubungannya antara bulan baru dan bulan purnama dengan gempa bumi/pelepasan energi di zona subduksi? Kok kayak agak skeptis saya. Mekanismenya gimana? Is it proven theory? Please let me know if there is an article in a peer-reviewed journal about it... Jangan2 itu cuman spekulasi... . Dari sudut pandang order of magnitude, kok seperti sulit ada kemungkinan hubungannya.

Tapi kalau misalkan tentang hubungan bulan baru dan bulan purnama dengan fenomena pasang surut permukaan laut (tide in and tide out), saya sih yakin, karena itu proven.

Please explain to me scientifically.

Maklum, saya bukan spesialis di bidang ini, tapi penasaran juga....
 
>>->>IZUL<<-<<$4+|~14<<
------------ --------- --
Satria Zulkarnaen Bisri
Graduate Student
Low Temperature Condensed State Physics (Y. Iwasa Lab.)
Institute for Materials Research
Tohoku University, Japan
URL: http://www-lab. imr.tohoku. ac.jp/~satria/ index.html



From: Michael DeGuzman <deguzmanbusang@ yahoo.com>
To: fisika_indonesia@ yahoogroups. com
Cc: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>; "iagi-net@iagi. or.id" <iagi-net@iagi. or.id>; Forum HAGI <forum@.... id>; "geologiugm@ freelists. org" <geologiugm@freelist s.org>; Serba_KL Serba_KL <serba-KL@googlegrou ps.com>; Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@Gmail. com>; Rukyat <rukyatulhilal@ yahoogroups. com>; Jogja Astroclub <jogja_astroclub@ yahoogroups. com>; Astronomi Indonesia <astronomi_indonesia @yahoogroups. com>; Himpunan Astronom Amatir Jakarta <haaj84@yahoogroups. com>; Sains <sains@yahoogroups. com>; Forum Pembaca Kompas <forum-pembaca- kompas@yahoogrou ps.com>; Dr. Thomas Djamaluddin <t_djamal@bdg. lapan.go. id>; wahyu budi <wahyubudisetyawan@ yahoo.com>; Dirmawan <lik_dir@yahoo. co.id>; Agus Hendratno MT <agushendratno@ yahoo.com>; Ihda <brother_ihda@ yahoo.co. id>; Sulistyowati <al_ienz@yahoo. co.id>; Ayah Abdillah H <abdillahh@gmail. com>; Iffah <a.iffah@gmail. com>
Sent: Thursday, January 8, 2009 11:09:23 AM
Subject: Bls: [FISIKA] Re: Bulan Baru dan Purnama Jadi Alternatif Peringatan Dini

 
 
Salam kenal semua,
 
Apakah karena itu pula dalam agama disunnahkan puasa diawal bulan dan ditengah bulan Hijriah? (supaya kita waspada dan selalu mengingat Allah?)
 
Waktu saya kerja survey di offshore memang untuk daerah2 tertentu (lautan lepas) adalah adalah masa2 menegangkan saat malam purnama atau awal bulan hijriah....
 
Melihat energi pasang yang begitu besar sangat mungkin gaya gravitasi membantu 'menggetarkan- menarik' zona-zona lemah (struktur) yang kompleks terutama di Indonesia bagian Timur. Faktor iklim juga kemungkinan sangat berpengaruh besar, karena di Indonesia timur biasanya hanya ada beberapa bulan tenang dari 12 bulan yang ada. Terutama daerah papua dan maluku utara. 
wass wr
 
Guzman





Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!



#830 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Feb 2, 2009 12:19 pm
Subject: OOT : Turut Berbela Sungkawa
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum wr wb..

Meski agak terlambat, dengan ini turut berbela sungkawa atas wafatnya Ibunda dari Bp. Sofwan Jannah, M.Ag (staff pengajar UII Yogyakarta, Majelis Pakar RHI dan Anggota BHR DI Yogyakarta) pada Sabtu 31 Januari 2009 pukul 15:00 WIB di RSUD Serang.

Semoga arwah beliau di terima di tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan diampuni segala kesalahan dan kehilafannya selama menjalankan kehidupan di dunia ini. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga senantiasa mendapatkan kesabaran dan ketabahan iman.

Allahumaghfirlahaa
Warhamhaa
Wa'afihi wa'fu'anhaa
waakrim nuzulahaa
Wawassi' madhalahaa
Waj'alil jannata maswahaa
Birahmatika ya Allah ya arhamar raahimiin.

Wassalamu'alaikum wr wb..


Ma'rufin & Iffah




#831 From: Mutoha <jogja_astroclub@...>
Date: Thu Feb 5, 2009 6:14 pm
Subject: Event Astronomi Indonesia - Februari 2009
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
Salam astro,

Bulan Februari 2009 telah tiba, seperti kita ketahui ini adalah bulan cukup menjengkelkan tentunya bagi penggemar langit malam. Bagaimana tidak, jangankan melihat langit malam yang cerah, melihat matahari saja barangkali cukup sulit karena selalu tertutup awan dan bahkan hujan. Kecewa? Tentu tidak, siapa tahu kita masih bisa menyaksikan cerahnya langit malam walau hanya diantara awan-awan.
.
Memasuki bulan Februari kali ini event astronomi akan dibuka dengan Gerhana Bulan Penumbral. Menyusul beberapa event posisi planet dari mulai clostest, konjungsi maupun great elongation. Fase-fase Bulan tetap akan menjadi menu bulanan, juga apogee dan perigee termasuk data posisi Hilal awal bulan Jumadil Awal 1430 H. Dan event menarik di akhir bulan Februari ini adalah munculnya Komet Lulin si "HIJAU" pada akhir bulan.

Posisi Lulin selama 15 - 25 Februari 2009

Salam,

Mutoha Arkanuddin
Jogja Astro Club (JAC)
http://mutoha.blogspot.com
http://groups.yahoo.com/group/jogja_astroclub

==================================
Bringing Astronomy to the People ...
==================================


#832 From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Date: Wed Feb 4, 2009 9:24 am
Subject: Gerhana Bulan Penumbra 20090209
hanief.triha...
Send Email Send Email
 
Baru saja kita menikmati fenomena Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 26 Januari lalu. Mungkin Anda berhasil melakukan pengamatan cincin matahari atau hanya sekedar sabit matahari. Sekarang saatnya bersiap untuk menyaksikan fenomena gerhana lainnya, yaitu Gerhana Bulan Penumbra (GBP) yang akan terjadi pada hari Senin tanggal 9 Februari 2009.

Lebih lengkapnya silakan baca di halaman

http://hanieftrihantoro.wordpress.com/2009/02/04/gbp-20090209/

----------
Salam,
 
 
Hanief Trihantoro Wasito
 
----------
janganlah lihat siapa yang berbicara, tetapi dengarlah apa yang dibicarakan


#833 From: "Mutoha Arkanuddin" <jogja_astroclub@...>
Date: Fri Feb 6, 2009 5:25 am
Subject: Re: Event Astronomi Indonesia - Februari 2009 (link)
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
#834 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Feb 10, 2009 3:54 am
Subject: Fw: Toxic Gases Caused World's Worst Extinction
marufins
Send Email Send Email
 
Ini berita lebih lengkapnya. Ya ceritanya tentang pemusnahan massal 250 juta tahun silam, yang menghilangkan 98 % populasi makhluk hidup di Bumi pada saat itu. Kejadian ini disebut kejadian pemusnahan massal Permian-Trias (PT event), yang timingnya koinsidens dengan aktivitas banjir lava basalt Siberia. Hanya saja apakah peristiwa banjir lava basalt itu merupakan penyebab tunggal atau bukan, masih dalam penelusuran lebih lanjut. Sebab kajian2 astrofisika menunjukkan adanya pola antipodal events, dimana tepat di titik antipodal Siberian Traps ternyata diidentifikasi adanya struktur mirip kawah tumbukan berukuran gigantik, yang dinamakan Wilkes Land Structure (diameter 500 km), kini ada di Antartika. Selain itu di lepas pantai Australia Barat juga dijumpai adanya Bedout High yang diameternya menyamai Chicxulub Structure, produk tumbukan 65 juta tahun silam.

Salam,


Ma'rufin

----- Forwarded Message ----


Toxic Gases Caused World's Worst Extinction

Michael Reilly, Discovery News

Permian Mass ExtinctionPermian Mass Extinction
Lunar and Planetary Institute |Permian Mass Extinction
Scientists are starting to uncover the remnants of a
supervolcano that rained Hell on Earth 250 million years
ago and killed 90 percent of all life in an event known as
the Permian mass extinction.
 

Feb. 4, 2009 -- An ancient killer is hiding in the remote forests of Siberia. Walled off from western eyes during the Soviet era and forgotten among the endless expanse of wilderness, scientists are starting to uncover the remnants of a supervolcano that rained Hell on Earth 250 million years ago and killed 90 percent of all life.

Researchers have known about the volcano -- the Siberian Traps, for years. And they've speculated that the volcanic rocks, which cover an area about the size of Alaska, played a role in runaway global warming that led to the end -- Permian mass extinction, the worst dying the planet has ever seen.

Now a team of researchers led by Henrik Svenson of the University of Oslo in Norway have performed a series of experiments, showing the volcano employed an arsenal of deadly weapons during its 200,000-year- long assault on the biosphere.

Prime among them was carbon. Searing magmas from the volcano intruded into the Tunguska Basin in eastern Siberia, a region laden with thick deposits of coal, oil and gas. Heat from the molten rock baked the hydrocarbons, turning the area into the world's largest fossil fuel-burning plant. In all, the volcano may have belched as much as 100,000 gigatons of carbon into the air (all of humanity emits about eight gigatons of carbon annually).

That's more than enough to cause a global climate apocalypse. But the team also wanted to know what happened when lava infiltrated the area's abundant salt deposits. When heated in a laboratory to 275 degrees Centigrade (527 degrees Fahrenheit), the salts released a host of toxic gases, chief among them methyl chloride, an efficient ozone-killer.

"This is the first geologically realistic evidence that ozone collapse during the end-Permian could have actually happened," Svenson said.

But there is still a lot of uncertainty surrounding the findings, Linda Elkins-Tanton of the Massachusetts Institute of Technology said.

"There is evidence of a large number of genetic mutations in the fossil record around this time," she said, which could be the result of an onslaught of ultraviolet radiation due to a weak ozone layer. "But the idea of ozone destroyers is pretty new. The question is whether or not the eruptions were powerful enough to inject gases into the stratosphere."

The answer may come from close examination of hundreds of pipe-like structures strewn throughout the Tunguska Basin. Often 300 meters (984 feet) in diameter, Svenson's team believes the pipes are ancient volcanic craters left over after the lethal mix of carbon and chlorine gases exploded into the atmosphere.

http://dsc.discover y.com/news/ 2009/02/04/ volcano-mass- extinction. html

AND one cool video:

http://dsc.discover y.com/videos/ earth-top- 5-volcano- webcams-and- videos.html
--

(Gars O'Higgins Station penguins)
http://wiinterrr. blogspot. com/
http://penguinnewst oday.blogspot. com/
http://penguinology .blogspot. com/
(Worldwide Wx)
>^,,^<
http://wiinterrrswx .blogspot. com/




#835 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Feb 10, 2009 4:30 am
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Re: Tanya: tentang relativitas Einstein
marufins
Send Email Send Email
 
Ya kalo diliat dari matematikanya memang ruwet banget nget nget..saya juga ndak paham2 (hehehe).

Relativitas itu seperti cara pandang kita terhadap jagat raya ini. Dalam buku "Pahlawan-Pahlawan Peradaban" yang diterbitkan PT Kinta, Einstein mengiaskannya ibarat kita melihat sebongkah batu di tengah jalan. Orang yang berjalan kaki di trotoir akan melihat batu itu bulat telur. Namun orang yang berada di dalam KA yang kebetulan saat itu melintas di dekat trotoir akan melihatnya berbentuk gepeng. Nah, siapa yang bener ? Bagi Einstein, kedua-duanya bener, karena mereka melihat dari sudut pandang masing-masing.

Relativitas muncul di awal abad ke-20 sebagai jawaban atas "bencana" fisika saat itu, dimana hasil2 percobaan Michelson Morley secara meyakinkan menunjukkan tidak adanya materi yang disebut eter luminiferus, yang dihipotesakan sebelumnya sebagai medium perambatan cahaya. Logika yang saat itu dipake, jika eter tak ada, tentunya Bumi haruslah diam absolut. Dan itu bikin pusing karena senyatanya Bumi ternyata terus bergerak mengelilingi Matahari tanpa henti.

Nah, Einstein mengajukan penjelasan, "bencana" itu tak perlu terjadi andaikata kita mengambil dua postulat sederhana. Pertama, tak ada perbedaan antara hukum2 fisika untuk benda bergerak maupun benda tak bergerak. Dan kedua, kecepatan cahaya di ruang vakum (c) adalah sama untuk semua pengamat, tak peduli seberapa cepat ia bergerak. So, di sini tak ada kerangka ruang yang absolut (yang sebelumnya dinyatakan berlaku untuk bintang2 jauh), dan itu digantikan oleh cahaya. Dan jika obyek bergerak mendekati kecepatan cahaya, akan timbul banyak fenomena yang sebelumnya mustahil seperti pemuluran waktu, kontraksi panjang dsb. Disinilah analogi batu di tengah jalan tadi bermain. Bagi penumpang KA, batu akan nampak gepeng karena ia bergerak lebih cepat ketimbang pejalan kaki.

Kulminasi dari relativitas ini (yang kemudian disebut relativitas khusus), adalah kesimpulan bahwa tak ada obyek di jagat raya ini yang mempunyai kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Nah ini nyaris menimbulkan "bencana" fisika lainnya apabila diterapkan dalam konsep gravitasi. Jika kecepatan cahaya adalah batas tertinggi, maka seandainya pada waktu T Matahari tiba2 menghilang, maka Bumi akan merasakan hilangnya gravitasi Matahari pada waktu T + 8,33 menit. Namun teori Newton menunjukkan Bumi akan merasakan dampaknya tepat pada saat T itu juga alias tak ada jedanya. Inilah yang bikin Einstein pusing selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya ia menelurkan konsep gravitasi yang revolusioner yang disebut relativitas umum. Dan belakangan ia menyadari bahwa relativitas khusus hanyalah kasus khusus dari relativitas umum, sementara mekanika Newton hanyalah kasus khusus dari relativitas khusus.

Bagi relativitas umum, jagat raya adalah ruang waktu berdimensi empat.3 dimensi terkait dengan ruang/spasial (yang kita kenal, secara sederhana, sebagai dimensi panjang, lebar dan tinggi). Sementara dimensi keempat adalah waktu/temporal, yang berada dalam sumbu imajiner namun terikat kuat dengan ketiga dimensi ruang. Keempat dimensi ini secara bersamaan disebut ruang-waktu. Nah ruang-waktu ini bisa diibaratkan sebagai sebuah bedcover springbed. Dia datar jika tak ada apa-apa. Namun jika di bedcover ini ditaruh massa, maka ia akan melengkung. Nah ruang waktu jagat raya pun melengkung akibat medan gravitasi dari distribusi massa dan energi yang takhomogen didalamnya. Sehingga, di tata surya ini misalnya, melengkungnya ruang-waktu di sekitar Matahari memaksa planet2 untuk beredar mengelilinginya tanpa punya alternatif lain dan bahkan juga memaksa cahjaya dari bintang2 jauh yang kebetulan melintas dibelokkan sedikit.

Nah, andaikata medan gravitasi itu diperbesar (mislanya dengan mengecilkan diameter Matahari sampai nilai 1,4 km), kita akan mendapati kondisi dimana ruang waktu di sekitar Matahari tidak lagi melengkung, namun melengkung tak berhingga sehingga bahkan cahaya pun takkakn bisa lolos dari permukaan Matahari. Ini keadaan yang disebut singularitas, dan dalam bahasa yang populer dinamakan lubang hitam (black hole).

Nah permasalahannya, jika dalam skala kecil (seperti Matahari dan bintang2) relativitas meramalkan adanya singularitas di masa depan, bagaimana dengan skala besar ? Pertanyaan ini menghinggapi Oppenheimer (yang saat itu sedang mencurahkan perhatiannya pada pembuatan senjata nuklir pertama), Ralph Alpher, Hans Albert Bethe dan George Gamow dan belakangan Hawking, terlebih setelah muncul hasil2 penelitian Hubble di dekade 20-an yang menunjukkan galaksi2 saling bergerak menjauh. Perhitungan mereka menunjukkan jagat raya ini di masa silam pun pernah berada dalam kondisi singularitas tunggal. Dari singularitas inilah jagat raya kemudian mengembang cepat dan selama 13,7 milyar tahun kemudian berkembang menjadi seperti sekarang ini. Semua konsep yang dipahami manusia terkini tentang apa yang ada di jagat raya ini, mulai dari melimpahnya atom Helium, proses evolusi inti2 atom membentuk inti2 yang lebih berat, suhu jagat raya dlsb bisa dijelaskan dengan baik oleh konsep singularitas jagat raya yang mengembang ini.

Salam,


Ma'rufin 

From: nggieng <nggieng@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, February 4, 2009 4:48:51 PM
Subject: [astronomi_indonesia] Re: Tanya: tentang relativitas Einstein

iyah emang betul itu semua abstraksi matematika, jadi emang mumet ..
ide dasarnya tuh gini, mudah2an bisa ngebantu, kl ada orang kosmo
punten dibantu ngejawab:

maap pengetahuan saya masih yang klasik, ide dasar alam semesta
mengembang itu terbagi dari dua aspek, aspek pengamatan itu seperti
yang dilakukan oleh Hubble, ketika beliau menemukan bahwa semua
galaksi-galaksi menjauh dari pergeseran merah. (detil nanti lah ya,
ringkasnya dulu gitu)

nah, hasil pengamatan tersebut itu berkesesuaian dengan model metrik
FLRW (Friedmann Lemaitre Robertson Walker), nah apa itu model FLRW?
Model FLRW itu adalah model matematika solusi persamaan medan Einstein
yang menyatakan bahwa alam semesta yang homogen dan isotropis (artinya
kurang lebih di mana2 sama dan bergerak ke arah yang sama - sekali
lagi punten bantuan koreksinya), akan selalu mengembang secara homogen
& isotropis.

nah gitu deh, jadi kalo mau matematika-nya yg dibahas, itu mulai dari
persamaan diperensial parsial, dikenal dengan nama ilmu tensor,
silakan kl yg berminat belajar ..

dan emang betul pada akhirnya akan masuk ke geometri, tapi geometri
dengan dimensi lebih dari 3 tentunya .. karena dalam relativitas aja
ada tiga ruang spasial dan satu ruang temporal, wong waktu aja relativ ..

*munyeng munyeng munyeng* .. ayo diskusi sebelum saya puyeng juga ..
hehehehe .. cmiiw

sungging

--- In astronomi_indonesia @yahoogroups. com, Zaini Suherly
<suherly_az@ ...> wrote:
>
> memang rumit sih....saya saja yang matematika murni bolak balik agak
puyeng he he
> mmm...menurutku sih penunjangnya di Geometri apalagi masalah kurva
geodesik
>  
> ada yang lain untuk bantu teman kita ini...
>
> --- On Mon, 2/2/09, resti vurwarin <restiv@...> wrote:
>
> From: resti vurwarin <restiv@...>
> Subject: [astronomi_indonesi a] Tanya: tentang relativitas Einstein
> To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
> Date: Monday, February 2, 2009, 9:11 AM
>
>
>
>
>
>
> Temans,
> barangkali ada yang bisa membantu menjelaskan dengan tentang
relativitas einstein dan kaitannya dengan alam semesta yang
mengembang, pls share ya..
>
> saya berulang2 baca konsep soal ruang, waktu, relativitas einstein,
kok masih bingung gitu...ini masih ada kaitannya dengan astronomi kan?
>
> resti
>



#836 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Feb 25, 2009 4:59 pm
Subject: Tentang Kiamat 2012 --> Re: Kompas: 2012
marufins
Send Email Send Email
 
Ah nggak juga koq mas Hari, setelah membaca lebih jauh, berakhirnya kalender Maya di 21 Desember 2012 itu lebih disebabkan oleh berakhirnya siklus kalender, yang disebabkan oleh "kehabisan angka". Sistem Kalender Maya berbasiskan pada bilangan 20 (bi-desimal), berbeda dengan kalender lainnya yang berbasiskan bilangan 10 (desimal). Mengutip tulisannya mbak Avivah Yamani di langitselatan.com, dengan metode penulisan 0.0.0.0.0 dan hobi-nya suku Maya dengan siklus 13 dan 20 serta start kalender Maya ini ekivalen dengan 11 Agustus 3114 BCE, maka posisi 13.0.0.0.0 sebagai angka terbesar dalam kalender Maya ini akan ekivalen dengan 21 Desember 2012. Nah setelah 13.0.0.0.0 ini terlampaui, kalender Maya tidak mengenal angka 13.0.0.0.1 atau yang lebih besar, karena akan kembali ke posisi 0.0.0.0.1 alias angka paling kecil. Inilah yang saya maksud dengan "kehabisan angka" tadi. So, satu hari setelah 21 Des 2012 itu, atau pada 22 Desember 2012, kalender Maya memulai siklus barunya dengan angka 0.0.0.0.1.

Sementara jika meninjau fakta2 "ilmiah" yang dikatakan menyertai isu kiamat 2012 ini, sebagian besar juga meragukan. Sebut saja misalnya retaknya medan magnet Bumi, yang disebut-sebut telah mencapai panjang 160.000 km di angkasa sebagai South Atlantic Anomaly (SAA). Sementara fakta yang ada, SAA ini merupakan area dimana posisi sabuk radiasi van-Allen paling dekat dengan permukaan Bumi dan terjadi akibat perbedaan viskositas antara batuan kerak Bumi dan lapisan selubung dengan inti Bumi. Perbedaan viskositas membawa pada perbedaan kecepatan rotasi, yang (meski kecil sekali), memiliki beberapa efek, ya salah satunya munculnya SAA ini.

Sementara soal Yellowstone caldera yang dikatakan akan meletus dahsyat kembali (dengan memuntahkan tephra sedikitnya 2 juta km3, jika merujuk letusan terdahulu) guna mengikuti siklus letusan 600.000 tahun sekali, jika kita cek langsung ke USGS (yang langsung memonitor kaldera ini), ternyata Yellowstone memiliki periode letusan rata-rata 640.000 tahun. Jika kita "saklek" dengan angka ini, masih ada selang waktu 40.000 tahun bagi Yellowstone untuk meletus. Meski, dalam vulkanologi, yang namanya periode letusan rata-rata itu hanyalah menjadi patokan, bukan untuk keperluan prediksi apalagi peramalan. Sebut saja misalnya dengan Gunung Merapi di Jateng-DIY. Dalam perspektif vulkanologi, gunung ini seharusnya sudah meletus kembali karena periode letusannya 2 - 3 tahun (dengan letusan terakhir Juni 2006 silam), namun sampai kini gak ada aktivitas yang menunjukkan perkembangan ke sana.

Di Yellowstone, memang pada Januari lalu terekam adanya seismic swarm, alias rangkaian gempa2 vulkanik yang menjadi tanda migrasi magma. Namun selang waktu seismic swarm ini sangat pendek (hanya 2 minggu) sehingga tak bisa diterjemahkan sebagai adanya pasokan magma secara terus menerus yang sedang menembus kulit Bumi menuju ke permukaan kaldera. USGS menyebut seismic swarm berdurasi pendek ini biasa terjadi di Yellowstone caldera, demikian pula di kaldera2 lain yang ada di dunia baik mulai dari Toba (yang ini juga rutin direkam BMKG), Krakatau maupun yang paling muda seperti Pinatubo.

Sementara soal planet Nibiru, alias planet X itu, seperti pernah saya tulis, itu cuman mitos lama dari era Babilonia yang tak pernah bisa dibuktikan. Jika ada planet bernama Nibiru yang ukurannya hampir menyamai Saturnus itu, maka tentunya planet ini sudah nongol dalam pelat-pelat fotografis seabad silam ketika Clyde Tombaough dkk melakukan systematic search untuk menemukan Pluto. Apalagi dengan teknologi terkini dimana planet tidak hanya diobservasi dengan spektrum cahaya tampak semata, namun juga dengan inframerah, ultraviolet dan gelombang radio. Ketika teknologi astronomi masa kini bahkan demikian powerfull untuk menemukan sejumlah planet baru yang mengorbit bintang2 tetangga alias ekstrasolar planets, maka sulit diterima jika ada benda langit asing sebesar Saturnus yang masih bersembunyi dalam region tata surya kita, dalam rentang jarak dari orbit Pluto hingga kawasan awan komet Oort.

Memang, seperti pernah ditulis pak AR Sugeng, potensi terbesar dari Kiamat 2012 adalah badai Matahari, dimana secara siklusnya pada rentang waktu 2011-2012 sunspot number Matahari memang mencapai puncaknya dan berkorelasi langsung dengan tingginya semburan proton energetik dari permukaan Matahari ke segala arah. Model2 matematis yang dikembangkan NASA menyebut badai Matahari ini akan menyamai peristiwa Carrington 1859 silam, dengan efek yang merusak terhadap sistem telekomunikasi, satelit dan kelistrikan. Sebagai gambaran, badai Matahari 1989 (yang kekuatannya mampu membelokkan arah jarum kompas hingga 7 derajat dari magnetic north) mengakibatkan kerusakan pada trafo listrik Ontario Hydro dan menyebabkan sebagian AS dan Kanada mengalami mati listrik hingga 9 jam. Dan dalam badai Matahari 2011-2012 (yang diperkirakan mampu membelokkan arah jarum kompas hingga 15 - 20 derajat), tentunya kerusakan itu bisa menjangkau daerah yang lebih jauh, bahkan hingga ekuator.

Tentang tumbukan benda langit, memang tata surya kita sedang melintasi bidang galaksi Bima sakti dan itu akan menyebabkan perturbasi gravitasi dari bintang2 tetangga kita menjadi maksimal. Persoalannya, kapan perturbasi itu mampu menghentakkan jutaan benda langit mini di awan komet Oort dan sabuk asteroid Kuiper hingga berubah menjadi komet-komet yang menghujani tata surya bagian dalam, saat ini belum bisa dikuantifikasi. Kita hanya tahu itu akan terjadi, tapi kapan ? Belum diketahui.

Salam,


Ma'rufin


From: Hari F <harifajri@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Sent: Monday, February 23, 2009 6:16:14 PM
Subject: Re: [ RHI ] Re: [astronomi_indonesia] Re: Kompas: 2012

OOT:
 
Menurut kalender suku bangsa Maya (ribuan thn yll), mereka percaya bahwa kiamat akan terjadi 21 dec 2012. oleh karena itu mereka membuat kalender hanya sampai 2012.
 

 


From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Cc: Rukyat <rukyatulhilal@ yahoogroups. com>
Sent: Tuesday, February 24, 2009 8:26:34 AM
Subject: [ RHI ] Re: [astronomi_indonesi a] Re: Kompas: 2012

Ya sebenarnya setiap bulan Desember, setiap tahun, kita mengalami kondisi dimana Matahari berada di rasi Sagitarius dan di rasi ini terletak pusat galaksi Bimasakti yang sifatnya AGN (Active Galactic Nuclei) itu. Sebagai AGN ia biasa menghamburkan proton ekstraenergik dalam orde TeV (tera elektronvolt) . Dan sudah lama dihipotesakan bahwa di AGN ini terdapat supermassive blackhole dengan massa 4 juta kali massa Matahari kita, sehingga mampu mengontrol rotasi Bimasakti.

Pada Desember 2012 itu, kalo merujuk ke Starry Night, posisi Matahari nyaris berimpit dengan pusat galaksi jika dilihat dari Bumi. Saya belum ngecek ulang apakah situasi yang sama juga terjadi 26.000 tahun silam. Namun jika merujuk ke sejumlah referensi, angka 26.000 tahun itu terlalu amat sangat kecil. Carl Sagan, Rampino, Stothers dll menunjukkan bahwa kondisi tersebut hanya terjadi setiap 30 juta tahun sekali dengan plus minus 2 - 3 juta tahun. Angka ini yang kemudian menjadi basis dari hipotesis Shiva dan klop dengan data-data geologis tentang distribusi umur kawah-kawah tumbukan di permukaan Bumi dan Bulan, khususnya yang usianya di bawah 500 juta tahun.

Kalo terjadi guncangan kecil pada rotasi Bumi, rasanya koq nggak ya, karena orbit Bumi dan planet2 tata surya itu cukup stabil. Yang jadi masalah khan orbit asteroid dan asteroid transneptunik anggota sabuk Kuiper itu, serta kometisimal awan komet Oort, yang orbitnya demikian tak stabil (punya eksentrisitas dan inklinasi tinggi) sehingga sangat rawan dengan perturbasi gravitasi dari obyek lain di luar tata surya.

Btw, soal artikel Kompas itu, kita sanggah saja yuk, gimana ?

Salam,


Ma'rufin


From: Jeff T <goteng@yahoo. com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, February 23, 2009 5:47:35 PM
Subject: [astronomi_indonesi a] Re: Kompas: 2012

Saya tertarik dgn claim ini:
"Untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun, energi yang mengalir ke
Bumi dari titik pusat Bimasakti akan sangat terganggu pada 21/12/2012,
tepatnya pukul 11.11 malam. Semua itu disebabkan guncangan kecil pada
rotasi Bumi."

apakah ini ramalan juga?

Kalau di bagian artikel yg ttg hikmah dari "ramalan" ini untuk masa
depan bumi, saya setuju dgn pndpt2 mereka.

jeff
---------
> [wie]:
> apa yang salah tentang segala kemungkinan tersebut ? dan apa yang
salah dengan
> kompas ? :-)
>
> terlepas itu hanyalah sebuah ramalan ato tidak, tidak ada yang tahu,
tapi gejala
> bumi semakin tidak seimbang gua rasa ada benarnya.
>
> dan ada kalanya suatu waktu kelak bumi ini akan menyeimbangkan
dirinya sendiri,
> dimana bagi kita umat manusia mungkin itu akan disebut kiamat ato
apalah.. dan
> bagi yang bertahan hidup akan memulai dgn bumi yang baru dan
peradaban yang baru
> juga
>
> just my opinion :-)
>
> Have a Nice Day!
>
> --
> Cheers,
> Wie
>
> ym : pr0t31n_w13
>





#837 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Mar 24, 2009 4:17 pm
Subject: Hilaal Tua Rabiul Awwal dan Hilaal Rabiuts Tsani 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Sekedar mengingatkan, konjungsi akan terjadi pada Kamis malam 26 Maret mendatang jam 23:06 WIB. So pada saat Shubuh 26 Maret dan 25 Maret, kita berkesempatan menyaksikan hilaal tua lunasi Rabiul Awwal 1430 H di langit timur menjelang Matahari terbit. Dan pada saat Maghrib 27 dan 28 Maret 2009, pasca Matahari terbenam, kita juga berkesempatan untuk menyaksikn hilaal lunasi Rabiuts Tsani 1430 H di langit barat. Tentu saja bila langit memungkinkan.

Berikut ada simulasi posisi dan bentuknya, baik untuk hilaal maupun hilaal tua. Ya ini diperoleh dengan spreadsheet Hilaal 1.1, bagian dari update Hilaal 1.0 yang pernah saya paparkan sebelumnya, dengan melakukan perbaikan pada algoritma yang digunakan (diubah dari algoritma Qureshi ke Jean Meeus), penambahan delta T, penambahan faktor kerendahan ufuk dan macem2 lainnya. Namun karena masih ada sedikit problem pada spreadsheet ini, maka mohon maaf bentuk utuhnya belum bisa saya tampilkan. Hanya bisa bentuk outputnya saja, yang protected with password.

Sebagai patokan dalam spreadsheet ini, digunakan koordinat pusat kota Yogyakarta. Namun pada dasarnya jika diterapkan di kota2 lainnya di Indonesia, hasilnya tidak akan berbeda jauh (khususnya untuk kawasan zona waktu WIB dan WITA).

Dan mohon fokus untuk senja 28 Maret (untuk hilaal) dan fajar 26 Maret (untuk hilaal tua), mengingat pada saat itu elemen Bulan dan Matahari memiliki posisi yang kritis menurut kriteria RHI. Jika pada kesempatan itu baik hilaal maupun hilaal tua bisa dilihat, maka kita bisa (kembali) mengupgrade kriteria RHI ini.

Akhir kata, selamat mengamati, dan mohon jika berhasil mengobservasi (alias ada laporan visibilitas positif), harap disharing di milis ini, atau hubungi saya di 0817-727-823

Wassalamu'alaikum...


Ma'rufin


#838 From: ar sugeng riyadi <ar_sugeng_riyadi@...>
Date: Wed Mar 25, 2009 9:09 am
Subject: Re: [[ JAC ]] Hilaal Tua Rabiul Awwal dan Hilaal Rabiuts Tsani 1430 H
ar_sugeng_ri...
Send Email Send Email
 
salam,

Terima kasih Pak Ma'rufin, karya yang luar biasa....

Btw, Laporan Rukyah dapat juga disampaikan ke Blog RHI dengan alamat:

http://rukyatulhilal.wordpress.com/laporan/

Jazakallah...

Wassalaam,
Pak AR di Solo
http://rukyatulhilal.wordpress.com/

--- On Tue, 3/24/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@...> wrote:

From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Subject: [[ JAC ]] Hilaal Tua Rabiul Awwal dan Hilaal Rabiuts Tsani 1430 H
To: "Rukyat" <rukyatulhilal@yahoogroups.com>, "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@yahoogroups.com>, "Astro_Semarang" <astronomi_semarang@yahoogroups.com>
Cc: "Rovicky Dwi Putrohari" <rovicky@...>, "Budi Sm" <sm_budiy@...>, "wahyu budi" <wahyubudisetyawan@...>, "Ustad Luqmana" <ustadluqmana@...>, "Ustadz Wahyu" <wahyuiso@...>, "Sulistyowati" <al_ienz@...>, "Ihda" <brother_ihda@...>, "Ismail Fahmi" <ismail_09_11_78@...>, "Falah Faniyah" <ge_taq@...>, "M. Fahrudin" <mfhrdnsw03@...>, "Pak Sofwan Jannah" <sofwanjanah@...>, "Dr. Thomas Djamaluddin" <t_djamal@...>, "Dr. Moedji Raharto" <moedji@...>, "KH Ahmad Izzudin" <ppdnsmg@...>, "KH Ahmad Izzudin" <prodi_falak@...>, "Marwadi STAIN Pwt" <marwadi_2005@...>, "Iffah" <a.iffah@...>, "Sri Utami" <uut_khan@...>
Date: Tuesday, March 24, 2009, 11:17 AM

Assalamu'alaikum. .

Sekedar mengingatkan, konjungsi akan terjadi pada Kamis malam 26 Maret mendatang jam 23:06 WIB. So pada saat Shubuh 26 Maret dan 25 Maret, kita berkesempatan menyaksikan hilaal tua lunasi Rabiul Awwal 1430 H di langit timur menjelang Matahari terbit. Dan pada saat Maghrib 27 dan 28 Maret 2009, pasca Matahari terbenam, kita juga berkesempatan untuk menyaksikn hilaal lunasi Rabiuts Tsani 1430 H di langit barat. Tentu saja bila langit memungkinkan.

Berikut ada simulasi posisi dan bentuknya, baik untuk hilaal maupun hilaal tua. Ya ini diperoleh dengan spreadsheet Hilaal 1.1, bagian dari update Hilaal 1.0 yang pernah saya paparkan sebelumnya, dengan melakukan perbaikan pada algoritma yang digunakan (diubah dari algoritma Qureshi ke Jean Meeus), penambahan delta T, penambahan faktor kerendahan ufuk dan macem2 lainnya. Namun karena masih ada sedikit problem pada spreadsheet ini, maka mohon maaf bentuk utuhnya belum bisa saya tampilkan. Hanya bisa bentuk outputnya saja, yang protected with password.

Sebagai patokan dalam spreadsheet ini, digunakan koordinat pusat kota Yogyakarta. Namun pada dasarnya jika diterapkan di kota2 lainnya di Indonesia, hasilnya tidak akan berbeda jauh (khususnya untuk kawasan zona waktu WIB dan WITA).

Dan mohon fokus untuk senja 28 Maret (untuk hilaal) dan fajar 26 Maret (untuk hilaal tua), mengingat pada saat itu elemen Bulan dan Matahari memiliki posisi yang kritis menurut kriteria RHI. Jika pada kesempatan itu baik hilaal maupun hilaal tua bisa dilihat, maka kita bisa (kembali) mengupgrade kriteria RHI ini.

Akhir kata, selamat mengamati, dan mohon jika berhasil mengobservasi (alias ada laporan visibilitas positif), harap disharing di milis ini, atau hubungi saya di 0817-727-823

Wassalamu'alaikum. ..


Ma'rufin



#839 From: farouq ageng <uqi_agen@...>
Date: Wed Mar 25, 2009 6:23 am
Subject: Re: [[ JAC ]] Hilaal Tua Rabiul Awwal dan Hilaal Rabiuts Tsani 1430 H
uqi_agen
Send Email Send Email
 


waalaikumsalam...
maaf pak kenapa yach,saya sulit memahami email yang bpk berikan.
karena saya orang yang sangat awam sekali mengenai hal ini. bisa dijelaskan dengan lebih mudah difahami dan adakah manfaat yang dapat kita ambil dari melihat hilal itu pak?



#840 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Mar 30, 2009 2:38 pm
Subject: Resume Hilal Tua R-Awal dan Hilal Muda R-Akhir 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Terima kasih untuk semua laporannya. Dari semua laporan yang masuk, bisa disimpulkan bahwa tidak ada yang bisa mengamati hilaal tua Rabiul Awwal 1430 H pada Shubuh 26 Maret 2009. Demikian juga, tidak ada yang bisa mengamati hilaal Rabiuts Tsani 1430 H pada Maghrib 27 Maret 2009 lalu. Masalah ketidakterlihatan baik hilaal maupun hilaal tua, sejauh ini bisa disimpulkan bahwa problem cuaca, dimana terdapat awan rendah menggantung di horizon, menjadi faktor utama.

Titik2 pengamatan untuk observasi hilaal dan hilaal tua kemarin adalah di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat), Bogor (Jawa Barat), Nias (Sumut), Cirebon (Jawa Barat) dan Yogyakarta (DIY). Sejauh ini belum ada laporan masuk dari Jawa Timur, khususnya dari pak Abdoel Moeid di Balai Rukyat Condrodipo Gresik, ataupun pak Fikrizuhara Muzakkin di Lamongan.

Dengan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pengamat yang telah berpartisipasi, mulai dari pak Ismail Fahmi, mas Noviar Firdaus, mas Yhonny Siregar, juga pak AR Sugeng Riyadi. Semoga kita dapat melakukannya lebih baik lagi dalam observasi 29 hari mendatang.

Salam,


Ma'rufin


From: noviar firdaus <noviar.firdaus@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Sent: Monday, March 30, 2009 8:31:30 AM
Subject: Re: [ RHI ] Hilal Tua R-Awal dan Hilal Muda R-Akhir = NOT SEEN

Salam,


Demikian pula dari wilayah Nias Selatan, di kecamatan Lolowau maupun di kecamatan Teluk Dalam,
di kedua lokasi tersebut gagal dilakukan rukyah karena faktor cuaca. hujan merata di seluruh daerah Nias Selatan.

Wassalam,

Noviar dari Nias Selatan




2009/3/29 AR Sugeng Riyadi <ar_sugeng_riyadi@ yahoo.com>

Salam,

Hilal Akhir R-Awal dan Hilal Awal R-Akhir, dua-duanya GAGAL terlihat di wilayah Surakarta dan Klaten.

Faktor utama adalah cuaca yang berawan dan hujan saat rukyah dan lokasi/posisi Hilal tertutup awan yg cukup tebal.

Semoga di lokasi lain ada yang bisa melihatnya.

Wassalaam...

Pak AR di Solo




#841 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Mar 31, 2009 3:44 am
Subject: Re: Informasi
marufins
Send Email Send Email
 
Blackhole bisa "menguap" dan hilang sebenarnya tidak mengherankan mas. Itu bisa terjadi karena, meski blackhole adalah obyek eksotik di jagat raya ini, tingkah lakunya tetap memenuhi beberapa hukum fisika seperti hukum kekekalan massa dan energi serta asas ketidakpastian Heisenberg.

Memang blackhole itu bisa membesar, terutama jika ia terus menerus menyerap massa bintang2 yang ada disekelilingnya dan memilinnya dalam sebuah pusaran raksasa yang panas sebelum kemudian ditelan si lubang hitam itu. Dan proses penyerapan ini banyak diamati terjadi di berbagai titik di jagat raya ini, utamanya di pusat-pusat galaksi yang aktif alias AGN (active galactic nuclei), sebagaimana diungkap oleh Teleskop Chandra. Namun jika proses penyerapan ini terus menerus terjadi, secara langsung blackhole melanggar hukum kekekalan massa dan energi. Sehingga memang "harus" ada aliran energi yang juga memancar keluar dari blackhole menuju ke lingkungan disekitarnya.

Persoalan ini menjadi bahan kajian yang menarik bagi Stephen Hawking dan Roger Penrose, sehingga akhirnya mereka menelurkan konsep entropi lubang hitam yang populer itu, sebagai tanda bahwa memang ada aliran energi yang memancar keluar dari lubang hitam. Dan fisika kuantum menunjukkan, aliran energi itu bisa terjadi karena adanya fluktuasi kuantum di ruang vakum yang berbatasan dengan horizon peristiwa lubang hitam, dimana proses produksi pasangan dan anihilasi di sini terganggu oleh kehadiran horizon peristiwa, sehingga produksi pasangan kemudian tak diikuti dengan anihilasi (pemusnahan materi). Materi yang terbentuk dari produksi pasangan ini berupa partikel gamma yang akan dilejitkan menjauh dari horizon peristiwa, sementara antipartikelnya (antigamma) akan jatuh ke dalam lubang hitam. Pacaran partikel gamma ini yang kemudian dikenal sebagai "Radiasi Hawking". Nah karena blackhole juga memancarkan radiasi, secara otomatis massanya akan menyusut (jika tak ada pertambahan massa didalamnya) sehingga pada satu saat ia akan lenyap alias "menguap".

Ada persamaan yang diderivasikan Hawking tentang radiasi Hawking ini, baik dalam bentuk dayanya (energi persatuan waktu) maupun umur rata-rata blackhole-nya akibat emisi radiasi Hawking, silahkan dilihat di Wikipedia. Secara garis besar bisa ditarik kesimpulan, makin rendah massa sebuah blackhole, makin tinggi intensitas radiasi Hawkingnya sehingga makin rendah pula umur rata-ratanya. Sehingga pada sebuah microblackhole misalnya (yang massanya setara dengan massa proton), umur rata-ratanya berada dalam orde pikodetik. Inilah alasan kuat mengapa aktivitas Large Hadron Collider itu, andaikata ia menghasilkan microblackhole, tidak berdampak pada situasi Bumi.

Salam,


Ma'rufin


From: Antonius guntorojati <guntorojati_ireng@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, March 31, 2009 12:53:24 AM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Re: Informasi

saya malah lebih heran lagi..ada yang bilang black hole bisa menguap dan hilang


From: resti vurwarin <restiv@gmail. com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, March 30, 2009 12:39:14 PM
Subject: Re: [astronomi_indonesi a] Re: Informasi

dan blackhole bisa terus membesar katanya ya?

2009/3/30 mahapatihgadjahmada <mahapatihgadjahmada @rocketmail. com>

Yang terjadi adalah tata surya tempat kita hidup akan tersedot dan masuk ke dalam black hole tersebut. Dengan kata lain itu adalah "kiamat" dan sebagai akhir kehidupan di bumi. Tentu saja awal dari kehidupan setelah dunia ini. Hehe.
Tapi makasih buat infonya.

Hormat saya,

karang

* Pesan asli *
Dari:
orichalc_of_ moon@yahoo. com
Terkirim:
16:29:41
28 Mar 2009
Ke:
astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Subjek:
[astronomi_indonesi a] Re: Informasi tentang black hole


> Black hole adalah fenomena antariksa yang menurut saya paling menarik > dan paling spektakuler. Tidak ada yang menandinginya, tak terkecuali.
> Buat temen-temen yang punya informasi apapun tentang black hole, baik
> buku, foto, majalah dan sebagainya, mohon informasinya untuk saya.
> Demikian, terimakasih.

Saya pernah menulis sedikit di blog saya mengenai efek dari sebuah black hole kalau dia bergerak melewati tata surya kita :

http://orimath. blogspot. com/2008/ 01/effect- of-black- hole-passing- by-our.html

http://orimath. blogspot. com/2008/ 01/effect- of-black- hole-passing- by-our_14. html

Semoga bisa membantu,

Fendy

> karang.






#842 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Mar 31, 2009 4:09 am
Subject: Re: Si Gitung buang hajat mengeluarkan 90 Ton TNT ! Kecepatan air+lumpurnya mampu mencapai 70 Km/jam !
marufins
Send Email Send Email
 
Ya betul. Tsunami besar produk gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang menyerbu kota Banda Aceh itu memang "hanya" memiliki kecepatan 50 - 60 km/jam, merujuk penelitiannya Costas Synolakis, George Plaffke dan konco-konconya yang mendasarkan diri pada rekaman video amatir tentang masuknya tsunami ke Banda Aceh dan dilengkapi dengan survei lapangan yang detil. Begitupun, tsunami yang menyerbu Banda Aceh itu 2 kali lipat lebih cepat dari kelakuan tsunami pada umumnya saat menyerbu daratan, dimana pada tsunami2 lainnya rata-rata kecepatan mereka "hanyalah" 20 - 30 km/jam. Ini kecepatan pas masuk ke daratan, jadi harap dibedakan dengan kecepatan tsunami di laut dalam yang masih mematuhi persamaan Huygens, yang bisa mencapai 700 km/jam untuk kedalaman 4.000 meter. Tsunami aceh bisa dua kali lipat lebih cepat di daratan karena adanya "efek pelumasan", disamping kondisi jalan2 Banda Aceh yang konsentris mengarah ke pusat kota sehingga menjadi jalan tol bagi air untuk meluncur.

Bobolnya tanggul Si Gintung kemarin, secara kasar, melepaskan energi yang setara dengan 90 ton TNT. Dalam fisika bahan peledak, 1 ton TNT dideskripsikan sama dengan 4,184 Giga Joule atau 1 Giga Kalori. Energi 90 ton TNT ini jika dibandingkan setara dengan energi ledakan 90 butir bom besi Mk-10 yang biasa dipasang di sayap-sayap F-16. So, kerusakan yang diakibatkan oleh Situ Gintung bisa lah diibaratkan seperti pengeboman beruntun (carpet bombing) pada daerah sepanjang 2 km dengan 90 butir bom Mk-10 secara bersamaan. Ini memang "tidak seberapa" jika misalnya kita bandingkan dengan energi yang dilepaskan tsunami Aceh, yang bisa mencapai 15 megaton TNT alias 750 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima. Namun aliran air dan lumpur Situ Gintung terjadi di daerah yang sangat terlokalisir dan sempit, sehingga dampaknya memang luar biasa, menyamai tsunami Aceh 2004 silam.

Salam,


Ma'rufin


From: Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@...>
To: Serba_KL Serba_KL <serba-KL@googlegroups.com>; Milis IAGI-net <iagi-net@...>; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia <forum@...>; kampung-ugm@yahoogroups.com; geologiugm@googlegroups.com; org mg <muhammadiyah_society@yahoogroups.com>; Forum Pembaca Kompas <Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com>; Astronomi Indonesia <astronomi_indonesia@yahoogroups.com>; "pedulibencana@yahoogroups.com" <pedulibencana@yahoogroups.com>
Sent: Monday, March 30, 2009 4:32:18 PM
Subject: [astronomi_indonesia] Si Gitung buang hajat mengeluarkan 90 Ton TNT ! Kecepatan air+lumpurnya mampu mencapai 70 Km/jam !

Tsunami yang  menyerbu kota Banda Aceh hanya pada kecepatan sekitar 50 - 60 km/jam.
Silahkan kalau pingin tahu detailnya silahkan klik disini  .

Rovicky



#843 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Sun Apr 5, 2009 4:46 pm
Subject: Re: Si Gitung buang hajat mengeluarkan 90 Ton TNT ! Kecepatan air+lumpurnya mampu mencapai 70 Km/jam !
marufins
Send Email Send Email
 
Itu bukan potret tsunami. Foto2 itu lebuih menunjukkan gelombang alun biasa yang ketinggiannya ekstrim alias dikenal sebagai swell. Salah satu foto itu (yang gelombang masuk ke sungai) diambil di Cina, sementara satunya lagi saya ndak begitu paham.

Foto tentang tsunami yang original, salah satunya, ada seperti saya lampirkan di sini. Diambil pada 17 Juli 2006 di PLTU Cilacap (oleh staff PLTU sana) dan kemudian dijadikan bahan analisis oleh sejumlah pakar tsunami. Dari foto ini kemudian bisa diketahui bahwa tsunami yang menerjang PLTU Cilacap itu mempunyai ketinggian 3 m, angka yang jauh di bawah normal ketimbang daerah2 di sekitar Cilacap (seperti pantai Teluk Penyu dan Pangandaran) akibat adanya efek perlindungan dari Pulau Nusakambangan. Sebagai gambaran, pantai Permisan di selatan Nusakambangan saja (yang jadi tempat latihannya Kopassus itu) pada saat yang sama mengalami terjangan tsunami setinggi 21 m. Dari sisi magnitude-nya, secara kuantitatif tsunami 17 Juli 2006 yang menyerbu pantai selatan Pulau Jawa memang mempunyai magnitude menyamai tsunami besar yang menyerbu Aceh dalam gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 (yakni sama-sama mempunyai 8,9 Mt), meski magnitude gempanya sangat jauh berbeda (7,7 Mw pada 17 Juli 2006 vs 9,15 Mw pada 26 Desember 2004).

Dari foto ini juga nampak salah satu beda tsunami dengan gelombang biasa. Tsunami memiliki panjang gelombang sangat besar, sehingga periodenya pun besar dan ketika sampai di pantai, permukaan tsunami nampak "datar". Panjang gelombang tsunami berkali-kali lipat lebih besar ketimbang kedalaman laut yang dilintasinya, sehingga ia merupakan gelombang koheren, yang mengalami susut energi sangat kecil sepanjang perjalanannya sehingga membawa daya rusak yang sangat besar ketika mentransfer semua kandungan energinya saat tiba di pantai. Gelombang biasa ataupun swell tidak punya kemampuan seperti itu.

Salam,


Ma'rufin



From: suryadi hanif liasa <sur_1952@...>
To: banyumas@yahoogroups.com
Sent: Thursday, April 2, 2009 5:37:45 AM
Subject: Re: [banyumasan] Re: Si Gitung buang hajat mengeluarkan 90 Ton TNT ! Kecepatan air+lumpurnya mampu mencapai 70 Km/jam !

sing kaya kiye potreké  sing jenenge tsunami apa?


From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com; Jogja Astroclub <jogja_astroclub@ yahoogroups. com>; Forum Pembaca Kompas <forum-pembaca- kompas@yahoogrou ps.com>; Fisika <fisika_indonesia@ yahoogroups. com>
Cc: Alumni SMA 1 Kebumen <smunsakbm@yahoogrou ps.com>; Kebumen <kebumen@yahoogroups .com>; banyumas@yahoogroup s.com; Shalahuddin <shalahuddinugm@ yahoogroups. com>; Rukyat <rukyatulhilal@ yahoogroups. com>; Sulistyowati <al_ienz@yahoo. co.id>; Marwadi STAIN Pwt <marwadi_2005@ yahoo.com>; M. Fahrudin <mfhrdnsw03@gmail. com>; Ayah Abdillah H <abdillahh@gmail. com>
Sent: Tuesday, March 31, 2009 11:09:22 AM
Subject: [banyumasan] Re: Si Gitung buang hajat mengeluarkan 90 Ton TNT ! Kecepatan air+lumpurnya mampu mencapai 70 Km/jam !

Ya betul. Tsunami besar produk gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang menyerbu kota Banda Aceh itu memang "hanya" memiliki kecepatan 50 - 60 km/jam, merujuk penelitiannya Costas Synolakis, George Plaffke dan konco-konconya yang mendasarkan diri pada rekaman video amatir tentang masuknya tsunami ke Banda Aceh dan dilengkapi dengan survei lapangan yang detil. Begitupun, tsunami yang menyerbu Banda Aceh itu 2 kali lipat lebih cepat dari kelakuan tsunami pada umumnya saat menyerbu daratan, dimana pada tsunami2 lainnya rata-rata kecepatan mereka "hanyalah" 20 - 30 km/jam. Ini kecepatan pas masuk ke daratan, jadi harap dibedakan dengan kecepatan tsunami di laut dalam yang masih mematuhi persamaan Huygens, yang bisa mencapai 700 km/jam untuk kedalaman 4.000 meter. Tsunami aceh bisa dua kali lipat lebih cepat di daratan karena adanya "efek pelumasan", disamping kondisi jalan2 Banda Aceh yang konsentris mengarah ke pusat kota sehingga menjadi jalan tol bagi air untuk meluncur.

Bobolnya tanggul Si Gintung kemarin, secara kasar, melepaskan energi yang setara dengan 90 ton TNT. Dalam fisika bahan peledak, 1 ton TNT dideskripsikan sama dengan 4,184 Giga Joule atau 1 Giga Kalori. Energi 90 ton TNT ini jika dibandingkan setara dengan energi ledakan 90 butir bom besi Mk-10 yang biasa dipasang di sayap-sayap F-16. So, kerusakan yang diakibatkan oleh Situ Gintung bisa lah diibaratkan seperti pengeboman beruntun (carpet bombing) pada daerah sepanjang 2 km dengan 90 butir bom Mk-10 secara bersamaan. Ini memang "tidak seberapa" jika misalnya kita bandingkan dengan energi yang dilepaskan tsunami Aceh, yang bisa mencapai 15 megaton TNT alias 750 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima. Namun aliran air dan lumpur Situ Gintung terjadi di daerah yang sangat terlokalisir dan sempit, sehingga dampaknya memang luar biasa, menyamai tsunami Aceh 2004 silam.

Salam,


Ma'rufin


From: Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@Gmail. com>
To: Serba_KL Serba_KL <serba-KL@googlegrou ps.com>; Milis IAGI-net <iagi-net@iagi. or.id>; Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia <forum@.... id>; kampung-ugm@ yahoogroups. com; geologiugm@googlegr oups.com; org mg <muhammadiyah_ society@yahoogro ups.com>; Forum Pembaca Kompas <Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com>; Astronomi Indonesia <astronomi_indonesia @yahoogroups. com>; "pedulibencana@ yahoogroups. com" <pedulibencana@ yahoogroups. com>
Sent: Monday, March 30, 2009 4:32:18 PM
Subject: [astronomi_indonesi a] Si Gitung buang hajat mengeluarkan 90 Ton TNT ! Kecepatan air+lumpurnya mampu mencapai 70 Km/jam !

Tsunami yang  menyerbu kota Banda Aceh hanya pada kecepatan sekitar 50 - 60 km/jam.
Silahkan kalau pingin tahu detailnya silahkan klik disini  .

Rovicky





#844 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Apr 6, 2009 1:22 am
Subject: Fw:200 Masjid di Makkah Tidak Menghadap Kiblat
marufins
Send Email Send Email
 
Saya teruskan beritanya, utuh tuh, tanpa dipotong ataupun diedit. Mohon untuk diconfirm khususnya pada rekan2 yang memang saat ini sedang ada di tanah suci/Timur Tengah, seperti pak Nidlol Masyhud dkk.

Jika memang ini benar adanya, problem arah kiblat ternyata bukan cuma hanya di Indonesia saja. Di Jawa tengah saja, seperti dituliskan ustadz kita KH Ahmad Izzudin, ada situasi dimana 70 % masjid yang ada memiliki arah kiblat yang tidak tepat.

Memang agak ironi. Aljabar dan trigonometri adalah temuan ilmuwan Islam, "makanan sehari-hari" para ulama Islam sejak masa silam. Dengan aljabar dan trigonometri, sebenarnya tak susah lagi menetapkan arah kiblat di suatu tempat dan sekaligus melaksanakan pengukurannya. Namun, menurut saya, inilah tantangannya, bagaimana melakukan pengukuran dengan benar di lapangan, menyampaikan hasil2nya kepada masyarakat dan sekaligus mengedukasi publik agar tidak terjadi situasi dimana ada pihak yang merasa "tersakiti", yang terjadi semata-mata hanya karena ketidakpahaman atas duduk perkara yang sebenarnya.

Btw, Rasydul Qiblat masih ada 50-an hari lagi. Mari bersiap-siap, publikasi, training (jika bisa melaksanakan training) dll kegiatan yang menunjang.

Btw lagi, jika di kubah2 Masjidil Haram itu dipasang sinar laser yang dipancarkan menyebar keluar kota Makkah hingga jangkauan beberapa km itu, wah alangkah mengagumkannya. Suatu gambaran tentang arah kiblat yang nyata di atas kepala. Ada yang punya ide untuk meneruskannya ke Kedubes Saudi :) ?

Salam,


Ma'rufin

----- Forwarded Message ----
From: Agus Hamonangan <agushamonangan@...>
To: Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com
Sent: Sunday, April 5, 2009 2:34:30 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] 200 Masjid di Makkah Tidak Menghadap Kiblat

http://internasiona l.kompas. com/read/ xml/2009/ 04/06/03114971/ 200.Masjid. di.Makkah. Tidak.Menghadap. Kiblat.

MAKKAH,KOMPAS. com-Beberapa laporan dari Arab Saudi menyebutkan sekitar 200 masjid di kota suci Makkah tidak menghadap ke arah kiblat.

Surat kabar Saudi Gazette melaporkan, Minggu (5/4), orang-orang yang melihat ke bawah dari atas gedung-gedung tinggi yang baru di Makkah menemukan, mihrab di banyak masjid tua Makkah tidak mengarah langsung ke Kabah.

Saat menunaikan shalat, warga Muslim sedapat mungkin menghadap ke Kabah, bahkan kalau diperlukan, bisa menggunakan kompas khusus untuk mencari arah kiblat itu. Kabah tersebut terletak di tengah Masjidil Haram di Makkah.

Wartawan BBC Sebastian Usher mengatakan pihak berwenang belakangan melakukan pembangunan kembali kawasan di dan sekitar Masjidil Haram. Tetapi masjid-masjid lama di Makkah tetap dipertahankan keberadaannya. Kini bila dilihat dari gedung-gedung tinggi yang baru, sejumlah warga menemukan lokasi mihrab di sebagian masjid tersebut tidak tepat arah.

Pada saat masjid-masjid tersebut dibangun, digunakan perkiraan kasar arah kiblat karena saat itu belum ada alat yang akurat. Sebagian warga mengatakan ibadah mereka mungkin tidak sah. Namun, seorang pejabat Arab Saudi mengatakan ibadah shalat mereka tidak akan terpengaruh. Sebagian orang menyarankan sinar laser dipancarkan dari kubah Masjidil Haram untuk menunjukkan arah kiblat yang tepat.

ONO
Sumber : BBC



#845 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Apr 7, 2009 1:01 am
Subject: Re: Fw:200 Masjid di Makkah Tidak Menghadap Kiblat
marufins
Send Email Send Email
 
Berikut adalah tanggapan dari pak T. Djamaluddin. Hatur nuwun pak Djamal..

Salam,


Ma'rufin

Catatan :

Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Ketika pengukuran sudah dilangsungkan, dengan dua cara (kompas magnetik dan bayangan Matahari), ditambah dengan pembuktian lewat qiblalocator, ternyata masih teramat sulit juga untuk menjelaskan kepada jama'ah masjid yang bersangkutan yang pada saat iu sudah terbelah menjadi dua kubu, antara yang menerima dan yang menolak penetapan arah kiblat yang "baru" di dalam Masjid, yang konsekuensinya membuat masjid digaris-garis shaff baru yang miring 25 derajat dari arahnya semula. Dua kubu itu memiliki ulama/kiai pendukungnya masing-masing. Dari sini saya belajar bahwa dalam persoalan arah kiblat, yang penting bukan hanya bagaimana melaksanakan pengukuran, namun juga bagaimana memahami permasalahan sosiologis yang ada di jama'ah masjid yang bersangkutan dan bagaimana melakukan pendekatan persuasif berbasis kondisi sosiologis setempat. Setelah dilakukan pendekatan personal, dari hati ke hati alias "nguwongake" masing-masing ulama/kiai yang berperan dalam masjid tersebut dengan bantaun dari MUI dan KUA setempat, akhirnya disepakati untuk melakukan pengukuran ulang pada hari Rasydul Qiblat dan menerima apapun hasilnya. Alhamdulillah masalah kemudian selesai.



From: T. Djamaluddin <t_djamal@...>
To: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Sent: Monday, April 6, 2009 10:41:27 AM
Subject: Re: Fw:200 Masjid di Makkah Tidak Menghadap Kiblat

Assalamu'alaikum wr. wb.,

Ibadah itu didasarkan pada keyakinan. Saat masjid itu dibangun,
orang-orang yakin (berdasarkan pengetahuan saat itu) bahwa arahnya benar
ke masjidil haram. Kalau sampai saat ini pun mereka masih yakin, ibadah
orang yang shalat di sana tetap sah. Kalau sudah tahu arahnya menyimpang,
mereka tetap pada kesalahannya, baru dikatakan ridak sah.

Arah mihrab yang disimpulkan dari bangunan fisik belum tentu menunjukkan
salahnya arah kiblat. Bisa jadi, sebagian mereka sudah mengubah arah
kiblat di dalamnya dengan merevisi garis saf. Hal yang mirip pernah saya
lihat di Bukittinggi. Ada teman menyampaikan kepada saya bahwa masjid di
dekat pasar bawah (bila dilihat dari pasar atas) arahnya menyimpang dari
masjid dekat pasar atas. Saat berkunjung ke sama, arahnya saya ukur.
Benar, arah bangunan masjidnya menyimpang. Tetapi ketika saya cek ke
dalam, garis safnya telah diubah menyesuaikan arah kiblat yang benar.

Jadi, jangan cepat-cepat menyimpulkan arah kiblat keliru dari melihat
bentuk bangunan fisiknya. Dan hal yang penting juga, jangan sampai
menganggap tidak sah orang yang shalat di sana, tanpa mendengarkan
keyakinan mereka.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

T. Djamal

******************************************************************
Hidup ini adalah perjuangan lahir batin dengan iman, ilmu dan amal.
Matahari telah terbit.
Hari ini adalah hari perjuangan dengan semangat baru.
Majulah! Majulah! Majulah!
******************************************************************
Dokumentasi T. Djamaluddin : http://t-djamaluddin.spaces.live.com/
******************************************************************

On Mon, April 6, 2009 8:22 am, Ma'rufin Sudibyo wrote:
> Saya teruskan beritanya, utuh tuh, tanpa dipotong ataupun diedit. Mohon
> untuk diconfirm khususnya pada rekan2 yang memang saat ini sedang ada di
> tanah suci/Timur Tengah, seperti pak Nidlol Masyhud dkk.
>
> Jika memang ini benar adanya, problem arah kiblat ternyata bukan cuma
> hanya di Indonesia saja. Di Jawa tengah saja, seperti dituliskan ustadz
> kita KH Ahmad Izzudin, ada situasi dimana 70 % masjid yang ada memiliki
> arah kiblat yang tidak tepat.
>
> Memang agak ironi. Aljabar dan trigonometri adalah temuan ilmuwan Islam,
> "makanan sehari-hari" para ulama Islam sejak masa silam. Dengan aljabar
> dan trigonometri, sebenarnya tak susah lagi menetapkan arah kiblat di
> suatu tempat dan sekaligus melaksanakan pengukurannya. Namun, menurut
> saya, inilah tantangannya, bagaimana melakukan pengukuran dengan benar di
> lapangan, menyampaikan hasil2nya kepada masyarakat dan sekaligus
> mengedukasi publik agar tidak terjadi situasi dimana ada pihak yang merasa
> "tersakiti", yang terjadi semata-mata hanya karena ketidakpahaman atas
> duduk perkara yang sebenarnya.
>
> Btw, Rasydul Qiblat masih ada 50-an hari lagi. Mari bersiap-siap,
> publikasi, training (jika bisa melaksanakan training) dll kegiatan yang
> menunjang.
>
> Btw lagi, jika di kubah2 Masjidil Haram itu dipasang sinar laser yang
> dipancarkan menyebar keluar kota Makkah hingga jangkauan beberapa km itu,
> wah alangkah mengagumkannya. Suatu gambaran tentang arah kiblat yang nyata
> di atas kepala. Ada yang punya ide untuk meneruskannya ke Kedubes Saudi :)
> ?
>
> Salam,
>
>
> Ma'rufin
>
>
>
> ----- Forwarded Message ----
> From: Agus Hamonangan <agushamonangan@...>
> To: Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com
> Sent: Sunday, April 5, 2009 2:34:30 PM
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] 200 Masjid di Makkah Tidak Menghadap
> Kiblat
>
>
> http://internasiona l.kompas. com/read/ xml/2009/ 04/06/03114971/
> 200.Masjid. di.Makkah. Tidak.Menghadap. Kiblat.
>
> MAKKAH,KOMPAS. com-Beberapa laporan dari Arab Saudi menyebutkan sekitar
> 200 masjid di kota suci Makkah tidak menghadap ke arah kiblat.
>
> Surat kabar Saudi Gazette melaporkan, Minggu (5/4), orang-orang yang
> melihat ke bawah dari atas gedung-gedung tinggi yang baru di Makkah
> menemukan, mihrab di banyak masjid tua Makkah tidak mengarah langsung ke
> Kabah.
>
> Saat menunaikan shalat, warga Muslim sedapat mungkin menghadap ke Kabah,
> bahkan kalau diperlukan, bisa menggunakan kompas khusus untuk mencari arah
> kiblat itu. Kabah tersebut terletak di tengah Masjidil Haram di Makkah.
>
> Wartawan BBC Sebastian Usher mengatakan pihak berwenang belakangan
> melakukan pembangunan kembali kawasan di dan sekitar Masjidil Haram.
> Tetapi masjid-masjid lama di Makkah tetap dipertahankan keberadaannya.
> Kini bila dilihat dari gedung-gedung tinggi yang baru, sejumlah warga
> menemukan lokasi mihrab di sebagian masjid tersebut tidak tepat arah.
>
> Pada saat masjid-masjid tersebut dibangun, digunakan perkiraan kasar arah
> kiblat karena saat itu belum ada alat yang akurat. Sebagian warga
> mengatakan ibadah mereka mungkin tidak sah. Namun, seorang pejabat Arab
> Saudi mengatakan ibadah shalat mereka tidak akan terpengaruh. Sebagian
> orang menyarankan sinar laser dipancarkan dari kubah Masjidil Haram untuk
> menunjukkan arah kiblat yang tepat.
>
> ONO
> Sumber : BBC
>
>
>
>
>
>




#846 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Apr 14, 2009 6:38 am
Subject: Re: masjid saudi tak pas hadap kiblat?
marufins
Send Email Send Email
 
Ya pada intinya kita musti ingat :

  1. Kota Makkah itu secara topografis berada di sebuah cekungan (depresi) yang disusun oleh batuan beku produk aktivitas zona retakan Makkah-Madinah-Nufud, sehingga sulit untuk mengambil orientasi arah ke Ka'bah secara langsung (bukan ke Masjidil Haram-nya lho) bagi bangunan2 masjid yang didirikan diluar cekungan. Mungkin secara kasar bisa sja diambil orientasi arah ke Masjidil Haram, namun harap diingat bahwa menghadapkan arah bangunan ke Masjidil Haram tidak otomatis membuat masjid di sekitar Makkah tidak tepat menghadap ke Ka'bah.
  2. Untuk konteks kota Makkah, panduan arah ke Ka'bah dalam setting waktu seabad silam hanya bisa dilakukan dengan kompas magnetik. Penggunaan bayangan Matahari, atau yang lebih populer lagi seperti waktu Istiwa' Azzam (dimana Matahari tepat berada di atas Ka'bah), tidak bisa digunakan di Makkah karena justru pada saat itu kedudukan Matahari tepat berada di titik zenith dan tepat pada saat transit, sehingga bayangan yang dihasilkannya sangat sedikit atau malah tidak ada (ini mirip2 dengan bayangan Matahari yang menghilang pada saat equinoks 21 Maret dan 22 September tiap tahun di Pontianak).
  3. Jika menggunakan kompas magnetik, maka kompas terbaik sekalipun pada satu abad silam masih memiliki deklinasi magnetik -2 derajat terhadap true north berdasarkan World Magnetic Model punya NOAA. Artinya, sebagus-bagusnya kompas tersebut, maka arah yang ditunjukkannya masih melenceng sejauh minimal 2 derajat dari arah titik utara sejati. Jika kualitas kompasnya lebih rendah, tentu saja arah penyimpangannya akan lebih besar.
  4. Dengan tanah yang tersusun dari batuan beku, secara geologis Makkah banyak mengandung mineral besi, yang bagi kompas magnetik merupakan salah satu "musuh" karena kemampuannya membelokkan garis-garis gaya magnet Bumi sehingga akan ada tambahan penyimpangan terhadap deklinasi magnetik yang sudah ada.
  5. Yang juga jarang diperhitungkan, harus dicatat, setiap pengukuran (apapun instrumennya) selalu dihinggapi problem akurasi pengukuran. Dan dalam konteks pengukuran arah kiblat, makin mudah metodenya membawa implikasi pada makin kecilnya akurasi. Sehingga metode kompas magnetik, sebagai metod yang paling mudah, selalu memiliki akurasi lebih kecil. Metode bayangan Matahari yang sedikit lebih sulit, selalu memiliki akurasi +/- 0,5 derajat. Dan metode posisi bintang (metode tersulit), selalu memiliki akurasi terbesar. Memang fiqih menghendaki hasil yang seakurat mungkin, namun ilmu pengetahuan hanya sanggup menelurkan sejumlah metode dngan akurasinya masing-masing. Pada titik ini sebaiknya hal itu dipahami, terlebih lagi hal ini juga tidak melanggar kaidah ushul fiqih yang sudah ada.

Yang sudah saya dapatkan (secara sekilas) :
  1. Beberapa masjid bersejarah, seperti Masjid Qiblatain dan Masjid Quba (di Madinah), menunjukkan adanya selisih antara arah bangunan dengan arah kiblat dalam range 3 derajat jika dilihat dengan Qibla Locator. Ini memang musti diteliti lebih lanjut di lapangan, karena belum tentu penyimpangan itu real (mengingat citra satelit pun bisa memperlihatkan kesan seolah-olah menyimpang atau seolah-olah lurus, bergantung kepada sudut pemotretan citra). Kalopun itu real, simpangan 3 derajat jika dibandingkan dengan nilai deklinasi magnetik seabad lalu yang 2 derajat, menunjukkan arah bangunan masjid itu sudah mengarah ke kiblat dalam batas kesalahan pengukuran pada saat itu.
  2. Untuk masjid di sekitar Makkah seperti Masjid Namirah (di Padang Arafah), qibla locator menunjukkan simpangan 1 derajat. Demikian pula dengan Masjid al-Khaif di Mina (sebagai catatan, masjid Khaif ini merupakan masjid tertua ketiga di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa). Ini menunjukkan arah bangunan masjid sudah mengarah ke Ka'bah sesuai dengan batas kesalahan pengukuran saat itu. Sebagai pembanding, di Mina pula, ada masjid (baru) berupa Masjid al-Quwwaitin, yang dari bentuk bangunannya kelihatan baru saja dibangun, namun lewat qibla locator nampak jelas bahwa simpangannya sekitar 5 derajat.

Epilog :
Dalam konteks seabad silam, tentu saja kita tidak bisa mengait-ngaitkan pengukuran arah kiblat dengan berbasis GPS, mengingat teknologi ini baru muncul pada 1980-an dan baru digunakan secara luas di kalangan sipil sejak 1990-an, artinya baru 20an tahun berada di tangan kita. Dan posisi Makkah dapatlah diibaratkan seperti kutub utara dalam bola Bumi. Kita yang berada jauh dari kutub bisa saja dengan mudah menentukan arah menggunakan kompas, namun merek yang berada di lingkaran kutub tidaklah mungkin menggunakan kompas biasa sebagai pemandu arah. Demikian pula saudara2 kita di Makkah. Metode bayangan Matahari jelas sulit digunakan di sini, sementara kompas magnetik, dengan deklinasi magnetik saat ini + 2 derajat, juga tak kalah menyulitkannya. Dengan demikian memang dibutuhkan sebuah metode baru yang lebih cocok untuk daerah seperti Makkah dan sekitarnya ini.

Salam,


Ma'rufin


From: Ryan HS <mds.ryan@...>
To: t_djamal@...
Cc: Herry.Sudjono <herry@...>; Ahmad Fahmi Syahab <fahmisyahab@...>; djasld@...; r.zubir@...; achmad.muzamil@...; agus.rintoko@...; amahmud@...; amir.fisabilillah@...; dhani_darma@...; imanudin@...; mulyadi.bahar@...; nova@...; rafdianr@...; saidi@...; ruslan.kailani@...; chardo@...; abdulrahmanriza@...; fitri.apb@...; marufins@...
Sent: Wednesday, April 8, 2009 9:25:40 AM
Subject: Re: masjid saudi tak pas hadap kiblat?

Alaykummusalam...

Jumlah 200 saya fikir adalah sebuah kesalahan yang sangat terorganisir..

Kita harus kembali kemasa awal pembangunan 200 masjid tersebut baru bisa melakukan telaah ilmiah penyebab melencengnya arah kiblat.

apakah saat dibangun sudah ada gedung berlantai 30an kah disekitar ka'bah.. ataukah jarak pandang tidak terhalang sama sekali..

perhatikan kalimat salah seorang ulama saudi (wahaby) yang mengatakan tidak masalah melenceng kiblatnya.

Bukankah ini berbenturan dengan Hadith Rasulillah Saww ; " melenceng sedikit dari kiblat (visualisasi) maka sholatnya tidak akan pernah diterima"

ketika seseorang beamali syariat (Sholat) - Fundamental, dibutuhkan Ilmu yang ahsan tuk bisa memahami seluruh sendi Fiqh, bukan sekedar berkhusnudzon. Bila kesalahan hanya -5 masjid bisa saja pasal itu diberlakukan, namun dalam kesalahan 100 more, saya fikir ada yang salah dalam metode pengajaran fiqh di saudi.

Bandingkan dengan riwayat bahwa Rasul saww pernah melarang membangun gedung lebih tinggi, karena ada seorang sahabat yang membangun rumah lebih tinggi dari tetangganya dikarenakan menghalangi sirkulasi udara, lalu perhatikan bagaimana baitul haram 'terjepit' diantara gedung gedung.

Dari 200 masjid tersebut, kebanyakan adalah masjid tua yang mungkin kehadiran kompas atau pun gps belum ada, perhatikan juga bagaimana Nabawi dibangun, apakah pelencengan nabawi melebihi batas derajat kebolehan ataukah kurang dari batas tersebut...?

Semoga ada penjelasan ilmiyah dan bukan sekedar khusnudzon dalam pembangunan.

Kiranya manusia dilarang berqiyas dalam beribadah kepadaNYA AWJ... ijtihad adalah membuat syariat tandingan, Inilah pokok pembahasan dimana manusia bila telah meninggalkan Imam Zamannya maka hanya sikap 'berlaku nabi' pada diri mereka yang akan mereka ambil... (baca ijtihad) Sesiapa berijtihad dalam Syariat, maka bersiaplah mempertanggung jawabkan 'qiyas syariatnya' dimahkamah ALLAH AWJ...

Ijtihad dalam sosial kemasyarakatan sangat dianjurkan namun dalam hablum minallah tidak diperkenankan..

~ sekedar pendapat al faqir

Wasalam...


2009/4/7 T. Djamaluddin <t_djamal@...>
Assalamu'alaikum wr. wb.,

Sengaja dilencengkan? Tolong jangan berprasangka sebelum tahu apa yang
sesungguhnya menjadi penyebab dan apa yang sesungguhnya ada di dalam
masjid (arah kiblat di dalam masjid).
Teman-teman komunitas 'hisab-rukyat' mengupayakan untuk mensosialisasikan
arah kiblat yang benar tanpa prasangka. Kalau pun nyatanya terjadi
penyimpangan, kita yakini itu adalah 'ijtihad' para pendahulu yang
membangun masjid itu. Bisa jadi keterbatasan informasi dan ilmu
menyebabkan ketidaktepatan.

Apakah masjid haram terlihat dari jauh (secara horizontal, bukan dari atas
bangunan tinggi)? Belum tentu. Banyaknya bangunan di sekitar masjidil
haram menghalangi untuk menentukan arah yang benar. Jangan dikira mudah
menentukan arah jarak dekat seperti itu. Tanpa bantuan alat sulit
menentukan arahnya. Kita dari Indonesia mudah menghitung arah Mekkah lalu
kita bisa menentukan arah kiblat dengan menggunakan kompas (setelah
memasukkan koreksi penyimpangan magnetik) atau menggunakan azimut
matahari. Tetapi, di lingkungan dekat masjidil haram, arah matahari dan
kompas tidak mungkin digunakan, harus menggunakan pengamatan visual
(padahal sudah banyak penghalang). Dengan GPS? Mungkin, tetapi harus
diingat juga faktor kesalahannya bila menggunakan GPS single frequency.
Dengan google Earth juga bisa. Tetapi kita harus mengingat juga ketika
masjid-masjid itu dibangun, saya yakin alat bantu penentuan arah belum
mereka gunakan, hanya didasarkan pada "ijtihad" mereka, perkiraan arah.

Mari kita husnudzhan, berprasangka baik.

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

T. Djamal

******************************************************************
Hidup ini adalah perjuangan lahir batin dengan iman, ilmu dan amal.
Matahari telah terbit.
Hari ini adalah hari perjuangan dengan semangat baru.
Majulah! Majulah! Majulah!
******************************************************************
Dokumentasi T. Djamaluddin : http://t-djamaluddin.spaces.live.com/
******************************************************************

On Tue, April 7, 2009 12:39 pm, Ryan HS wrote:
> Keyakinan akan posisi Kiblat (kabah) tidak bisa disandarkan pada hati
> saja,
> bila secara visual terlihat Kiblat dan di ketahui Arah pasti,
> pembangunannya
> harus menuju kesana.
>
> Sungguh menggelikan, masjid masjid yang dibangun di sekitar kabah ternyata
> arahnya sengaja di lencengkan demi estetika dan di kaburkan dengan
> pemahaman
> arah didalam yang menuju kiblat. sebuah keanehan yang sangat dipaksakan
> masuk akal.
>
> kecuali orang orang perancang masjid disana bahlul dan tidak faham arah
> kiblat alasan pelencengan bolehlah dipaksakan kepada para alim.
>
> Masjid adalah salah satu tempat syiar sebagai fungsi luasnya, bila secara
> zahir dia telah 'dilencengkan' dari Kiblat yang asli maka boleh jadi
> syiarnya pun 'penuh pelencengan'
>
> hatta didalamnya dikatakan 'diarahkan' ke kiblat, apakah orang non muslim
> yang hanya boleh melihat dari luar masjid saja diharuskan masuk masjid tuk
> di tularkan ilmu islam tentang arah kiblat..?
>
> weis salah ga mau ngaku lalu mencari pembenaran...
> typical manusia....
>
> 2009/4/7 Herry.Sudjono <herry@...>
>
>>
>> ------------------------------
>> *From:* T. Djamaluddin <t_djamal@...>
>> *To:* Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
>> ***Sent:* Monday, April 6, 2009 10:41:27 AM
>> *Subject:* Re: Fw:200 Masjid di Makkah Tidak Menghadap Kiblat
>>
>> Assalamu'alaikum wr. wb.,
>>
>> Ibadah itu didasarkan pada keyakinan. Saat masjid itu dibangun,
>> orang-orang yakin (berdasarkan pengetahuan saat itu) bahwa arahnya benar
>> ke masjidil haram. Kalau sampai saat ini pun mereka masih yakin, ibadah
>> orang yang shalat di sana tetap sah. Kalau sudah tahu arahnya
>> menyimpang,
>> mereka tetap pada kesalahannya, baru dikatakan ridak sah.
>>
>> Arah mihrab yang disimpulkan dari bangunan fisik belum tentu menunjukkan
>> salahnya arah kiblat. Bisa jadi, sebagian mereka sudah mengubah arah
>> kiblat di dalamnya dengan merevisi garis saf. Hal yang mirip pernah saya
>> lihat di Bukittinggi. Ada teman menyampaikan kepada saya bahwa masjid di
>> dekat pasar bawah (bila dilihat dari pasar atas) arahnya menyimpang dari
>> masjid dekat pasar atas. Saat berkunjung ke sama, arahnya saya ukur.
>> Benar, arah bangunan masjidnya menyimpang. Tetapi ketika saya cek ke
>> dalam, garis safnya telah diubah menyesuaikan arah kiblat yang benar.
>>
>> Jadi, jangan cepat-cepat menyimpulkan arah kiblat keliru dari melihat
>> bentuk bangunan fisiknya. Dan hal yang penting juga, jangan sampai
>> menganggap tidak sah orang yang shalat di sana, tanpa mendengarkan
>> keyakinan mereka.
>>
>> Wassalamu'alaikum wr. wb.,
>>
>> T. Djamal
>>
>>
>>
>> ----- Original Message -----
>> R. J. Fitri (APB) <fitri@...> ; rara.dewi@...
>> *Sent:* Monday, April 06, 2009 2:07 PM
>> *Subject:* masjid saudi tak pas hadap kiblat?
>>
>>
>>
>>
>
>
> --
> Muta'allim ala Sabili al Najat
>





--
Muta'allim ala Sabili al Najat


#847 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Apr 15, 2009 3:18 am
Subject: Re: Ancaman Bencana Akibat Badai Matahari pada 2012
marufins
Send Email Send Email
 
Yup. Ini badai geomagnet yang menghasilkan arus listrik induksi eksesif hingga ribuan ampere pada sistem interkoneksi kelistrikan Ontario Hydro, sehingga menyebabkan sejumlah trafo mereka terbakar dan akhibatnya ya oglangan deh (blackout) selama 9 jam itu. Guncangan magnetik badai sekitar seperempat Carrington event, alias di sekitar 400 nT.

Selain itu, badai Matahari lain yang masuk ke dalam catatan ada pada Januari 1994, yang merusak 2 satelit komunikasi Anik milik Canada akibat digempur elektron-elektron energetik dari Matahari. Satu satelit bisa pulih dalam beberapa jam, namun satelit lainnya baru terpulihkan 6 bulan kemudian. Total kerugian akibat lumpuhnya satelit ini disebut mencapai US $ 50 - 70 juta. Patut juga dicatat badai Matahari Januari 2005, yang berpotensi mengakibatkan blackout di frekuensi HF radio pesawat, sehingga penerbangan United Airlines 26 terpaksa dialihkan menghindari rute polar (kutub) yang biasa dilaluinya. Demikian juga badai Matahari Oktober - November 2003 yang mengganggu kinerja instrumen WAAS berbasis GPS milik otoritas penerbangan AS (FAA) selama 30 jam.

Sepakat dengan mas Tri, badai geomagnet ini akan lebih banyak diderita penduduk Bumi yang dekat2 lingkar kutub seperti AS, Canada, dan Eropa. Untuk prediksi event 2012 itu, pada Mei 2008 silam Dewan Riset Nasional-nya AS telah menyelenggarakan workshop di Washington DC dan dari sanalah muncul istilah populer "Katrina space weather", yang kemudian banyak disalahartikan itu. Workshop ini menyebut adanya potensi blackout kelistrikan di AS dimana lebih dari 350 trafo listrik diperkirakan akan menderita kerusakan permanen yang membuat 130 juta orang akan hidup dalam kegelapan selama beberapa waktu, dengan asumsi badai Matahari-nya sebesar Carrington event 1859. Potensi kerugian yang akan diderita diperkirakan sebesar US $ 1 - 2 trilyun dengan waktu pemulihan mencapai 4 - 10 tahun. Ini hanya di AS dan bisa dipahami mengingat listrik sangat vital di sini. Untuk mengantisipasinya telah diusulkan pembentukan jaringan sistem peringatan dini yang mengintegrasikan satelit2 seperti ACE, SOHO dan STEREO milik NASA, GOES dan POES milik NOAA serta penambahan jaringan magnetometer di Bumi dalam jejaring milik USAF. sistem peringatan dini ini diharapkan bisa memberitahukan potensi badai secara cepat (mengingat partikel2 yang diproduksi badai Matahari baru nyampe di Bumi dalam 1 - 2 hari) sehingga bisa dilakukan tindakan2 yang dirasa perlu. Sistem ini membutuhkan dana US $ 6 - 7 juta per tahun. Namun bagaimana kelanjutan usulan ini, belum jelas, terutama setelah masa kepemimpinan Barrack Obama.

Untuk Indonesia, antisipasi badai Matahari itu juga sudah dilakukan Kantor Menristek. Dan secara umum bisa dikatakan, dengan posisi di wilayah ekuator, dampak badai Matahari di Indonesia (andaikata sekuat Carrington event 1859) akan jauh lebih kecil ketimbang yang diderita negara2 dekat lingkar kutub.

Badai Matahari sebenarnya merupakan arus partikel bermuatan yang energetik sehingga bisa menghasilkan arus listrik induksi geomagnet yang mengganggu jaringan kelistrikan dan komunikasi (khususnya komunikasi wireless) di Bumi. Alhamdulillahnya Bumi kita masih punya medan magnet yang cukup kuat, sehingga badai Matahari sedahsyat Carrington event pun belum sanggup menciptakan gangguan atmosferik. Beda dengan Venus. Simulasinya pak Bambang Setiahadi dari Observatorium Matahari Watukosek menunjukkan badai Matahari akan menaikkan suhu atmosfer Venus secara cepat hingga 150 derajat Celcius dari semula. Kenaikan suhu sebesar ini tentunya sudah cukup mampu untuk menghasilkan dinamika atmosferik tak terprediksi di Venus seperti badai tropis ataupun sebangsanya.

Jadi, gak perlu khawatir badai Matahari akan menimbulkan rangkaian badai2 tropis di Bumi. Apalagi mengaitkannya dengan aktivitas Yellowstone Caldera (yang disebut-sebut sebagai supervulkan yang akan bangkit dari tidurnya itu), atau terbelahnya Afrika oleh rentetan gempa, ataupun dengan jatuhnya asteroid raksasa dari langit, seperti yang ditulis Lawrence E Joseph itu (yang bukunya "Kiamat 2012 : Investigasi Akhir Zaman" menjadi dasar penulisan artikel di Kompas itu). Itu "jauh panggang dari api"

Salam,


Ma'rufin



From: Tri Laksmana <trilaksmana@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, April 14, 2009 9:06:37 PM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Re: Ancaman Bencana Akibat Badai Matahari pada 2012

Yang lebih baru lagi adalah badai geomagnetik pada tanggal 13 Maret 1989. Badai geomagnetik ini disebabkan karena adanya Lontaran Massa Koronal (CME, Coronal Mass Ejection) empat hari sebelumnya dari Matahari. Badai pada waktu itu cukup dahsyat dan menyebabkan mati listrik selama 9 jam di seluruh Quebec, Kanada. Bahkan ada terjadi aurora hingga ke Texas.

Seperti sudah beberapa kali disinggung di milis ini, kalaupun badai geomagnetik dahsyat menimpa Bumi, yang harus waspada adalah negara-negara yang paling dekat dengan kutub magnetik Bumi, e.g. negara-negara di Bumi bagian Utara dan Selatan.

Manusia tidak sampai tergoreng kok kalau ada badai semacam ini. Yang akan terganggu adalah pembangkit listrik dan fasilitas komunikasi dan navigasi.

Salam,
-tri-

2009/4/14 Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>


"Bencana akibat Badai Matahari 2012" ini juga cenderung menyesatkan jika dibaca apa adanya begitu saja. Aliran partikel2 dari Matahari merupakan partikel bermuatan, sehingga sudah barang tentu ia masih bisa dibelokkan oleh medan magnet Bumi. Sehingga janganlah dibayangkan ia akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat yang menyapu permukaan Bumi seperti layaknya badai Katrina 2005. Itu cerita yang terlalu dilebih-lebihkan. Apalagi jika kemudian dikait-kaitkan dengan bakal melonjaknya frekuensi kegempaan di dunia, ataupun bangkitnya supervulkan. Itu jauh panggang dari api. Sejauh ini belum ada hubungan empirik yang valid dan reliabel tentang kaitan badai Matahari dengan semua itu.

Jika ingin tahu pengaruh kedahsyatan badai Matahari pada Bumi, lihatlah Carrington event 1859. Badai Matahari yang menghasilkan guncangan magnetik hingga 1.600 nT ini idak berdampak apa2 pada kesehatan manusia Bumi. Ia hanya berdampak pada padamnya sistem telekomunikasi telegraf di AS dan Eropa serta terlihatnya cahaya kutub (aurora) hingga region latitude 8 derajat LS.

Problem utama badai Matahari terhadap Bumi di masa kini lebih pada kemungkinan terganggunya sistem telekomunikasi dan kelistrikan. Itulah yang pernah diperbincangkan di AS dan telah disiapkan sejumlah rencana untuk mengantisipasinya. Namun andaikata satelit2 pada mati, telpon2 terganggu semua dan gardu2 listrik pada kebakar, manusia tetap bisa hidup bukan ? Lha wong nenek moyang kita dulu juga seperti itu..

Salam,


Ma'rufin




#848 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Apr 16, 2009 2:40 pm
Subject: Fw: Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake
marufins
Send Email Send Email
 
Luar biasa, gambaran bagaimana Bumi bergetar ketika gelombang gempa sedang menjalar dalam gempa L'Aquila 6,3 skala magnitudo lalu. Gempa yang sama kuatnya dengan yang merontokkan Bantul dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 silam dan menelan korban jiwa jauh lebih besar, lebih dari 6.000 jiwa.

Jika diambil sebagai analogi, mungkin saat itu Bantul dan sekitarnya juga bergetar dengan pola seperti ini. Eh nggak terasa gempa-nya sudah hampir tiga tahun berlalu, tapi bekasnya dan lukanya masih tersisa dimana-mana

Salam,


Ma'rufin

----- Forwarded Message ----



An Envisat Advanced Synthetic Aperture Radar (ASAR) interferogram over the L'Aquila area in central Italy showing the deformation pattern caused by the seismic events in early April 2009. This interferogram was generated by Italy's Istituto per il Rilevamento Elettromagnetico dell' Ambiente (IREA-CNR) in Naples, Italy just a few hours after Envisat's acquisition on 12 April 2009. It combines that acquisition with a pre-seismic acquisition on 1 February 2009, with an estimated baseline (separation between the two Envisat orbital positions) of about 154 m. The satellite's right-looking angle is 23 degrees. Each fringe of the interferogram, corresponding to a colour cycle, is equivalent to an Earth surface displacement of 2.8 cm along the satellite direction. (Credit: IREA-C

Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake

ScienceDaily (Apr. 15, 2009) — Studying satellite radar data from ESA’s Envisat and the Italian Space Agency’s COSMO-SkyMed, scientists have begun analysing the movement of Earth during and after the 6.3 earthquake that shook the medieval town of L’Aquila in central Italy on 6 April 2009.

Scientists from Italy’s Istituto per il Rilevamento Elettromagnetico dell’ Ambiente (IREA-CNR) and the Istituto Nazionale di Geofisica e Vulcanologia (INGV) are studying Synthetic Aperture Radar (SAR) data from these satellites to map surface deformations after the earthquake and the numerous aftershocks that have followed.  

The scientists are using a technique known as SAR Interferometry (InSAR), a sophisticated version of 'spot the difference'. InSAR involves combining two or more radar images of the same ground location in such a way that very precise measurements – down to a scale of a few millimetres – can be made of any ground motion taking place between image acquisitions.

The InSAR technique merges data acquired before and after the earthquake to generate 'interferogram' images that appear as rainbow-coloured interference patterns. A complete set of coloured bands, called ‘fringes’, represents ground movement relative to the spacecraft of half a wavelength, which is 2.8 cm in the case of Envisat's ASAR.

The first Envisat data, acquired after the earthquake on 12 April, were made immediately available to the scientists.

"We produced an interferogram just a few hours after the Envisat acquisition by combining these data with data acquired before the earthquake on 1 February. We were pleased that we were able to immediately see the pattern of the earthquake," said Riccardo Lanari of IREA-CNR in Naples, Italy.

The Envisat interferogram, as explained by Stefano Salvi from INGV’s Earthquake Remote Sensing Group, shows nine fringes surrounding a maximum displacement area located midway between L’Aquila and Fossa, where the ground moved as much as 25 cm (along a line between the satellite’s orbital position and the earthquake area).

"By using available 3D ground displacements from five GPS location sites around the affected area, we were able to confirm the preliminary results obtained with Envisat data," Salvi said. 

The COSMO-SkyMed constellation, which is currently made up of three satellites, allows for frequent data. This means new interferograms can be calculated every few days.

The COSMO-SkyMed data together with the Envisat data and possibly SAR data from other satellites will ensure a dense sampling of the ground deformation around the L’Aquila area in the next months, which could make this earthquake one of the most covered by SAR Interferometry measurements.

To ensure all scientists are able to contribute to the analysis of the earthquake, ESA is making its Earth observation dataset collected over the L’Aquila area freely accessible with an innovative fast data download mechanism. The dataset will be continuously updated with the newest Envisat acquisitions.


Adapted from materials provided by European Space Agency.

European Space Agency. "Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake." ScienceDaily 15 April 2009. 16 April 2009 <http://www.sciencedaily.com­ /releases/2009/ 04/090415120121. htm>.
--
(Gars O'Higgins Station penguins)
http://wiinterrr. blogspot. com/
http://penguinnewst oday.blogspot. com/
http://penguinology .blogspot. com/
(Jackson, TN wx blog)
http://wiinterrrswx .blogspot. com/
>^,,^<  


#849 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri Apr 17, 2009 4:15 am
Subject: Re: Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake
marufins
Send Email Send Email
 
Wah asyik tenan tadabbur alam di atas formasi Nglanggran. Saya pernah punya pengalaman hampir sama, zaman masih kinyis2, di bukit yang bersebelahan dengan bukit Syeh Bela Belu Parangkusumo. Ngambil air wudlu-nya di bawah, kemudian shalatnya di puncak. Exciting, meski setelah itu hujan deras dan berpetir.

Yup, memang sebaiknya dipandang secara positif. Masa2 pemulihan dan duka sudah usai, dan bergerak ke masa depan yang lebih baik. Sebab banyak yang musti dilakukan, at least ketika kita tahu bahwa gempa yang sama, dalam magnitude yang sama, juga tetep berpotensi akan terjadi dan terulang kembali di masa depan, entah kapanpun waktunya. Tetep optimis menatap, meski memang dalam urusan mitigasi bencana, yang disukai tetaplah pendekatan model pesimistik, yang memunculkan diri dalam skenario kebencanaan dengan berbasis worst case scenario.

Hampir semua jejak gempa mBantul pada benda2 cagar budaya di sana sudah direstorasi, saya kira. Masjid Gede Kotagede sudah dibetulin soko gurunya yang mlintir itu. Makam Pajimatan Imogiri juga sudah direstorasi. Beberapa mesjkid bersejarah (yang tergolong pathok negari) seperti di dekat tempuran Sungai Opak dan Oya itu juga sudah diperbaiki. Demikian pula Prambanan. Satu hal yang cukup mengagumkan bahwa semua itu terjadi dalam tempo yang tergologn singkat (hanya 3 tahun). Kalo pola kehidupan masyarakatnya, saya kira pak Agus lebih tahu tentang ini.

Akhir kata, dari semua ini, semoga Indonesia bisa belajar dari Yogya bagaimana cara menanganibencana.

Salam,


Ma'rufin


From: Hendratno Agus <agushendratno@...>
To: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Cc: Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@...>; Dirmawan <lik_dir@...>; wahyu budi <wahyubudisetyawan@...>; Riyan Triyono <triyono_dkp@...>; Iffah <a.iffah@...>; Jogja Astroclub <jogja_astroclub@yahoogroups.com>; Rukyat <rukyatulhilal@yahoogroups.com>; Peduli Bencana <pedulibencana@yahoogroups.com>; Fisika <fisika_indonesia@yahoogroups.com>; Shalahuddin <shalahuddinugm@yahoogroups.com>
Sent: Friday, April 17, 2009 9:43:55 AM
Subject: Re: Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake

yaa..ruarrr biasa..., "tidaklah aku ciptakan semua ini dengan sia-sia....", memang tangkapan interferogram bisa ditangkap secara instan pada saat quake itu menghajar bagian dari kerak bumi...,
tapi kalau bekas dan sisa-sisa dari sisi keilmuan yang related dengan fenomena tsb ya jelas masih ada..., tapi dari sisi sosial dan humanioranya sepertinya mulai menurun (lihatlah dari cara pandang positip). Tadi malam, saya berkumpul dengan komunitas budaya dan masyarakat ndeso di Selopamioro (Imogiri) yang kumpul budaya dari jam 21.00-00.00 untuk dialog dengan Sang Khaliq di atas Formasi Nglanggran nun jauh di atas bukit breksi volkanik di perbukitan Imogiri (rumah-rumah di pereng-pereng bukit yang menurutku juga rawan runtuh, toch tetap adem ayem...), dalam suasana padang mbulan, cerah, dan ratusan masyarakat ndeso di sekitarnya, juga para profesi dan budayawan jogja, tumplek bleg menunjukkan antusias yang tinggi bahwa kejadian gempa bantul yang juga merusakkan sendi-sendi budaya di Imogiri lambat laut mulai dilupakan dan bangkit melihat masa depan yang lebih baik. Lha tenan je...

salam, gus hend


From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
To: Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@...>; Agus Hendratno MT <agushendratno@...>; Dirmawan <lik_dir@...>; wahyu budi <wahyubudisetyawan@...>; Riyan Triyono <triyono_dkp@...>; Iffah <a.iffah@...>
Cc: Jogja Astroclub <jogja_astroclub@yahoogroups.com>; Rukyat <rukyatulhilal@yahoogroups.com>; Peduli Bencana <pedulibencana@yahoogroups.com>; Fisika <fisika_indonesia@yahoogroups.com>; Shalahuddin <shalahuddinugm@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, April 16, 2009 9:40:27 PM
Subject: Fw: Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake

Luar biasa, gambaran bagaimana Bumi bergetar ketika gelombang gempa sedang menjalar dalam gempa L'Aquila 6,3 skala magnitudo lalu. Gempa yang sama kuatnya dengan yang merontokkan Bantul dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 silam dan menelan korban jiwa jauh lebih besar, lebih dari 6.000 jiwa.

Jika diambil sebagai analogi, mungkin saat itu Bantul dan sekitarnya juga bergetar dengan pola seperti ini. Eh nggak terasa gempa-nya sudah hampir tiga tahun berlalu, tapi bekasnya dan lukanya masih tersisa dimana-mana

Salam,


Ma'rufin

----- Forwarded Message ----



An Envisat Advanced Synthetic Aperture Radar (ASAR) interferogram over the L'Aquila area in central Italy showing the deformation pattern caused by the seismic events in early April 2009. This interferogram was generated by Italy's Istituto per il Rilevamento Elettromagnetico dell' Ambiente (IREA-CNR) in Naples, Italy just a few hours after Envisat's acquisition on 12 April 2009. It combines that acquisition with a pre-seismic acquisition on 1 February 2009, with an estimated baseline (separation between the two Envisat orbital positions) of about 154 m. The satellite's right-looking angle is 23 degrees. Each fringe of the interferogram, corresponding to a colour cycle, is equivalent to an Earth surface displacement of 2.8 cm along the satellite direction. (Credit: IREA-C

Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake

ScienceDaily (Apr. 15, 2009) — Studying satellite radar data from ESA’s Envisat and the Italian Space Agency’s COSMO-SkyMed, scientists have begun analysing the movement of Earth during and after the 6.3 earthquake that shook the medieval town of L’Aquila in central Italy on 6 April 2009.

Scientists from Italy’s Istituto per il Rilevamento Elettromagnetico dell’ Ambiente (IREA-CNR) and the Istituto Nazionale di Geofisica e Vulcanologia (INGV) are studying Synthetic Aperture Radar (SAR) data from these satellites to map surface deformations after the earthquake and the numerous aftershocks that have followed.  

The scientists are using a technique known as SAR Interferometry (InSAR), a sophisticated version of 'spot the difference'. InSAR involves combining two or more radar images of the same ground location in such a way that very precise measurements – down to a scale of a few millimetres – can be made of any ground motion taking place between image acquisitions.

The InSAR technique merges data acquired before and after the earthquake to generate 'interferogram' images that appear as rainbow-coloured interference patterns. A complete set of coloured bands, called ‘fringes’, represents ground movement relative to the spacecraft of half a wavelength, which is 2.8 cm in the case of Envisat's ASAR.

The first Envisat data, acquired after the earthquake on 12 April, were made immediately available to the scientists.

"We produced an interferogram just a few hours after the Envisat acquisition by combining these data with data acquired before the earthquake on 1 February. We were pleased that we were able to immediately see the pattern of the earthquake," said Riccardo Lanari of IREA-CNR in Naples, Italy.

The Envisat interferogram, as explained by Stefano Salvi from INGV’s Earthquake Remote Sensing Group, shows nine fringes surrounding a maximum displacement area located midway between L’Aquila and Fossa, where the ground moved as much as 25 cm (along a line between the satellite’s orbital position and the earthquake area).

"By using available 3D ground displacements from five GPS location sites around the affected area, we were able to confirm the preliminary results obtained with Envisat data," Salvi said. 

The COSMO-SkyMed constellation, which is currently made up of three satellites, allows for frequent data. This means new interferograms can be calculated every few days.

The COSMO-SkyMed data together with the Envisat data and possibly SAR data from other satellites will ensure a dense sampling of the ground deformation around the L’Aquila area in the next months, which could make this earthquake one of the most covered by SAR Interferometry measurements.

To ensure all scientists are able to contribute to the analysis of the earthquake, ESA is making its Earth observation dataset collected over the L’Aquila area freely accessible with an innovative fast data download mechanism. The dataset will be continuously updated with the newest Envisat acquisitions.


Adapted from materials provided by European Space Agency.

European Space Agency. "Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake." ScienceDaily 15 April 2009. 16 April 2009 <http://www.sciencedaily.com­ /releases/2009/ 04/090415120121. htm>.
--
(Gars O'Higgins Station penguins)
http://wiinterrr. blogspot. com/
http://penguinnewst oday.blogspot. com/
http://penguinology .blogspot. com/
(Jackson, TN wx blog)
http://wiinterrrswx .blogspot.. com/
>^,,^<  




#850 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri Apr 17, 2009 4:22 am
Subject: Re: Fw: Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake
marufins
Send Email Send Email
 
Yup, sangat jarang ada yang real time kayak gini. Mungkin Indonesia, at least BMKG atau LAPAN yang punya kewenangan ngurusin langit, musti mulai memikirkan bagaimana juga jika menggunakan satelit ataupun pesawat terbang (dengan SAR interferometer-nya) sebagai bagian dari mitigasi bencana disamping terus memantapkan jaringan seismometer hingga densitasnya menjadi lebih besar (baca : lebioh rapat).

Durasi gempa di mBantul itu 1 menit nggih, kalo ndak salah, karena pantulan2 gelombang pada sedimen muda Merapi yang mendasari Bantul. Normalnya gempa Mw 6,3 hanya berdurasi 20-an detik. Saya ndak tahu dengan durasi di L'Aquila, mungkin ada informasinya ?  Orang2 bilang, selain durasinya yang diduga lebih pendek, L'Aquila berdiri di atas kompleks batuan melange sehingga mungkin getarannya lebih teredam sehingga menghasilkan intensitas guncangan lebih kecil ketimbang mBantul.

Ndak terasa sudah hampir tiga tahun...

Salam,


Ma'rufin


From: Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@...>
To: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Cc: Agus Hendratno MT <agushendratno@...>; Dirmawan <lik_dir@...>; wahyu budi <wahyubudisetyawan@...>; Riyan Triyono <triyono_dkp@...>; Iffah <a.iffah@...>; Jogja Astroclub <jogja_astroclub@yahoogroups.com>; Rukyat <rukyatulhilal@yahoogroups.com>; Peduli Bencana <pedulibencana@yahoogroups.com>; Fisika <fisika_indonesia@yahoogroups.com>; Shalahuddin <shalahuddinugm@yahoogroups.com>
Sent: Friday, April 17, 2009 8:14:55 AM
Subject: Re: Fw: Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake

Menarik gambar olahan dijital saat gempa dari satelite ini.
Btw, kalau dibanding yg di Jogja ya mestinya lebih merusak gempa
mBantul. Polanya aku rasa lebih ruwet dan durasinya lebih lama, karena
ada bouncing atau pantulan-pantulan getaran karena Jogja berada diatas
endapan merapi muda.
Sedangkan jumlah korban di mBantul juga lebih banyak karena 'building
condition' serta kepadatan yang berbeda dng daerah itali.

Salam

RDP

On Thu, Apr 16, 2009 at 10:40 PM, Ma'rufin Sudibyo <marufins@...> wrote:
> Luar biasa, gambaran bagaimana Bumi bergetar ketika gelombang gempa sedang
> menjalar dalam gempa L'Aquila 6,3 skala magnitudo lalu. Gempa yang sama
> kuatnya dengan yang merontokkan Bantul dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 silam
> dan menelan korban jiwa jauh lebih besar, lebih dari 6.000 jiwa.
>
> Jika diambil sebagai analogi, mungkin saat itu Bantul dan sekitarnya juga
> bergetar dengan pola seperti ini. Eh nggak terasa gempa-nya sudah hampir
> tiga tahun berlalu, tapi bekasnya dan lukanya masih tersisa dimana-mana
>
> Salam,
>
>
> Ma'rufin
>
> ----- Forwarded Message ----
>
>
>
>
>
> An Envisat Advanced Synthetic Aperture Radar (ASAR) interferogram over the
> L'Aquila area in central Italy showing the deformation pattern caused by the
> seismic events in early April 2009. This interferogram was generated by
> Italy's Istituto per il Rilevamento Elettromagnetico dell' Ambiente
> (IREA-CNR) in Naples, Italy just a few hours after Envisat's acquisition on
> 12 April 2009. It combines that acquisition with a pre-seismic acquisition
> on 1 February 2009, with an estimated baseline (separation between the two
> Envisat orbital positions) of about 154 m. The satellite's right-looking
> angle is 23 degrees. Each fringe of the interferogram, corresponding to a
> colour cycle, is equivalent to an Earth surface displacement of 2.8 cm along
> the satellite direction. (Credit: IREA-C
>
> Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake
>
> ScienceDaily (Apr. 15, 2009) — Studying satellite radar data from ESA’s
> Envisat and the Italian Space Agency’s COSMO-SkyMed, scientists have begun
> analysing the movement of Earth during and after the 6.3 earthquake that
> shook the medieval town of L’Aquila in central Italy on 6 April 2009.
>
> Scientists from Italy’s Istituto per il Rilevamento Elettromagnetico dell’
> Ambiente (IREA-CNR) and the Istituto Nazionale di Geofisica e Vulcanologia
> (INGV) are studying Synthetic Aperture Radar (SAR) data from these
> satellites to map surface deformations after the earthquake and the numerous
> aftershocks that have followed.
>
> The scientists are using a technique known as SAR Interferometry (InSAR), a
> sophisticated version of 'spot the difference'. InSAR involves combining two
> or more radar images of the same ground location in such a way that very
> precise measurements – down to a scale of a few millimetres – can be made of
> any ground motion taking place between image acquisitions.
>
> The InSAR technique merges data acquired before and after the earthquake to
> generate 'interferogram' images that appear as rainbow-coloured interference
> patterns. A complete set of coloured bands, called ‘fringes’, represents
> ground movement relative to the spacecraft of half a wavelength, which is
> 2.8 cm in the case of Envisat's ASAR.
>
> The first Envisat data, acquired after the earthquake on 12 April, were made
> immediately available to the scientists.
>
> "We produced an interferogram just a few hours after the Envisat acquisition
> by combining these data with data acquired before the earthquake on 1
> February. We were pleased that we were able to immediately see the pattern
> of the earthquake," said Riccardo Lanari of IREA-CNR in Naples, Italy.
>
> The Envisat interferogram, as explained by Stefano Salvi from INGV’s
> Earthquake Remote Sensing Group, shows nine fringes surrounding a maximum
> displacement area located midway between L’Aquila and Fossa, where the
> ground moved as much as 25 cm (along a line between the satellite’s orbital
> position and the earthquake area).
>
> "By using available 3D ground displacements from five GPS location sites
> around the affected area, we were able to confirm the preliminary results
> obtained with Envisat data," Salvi said.
>
> The COSMO-SkyMed constellation, which is currently made up of three
> satellites, allows for frequent data. This means new interferograms can be
> calculated every few days.
>
> The COSMO-SkyMed data together with the Envisat data and possibly SAR data
> from other satellites will ensure a dense sampling of the ground deformation
> around the L’Aquila area in the next months, which could make this
> earthquake one of the most covered by SAR Interferometry measurements.
>
> To ensure all scientists are able to contribute to the analysis of the
> earthquake, ESA is making its Earth observation dataset collected over the
> L’Aquila area freely accessible with an innovative fast data download
> mechanism. The dataset will be continuously updated with the newest Envisat
> acquisitions.
>
> ________________________________
> Adapted from materials provided by European Space Agency.
> European Space Agency. "Satellites Show How Earth Moved During Italy Quake."
> ScienceDaily 15 April 2009. 16 April 2009 <http://www.sciencedaily.com­
> /releases/2009/ 04/090415120121. htm>.
> --
> (Gars O'Higgins Station penguins)
> http://wiinterrr. blogspot. com/
> http://penguinnewst oday.blogspot. com/
> http://penguinology .blogspot. com/
> (Jackson, TN wx blog)
> http://wiinterrrswx .blogspot. com/
>>^,,^<
>
>



--
Dongeng anget :
http://rovicky.wordpress.com/2009/04/11/skenario-pilpres-2009/


#851 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri Apr 17, 2009 4:45 am
Subject: Re: [shalahuddinugm] Makkah
marufins
Send Email Send Email
 
Yup, memang situasi itu hanya terjadi pada musim dingin. Makkah itu terletak tidak jauh dari Garis Balik Utara alias Tropic of Cancer (garis lintang 23 derajat 26 menit 22 detik busur LU), sekitar 200 km di sebelah selatannya, sehingga memang akan mengalami efek yang mengagumkan saat menyaksikan pergerakan semu Matahari telah mencapai garis balik selatan (garis lintang 23 derajat 26 menit 22 detik busur LS) yang terjadi setiap 22 Desember itu.

Singkatnya, pada 22 Desember itu dan hari2 disekitarnya, Makkah akan melihat Matahari hanya memiliki ketinggian maksimum sekitar 45 derajat dari horizon selatan ketika transit terjadi (transit = kondisi saat bayangan dari sinar Matahari tepat mengarah ke utara - selatan sejati). Ini memang beda jika misalnya kita bandingkan dengan situasi di Indonesia, yang terletak di daerah lintang rendah. Jawa misalnya, pada 22 Desember itu masih melihat Matahari setinggi 60an derajat saat transit, sementara pada kondisi sebaliknya (ketika Matahari masih di garis balik utara, yakni pada 21 Juni) ketinggian Matahari80an derajat saat transit.

Kembali ke Makkah. Pada Desember itu, Makkah melihat Matahari terbit di horizon tenggara dan terbenam di horizon barat daya. Jadi tidak tepat arah timur - barat. Jika saat Matahari terbit anda menghadap ke arah Matahari, tentu saja bayangan Matahari akan jatuh di belakang anda. Dan jika posisi ini dipertahankan, maka pada saat terbenam bayangan Matahari jelas akan berada di sisi kiri anda. Ilustrasinya bisa dinumerasikan begini. Ketika Matahari terbit, anda menghadap ke azimuth (katakanlah) 135 derajat, yang berarti melihat ke tenggara. Sehingga bayangan Matahari saat terbit akan jatuh ke azimuth yang berlawanan, yakni ke azimuth 315 derajat alias ke barat laut. Sementara saat terbenam (anggap Matahari terbenam di azimuth 225 derajat atau di sebelah barat daya), bayangannya akan jatuh di azimuth 45 derajat atau mengarah ke timur laut. Dengan posisi anda tetap menghadap ke azimuth 135 derajat, maka jelas terlihat bahwa ada selisih sebesar 90 derajat (tegak lurus) antara anda dan bayangan Mataharisaat terbenam, dimana bayangan Matahari tepat berada di sebelah kiri anda.

Saya ada ilustrasinya, tapi nanti nggih dikirim, buru2 mau Jumatan.

Salam,

Ma'rufin

From: Rinaldo Hasibuan <aldomination@...>
To: shalahuddinugm@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, April 15, 2009 5:23:22 PM
Subject: [shalahuddinugm] Makkah

Jadi ingat waktu di mekkah desember kemarin, ada yang aneh dengan matahari disana,

karena sepanjang hari (walaupun jam 12 tepat) matahari tidak pernah berada tegak lurus diatas kepala, mulai jam 11 siang bayangan akan semakin memendek tapi ketika melewati jam 12 sampai jam 2 siang, ia tidak memendek lagi tapi memutar.

dan arahnya mungkin tidak tepat dari timur ke barat, misalnya kita berdiri di suatu tempat yang terbuka, saat pagi hari matahari terbit, bayangan ada di belakang kita, tapi saat sore hari bayangan akan berbelok ke sebelah kiri kita, bukannya didepan kita.

mungkin kang ma'rufin bisa jelasin nih, masih penasaran kok bisa gitu. Saat itu di mekkah musim dingin, mungkin karena itu ya.




#852 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Apr 22, 2009 1:40 am
Subject: (INFO) Bersiap untuk Pengamatan Hilaal Tua dan Hilaal Jumadil Ula 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum wrw

Sekedar mengingatkan saja, bahwa konjungsi Bulan - Matahari akan terjadi pada 25 April 2009 pukul 10:23 WIB besok. Dan berikut disampaikan prediksi bentuk dan posisi hilaal (dimana posisi hilaal dinyatakan berdasarkan algoritma Jean Meeus) pada kondisi hilaal dan hilaal tua :

Hilaal tua Rabiuts Tsani 1430 H
Potensi terlihat pada pagi hari (sebelum Matahari terbit) di hari Jumat 24 April 2009, dengan umur Bulan 28,65 jam sebelum konjungsi.

Hilaal Jumadil Ula (Jumadil Awal) 1430 H

Potensi terlihat pada senja hari (setelah Matahari terbenam) di hari Minggu 26 April 2009, dengan umur Bulan 31,1 jam pasca konjungsi.

Dalam lampiran ini (lewat spreadsheet Hilaal 1.1.) disimulasikan posisi dan bentuk hilaal (serta hilaal tua) jika dilihat dari kota Yogyakarta. Namun pada galibnya bentuk dan posisi ini tidak berbeda signifikan untuk titik-titik pengamatan lainnya yang ada di Indonesia.

Kepada segenap pengamat hilaal, perukyat dsb, mohon untuk melakukan pengamatan terhadap hilaal tua pada pagi hari 24 April 2009 dan pengamatan terhadap hilaal pada senja hari 26 April 2009 dari lokasi masing-masing, baik dengan menggunakan mata telanjang (naked eye) maupun alat bantu yang lain (seperti binokuler ataupun teleskop).

Hasilnya, mohon dilaporkan ke dalam forum ini, atau dengan pesan singkat (SMS) ke 0817-727-823 dengan mengandung informasi sekurang-kurangnya :
  1. Waktu saat Matahari tenggelam (untuk hilaal) atau Matahari terbit (untuk hilaal tua) yang teramati dengan sebenarnya (bukan berdasarkan software !).
  2. Waktu saat hilaal mulai nampak (untuk hilaal) atau hilaal tua terakhir kali nampak (untuk hilaal tua) yang teramati dengan sebenarnya (bukan berdasarkan software !), baik dengan mata telanjang maupun dengan alat optik.
  3. Lamanya hilaal / hilaal tua terlihat di langit.
  4. Bentuk hilaal / hilaal tua (apakah miring ke utara/miring ke selatan).

Sebelumnya, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Semoga data-data ini bermanfaat untuk memperkuat teori visibilitas yang sudah ada, dan sekaligus bermanfaat sebagai bagian dari ibadah (dalam konteks fardhu kifayah, bagi yang meyakini).

Wassalamu'alaikum wrw


Ma'rufin


#853 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Apr 22, 2009 2:09 pm
Subject: Re:OOT [Trs: mahasiswa kita d bunuh...!!!!!]
marufins
Send Email Send Email
 
Ini sudah banyak beredar di berbagai milis, dan akhirnya banyak juga yang beranggapan ini adalah fakta yang sesungguhnya. Dalam satu milis, bahkan ada yang terkagum-kagum dan mengaitkan kematian David dengan perangkat DSMAC yang kini katanya juga sudah dikembangkan ITB di Dep Elektronya. Padahal teknologi DSMAC (digital scanner multi area correlator) sebenarnya tergolong jadul (karena dikembangkan sejak 30 tahun silam), meski bersama instrumen INS (inertial navigation systems) sempat menjadi tulang punggung utama sistem persenjataan AGM 86 A/B Air Launched Cruise Missile bersama segala jenis variannya (seperti AGM 86 A/C Conventional ALCM maupun BGM-109 Tomahawk Land Attack Missile ataupun BGM-109 B/Tomahawk Antiship Missile). Dengan perkembangan teknologi GPS yang menciptakan presisi jauh lebih tinggi, so DSMAC tidak dibutuhkan lagi.

Dalam milis yang lain lagi malah ada yang berpendapat, David dibunuh karena "keberhasilannya" menemukan proses transfer energi listrik secara wireless, satu hal yang sulit dimengerti karena teknologi itu sudah eksis berpuluh tahun silam dan saat ini dikategorikan tidak layak secara ekonomis karena rugi2 transfer energinya yang besar.

Bener. David adalah salah satu kasus brain drain, orang pinter yang gak begitu diperhatikan oleh bangsanya sendiri. Ada ratusan kasus seperti ini. Namun mengaitkan kematiannya dengan hal2 "ajaib" seperti DSMAC maupun transfer energi wireless, hanya membuat kisah pilu kematiannya (yang harusnya diungkap dengan lebih jelas) menjadi abstrak layaknya sinetron. Dan kisah sinetron yang sama pula yang membuat otak pintar seperti yang dimiliki David menjadi tidak kondusif berkembang di Indonesia.

Salam,


Ma'rufin


From: Tri Laksmana <trilaksmana@...>
To: haaj84@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, April 22, 2009 8:50:41 PM
Subject: Re: [HAAJ] OOT [Trs: mahasiswa kita d bunuh...!!!!!]

Buset, ceritanya dangdut banget. Apa betul ini terjadi? Sumbernya dari mana? Jangan2 cuman fiksi belaka hasil rekaan seorang novelis yang ingin terkenal...

Cheers,
-tri-

2009/4/22 Amanda Nizami <amanda17imhoet@ yahoo.co. uk>




----- Forwarded Message ----
From: Nina Astuty <nina_as03@yahoo. co.id>
To: Ka Ria Qalam Faatihah <alaqia_fatihah@ hotmail.com>; Lutiva Riska Amelia <melnis_28@yahoo. com>; Mba Amsyiah <Amsyiah_Purnamasari @yahoo.com>; Mba Ismi <amanda@eramuslim. com>; Mba Ismi <amanda17imhoet@ yahoo.co. uk>; Ria Aryanti <kd_iya@yahoo. com>; Mba Endang <dwi_ndang@yahoo. com>; tika Yulianti <ticebangetz@ yahoo.com>; Nopi_Nuy <nopiermansyah@ yahoo.co. id>; Nurhasanah <indi_311269@ yahoo.com>; Ruli <luli_sep_87@ yahoo.com>; Mba Rini <rini_mardika07@ yahoo.com>
Sent: Wednesday, 8 April, 2009 9:42:26
Subject: Trs: mahasiswa kita d bunuh...!!!! !



----- Pesan Diteruskan ----
Dari: madie rosai <jronkkids@yahoo. com>
Kepada: "suaip_arjuna@ yahoo.co. id" <suaip_arjuna@ yahoo.co. id>; "fhaizone_smart@ yahoo.com" <fhaizone_smart@ yahoo.com>; "nina_as03@yahoo. com" <nina_as03@yahoo. com>; "tata_polman@ yahoo.co. .id" <tata_polman@ yahoo.co. id>; Ria Aryanti <kd_iya@yahoo. com>
Terkirim: Selasa, 7 April, 2009 19:10:36
Topik: mahasiswa kita d bunuh...!!!! !

 
 
From: Ellen
Sent: Friday, March 27, 2009 9:05 AM

 

Memang agak panjang , but sbg org Indo , wajib di baca !!

pembunuh mahasiswa indonesia sudah dipenjara... ......
>
> Kisah David Hartanto - akhirnya kekejaman Prof. Chan terungkap !!
> Angel adalah mahasiswa kampus Nanyang Technological University, ia adalah angkatan terbaru dalam tahun ajaran baru. Siang itu ia sedang menikmati makan paginya di sekitar halaman kampus,seorang pria duduk disampingnya dengan tersenyum sambil menghapuskan keringatnya dengan handuk kecil yang ia ambil dari tas jinjingnya. Pria berkacamata itu tampak memperhatikan
selembaran kertas yang berisikan beberapa catatan miliknya.
Pria itu begitu terburu-buru membaca kertas itu hingga berterbangan saat angin bertiup kencang, Angel melihat pria itu kewalahan dan mencoba membantu memunggut setiap lembaran ke sisi pria itu. Sambil tersenyum pria
> itu berkata " Terima kasih.."
> " Sama-sama..!"
> " Saya David.. Kamu mahasiswi baru disini ya?"
> " Iya.. Kok tau? Saya Angel..!"
> " Yup.. Tentu saja saya tau! Karena saya sudah menjelang semester akhir..!"
" Wow.. Ga bisa dibayangkan bertapa lamanya kamu belajar disini..Apalagi saya?"
> " Yup.. Membosankan tapi inilah hidup harus dijalanin.. Selama kamu menikmati waktu kamu tidak akan sadar kalau tiba-tiba kamu sudah mau lulus.."
Angel tersenyum lalu bertanya pada pria itu. " Apa kertas yang kamu baca itu..?"
> " Ini adalah bagian-bagian dari skripsi tugas akhir saya.. Mau lihat?"
> " Yup.. Mau dong..!"
> Angel memperhatika susunan kata-kata dan angka yang nyaris saja membuat matanya berkunang-kunang. David tertawa melihat kebingungan itu..
> " Ngomong-ngomong. . Inti dari skripsi kamu tentang apa sih? Ribet saya melihatnya hehehe"
> " Hehehe.. Ini tentang mimpi masa depan saya dan saya harap kelak berguna bagi siapapun?"
> " Wah.. Sebegitu hebatnya..?"
> " Yup.. Kapan-kapan saya akan ceritakan.. Tapi kalau sekarang jangan dulu..!"
> " Hehehe Ok, saya tunggu ya..?"
> " Kamu main Facebook..?"
> " Yup.. Saya ada! Kamu?"
> Mereka dua sahabat baru saling bertukar informasi tentang situs Facebook mereka, David harus berpamitan karena ia harus bertemu dengan Dosen pembimbingnya, Sedangkan Angel kembali ke kelasnya. Rika sahabat
Angel menyambutnya dengan tersenyum, lalu Angel bercerita tentang pertemuannya dengan seorang seniornya di taman tadi, begitu terkejutnya Angel ketika tau bahwa pria itu adalah salah satu jawara Olimpiade pendidikan.
" Terang saja dia begitu yakin bahwa ia akan menciptakan sebuah penemuan besar ?" ujar Angel dalam hati.
Pertemuan itu tidak begitu saja berakhir, Angel dan David saling berkomunikasi via mesengger dan Facebook. David sosok yang supel, bersahabat dan kocak tapi ia terkadang bisa menjadi orang yang serius bila sedang mengerjakan sesuatu, begitulah kisah yang mengawali hubungan dekat keduanya. Angel memang kuliah karena uang yang dimiliki ayahnya bukan karena kepintaran seperti David yang mendapatkan beasiswa
karena kepintarannya.
Karena sering merasa kesulitan mengejar penjelasan dosennya, Angel sering bertanya kepada David yang selalu membantunya. Suatu malam Angel merasa kesulitan untuk mengerjakan tugas kuliahnya, ia mencoba menghubungi David tapi sayang pria itu tidak mengangkat teleponnya.
Karena tugas ini begitu mendesak ia pun nekad menuju rumah David, pada saat ia datang ke apartementnya David sedang tertidur.
Ia mencoba membangunkan pria itu. David pun terbangun..
" Idih ditelepon kok ga angkat sih?"
" Sorry ketiduran, saya kekurangan jam tidur gara-gara pengen selesaikan tugas skripsi saya!"
" Oh gitu ya.. jadi saya ganggu ga kalau minta tolong bantuin kerjain tugas?"
" Boleh saja tapi dengan syarat kamu traktir saya makan bakmi?"
" Dengan senang hati.."
David berhasil membuat Angel menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya, Angel menepati janji untuk meneraktir makan bakmi. Saat itu mereka sedang makan di restorant bakmi, " David, kita kan sudah dekat.. Saya masih penasaran dengan Proyek ambisius dalam skripsi kamu boleh saya tau?"
" Ok deh, saya kasih tau.. Jadi." David bercerita bahwa ia sedang mencoba untuk meniliti bagaimana sebuah bloutooth bisa menghantarkan listrik bagi sekitarnya. Penelitian ini sudah ia lakukan sejak awal semester enam lalu, kini tahap penilitiannya mencapai 70 %, ia yakin pada saat nanti penilitian ini bisa membuat semua orang merasa senang, selain membantu penghematan listrik, penemuan ini bisa membuat dirinya di akui sebagai peneliti.. Angel begitu terkesima dengan kisah ambisius itu tapi ia masih bingung. Ia tidak mencoba bertanya banyak hal selain menunggu hasil penelitian sahabat baiknya itu.
David yang merasa penilitiannya adalah pertama dalam sejarah dunia, akhirnya terlena dengan kegiatannya di dalam kamar setiap harinya.
Sejak enam bulan lalu pihak universitas sudah memperingatkan tentang pemberhentian beasiswanya, tapi ia hanya menganggap ancaman itu ringan karena yakin kelak pihak universitas akan menyesal melakukan tindakan
itu bila penemuannya di akui, dan kenyataannya beasiswanya benar-benar dicabut.
Professor Chan adalah dosen pembimbing David yang sudah mengenal pria itu sejak lama, ia sadar David adalah murid pintar dan mempunyai masa depan yang baik disamping sifat kekanak-kanakannya. Suatu hari ketika ia
sedang terduduk David datang padanya, bertanya tentang ide skripsi yang ia paparkan. Dengan santai sang Prof berkata, " Apakah kamu sedang bermimpi, bagaimana mungkin sebuah teknoloagi nirkabel dapat menghantarkan listrik..
Ada-ada saja, lebih baik kamu cari ide yang lain!"
"Tapi saya yakin bisa Prof?"
" Kalau begitu tunjukkan pada saya permainan kamu!"
" Baik.. Kita lihat saja!"
David seolah tertantang oleh dosen pembimbingnya itu untuk membuktikan bahwa ia mampu menciptakan apa yang ia pikirkan, ia pun semakin mengorbankan waktunya untuk penelitian eksentriknya.
Sahabat-sahabat yang ia kenal mulai melihat David bagaikan seorang dukun rumahan yang membuka praktek dirumahnya untuk bicara hanya lewat laptopnya.
Angel yang setiap harinya mempunyai segudang pekerjaan rumah bahkan harus memaklumi keinginan David untuk tidak diganggu sementara ini.
" Tidak menerima tamu di rumah dan telepon untuk sementara ini " begitulah tulisan status David pada Facebooknya.
Dua minggu lamanya penelitian itu berlanjut hingga mengalami beberapa kegagalan, modal David pada saat itu hanya dua handphonenya yang berbluetooth, Ia berharap penilitiannya berhasil dengan berbagai cara.
Suatu malam ketika ia mulai menyerah setelah mencoba beberapa kali,akhirnya penemuannya itu berhasil walau hanya sebatas lima menit lamanya,ia berteriak bahagia dan bertekad menunjukkan keberhasilannya pada sang dosen.
Paginya David benar-benar pergi menuju ruangan Prof. Chan.Mereka bicara dengan santai sembari David mulai memberikan praktek penelitiannya.
Sang Prof yang awalnya cuek tiba-tiba nyaris menjatuhkan kacamatanya ketika melihat David berhasil membuktikan kata-katanya.
" Lihat Prof.. Saya buktikan bahwa saya bisa ..! "Prof terkagum-kagum dengan apa yang David tunjukkan
" David.. Kamu sungguh luar biasa, bagaimana kamu bisa menemukan hal mustahil di dunia ini menjadi nyata.. Kamu akan menjadi peraih nobel karena ini!"
" Ya saya tau.. !" Tiba-tiba muncul pikiran picik dari sang Professor untuk melihat jalan kerja penelitian David, ia menyuruh David menyempurnakan penilitian yang ia buat kemudian membawanya kembali. Baginya David bagaikan tambang emas yang akan membuatnya kaya dan termansyur, ia mulai berpikir merebut hasil penelitian David yang luas biasa itu. David yang tidak sadar dengan pikiran jahat sang Prof benar-benar terus mendalami penelitiannya.
Ketika David sedang merencanakan penelitiannya, sang Professor berpikir untuk mencari orang yang bisa menjadi saksi penelitian David diakui menjadi miliknya. Untuk itu ia membuka file dokumentasi mahasiswa yang berprestasi lainnya, ia mulai teringat dengan beberapa asisten dosen yang diberhentikan beberapa saat lalu. Ia mulai melirik seorang Zhou,seorang pria asal Cina yang sedang frustasi karena dipecat.
Ketika Prof menawarkan ide untuk mengangkat Zhou menjadi asistennya,pria itu begitu bahagia karena akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sehingga bisa mengirimkan uang kepada ibunya yang sedang sakit.
> Pria itu tidak sadar sedang dimanfaatkan oleh sang Prof untuk menjadi saksi pada penelitian palsunya.. Bahkan Sang Prof memberikan bantuan kepada Zhou untuk mengobati sang Ibu yang menghadapi operasi kanker.
" Kamu tenang saja, saya akan memberikan perkerjaan yang baik padamu.
Tentu saja saya akan membantu biaya pengobatan ibu kamu hingga sembuh.
Kamu bisa kerja dua hari lagi dari sekarang, ok. Ini uang yang kamu butuhkan!"
" Terima kasih " Ucap Zhou yang begitu bahagia mendapatkan bantuan dari pria itu.
David berhasil menyempurnakan penilitiannya, ia sungguh tak kuasa menahan bahagia dengan apa yang ia temukan. Ia teringat pada Angel, ia pun mengajak gadis itu untuk bertemu merayakan kerberhasilannya. Tak tanggung-tanggung mereka makan di Restorant hotel yang mahal, Angel pun heran dengan undangan itu.
" Tumben kamu ada waktu untuk ngajak makan! Apalagi ditempat mewah lagi?"
" Hehehe.. Tenang saja. Ini hanya sebagai bentuk perayaan, dan kelak saya akan ajak kamu ke tempat yang lebih hebat lagi..!"
" Wah. Wah.. jadi tersanjung.. . Memang perayaan apa sih!"
" Coba keluarkan Hendphone kamu yang berbluetooth?"
Angel bingung tapi ia melakukan apa yang dipinta David.Dengan sekejap handphonenya tertuliskan
" Sedang mengisi baterai" angel terkejut, " Astaga!! David kamu berhasil..?"
" Yup.. Aku berhasil..!"
Angel dan David menghabiskan malam indah itu dengan penuh antusias,ia tak pernah menyangka begitu hebatnya sang sahabat kekanak-kanakannya itu.
> Akhirnya mereka pulang, karena David besok akan membawakan hasil penelitiannya itu kepada sang Dosen, David begitu ingin menampar para atasan universitas yang memberhentikan beasiswanya dengan prestasinya.
> Ketika David mengirimkan email kepada Dosennya untuk bertemu besok.
Keesokan paginya.Prof, Chan sudah mengingatkan David untuk membawa semua dokument proses berjalannya penelitiannya dalam USB agar ia bisa meneliti langsung kelayakan penelitian David. Awalnya, David agak bingung tapi Prof menyakinkan bahwa ia hanya ingin mencoba dengan caranya agar penelitian David dianggap sah. Tanpa pikir panjang David membawa penelitian itu dalam bentuk USB segera ke kampus pagi sekali pukul 7 sesuai jadwal yang ditentukan Prof. Chan.
> Sebelum berangkat David mengirimkan pesan kepada Angel untuk bertemu di kampus makan siang bersama. Saat pesan SMS itu masuk Angel masih tertidur, David pun berangkat sepagi mungkin menghadap sang Prof. Ketika tiba di lantai 4 sang Professor, David menemukan sang Prof sedang terduduk sehabis memotong apel. Ketika David datang ia membuang sisa Apel itu ke keranjang sampah, dan menyimpan pisau itu ke saku bajunya.
David tak sadar sedang berada dalam jebakan sang Prof. Chan.Pria tua itu meminta David untuk sekali lagi mencontohkan hasil penilitiannya, setelah menyaksikan penelitian itu pria itu semakin yakin bahwa David benar-benar jenius. Ia meminta David untuk memberikan USB itu
lalu berkata dengan santai," David.. Apakah kamu yakin ini penilitian kamu?"
" Ya, tentu saya yakin. Memang kenapa Prof?"
" Apakah kamu tidak sedang mengambil penelitian seorang mahasiwa lain bernama Zhou,?"
" Zhou siapa dia?"
" Dia adalah asisten dosen yang sudah dipecat, ada kemiripan antara penelitian kamu!"
" Mustahil..!" ucap David kesal." Kamu boleh bilang mustahil tapi saya punya hasil document dia yang sama.. coba perhatikan komputer saya?"
David menyaksikan sebuah klip kecil yang menunjukkan penelitian yang dilakukan seorang pria dan Prof mengatakan bahwa pria itu adalah Zhou yang sedang mendemokan hasil yang sama dengan David.
" Tidak mungkin. Prof. Bagaimana pria itu bisa melakukan hal yang sama dengan saya!"
Prof tersenyum sambil berkata." Kamu bukanlan seorang di dunia yang ini yang Jenius, masih banyak lagi..!"
> David terdiam mulai berpikir ada yang salah, ia yakin sang Professor melakukan tindakan licik.
> " Professor kembalikan USB saya...!?"
> " Untuk apa..?"
> " Tidak apa-apa , saya ingin dikembalikan saja..!"
> " Tidak bisa, ini akan menjadi barang bukti bahwa kamu telah melakukan pelanggaran di kampus karena melakukan penjiplakan karya orang lain sebagai skripsi kamu!"
> David mulai emosional.
" Silakan saja , saya tidak takut, saya akan buktikan bahwa itu tidak benar..!" ucap david sambil hendak keluar dari ruangan.
Cara professor dalam ancaman sepertinya salah , ia pun mendekati David sambil membujuk pria itu untuk tenang. Sembari menawarkan opsi lain berupa uang dalam jumlah yang banyak, David tetap pada pendiriannya bahwa ia adalah sang penemu pertama kali. Prof Chan yang emosional langsung menusukkan pisau itu ke bagian belakan badan david tapi hanya sebuah goresan kecil, David berteriak minta tolong.Zhou yang akan memulai
kerjanya
> hari ini berpikir untuk datang menemui Prof. Chan hari ini, ia mendengarkan suara teriakan dari arah pintu Prof Chan. David yang merasa terancam berusaha melawan dengan
sekuat tenaga, tapi sebuah bilasan pisau di leher membuatnya langsung tersungkur tak sadarkan diri. Tapi David masih mampu berdiri dan meraih pintu dan membukanya, Zhou yang berada di depan pintu terkejut melihat adegan itu.
David yang mulai tak sadarkan diri mulai berlari tanpa arah dan akhirnya terjatuh dari balkom lantai empat dekat ruangan itu. Zhou begitu shock melihat kejadian itu, Prof. Chan yang melihat Zhou ada disana langsung
> menyuruh pria itu masuk ke ruangan.
> " Kamu melihat semuanya?"
> " Tidak saya tidak melihatnya.. !"
> " Ingat.. Saya yang menyelamatkan nyawa ibu kamu, sebaiknya kamu tutup mulut.!"
> " Saya tidak akan katakan apapun..!"
> Prof. Chan yang begitu panik mulai tenang dan berpikir sesuatu.
" Tusuk punggung saya dengan pisau ini.." Perintah Prof pada Zhou
Zhou tidak punya pilihan selain melakukan perintah sang Prof Chan.
Lalu pria itu menyuruh David mencabut gagang pada pisau. Sebelumnya ia katakan bahwa ia akan membuat seolah-olah David bunuh diri dan tusukan pada dirinya hanya sebagai alibi, untuk menghilangkan barang bukti gagang pisau itu harus segara dibawa pergi oleh David agar tidak terdapat sidik jari dan membiarkan mata pisau terletak di lantai.
David yang panik melakukan begitu saja perintah sang Prof, dan rencana itu berjalan dengan baik.
> Angel yang baru saja menerima pesan David segera menuju kampus,ketika Ia datang banyak garis polisi terpampang di pintu Kampus, ia bertanya-tanya ada apa gerangan. Seorang mahasiwa mengatakan bahwa seorang mahasiswa bunuh diri dengan melompat. Angel begitu bingung, dan ketika ia mendekat hatinya bergetar dan berteriak histeris ternyata pria itu adalah David.
> Beberapa saat kemudian Prof. Chan keluar dengan bantuan alat medis seperti orang sekarat. Beberapa orang mencoba menenangkan Angel, Terlihat Zhou saksi kasus itu berdiri ketakutan menyaksikan kejadian itu.
> Prof Chan melirik Zhao dari matanya tersilat pesan kepada Zhou untuk tidak bertindak apapun selain menjaga rahasia ini.
Kejadian kematian David begitu memukul Angel, gadis itu bahkan berpikir telah jatuh cinta pada sang pria ceria itu.
> Kematian yang begitu misterius membuat Angel begitu penasaran dengan apa yang terjadi, Tidak mungkin seorang David yang mempunyai masa depan begitu cermelang harus bunuh diri. Ia tidak yakin dengan kematian itu,walaupun
> bersedih hati ia bertekad mencari kebenaran kematian itu karena ia yakin > David tidak akan melakukan tindakan bodoh disaat ia sedang menggapai mimpinya. Prof. Chan berhasil selamat dan keluar dari rumah sakit dua hari kemudian.
Zhou yang menjadi saksi mata merasa sangat bersalah dengan berita miring yang ada di media seolah membuatnya menjadi pria pendusta, tapi ia tidak mungkin tega memberikan penyataan kalau Prof. Chan adalah orang dibalik semua ini. Prof Chan meneleponnya untuk mengatakan sekali lagi bahwa sang ibu selamat karena dia. Zhou merasa hina ia pun memutuskan untuk bunuh diri dengan mengantung diri di balkon rumahnya.
Prof. Chan berpikir kini hidupnya akan damai karena semua yang terlibat dalam kematian David telah musnah, terlebih alibi yang ia lancarkan berjalan sempurna. Angel menyadari ada kenjanggalan dalam semua ini, ia
> mulai mencari semua data yang bisa membuktikan bahwa apa yang > terjadi pada David adalah sebuah konspirasi yang dilakukan Prof.Chan.
Berbulan-bulan ia melakukan berbagai cara untuk melakukan pembuktian.
Prof Chan yang sembuh merasa mulai perlu untuk mengeluarkan bukti penelitian yang ia ambil dari David. Hebatnya penelitian itu adalah nama yang sama dengan milik David, Angel pun sadar niat dibalik semua
kematian David adalah ambisi sang Prof untuk mengambil hak cipta David.
Untungya David pernah membuktikan terlebih dahulu hasil karyanya saat makan di restoran mewah, file name Bluetooth milik David masih tersimpan di ponselnya.
Ia pun seperti mendapatkan semangat untuk membuktikan kebeneran,ia laporkan semua bukti yang ia punya kepada Polisi, Polisi pun melakukan > investigasi ulang dan mendapatkan sebuah kebeneran yang terjadi. Prof Chan yang baru saja menikmati nama besarnya, akhirnya mendapatkan ganjaran perbuatannya karena kelicikan dan kekejamannya, Angel berhasil membuktikan > bahwa pria itu layak dipenjara seumur hidup. Angel merasa lega karena perkenalan dia dengan David adalah sebuah pesan takdir nyata untuk membelah
masa depan David yang telah hilang. Kini semuanya bisa tenang, Angel pun bisa tenang melepas kepergian sahabatnya
 




Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis.




Messages 824 - 853 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help