Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

jogja_astroclub · Jogja Astro Club (JAC)

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 287
  • Category: Amateur
  • Founded: Jul 5, 2005
  • Language: Indonesian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 867 - 896 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#867 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri May 29, 2009 2:43 am
Subject: Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera
marufins
Send Email Send Email
 
Dikutip dari Kompas.com. Gunung bawah laut adalah hal yang umum di sepanjang Lempeng Sunda, yakni batas pertemuan antara Lempeng India-Australia dengan Lempeng Sunda (Eurasia) yang secara fisis nampak sebagai palung laut memanjang dari selatan Pulau Jawa hingga ke sebelah barat Sumatera. Kelak gunung-gunung laut ini akan masuk ke dalam palung dan menjadi "pengganjal" yang membuat aktivitas tektonik setempat menjadi sedikit lebih lambat sehingga konsekuensinya aktivitas kegempaan (seismik) di tempat tersebut menjadi lebih kecil dibanding daerah-daerah lain disekitarnya yang gak kemasukan gunung laut. Pesisir selatan Jawa Tengah - DIY misalnya, merupakan contoh daerah ini, dimana kegempaannya cukup sedikit karena (kemungkinan besar) palung laut di lwilayah ini sudah mulai terganjal oleh lereng gunung laut Roo Rise.

Salah satu gunung laut populer yang sampe muncul ke atas permukaan dan menjadi pulau tersendiri adalah Pulau Christmas alias Pulau Natal, milik Australia, yang ada di sebelah selatan Jawa Barat.

Namun jika gunung laut itu gunung api, besar lagi, mana berkaldera pula, rasanya baru kali ini ada. Aktif apa tidak, kita belum tahu.


Salam,


Ma'rufin

=====

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu. Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

"Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua," kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5). Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini. "Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus," katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera. Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).




1 of 1 Photo(s)


#868 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri May 29, 2009 4:16 am
Subject: Kalkulator Qiblat 1.0.
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Berikut dilampirkan spreadsheet Kalkulator Qiblat 1.0, yang bertujuan untuk mencari posisi azimuth Matahari setiap waktu di antara saat terbit dan terbenamnya serta koreksi sudut yang dibutuhkan dari posisi azimuth tersebut terhadap arah kiblat dan garis shaff setempat. Juga bertujuan menyajikan posisi Matahari pada titik-titik istimewa, seperti tepat di titik barat, tepat di titik timur, tepat di arah kiblat dan tepat tegak lurus arah kiblat.

Spreadsheet ini belum sempurna, maka dari itu jika ditemukan ada kekurangan di sana-sini, mohon untuk diinformasikan ke saya, bisa lewat milis ini, bisa japri ke marufins@... atau bisa juga per telp/SMS ke 0817-727-823.

Wassalamu'alaikum...


Ma'rufin


1 of 1 File(s)


#869 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri May 29, 2009 8:25 am
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera
marufins
Send Email Send Email
 
Nuwun. Sepertinya memang begitu. Pas pertama mbaca memang rada aneh, koq bisa gunung setinggi 4,6 km itu masih tetep utuh sementara di puncaknya ada kaldera? Padahal kalo di daratan, sebuah gunung hanya bisa berkaldera alias punya kawah yang sangat besar jika ia telah meletus sangat dahsyat sehingga menghancurkan setidaknya dua pertiga tubuhnya sendiri, sehingga tinggi gunung akan terpangkas menjadi tinggal sepertiga dari semula. Seperti Gunung Tambora misalnya, yang sebelumnya punya ketinggian 4.000-an meter (sehingga bisa dilihat dari kejauhan Pulau Bali), namun pasca letusan dahsyat 1815 tingginya tinggal 1.200-an meter.

Menjadi tidak aneh ketika kemudian dikatakan bahwa gunung api laut ini kemungkinan dulunya terbentuk di zona pemekaran lantai samudera maka biasanya magma-nya akan bersifat cair encer. Sehingga gunung api yang dihasilkannya akan berbentuk perisai, dengan lereng yang sangat landai. Jika dianggap gunung api laut ini berbentuk kerucut sempurna, maka dengan alas selebar 50 km dan tinggi 4,6 km secara rata-rata gunung ini memiliki lereng dengan kemiringan 10 derajat. Cukup landai bukan? Sama dengan gunung perisai.

Mungkin juga gunung api laut ini sudah mati. Jika memang ia dibentuk sebagai gunung perisai di zona pemekaran lantai Samudera Hindia, maka gerakan lempeng samudera yang membawanya mendekati zona subduksi Sumatera telah menjauhkannya dari dapur magma-nya. Namun bagaimana jika ia dibentuk tidak di zona pemekaran? Di sebelah barat dari gunung laut ini ada jajaran pegunungan-pegunungan memanjang mulai dari Ninety East Ridge itu. Mungkinkah di pegunungan-pegunungan bawah laut yang paralel ini ada sumber magma yang memasok magma cair encer tadi?

Salam,


Ma'rufin



From: Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@...>
Sent: Friday, May 29, 2009 1:37:26 PM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Gejala atau benda ini disebut Seamount, seringkali merupakan sebuah
gunung api laut yang sudah mati. Gunung api laut ini sering terbentuk
di zona pemekaran yang "terbawa" karena gerakan lempeng samodra yang
akhirnya menunjam. Sehingga seringkali berupa gunung yang sudah mati
(extinc). Tipe yang lain adalah tipe hotspot seperti Hawaii. Tapi
kalau hawaii ini ada beberapa gubung dimana hotspotnya tetap tetapi
lempeng samodranya bergerak, sehingga terbentuk series gunung api spt
di Hawai ini.

Nah yang di Bengkulu ini masih diselidiki apakah seperti Hawai atau
seperti seamount (gunung mati).

rdp


#870 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Jun 1, 2009 4:14 am
Subject: Re: Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera
marufins
Send Email Send Email
 
Sedikit koreksi, justru Danau Toba alias Gunung Toba itu yang masih aktif, meski status keaktifannya saat ini adalah dormant (tidur panjang). Sisa-sisa aktifitas Gunung Toba terhampar di kawasan bukit Pusukbukit di tepi barat danau ini, dalam bentuk kerucut kecil vulkanis dengan beberapa titik mata air panas (hotsprings) di kakinya. Sama halnya dengan Gunung Toba, bukit Pusukbukit ini mendapatkan magmanya dari dapur magma di kedalaman 50 km dari permukaan tanah. Penanda lainnya dari aktivitas Toba adalah kenaikan gradual (perlahan) Pulau Samosir, yang ditunjukkan dengan keberadaan lapisan-lapisan sedimen danau di pulau ini. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa dalam dapur magma sedang terjadi proses pengisian magma kembali (refiling). Ini membuat tekanan dalam dapur magma meningkat sehingga ia sampai bisa mengangkat pulau sedikit demi sedikit. Namun proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Tekanan dapur magma Gunung Toba baru akan mencapai situasi yang sama dengan kondisi pada saat meletus 74.000 tahun silam pada setidaknya 400.000 - 600.000 tahun ke depan. Jadi jangan terlalu dikhawatirkan.


Sementara gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu, kemungkinan besar justru sudah tidak aktif. Meski hal ini perlu diteliti lebih lanjut, namun kita bisa mengambil analogi dari gunung-gunung laut lainnya yang pernah diteliti. Ada tiga alasan mengapa gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu sudah tidak aktif alias mati. Pertama, gunung laut itu berdiri di atas lempeng Australia yang tergolong ke dalam lempeng samudera. Di Bumi ini tidak ada gunung api laut di lempeng samudera yang masih aktif terkecuali ia berdiri di zona pemekaran lantai samudera (mid oceanic ridge) atau di atas vulkanisme titik panas (hotspot) sehingga terjadi kontinuitas supplai magma dari lapisan asthenosfer Bumi ke gunung tersebut. Sementara gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu jaraknya cukup jauh terhadap zona pemekaran lantai samudera dan lokasi vulkanisme titik panas.


Kedua, tinggi tubuh gunung laut itu "hanya" mencapai 4,6 km dari dasar laut. Andaikata ia masih aktif dan memiliki kaldera, tentunya tinggi sebelumnya jauh lebih besar dari 4,6 km itu. Pada umumnya gunung api di Bumi (khususnya yang berada di daratan) akan terpangkas ketinggiannya menjadi tinggal sepertiganya saja dari semula jika ia telah meletus dahsyat (alias membentuk kaldera). So jika gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu masih aktif dan punya kaldera, dapatlah direkonstruksi bahwa pada satu ketika (sebelum kalderanya terbentuk), ia pernah punya ketinggian 12.000 meter dari dasar laut alias menyembul setinggi 7.000 meter dari permukaan laut. Ketinggian sebesar ini sangat sulit terjadi karena gravitasi Bumi dan proses pelapukan karena cuaca membatasi ketingian gunung maupun gunung api yang mampu dibentuk di permukaan Bumi tidaklah melebihi angka 10.000 meter dihitung dari dasarnya.


Dan yang ketiga, gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu sangat mungkin adalah gunung perisai (shield) karena memiliki lereng yang sangat landai. Jika gunung laut ini diasumsikan berbentuk kerucut sempurna, maka dengan tinggi 4,6 km dan setengah radius alas 25 km kita dapatkan kemiringan lerengnya sebesar arc tan (4,6/25) = 10 derajat. Ini sangat landai dan setara dengan kemiringan lereng gunung-gunung di Kepulauan Hawaii (seperti gunung Mauna Loa misalnya, yang berdiri setinggi 9 km dari dasar laut dengan lebar dasar gunung mencapai 100 km). Gunung-gunung perisai dibentuk dari magma cair encer yang kaya basa sehingga relatif mudah mengalir (bagaikan air) dan tidak sanggup menyekap gas-gas vulkanik didalamnya. Sebagai konsekuensinya maka gunung perisai selalu memiliki tipe letusan berupa efusif (leleran) murni tanpa adanya letusan asap. Dari sini juga tidak relevan untuk membandingkan gunung laut di lepas pantai Bengkulu ini dengan Gunung Toba, ataupun Krakatau, ataupun Tambora misalnya, karena jenis magma mereka berbeda. Gunung Toba, Krakatau dan Tambora memiliki magma yang sangat asam alias sangat kaya dengan silikat, yang dicirikan dari banyaknya batu apung yang dihasilkan dalam letusannya, sementara magma sangat asam ini sangat menentukan dahsyat tidaknya letusan gunung tersebut. Makin asam magmanya, makin dahsyat letusannya.


So, kesimpulan akhirnya, gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu tidaklah perlu disikapi berlebihan, apalagi ditakuti. Gunung itu hanyalah gunung laut biasa, sama halnya dengan gunung laut yang kini menjadi Pulau Christmas (900 km di selatan Jakarta), juga dengan gunung-gunung laut yang banyak bertebaran di bibir Palung Sunda (palung laut hasil pertemuan lempeng Australia dengan Eurasia) seperti misalnya Roo Rise di lepas pantai selatan Jawa Tengah. Memang dalam kajian ilmu kegempaan, gunung laut di bibir palung ini akan mendatangkan masalah, karena begitu ia mulai memasuki palung, maka ia berperan sebagai pengganjal yang membuat kegempaan di daerah tersebut merosot drastis. Namun merosotonya kegempaan ini diikuti dengan tingginya timbunan energi seismik. Sehingga kelak ketika seluruh bagian gunung sudah masuk ke dalam palung, timbunan energi seismik itu akan dilepaskan secara serentak sebagai sebuah gempa yang sangat besar. Tetapi hal ini baru akan terjadi dalam berjuta-juta tahun mendatang.


Salam,


Ma'rufin


From: "atriza_002@..." <atriza_002@...>
To: Forum Kompas <Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, May 31, 2009 10:52:03 AM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Yang membuat kita was was seandai nya gunung api raksasa di bawah laut ini masih aktif,kalau Toba Volcano sudah tidak aktif...

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !

-----Original Message-----
From: verdi adhanta <verdiadhanta@ yahoo.com>

Date: Sat, 30 May 2009 07:44:34
To: <Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Wah, itu belum apa-apa. Sumatra juga punya Supervolcano, yaitu gunung Toba.
Dimana? Ya Danau toba itu Kawahnya. 74,000 tahun lalu ia terakhir meletus, dan akibatnya Bumi mengalami jaman es mini (sekitar 6 tahun) dan menekan populasi manusia, sampai tinggal 15,000 orang (jadi bumi ini pernah dihuni oleh 15000 orang, gara-gara Supervolcano di Sumatra ini.) Saingannya Toba cuma Yellowstone, yang sedikit lebih kecil dari Toba.

http://anthropology.net/2007/07/06/mount-toba-eruption-ancient-humans-unscathed-study-claims/



#871 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Jun 1, 2009 4:16 am
Subject: Re: Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera
marufins
Send Email Send Email
 
Sedikit koreksi, justru Danau Toba alias Gunung Toba itu yang masih aktif, meski status keaktifannya saat ini adalah dormant (tidur panjang). Sisa-sisa aktifitas Gunung Toba terhampar di kawasan bukit Pusukbukit di tepi barat danau ini, dalam bentuk kerucut kecil vulkanis dengan beberapa titik mata air panas (hotsprings) di kakinya. Sama halnya dengan Gunung Toba, bukit Pusukbukit ini mendapatkan magmanya dari dapur magma di kedalaman 50 km dari permukaan tanah. Penanda lainnya dari aktivitas Toba adalah kenaikan gradual (perlahan) Pulau Samosir, yang ditunjukkan dengan keberadaan lapisan-lapisan sedimen danau di pulau ini. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa dalam dapur magma sedang terjadi proses pengisian magma kembali (refiling). Ini membuat tekanan dalam dapur magma meningkat sehingga ia sampai bisa mengangkat pulau sedikit demi sedikit. Namun proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Tekanan dapur magma Gunung Toba baru akan mencapai situasi yang sama dengan kondisi pada saat meletus 74.000 tahun silam pada setidaknya 400.000 - 600.000 tahun ke depan. Jadi jangan terlalu dikhawatirkan.


Sementara gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu, kemungkinan besar justru sudah tidak aktif. Meski hal ini perlu diteliti lebih lanjut, namun kita bisa mengambil analogi dari gunung-gunung laut lainnya yang pernah diteliti. Ada tiga alasan mengapa gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu sudah tidak aktif alias mati. Pertama, gunung laut itu berdiri di atas lempeng Australia yang tergolong ke dalam lempeng samudera. Di Bumi ini tidak ada gunung api laut di lempeng samudera yang masih aktif terkecuali ia berdiri di zona pemekaran lantai samudera (mid oceanic ridge) atau di atas vulkanisme titik panas (hotspot) sehingga terjadi kontinuitas supplai magma dari lapisan asthenosfer Bumi ke gunung tersebut. Sementara gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu jaraknya cukup jauh terhadap zona pemekaran lantai samudera dan lokasi vulkanisme titik panas.


Kedua, tinggi tubuh gunung laut itu "hanya" mencapai 4,6 km dari dasar laut. Andaikata ia masih aktif dan memiliki kaldera, tentunya tinggi sebelumnya jauh lebih besar dari 4,6 km itu. Pada umumnya gunung api di Bumi (khususnya yang berada di daratan) akan terpangkas ketinggiannya menjadi tinggal sepertiganya saja dari semula jika ia telah meletus dahsyat (alias membentuk kaldera). So jika gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu masih aktif dan punya kaldera, dapatlah direkonstruksi bahwa pada satu ketika (sebelum kalderanya terbentuk), ia pernah punya ketinggian 12.000 meter dari dasar laut alias menyembul setinggi 7.000 meter dari permukaan laut. Ketinggian sebesar ini sangat sulit terjadi karena gravitasi Bumi dan proses pelapukan karena cuaca membatasi ketingian gunung maupun gunung api yang mampu dibentuk di permukaan Bumi tidaklah melebihi angka 10.000 meter dihitung dari dasarnya.


Dan yang ketiga, gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu sangat mungkin adalah gunung perisai (shield) karena memiliki lereng yang sangat landai. Jika gunung laut ini diasumsikan berbentuk kerucut sempurna, maka dengan tinggi 4,6 km dan setengah radius alas 25 km kita dapatkan kemiringan lerengnya sebesar arc tan (4,6/25) = 10 derajat. Ini sangat landai dan setara dengan kemiringan lereng gunung-gunung di Kepulauan Hawaii (seperti gunung Mauna Loa misalnya, yang berdiri setinggi 9 km dari dasar laut dengan lebar dasar gunung mencapai 100 km). Gunung-gunung perisai dibentuk dari magma cair encer yang kaya basa sehingga relatif mudah mengalir (bagaikan air) dan tidak sanggup menyekap gas-gas vulkanik didalamnya. Sebagai konsekuensinya maka gunung perisai selalu memiliki tipe letusan berupa efusif (leleran) murni tanpa adanya letusan asap. Dari sini juga tidak relevan untuk membandingkan gunung laut di lepas pantai Bengkulu ini dengan Gunung Toba, ataupun Krakatau, ataupun Tambora misalnya, karena jenis magma mereka berbeda. Gunung Toba, Krakatau dan Tambora memiliki magma yang sangat asam alias sangat kaya dengan silikat, yang dicirikan dari banyaknya batu apung yang dihasilkan dalam letusannya, sementara magma sangat asam ini sangat menentukan dahsyat tidaknya letusan gunung tersebut. Makin asam magmanya, makin dahsyat letusannya.


So, kesimpulan akhirnya, gunung laut di lepas pantai Bengkulu itu tidaklah perlu disikapi berlebihan, apalagi ditakuti. Gunung itu hanyalah gunung laut biasa, sama halnya dengan gunung laut yang kini menjadi Pulau Christmas (900 km di selatan Jakarta), juga dengan gunung-gunung laut yang banyak bertebaran di bibir Palung Sunda (palung laut hasil pertemuan lempeng Australia dengan Eurasia) seperti misalnya Roo Rise di lepas pantai selatan Jawa Tengah. Memang dalam kajian ilmu kegempaan, gunung laut di bibir palung ini akan mendatangkan masalah, karena begitu ia mulai memasuki palung, maka ia berperan sebagai pengganjal yang membuat kegempaan di daerah tersebut merosot drastis. Namun merosotonya kegempaan ini diikuti dengan tingginya timbunan energi seismik. Sehingga kelak ketika seluruh bagian gunung sudah masuk ke dalam palung, timbunan energi seismik itu akan dilepaskan secara serentak sebagai sebuah gempa yang sangat besar. Tetapi hal ini baru akan terjadi dalam berjuta-juta tahun mendatang.


Salam,


Ma'rufin


From: "atriza_002@..." <atriza_002@...>
To: Forum Kompas <Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, May 31, 2009 10:52:03 AM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Yang membuat kita was was seandai nya gunung api raksasa di bawah laut ini masih aktif,kalau Toba Volcano sudah tidak aktif...

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !

-----Original Message-----
From: verdi adhanta <verdiadhanta@ yahoo.com>

Date: Sat, 30 May 2009 07:44:34
To: <Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Wah, itu belum apa-apa. Sumatra juga punya Supervolcano, yaitu gunung Toba.
Dimana? Ya Danau toba itu Kawahnya. 74,000 tahun lalu ia terakhir meletus, dan akibatnya Bumi mengalami jaman es mini (sekitar 6 tahun) dan menekan populasi manusia, sampai tinggal 15,000 orang (jadi bumi ini pernah dihuni oleh 15000 orang, gara-gara Supervolcano di Sumatra ini.) Saingannya Toba cuma Yellowstone, yang sedikit lebih kecil dari Toba.

http://anthropology.net/2007/07/06/mount-toba-eruption-ancient-humans-unscathed-study-claims/



#872 From: "Adrian Hasdi" <atjha_88@...>
Date: Wed Apr 29, 2009 8:02 am
Subject: (TANYA) Di mana ya beli teleskop yg terjangkau?
atjha_88
Send Email Send Email
 
rekan2 JAC, kemaren kebetulan proposal beli teleskop ke orang tua hampir
disetujui, kira2 kalo mau beli teleskop yg murah tp bisa bermanfaat di mana ya
di jogja? kalo bisa kisaran harganya berapa? thx alot yah!

#873 From: "uqi_agen" <uqi_agen@...>
Date: Sat Apr 25, 2009 12:24 am
Subject: Re: Observatorium pertama di Indonesia ?
uqi_agen
Send Email Send Email
 
iya tuch pak, penting banget untuk dicari tahu keberadaannya..
tapi menurut yang saya tahu letak suatu tempat yang sudah lama bisa dicari
dengan suatu ilmu yang namanya toponimi,gthu..

#874 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Jun 4, 2009 11:39 am
Subject: Fw: [ RHI ] Hilal Muda JuT 1430 'terlihat' di Bandung
marufins
Send Email Send Email
 
Konfirmasi dari pak Dr. T. Djamaluddin tentang situasi langit barat Bandung pada saat pengamatan hilaal Jumadil Akhir 1430 H. Thanks pak Djamal.

Salam,


Ma'rufin

----- Forwarded Message ----
From: T. Djamaluddin <t_djamal@...>
To: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Sent: Friday, May 29, 2009 4:49:22 PM
Subject: Re: [ RHI ] Hilal Muda JuT 1430 'terlihat' di Bandung

Assalamu'alaikum wr. wb.,

Kebetulan kami (bersama Mahasiswa IAIN Semarang) mengamati dari atap
gedung LAPAN Bandung. Karena hilal diperkirakan cukup tinggi, bila cuaca
cerah kemungkinan hilal mudah terlihat. Kami gunakan pengamatan visual,
dengan Celestron Nexstar 8i (computerized dg GPS), dan dengan teodolit.
Sayang, walau matahari sempat terlihat menjelang terbenam, awan tebal di
kaki langit tidak memungkinkan menembus hilal. Tetapi melihat celah awan
di sebelah utara (sebelah kanan pada foto terlampir saat matahari terbenam
sekitar 17:39 WIB), bisa jadi memungkinkan hilal terlihat dari Dago Pakar
(yang posisinya sebelah utara kantor LAPAN).

Wassalamu'alaikum wr. wb.,

T. Djamal

******************************************************************
Hidup ini adalah perjuangan lahir batin dengan iman, ilmu dan amal.
Matahari telah terbit.
Hari ini adalah hari perjuangan dengan semangat baru.
Majulah! Majulah! Majulah!
******************************************************************
Dokumentasi T. Djamaluddin : http://t-djamaluddin.spaces.live.com/
******************************************************************




1 of 1 Photo(s)

#875 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Jun 4, 2009 11:52 am
Subject: Riset ITB tentang Hilaal
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Berikut dilampirkan sejumlah hasil kajian dan riset tentang hilaal, yang dilakukan oleh Tim ITB Bandung. Terima kasih pak Dr. Moedji Raharto dkk !

Wassalamu'alaikum


Ma'rufin






3 of 3 File(s)


#876 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Jun 17, 2009 1:01 am
Subject: [INFO] Bersiap untuk Pengamatan Hilaal Tua Jumadil Akhir dan Hilaal Rajab 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Mari bersiap-siap untuk melaksanakan pengamatan hilaal dan hilaal tua untuk lunasi Rajab 1430 H.

Ijtima' atau konjungsi Bulan - Matahari akan terjadi pada hari Selasa Pahing 23 Juni 2009 pukul 02:35 WIB.

Sehingga :

1.Waktu Pengamatan Hilaal Tua Jumadil Akhir

Tersedia selang waktu untuk mengamati hilaal tua pada :
  • Minggu 21 Juni 2009 (umur Bulan saat itu : 44,7 jam sebelum konjungsi, lama Bulan di atas ufuk = 109 menit)
  • Senin 22 Juni 2009 (umur Bulan saat itu : 20,7 jam sebelum konjungsi, lama Bulan di atas ufuk = 47 menit)
Silahkan melaksanakan pengamatan hilaal tua pada kedua hari tersebut, dengan strategi pengamatan : 
  • Menghadaplah ke langit timur sejak mulai terbitnya Bulan hingga sebelum Matahari terbit (terbitnya Bulan = waktu terbitnya Matahari dikurangi dengan lamanya Bulan di atas ufuk).
  • Perhatikan bahwa Matahari pada saat terbit berada di Azimuth 65 alias berada di arah Timur Laut dari pengamat.
  • Perhatikan bahwa Bulan akan berada di sebelah kiri (sebelah utara) dari kedudukan Matahari, sehingga bentuk lengkungan cahayanya adalah miring ke kiri.

2. Pengamatan Hilaal Rajab

Tersedia selang waktu untuk mengamati hilaal pada :
  • Selasa 23 Juni 2009 (umur Bulan saat itu : 14,9 jam setelah konjungsi, lama Bulan di atas ufuk = 31 menit)
  • Rabu 24 Juni 2009 (umur Bulan saat itu : 38,9 jam setelah konjungsi, lama Bulan di atas ufuk = 93 menit)
Silahkan melaksanakan pengamatan hilaal pada kedua hari tersebut, dengan strategi pengamatan : 
  • Menghadaplah ke langit barat sejak mulai terbenamnya Matahari hingga terbenamnya Bulan (terbenamnya Bulan = waktu terbenamnya Matahari ditambah dengan lamanya Bulan di atas ufuk).
  • Perhatikan bahwa Matahari pada saat terbenam berada di Azimuth 293 alias berada di arah Barat Laut dari pengamat.
  • Perhatikan bahwa Bulan akan berada di sebelah kanan (sebelah utara) dari kedudukan Matahari, sehingga bentuk lengkungan cahayanya adalah miring ke kanan.

3. Pemodelan

Berikut kami lampirkan pemodelan posisi Bulan dan Matahari serta bentuk dan panjang sabit baik untuk hilaal maupun hilaal tua pada event tersebut. Pemodelan mengadopsi kota Yogyakarta sebagai lokasi pengamatan. Namun pada dasarnya tidak akan berbeda (secara praktis) ketika pengamatan dipindahkan ke kota-kota dan lokasi-lokasi lain yang ada di region Pulau Jawa dan Sumatra.

4. Format Laporan

Kemudian, tidak bermaksud untuk menggurui, namun agar lebih sistematis mohon upaya laporan-laporan tentang pengamatan hilaal maupun hilaal tua mengandung sedikitnya hal-hal sebagai berikut :
  1. Lokasi pengamatan (lebih bagus lagi jika lengkap dengan koordinat dan elevasinya).
  2. Kondisi kaki langit/horizon saat pengamatan (apakah cerah sempurna, atau berawan total/mendung, atau berawan sebagian dimana horizon tertutupi, atau terdapat sebaran awan/scatter clouds).
  3. Alat yang digunakan. Jika memakai alat bantu optik, mohon disertakan spesifikasinya (misalnya binokuler 7 x 35 mm dsb).
  4. Waktu saat terjadinya sunrise (jika mengamati Bulan sabit tertua) atau sunset (jika mengamati hilaal), dengan catatan sepanjang Matahari benar-benar teramati menyentuh horizon.
  5. Waktu saat Bulan sabit tertua terakhir kali terlihat, atau saat hilaal pertama kali terlihat. Catat juga tingginya pada saat itu (jika menggunakan alat optik), atau perkiraan tingginya (dengan membandingkannya terhadap ibu jari)
  6. Orientasi Bulan sabit tertua dan hilaal. Sebagai gambaran, bandingkan bentuk Bulan sabit tertua atau hilaal yang teramati dengan lingkaran jam, kemudian catat salah satu ujung sabit berada di jarum jam berapa, demikian juga ujung sabit yang lain. Setelah itu tuliskan dalam bentuk dimana angka jarum jam yang lebih kecil didahulukan. Misalnya : 3 - 8, 4 - 7, 2 - 6 dan sebagainya.
  7. Warna Bulan sabit tertua / hilaal.
  8. Jika memungkinkan, harap disertakan fotonya.
  9. Sebelum melakukan pengamatan, harap kalibrasikan jam anda dengan standar waktu referensi setempat. Misalnya dengan menghubungi nomor 103 lewat telpon kabel/HP CDMA Flexy, atau membandingkan dengan waktu siaran BBC, atau dengan siaran RRI, atau radio pantai.
Laporan harap di-share ke milis ini, atau bisa juga dikirimkan via japri ke marufins@... atau jogja_astroclub@.... Boleh juga dikirimkan dalam format singkat lewat SMS ke Ma'rufin (0817727823) atau Mutoha (08122743082)

5. Catatan

Pengamatan hilaal dan hilaal tua untuk lunasi Rajab 1430 H ini memiliki keunikan karena :
  • Secara umum region Pulau Jawa dan Sumatra bagian selatan sedang dalam transisi menuju ke musim kemarau, sehingga peluang langit bersih dengan clear horizon lebih besar.
  • Hilaal pada hari Selasa 23 Juni 2009, secara teoritik memiliki umur "hanya" 14,9 jam, alias sangat muda. Namun pemodelan matematis menunjukkan pada kondisi tersebut hilaal tua justru masih ada kemungkinan untuk terlihat, ditandai dengan selisih tinggi yang lumayan (mencapai 8 derajat), elongasi 9 derajat atau di atas limit Danjon dan Bulan berada di atas ufuk selama 31 menit. Mari memfokuskan pengamatan ke saat tersebut, karena pada saat tersebut Bulan memiliki elemen-elemen yang sangat kritis (mendekati limit visibilitasnya) dan menjadi sarana yang ideal guna menguji kemampuan sebuah kriteria visibilitas.
Demikian, terima kasih atas perhatiannya, ditunggu partisipasinya dan laporan-laporannya.

Wassalamu'alaikum...


Ma'rufin


1 of 1 File(s)


#877 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Jun 17, 2009 1:24 am
Subject: Makalah Arah Kiblat
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Berikut disajikan makalah dari pak Dr. Moedji Raharto dkk tentang Arah Kiblat, yang dipresentasikan dalam International Conference of Mathematics and Natural Sciences pada 29 - 30 November 2006 di Bandung. Didalamnya disajikan 6 metode untuk menghitung Arah Kiblat suatu tempat, dan yang menarik, disajikan pula bagaimana cara menghitung galat / error atau besaran kesalahan perhitungan yang masih bisa ditoleransi dari suatu tempat.

Makalah menggunakan Bahasa Inggris. Jika ada waktu dan kesempatan, monggo untuk member milis barangkali ada yang bersedia menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia atau Arab ? Kami persilahkan.

Demikian, semoga bermanfaat. Untuk pak Moedji Raharto, terima kasih atas kiriman makalahnya.

Salam,


Ma'rufin


1 of 1 File(s)


#878 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Jun 17, 2009 1:37 am
Subject: Makalah tentang Hilaal Equinox, Siklus Meton dan Kecerahan Langit
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum...

Berikut disajikan 4 makalah mengenai karakteristik Bulan sabit termuda alias hilaal dari pak Moedji Raharto dkk, yang pernah disajikan beliau dalam event International Conference of Mathematical and Natural Sciences (ICMNS) tahun 2008 di Bandung.

Makalah-makalah ini semuanya dalam Bahasa Inggris dan memfokuskan diri pada keterlihatan (visibilitas) hilaal di dekat titik equinox (21 Maret dan 23 September), bagaimana pengaruh kecerahan langit senja (sky brightness) terhadap visibilitas hilaal serta adanya siklus Meton pada visibilitas hilaal. Siklus Meton adalah siklus yang berperiode 235 lunasi atau tepat 19 tahun solar (tahun Masehi/Gregorian) dimana fase Bulan akan tepat berulang pada tanggal yang sama di tahun solar.

Demikian, semoga bermanfaat dan bisa menjadikan tambahan pengetahuan yang berharga guna memformulasikan apa hilaal itu sebenarnya. Untuk pak Moedi Raharto, kami ucapkan terima kasih untuk sharing-nya.

Salam,


Ma'rufin


3 of 3 File(s)


#879 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Jun 24, 2009 6:24 pm
Subject: Catatan Diklat Penyusunan Jadwal Shalat dan Arah Kiblat
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Sekedar catatan ringkas dari kegiatan Diklat 8 Jam Penyusunan Jadwal Shalat dan Arah Kiblat yang diselenggarakan PC Pemuda Muhammadiyah Gombong, Kab. Kebumen, pada Minggu 24 Mei 2009. Catatan yang terlalu ringkas, banyak yang tidak ter-cover dan juga banyak salah ketik. Walo begitu, semoga bisa dibaca secara utuh, tanpa terdistorsi.

Untuk mas Heri Pramono dkk di Gombong, maju terus !

Salam,


Ma'rufin


1 of 1 File(s)


#880 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Jun 24, 2009 6:35 pm
Subject: Mencoba Menjawab Soal Olimpiade
marufins
Send Email Send Email
 
Pertanyaan tahun 2007. Maaf baru sempat dibales.

Salam,


Ma'rufin


1 of 1 File(s)


#881 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Jun 30, 2009 1:08 am
Subject: Re:Klarifikasi Gerhana Matahari 22 Juli 2009
marufins
Send Email Send Email
 
Wa'alaikumsalam wr wb.

File-nya koq ndak bisa dibuka ya pak?

Sebenarnya kalo sudah dihitung dengan software seperti The SkyX sudah cukup, karena software ini juga sudah mendasarkan diri pada algoritma Jean Meeus dan versi perbaikannya untuk teori gerak Bulan (seperti ELP 2000/82 dari Chapront-Touze dan generasi sesudahnya). Algoritma ini punya akurasi sangat tinggi, sehingga tingkat kesalahan untuk prediksi posisi Bulan hanya sekitar 10 detik busur (0,003 derajat) saja.

Berikut sebagai pembanding, hasil prediksi dengan menggunakan software yang sangat simpel : Emapwin 1.21 untuk posisi kota Lhoksukon, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia :

Tanggal 22 Juli 2009
1. Awal gerhana
Terjadi pada pukul 07:17 WIB, saat Matahari berada di ketinggian 11 derajat dari horizon timur dengan posisi di Azimuth 70 (atau di antara arah Timur Laut dan Timur).

2. Puncak gerhana
Terjadi pada pukul 08:01 WIB, saat Matahari berada di ketinggian 21 derajat dari horizon timur dengan posisi di Azimuth 70 (atau di antara arah Timur Laut dan Timur). Pada puncak gerhana ini, piringan Matahari yang tertutupi bundaran bulan hanya sebesar 27 % sehingga merupakan gerhana sebagian. Harus diperhatikan bahwa puncak gerhana ini berbeda dengan konjungsi Bulan - Matahari (ijtima'), dimana komnjungsi baru terjadi pada jam 09:35 WIB.

3. Akhir gerhana
Terjadi pada pukul 08:49 WIB, saat Matahari berada di ketinggian 33 derajat dari horizon timur dengan posisi di Azimuth 69 (atau di antara arah Timur Laut dan Timur).

Sebagai tambahan, Gerhana Matahari 22 Juli 2009 ini tergolong gerhana matahari total (GMT), yakni GMT yang menjadi bagian dari seri Saros 136. Namun lintasan Umbra-nya tidak melewati satupun titik di wilayah Indonesia. Umbra gerhana ini melintang dari India, melewati Shanghai, perairan sempit antara Kep. Ryukyu dan pulau-pulau utama di Jepang hingga berakhir di Pulau-pulau kecil di tengah Samudera Pasifik. Untuk bayangan penumbra-nya, ada sejumlah wilayah di Indonesia yang dilewati. Yakni sebagian pulau Sumatra (propinsi NAD, Sumut, Sumbar, Riau dan Riau Kepulauan), sebagian pulau Kalimantan (Prop Kalbar dan Kaltim), sebagian Pulau Sulawesi (prop. Sulut, Gorontalo dan Sulteng), sebagian Kep. Ambon (prop. Maluku dan Maluku Utara) serta keseluruhan pulau Irian (prop. Irjabar dan Papua).

Untuk daerah-daerah lain di luar itu, baru bisa menyaksikan gerhana matahari kembali pada 15 januari 2010 mendatang sebagai Gerhana Matahari Cincin.

Untuk mengamati, caranya sama dengan pengamatan pada Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 lalu. Jadi gunakan filter pelindung (bisa dibuat dari negatif film yang tidak digunakan, dirangkap dua dan ditaruh di frame kacamata) baik untuk mengamati dengan mata telanjang ataupun dengan kamera digital.

Selamat mengamati pak, ditunggu hasil-hasilnya. Dan jangan lupa untuk melaksanakan shalat gerhana

Salam,


Ma'rufin


From: us man <us_poli@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Sent: Monday, June 29, 2009 9:52:00 AM
Subject: [ RHI ] Klarifikasi Gerhana Matahari 22 Juli 2009 [1 Attachment]

Assalamualaikum wr.wb
 
 
Teman-Teman RHI
Saya sekarang sedang mengembangkan Ilmu Falak di Politeknik Negeri Lhokseumawe, tp ada masalah,  Ilmu saya tentang hitung Gerhana matahari dan bulan masih sangat kurang, jadi untuk sementara saya melacak gerhana matahari dengan menggunakan software astronomi The SkyX, tapi saya belum yakin atas keakuratannya. oleh karena itu saya minta tolong sama teman-teman RHI untuk memberi kementar atas prediksi yang saya dapat dengan menggunakan program tersebut.
 
lokasi pengamatan saya ambil Kota Lhoksukan dengan Lintang 5 : 7 dan Bujur 97 : 19.
 
Atas bantuan teman - teman saya ucapkan terimaksih
 
Wassalam
 
Usman
Politeknik Negeri Lhokseumawe



2 of 2 Photo(s)

#882 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Jul 2, 2009 3:20 am
Subject: Resume Pengamatan Hilala Tua Jumadil Akhir/Hilaal Rajab 1430 H dan Event Khusus
marufins
Send Email Send Email
 
Hilaal Tua Jumadil Akhir

1. Minggu pagi 21 Juni 2009 menjelang Matahari terbit (sunrise)

Pengamat dan hasil :
  • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal tua terlihat, langit cerah dengan scatter clouds
  • Pak Mutoha (Yogyakarta), hilaal tua terlihat, langit cerah dengan scatter clouds
  • Pak Moedji Raharto (Bandung), hilaal tua terlihat, langit berkabut
  • Mas Yhonny Siregar (Bogor), hilaal tua terlihat, langit cerah
  • Ma'rufin (Cirebon), hilaal tua terlihat, langit cerah
2. Senin pagi 22 Juni 2009 menjelang Matahari terbit (sunrise)

Pengamat dan hasil :
  • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal tua terlihat, langit cerah dengan scatter clouds
  • Mas Yhonny Siregar (Bogor), hilaal tua tak terlihat, langit cerah
  • Ma'rufin (Cirebon), hilaal tua tak terlihat, langit cerah

Hilaal Rajab

1. Selasa senja 23 Juni 2009 setelah Matahari terbenam (sunset)

Pengamat dan hasil :
  • Mas Yhonny Siregar (Bogor), hilaal tak terlihat, langit mendung, hujan gerimis.
  • Pak Moedji Raharto (Bandung), hilaal tak terlihat, langit mendung
  • Pak Ismail Fahmi & tim Depag (Pelabuhanratu), hilaal tak terlihat, langit mendung
  • Pak Mutoha & tim BHR & LFNU (Parangkusumo DIY), hilaal tak terlihat, langit cerah dengan awan menggantung di horizon sampai ketinggian 2 derajat.
  • Pak Ibnu Zahid Aboel Muid & tim LFNU (Condrodipo Gresik), hilaal tak terlihat, langit cerah dengan awan tipis menggantung di horizon
  • Mas N. Sopwan dkk (Bandung), hilaal tak terlihat, langit mendung.
  • Mas Herry Sudjono (Bekasi), hilaal tak terlihat, langit tertutup awan tipis
  • Pak Rukman Nugraha & tim BMKG (Jakarta), hilaal tak telrihat, langit cerah dengan scatter clouds di horizon
2. Rabu senja 24 Juni 2009 setelah Matahari terbenam (sunset)

Pengamat dan hasil :
  • Mas Yhonny Siregar (Bogor), hilaal terlihat, langit berawan sebagian.
  • Pak Moedji Raharto (Bandung), hilaal terlihat, langit berawan sebagian
  • Ma'rufin (Yogyakarta), hilaal terlihat, langit cerah sempurna
  • Pak Arief Syamsulaksana (Perth, Australia), hilaal terlihat, langit cerah dengan scatter clouds.
  • Pak Ibnu Zahid Aboel Muid & tim LFNU (Condrodipo Gresik), hilaal terlihat, langit dengan awan tipis menggantung di horizon
  • Mas N. Sopwan dkk (Bandung), hilaal terlihat, langit berawan sebagian.
  • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal terlihat, langit cerah dengan scatter clouds
  • Pak Rukman Nugraha & tim BMKG (Jakarta), hilaal terlihat, langit cerah dengan awan tipis di horizon.
Terima kasih atas semua partisipasinya. Data-data telah kami catat dan Insya' Allah akan sangat berguna dalam histori, kajian dan penentuan kalender Hijriyyah di Indonesia. Dan kami tunggu lagi partisipasi serta laporannya dalam pengamatan hilaal tua Rajab dan hilaal Sya'ban 1430 H mendatang.

1 Rajab 1430 H

Secara teoritis, berdasarkan data visibilitas minimum terkecil yang terdokumentasikan dalam arsip RHI, pada Selasa senja 23 Juni 2009 sebenarnya hilaal berkemungkinan untuk bisa dilihat, dengan syarat :
  • Hanya bisa diamati dengan menggunakan alat optik berupa teleskop/teodolit yang memiliki kemampuan tracking, sehingga mampu mengikuti gerak Bulan secara terus menerus. Dengan tracking, maka kontras hilaal yang diterima oleh mata/kamera pada eyepiece alat optik akan lebih besar dari kontras langit latar belakang.
  • Hanya bisa diamati dalam kondisi langit sempurna, tanpa scatter clouds, tanpa awan-awan rendah di horizon.
Kondisi langit sempurna atau yang mendekati tidak dijumpai di semua lokasi pengamatan. Hanya di POB Bela-Belu Parangkusumo DIY kondisi langitnya cukup cerah meski masih terganggu oleh awan rendah yang tebal (berwarna hitam) di horizon barat yang menggantung hingga ketinggian 2 derajat. Namun hilaal tetap tidak teramati meski pengamatan telah dilakukan dengan menggunakan bantuan binokuler 7 x 35 mm dan 10 x 50 mm. Secara umum dari semua titik amat bisa disimpulkan bahwa visibilitas hilaal adalah negatif tatkala Umur Bulan kurang dari 15 jam pasca konjungsi dan elongasinya masih 9 derajat dari Matahari.

Dengan demikian 1 Rajab 1430 H telah dimulai pada Rabu 24 Juni 2009 saat sunset, atau secara gampangnya dikatakan 1 Rajab 1430 H = Kamis 25 Juni 2009, berdasarkan pada teramatinya hilaal dan dikomparasikan dengan hisab model visibilitas RHI.

Event Khusus

Dengan penentuan tanggal merujuk di atas, maka Rajab 1430 H akan berumur 29 hari hingga "perbatasan"nya dengan Sya'ban 1430 H pada pengamatan hilaal 22 dan 23 Juli 2009 mendatang. Ada sejumlah event khusus dalam Rajab 1430 H, yakni :

a. Gerhana Bulan Penumbral

Gerhana Bulan Penumbral ini akan terjadi pada tanggal 7 Juli 2009 atau 13 Rajab 1430 H. Gerhana ini adalah gerhana penumbral, yang terjadi tatkala bayangan tambahan Bumi (penumbra) menutupi bundaran Bulan. Magnitude gerhana ini 0,149, artinya hanya 14,9 % cakram Bulan yang bakal tertutupi penumbra. Gerhana diawali pada jam 15:40 WIB berupa kontak awal penumbra (P1) dan berakhir pada pukul 17:38 WIB sebagai kontak akhir penumbra (P4). Sehingga secara keseluruhan durasi gerhana penumbral ini adalah 1 jam 58 menit, dengan puncak pada jam 16:39 WIB. Pada puncaknya inilah 14,9 % cakram Bulan tertutupi oleh penumbra.

Secara kasatmata gerhana ini sangat sulit dideteksi, karena penutupan penumbra pada Bulan hanya menyebabkan perubahan kecemerlangan yang sangat sedikit sehingga hanya bisa diamati dengan detil menggunakan alat optik. Meski demikian, karena gerhana sudah terjadi, maka Umat Islam pada wilayah-wilayah yang tercover oleh gerhana ini disunnahkan untuk melaksanakan shalat gerhana Bulan.

Gerhana hanya bisa disaksikan utuh di kawasan Samudera Pasifik. Sebagian wilayah Indonesia bisa menyaksikan gerhana penumbral ini, yakni dari Pulau Jawa dan Kalimantan menerus hingga ke Pulau Irian. Namun di tempat-tempat tersebut gerhana terjadi tatkala Bulan sedang dalam proses terbit (moonrise) sehingga sulit diamati karena berada pada ketinggian cukup rendah dari horizon timur.
 
b. Minggu Kiblat yang kedua (2nd Qibla Week)

Minggu Kiblat, merupakan istilah dalam RHI yang didasarkan pada peristiwa Istiwa' Azzam atau Istiwa' Utama, yakni kondisi ketika Matahari berada di atas Ka'bah (atau dalam bahasa teknisnya, ketika cakram matahari ada di titik zenith kota Makkah al-Mukarramah). Pusat cakram Matahari berada paling dekat dengan titik zenith kota Makkah pada Kamis 16 Juli 2009 pukul 16:25 WIB. Namun karena cakram matahari merupakan bundaran bercahaya yang memiliki apparent diameter 0,5 derajat jika dilihat dari Bumi, maka secara umum cakram Matahari telah berada di titik zenith Makkah pada hari Rabu - Jumat, 15 - 17 Juli 2009 (21 - 23 Rajab 1430 H) pukul 16:25 WIB. Pada hari-hari dan jam inilah, maka setiap benda yang terpasang tegak lurus ke permukaan tanah dan tersinari Matahari pada saat itu akan memiliki bayangan yang tepat mengarah ke kiblat secara presisi dengan kemungkinan meleset secara teoritik hanya +/- 0,5 derajat.

Karena terjadi selama 3 hari berturut-turut, maka peristiwa ini kami istilahkan dengan Minggu Kiblat. Mari jadikan event ini sebagai wahana untuk memperbaiki kembali arah kiblat shalat kita, baik di rumah, baik di musholla, baik di masjid maupun di lapangan. Mari mulai dari yang kecil-kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekitar kita, sehingga kelak Insya' Allah angka 70 % masjid / musholla di Indonesia yang menyimpang dari arah kiblat yang sebenarnya bisa berkurang drastis.

Jika ingin menetapkan arah kiblat pada Minggu Kiblat ini, mohon terlebih dahulu kalibrasikan/sinkronisasikan jam tangan/penunjuk waktu yang akan anda gunakan dengan standar waktu referensi WIB, misalnya dengan menghubungi nomor 103 lewat pesawat telpon kabel atau HP CDMA berbasis kartu Flexi (maaf ini bukan promosi lho !), atau dengan mencocokannya lewat siaran radio RRI maupun BBC pada jam-jam warta berita. Dengan kondisi matahari sebagai cakram berdiameter apparent 0,5 derajat tersebut, maka kemelesetan waktu sebesar +/- 1 menit daris esungguhnya masih bisa ditolerir.  

c. Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari Total ini akan terjadi pada tanggal 22 Juli 2009 atau 28 Rajab 1430 H. Gerhana ini adalah gerhana total, dengan bayangan inti (umbra) berupa lintasan yang memanjang dari pantai Gujarat (India bagian barat) menerus ke arah timur laut melewati kota Shanghai (Cina), Kep. Ryukyu (Jepang) dan berbelok ke tenggara hingga berakhir di tengah-tengah Samudera Pasifik. Meskipun lintasan umbra-nya sangat panjang, namun lebar lintasan ini cukup sempit, yakni hanya 258 km.

Wilayah Indonesia terletak jauh dari lintasan umbra ini sehingga hanya dilewati bayangan penumbra gerhana. Itupun tidak seluruhnya. Batas penumbra terbentang dari kota Jambi, menerus ke timur laut melewati kota Samarinda (Kalimantan) dan Toli-Toli (Sulawesi) untuk kemudian berbelok ke tenggara melewati kota Luwuk (Sulawesi) dan Bula (Pulau Seram, Maluku) hingga berakhir di Laut Arafura. Wilayah yang ada di sisi selatan batas penumbra ini tidak bisa menyaksikan gerhana.

Gerhana bisa disaksikan pada pagi hari untuk Pulau Sumatra dan Kalimantan. Di Sulawesi dan Papua, gerhana bisa disaksikan pada siang hari. Durasi gerhana yang terpanjang terjadi di kota Jayapura dan sekitarnya, yakni selama 1 jam 52 menit yang dimulai pada pukul 11:11 WIT. Namun penutupan cakram Matahari oleh Bulan yang terbesar pada sata puncak gerhana justru terjadi di kota Banda Aceh dan sekitarnya, yakni mencapai 29,7 % (magnitude 0,297). di Banda Aceh gerhana mulai terjadi pada pukul 07:14 WIB dan berakhir pada 08:48 WIB. Sementara durasi terpendek gerhana terjadi di sepanjang perbatasan penumbra. Di kota Samarinda dan sekitarnya misalnya, gerhana hanya berlangsung 17 menit sejak pukul 09:36 WITA, dengan tutupan cakram Matahari hanya 0,4 %.

Shalat gerhana Matahari disunnahkan dikerjakan Umat Islam pada daerah-daerah yang berada di sisi utara batas penumbra, yakni yang tinggal di propinsi :
  • Nangroe Aceh Darussalam
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Riau Kepulauan
  • Jambi (sebagian)
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Timur (sebagian)
  • Sulawesi Utara
  • Gorontalo
  • Sulawesi Tengah (sebagian)
  • Sulawesi Tenggara (sebagian)
  • Maluku (sebagian)
  • Maluku Utara
  • Irian Jaya Barat
  • Papua.
Catatan

  • Hilaal yang nampak pada Rabu 24 Juni 2009 dinamakan sebagai hilaal solstice, karena terjadi pada saat yang berdekatan dengan summer solstice (titik balik musim panas), yakni pada tanggal 21 Juni.
  • Maaf karena jaringan sedang lelet, banyak file yang tak bisa dilampirkan.

Salam,


Ma'rufin


#883 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Jul 2, 2009 4:26 am
Subject: Re: Kapankah sebenarnya waktu Shubuh di Indonesia?
marufins
Send Email Send Email
 
Wa'alaikum salam wr wb pak Rinto.

Uraian yang sangat menarik dan bernas. Saya hanya menambahkan saja sedikit.

Pokok permasalahan awal waktu Shubuh, kalo mau dirujuk ke al-Qur'an, ada pada surat al-Baqarah ayat 187. Silahkan (khususnya nada yang Muslim) dibuka saja Qur'annya untuk ayat tersebut, disini saya hanya mengutipkan artinya berdasarkan al-Qur'an dan Terjemahannya terbitan Depag RI :

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa."

(Q.S. 2:187)

Silahkan fokus ke frasa "..dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar...". Kalimat ini sebenarnya merujuk ke kebiasaan sahabat Nabi SAW pada masa itu di Madinah al-Munawwarah, yang mengikatkan tali hitam dan tali putih di kakinya pada malam hari jika hendak berpuasa dan tetap melanjutkan aktivitas makan dan minumnya dan yang lainnya yang dihalalkan dan baru berhenti (memulai puasa) setelah terlihat jelas perbedaan antara tali hitam dan tali putih tersebut. Dan kemudian turunlah ayat tersebut dan barulah beliau-beliau itu memahami bahwa yang dimaksud dengan awal puasa (alias awal waktu Shubuh dalam konteks yang lebih luas) adalah perbatasan antara siang dan malam, yakni fajar.

Nah fajar yang seperti apa ? Pak Rinto sudah menguraikannya dengan adanya 3 macam twilight. Ada astronomical twilight, terjadi saat pusat cakram Matahari berkedudukan 18 derajat di bawah horizon, ditandai dengan mulai "menghilangnya" bintang-bintang di langit secara umum dan selempang Bima Sakti. Ada pula nautical twilight, terjadi saat pusat cakram Matahari berkedudukan 12 derajat di bawah horizon, ditandai dengan mulai nampaknya cahaya putih di horizon sementara di langit hanya tersisa planet-planet terang (Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter) serta bintang-bintang terang seperti Sirius, Centauri dll. Dan ada pula civil twilight, terjadi ketika pusat cakram Matahari berkedudukan 6 derajat di bawah horizon, ditandai dengan menyebarnya cahaya putih ke seluruh penjuru horizon dan terangnya langit sehingga bintang-bintang dan planet-plamnet terang tak lagi terlihat. Harus dilihat bahwa definisi tersebut berlaku untuk dataran rendah dalam keadaan langit sempurna, tanpa Bulan, tanpa pengaruh letusan katastrofis gunung berapi (seperti Tambora atau Krakatau atau yang sejenisnya), dan untuk dataran rendah. Untuk dataran tinggi (ingat baik Makkah maupun Madinah ada di dataran tinggi, yakni pada ketinggian 300-an meter dpl) ada sedikit koreksi.

Nah fajar mana yang dipakai? al-Biruni (973 - 1050 TU), seorang cendekiawan Islam yang terbesar pada masanya, mengusulkan astronomical twilight alias kedudukan Matahari 18 derajat di bawah horison sebagai awal fajar, seperti termaktub dalam opus magnumnya al-Qanun al-Mas'udi (diterjemahkan menjadi Canon Mas'udicus). Mengapa 18 derajat? Saya belum membaca keseluruhan karya al-Biruni, namun nampaknya beliau berpendapat bahwa pada sudut itulah mulai terjadi perubahan signifikan di langit sehingga bintang-bintang secara umum (yang mayoritas nampak redup-redup itu) mulai menghilang.  Mungkin beliau mengambil ijtihad, bahwa jika diumpamakan bintang-bintang itu adalah "benang putih", maka menghilangnya bintang-bintang tersebut bisa dikatakan sebagai "benang putih yang terbedakan dengan benang hitam" seperti dimaksud dalam ayat tadi.

Jangan dilupakan juga bahwa ada dua fajar dalam fiqh. Ada fajar kathib alias fajar palsu, yang kemudian disusul fajar shadiq alias fajar asli/fajar nyata. Nah fajar kathib itu seperti apa? Fajar ini didefinisikan sebagai kondisi ketika ada cahaya redup yang membentang dari horizon ke arah zenith, dimana cahaya tersebut berbentuk segitiga sehingga tidak memenuhi keseluruhan horizon. Nah fenomena ini secara umum sudah disepakati sebagai munculnya cahaya zodiak, yakni pantulan sinar Matahari oleh debu-debu angkasa di sepanjang orbit Bumi. Jika Matahari sedang berada di bawah horizon timur, maka cahaya zodiak pun terlihat di langit timur. Cahaya zodiak (zodiacal light) ini cukup terang jika dilihat dengan CCD, namun jika dengan mata biasa masih cukup lemah dan redup, sehingga bintang-bintang yang cahayanya lemah ataupun selempang galaksi Bima Sakti masih bisa dilihat mata.  Nah cahaya zodiak ini baru akan berakhir ketika astronomical twilight tercapai. Sehingga per definisi ketika cahaya zodiak (fajar kathib) ini menghilang, otomatis fenomena berikutnya merupakan fajar shadiq, tanpa disertai jeda waktu.

Saya sepakat dengan pak Rinto, bahwa hasil "pengamatan" di Pantai Lekok Pasuruan (Jatim) tersebut tidak bisa kemudian digunakan untuk meruntuhkan kaidah awal waktu Shubuh yang selama ini digunakan di Indonesia. Permasalahannya datanya ndak jelas dan itu baru 1 kali diamati sehingga belum jelas pula validitas dan reliabilitasnya. Harus diingat bahwa penentuan waktu shalat itu pun masuk ke dalam ranah eksakta, dan di sana berlaku statistika penelitian, sehingga jika ingin melakukan perubahan terhadap kaidah yang sudah baku musti ada bukti yang sangat kuat dengan data yang benar-benar valid dan reliabel.

Sebagai pembanding, sempat dilakukan pengamatan tambahan soal twilight ini tatkala mengobservasi hilaal pada Selasa 23 Juni 2009 lalu di Pos Observasi Bulan Bela-Belu Parangkusumo DIY yang berada di ketinggian 60 meter. Kebetulan langit cerah, meski ada awan hitam menggantung di horizon barat hingga ketinggian 2 derajat. Matahari mulai menghilang di balik awan pukul 17:23 WIB (sunset diperkirakan terjadi pada pukul 17:31 WIB). Pada pukul 17:55 WIB, barulah bintang-bintang terang seperti alfa Centauri dan beta Centauri dan Arcturus nampak. Sirius -bintang yang paling terang- hanya nampak dengan binokuler karena kedudukannya sangat rendah di atas horizon barat. Pukul 18:18 WIB cahaya terang sudah sepenuhnya menghilang di balik awan di barat. Namun di langit hanya terlihat bintang-bintang terang tadi saja.

Salam,


Ma'rufin




Assalamu'alaikum wrwb

Bismillahirrahmanir rahim. Ini beberapa tanggapan saya. Semoga bermanfaat.

1. Waktu shalat disusun berdasarkan pergerakan matahari. Saat ini, orang dapat menentukan posisi matahari kapan saja dengan ketelitian sangat tinggi, bahkan untuk prediksi hingga ribuan tahun ke depan. Algoritma yang dipakai untuk menentukan posisi matahari dan planet-planet dengan sangat akurat ini dikenal dengan nama VSOP87.

2. Waktu shubuh muncul saat datangnya fajar shidq. Fajr shidq ini tidak lain adalah dawn astronomical twilight (Mohamad Odeh, penyusun Accurate Times). Sedangkan Isya' dinamakan dusk astronomical twilight. Perlu diketahui, dalam standar ilmu astronomi, ada tiga jenis twilight, yaitu civil, nautical dan astronomical twilight. Civil twilight terjadi saat matahari berada 6 derajat di bawah ufuk. Nautical 12 derajat dan astronomical twilight 18 derajat.

3. Shubuh dan Isya' berhubungan dengan adanya pembiasan sinar matahari oleh atmosfer bumi. Seandainya tidak ada atmosfer bumi, maka begitu matahari terbenam langit akan gelap sama sekali, atau sebelum matahari terbit langit juga masih gelap sama sekali. Karena adanya atmosfer itulah, sinar matahari yang berada di bawah ufuk masih mampu dibiaskan oleh atmosfer bumi sehingga langit masih agak terang, belum gelap sama sekali. Kalau kedalaman matahari di bawah ufuk sudah melebihi batas astronomical twilight maka tidak ada lagi intensitas cahaya matahari yang ada di langit. Langit menjadi gelap.

4. Memang ada perbedaan pendapat di kalangan penyusun waktu shalat tentang berapa sudut (altitude) matahari di bawah ufuk saat Shubuh dan Isya'. Ada yang 17, 18, 19 atau 20 derajat. Silakan lihat di Islamicfinder. org. Memang dimungkinkan terjadinya perbedaan pendapat, karena banyak faktor. Faktor geografis karena perbedaan lintang, faktor intensitas cahaya di langit ketika ada bulan purnama atau bulan mati, faktor awan, cahaya dari permukaan bumi (lampu) dll. Tetapi satu hal, tidak ada satupun yang menyatakan bahwa datangnya waktu shubuh itu ketika sudutnya 12 derajat.

5. Terkait dengan tulisan dari saudara Bram, pada tgl 5 Juni 2009 di Malang (saya ambil koordinat 112,5 derajat BT dan 8 derajat LS), maka disebutkan disitu pertama kali ada suara azan jam 04.15 WIB. Dalam hitungan saya, ini sama dengan sudut 20 derajat di bawah ufuk. Memang sudut ini yang setahu saya banyak dipakai di Indonesia, bersumber dari Sa'dudin Jambek, ahli hisab Indonesia masa lalu. Kemudian, saudara Bram menulis di Pantai Lekok Pasuruan (saya ambil koordinat 113 derajat BT dan 7,6 derajat LS), maka terdengar azan pukul 04.24 WIB. Ini kira-kira sama dengan sudut 18 derajat ditambah ikhtiyath 1 menit.

6. Permasalahannya, rombongan tersebut yang mencoba untuk melihat fajr shadq ini di Pantai Lekok ini menyatakan bahwa fajr shadq muncul pada pukul 04.49 WIB. Dalam hitungan saya, ini sama dengan sudut matahari 11,5 derajat di bawah ufuk. Menurut saya, ini hasil pengamatan yang aneh. Tidak ada satupun pendapat yang menyatakan sudut 12 derajat adalah waktu masuk shubuh. Sudut paling kecilpun sekitar 16 derajat. Mungkin sudut 20 derajat masih gelap, tetapi sudut 12 derajat sudah agak terang. Sudut 12 derajat ini sudah menunjukkan nautical twilight, bukan lagi awal dari astronomical twilight.

7. Sebenarnya, sejak zaman dulu, para astronom muslim sudah menyelidiki soal sudut masuk Shubuh dan Isya'. Rata-rata hasil penelitian mereka, bervariasi antara sekitar 17-20 derajat. Sayang sekali, ada saudara kita yang menyaksikan satu kali, sudah langsung mempertanyakan kebenaran waktu datangnya azan shubuh di Indonesia.

Sebagai tambahan, saya menulis soal bagaimana cara menentukan waktu shalat di website eramuslim
http://www.eramusli m.com/syariah/ ilmu-hisab/ cara-menghitung- waktu-shalat. htm
Bagi yang tertarik untuk mengetahui rumus waktu shalat menggunakan Excel, silakan download di
http://www.4shared. com/file/ 111278266/ 2fa23c50/ Waktu-Shalat. html

Rinto Anugraha



 




#884 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Jul 2, 2009 8:44 am
Subject: Re:Bulan Ternyata Makin Menjauh...
marufins
Send Email Send Email
 
Itu sudah diperhitungkan. Orbit Bulan memang orbit ellips (dengan eksentrisitas ellips 0,0549) dengan setengah sumbu mayor orbitnya sebesar 377.113 km (dihitung dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Nah pertambahan jarak sebesar 3,6 cm/tahun itu terjadi di setengah sumbu mayor orbitnya ini, yang membawa konsekuensi bahwa titik terdekat Bulan dengan Bumi (atau titik perigee) dan titik terjauh Bulan dengan Bumi (atau titik apogee) pun bertambah jauh sebesar 3,6 cm/tahun pula dari pusat Bumi. Harus dicatat bahwa tahun yang digunakan di sini adalah tahun solar (Syamsiyyah), bukan tahun lunar (Qomariyyah).

Dinamika ini membawa beberapa implikasi. Yang pertama, jika di-setback ke belakang, memang pada 4,6 milyar tahun silam (atau pada masa bayi tata surya), Bulan pernah berada sangat dekat dengan Bumi, yakni hanya 22.000 km dari pusat Bumi. Pada area inilah memang Bulan terbentuk, mengingat gaya pasang surut gravitasi membatasi bahwa Bulan tidak boleh mendekat ke Bumi hingga kurang dari jarak 18.500 km dari pusat Bumi (jika harga kerapatan Bumi dan Bulan pada masa itu tetap sama dengan masa kini, yakni 5,5 banding 3,5). Kondisi ini ,membawa pada satu pemikiran bahwa Bulan memang terbentuk dari terpecahnya Bumi-purba (alias proto-Bumi) pada masa awal tata surya. Perpecahan ini terjadi akibat hantaman benda langit seukuran Mars (yang secara umum disebut Theia) pada Bumi-purba, yang pada saat itu masih berwujud gumpalan cair panas. Hantaman tersebut menyebabkan sebagian lapisan terluar Bumi dan Theia (kita sebut saja sebagai lapisan proto-kerak) terlempar terhambur ke angkasa pada ketinggian 18.500 - 22.000 km dari pusat proto-Bumi, sementara inti Theia melesak masuk ke dalam proto-Bumi dan menjadi bagian dari inti Bumi sekarang. Hantaman ini yang menyebabkan sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan 23,5 derajat dari ekliptika.  Sementara hamburan material yang beredar pada jarak 18.500 - 22.000 km dari pusat Bumi itu kemudian mengalami kondensasi, memadat dan akhirnya membentuk benda langit tersendiri dengan massa 1/81 massa Bumi dan itu yang kemudian dikenal sebagai Bulan. Sisa material yang tidak ikut berkondensasi diyakini sempat membentuk "cincin" pada Bumi, sama persis dengan cincin-cincin planet Saturnus. Namun akibat gaya pasang surut Bumi, material penyusun cincin kemudian menghilang ke angkasa dilemparkan oleh gravitasi Bumi sehingga cincin Bumi pun lenyap. terlebih lagi karena pada Bumi tidak ada sumber material pengganti bagi material cincin yang lenyap tersebut, seperti yang terjadi pada sistem cincin Jupiter.

Implikasi yang kedua, Bulan akan terus menjauh, namun bukannya tanpa batas. Posisi Bulan saat ini dikontrol, selain oleh gravitasi Bumi, juga oleh gravitasi Matahari, Venus dan Mars. Ketika Bulan makin menjauh dari Bumi, maka ia akan tiba pada suatu lokasi dimana dinamikanya lebih dikontrol oleh gravitasi Matahari. Pada saat itu Bulan tetap menjadi satelit Bumi, namun orbitnya mungkin sangat berubah dibandingkan dengan saat ini. Sebenarnya dinamika semacam ini tidaklah aneh. Dua satelit Mars misalnya, yakni Phobos dan Deimos, pun memiliki dinamika hampir mirip, hanya saja keduanya tidak bergerak makin nmenjauh namun justru makin mendekat ke planet Mars. Dan dalam beberapa juta tahun ke depan baik Phobos maupun Deimos akan menumbuk permukaan Mars. Perbedaan dinamika ini disebabkan oleh beda asal-susl : satelit Mars yang merupakan satelit tangkapan yang semula hanyalah asteroid biasa yang kebetulan saja melintas di dekat Mars sehingga tersekap oleh gravitasi Mars, sementara Bulan berasal dari terpecahnya Bumi.

Salam,


Ma'rufin


From: Eriyawan E <erimilis@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, July 2, 2009 8:26:09 AM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Bulan Ternyata Makin Menjauh...

apakah itu sudah diperhitungkan bila bulan bergerak secara elips
terhadap bumi, sehingga pada satu saat berjarak sangat dekat dan saat
tertentu lainnya dia berjarak sangat jauh. bergerak elips maka setelah
mencapai jarak terjauh akan bergerak mendekat lagi, dst...



2009/6/29 Ufonesia <mrdmudmmVM@...>:
> Bulan Ternyata Makin Menjauh...
> Oleh Yulvianus Harjono
>
> KOMPAS.com-Pada suatu masaâ€"jutaan tahun ke depanâ€"keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang.
>
> Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.
>
> Bukan tanpa alasan Neil Armstrongâ€"manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulanâ€"meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.
>
> Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.
>
> Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.
>
> Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).
>
> Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.
>
> Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?
>
> Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.
>
> Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun.
>
> Stabilitas iklim
>
> Fakta menjauhnya orbit bulan ini menjadi ancaman tidak hanya populasi manusia, tetapi juga kehidupan makhluk hidup di bumi. Pergerakan bulan, seperti diungkapkan Dr Jacques Laskar, astronom dari Paris Observatory, berperan penting menjaga stabilitas iklim dan suhu di bumi.
>
> †Bulan adalah regulator iklim bumi. Gaya gravitasinya menjaga bumi tetap berevolusi mengelilingi matahari dengan sumbu rotasi 23 derajat. Jika gaya ini tidak ada, suhu dan iklim bumi akan kacau balau. Gurun Sahara bisa jadi lautan es, sementara Antartika menjadi gurun pasir,† ucapnya kepada Science Channel.
>
> Sejumlah penelitian menyebutkan, pergerakan bulan juga berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup. Terumbu karang, misalnya, biasa berkembang biak, mengeluarkan spora, ketika air pasang yang disebabkan bulan purnama tiba.
>
> Bulan penuh juga dipercaya meningkatkan perilaku agresif manusia. Di Los Angeles, AS, kepolisian wilayah setempat biasanya akan lebih waspada terhadap peningkatan aktivitas kriminal saat purnama.
>
> Menjauhnya bulan dari bumi diyakini ahli geologis juga berpengaruh terhadap aktivitas lempeng bumi. Beberapa ahli telah lama menghubungkan kejadian sejumlah gempa dengan aktivitas bulan. †Kekuatan yang sama yang menyebabkan laut pasang ikut memicu terangkatnya kerak bumi,† ucap Geoff Chester, astronom yang bekerja di Pusat Pengamatan Angkatan Laut AS, seperti dikutip dari National Geographic.
>
> Beberapa kejadian gempa besar di Tanah Air yang pernah tercatat diketahui juga terkait dengan pergerakan bulan. Gempa-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (2004), Nabire (2004), Simeuleu (2005), dan Nias (2005) terjadi saat purnama. Gempa Mentawai (2005) dan Yogyakarta (2005) terjadi pada saat bulan baru dan posisi bulan di selatan.
>
> Misi terbaru NASA
>
> Kini, bulan sebagai tetangga terdekat bumi kembali menjadi perhatian riset astronomi di dunia. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada Jumat (19/6) meluncurkan wahana LCRoS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) di Cape Canaveral, AS. Wahana ini adalah bagian dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yaitu persiapan program mengembalikan astronot ke bulan tahun 2020 setelah terakhir dilakukan pada 1969-1972 (Reuters, 18/6).
>
> Sasaran utama misi LCRoS untuk memastikan ada tidaknya air beku yang dipercaya berada di kawasan kawah gelap dekat kutub bulan. Dibantu dengan LRO yang memetakan permukaan di bulan secara detail, kedua misi baru ini mengisyaratkan hal besar: menancapkan tonggak baru soal kemungkinan membangun koloni di luar bumi!
>
> Namun, dengan penuh kerendahan hati, Craig Tooley, LRO Project Manager, mengatakan, †Pengetahuan kita tentang bulan secara keseluruhan saat ini masih minim. Kita punya peta lebih baik tentang Mars, tetapi tidak untuk bulan kita sendiri.â€
>
>
> Sumber : Kompas Cetak
> http://sains.kompas.com/read/xml/2009/06/22/05384639/bulan.ternyata.makin.menjauh...
>
>
>
> ------------------------------------
>
> **************************************************************************
> Arsip Milis bisa diakses di: http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia
> Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
> **************************************************************************
> Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia-subscribe@yahoogroups.com
> Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
> **************************************************************************
> NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
> **************************************************************************Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


------------------------------------

**************************************************************************
Arsip Milis bisa diakses di: http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia
Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
**************************************************************************
Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia-subscribe@yahoogroups.com
Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
**************************************************************************
NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
**************************************************************************Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:astronomi_indonesia-digest@yahoogroups.com
    mailto:astronomi_indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    astronomi_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/



#885 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Jul 2, 2009 2:09 pm
Subject: Re: Peluru Kendali
marufins
Send Email Send Email
 
Sekedar menambahkan..

Saya kembali ke dasarnya, yakni tentang peluru kendali alias rudal alias missiles. Secara umum komponen rudal itu ada tiga : sistem propulsi, muatan (warhead/hululedak) dan sistem kendali (termasuk didalamnya juga sistem penjejak). Rudal jenis apapun selalu mengandung ketiga hal tersebut.

Nah jika ditinjau dari sistem propulsinya, ada dua macam rudal. Yakni rudal yang ditenagai oleh mesin roket. Roket ini bisa berbahan bakar padat, yang memiliki waktu reaksi cepat, simpel namun hanya sanggup membawa muatan yang rendah dan berjarak pendek. Rudal seperti ini biasanya digunakan sebagai pencegat (intercept), misalnya saja rudal pencegat pesawat tempur semacam AIM-9 Sidewinder AMRAAM itu, ataupun rudal pencegat tank seperti Hellfire. Sebaliknya, rudal bertenaga mesin roket berbahan bakar cair memiliki waktu reaksi lamban dan penanganannya kompleks, namun muatannya bisa cukup besar dan sanggup menjangkau jarak yang sangat jauh. Rudal semacam ini biasanya digunakan untuk rudal strategis atau rudal balistik, yang ditujukan guna menghancurkan sasaran berskala luas. Rudal balistik antarbenua alias ICBM misalnya, yang memiliki jangkauan > 10.000 km, adalah contoh rudal jenis ini. Baik rudal dengan mesin roket berbahan bakar padat ataupun cair umumnya bisa melesat dengan kecepatan supersonik alias melebihi kecepatan suara, terkecuali rudal-rudal jarak amat pendek seperti rudal antitank. Seberapa besar kecepatan yang bisa dicapai rudal ini sepenuhnya bergantung pada persamaan roket Tsiolkovsky dan sifat aerodinamisnya.

Sebaliknya, rudal yang ditenagai mesin jet hanya sanggup melesat dengan kecepatan di bawah kecepatan suara alias subsonik. Namun rudal jenis ini punya keunggulan berupa kemampuan terbang rendah, berjarak jangkau jauh dan mengikuti kontur permukaan Bumi, disamping emisi panasnya yang rendah. Ini membuat rudal jenis ini memiliki sifat stealth alias awadeteksi, alias sangat sulit diendus perangkat pengintai lawan macam radar maupun inframerah penjejak panas. Rudal jenis ini biasanya berbentuk rudal jelajah (cruise missiles), yang dalam skala jarak tempuhnya mengisi ceruk lowong di antara rudal-rudal bermesin roket berjarak pendek dan rudal-rudal bermesin roket berjarak amat jauh. Rudal bermesin jet pada dasarnya adalah pesawat terbang tak berawak (UAV : unmanned aerial vehicle, atau diindonesiakan menjadi PUNA : pesawat udara nir-awak) yang dimuati bahan peledak. KLarena sifat awadeteksinya, rudal jenis ini sering digunakan pula sebagai rudal antikapal.

Untuk sistem kendali, baik rudal bermesin roket maupun jet sama-sama dikendalikan dengan sirip. Pada rudal bermesin jet ada sirip tegak (tail fin) dan ada sepasang sayap di badannya, yang bisa ditekuk sebelum rudal diluncurkan sehingga menghemat ruang ketika sedang disimpan ataupun dimuat dalam pesawat terbang/kapal. Sementara rudal bermesin roket juga sama, ada sirip-sirip di pantatnya dan di badannya guna keperluan pengendalian arah. Ini mengingat, meskipun bermesin roket, rudal ini tetap beroperasi di dalam atmosfer Bumi, terkecuali untuk  ICBM. Kalo ICBM sistem pengendaliannya sedikit berbeda karena umumnya terdiri dari 2 - 3 tingkatan roket, dimana roket tingkat pertama dikendalikan dengan cara yang sama seperti rudal-rudal bermesin roket berjarak pendek lainnya. Namun rudal tingkat ke 2 dan ke 3 dengan cara mengubah arah semburan gas buang roket dari nozzle.

Untuk sistem penjejak, ada bermacam-macam. Rudal-rudal intercept biasanya menggunakan pelacak panas (heat seeker) berbasis inframerah. Ada juga yang menggunakan laser maupun radar guna memandunya. Sementara rudal-rudal berjarak sangat jauh dan rudal jelajah, umumnya menggunakan sistem pemandu dari jejaring satelit semacam GPS maupun satelit pemandu sendiri. Jika satelit tidak tersedia, maka sistem pemandu bisa menggunakan radar penjejak permukaan (Tercom) dan INS (Inertial Navigation System) yang dikombinasikan dengan DSMAC (Digital Scanner Multi Area Correlator). Gampangnya, DSMAC ini semaca korelator/pembanding, dimana rudal telah "dibekali" dengan citra titik sasaran yang diambil dari pesawat pengintai misalnya, dan setelah rudal berada di lokasi kemudian ia membandingkan citra bekalnya dengan citra yang diambilnya secara langsung lewat kamera optik yang dibawanya. Jika cocok, maka sekering sumbu ledak akan aktif dan sasaran itu yang menjadi target hantaman.

Bagaimana dengan Indonesia? Secara teknis roket berbahan bakar padat sudah dipelajari sejak lama. LAPAN memang hendak mengujicoba roket berdiameter 42 cm (secara teknis disebut roket RX-420) yang kelak akan digunakan sebagai wahana peluncur dengan nama (saat ini) Pengorbitan 1. So secara teknis teknologi untuk membuat rudal bermesin roket bahan bakar padat sudah dikuasai. Sementara PUNA sedang giat dikembangkan BPPT. Dan DSMAC sudah lama menjadi "mainan" di ITB. Permasalahannya mungkin lebih kepada policy dan political will. Ada kesan kuat bahwa pemerintah selalu ragu untuk urusan memproduksi rudal sendiri di dalam negeri, karena khawatir bakal mendapat sanksi dari negara-negara penguasa teknologi rudal di dunia yang menerapkan rezim MTCR (Missile Technology Control Regiment), yang membatasi bahwa pengembangan rudal apapun di luar negara2 MTCR adalah tidak boleh melebihi jarak jangkau 300 km.

Salam,


Ma'rufin


From: Zaenal Arief <zaenal@...>
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, July 2, 2009 2:40:37 PM
Subject: Re: [FISIKA] Re: Peluru Kendali

roket kan macem2, dari yg sederhana sampe yg komplex
 
roket2 sederhana kan ada fin nya (sirip) itulah yg di ubah posisinya untuk mengendalikan arah terbangnya
 
untuk yg sdikit lebih komplex nosel nya yg di atur....
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, July 02, 2009 2:23 PM
Subject: Re: [FISIKA] Re: Peluru Kendali

Ada yang bisa menjelaskan tentang cara mengendalikan roket ga?? pengen juga nh membahas topik roket.. sepertinya pembahasannya menarik..

2009/6/30 <tsdipura@batan. go.id>


kamis ini LAPAN akan ujicoba roket tipe baru mereka simak diantara press
releasenya di

http://sains. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/11/ 19085440/ lapan.segera. orbitkan. roket.rx- 420

Untuk tanya lebih jauh mungkin bisa ke salah satu staf peneliti di tim
LAPAN, bisa kontak ke larasmoyo@gmail. com (beliau bukan anggota milis ini)
, dari informasi beliau memang yang akan diuji coba kamis ini akan
dikendalikan dari jarak jauh. Jadi kalau tertarik dengan aplikasi sistem
kontrol pada rudal mungkin ini kesempatan emas buat lihat dan tanya2
(nasional) state of the art di bidang ini.

Support our local science and technology development! !!



>
> wah,...trimakasih mas atas tanggapanyya, dari awal kan saya sudah nulis
> bahwa saya masih kurang tau tentang peluru kendali.jadi saya mohon maaf
> dan saya yang tau ya hanya itu2 j.
>
> setelah menerima tanggapan sebelumnya saya jadi lebih merasa kurang banyak
> sekali belajar tentang rudal ini,dan juga dari tanggapan mas Andi,mengenai
> beberapa teknis yang mas ajukan saya lebih ingin menguasai material dan
> sistem kontrol mas.o iya yang teknis material yang saya makasud material
> yang biasa digunakan pada reaksi pembakaran dalam roket itu mas.
>
> trimaksih juga untuk mas zaenal,dangan tanggapan anda saya baru tau klo
> sistem kontrol yang digunakan tdak di kontrol oleh si penembak melainkan
> memakai program dengan mikrokontroler. tapi saya kurang jelas itu mas.
>
> trimaksih semuanya.
>
>




#886 From: yusa permana <yusapermana@...>
Date: Thu Jul 2, 2009 5:35 pm
Subject: [[ JAC ]] Re: Peluru Kendali
yusapermana
Send Email Send Email
 
       Maaf sekadar ralat dan menambahkan. Peluru kendali dengan mesin jet bisa mencapai kecepatan supersonik. mesin yang digunakan biasanya adalah ram jet. Walaupun begitu karena sifat khas mesin ram jet yang membutuhkan kecepatan tinggi untuk bisa beroperasi, maka peluru kendalai dengan mesin ramjet tetap membutuhkan mesin pendorong awal yang biasanya adalah mesin roket. 
      Fungsi mesin roket ini adalah sebagai pendorong awal hingga rudal mencapai kecepatan operasi mesin ramjet, setelah ramjet beroperasi mesin roket akan dilepas. Mesin ramjet kemudian dapat secara mandiri mempertahankan atau bahkan meningkatkan kecepatan supersoniknya hingga mencapai target
Contoh peluru kendali jenis ini adalah :
SS-N-22, AS-17, SA-6 dan SA-4 dari Russia(dahulu Uni Soviet)
RIM-8 Talos (Amerika Serikat tapi sudah digantikan generasi RIM-66 Standard)
Brahmos (India-Russia)
 
Demikian tambahan info berdasar pengetahuan saya
Yusa C.P
--- Pada Kam, 2/7/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@...> menulis:

Dari: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Judul: [[ JAC ]] Re: Peluru Kendali
Kepada: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Cc: "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@yahoogroups.com>
Tanggal: Kamis, 2 Juli, 2009, 9:09 PM

Sekedar menambahkan. .

Saya kembali ke dasarnya, yakni tentang peluru kendali alias rudal alias missiles. Secara umum komponen rudal itu ada tiga : sistem propulsi, muatan (warhead/hululedak) dan sistem kendali (termasuk didalamnya juga sistem penjejak). Rudal jenis apapun selalu mengandung ketiga hal tersebut.

Nah jika ditinjau dari sistem propulsinya, ada dua macam rudal. Yakni rudal yang ditenagai oleh mesin roket. Roket ini bisa berbahan bakar padat, yang memiliki waktu reaksi cepat, simpel namun hanya sanggup membawa muatan yang rendah dan berjarak pendek. Rudal seperti ini biasanya digunakan sebagai pencegat (intercept), misalnya saja rudal pencegat pesawat tempur semacam AIM-9 Sidewinder AMRAAM itu, ataupun rudal pencegat tank seperti Hellfire. Sebaliknya, rudal bertenaga mesin roket berbahan bakar cair memiliki waktu reaksi lamban dan penanganannya kompleks, namun muatannya bisa cukup besar dan sanggup menjangkau jarak yang sangat jauh. Rudal semacam ini biasanya digunakan untuk rudal strategis atau rudal balistik, yang ditujukan guna menghancurkan sasaran berskala luas. Rudal balistik antarbenua alias ICBM misalnya, yang memiliki jangkauan > 10.000 km, adalah contoh rudal jenis ini. Baik rudal dengan mesin roket berbahan bakar padat ataupun cair umumnya bisa melesat dengan kecepatan supersonik alias melebihi kecepatan suara, terkecuali rudal-rudal jarak amat pendek seperti rudal antitank. Seberapa besar kecepatan yang bisa dicapai rudal ini sepenuhnya bergantung pada persamaan roket Tsiolkovsky dan sifat aerodinamisnya.

Sebaliknya, rudal yang ditenagai mesin jet hanya sanggup melesat dengan kecepatan di bawah kecepatan suara alias subsonik. Namun rudal jenis ini punya keunggulan berupa kemampuan terbang rendah, berjarak jangkau jauh dan mengikuti kontur permukaan Bumi, disamping emisi panasnya yang rendah. Ini membuat rudal jenis ini memiliki sifat stealth alias awadeteksi, alias sangat sulit diendus perangkat pengintai lawan macam radar maupun inframerah penjejak panas. Rudal jenis ini biasanya berbentuk rudal jelajah (cruise missiles), yang dalam skala jarak tempuhnya mengisi ceruk lowong di antara rudal-rudal bermesin roket berjarak pendek dan rudal-rudal bermesin roket berjarak amat jauh. Rudal bermesin jet pada dasarnya adalah pesawat terbang tak berawak (UAV : unmanned aerial vehicle, atau diindonesiakan menjadi PUNA : pesawat udara nir-awak) yang dimuati bahan peledak. KLarena sifat awadeteksinya, rudal jenis ini sering digunakan pula sebagai rudal antikapal.

Untuk sistem kendali, baik rudal bermesin roket maupun jet sama-sama dikendalikan dengan sirip. Pada rudal bermesin jet ada sirip tegak (tail fin) dan ada sepasang sayap di badannya, yang bisa ditekuk sebelum rudal diluncurkan sehingga menghemat ruang ketika sedang disimpan ataupun dimuat dalam pesawat terbang/kapal. Sementara rudal bermesin roket juga sama, ada sirip-sirip di pantatnya dan di badannya guna keperluan pengendalian arah. Ini mengingat, meskipun bermesin roket, rudal ini tetap beroperasi di dalam atmosfer Bumi, terkecuali untuk  ICBM. Kalo ICBM sistem pengendaliannya sedikit berbeda karena umumnya terdiri dari 2 - 3 tingkatan roket, dimana roket tingkat pertama dikendalikan dengan cara yang sama seperti rudal-rudal bermesin roket berjarak pendek lainnya. Namun rudal tingkat ke 2 dan ke 3 dengan cara mengubah arah semburan gas buang roket dari nozzle.

Untuk sistem penjejak, ada bermacam-macam. Rudal-rudal intercept biasanya menggunakan pelacak panas (heat seeker) berbasis inframerah. Ada juga yang menggunakan laser maupun radar guna memandunya. Sementara rudal-rudal berjarak sangat jauh dan rudal jelajah, umumnya menggunakan sistem pemandu dari jejaring satelit semacam GPS maupun satelit pemandu sendiri. Jika satelit tidak tersedia, maka sistem pemandu bisa menggunakan radar penjejak permukaan (Tercom) dan INS (Inertial Navigation System) yang dikombinasikan dengan DSMAC (Digital Scanner Multi Area Correlator). Gampangnya, DSMAC ini semaca korelator/pembandin g, dimana rudal telah "dibekali" dengan citra titik sasaran yang diambil dari pesawat pengintai misalnya, dan setelah rudal berada di lokasi kemudian ia membandingkan citra bekalnya dengan citra yang diambilnya secara langsung lewat kamera optik yang dibawanya. Jika cocok, maka sekering sumbu ledak akan aktif dan sasaran itu yang menjadi target hantaman.

Bagaimana dengan Indonesia? Secara teknis roket berbahan bakar padat sudah dipelajari sejak lama. LAPAN memang hendak mengujicoba roket berdiameter 42 cm (secara teknis disebut roket RX-420) yang kelak akan digunakan sebagai wahana peluncur dengan nama (saat ini) Pengorbitan 1. So secara teknis teknologi untuk membuat rudal bermesin roket bahan bakar padat sudah dikuasai. Sementara PUNA sedang giat dikembangkan BPPT. Dan DSMAC sudah lama menjadi "mainan" di ITB. Permasalahannya mungkin lebih kepada policy dan political will. Ada kesan kuat bahwa pemerintah selalu ragu untuk urusan memproduksi rudal sendiri di dalam negeri, karena khawatir bakal mendapat sanksi dari negara-negara penguasa teknologi rudal di dunia yang menerapkan rezim MTCR (Missile Technology Control Regiment), yang membatasi bahwa pengembangan rudal apapun di luar negara2 MTCR adalah tidak boleh melebihi jarak jangkau 300 km.

Salam,


Ma'rufin


From: Zaenal Arief <zaenal@pudak. com>
To: fisika_indonesia@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, July 2, 2009 2:40:37 PM
Subject: Re: [FISIKA] Re: Peluru Kendali

roket kan macem2, dari yg sederhana sampe yg komplex
 
roket2 sederhana kan ada fin nya (sirip) itulah yg di ubah posisinya untuk mengendalikan arah terbangnya
 
untuk yg sdikit lebih komplex nosel nya yg di atur....
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, July 02, 2009 2:23 PM
Subject: Re: [FISIKA] Re: Peluru Kendali

Ada yang bisa menjelaskan tentang cara mengendalikan roket ga?? pengen juga nh membahas topik roket.. sepertinya pembahasannya menarik..

2009/6/30 <tsdipura@batan. go.id>


kamis ini LAPAN akan ujicoba roket tipe baru mereka simak diantara press
releasenya di

http://sains. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/11/ 19085440/ lapan.segera. orbitkan. roket.rx- 420

Untuk tanya lebih jauh mungkin bisa ke salah satu staf peneliti di tim
LAPAN, bisa kontak ke larasmoyo@gmail. com (beliau bukan anggota milis ini)
, dari informasi beliau memang yang akan diuji coba kamis ini akan
dikendalikan dari jarak jauh.. Jadi kalau tertarik dengan aplikasi sistem
kontrol pada rudal mungkin ini kesempatan emas buat lihat dan tanya2
(nasional) state of the art di bidang ini.

Support our local science and technology development! !!


>
> wah,...trimakasih mas atas tanggapanyya, dari awal kan saya sudah nulis
> bahwa saya masih kurang tau tentang peluru kendali.jadi saya mohon maaf
> dan saya yang tau ya hanya itu2 j.
>
> setelah menerima tanggapan sebelumnya saya jadi lebih merasa kurang banyak
> sekali belajar tentang rudal ini,dan juga dari tanggapan mas Andi,mengenai
> beberapa teknis yang mas ajukan saya lebih ingin menguasai material dan
> sistem kontrol mas.o iya yang teknis material yang saya makasud material
> yang biasa digunakan pada reaksi pembakaran dalam roket itu mas.
>
> trimaksih juga untuk mas zaenal,dangan tanggapan anda saya baru tau klo
> sistem kontrol yang digunakan tdak di kontrol oleh si penembak melainkan
> memakai program dengan mikrokontroler. tapi saya kurang jelas itu mas.
>
> trimaksih semuanya.
>
>





Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!

#887 From: asri ratnianingsih <startlight_asha@...>
Date: Fri Jul 3, 2009 1:29 am
Subject: Re: [[ JAC ]] Re:Bulan Ternyata Makin Menjauh...
startlight_asha
Send Email Send Email
 
Di dua posting sebelumnya, dikatakan bahwa bulan merupakan regulator iklim bumi. Jika tidak ada gravitasi bumi-bulan, antartika bisa menjadi gurun dan gurun sahara menjadi lautan es. Mengapa bisa demikian? Mohon penjelasannya Kang!

--- On Thu, 2/7/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@...> wrote:

From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Subject: [[ JAC ]] Re:Bulan Ternyata Makin Menjauh...
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Cc: "Rukyat" <rukyatulhilal@yahoogroups.com>, "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@yahoogroups.com>
Date: Thursday, 2 July, 2009, 3:44 PM



Itu sudah diperhitungkan. Orbit Bulan memang orbit ellips (dengan eksentrisitas ellips 0,0549) dengan setengah sumbu mayor orbitnya sebesar 377.113 km (dihitung dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Nah pertambahan jarak sebesar 3,6 cm/tahun itu terjadi di setengah sumbu mayor orbitnya ini, yang membawa konsekuensi bahwa titik terdekat Bulan dengan Bumi (atau titik perigee) dan titik terjauh Bulan dengan Bumi (atau titik apogee) pun bertambah jauh sebesar 3,6 cm/tahun pula dari pusat Bumi. Harus dicatat bahwa tahun yang digunakan di sini adalah tahun solar (Syamsiyyah) , bukan tahun lunar (Qomariyyah) .

Dinamika ini membawa beberapa implikasi. Yang pertama, jika di-setback ke belakang, memang pada 4,6 milyar tahun silam (atau pada masa bayi tata surya), Bulan pernah berada sangat dekat dengan Bumi, yakni hanya 22.000 km dari pusat Bumi. Pada area inilah memang Bulan terbentuk, mengingat gaya pasang surut gravitasi membatasi bahwa Bulan tidak boleh mendekat ke Bumi hingga kurang dari jarak 18.500 km dari pusat Bumi (jika harga kerapatan Bumi dan Bulan pada masa itu tetap sama dengan masa kini, yakni 5,5 banding 3,5). Kondisi ini ,membawa pada satu pemikiran bahwa Bulan memang terbentuk dari terpecahnya Bumi-purba (alias proto-Bumi) pada masa awal tata surya. Perpecahan ini terjadi akibat hantaman benda langit seukuran Mars (yang secara umum disebut Theia) pada Bumi-purba, yang pada saat itu masih berwujud gumpalan cair panas. Hantaman tersebut menyebabkan sebagian lapisan terluar Bumi dan Theia (kita sebut saja sebagai lapisan proto-kerak) terlempar terhambur ke angkasa pada ketinggian 18.500 - 22.000 km dari pusat proto-Bumi, sementara inti Theia melesak masuk ke dalam proto-Bumi dan menjadi bagian dari inti Bumi sekarang. Hantaman ini yang menyebabkan sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan 23,5 derajat dari ekliptika.  Sementara hamburan material yang beredar pada jarak 18.500 - 22.000 km dari pusat Bumi itu kemudian mengalami kondensasi, memadat dan akhirnya membentuk benda langit tersendiri dengan massa 1/81 massa Bumi dan itu yang kemudian dikenal sebagai Bulan. Sisa material yang tidak ikut berkondensasi diyakini sempat membentuk "cincin" pada Bumi, sama persis dengan cincin-cincin planet Saturnus. Namun akibat gaya pasang surut Bumi, material penyusun cincin kemudian menghilang ke angkasa dilemparkan oleh gravitasi Bumi sehingga cincin Bumi pun lenyap. terlebih lagi karena pada Bumi tidak ada sumber material pengganti bagi material cincin yang lenyap tersebut, seperti yang terjadi pada sistem cincin Jupiter.

Implikasi yang kedua, Bulan akan terus menjauh, namun bukannya tanpa batas. Posisi Bulan saat ini dikontrol, selain oleh gravitasi Bumi, juga oleh gravitasi Matahari, Venus dan Mars. Ketika Bulan makin menjauh dari Bumi, maka ia akan tiba pada suatu lokasi dimana dinamikanya lebih dikontrol oleh gravitasi Matahari. Pada saat itu Bulan tetap menjadi satelit Bumi, namun orbitnya mungkin sangat berubah dibandingkan dengan saat ini. Sebenarnya dinamika semacam ini tidaklah aneh. Dua satelit Mars misalnya, yakni Phobos dan Deimos, pun memiliki dinamika hampir mirip, hanya saja keduanya tidak bergerak makin nmenjauh namun justru makin mendekat ke planet Mars. Dan dalam beberapa juta tahun ke depan baik Phobos maupun Deimos akan menumbuk permukaan Mars. Perbedaan dinamika ini disebabkan oleh beda asal-susl : satelit Mars yang merupakan satelit tangkapan yang semula hanyalah asteroid biasa yang kebetulan saja melintas di dekat Mars sehingga tersekap oleh gravitasi Mars, sementara Bulan berasal dari terpecahnya Bumi.

Salam,


Ma'rufin


From: Eriyawan E <erimilis@gmail. com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, July 2, 2009 8:26:09 AM
Subject: Re: [astronomi_indonesi a] Bulan Ternyata Makin Menjauh...

apakah itu sudah diperhitungkan bila bulan bergerak secara elips
terhadap bumi, sehingga pada satu saat berjarak sangat dekat dan saat
tertentu lainnya dia berjarak sangat jauh. bergerak elips maka setelah
mencapai jarak terjauh akan bergerak mendekat lagi, dst...



2009/6/29 Ufonesia <mrdmudmmVM@gmail. com>:
> Bulan Ternyata Makin Menjauh...
> Oleh Yulvianus Harjono
>
> KOMPAS.com-Pada suatu masaâ€"jutaan tahun ke depanâ€"keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang.
>
> Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.
>
> Bukan tanpa alasan Neil Armstrongâ€"manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulanâ€"meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.
>
> Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.
>
> Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.
>
> Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).
>
> Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.
>
> Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?
>
> Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.
>
> Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun.
>
> Stabilitas iklim
>
> Fakta menjauhnya orbit bulan ini menjadi ancaman tidak hanya populasi manusia, tetapi juga kehidupan makhluk hidup di bumi. Pergerakan bulan, seperti diungkapkan Dr Jacques Laskar, astronom dari Paris Observatory, berperan penting menjaga stabilitas iklim dan suhu di bumi.
>
> †Bulan adalah regulator iklim bumi. Gaya gravitasinya menjaga bumi tetap berevolusi mengelilingi matahari dengan sumbu rotasi 23 derajat. Jika gaya ini tidak ada, suhu dan iklim bumi akan kacau balau. Gurun Sahara bisa jadi lautan es, sementara Antartika menjadi gurun pasir,† ucapnya kepada Science Channel.
>
> Sejumlah penelitian menyebutkan, pergerakan bulan juga berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup. Terumbu karang, misalnya, biasa berkembang biak, mengeluarkan spora, ketika air pasang yang disebabkan bulan purnama tiba.
>
> Bulan penuh juga dipercaya meningkatkan perilaku agresif manusia. Di Los Angeles, AS, kepolisian wilayah setempat biasanya akan lebih waspada terhadap peningkatan aktivitas kriminal saat purnama.
>
> Menjauhnya bulan dari bumi diyakini ahli geologis juga berpengaruh terhadap aktivitas lempeng bumi. Beberapa ahli telah lama menghubungkan kejadian sejumlah gempa dengan aktivitas bulan. †Kekuatan yang sama yang menyebabkan laut pasang ikut memicu terangkatnya kerak bumi,† ucap Geoff Chester, astronom yang bekerja di Pusat Pengamatan Angkatan Laut AS, seperti dikutip dari National Geographic.
>
> Beberapa kejadian gempa besar di Tanah Air yang pernah tercatat diketahui juga terkait dengan pergerakan bulan. Gempa-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (2004), Nabire (2004), Simeuleu (2005), dan Nias (2005) terjadi saat purnama. Gempa Mentawai (2005) dan Yogyakarta (2005) terjadi pada saat bulan baru dan posisi bulan di selatan.
>
> Misi terbaru NASA
>
> Kini, bulan sebagai tetangga terdekat bumi kembali menjadi perhatian riset astronomi di dunia. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada Jumat (19/6) meluncurkan wahana LCRoS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) di Cape Canaveral, AS. Wahana ini adalah bagian dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yaitu persiapan program mengembalikan astronot ke bulan tahun 2020 setelah terakhir dilakukan pada 1969-1972 (Reuters, 18/6).
>
> Sasaran utama misi LCRoS untuk memastikan ada tidaknya air beku yang dipercaya berada di kawasan kawah gelap dekat kutub bulan. Dibantu dengan LRO yang memetakan permukaan di bulan secara detail, kedua misi baru ini mengisyaratkan hal besar: menancapkan tonggak baru soal kemungkinan membangun koloni di luar bumi!
>
> Namun, dengan penuh kerendahan hati, Craig Tooley, LRO Project Manager, mengatakan, †Pengetahuan kita tentang bulan secara keseluruhan saat ini masih minim. Kita punya peta lebih baik tentang Mars, tetapi tidak untuk bulan kita sendiri.â€
>
>
> Sumber : Kompas Cetak
> http://sains. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/22/ 05384639/ bulan.ternyata. makin.menjauh...
>
>
>
> ------------ --------- --------- ------
>
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
> Arsip Milis bisa diakses di: http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia
> Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
> Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia -subscribe@ yahoogroups. com
> Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia -unsubscribe@ yahoogroups. com
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
> NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


------------ --------- --------- ------

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
Arsip Milis bisa diakses di: http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia
Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia -subscribe@ yahoogroups. com
Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia -unsubscribe@ yahoogroups. com
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia/ join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:astronomi_indonesia -digest@yahoogro ups.com
    mailto:astronomi_indonesia -fullfeatured@ yahoogroups. com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    astronomi_indonesia -unsubscribe@ yahoogroups. com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs. yahoo.com/ info/terms/




#888 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri Jul 3, 2009 4:40 pm
Subject: Re: Langit Retak?
marufins
Send Email Send Email
 
Langit itu apa sih? Ayat-ayat Qur'an yang membahas tentang langit dan bumi, jika ditarik benang merahnya, menempatkan sudut pandang dalam kerangka egosentris alias apa yang manusia (di bumi) lihat. So, langit ya segala sesuatu yang ada "di atas", yang bukan Bumi, sehingga langit itu ya ruang yang berisikan benda-benda langit sebagaimana kita lihat yang ada di atas sono dan bukan Bumi. Jika mau diteruskan lagi, mungkin saja yang dimaksud langit adalah ruang-waktu ?

Itu sekedar pendapat saya. Kalo dalam tafsir-tafsir yang ada, sejauh ini belum spesifik menjelaskan langit sebagai apa. Ada memang yang menafsirkan langit sebagai ruang antarplanet, sehingga orbit Mars dikatakan sebagai perbatasan langit pertama, orbit Jupiter sebagai batas langit kedua dan seterusnya hingga langit ketujuh itu ada di Pluto. Dan kemudian dijelaskan pula, Sidratil Muntaha yang dikunjungi Nabi SAW dalam Mi'rajnya itu ada di Pluto (!). Sedikit "aneh" memang, karena dengan keluasan jagat raya yang mencapai 13,7 milyar tahun cahaya ini, sebenarnya jarak Bumi-Pluto bukanlah apa-apa, padahal kata-kata Sidratil Muntaha itu merujuk kepada tempat yang jauh. Namun ya harus dipahami bahwa sangat jarang ada mufassir yang uptodate terhadap semua perkembangan sains.

Sependapat. Aneh jika blackhole dikatakan sebagai retakan langit. Karena sejatinya nggak ada yang retak di sana. Di sana 'hanya' ada asimtot ruang waktu, ya kasarnya pilinan ruang-waktu, namun tetap dalam bentuk kurva tertutup, tidak "robek".  Robeknya atau retaknya ruang-waktu terjadi bukan oleh blackhole, namun oleh pengembangan jagat raya sendiri yang terus bertambah cepat oleh dorongan dark energy, sehingga dalam 50 milyar tahun ke depan gravitasi takkan sanggup lagi mempertahankan keutuhan jagat raya dan membuat ruang-waktu menjadi "robek", sehingga keseluruhan materi dari skala makro seperti galaksi dan bintang-bintang hingga ke skala mikro seperti atom dan partikel-partikel subatomik akan lenyap. Skenario macam ini dinamakan the big rip.

Salam,


Ma'rufin



From: Edwards <edwards.taufiqurrahman@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, July 1, 2009 2:17:24 PM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Langit Retak?

IMO: Ada 2 hal yang mesti diperhatikan dulu, yakni
1. Bagaimana penafsiran jumhur ulama terhadap ayat2 tersebut, dan terutama sekali dari ulama yang up to date terhadap sains?
2. Langit itu apa sih?

Pertanyaan tentang apa itu langit pernah muncul di milis ini beberapa waktu lalu. Langit menurut definisi umum ya itu tuh, yang warnanya biru kalau di siang hari yang cerah. Tapi kalau dilihat lebih lanjut, warna biru itu muncul karena kita punya atmosfer. Kalau di bulan, lain lagi warnanya, demikian juga di planet lain. Nah, kalau sudah begitu, definisi langit apa dong?

Apakah langit yang dimaksudkan dalam Al Quran itu atmosfer? Lapisan2 langit itu orbit planet2 di tata surya? Atau galaksi? Atau ada semesta paralel di lapisan lain semesta kita? Wallahu a'lam.

Saya sendiri merasa agak aneh menyatakan blackhole sebagai "retakan langit".
Salam.

2009/6/22 Satriyo <lasykarlima@ gmail.com>


salam,
 
maaf kalo OOT atau ngawur, tapi ada yang menarik dari diskusi di milis tetangga ini ...
 
satriyo

--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28




“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?†[50:6]

Keterangan “langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun†ditegaskan dalam ayat lain:

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.†[67:3,4]

Langit yang tidak mempunyai retak-retak sedikitpun menjadi tanda atas keMahaTelitian Allah. Keretakan, walaupun kecil, akan melemahkan suatu bangunan. Suatu saat bangunan itu akan roboh. Dan ketiadaan keretakan pada langit yang begitu besar menunjukkan bahwa Allah Maha Teliti dalam membangun dan memelihara setiap detil terkecil dari langit.

Namun ada sebagian orang yang memandang Black Hole sebagai sebuah retakan langit:

http://netindonesia .net/blogs/ agung/archive/ 2006/09/25/ Lubang-Cacing- di-Langit. aspx

[[ “Dia yang mencipta tujuh langit berlapis-lapis, Tidak engkau lihat pada ciptaan Allah suatu cacat pun, pandanglah lagi, adakah kau lihat ada retak di sana ? Lalu ulangi pandanglah sekali lagi, niscaya pandanganmu akan tunduk takluk. †[Al Mulk 67:3-4]

Ayat di atas biasanya ditafsirkan sebagai ajaran bagi manusia agar tunduk memandangi kehebatan langit ciptaan Allah swt yang mulus tanpa cacat. Sebetulnya, tidak perlu bagi Allah swt menyuruh kita memperhatikan langit sampai dua kali agar kita kagum tertuntunduk akan kehebatan ciptaan-Nya. Sekali menatap langit di malam hari sudah cukup mampu mencekam jiwa dan bisa membuat manusia merasakan kekerdilan dirinya karena luasnya alam semesta. Kita seharusnya penasaran membaca ayat di atas. Pasti ada sesuatu di balik peirntah Allah untuk ‘dua kali mencari retak di langit’. Ahli tafsir lama hanya mengartikan bahwa retak di langit itu mustahil, karena ciptaan Allah pasti sempurna. Tapi betulkah retak itu suatu kegagalan ? Bagaimana dengan retak yang disengaja oleh Allah ?

Lubang Hitam (black hole) merupakan tempat di ruang angkasa yang menyedot segala sesuatu di dekatnya, cahaya dan radiasi tidak bisa memancar ke luar, sehingga gelap tak terlihat. Bitang yang berukuran 10 kali massa matahari bila runtuh akan menjadi lubang hitam yang sangat padat dengan radius 3 km. Menurut Stephen Hawking, lubang-lubang hitam sebesar ujung jarum tersebar di penjuru alam ini. Sedangkan di pusat-pusat galaksi ada lubang hitam super-masif berukuran sejuta massa matahari yang dengan dahsyat menyedot apa pun di sekitarnya. Teori ‘General Relativity’, Einstein mengharuskan adanya suatu tempat yang merupakan kebalikannya, dengan persamaan akar kuadrat negatif, yakni disebut Lubang Putih (white hole), dimana segala sesuatu dimuntahkan keluar. Lokasinya tidak di alam semesta yang kita diami ini tetapi di dalam kembarannya (paralel universe). ]]

Benarkan pandangan tersebut?

 
.




--
"The hardest part was letting go not taking part" (Coldplay - The Hardest Part)

Edwards Taufiqurrahman
http://www.edskywalker.co.cc


#889 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri Jul 3, 2009 5:03 pm
Subject: Re:Bulan Ternyata Makin Menjauh...
marufins
Send Email Send Email
 
Bulan berperan sebagai penjaga iklim Bumi (secara makro) karena orbit Bulan yang demikian unik sehingga kondisinya tidal-locking terhadap Bumi. Akibatnya periode revolusi Bulan (yakni periode sideris) tepat sama nilainya dengan periode rotasinya, yakni 27,33 hari. Kondisi ini membuat kemiringan sumbu rotasi Bumi menjadi stabil di angka 23,5 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika, meski Bumi relatif diganggu oleh tarikan gravitasi Venus, Jupiter dan Matahari. Dengan kemiringan sumbu rotasi yang stabil, maka dinamika atmosfer Bumi pun relatif stabil yang membawa pada konsistensi perjalanan musim di Bumi. Kemiringan sumbu itu memang ,membuat intensitas penyinaran Matahari tidak seragam di semua titik, ada yang berlebih pada satu saat (sehingga mengalami musim panas) dan ada yang kurang (sehingga mengalami musim dingin). Namun atmosfer Bumi mempunyai mekanisme tersendiri untuk mendistribusikan kelebihan energi di satu titik terhadap titik-titik yang mengalami kekurangan energi, lewat arus-arus jet di lapisan atmosfer yang tinggi dan sistem sel Hadley. Dalam lapisan atmosfer terbawah, alias troposfer, mekanisme distribusi energi itu juga dilakukan misalnya oleh terbentuknya badai-badai tropis (siklon) yang selalu terbentuk di sekitar khatulistiwa dan kemudian bergerak menuju ke daerah lintang tinggi.

Memang penjagaan Bulan ini tidak sepenuhnya "sangat aman" bagi Bumi. Pengaruh gravitasi Matahari membuat kemiringan sumbu rotasi Bumi bervariasi dari 22,1 derajat hingga 24,5 derajat dalam kurun waktu 41.000 tahun, dan ini dikenal sebagai siklus Milankovitch (tepatnya siklus kemiringan Milankovitch). Perubahan kemiringan ini kelak akan membuat Bumi (khususnya di dekat lingkar kutub) menerima radiasi Matahari lebih besar pada musim panas dibanding nilai sekarang, dan sebaliknya lebih kecil pada musim dingin dibanding nilai sekarang. Akibatnya musim panas akan berlangsung dengan suhu udara yang lebih tinggi dibanding sekarang, sementara musim dingin suhunya jauh lebih rendah dibanding sekarang.

Salam,


Ma'rufin


From: asri ratnianingsih <startlight_asha@...>
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com
Sent: Friday, July 3, 2009 8:29:33 AM
Subject: Re: [[ JAC ]] Re:Bulan Ternyata Makin Menjauh...

Di dua posting sebelumnya, dikatakan bahwa bulan merupakan regulator iklim bumi. Jika tidak ada gravitasi bumi-bulan, antartika bisa menjadi gurun dan gurun sahara menjadi lautan es. Mengapa bisa demikian? Mohon penjelasannya Kang!

--- On Thu, 2/7/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com> wrote:

From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>
Subject: [[ JAC ]] Re:Bulan Ternyata Makin Menjauh...
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Cc: "Rukyat" <rukyatulhilal@ yahoogroups. com>, "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@ yahoogroups. com>
Date: Thursday, 2 July, 2009, 3:44 PM



Itu sudah diperhitungkan. Orbit Bulan memang orbit ellips (dengan eksentrisitas ellips 0,0549) dengan setengah sumbu mayor orbitnya sebesar 377.113 km (dihitung dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Nah pertambahan jarak sebesar 3,6 cm/tahun itu terjadi di setengah sumbu mayor orbitnya ini, yang membawa konsekuensi bahwa titik terdekat Bulan dengan Bumi (atau titik perigee) dan titik terjauh Bulan dengan Bumi (atau titik apogee) pun bertambah jauh sebesar 3,6 cm/tahun pula dari pusat Bumi. Harus dicatat bahwa tahun yang digunakan di sini adalah tahun solar (Syamsiyyah) , bukan tahun lunar (Qomariyyah) .

Dinamika ini membawa beberapa implikasi. Yang pertama, jika di-setback ke belakang, memang pada 4,6 milyar tahun silam (atau pada masa bayi tata surya), Bulan pernah berada sangat dekat dengan Bumi, yakni hanya 22.000 km dari pusat Bumi. Pada area inilah memang Bulan terbentuk, mengingat gaya pasang surut gravitasi membatasi bahwa Bulan tidak boleh mendekat ke Bumi hingga kurang dari jarak 18.500 km dari pusat Bumi (jika harga kerapatan Bumi dan Bulan pada masa itu tetap sama dengan masa kini, yakni 5,5 banding 3,5). Kondisi ini ,membawa pada satu pemikiran bahwa Bulan memang terbentuk dari terpecahnya Bumi-purba (alias proto-Bumi) pada masa awal tata surya. Perpecahan ini terjadi akibat hantaman benda langit seukuran Mars (yang secara umum disebut Theia) pada Bumi-purba, yang pada saat itu masih berwujud gumpalan cair panas. Hantaman tersebut menyebabkan sebagian lapisan terluar Bumi dan Theia (kita sebut saja sebagai lapisan proto-kerak) terlempar terhambur ke angkasa pada ketinggian 18.500 - 22.000 km dari pusat proto-Bumi, sementara inti Theia melesak masuk ke dalam proto-Bumi dan menjadi bagian dari inti Bumi sekarang. Hantaman ini yang menyebabkan sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan 23,5 derajat dari ekliptika.  Sementara hamburan material yang beredar pada jarak 18.500 - 22.000 km dari pusat Bumi itu kemudian mengalami kondensasi, memadat dan akhirnya membentuk benda langit tersendiri dengan massa 1/81 massa Bumi dan itu yang kemudian dikenal sebagai Bulan. Sisa material yang tidak ikut berkondensasi diyakini sempat membentuk "cincin" pada Bumi, sama persis dengan cincin-cincin planet Saturnus. Namun akibat gaya pasang surut Bumi, material penyusun cincin kemudian menghilang ke angkasa dilemparkan oleh gravitasi Bumi sehingga cincin Bumi pun lenyap. terlebih lagi karena pada Bumi tidak ada sumber material pengganti bagi material cincin yang lenyap tersebut, seperti yang terjadi pada sistem cincin Jupiter.

Implikasi yang kedua, Bulan akan terus menjauh, namun bukannya tanpa batas. Posisi Bulan saat ini dikontrol, selain oleh gravitasi Bumi, juga oleh gravitasi Matahari, Venus dan Mars. Ketika Bulan makin menjauh dari Bumi, maka ia akan tiba pada suatu lokasi dimana dinamikanya lebih dikontrol oleh gravitasi Matahari. Pada saat itu Bulan tetap menjadi satelit Bumi, namun orbitnya mungkin sangat berubah dibandingkan dengan saat ini. Sebenarnya dinamika semacam ini tidaklah aneh. Dua satelit Mars misalnya, yakni Phobos dan Deimos, pun memiliki dinamika hampir mirip, hanya saja keduanya tidak bergerak makin nmenjauh namun justru makin mendekat ke planet Mars. Dan dalam beberapa juta tahun ke depan baik Phobos maupun Deimos akan menumbuk permukaan Mars. Perbedaan dinamika ini disebabkan oleh beda asal-susl : satelit Mars yang merupakan satelit tangkapan yang semula hanyalah asteroid biasa yang kebetulan saja melintas di dekat Mars sehingga tersekap oleh gravitasi Mars, sementara Bulan berasal dari terpecahnya Bumi.

Salam,


Ma'rufin


From: Eriyawan E <erimilis@gmail. com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Thursday, July 2, 2009 8:26:09 AM
Subject: Re: [astronomi_indonesi a] Bulan Ternyata Makin Menjauh...

apakah itu sudah diperhitungkan bila bulan bergerak secara elips
terhadap bumi, sehingga pada satu saat berjarak sangat dekat dan saat
tertentu lainnya dia berjarak sangat jauh. bergerak elips maka setelah
mencapai jarak terjauh akan bergerak mendekat lagi, dst...



2009/6/29 Ufonesia <mrdmudmmVM@gmail. com>:
> Bulan Ternyata Makin Menjauh...
> Oleh Yulvianus Harjono
>
> KOMPAS.com-Pada suatu masaâ€"jutaan tahun ke depanâ€"keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang.
>
> Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.
>
> Bukan tanpa alasan Neil Armstrongâ€"manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulanâ€"meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.
>
> Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.
>
> Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.
>
> Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).
>
> Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.
>
> Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?
>
> Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.
>
> Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun.
>
> Stabilitas iklim
>
> Fakta menjauhnya orbit bulan ini menjadi ancaman tidak hanya populasi manusia, tetapi juga kehidupan makhluk hidup di bumi. Pergerakan bulan, seperti diungkapkan Dr Jacques Laskar, astronom dari Paris Observatory, berperan penting menjaga stabilitas iklim dan suhu di bumi.
>
> †Bulan adalah regulator iklim bumi. Gaya gravitasinya menjaga bumi tetap berevolusi mengelilingi matahari dengan sumbu rotasi 23 derajat. Jika gaya ini tidak ada, suhu dan iklim bumi akan kacau balau. Gurun Sahara bisa jadi lautan es, sementara Antartika menjadi gurun pasir,† ucapnya kepada Science Channel.
>
> Sejumlah penelitian menyebutkan, pergerakan bulan juga berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup. Terumbu karang, misalnya, biasa berkembang biak, mengeluarkan spora, ketika air pasang yang disebabkan bulan purnama tiba.
>
> Bulan penuh juga dipercaya meningkatkan perilaku agresif manusia. Di Los Angeles, AS, kepolisian wilayah setempat biasanya akan lebih waspada terhadap peningkatan aktivitas kriminal saat purnama.
>
> Menjauhnya bulan dari bumi diyakini ahli geologis juga berpengaruh terhadap aktivitas lempeng bumi. Beberapa ahli telah lama menghubungkan kejadian sejumlah gempa dengan aktivitas bulan. †Kekuatan yang sama yang menyebabkan laut pasang ikut memicu terangkatnya kerak bumi,† ucap Geoff Chester, astronom yang bekerja di Pusat Pengamatan Angkatan Laut AS, seperti dikutip dari National Geographic.
>
> Beberapa kejadian gempa besar di Tanah Air yang pernah tercatat diketahui juga terkait dengan pergerakan bulan. Gempa-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (2004), Nabire (2004), Simeuleu (2005), dan Nias (2005) terjadi saat purnama. Gempa Mentawai (2005) dan Yogyakarta (2005) terjadi pada saat bulan baru dan posisi bulan di selatan.
>
> Misi terbaru NASA
>
> Kini, bulan sebagai tetangga terdekat bumi kembali menjadi perhatian riset astronomi di dunia. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada Jumat (19/6) meluncurkan wahana LCRoS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) di Cape Canaveral, AS. Wahana ini adalah bagian dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yaitu persiapan program mengembalikan astronot ke bulan tahun 2020 setelah terakhir dilakukan pada 1969-1972 (Reuters, 18/6).
>
> Sasaran utama misi LCRoS untuk memastikan ada tidaknya air beku yang dipercaya berada di kawasan kawah gelap dekat kutub bulan. Dibantu dengan LRO yang memetakan permukaan di bulan secara detail, kedua misi baru ini mengisyaratkan hal besar: menancapkan tonggak baru soal kemungkinan membangun koloni di luar bumi!
>
> Namun, dengan penuh kerendahan hati, Craig Tooley, LRO Project Manager, mengatakan, †Pengetahuan kita tentang bulan secara keseluruhan saat ini masih minim. Kita punya peta lebih baik tentang Mars, tetapi tidak untuk bulan kita sendiri.â€
>
>
> Sumber : Kompas Cetak
> http://sains. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/22/ 05384639/ bulan.ternyata. makin.menjauh...
>
>
>
> ------------ --------- --------- ------
>
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
> Arsip Milis bisa diakses di: http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia
> Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
> Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia -subscribe@ yahoogroups. com
> Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia -unsubscribe@ yahoogroups. com
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
> NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


------------ --------- --------- ------

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
Arsip Milis bisa diakses di: http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia
Lihat arsip milis terlebih dahulu sebelum memulai suatu topik, siapa tahu topik yang akan Anda ajukan sudah dibahas sebelumnya!
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
Untuk berlangganan milis ini kirim email kosong ke astronomi_indonesia -subscribe@ yahoogroups. com
Untuk berhenti berlangganan kirim email kosong ke astronomi_indonesia -unsubscribe@ yahoogroups. com
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********
NOTE: Jangan mengirimkan spam karena Anda akan langsung kami ban dari milis ini
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* ********Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups. yahoo.com/ group/astronomi_ indonesia/ join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:astronomi_indonesia -digest@yahoogro ups.com
    mailto:astronomi_indonesia -fullfeatured@ yahoogroups. com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    astronomi_indonesia -unsubscribe@ yahoogroups. com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs. yahoo.com/ info/terms/





#890 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Jul 6, 2009 2:22 am
Subject: Re: Peluru Kendali
marufins
Send Email Send Email
 
Terima kasih atas informasinya. Memang betul ada rudal jelajah yang menggunakan mesin ramjet sehingga bisa melesat dengan kecepatan supersonik, Dan karakteristik ramjet memang baru bisa beroperasi jika kecepatannya sudah cukup tinggi sehingga untuk tahap-tahap awal rudal jelajah musti ditenagai roket berbahan bakar padat sebagai pendorong atau pelontar (booster) dari segala platform peluncurnya.

Sebagai tambahan, penggunaan booster pada rudal jelajah subsonik merupakan hal yang umum karena mesin turbofan yang digunakan rudal jelajah tidak cukup mampu untuk mengangkat rudal dari platform peluncuran di permukaan dan bawah permukaan Bumi. Rudal jelajah umumnya bisa diluncurkan dari 3 platform berbeda : atmosfer (pesawat terbang),permukaan (kapal laut, mobile launcher) dan bawah permukaan (kapal selam). Hanya platform atmosfer saja yang tidak membutuhkan booster, karena mesin turbofan sudah bisa dioperasikan begitu rudal dijatuhkan secara bebas dari pesawat. Untuk platform permukaan dan bawah permukaan, butuh booster dengan waktu reaksi +/- 10 detik guna melontarkannya dari tabung peluncur di kapal ataupun lubang torpedo di kapal selam.

Btw, rudal jelajah lebih disukai untuk memusnahkan sasaran-sasaran strategis berjarak jangkau +/- 1.000 km karena ratio of failure-nya cukup rendah. Dalam Perang Teluk II tahun 1991, dari tiap 100 peluncuran rudal jelajah, hanya 1 yang gagal terbang itupun disebabkan oleh gangguan pada booster. Dan setelah booster diganti, rudal yang gagal tadi pun bisa diluncurkan kembali tanpa ada masalah. Bandingkan dengan kegagalan peluncuran rodal berbasis roket yang bisa mencapai 4 %. Dan dengan kemampuan terbang rendahnya, ditambahkan dengan mengubah hululedaknya agar adaptif dengan hardened target, maka rudal jelajah bisa difungsikan sebagai rudal antikapal dengan kemampuan yang tak kalah dibanding antikapal konvensional seperti rudal Exocet, Harpoon maupun Sea Dart. Dan dengan mengubah hululedaknya menjadi deep penetrator, rudal jelajah bisa difungsikan sebagai pembobol target berbasis beton bertulang seperti misalnya bunker.

Karena berbasis PUNA, maka sebenarnya pengembangan rudal jelajah sudah bisa dilakukan di Indonesia. Jika khawatir dengan ancaman MTCR, maka bisa dipilih jarak jangkau rudal maksimum di bawah 300 km. Ini pun masih sanggup berperan sebagai kekuatan deteren atau penggentar, sesuatu yang sangat urgen dalam perang-perang modern. Bayangkan misalnya jika BPPT berhasil mengembangkan rudal semacam ini, dan digunakan oleh TNI AL kita di front Ambalat. Bayangkan jika rudal jelajah itu meluncur dari pangkalan Tarakan untuk kemudian terbang hanya 1 m di atas permukaan laut, dan selanjutnya melintas hanya 2 m di atas KRD Baung milik TUDM yang sedang iseng menerobos batas laut Indonesia. Meski misalnya rudal ini hanya diisi hululedak dummy (palsu) dan rutenya dipilih sedemikian rupa sehingga setelah melewati KRD Baung, dia akan membelok kembali ke perairan Indonesia untuk kemudian ditching di lepas pantai Gorontalo agar bisa diambil kembali oleh TNI-AL, ini tentu sangat menggentarkan bagi awak KRD Baung.  Apalagi jika kita berani meluncurkannya dari titik batas di Kep. Natuna dan menerbangkannya menuju Kuala Lumpur, melewatkannya tepat di antara menara kembar Petronas alias di bawah jejantas udaranya untuk kemudian melakukan ditching di Selat Malaka, efeknya tentu lebih besar dan bisa disetarakan dengan mengonsentrasikan sejumlah batalyon di Pulau Batam.

Salam,


Ma'rufin




From: yusa permana <yusapermana@...>
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com
Sent: Friday, July 3, 2009 12:35:15 AM
Subject: [[ JAC ]] Re: Peluru Kendali

       Maaf sekadar ralat dan menambahkan. Peluru kendali dengan mesin jet bisa mencapai kecepatan supersonik. mesin yang digunakan biasanya adalah ram jet. Walaupun begitu karena sifat khas mesin ram jet yang membutuhkan kecepatan tinggi untuk bisa beroperasi, maka peluru kendalai dengan mesin ramjet tetap membutuhkan mesin pendorong awal yang biasanya adalah mesin roket. 
      Fungsi mesin roket ini adalah sebagai pendorong awal hingga rudal mencapai kecepatan operasi mesin ramjet, setelah ramjet beroperasi mesin roket akan dilepas. Mesin ramjet kemudian dapat secara mandiri mempertahankan atau bahkan meningkatkan kecepatan supersoniknya hingga mencapai target
Contoh peluru kendali jenis ini adalah :
SS-N-22, AS-17, SA-6 dan SA-4 dari Russia(dahulu Uni Soviet)
RIM-8 Talos (Amerika Serikat tapi sudah digantikan generasi RIM-66 Standard)
Brahmos (India-Russia)
 
Demikian tambahan info berdasar pengetahuan saya


Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!



#891 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Jul 6, 2009 2:46 am
Subject: Re: numpang tanya..
marufins
Send Email Send Email
 
Jawabannya singkat saja, Neil Amstrong memang pernah pergi ke Bulan dan sekaligus berjalan di permukaan Bulan.

Ada 12 orang yang pernah melangkahkan kaki di Bulan dalam kurun waktu Juli 1969 hingga Desember 1972, yakni : Neil Amstrong, Edwin Aldrin (Apollo 11), Pete Conrad, Alan Bean (Apollo 12), Alan Shepard, Edgar Mitchell (Apollo 14), David Scott, James Irwin (Apollo 15), John Young, Charles Duke (Apollo 16) , Eugene Cernan dan Harrison Schmitt (Apollo 17).

Secara keseluruhan ada 30 orang yang pernah pergi ke Bulan (dalam arti, pernah mengelilingi Bulan dalam orbit berketinggian tertentu di atas Bulan), dengan klasifikasi 12 mendarat dan melangkah di Bulan, 6 tinggal di pesawat pengorbit mengawasi aktivitas pendaratan di Bulan dan 12 lainnya tinggal di pesawat pengorbit tanpa ada aktivitas pendaratan di Bulan (termasuk 3 kru Apollo 13).

Dalam perencanaannya, pasca Desember 1972 seharusnya ada 9 orang lagi yang akan pergi ke Bulan dan 6 di antaranya berjalan di Bulan. Namun pemotongan anggaran di NASA membuat misi Apollo 18, 19 dan 20 dibatalkan. Peralatan yang nganggur akibat pembatalan ini kemudian digunakan untuk misi Skylab dan "misi persahabatan" Apollo-Soyuz.

Buktinya? Silahkan digali di milis ini, salah satunya : http://tech.groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/message/4199

Beberapa aspek teknisnya ada di http://tech.groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/message/4185 atau http://tech.groups.yahoo.com/group/astronomi_indonesia/message/4175 .

Salam,


Ma'rufin


From: Fadhil Kerend <fadhilkerend@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Sunday, July 5, 2009 1:49:32 PM
Subject: [astronomi_indonesia] numpang tanya..

numpang tanya nie..

sebenernya Neil Amstrong itu bener udah pernah pergi ke bulan atau gak sie?
apa buktinya?

atau bisa diganti,

sudah adakah orang yang pergi dan menginjakkan kakinya di bulan?

regards,
fadhil


Wajib militer di Indonesia?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!



#892 From: Rian Rahadian <gaul_koneksi@...>
Date: Mon Jul 6, 2009 2:55 am
Subject: Re: [[ JAC ]] Re: numpang tanya..
gaul_koneksi
Send Email Send Email
 

ya mnrut faktax keadaan dalm rekamn neil amstrong dkk ke bulan thu direkayasa... pasalnya terlihat dr berkbrx bndra amerika yg tidak sesuai mengingat di bulan hmpa udara... dulu prnh diungkap d suatu media cetak kow... mohn maaf klo ad kslhn informasi...

From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Monday, July 6, 2009 9:46:56 AM
Subject: [[ JAC ]] Re: numpang tanya..

Jawabannya singkat saja, Neil Amstrong memang pernah pergi ke Bulan dan sekaligus berjalan di permukaan Bulan.

Ada 12 orang yang pernah melangkahkan kaki di Bulan dalam kurun waktu Juli 1969 hingga Desember 1972, yakni : Neil Amstrong, Edwin Aldrin (Apollo 11), Pete Conrad, Alan Bean (Apollo 12), Alan Shepard, Edgar Mitchell (Apollo 14), David Scott, James Irwin (Apollo 15), John Young, Charles Duke (Apollo 16) , Eugene Cernan dan Harrison Schmitt (Apollo 17).

Secara keseluruhan ada 30 orang yang pernah pergi ke Bulan (dalam arti, pernah mengelilingi Bulan dalam orbit berketinggian tertentu di atas Bulan), dengan klasifikasi 12 mendarat dan melangkah di Bulan, 6 tinggal di pesawat pengorbit mengawasi aktivitas pendaratan di Bulan dan 12 lainnya tinggal di pesawat pengorbit tanpa ada aktivitas pendaratan di Bulan (termasuk 3 kru Apollo 13).

Dalam perencanaannya, pasca Desember 1972 seharusnya ada 9 orang lagi yang akan pergi ke Bulan dan 6 di antaranya berjalan di Bulan. Namun pemotongan anggaran di NASA membuat misi Apollo 18, 19 dan 20 dibatalkan. Peralatan yang nganggur akibat pembatalan ini kemudian digunakan untuk misi Skylab dan "misi persahabatan" Apollo-Soyuz.

Buktinya? Silahkan digali di milis ini, salah satunya : http://tech. groups.yahoo. com/group/ astronomi_ indonesia/ message/4199

Beberapa aspek teknisnya ada di http://tech. groups.yahoo. com/group/ astronomi_ indonesia/ message/4185 atau http://tech. groups.yahoo. com/group/ astronomi_ indonesia/ message/4175 .

Salam,


Ma'rufin


From: Fadhil Kerend <fadhilkerend@ yahoo.co. id>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Sunday, July 5, 2009 1:49:32 PM
Subject: [astronomi_indonesi a] numpang tanya..

numpang tanya nie..

sebenernya Neil Amstrong itu bener udah pernah pergi ke bulan atau gak sie?
apa buktinya?

atau bisa diganti,

sudah adakah orang yang pergi dan menginjakkan kakinya di bulan?

regards,
fadhil


Wajib militer di Indonesia?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!




#893 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Mon Jul 6, 2009 3:16 am
Subject: Re: [[ JAC ]] Re: numpang tanya..
marufins
Send Email Send Email
 
Berikut foto yang diambil Neil Amstrong. Subyek foto adalah Edwin Aldrin dengan bendera didepannya. Ada dua foto yang digabung menjadi satu animasi. Selang waktu di antara pengambilan kedua foto tersebut +/- 1 menit. Silahkan dilihat apakah benderanya berkibar-kibar atau tidak.

Salam,


Ma'rufin


From: Rian Rahadian <gaul_koneksi@...>
To: jogja_astroclub@yahoogroups.com
Sent: Monday, July 6, 2009 9:55:52 AM
Subject: Re: [[ JAC ]] Re: numpang tanya..


ya mnrut faktax keadaan dalm rekamn neil amstrong dkk ke bulan thu direkayasa.. . pasalnya terlihat dr berkbrx bndra amerika yg tidak sesuai mengingat di bulan hmpa udara... dulu prnh diungkap d suatu media cetak kow... mohn maaf klo ad kslhn informasi...

From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Monday, July 6, 2009 9:46:56 AM
Subject: [[ JAC ]] Re: numpang tanya..

Jawabannya singkat saja, Neil Amstrong memang pernah pergi ke Bulan dan sekaligus berjalan di permukaan Bulan.

Ada 12 orang yang pernah melangkahkan kaki di Bulan dalam kurun waktu Juli 1969 hingga Desember 1972, yakni : Neil Amstrong, Edwin Aldrin (Apollo 11), Pete Conrad, Alan Bean (Apollo 12), Alan Shepard, Edgar Mitchell (Apollo 14), David Scott, James Irwin (Apollo 15), John Young, Charles Duke (Apollo 16) , Eugene Cernan dan Harrison Schmitt (Apollo 17).

Secara keseluruhan ada 30 orang yang pernah pergi ke Bulan (dalam arti, pernah mengelilingi Bulan dalam orbit berketinggian tertentu di atas Bulan), dengan klasifikasi 12 mendarat dan melangkah di Bulan, 6 tinggal di pesawat pengorbit mengawasi aktivitas pendaratan di Bulan dan 12 lainnya tinggal di pesawat pengorbit tanpa ada aktivitas pendaratan di Bulan (termasuk 3 kru Apollo 13).

Dalam perencanaannya, pasca Desember 1972 seharusnya ada 9 orang lagi yang akan pergi ke Bulan dan 6 di antaranya berjalan di Bulan. Namun pemotongan anggaran di NASA membuat misi Apollo 18, 19 dan 20 dibatalkan. Peralatan yang nganggur akibat pembatalan ini kemudian digunakan untuk misi Skylab dan "misi persahabatan" Apollo-Soyuz.

Buktinya? Silahkan digali di milis ini, salah satunya : http://tech. groups.yahoo. com/group/ astronomi_ indonesia/ message/4199

Beberapa aspek teknisnya ada di http://tech. groups.yahoo. com/group/ astronomi_ indonesia/ message/4185 atau http://tech. groups.yahoo. com/group/ astronomi_ indonesia/ message/4175 .

Salam,


Ma'rufin


From: Fadhil Kerend <fadhilkerend@ yahoo.co. id>
To: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
Sent: Sunday, July 5, 2009 1:49:32 PM
Subject: [astronomi_indonesi a] numpang tanya..

numpang tanya nie..

sebenernya Neil Amstrong itu bener udah pernah pergi ke bulan atau gak sie?
apa buktinya?

atau bisa diganti,

sudah adakah orang yang pergi dan menginjakkan kakinya di bulan?

regards,
fadhil


Wajib militer di Indonesia?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!





1 of 1 Photo(s)

#894 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Jul 7, 2009 1:26 am
Subject: [INFO] Gerhana Bulan Penumbral 7 Juli 2009, sang pembuka Parade Gerhana
marufins
Send Email Send Email
 
Pada Selasa 7 Juli 2009 akan terjadi peristiwa Gerhana Bulan Penumbral, yakni satu kondisi dimana bundaran Bulan yang sedang menuju ke fase purnamanya tertutupi oleh bayangan tambahan (penumbra) Bumi. Gerhana ini merupakan gerhana pembuka dari sebuah "parade gerhana" selama 30 hari ke depan dimana secara berturut-turut akan terjadi 3 gerhana sekaligus yakni Gerhana Bulan Penumbral 7 Juli 2009, Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 dan Gerhana Bulan Penumbral 6 Agustus 2009. Parade gerhana semacam ini terakhir kali terjadi 9 tahun silam tepatnya pada bulan Juli 2000.


Secara kasat mata gerhana penumbral sangat sulit untuk diamati, karena hanya terjadi penurunan kecemerlangan pada Bulan tanpa adanya penutupan sebagian atau keseluruhan bundaran Bulan oleh bayangan Bumi. Gerhana penumbral hanya bisa dideteksi oleh mereka-mereka yang memiliki penglihatan tajam ataupun menggunakan alat optik seperti binokuler/teleskop, sehingga terjadinya penurunan kecemerlangan Bulan bisa diidentifikasi.


Gerhana akan berlangsung sejak pukul 15:40 WIB ketika terjadi kontak awal penumbra (P1). Dan gerhana akan berakhir pada pukul 17:38 WIB ketika terjadi kontak akhir penumbra (P4). Sehingga secara keseluruhan durasi gerhana penumbral ini adalah 1 jam 58 menit. Puncak gerhana akan terjadi pada pukul 16:39 WIB dimana pada kondisi ini penumbra Bumi menutupi 14,9 % luas permukaan bundaran Bulan.


Sayangnya gerhana tidak bisa disaksikan secara utuh dari seluruh wilayah Indonesia. Peta keterlihatan gerhana menunjukkan penduduk di propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya Barat dan Papua dapat menyaksikan gerhana ini namun dalam kondisi ketika Bulan sedang terbit. Sehingga durasi gerhana untuk tiap titik pada propinsi-propinsi tersebut cukup singkat. Di kota Samarinda, misalnya. Bulan terbit pada pukul 18:25 WITA sementara gerhana berakhir pada pukul 18:38 WITA, sehingga durasi gerhana hanya 13 menit.  Durasi gerhana yang terpanjang ada di kota Jayapura, dimana Bulan terbit pada pukul 17:47 WIT dan gerhana berakhir pada 19:38 WIT sehingga durasinya sebesar 1 jam 51 menit.


Berikut dilampirkan peta keterlihatan gerhana dalam format PDF.


Salam,



Ma'rufin


1 of 1 File(s)


#895 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Jul 7, 2009 2:04 am
Subject: [INFO] Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009, sang pemuncak parade gerhana
marufins
Send Email Send Email
 
Pada Selasa 22 Juli 2009 akan terjadi peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) yakni satu kondisi dimana bundaran Matahari tertutupi oleh bundaran Bulan yang sedang menuju ke fase Bulan baru atau konjungsi atau ijtima'. Gerhana ini merupakan gerhana pemuncak dari sebuah "parade gerhana" selama 30 hari ke depan dimana secara berturut-turut akan terjadi 3 gerhana sekaligus yakni Gerhana Bulan Penumbral 7 Juli 2009, Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 dan Gerhana Bulan Penumbral 6 Agustus 2009. Parade gerhana semacam ini terakhir kali terjadi 9 tahun silam tepatnya pada bulan Juli 2000.


Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 merupakan bagian dari gerhana seri Saros 136 dan bisa dilihat dari kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur dan Samudera Pasifik. Sebagai bagian dari seri Saros 136, maka gerhana ini merupakan perulangan dari GMT 55 tahun sebelumnya, yakni GMT 20 Juni 1955. Yang membedakan hanyalah lokasi keterlihatan gerhana kali ini sedikit bergeser ke utara. Dan kelak 55 tahun ke depan, yakni 24 Agustus 2063, GMT yang sama juga akan berulang dengan catatan bahwa lokasi keterlihatan gerhana kian bergeser ke utara menjauhi kawasan khatulistiwa.


Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 memiliki bayangan inti (umbra) yang memanjang sejauh ribuan kilometer dari lepas pantai Laut Arab di sebelah barat India dan menerus ke timur laut melintasi kota Shanghai dan Kep. Jepang untuk akhirnya berbelok ke tenggara hingga berakhir di pertengahan Samudera Pasifik. Umbra ini memiliki lebar 258 km. Gerhana dimulai pada pukul 06:58 WIB ketika terjadi kontak awal penumbra (P1). Disusul kemudian kontak awal umbra (U1) pada pukul 07:51 WIB. Seiring dengan gerakan Bulan mengelilingi Bumi, maka gerhana akan berjalan terus ke timur hingga mencapai puncaknya 09:35 WIB. Gerhana mulai berakhir pada pukul 11:19 WIB ketika terjadi kontak akhir umbra (U4) dan sepenuhnya berakhir pada pukul 12:12 WIB ketika kontak akhir penumbra (P4) terlampaui.


Seluruh wilayah Indonesia terletak jauh di selatan lintasan umbra dan berada di perbatasan daerah penumbra, sehingga hanya bisa menyaksikan gerhana ini dalam bentuk gerhana sebagian. Batas area penumbra membentang dari pantai barat Pulau Sumatra yang menerus ke timur laut melintasi kota Jambi, Samarinda dan sebelah utara kota Palu untuk kemudian berbelok ke tenggara melewati kota Luwuk, Bula (Pulau Seram bagian timur) dan laut Arafuru. Hanya daerah di sebelah utara garis ini yang bisa menyaksikan gerhana.


Gerhana bisa disaksikan pada pagi hari untuk Pulau Sumatra dan Kalimantan. Di Sulawesi dan Papua, gerhana bisa disaksikan pada siang hari. Durasi gerhana yang terpanjang terjadi di kota Jayapura dan sekitarnya, yakni selama 1 jam 52 menit yang dimulai pada pukul 11:11 WIT. Namun penutupan cakram Matahari oleh Bulan yang terbesar pada saat puncak gerhana justru terjadi di kota Banda Aceh dan sekitarnya, yakni mencapai 29,7 % (magnitude 0,297). Di Banda Aceh gerhana mulai terjadi pada pukul 07:14 WIB dan berakhir pada 08:48 WIB. Sementara durasi terpendek gerhana terjadi di sepanjang perbatasan penumbra. Di kota Samarinda dan sekitarnya misalnya, gerhana hanya berlangsung 17 menit sejak pukul 09:36 WITA, dengan tutupan cakram Matahari hanya 0,4 %.

Shalat gerhana Matahari disunnahkan dilaksanakan Umat Islam pada daerah-daerah yang bisa melihat gerhana, yakni yang bertempat di propinsi :
  • Nangroe Aceh Darussalam
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Riau Kepulauan
  • Jambi (sebagian)
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Timur (sebagian)
  • Sulawesi Utara
  • Gorontalo
  • Sulawesi Tengah (sebagian)
  • Sulawesi Tenggara (sebagian)
  • Maluku (sebagian)
  • Maluku Utara
  • Irian Jaya Barat
  • Papua

Berikut dilampirkan peta keterlihatan gerhana dalam format PDF.


Salam,



Ma'rufin



#896 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Jul 7, 2009 1:42 pm
Subject: Peta Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 untuk Indonesia
marufins
Send Email Send Email
 
Berikut dilampirkan peta keterlihatan Gerhana Matahari Total 22 Juli 2009 dari wilayah Indonesia dalam format PDF.


Salam,



Ma'rufin


1 of 1 File(s)


Messages 867 - 896 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help