Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

jogja_astroclub · Jogja Astro Club (JAC)

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 287
  • Category: Amateur
  • Founded: Jul 5, 2005
  • Language: Indonesian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 924 - 953 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#924 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Oct 28, 2009 8:17 am
Subject: Resume Pengamatan Hilaal Tua Syawwal dan Hilaal Zulqa'idah 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena resume pengamatan hilaal dan hilaal tua ini terlambat untuk diposkan. Mohon perkenannya.
 
Hilaal Tua Syawwal 1430 H

1. Sabtu pagi 17 Oktober 2009 menjelang Matahari terbit (sunrise)

Pengamat dan hasil :
  • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal tua terlihat sampai 2 menit sebelum sunrise dengan binokuler, langit cerah dengan scatter clouds.
  • Ma'rufin (Cirebon), hilaal tua terlihat sampai 20 menit sebelum sunrise (dengan mata telanjang) dan hingga 10 menit sebelum sunrise (dengan binokuler), langit cerah dengan scatter clouds dan horizon berkabut.
2. Minggu pagi 18 Oktober 2009 menjelang Matahari terbit (sunrise)

Pengamat dan hasil :
  • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal tua tak terlihat, langit cerah dengan scatter clouds.
  • Ma'rufin (Cirebon), hilaal tua tak terlihat, langit cerah dengan scatter clouds.
  • Pak Iwan Kuswidi (Yogyakarta), hilaal tua tak terlihat, langit mendung
Pengamat lain dan hasilnya :
  • Mbak Iin Salsabila & tim (Ancol, Jakarta), hilaal tua terlihat pada Sabtu pagi 17 Oktober 2009, waktu tidak dilampirkan, kondisi langit tidak dilampirkan.

Hilaal Zulqaidah 1430 H

1. Minggu senja 18 Oktober 2009 setelah Matahari terbenam (sunset)

Pengamat dan hasil :
  • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal tak terlihat, langit mendung total, kontak via ponsel & email.
  • Pak Ibnu Zahid Aboel Muid & tim LFNU Gresik (Condrodipo Gresik), hilaal tak terlihat, langit cerah dengan scatter clouds, kontak via email.
  • Pak Iwan Kuswidi (Puncak, Bogor), hilaal tak terlihat, langit berawan sebagian khususnya di horizon barat, kontak via email
  • Pak Ismail Fahmi & tim (Pelabuhan Ratu Jabar), hilaal tak terlihat, langit cerah, kontak via ponsel & email.
  • Mas Arya Dilaga (Semarang), hilaal tak terlihat, langit berawan sebagian dengan horizon tertutupi awan.
2. Senin senja 19 Oktober 2009 setelah Matahari terbenam (sunset)

Pengamat dan hasil :
  • Pak Mutoha (Yogyakarta), hilaal terlihat dengan binokuler 3 menit sebelum sunset, langit cerah.
  • Pak AR Sugeng (Klaten), hilaal terlihat pukul 17:49 WIB, langit berawan sebagian terutama di horizon.
  • Pak Ibnu Zahid Aboel Muid & tim LFNU Gresik (Condrodipo Gresik), hilaal terlihat dengan teodolit tepat saat sunset, langit berawan tipis.
  • Pak Arief Syamsulaksana (Perth, Australia), hilaal terlihat 17 menit setelah sunset, langit cerah.
  • Pak Ismail Fahmi & tim (Pelabuhan Ratu Jabar), hilaal terlihat dengan teleskop pada 17:48 WIB, terlihat dengan mata telanjang pada 18:09 WIB, langit berawan di horizon.
  • Mas Arya Dilaga (Semarang), hilaal tak terlihat, langit berawan sebagian dengan horizon tertutupi awan.
  • Tim LFNU Kebumen (Kebumen, Jawa Tengah), hilaal tak terlihat, langit mendung.
Terima kasih atas semua partisipasinya. Data-data telah kami catat dan Insya' Allah akan sangat berguna dalam histori, kajian dan penentuan kalender Hijriyyah di Indonesia. Dan kami tunggu lagi partisipasi serta laporannya dalam pengamatan hilaal tua Zulqa'idah dan hilaal Zulhijjah 1430 H mendatang.

1 Zulqa'idah 1430 H

Secara teoritis, berdasarkan data hisab, pada Minggu senja 18 Oktober 2009 Bulan berada pada ketinggian yang cukup rendah yakni di sekitar horizon. Bulan berada pada kondisi moonset = sunset (kondisi dimana Lag = 0 menit) hanya di sebagian Pulau Jawa, yakni kawasan Jawa Barat bagian selatan, sebagian Jawa Tengah bagian selatan dan DIY serta Banten bagian selatan, sehingga tidak mungkin bisa dilihat/diobservasi dalam spektrum cahaya tampak (yakni menggunakan mata telanjang ataupun alat optik yang dikalibrasikan dengan mata telanjang). Sementara pada Senin senja 19 Oktober 2009 Bulan telah memiliki Lag hingga + 52 menit dan pada kondisi ini model visibilitas RHI menunjukkan Bulan akan terlihat sebagai sabit sebelum terbenamnya Matahari (karena batas maksimal Bulan terlihat sebagai sabit tepat saat Matahari terbenam adalah + 42 menit dengan menggunakan alat optik). Dan ini terbukti pada titik pengamatan di Brambang Gunungkidul dan Condrodipo Gresik.

Sebagai catatan, database RHI menunjukkan bahwa yang disebut hilaal adalah Bulan dalam fase sabit yang memiliki Lag + 27 hingga + 42 menit. Bulan dengan Lag > + 42 menit kami definisikan sebagai Bulan sabit saja (alias Moon crescent) sementara Bulan dengan Lag < + 27 menit kami definisikan sebagai Bulan gelap (darkmoon alias Mahaq)

Meski demikian, realitanya dengan kondisi atmosfer yang sangat dinamis membuat tidak semua titik pengamatan bisa mengamati hilaal. Pada 19 Oktober 2009, dari 7 titik pengamatan dalam jejaring RHI yang melaporkan diri, hanya 5 yang bisa mengamati hilaal (71 %).

Dengan demikian 1 Syawwal 1430 H telah dimulai pada Senin senja 19 Oktober 2009 saat sunset, atau secara gampangnya dikatakan 1 Syawwal 1430 H = Selasa 20 Oktober 2009, berdasarkan pada teramatinya hilaal dalam observasi dan dikomparasikan dengan hisab model visibilitas RHI.

29 Zulqa'idah 1430 H

29 Zulqa'idah 1430 H penting artinya karena menjadi saat untuk menentukan 1 Zulhijjah. Tanggal 29 ini didekati dengan dua pendekatan. Pendekatan pertama berdasarkan hasil observasi hilaal pada awal Zulqa'idah. Sementara pendekatan kedua menggunakan kaidah yang diusulkan Bp. Hendro Setyanto (bahwa hari terjadinya konjungsi adalah tanggal 29 Qamariyyah, dengan catatan transisi hari berlangsung saat sunset)

Kedua pendekatan menghasilkan 29 Zulqa'idah 1430 H bertepatan dengan Selasa, 17 November 2009.

Periode Sinodis

Untuk lunasi Zulqa'idah 1430 H ini, periode sinodis Bulan bernilai 29 hari 13 jam 41 menit. Harus diingat, ini adalah periode sinodis yang aktual, sementara angka 29 hari 12 jam 44 menit sebagaimana yang terpublikasikan secara luas sebenarnya (dan menjadi dasar bagi sistem kalender 'urfi) merupakan periode sinodis rata-rata. 

Event Khusus

Tak ada event khusus terkait Bulan dan Matahari dalam Zulqa'idah 1430 H.
 
Salam,


Ma'rufin


#925 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Oct 29, 2009 4:29 am
Subject: Tentang Ledakan Bone
marufins
Send Email Send Email
 
Sebenarnya dari awal sudah kelihatan dengan jelas bahwa ledakan di Bone, Sulawesi Selatan, pada 8 Oktober 2009 lalu, disebabkan oleh masuknya benda langit yang kemudian berubah menjadi meteor besar, atau dalam terminologi astronomi dinamakan fireball. Fireball ini sejenis meteor yang memiliki kecemerlangan cukup besar hingga melampaui kecemerlangan planet Venus, alias memiliki magnitude visual melebihi -4 (minus 4) sehingga ia bisa terlihat dengan jelas di siang hari bolong. Jika kecemerlangannya sangat tinggi sehingga menyamai atau melebihi kecemrlangan cahaya Bulan pada fase purnama, maka fireball itu dinamakan superfireball, atau dalam istilah yang biasa digunakan kalangan geolog, dinamakan bolide. Jadi harap dibedakan fireball ini dengan istilah fireball yang digunakan dalam fisika (khususnya fisika plasma) yang lebih cenderung menerjemahkannya sebagai "bola api ledakan."

Nah kenapa ledakan di Bone dengan mudah bisa dipastikan sebagai fireball? Indikasinya sederhana saja. Ada cahaya di langit, yang diikuti dengan jejak asap lurus yang kemudian berkelok-kelok. Jejak asap lurus ini biasa diistilahkan sebagai "train", dan muncul sebagai akibat dari kondensasi partikel-partikel yang dihamburkan dari permukaan fireball (akibat panas tinggi) oleh atmnosfer Bumi sehingga membentuk awan pada ketinggian > 60 km. Awan jenis ini juga yang teramati misalnya dalam kejadian fireball Tagish Lake (Januari 2000) di Canada, ataupun fireball asteroid 2008 TC3 (Oktober 2008) di Sudan.

Yang kedua, asap itu kemudian diikuti dengan suara bergemuruh, yang jelas sekali menunjukkan tanda-tanda dentuman sonik (sonic boom), yang terjadi akibat melintasnya sebuah obyek melebihi kecepatan suara. Ada 3 - 4 dentuman sonik yang terjadi, sehingga terdapat kesan ada 3 - 4 obyek yang melintas. Dengan hanya satu jejak asap yang terlihat sementara ada 3 - 4 obyek didalamnya, mengesankan bahwa fireball tersebut berukuran besar sehingga terfragmentasi pada ketinggian tertentu di atmosfer.Sehingga terjadi konversi dari energi fireball menjadi energi akustik (suara), dimana efisiensi konversi tersebut hanya sebesar 0,1 %.

Yang ketiga, dentuman sonik itu diikuti dengan getaran di tanah alias ground shaking. Ini juga fenomena yang hanya bisa disebabkan oleh fireball. Getaran di tanah disebabkan oleh konversi energi akustik menjadi energi seismik sehingga membentuk gelombang permukaan (alias gelombang Rayleigh) yang kemudian menjalar ke segenap arah. Sehingga gelombang itu memang identik dengan gelombang gempa bumi, terkecuali jikalau kita melihat rekaman seismogram dan akan menyaksikan bahwa gelombang tersebut sedikit berbeda karena tidak didului gelombang P (primer) atau gelombang S (sekunder). Gelombang Rayleigh ini penjalarannya lambat dan panjang gelombangnya besar, dan dalam seismologi dikenals ebagai gelombang perusak karena gelombang inilah yang sebenarnya berperan penting dalam kerusakan akibat gempa. Nah konversi energi akustik ke seismik berkisar antara 0,01 - 0,00001 %.

Dengan konversi sekecil itu dan sifatnya kaskade (bertingkat), dari energi ke akustik dan dari akustik ke seismik, maka jelas dibutuhkan energi awal yang besar dan itu hanya dimiliki oleh fireball. Manuver pesawat supersonik, jatuhnya sampah antariksa maupun gerakan roket takkan sanggup menciptakan fenomena itu karena kecilnya enertgi kinetik mereka.

Nah analisis infrasonik dari 12 stasiun infrasonik dilengkapi microbarometer dalam jejaring pemantauan CTBT (Comprehensive Test Ban Treaty) alias jejaring pemantau ujicoba nuklir yang diawasi PBB (dan semua stasiun ini ada di luar Indonesia) menunjukkan ledakan Bone merupakan fireball dengan energi 60 kiloton TNT alias 3 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima. Jika menggunakan basis kecepatan rata-rata meteor yang jatuh ke Bumi sebesar 20,3 km/detik maka fireball ini semula merupakan asteroid mini dengan massa 1.200 ton dan berdiameter 6,6 - 9,2 meter, tergantung apakah tersusun oleh besi (siderit) atau batuan (kondritik atau karbon kondiritik atau akondrit). Ketika masuk ke atmosfer Bumi, ia memiliki kecemerlangan sebesar -13,3 alias 1,66 kali lipat lebih terang dibanding Bulan purnama! Sehingga jika ia jatuhnya pas malam hari, penduduk Bone dan sekitarnya akan melihat langit yang terang benderang dalam sekejap melebihi terangnya Bulan.

Fireball ini dipastikan mengalami fragmentasi pada ketinggian rendah, ditandai dengan rasio konversi energi akustik ke seismik yang berharga sekitar 0,01% sehingga BMKG sempat merekam getaran seismiknya sebagai gempa dengan magnitude (surface magnitude ?) 1,9 skala Richter. Dan dengan magnitude visual melebihi -8 hingga -10, maka fireball ini sangat besar kemungkinannya masih tersisa sebagai meteorit yang kemungkinan jatuh di daerah pantai atau pesisir perbatasan Bone dan Wajo.

Rata-rata tiap 5 tahun sekali fireball berdiameter ~10-an meter ini akan jatuh ke Bumi, namun statistik menunjukkan hanya 2 % kejadian saja yang masih menyisakan meteorit berukuran besar dan membentuk kawah tumbukan di permukaan Bumi, misalnya dalam kejadian terbentuknya kawah meteorit Wabar (Saudi Arabia) 150 tahun silam yang membentuk kawah bergaris tengah 120 meter, ataupun terbentuknya kawah meteorit Sikhote-Alin (Rusia Timur) yang terdiri dari 100 kawah dengan diameter kawah terbesar 27 meter pada 1947. Terakhir kejadian yang mirip terjadi di Carancas, Peru, pada 15 September 2007, yang berhasil membentuk kawah bergaris tengah 14 meter. Kejadian fireball yang signifikan terakhir terjadi tepat setahun silam, ketika asteroid 2008 TC3 terdeteksi hanya 37 jam sebelum jatuh ke wilayah Sudan dan merupakan asteroid pertama yang berhasil dilacak jejaknya sebelum jatuh.

Untuk asteroid Bone, sayangnya tidak ada jaringan teleskop pemantau seperti LINEAR, LONEOS, NEAT dll yang melaporkan pendeteksiannya sebelum ia memasuki atmosfer Bumi, demikian juga tidak ada satelit seperti METEOSAT yang melaporkan kejadiannya ketika ia mulai masuk ke atmosfer. Mendeteksi obyek dengan diameter ~10 meter memang masih sangat sulit untuk resolusi jaringan teleskop tersebut yang sampai saat ini masih bertahan pada limit 30 meter. 

Nah apa artinya dari kejadian ini? Sebenarnya frekuensi kejadian fireball cukup sering di Bumi. Statistik menunjukkan tiap 20 jam sekali sebuah fireball nampak di Bumi, hanya karena 80 % permukaan Bumi adalah laut, kita yang ada di daratan memiliki peluang yang kecil untuk melihat fireball. Rata-rata tiap 5 tahun sekali obyek dengan diameter ~10 m itu masuk ke atmosfer Bumi dan sejauh ini sealu terjadi di daerah yang jauh dari pusat pemukiman.

Salam,


Ma'rufin


From: Ahmad Irfan <achvan@...>
To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Wed, October 28, 2009 12:05:24 PM
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Ledakan Bone

 

Ada infonya di tribun-timur. ..

http://tribun-timur.com/read/artikel/54726
------------ ---------

Makassar, Tribun - Sumber ledakan dahsyat yang menggemparkan warga Bone, Sinjai, Wajo, hingga Kolaka di Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (8/10) lalu, akhirnya secara resmi diungkap oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa nasional (LAPAN).

Pakar astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Dr Thomas Djamaluddin, di Jakarta, Senin (27/10), menyebutkan, sumber ledakan adalah efek asrtonomi dari jatuhnya benda meteorit dari asteroid yang meledak di lapisan atmospher paling dasar bumi antara stratosphere (40 km dari bumi) dan troposphere (ketinggian 10 km dari permukaan bumi).
Benda meteor kecil yang kemudian diistilahkan dengan Meteor Bone ini berdiameter sekitar 10 meter persegi. Sementara meteor yang besarnya dibawah 25 meter persegi diistilahkan dengan unidentified meteorit.    
"Ledakan terjadi karena tekanan atmosfer menyebabkan pelepasan  energi yang cukup besar, di mana kecepatan jatuh meteorit  tersebut sekitar 20,3 km per detik atau 73.080 km per jam," kata Thomas yang melansir identifikasinya ini setelah mendapatkan konfirmasi dari 12 stasiun luar angkasa.
Analisis ledakan menunjukkan bahwa kekuatan ledakan sekitar  50 kiloton TNT  (Trinitrotoluena) . Sinyal ledakan tersebut juga mencapai stratosfer yang tingginya lebih dari 20 km.
Dengan kekuatan 50 kiloton, jika ledakan ini sampai ke bumi, maka efeknya kira-kira nyaris empat kali lipat dengan bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu di dua kota strategis Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, pada tahun 1945.
Sekadar ilustrasi, bom berjuluk The Little Boy Atomic Bomb (6 Agustus 1945), seperti dilansir wikipedia, meledak dengan kekuatan energi 15 kilotons of TNT (˙ 6.3 x 1.013 joules).
Hasil temuan LAPAN dilansir setelah mendapat konfirmasi resmi, hampir tiga pekan setelah kejadian.
Thomas yang juga dikenal sebagai ahli astronomi ini menyebutkan, dari hasil indetifikasi sistem pemantau internasional untuk larangan percobaan nuklir  dari 11 stasiun pemantau di dunia lainnya, telah terdeteksi adanya ledakan besar yang berpusat di sekitar lintang 4,5 LS dan bujur 120 BT, sekitar pukul 11:00 wita pada 8 Oktober.
Namun kebanyakan asteroid yang jatuh tidak menyebabkan kerusakan di bumi kecuali diameternya mencapai lebih dari 25 meter persegi.
Menurut Thomas, berdasarkan perkiraan sebaran meteoroid-asteroid di antariksa dekat bumi, objek seperti itu punya kemungkinan jatuh di bumi setiap dua sampai 12 tahun. 
Keterangan resmi LAPAN ini sekaligus menepis sejumlah spekulasi yang muncul soal pemicu ledakan yang menhebohkan. Sejumlah saksi mengaku sempat melihat benda memancarkan api dan asap di udara. Namun informasi yang beredar simpang siur, kebanyakan mengira ledakan itu merupakan ledakan pesawat jet tempur Sukhoi (Sonic Boom) yang sedang melakukan latihan dari markasnya di Skadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hassanuddin, Makassar.
Sedangkan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) IV Makassar sempat mengaku telah terjadi gempa kecil sebesar 1,9 skala Richter (SR) di permukaan di perbatasan Kabupaten Bone dan Wajo, di mana di wilayah tersebut terdapat Patahan Saddang.
Warga lainnya menyebutkan ledakan yang sempat menimbulkan getaran di darat  tersebut disebabkan aksi bom ikan yang dilakukan nelayan setempat. Namun ada pula warga yang telah menduga bahwa benda tersebut adalah meteorit.
Letupan mesin jet supersonic yang membahana menciptakan suara seperti ledakan. Lalu disertai getaran akibat gelombang udara. Gelombang udara itu muncul akibat entakan tubuh dan daya dorong mesin
Misteri ledakan keras juga sempat dikaitkan dengan latihan enam pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara.
Komandan Lanud TNI AU Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama TNI Ida Bagus Putu Dunia mengatakan dua pesawat Sukhoi dalam latihan tersebut terbang pada ketinggian 10 sampai 30 ribu kaki di angkasa. "Tapi kecepatannya tidak sampai melebihi kecepatan suara," katanya saat dikonfirmasi wartawan, sehari setelah kejadian.
Panik
Ledakan besar tersebut sempat membuat warga berhamburan keluar rumah dan saling bertanya-tanya tentang ledakan tersebut.
Ledakan tersebut juga menimbulkan getaran yang kian membuat warga panik. Sejumlah siswa di SMAN 4 Watampone jatuh pingsan karena suara ledakan tersebut.
Salah seorang guru setempat, Abidin, sempat memotret gumpalan asap di langit usai ledakan tersebut dengan kamera ponsel.
"Gumpalan asap itu persis di sumber ledakan karena sebelumnya terlihat percikan api yang besar," kata Andi Hermanto, saksi mata lainnya yang sedang berada d SMAN 4 Watampone.
Tidak hanya di sekolah tersebut, para guru terpaksa memulangkan para siswa karena khawatir getaran akan menimbulkan gempa.
Kepanikan warga sangat beralasan, karena bunyi ledakan yang sangat keras beberapa kali dan terlihat kepulan asap putih membumbung di langit Bone. Dari informasi yang dihimpun, sesaat setelah terjadinya ledakan misterius tersebut warga di Desa Pallime, Kecamatan Cenrana yang berdampingan dengan laut ramai-ramai mengungsi ke desa tetangga.
Begitupun yang terjadi di daerah yang berada dipesisir pantai seperti dibeberapa kelurahan yang ada dikecamatan Tanete Riattang Timur, Kajuara, Sibulue, dan Tonra.
Sebagian saksi mata menganggap kalau ledakan itu adalah sebuah meteor yang jatuh dari langit sehingga menimbulkan ledakan yang cukup keras. "Demi Allah, saya lihat dengan mata kepala sendiri. Awalnya saya kaget karena seperti bayangan kilatan matahari di baju saya (kaos putih), ketika melihat ke atas, saya melihat seperti meteor yang diselimuti api bergerak cepat ke bawah setelah itu hilang dan timbul kepulan asap tebal,"kata Firdaus (29), warga Jl Sukawati Watampone .
Isu Meteor
Isu bahwa empat ledakan yang terjadi di Bone disebabkan oleh adanya semacam meteor lebih kuat dibandingkan dengan isu bahwa ledakan disebabkan oleh pesawat jatuh.
Pasalnya, salah seorang anggota Polres Bone yang ikut dalam pencarian sumber ledakan karena diduga ada pesawat jatuh mendapatkan pesan singkat atau SMS dari kerabatnya di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Seorang bocah berusia 10 tahun, putra anggota Polres Bone bernama Briptu Agus, juga menelpon ayahnya karena takut melihat api di langit.
Wartawan yang saat itu sedang meliput di Bone, mendapatkan informasi dari Briptu Agus, bahwa anaknya menelepon sambil menangis karena ketakutan melihat api dan ledakan dari langit.(ans/ zil)

http://tribun-timur.com/read/artikel/54725



#926 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Wed Nov 4, 2009 3:21 am
Subject: Re: pemetaan jalur gempa
marufins
Send Email Send Email
 
Wa'alaikumsalam wr wb..

Untuk rekan2 yang lain, maaf kalo OOT.
Terima kasih sekali atas report-nya mas Noviar.

Pada dasarnya gelombang gempa (yang terdiri dari gelombang longitudinal/primer, gelombang transversal/sekunder serta gelombang permukaan yang terdiri dari gelombang Love dan gelombang Rayleigh) memang menyebar ke segala arah dari posisi hiposentrum episentrum, namun penyebarannya tidak homogen ke semua titik. Ada kondisi dimana gelombang-gelombang tersebut mengalami polarisasi (terkutubkan) ke arah-arah tertentu saja, sehingga di arah-arah tersebut intensitas gincangan tanahnya menjadi lebih tinggi sehingga kerusakan menjadi lebih besar ketimbang yang arah-arah yang lain.

Faktor pertama yang menentukan adalah strike gempa. Strike ini secara mudahnya adalah arah gerakan segmen batuan sumber gempa secara horizontal, yang di permukaan Bumi diekspresikan dengan azimuth. Gempa Padang 30 Sept 2009 lalu mempunyai strike 70, sehingga bisa diartikan bahwa daerah-daerah yang terletak dalam azimuth 70 dari episentrum (alias di sebelah timurlaut-timur dari episentrum) mengalami kerusakan lebih parah. Jika diplotkan ke peta, strike 70 ini memang tidak menyentuh Padang Pariaman, namun beberapa puluh km ke arah timur Padang Pariaman sehingga logis saja jika area di sebelah timur Padang Pariaman mengalami kerusakan lebih berat.

Faktor kedua yang menentukan adalah zona lemah dalam kerak Bumi yang lebih dikenal sebagai sesar atau patahan atau fault. Ada sistem patahan besar Sumatra yang aktif dan terletak di sebelah timur Padang Pariaman, dalam satu segmen yang menurut pak Danny Natawidjaja (yang meneliti patahan ini sebagai tesisnya) dinamakan segmen Sianok. Meski segmen ini sudah melepaskan energinya dalam gempa ganda (doublet) 6 Maret 2007 (magnitude 6,4 skala Richter) sehingga bisa dikatakan sudah "loyo", namun ia masih bisa berperan sebagai konduit bagi energi gempa yang datang dari sumber lain didekatnya.

Konduit gelombang gempa oleh jalur patahan bisa juga ditemukan misalnya dalam kasus gempa Jawa Barat 2 September 2009 lalu. Dalam gempa ini, kerusakan yang terlokalisir hanya di wilayah Pengalengan (sebelah selatan Bandung) serta Lembang (sebelah utara Bandung), yang juga turut mengganggu kinerja salah satu teleskop Bosscha, juga disebabkan oleh penghantaran gelombang gempa lewat patahan, masing-masing patahan Pengalengan dan Lembang.

Sementara untuk kasus Ambacang, itu terlokalisir dan spesifik. Rekan-rekan arsitek menyebut runtuhnya Ambacang bukan karena proses likuifaksi atau "pelelehan" tanah yang menjadi lokasi pendukungnya, namun lebih disebabkan bahwa bangunan tersebut semula hanyalah bangunan tingkat 1 yang kemudian direhab menjadi bangunan hotel bertingkat lebih dari satu tanpa adanya penguatan atau koreksi terhadap pondasinya. Inilah yang menyebabkan keruntuhan tersebut. Jika terjadi likuifaksi, atau reaktivasi patahan di sini, maka seharusnya ada jalur yang khas dan tidak hanya mengenai hotel tersebut.

Salam,


Ma'rufin


From: noviar firdaus <noviar.firdaus@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Sent: Sun, November 1, 2009 8:20:37 PM
Subject: [ RHI ] pemetaan jalur gempa

 

Assalamualaikum wr wb


Pada kesempatan perjalanan survai bersama tim rekonstruksi pasca gempa Padang beberapa hari lalu, saya memperhatikan adanya fenomena jalur kerusakan fisik yang tampak dalam bentuk kerusakan pada konstruksi bangunan. 
Sejauh pengamatan saya selama 5 hari perjalanan darat melintas jalur kota Padang - Padang Pariman - Kec Sungai Geringging - Koto Bangko - Padang, tidak terlihat adanya fenomena tanah terbelah, amblas atau terangkat, sebagaimana saya saksikan di Nias 4 tahun lalu. Mungkin pengamatan saya belum komprehensif, hanya terbatas pada jalur utama jalan raya saja.

Tingkat kerusakan bangunan ini yang menarik, kerusakan yang terjadi di kota Padang Pariman (penduduk padat & bangunan hampir berhimpitan) , secara proporsi masih lebih kecil dibanding dengan di Kecamatan Sungai Geringging (22 km arah timur PPariaman). Kota kecamatan ini, hampir seluruh bangunan mengalami kerusakan dalam skala medium sampai dengan Total lost. Anehnya, di beberapa lokasi antara PPariaman dgn S Geringging, banyak pula bangunan yang utuh tanpa kerusakan berarti.

Demikian pula yang terjadi di kota Padang, Hotel Bumi Minang yang berada satu area dengan hotel Ambacang, mengalami kerusakan struktural yang berbeda kualitas. Padahal dalam radius 2 km berdiri sebuah masjid dgn menara nya yg tampak masih utuh secara struktural (tidak termasuk pernak-pernik bangunan). 
Saya "menduga", ini semestinya bukan semata-mata karena kekuatan struktur bangunan terhadap gempa, melainkan juga adanya hamtaman energi yang berbeda dalam intensitas saat gempa datang.  

Pertanyaannya :
  1. Apakah dugaan sy cukup berdasar?
  2. Apakah fenomena ketidak serempakan tingkat kerusakan bangunan di permukaan bumi ini dapat menjadi tolok ukur bagi pemetaan permukaan bumi yang "relatif" lebih aman bagi pendirian suatu bangunan terhadap kemungkinan dampak primer sebuah gempa di masa depan? mengingat tidak terelakkan lagi perkembangan perkotaan menuntut akan adanya penjelasan mendasar mengenai regulasi bangunan tahan gempa di masa datang.
  3. Kalau ternyata hal ini masih merupakan misteri, apakah pemetaan dalam bentuk data titik2 kordinat kerusakan primer akibat gempa saat ini dapat menjadi dasar dalam menyusun perencanaan penataan lokasi bangunan (tata kota / ruang) tahan gempa yang lebih baik ? 
  4. Apakah ada kemungkinan- kemungkinan lain di balik fenomena ketidak serempakan tingkat kerusakan ini?

mohon pencerahan.

wassalamualaikum 

noviar


1 of 1 Photo(s)


#927 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Sun Nov 8, 2009 2:22 am
Subject: Re: Di Bali, tampak komet? Meteor? Yang jelas bukan UFO
marufins
Send Email Send Email
 
Thanks mas Iwal atas infonya. Saya kutip saja fotonya dari blog yang bersangkutan, yang mendapat laporan dari seseorang bernama Devy yang kebetulan berada di Pantai Nusa Dua Bali pada 28 Oktober 2009 lalu. Fotonya sebagai berikut :

Obyek nampak bergerak "cepat" (cepat di sini relatif, berdasar persepsi pengamat) di sore hari, menjelang Matahari terbenam. Pada obyek terlihat ada lampu yang berkela-kelip mirip pesawat.

Yang jelas obyek ini bukan komet. Mengapa? Karena komet jika dilihat dari Bumi memiliki gerakan yang kecepatannya relatif tak jauh berbeda dengan kecepatan langit (yakni bergeser 1 derajat per 4 menit), dimana untuk komet ada tambahan 1 - 2 derajat per hari. Pengamat yang berhasil melihat komet akan terpersepsikan bahwa komet itu "diam", seolah tidak bergerak terhadap Bumi. Ini bisa dimengerti karena jarak Bumi dan komet-komet yang melintas di tata surya umumnya sangat jauh, sama dengan jarak bumi ke planet-planet, sehingga dinamika pergerakan komet layaknya pergerakan planet-planet jika dilihat dari Bumi.

Karena terlihat bergerak "cepat", maka obyek posisinya masih berada di lingkungan Bumi. Namun obyek tersebut bukan sampah antariksa (space debris), karena energinya tak cukup untuk itu. Sampah antariksa pada umumnya memiliki kecepatan 8 km/detik, sehingga untuk bisa menghasilkan goresan cahaya tersebut massanya harus sangat besar sehingga energi kinetiknya cukup besar, melebihi 10 ton. Untuk obyek secepat sampah antariksa, hanya pesawat ulang alik (space shuttle) yang bisa menghasilkan fenomena tersebut saat reentry kembali ke Bumi.

Sehingga tinggal tersisa dua kemungkinan : obyek tersebut adalah meteor/fireball, atau obyek tersebut adalah pesawat terbang biasa. Jika meteor, obyek tersebut tentulah merupakan fireball karena bisa terlihat di siang hari sehingga kecerlangannya lebih besar ketimbang planet Venus, atau dalam bahasa yang lebih rinci, magnitude visualnya lebih besar ketimbang -4 (minus empat). Untuk akhir Oktober, pelacakan menunjukkan ada sumber meteor (radiants) yang aktif, yakni Orionids yang bersumberkan dari remah-remah yang tersisa di orbit komet Halley. Namun Orionids di Indonesia baru akan teramati selepas tengah malam, sehingga obyek di sore hari itu bukanlah meteor Orionids. Selain itu Orionids hanyalah aktif pada 18 hingga 25 Oktober saja, dengan puncaknya pada 21 Oktober 2009 yang memiliki rate 60 meteor/jam. Sehingga, jika obyek itu merupakan meteor, kemungkinan besar ia bersumber dari asteroidal, yakni pecahan-pecahan asteroid dekat Bumi yang kebetulan tertarik oleh gravitasi Bumi dan jatuh sebagai meteor sangat cemerlang. Berbeda dengan hujan meteor yang sifatnya periodik sehingga jadwalnya bisa diprediksikan, meteor asteroidal ini random, tak terprediksi dan dalam sejumlah kasus (jika ukuran pecahan asteroidnya cukup besar), ia bisa menjangku permukaan Bumi sebagai meteorit.

Sementara kemungkinan yang kedua, obyek ini mungkin hanyalah pesawat terbang biasa khususnya pesawat bermesin jet. Ini diperkuat oleh kelap kelip lampu, sesuatu yang tak ada di dalam meteor. Gas buangan yang dihasilkan oleh mesin jet akan terkondensasi ketika pesawat cukup tinggi di atmosfer, sehingga menghasilkan fenomena contrail (condensation trail) karena hasil kondensasi tersebut mirip awan, namun bentuknya lurus.

Salam,


Ma'rufin

From: Iwal <iwal99@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Sent: Mon, November 2, 2009 6:53:06 PM
Subject: [ RHI ] Di Bali, tampak komet? Meteor? Yang jelas bukan UFO

 

Pak Ma'rufin dan rekan-rekan astronom,

Saya dapat info dari sini, bahwa di Bali (28/10/2009) ada seseorang yang sempat melihat benda langit menyerupai komet (atau meteor?).

Mohon infonya, apakah info ini benar, apakah ada "rekaman" yang menunjukkan aktifivtas benda langit di atmosfer sekitar Bali pada tanggal segitu?
Mohon keterangan tentang hal ini, mengingat saat ini memang langit kelihatannya sedang "rajin" menampakkan gejala-gejala yang cukup langka untuk diamati secara awam.

Wassalam



#928 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Nov 12, 2009 4:42 pm
Subject: Pemberitahuan tentang Waktu, Strategi dan Pelaporan untuk Pengamatan Hilaal dan Hilaal Tua Lunasi Zulhijjah 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum..

Mari menyiapkan diri untuk melaksanakan pengamatan hilaal dan hilaal tua bagi lunasi Zulhijjah 1430 H untuk menjadi bahan masukan dalam sidang itsbat penentuan 1 Zulhijjah 1430 H guna menentukan Hari Raya Idul Adha.

Ijtima' atau konjungsi Bulan - Matahari akan terjadi pada hari Selasa 17 November 2009 pukul 02:14 WIB.

Sehingga :

1.Waktu Pengamatan Hilaal Tua Zulqa'idah

Tersedia selang waktu untuk mengamati hilaal tua pada :
  • Minggu 15 November 2009 (umur Bulan saat itu > 40 jam sebelum konjungsi, lama Bulan di atas ufuk > 90 menit)
  • Senin 16 November 2009 (umur Bulan saat itu > 19 jam sebelum konjungsi, lama Bulan di atas ufuk > 40 menit)
Silahkan melaksanakan pengamatan hilaal tua Zulqa'idah pada dua hari tersebut, dengan strategi pengamatan : 
  • Menghadaplah ke langit timur sejak mulai terbitnya Bulan hingga sebelum Matahari terbit (terbitnya Bulan = waktu terbitnya Matahari dikurangi dengan lamanya Bulan di atas ufuk).
  • Perhatikan bahwa Matahari pada saat terbit berada di Azimuth 109 alias berada di arah Timur -Tenggara dari pengamat.
  • Perhatikan bahwa pada 15 November 2009, Bulan akan berada di sebelah kiri (sebelah utara) dari kedudukan Matahari, sehingga bentuk lengkungan cahayanya adalah miring ke kiri. Sementara pada 16 November 2009 Bulan akan nyaris tepat berada di atas Matahari.
2. Pengamatan Hilaal Zulhijjah

Tersedia selang waktu untuk mengamati hilaal pada :
  • Selasa 17 November 2009 (umur Bulan saat itu > 13 jam setelah konjungsi, lama Bulan di atas ufuk > 20 menit)
  • Rabu 18 November 2009 (umur Bulan saat itu > 37 jam setelah konjungsi, lama Bulan di atas ufuk > 72 menit)
Silahkan melaksanakan pengamatan hilaal Zulhijjah pada dua hari tersebut, dengan strategi pengamatan : 
  • Menghadaplah ke langit barat sejak mulai terbenamnya Matahari hingga terbenamnya Bulan (terbenamnya Bulan = waktu terbenamnya Matahari ditambah dengan lamanya Bulan di atas ufuk).
  • Perhatikan bahwa Matahari pada saat terbenam berada di Azimuth 251 alias berada di arah Barat - Barat Daya dari pengamat.
  • Perhatikan bahwa dalam dua hari tersebut Bulan akan berada di sebelah kiri (sebelah selatan) dari kedudukan Matahari, sehingga bentuk lengkungan cahayanya akan miring ke kiri.
3. Pemodelan dan Prediksi

Pemodelan ada di dalam risalah elektronik RHI Nomor 2 volume I tahun 1430 H.

4. Format Laporan

Kemudian, tidak bermaksud untuk menggurui, namun agar lebih sistematis mohon upaya laporan-laporan tentang pengamatan hilaal maupun hilaal tua mengandung sedikitnya hal-hal sebagai berikut :
  1. Lokasi pengamatan (lebih bagus lagi jika lengkap dengan koordinat dan elevasinya).
  2. Kondisi kaki langit/horizon saat pengamatan (apakah cerah sempurna, atau berawan total/mendung, atau berawan sebagian dimana horizon tertutupi, atau terdapat sebaran awan/scatter clouds).
  3. Alat yang digunakan. Jika memakai alat bantu optik, mohon disertakan spesifikasinya (misalnya binokuler 7 x 35 mm dsb).
  4. Waktu saat terjadinya sunrise (jika mengamati Bulan sabit tertua) atau sunset (jika mengamati hilaal), dengan catatan sepanjang Matahari benar-benar teramati menyentuh horizon.
  5. Waktu saat Bulan sabit tertua terakhir kali terlihat, atau saat hilaal pertama kali terlihat. Catat juga tingginya pada saat itu (jika menggunakan alat optik), atau perkiraan tingginya (dengan membandingkannya terhadap ibu jari)
  6. Orientasi Bulan sabit tertua dan hilaal. Sebagai gambaran, bandingkan bentuk Bulan sabit tertua atau hilaal yang teramati dengan lingkaran jam, kemudian catat salah satu ujung sabit berada di jarum jam berapa, demikian juga ujung sabit yang lain. Setelah itu tuliskan dalam bentuk dimana angka jarum jam yang lebih kecil didahulukan. Misalnya : 3 - 8, 4 - 7, 2 - 6 dan sebagainya.
  7. Warna Bulan sabit tertua / hilaal.
  8. Jika memungkinkan, harap disertakan fotonya.
  9. Sebelum melakukan pengamatan, harap kalibrasikan jam anda dengan standar waktu referensi setempat. Misalnya dengan menghubungi nomor 103 lewat telpon kabel/ponsel CDMA dengan SIMCard Flexy, atau membandingkannya dengan waktu siaran BBC, atau dengan siaran RRI, atau radio pantai.
Laporan harap di-share ke milis ini, atau bisa juga dikirimkan via japri ke marufins@... atau jogja_astroclub@.... Boleh juga dikirimkan dalam format singkat lewat SMS ke Ma'rufin (0817727823) atau Mutoha (08122743082)

5. Catatan

Pengamatan hilaal dan hilaal tua untuk lunasi Zulhijjah 1430 H ini memiliki keunikan karena :
  • Secara umum meski sebagian besar region Indonesia berada di masa pancaroba (transisi dari musim kemarau ke musim hujan) yang lebih panjang disertai anomalous Dipole Mode di Samudera Hindia serta fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) sehingga membuat sebagian wilayah Indonesia berpotensi lebih berawan dan atau hujan, sehingga peluang langit bersih dari awan dengan clear horizon tel;ah mengecil.
  • Posisi hilaal tua di bagian barat wilayah Indonesia pada hari Senin pagi 16 November 2009 tepat berada dalam batas definisi hilaal tua sesuai data RHI sehingga diharapkan pengamatan hilaal tua memfokuskan diri dan pada saat tersebut.
  • Posisi hilaal di bagian barat wilayah Indonesia pada Selasa senja 17 November 2009 tepatberada di batas bawah definisi hilaal sesuai data RHI sehingga bermanfaat untuk melaksanakan pengujian definisi. Pengujian definisi sebelumnya pernah dilakukan pada rukyatul hilaal untuk menentukan 1 Syawwal 1430 H yang dilaksanakan pada 19 September 2009 dan berhasil meski dari 1 titik pengamatan saja.
  • Harap untuk berhati-hati dalam mengidentifikasi hilaal dan membedakannya dengan obyek terang di langit.
  • RHI hanya mempergunakan sistem hisab kontemporer (haqiqi bittahqiq) untuk menghitung, membuat model matematis dan membuat peta ketinggian dan elongasi hilaal.
  • Tidak ada fenomena khusus terkait Bulan dan atau Matahari dalam bentuk gerhana,
Demikian, terima kasih atas perhatiannya, ditunggu partisipasinya dan laporan-laporannya.

Wassalamu'alaikum...


Ma'rufin


#929 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Nov 12, 2009 4:53 pm
Subject: Risalah RHI : Zulhijjah 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum wrw

Salam untuk semua,
Mulai islamic lunation ke-17160 (alias Zulhijjah 1430 H) Rukyatul Hilal Indonesia mulai merilis risalah elektronik tentang kondisi menjelang 1 Hijriyyah dalam setiap lunasinya. Risalah ini bertujuan untuk peta kondisi hilaal dan hilaal tua di Indonesia untuk tiap lunasi yang dideskripsikan, sehingga diharapkan bisa menjadi panduan untuk pelaksanaan observasi Bulan sabit termuda atau hilaal (bagi yang melaksanakan observasi) dan sebagai panduan informasi yang berharga dan dapat dipertanggungjawabkan (bagi yang mendasarkan pada perhitungan).

Karena risalahnya masih trial version, mohon masukan-masukannya agar bisa jadi lebih baik, bisa langsung bisa juga japri.

Wassalamu'alaikum wrw,


Ma'rufin



1 of 1 File(s)


#930 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Nov 12, 2009 5:12 pm
Subject: Asteroid 2009 VA, ADB yang sangat dekat
marufins
Send Email Send Email
 
Thanks mas Subhan, emang tidak salah. Namun menyimulasikannya yang agak panjang.

Btw, 2009 VA ini punya diameter 7 meter dan dari Small Body Database JPL punya magnitude mutlak (H) = 28,58 sehingga ia punya albedo 0,06 alias hanya memantulkan 6 % saja dari cahaya Matahari yang jatuh menimpanya. Dengan albedo sekecil itu, maka kemungkinan besar asteroid dekat Bumi (ADB) ini tersusun dari batu.

Jika kita mengkonversikan magnitude mutlak ini menjadi magnitude visual dengan ngambil jarak asteroid ke Matahari disamakan saja dengan jarak Bumi ke Matahari, yakni sama-sama 1 AU maka pada ketinggian 14.000 km asteroid ini sebenarnya belum bisa dilihat dengan mata telanjang ataupun dengan binokuler. Musababnya magnitude visualnya masih + 14. Sehingga butuh teleskop dengan diameter lensa/cermin obyektifnya minimal 46 cm.

Asteroid seukuran ini akan memiliki massa 170 ton jika kita anggap densitasnya 3 g/cc. Dan ia melaju di angkasa dengan energi kinetik 8,5 kiloton TNT jika kita anggap kecepatannya 20,3 km/detik. Pada tingkat energi tersebut, asteroid akan jatuh ke Bumi secara statistik setiap 2,6 tahun sekali. Tentu saja jika model matematis yang dikembangkan Near Earth Object Science Definition Team 2003 silam itu benar.

Andaikata 2009 VA ini bisa memasuki atmosfer Bumi, ia akan terpecah dan meledak pada rentang ketinggian 30 - 40 km dari permukaan tanah setelahs ebelumnya nampak seterang Bulan purnama karena magnitude visualnya bisa berharga -11. Ledakan takkan menghasilkan dampak signifikan di permukaan karena terlalu tingginya. Namun pecahan berukuran kecil mungkin masih tersisa dan jatuh ke Bumi sebagai meteorit, meski total massanya paling beberapa kg saja.

Btw, belakangan makin sering saja asteroid ADB kecil-kecil yang berhasil dilacak. Namun untuk kasus ledakan Bone kemarin koq nggak ada yang bisa ya ?

Salam,


Ma'rufin


<xcubanx@...>
To: indoskygazer@yahoogroups.com
Sent: Thu, November 12, 2009 3:48:08 PM
Subject: [indoskygazer] Re: satelit?

 

data orbit untuk asteroid 2009 VA,... mudah2an tidak salah :

http://ssd.jpl. nasa.gov/ sbdb.cgi? sstr=2009% 20VA;orb= 1;cov=0;log= 0;cad=1#cad

Keep Gazing!
Salam,
Subhan Nur Hakim

--- In indoskygazer@ yahoogroups. com, Ma'rufin Sudibyo <marufins@.. .> wrote:
>
> Bisa saja koq masuk ke atmosfer Bumi tapi kemudian keluar lagi. Istilahnya bouncing. Terjadi ketika asteroid datang dari ketinggian yang sangat rendah, sekitar kurang dari 5 derajat. Asteroid yang masuk ke atmosfer, selain terablasi, kecepatannya juga diperlambat alias mengalami proses aerobraking sehingga ketika keluar dari lingkungan atmosfer untuk kembali ke angkasa, orbitnya sudah berubah dari semula.
>
> Contoh asteroid semacam ini misalnya dalam peristiwa fireball Grand Teton di AS pada 10 Agustus 1972, yang demikian terang sehingga bisa dilihat jelas di siang hari. Lihat lebih lengkap di :
>
> The Great Daylight 1972 Fireball
>
> Btw, pada 6 November lalu ada asteroid 2009 VA, berdiameter 7 m yang melintas hanya 14.000 km dari permukaan Bumi. Namun data-data orbitnya koq belum ada ya, sehingga belum jelas juga apakah ini yang nongol pada Jumat pagi 6 November jam 05:00 itu.
>
> Salam,
>
>
> Ma'rufin
>
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: andreas adiana <andreas.adiana@ ...>
> To: indoskygazer@ yahoogroups. com
> Sent: Tue, November 10, 2009 9:57:49 PM
> Subject: Re: [indoskygazer] satelit?
>
>
> melintas tapi gak masuk atmosfer bumi ya? soalnya kalo masuk atmosfer kan terbakar...
> kalo yg ini kecepatannya gak sekenceng meteor yang cuma sekedipan mata...ini bisa dilihat sampe ke ufuk...kalo asteroid...kebayang gedenya deh...
>
> salam,
> andreas adiana
>
>
> 2009/11/10 avivah yamani <avivahy@gmail. com>
>
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > >
> >
> >>
> >
> >>
> >
> >6 november ada asteroid yg melintas...
> >
> >
> >2009/11/10 andreas adiana <andreas.adiana@ gmail.com>
> >
> >
> >>>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> >>
> >>
> >>>>
> >>
> >>>>
> >>
> >>Jumat pagi 6 nov 2009, sekitar jam 5 lewat, waktu mau nyuci mobil,
> >>>>iseng mendongak menikmati konstelasi orion dan cerahnya sirius...
> >>>>eh...ada benda terang, secerlang venus melintas dari barat laut ke
> >>>>tenggara. ..beberapa detik ternganga, terus teriak2 manggil anakku yang
> >>>>paling gede...
> >>>>entah apa benda itu, yang jelas cahayanya enggak berkedip, secerlang
> >>>>venus, bergerak cepat...
> >>>>mungkinkan itu satelit yg kebetulan melintas? atau teleskop hubble?
> >>>>posisi pengamatan di bontang, beberapa detik dari ke utara dari khatulistiwa
> >>
> >>>>salam,
> >>>>andreas adiana
> >>
> >
> >
> >--
> >Avivah Yamani
> >http://langitselatan.com
> >http://simplyvie. com
> >
>
>
>
> ____________ _________ _________ _________ _________ __
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail. yahoo.com
>



#931 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Sun Nov 15, 2009 9:06 am
Subject: Balasan: Pemberitahuan tentang Waktu, Strategi dan Pelaporan untuk Pengamatan Hilaal dan Hilaal Tua Lunasi Zulhijjah 1430 H
marufins
Send Email Send Email
 
Assalamu'alaikum wr wb


Berikut tambahan penjelasan dari Bp. Dr. Thomas Djamaluddin mengenai kondisi cuaca khususnya dalam pelaksanaan rukyat hilaal untuk menentukan 1 Zulhijjah 1430 H pada Selasa 17 November 2009 mendatang.

Beberapa penjelasan tambahan :
El Nino = suatu kondisi dimana perairan bagian timur Samudera Pasifik suhunya lebih tinggi (1 - 3 derajat Celcius) dibanding perairan Pasifik barat, sehingga uap air yang terbentuk di wilayah Pasifik barat (termasuk dari wilayah Indonesia) akan dibawa ke sisi timur Pasifi.
DMI = Dipole Mode Indian Ocean. DMI positif adalah satu kondisi dimana perairan bagian barat Samudera Hindia (yang berdekatan dengan Afrika) suhunya lebih tinggi ketimbang perairan sebelah timur Samudera Hindia (yang berdekatan dengan Indonesia), dalam orde 1 - 3 derajat Celcius. Kondisi demikian membuat uap air di wilayah Indonesia akan dibawa ke bagian barat Samudera Hindia.
MJO = Madden Julian Oscillation, yakni satu kondisi osilasi (siklus) pergerakan awan-awan di zona tropis/ekuator dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik dengan periode 30 - 60 hari. Pergerakan awan-awan tersebut jika melintasi Indonesia akan mendatangkan curah hujan yang kuat, intensif, namun bersifat sementara (lokal).

Sebagai catatan lagi, El-Nino kuat dan DMI positif kuat terjadi pada 1997 silam dan menghasilkan kekeringan berkepanjangan. Alhamdulilllah bahwa pada saat ini El-Nino dan DMI positif yang terjadi tidak kuat sehingga kekeringan di Indonesia tidak separah pada 1997.

   
--------------------
Balasan: Pemberitahuan tentang Waktu, Strategi dan Pelaporan untuk Pengamatan Hilaal dan Hilaal Tua Lunasi Zu

Assalamu'alaikum wr. wb.,

Ditinjau dari segi cuaca, peluang keberhasilan rukyat di wilayah Jawa bagian Timur tampaknya masih lebih besar daripada di Jawa Bagian Barat. Tetapi peluangnya 50:50, mengingat satu sisi kondisi El Nino makin meningkat dan DMI positif memberi peluang berkurangnya awan di atas Indonesia, tetapi MJO aktif yang cenderung meningkatkan konveksi di wilayah Indonesia berpotensi langit masih berselimut awan.
--------------------

Salam,


Ma'rufin


#932 From: Fallendra Hernowo <v_alendra@...>
Date: Thu Oct 22, 2009 4:43 pm
Subject: Gerhana Matahari 15 Januari 2010
v_alendra
Send Email Send Email
 
Gerhana Matahari 15 Januari 2010

Fenomena alam ini cuman bisa dinikmatin oleh mereka yang tinggal di bagian utara dan barat Indonesia seperti: Balikpapan, Banda Aceh, Tanjungkarang Telukbetung, Bandung, Banjarmasin, Bengkulu, Jakarta, Manado, Medan, Padang, Palembang, Palu, Pekanbaru, Pontianak, Samarinda, Semarang, Surakarta, Yogyakarta. Bagian Timur Indonesia sudah keburu malam ketika bayangan bulan melewati bagian sana.

Sama halnya dengan gerhana Juli 2009, bulan cuma akan menutup sebagian matahari saja. Karena pusat jalur Gerhana Matahari ini melewati daerah India dan Cina sana, sehingga di Indonesia cuma kebagian sebagian kecil bayangan dari Bulan.
sumber:http://www.azk4.com/2009/01/gerhana-matahari-2009-2010-di-indonesia.html


Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!

#933 From: "Farida Anita" <fanita58@...>
Date: Thu Oct 8, 2009 11:56 pm
Subject: RE: [[ JAC ]] Meteor Besar di atas Bone, Sulsel, Kamis 8/10/2009
abahtupank
Send Email Send Email
 

Wah ngeri juga ya... Bagaimana kalau sempat nubruk Bumi.

Diperkirakan sebesar apa ya Meteornya.

Memang Bumi cukup rawan, karena banyak sekali benda2 berkeliaran di angkasa, gimana kalau ada yang nyasar lagi.

Apa ada website nggak yang menginfokan seluruh kegiatan benda angkasa yang menyamcam bumi, seperti site earthquake.usgs.gov, tentang kejadian Gempa di Dunia.

 

Wassalam,

Mohammad Ali

 

From: jogja_astroclub@yahoogroups.com [mailto:jogja_astroclub@yahoogroups.com] On Behalf Of Ma'rufin Sudibyo
Sent: Thursday, 8 October 2009 5:33 PM
To: Himpunan Astronom Amatir Jakarta; Jogja Astroclub; Astro_Semarang; Astronomi Indonesia; Fisika; Rukyat
Subject: [[ JAC ]] Meteor Besar di atas Bone, Sulsel, Kamis 8/10/2009

 

 

Dikutip dari Detikcom.

Ada api, asap, kemudian suara ledakan dan getaran di tanah. Semuanya adalah ciri-ciri meteor besar (fireball). Sampai terdengar 4 kali dentuman suara (sonic boom), berarti ukurannya cukup besar. Barangkali melebihi fireball Wonotirto, yang jatuh di Temanggung sebagai meteorit (Maret 2001). So energi awalnya mungkin 1 kiloton TNT atau lebih, dengan massa awal (ketika baru masuk) dalam kisaran 10 ton atau lebih.

1 kiloton TNT? Kalo itu meledak pada ketinggian "hanya" 500 meter saja di atas Yogyakarta, seperempat bangunan di sana akan runtuh oleh hantaman gelombang kejut. Mujur saja fireball Bone ini mungkin terfragmentasi (dan akhirnya meledak) pada ketinggian 15 - 20 km.

Salam,


Ma'rufin
====================


Kamis, 08/10/2009 16:27 WIB
Ledakan di Bone
Warga Pantai Tanjung Palete Bone Lihat Benda Berapi dan Berasap
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Sumber ledakan keras yang terjadi di Bone, Sulawesi Selatan masih terus diselidiki. Warga Pantai Tanjung Palete sempat melihat ada suatu benda yang memancarkan api dan asap yang melintas di udara.

"Setelah dilakukan penelusuran sumber ledakan belum ditemukan. Namun keterangan masyarakat melihat benda itu memancarkan api dan asap di udara," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna dalam pesan singkat yang diterima detikcom, Kamis (8/10/2009).

Nanan mengatakan, ledakan itu terdengar pukul 08.30 Wita. Suara ledakan pertama terdengar sebanyak 4 kali. Sesaat setelah api padam, kemudian terdengar lagi suara ledakan keras sebanyak 4 kali yang menimbulkan getaran di daratan.

"Ledakan keras tersebut terdengar sampai di Bone dan Kabupaten Wajo," ujarnya.

Meski begitu, lanjut Nanan, aktivitas masyarakat masih berjalan normal. Namun kegiatan belajar mengajar anak sekolah dihentikan.

"Anak sekolah secara spontanitas dipulangkan karena menganggap suara ledakan tersebut dianggap tanda-tanda gempa," ungkapnya.

Polisi pun sudah mengkonfirmasi kejadian ini dengan petugas pengawasan lalulintas udara Indonesia Timur di Makasar. Namun hasilnya menunjukkan tidak ada sinyal kecelakaan di udara.

"Radar tidak menunjukkan adanya laka (kecelakaan) udara," tegasnya.

 

Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.115/2403 - Release Date: 09/29/09 17:56:00


#934 From: "nadhifd" <annadhif_la@...>
Date: Sun Dec 6, 2009 8:46 am
Subject: seminar hilal 2009
annadhif_la
Send Email Send Email
 
teman2 JAC, dua minggu kedepan yakni tanggal 19 Desember 2009 ada seminar
nasional hilal 2009 di Observatorium Boscha Bandung. Informasi lebih lanjut di
www.seminarhilal2009.wordpress.com

#935 From: Mutoha <jogja_astroclub@...>
Date: Sun Dec 6, 2009 2:58 pm
Subject: Meteor Geminids dan Gerhana Bulan di akhir tahun
jogja_astroclub
Send Email Send Email
 
#936 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Dec 17, 2009 1:12 am
Subject: Re: Cahaya Raksasa Misterius Hebohkan Norwegia!
marufins
Send Email Send Email
 
Spiral raksasa ini disebabkan oleh kegagalan ujicoba rudal balistik antar benua (ICBM) Bulava yang diluncurkan secara submarin (dari bawah permukaan laut) oleh kapal selam bertenaga nuklir RFS Dmitriy Donskoy milik Russia yang sedang menjalankan latihan perang di Laut Putih (Laut Barents), pada 9 Desember 2009 pukul 8:00 waktu lokal.
 
Sebelumnya, di kawasan ini telah ditetapkan peringatan larangan terbang (no fly alert) oleh Navtex terkait aktivitas ujicoba peluncuran tersebut. Bulava memang berhasil meluncur dengan mulus dari kapal selam, namun ketika roket tingkat tiga-nya dihidupkan (setelah membuang roket tingkat dua dan pertama yang sudah sukses beroperasi), ada kegagalan dimana nozzle-nya tidak bekerja dengan baik sehingga Bulava melenceng dari orbitnya dan hanya bergerak melingkar-lingkar sehingga gas buangnya membentuk spiral, sebelum akhirnya Bulava diledakkan secara paksa oleh pengendali peluncurannya. Gas buang itulah yang nampak berbentuk spiral raksasa, sementara gas kehijauan itu diidentifikasi sebagai sisa ledakan.
 
Kegagalan roket Bulava menampilkan bentuk spiral yang mengagumkan, karena di lokasi tersebut (yang masuk ke dalam lingkar kutub utara) Matahari tiak nongol di atas horizon (sehingga sedang malam terus-terusan), namun pada ketinggian dimana Bulava mengalami kegagalan, Matahari bisa dilihat sudah ada di atas horizon sehingga sinarnya mengenai Bulava yang sedang berputar melingkar-lingkar itu. Ini menghasilkan kondisi kontras yang mengagumkan dan sangat mudah dilihat.
 
Btw, kegagalan Bulava kali ini adalah kegagalan yang ketujuh kalinya, dan disebut-sebut membuat Departemen Pertahanan Russia cukup berang.
Salam,
 
 
Ma'rufin
 
Ref :
Spaceweather, 9 Des 2009


From: troy norman <si_troy@...>
To: haaj84@yahoogroups.com
Sent: Wed, December 9, 2009 10:37:23 PM
Subject: [HAAJ] Cahaya Raksasa Misterius Hebohkan Norwegia!

 

halo teman2, ada yg bisa menjelaskan hal ini?

Cahaya Raksasa Misterius Hebohkan Norwegia!
Rita Uli Hutapea - detikNews

Cahaya spiral (thesun.co.uk)
Norway - Cahaya misterius mendominasi langit di Norwegia pagi tadi. Cahaya berbentuk spiral raksasa itu membuat tercengang para pakar dan warga Norwegia. Mereka yakin cahaya tersebut merupakan fenomena bintang-bintang baru.

Cahaya mencengangkan itu masih bisa terlihat hingga jarak ratusan mil. Ribuan warga Norwegia menelepon Institut Meteorologi untuk menanyakan benda apakah itu.

Fenomena yang disebut 'Star-Gate' ini membingungkan para ilmuwan dan militer. Berbagai teori pun berhembus. Mulai dari rudal Rusia yang salah tembak, lingkaran api meteor, "lubang hitam" dan bahkan kegiatan makhluk luar angkasa (alien).

Saksi-saksi mata di Norwegia mengaku melihat spiral cahaya putih yang berputar yang berpusat pada benda langit seperti bulan yang bersinar terang. Juga tampak ekor cahaya berwarna biru yang terlihat dari cahaya spiral tersebut. Pemandangan tersebut berlangsung sekitar dua menit. 

Astronom terkenal Norwegia, Knut Jorgen Roed Odegaard mengatakan belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. "Ini terlihat di atas area negeri yang sangat luas, di seluruh Norwegia utara dan Trondelag," ujarnya seperti dilansir The Sun, Kamis (10/12/2009) .

"Awalnya saya berpikir itu bola api meteor, namun itu berlangsung terlalu lama," tuturnya. "Mungkin itu rudal dari Rusia, namun saya tak bisa menjamin itu," imbuhnya.

Kepala Ilmuwan di Pusat Angkasa Norwegia Dr Erik Tandberg, juga mengaku sangat kagum dengan cahaya spiral tersebut. Dia setuju dengan banyak pakar lain bahwa pola spiral itu mungkin disebabkan sebuah rudal dari Rusia. Namun militer Rusia telah membantah hal ini.

"Saya setuju dengan semua orang di komunitas sains bahwa cahaya ini adalah hal yang paling aneh. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya," tandasnya. (ita/iy)




#937 From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Date: Mon Jan 4, 2010 9:32 am
Subject: Berita terbaru dari Dunia Astronomi
hanief.triha...
Send Email Send Email
 
GBS dan GMC Januari 2010

Selamat tahun baru semuanya! Ya, tahun 2009 sudah diganti dengan tahun 2010. Walaupun Tahun Astronomi Internasional sudah berakhir, janganlah bersedih terlalu lama karena di awal tahun 2010 ini ada dua peristiwa astronomi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Yang satu sudah terlewati, yang satu lagi belum. Mari kita bersiap untuk itu.
Selengkapnya »

----------
Salam,
 
 
Hanief Trihantoro Wasito
 
----------
janganlah lihat siapa yang berbicara, tetapi dengarlah apa yang dibicarakan


#938 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Jan 19, 2010 12:34 am
Subject: Re: Re: 126 Tahun Terkubur, Dokumen Letusan Krakatau Diterbitkan
marufins
Send Email Send Email
 
Sekedar menambahkan saja,

Gunung Toba meletus dahsyat bukan pada 3 ribu tahun silam, melainkan pada 74 ribu tahun silam sehingga membentuk tiga perempat daripada luasan Danau Toba sekarang. Kajian tentang asal usul Danau Toba sebagai akibat dari letusan dahsyat sebuah gunung berapi diawali oleh geolog legendaris zaman Hindia Belanda, RH van Bemmelen, yang mencurigai kelimpahan deposit batuan beku yang sangat kaya dengan silikat (alias sangat asam) yang dikenal sebagai ignimbrit dan merupakan penanda telah terjadinya letusan dahsyat di masa silam. Kajian ini dimuat Bemmelen di opus magnumnya, The Geology of Indonesia, yang diterbitkan di Den Haag pada 1949.

Letusan Gunung Toba 74 ribu tahun silam menyemburkan sedikitnya 2.400 km kubik material vulkanik setara batuan padat (DRE : dense rock equivalent), dengan massa 7,2 trilyun ton (jika digunakan densitas DRE sebesar 3 ton per meter kubik). Jika diambil asumsi suhu material vulkanik tersebut (yang adalah debu dan batu-batuan, tanpa melibatkan magma) sebesar 1.000 derajat Celcius, maka energi yang dilepaskan Toba mencapai 480 ribu megaton TNT. Energi letusan ini demikian besar sehingga hampir seluruh tubuh gunung terpenggal dan dihancurleburkan sebelum kemudian dilemparkan secara massif ke atmosfer dan hanya menyisakan kaldera raksasa di lokasi tempat semula Gunung Toba berdiri. 

Energi letusan ini jauh lebih tinggi dibanding ambang batas seribu megaton TNT, yakni ambang batas energi yang diperlukan untuk menghasilkan dampak lingkungan secara global di permukaan Bumi. Sehingga letusan Toba dipastikan menciptakan dampak global dalam wujud penurunan suhu ekstrim akibat dispersi debu-debu vulkanik di lapisan stratosfer Bumi sehingga menghalangi pancaran cahaya Matahari yang jatuh ke permukaan Bumi. Jika dianggap debu-debu tersebut terdispersi secara homogen di atmosfer dan bertahan hingga 10 tahun sebelum terdeposisi kembali, maka selama 10 tahun itu intensitas sinar Matahari yang tiba di permukaan Bumi hanya 1 % dari intensitas yang seharusnya. Implikasinya terjadi penurunan suhu dalam rentang 5 - 15 derajat Celcius yang menggiring Bumi ke salah satu episode zaman es kecil. Akibat zaman es ini, terjadi bottlenecking pada populasi makhluk hidup di Bumi sehingga terjadi pemusnahan dalam skala besar. Populasi homo sapiens awal misalnya, tumpas hingga 90 %.

Letusan Toba 74 ribu tahun silam merupakan contoh aktual dari letusan supervulkan, istilah trivial untuk letusan-letusan dengan skala VEI 8 yang secara statistik terjadi setiap 50 ribu tahun sekali di Bumi. Pasca letusan Toba, letusan supervulkan terakhir terjadi di Taupo, Selandia Baru, pada 26,5 ribu tahun silam. 

Dolok Pusuk Buhit muncul jauh hari setelah letusan dahsyat Toba. Kerucut vulkanis ini terbentuk sebagai bagian dari proses erupsi efusif (leleran) yang mencoba membangun kembali Toba pasca erupsi eksplosif yang menghancurkan hampir seluruh tubuh gunung utama. Dari sisi ini, logis saja masyarakat Batak menempatkan Pusuk Buhit sebagai lokasi yangs angat penting, yang dalam pendapat saya, sebagai bagian dari loci genius (kearifan lokal) masyarakat Batak untuk menghormati gunung dan sekaligus sebagai rekam jejak tak tertulis akan kenangan letusan dahsyat tersebut di masa silam.

Pusuk Buhit, meski tergolong aktif, tak memiliki catatan letusan yang menonjol. Aktivitas Toba pasca letusan 74 ribu tahun silam nampaknya lebih difokuskan pada aktivitas bradyseismic. Ini ciri khas aktivitas di kaldera dimana terjadi pengisian kembali dan konsolidasi dapur magma (refiling), yang salah satunya ditandai dengan terangkatnya Pulau Samosir di tengah2 Danau Toba secara perlahan-lahan hingga mencapai ketinggian 400 meter dari semula. Namun aktivitas Bradyseismic bukanlah penanda bahwa Gunung Toba hendak kembali meletus apalagi secara dahsyat. Kajian empirik menunjukkan aktivitas bradyseismic bisa berlangsung selama beribu-ribu tahun tanpa henti namun tidak diakhiri dengan letusan. Sebagai contoh, aktivitas kaldera Campania yang berada di bawah kota Pozzolana (Puteoli) di Italia, telah berlangsung sejak masa Romawi, yang membuat kota ini mengalami proses kenaikan dan penurunan secara berganti-ganti dan pada satu masa pernah kota ini berada lebih redah dari permukaan laut, meski kini telah kembali muncul di atas permukaan laut. Namun Campania tak menunjukkan tanda-tanda akan meletus.

Salam,


Ma'rufin


From: Dharma Hutauruk <dharma.hutauruk@...>
To: kota-bogor@yahoogroups.com; Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com; klubguruindonesia@yahoogroups.com; ratman_woro@...
Cc: menulis_bogor@yahoogroups.com; komunitascoretan <komunitasCoretan@yahoogroups.com>; damas_bogor@yahoogroups.com; Majalah Balebat <majalah.balebat@...>
Sent: Wed, January 13, 2010 8:55:20 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: 126 Tahun Terkubur, Dokumen Letusan Krakatau Diterbitkan

 

Sambil makan siang di kantor dan menyaksikan siaran CNN yang
menginformasikan Bencana Alam di beberapa negara, kami juga berdiskusi
tentang Gempa Bumi di Negeri kita, termasuk "Menjadi pilihan Rakyat tapi
ditolak oleh Bumi"nya Nusantara Center.
Kebetulan, beberapa orang dari kami adalah dari "hitaan" alias Mbatak tulen
dan sampailah topiknya kepada asal mula Danau Toba.
Menjadi menarik, karena dalam kepercayaan mula-mula, orang Batak hakul yakin
bahwa mereka (Raja Batak) adalah titisan atau ciptaan langsung Mulajadi Na
Bolon (Allah Maha Besar). Dan Taman edennya adalah Dolok Pusuk Buhit (Gunung
Pusuk Buhit yang terletak di sisi Danau Toba dan memiliki panorama yang
sangat indah)
Padahal menurut ceritera Pak Dominggus, teman saya dari Bajawa-Flores, Danau
Toba terbentuk akibat Letusan Gunung Toba yang maha dahsyat 3.000 tahun
lalu, yang puluhan kali lebih hebat dari Letusan Krakatau maupun Rinjani.
Ketika saya bersekolah di kampung (Toba), tidak sekalipun mendapat
penjelasan dari Guru atau Orangtua tentang Letusan Gunung Toba tersebut.
Apakah supaya tetap mempercayai cerita "Asal mula orang batak" atau ada
sebab lain????
Kalau informasi letusan Gunung Krakatau maupun Rinjani menjadi pelajaran
tetap bahkan diajarkan sejak kelas 4 SD.
Sangat bagus kalau ada forum diskusi khusus tentang Bencana-bencana ini.

Salam

Dharma

2010/1/13 Sjamsuddin Odex <sjam99@gmail. com>

> FYI dan silahkan kalau ada yang mau mengurangi or menambah informasinya. ..
> Salam,
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Sjamsuddin Odex <sjam99@gmail. com>
> Date: 2010/1/13
> Subject: Re: [HISTORIA-INDONESIA ] Re: 126 Tahun Terkubur, Dokumen Letusan
> Krakatau Diterbitkan
> To: komunitashistoria@ yahoogroups. com
>
>
> Terimakasih atas tambahan informasi/komentarn ya Pak Donny....
>
> Tanpa mengecilkan arti bencana di tempat lain, saya pikir setelah membaca
> buku lama itu (lupa judul) dan juga catatan/sumber internet yg ada dijaman
> kini......letusan Krakatau *melebihi tsunami Aceh lebih pada "fenomena alam
> luar biasa, penyerta yang mengikutinya" *, seperti misalnya :
>
> -- gelombang air yang setinggi 40 meter mengancurkan desa desa pesisir ...
> -- limpahan gelombang air bah / tsunami yang mencapai 15 km ke pedalaman
> sebagian daratan Banten
> -- kurang lebih 290 an desa sepanjang pantai Barat Banten serta Sumatera
> Selatan hancur
> -- koban manusia dikisaran 36 ribuan,,,
> -- tsunami yang terjadi bukan hanya akibat letusan saja tetapi juga karena
> adanya longsoran bawah laut
> -- rambatan gelombang tsunami konon merambat sampai Semenanjung Arab,
> berjarak kurang lebih 7000 km
>
> -- Letusan terjadi pada 27 Agustus 1883, semburan debu vulkanik mencapai 80
> km.
> -- Esok hari serta beberapa hari kemudian...langit gelap menutupi langit
> Sumatera Selatan dan Jawa Barat bagian barat. Beberapa hari penduduk
> Jakarta
> tidak bisa melihat matahari.
> -- Suara Letusan Krakatau sampai terdengar ribuan km (Alice Spring
> Australia, dan P. Rodrigues di Afrika)
> -- Pecahan batu batuan, benda keras, dan abu vulkanik dgn volume 18 km
> kubik
> terlempar dan jatuh di daratan Jawa & Sumatera bahkan ada yang lebih jauh,
> sampai ke Srilanka - India - Pakistan - Australia - dan Selandia Baru...
>
> Barangkali rangkaian kejadian ini dapat memberi bayangan besarnya bencana,
> dan suasana luar biasa yang ada terkait dengan letusan Krakatau itu.
> Kurang dan lebihnya monggo kalau ada yang berkenan menambahkan. ...
>
> Salam,



#939 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Jan 19, 2010 12:38 am
Subject: Re: Re: 126 Tahun Terkubur, Dokumen Letusan Krakatau Diterbitkan
marufins
Send Email Send Email
 
Sekedar menambahkan saja,

Gunung Toba meletus dahsyat bukan pada 3 ribu tahun silam, melainkan pada 74 ribu tahun silam sehingga membentuk tiga perempat daripada luasan Danau Toba sekarang. Kajian tentang asal usul Danau Toba sebagai akibat dari letusan dahsyat sebuah gunung berapi diawali oleh geolog legendaris zaman Hindia Belanda, RH van Bemmelen, yang mencurigai kelimpahan deposit batuan beku yang sangat kaya dengan silikat (alias sangat asam) yang dikenal sebagai ignimbrit dan merupakan penanda telah terjadinya letusan dahsyat di masa silam. Kajian ini dimuat Bemmelen di opus magnumnya, The Geology of Indonesia, yang diterbitkan di Den Haag pada 1949.

Letusan Gunung Toba 74 ribu tahun silam menyemburkan sedikitnya 2.400 km kubik material vulkanik setara batuan padat (DRE : dense rock equivalent), dengan massa 7,2 trilyun ton (jika digunakan densitas DRE sebesar 3 ton per meter kubik). Jika diambil asumsi suhu material vulkanik tersebut (yang adalah debu dan batu-batuan, tanpa melibatkan magma) sebesar 1.000 derajat Celcius, maka energi yang dilepaskan Toba mencapai 480 ribu megaton TNT. Energi letusan ini demikian besar sehingga hampir seluruh tubuh gunung terpenggal dan dihancurleburkan sebelum kemudian dilemparkan secara massif ke atmosfer dan hanya menyisakan kaldera raksasa di lokasi tempat semula Gunung Toba berdiri. 

Energi letusan ini jauh lebih tinggi dibanding ambang batas seribu megaton TNT, yakni ambang batas energi yang diperlukan untuk menghasilkan dampak lingkungan secara global di permukaan Bumi. Sehingga letusan Toba dipastikan menciptakan dampak global dalam wujud penurunan suhu ekstrim akibat dispersi debu-debu vulkanik di lapisan stratosfer Bumi sehingga menghalangi pancaran cahaya Matahari yang jatuh ke permukaan Bumi. Jika dianggap debu-debu tersebut terdispersi secara homogen di atmosfer dan bertahan hingga 10 tahun sebelum terdeposisi kembali, maka selama 10 tahun itu intensitas sinar Matahari yang tiba di permukaan Bumi hanya 1 % dari intensitas yang seharusnya. Implikasinya terjadi penurunan suhu dalam rentang 5 - 15 derajat Celcius yang menggiring Bumi ke salah satu episode zaman es kecil. Akibat zaman es ini, terjadi bottlenecking pada populasi makhluk hidup di Bumi sehingga terjadi pemusnahan dalam skala besar. Populasi homo sapiens awal misalnya, tumpas hingga 90 %.

Letusan Toba 74 ribu tahun silam merupakan contoh aktual dari letusan supervulkan, istilah trivial untuk letusan-letusan dengan skala VEI 8 yang secara statistik terjadi setiap 50 ribu tahun sekali di Bumi. Pasca letusan Toba, letusan supervulkan terakhir terjadi di Taupo, Selandia Baru, pada 26,5 ribu tahun silam. 

Dolok Pusuk Buhit muncul jauh hari setelah letusan dahsyat Toba. Kerucut vulkanis ini terbentuk sebagai bagian dari proses erupsi efusif (leleran) yang mencoba membangun kembali Toba pasca erupsi eksplosif yang menghancurkan hampir seluruh tubuh gunung utama. Dari sisi ini, logis saja masyarakat Batak menempatkan Pusuk Buhit sebagai lokasi yangs angat penting, yang dalam pendapat saya, sebagai bagian dari loci genius (kearifan lokal) masyarakat Batak untuk menghormati gunung dan sekaligus sebagai rekam jejak tak tertulis akan kenangan letusan dahsyat tersebut di masa silam.

Pusuk Buhit, meski tergolong aktif, tak memiliki catatan letusan yang menonjol. Aktivitas Toba pasca letusan 74 ribu tahun silam nampaknya lebih difokuskan pada aktivitas bradyseismic. Ini ciri khas aktivitas di kaldera dimana terjadi pengisian kembali dan konsolidasi dapur magma (refiling), yang salah satunya ditandai dengan terangkatnya Pulau Samosir di tengah2 Danau Toba secara perlahan-lahan hingga mencapai ketinggian 400 meter dari semula. Namun aktivitas Bradyseismic bukanlah penanda bahwa Gunung Toba hendak kembali meletus apalagi secara dahsyat. Kajian empirik menunjukkan aktivitas bradyseismic bisa berlangsung selama beribu-ribu tahun tanpa henti namun tidak diakhiri dengan letusan. Sebagai contoh, aktivitas kaldera Campania yang berada di bawah kota Pozzolana (Puteoli) di Italia, telah berlangsung sejak masa Romawi, yang membuat kota ini mengalami proses kenaikan dan penurunan secara berganti-ganti dan pada satu masa pernah kota ini berada lebih redah dari permukaan laut, meski kini telah kembali muncul di atas permukaan laut. Namun Campania tak menunjukkan tanda-tanda akan meletus.

Salam,


Ma'rufin


From: Dharma Hutauruk <dharma.hutauruk@...>
To: kota-bogor@yahoogroups.com; Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com; klubguruindonesia@yahoogroups.com; ratman_woro@...
Cc: menulis_bogor@yahoogroups.com; komunitascoretan <komunitasCoretan@yahoogroups.com>; damas_bogor@yahoogroups.com; Majalah Balebat <majalah.balebat@...>
Sent: Wed, January 13, 2010 8:55:20 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: 126 Tahun Terkubur, Dokumen Letusan Krakatau Diterbitkan

 

Sambil makan siang di kantor dan menyaksikan siaran CNN yang
menginformasikan Bencana Alam di beberapa negara, kami juga berdiskusi
tentang Gempa Bumi di Negeri kita, termasuk "Menjadi pilihan Rakyat tapi
ditolak oleh Bumi"nya Nusantara Center.
Kebetulan, beberapa orang dari kami adalah dari "hitaan" alias Mbatak tulen
dan sampailah topiknya kepada asal mula Danau Toba.
Menjadi menarik, karena dalam kepercayaan mula-mula, orang Batak hakul yakin
bahwa mereka (Raja Batak) adalah titisan atau ciptaan langsung Mulajadi Na
Bolon (Allah Maha Besar). Dan Taman edennya adalah Dolok Pusuk Buhit (Gunung
Pusuk Buhit yang terletak di sisi Danau Toba dan memiliki panorama yang
sangat indah)
Padahal menurut ceritera Pak Dominggus, teman saya dari Bajawa-Flores, Danau
Toba terbentuk akibat Letusan Gunung Toba yang maha dahsyat 3.000 tahun
lalu, yang puluhan kali lebih hebat dari Letusan Krakatau maupun Rinjani.
Ketika saya bersekolah di kampung (Toba), tidak sekalipun mendapat
penjelasan dari Guru atau Orangtua tentang Letusan Gunung Toba tersebut.
Apakah supaya tetap mempercayai cerita "Asal mula orang batak" atau ada
sebab lain????
Kalau informasi letusan Gunung Krakatau maupun Rinjani menjadi pelajaran
tetap bahkan diajarkan sejak kelas 4 SD.
Sangat bagus kalau ada forum diskusi khusus tentang Bencana-bencana ini.

Salam

Dharma

2010/1/13 Sjamsuddin Odex <sjam99@gmail. com>

> FYI dan silahkan kalau ada yang mau mengurangi or menambah informasinya. ..
> Salam,
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Sjamsuddin Odex <sjam99@gmail. com>
> Date: 2010/1/13
> Subject: Re: [HISTORIA-INDONESIA ] Re: 126 Tahun Terkubur, Dokumen Letusan
> Krakatau Diterbitkan
> To: komunitashistoria@ yahoogroups. com
>
>
> Terimakasih atas tambahan informasi/komentarn ya Pak Donny....
>
> Tanpa mengecilkan arti bencana di tempat lain, saya pikir setelah membaca
> buku lama itu (lupa judul) dan juga catatan/sumber internet yg ada dijaman
> kini......letusan Krakatau *melebihi tsunami Aceh lebih pada "fenomena alam
> luar biasa, penyerta yang mengikutinya" *, seperti misalnya :
>
> -- gelombang air yang setinggi 40 meter mengancurkan desa desa pesisir ...
> -- limpahan gelombang air bah / tsunami yang mencapai 15 km ke pedalaman
> sebagian daratan Banten
> -- kurang lebih 290 an desa sepanjang pantai Barat Banten serta Sumatera
> Selatan hancur
> -- koban manusia dikisaran 36 ribuan,,,
> -- tsunami yang terjadi bukan hanya akibat letusan saja tetapi juga karena
> adanya longsoran bawah laut
> -- rambatan gelombang tsunami konon merambat sampai Semenanjung Arab,
> berjarak kurang lebih 7000 km
>
> -- Letusan terjadi pada 27 Agustus 1883, semburan debu vulkanik mencapai 80
> km.
> -- Esok hari serta beberapa hari kemudian...langit gelap menutupi langit
> Sumatera Selatan dan Jawa Barat bagian barat. Beberapa hari penduduk
> Jakarta
> tidak bisa melihat matahari.
> -- Suara Letusan Krakatau sampai terdengar ribuan km (Alice Spring
> Australia, dan P. Rodrigues di Afrika)
> -- Pecahan batu batuan, benda keras, dan abu vulkanik dgn volume 18 km
> kubik
> terlempar dan jatuh di daratan Jawa & Sumatera bahkan ada yang lebih jauh,
> sampai ke Srilanka - India - Pakistan - Australia - dan Selandia Baru...
>
> Barangkali rangkaian kejadian ini dapat memberi bayangan besarnya bencana,
> dan suasana luar biasa yang ada terkait dengan letusan Krakatau itu.
> Kurang dan lebihnya monggo kalau ada yang berkenan menambahkan. ...
>
> Salam,



#940 From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Date: Thu Jan 28, 2010 1:54 pm
Subject: Numpang Jualan: Kalender Astronomi 2010
hanief.triha...
Send Email Send Email
 

Ingin tahu ada peristiwa astronomi apa yang terjadi setiap hari sepanjang tahun 2010? Seperti kapan puncak hujan meteor Orionid, kapan oposisi Jupiter, atau kapan gerhana Bulan akan terjadi. Atau ingin menikmati foto-foto astronomi yang direkam tanpa teleskop?


Silakan kunjungi halaman ini (http://produk.duniaastronomi.com)

----------
Salam,
 
 
Hanief Trihantoro Wasito
 
----------
janganlah lihat siapa yang berbicara, tetapi dengarlah apa yang dibicarakan


#941 From: Romi Alfa <engtown@...>
Date: Fri Jan 8, 2010 3:55 am
Subject: Situs Keteknikan Pertama di Indonesia
engtown...
Send Email Send Email
 

Hallo rekan – rekan millist. Selamat sore. Nama saya Romie dari Engineering Center Fakultas Teknik UI. Saya ingin memperkenalkan sebuah situs yang bergerak khusus di bidang keteknikan untuk membantu siswa - siswi dari SD hingga SMA dalam mempelajari hal – hal di bidang keteknikan sejak usia dini. Diharapkan situs ini dapat menjadi penunjang bagi mereka yang bercita – cita menjadi seorang insinyur / sarjana teknik maupun bagi siapa saja yang tertarik di bidang keteknikan.

 

Untuk mengetahui hal – hal apa saja yang dibahas di situs ini, silakan kunjungi www.engineeringtown.com. Semoga situs ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

 

 

Hormat saya,

 

 

 

Romie Alpha

 

www.engineeringtown.com



#942 From: "septryadi" <septryadi@...>
Date: Mon Jan 25, 2010 3:51 am
Subject: tempat beli telescope di jogja
septryadi
Send Email Send Email
 
aslamulaikum pak..
mau tanya neh pak,, yempat beli telescope di jogja dimana yah pak?? terimakasih
sebelumnya

#943 From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Date: Wed Jan 6, 2010 4:11 am
Subject: Re: [astronomi_indonesia] Berita terbaru dari Dunia Astronomi
hanief.triha...
Send Email Send Email
 
ada yang punya rencana pengamatan untuk gms (atau bahkan gmc) ini? planetarium jakarta sepertinya ada ya? bosscha juga? lapan bandung? langitselatan? jac? isg? semarang, di menara masjid agung jawa tengah lagi?

edwards di padang kayaknya mengundang kita untuk ke sana dan ngamat bareng, ya eds? :P apalagi pengamatan dari bagian barat indonesia lebih baik dari wilayah lainnya karena dari sana piringan matahari yang tertutup lebih banyak, dan waktunya lebih lama. ada yang mau ke sumatra? :D

----------
Salam,
 
 
Hanief Trihantoro Wasito
 
----------
janganlah lihat siapa yang berbicara, tetapi dengarlah apa yang dibicarakan


--- On Mon, 1/4/10, Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...> wrote:

From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Subject: [astronomi_indonesia] Berita terbaru dari Dunia Astronomi
To: "astro indo" <astronomi_indonesia@yahoogroups.com>, "astro semarang" <astronomi_semarang@yahoogroups.com>, "JAC" <jogja_astroclub@yahoogroups.com>, "indoskygazer" <indoskygazer@yahoogroups.com>
Date: Monday, January 4, 2010, 9:32 AM

 

GBS dan GMC Januari 2010

Selamat tahun baru semuanya! Ya, tahun 2009 sudah diganti dengan tahun 2010. Walaupun Tahun Astronomi Internasional sudah berakhir, janganlah bersedih terlalu lama karena di awal tahun 2010 ini ada dua peristiwa astronomi yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Yang satu sudah terlewati, yang satu lagi belum. Mari kita bersiap untuk itu.
Selengkapnya »

----------
Salam,
 
 
Hanief Trihantoro Wasito
 
----------
janganlah lihat siapa yang berbicara, tetapi dengarlah apa yang dibicarakan



#944 From: Romi Alfa <engtown@...>
Date: Mon Jan 25, 2010 8:48 am
Subject: LOMBA KREATIFITAS UNTUK ANAK - GRATIS!!
engtown...
Send Email Send Email
 

Einstein berkata,”imajinasi lebih penting daripada pengetahuan”. Hal ini bukan berarti pengetahuan tidak penting. Pengetahuan tetaplah penting, bahkan sangat penting. Namun, imajinasi lebih penting lagi. Perkembangan zaman ini semuanya dimulai dari imajinasi, yang diwujudkan dengan pengetahuan yang ada. Pengetahuan yang belum ada terus dieksplorasi untuk mewujudkan imajinasi tersebut. Sehingga imajinasi dengan bantuan ilmu pengetahuan dapat terwujud.

 

Masa anak – anak adalah masa membentuk kebiasaan. Ketika kebiasaan terbentuk, maka mudahlah bagi mereka untuk melakukannya. Demikian juga dengan imajinasi. Semakin sering imajinasi dilatih, semakin mudah seseorang untuk terbiasa dengan imajinasi, sehingga mudah bagi dirinya untuk menjadi kreatif.

 

www.engineeringtown.com sebagai situs keteknikan pertama di Indonesia khusus untuk anak – anak yang masih bersekolah di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), mengajak adik – adik kita yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar untuk mengeluarkan daya kreatifitasnya melalui “Lomba Imajinasi Teknologi untuk Kehidupan Kita”. Lomba ini bertujuan untuk memberanikan diri adik – adik kita untuk melatih daya kreatifitasnya, sehingga diharapkan dengan mengikuti lomba ini, adik – adik kita menjadi semakin terbiasa untuk mengeluarkan kreatifitasnya.

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik http://www..engineeringtown.com/home/lomba.html

 

Lomba ini gratis. Ayo, bantu adik – adik kita menjadi generasi lebih kreatif!!

 

Salam,

 

 

Romie Alpha

Divisi Pengembangan Bisnis

Engineering Data and Information Center (EDIC) 



#945 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Tue Feb 2, 2010 1:48 pm
Subject: Re: inklinasi bumi
marufins
Send Email Send Email
 
Inklinasi (kemiringan sumbu Bumi) tidak disebabkan oleh gerak namun disebabkan oleh interaksi Bumi dengan anggota tata surya lainnya dalam sejarah perkembangan Bumi. Teori yang saat ini diterima luas oleh kalangan astrofisikawan dan astrogeologi menyebutkan adanya peristiwa Hantaman Besar alias Big Whack milyaran tahun silam, saat Bumi baru berusia 100 juta tahun sehingga masih berbentuk protoplanet yang cair panas di dalam lingkungan tata surya yang kondisinya pada saat itu juga masih sangat chaotic. Pada saat itulah Bumi dihantam protoplanet seukuran Mars yang semula berada dalam zona kestabilan Lagrangian orbit Bumi, zona kestabilan yang kemudian hancur akibat chaotic-nya tata surya. Hantaman menyebabkan protoplanet seukuran Mars tersebut masuk melesak ke dalam inti Bumi sembari menghamburkan selubung Bumi ke angkasa,yang kelak kemudian membentuk Bulan. Sebagai konsekuensinya, sumbu Bumi miring 23,5 derajat.

Hantaman macam gini adalah hal yang umum di tata surya. Uranus misalnya, juga menderita nasib yang sama, bahkan sampai-sampai inklinasinya hampir mencapai 90 derajat. Sehingga perubahan musim di sana juga dramatik, dimana salah satu kutub akan mengalami musim panas selama 42 tahun sementara kutub yang berlawanan akan mengalami kegelapan selama 42 tahun pula. Mars juga menderita nasib serupa, apalagi posisinya berdekatan dengan kawasan sabuk asteroid.

Salam,


Ma'rufin

From: IqRo physics <iqro_physics@...>
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tue, February 2, 2010 6:04:10 PM
Subject: [FISIKA] inklinasi bumi

 

terkait dengan perbncangan sayah dengan seorang teman, dya mnanyakan "knp rotasi bumi miring 23 1/2 derajat??
knp yach???
apakah ada hbngannya dengan gerak(dalam mekanika)???



#946 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Thu Feb 4, 2010 2:34 am
Subject: Re: Re: inklinasi bumi
marufins
Send Email Send Email
 
Terima kasih atas tambahannya pak Aziz :).

Dalam sistem tata surya memang tidak ada kopling antara rotasi dan revolusi sebuah benda langit anggotanya. Kenapa demikian, mungkin karena sistem tersebut makrokosmos. Namun sebenarnya ada fenomena yang mirip, dimana arah rotasi planet-planet juga sebenarnya tidak konstan ke satu titik, melainkan selalu berpindah-pindah meski pada kecepatan yang demikian rendah sehingga tidak disadari oleh kita kecuali jika melakukan pengamatan astronomi berpresisi tinggi.

Fenomena tersebut adalah presesi rotasi. Harap dibedakan dengan presesi orbit (presesi perihelion) yang merupakan salah satu gejala relativitas umum. Presesi rotasi sepenuhnya berada di ranah mekanika Newton dan muncul sebagai akibat interaksi planet dengan planet-planet tetangganya dalam konteks n-body problem. Pada Bumi, misalnya, terjadi presesi rotasi yang memiliki periode 24.800 tahun dengan membentuk radius sudut di langit sebesar 23,5 derajat (alias sama dengan besarnya inklinasi sumbu Bumi). Presesi rotasi ini (biasa juga dinamakan presesi ekuinoks) menghasilkan pergeseran konstan bintang kutub.Jika pada saat ini (2010) yang menjadi bintang kutub utara kita adalah Polaris dalam gugusan bintang Ursa Minor yang bila dilihat dari wilayah tropis berada cukup rendah dari kaki langit utara, maka dalam 14.000 tahun mendatang yang menjabat bintang kutub utara adalah Vega di gugusan bintang Lira, yang pada saat ini jika dilihat dari wilayah tropis relatif mudah karena cukup tinggi (sekitar 30-40 derajat dari kaki langit utara).

Selain menghasilkan pergeseran bintang kutub, fenomena presesi di Bumi menyebabkan periode tropis Matahari, yakni selang waktu konsekutif ketika Matahari menempati titik tropis (titik Aries), menjadi 20 menit lebih cepat ketimbang periode siderisnya, yakni selang waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari dalam satu putaran penuh (360 derajat). Periode tropis merupakan tulangpunggung sistem penanggalan Gregorian (Syamsiyyah) yang sekarang digunakan secara luas. Jika pernah ada cerita tentang "pemotongan" hari dalam kalender ini, yang tepatnya dilakukan pada 1582 oleh Paus Gregorius, maka sebab utama pemotongan tersebut karena periode tropis ini, yang semula diasumsikan sama dengan periode siderisnya. Namun kajian Umar Khayyam dkk dari Baghdad menunjukkan ada beda mendasar antara keduanya dan itulah yang kemudian ditelaah lebih lanjut hingga bisa memperbaiki sistem penanggalan.

Kembali ke Uranus, memang kutub utara Uranus tidak akan mungkin selalu menghadap ke Matahari. Namun sebenarnya ada satu kondisi yang membuat sebagian hemisfer Uranus bisa senantiasa menghadap ke Matahari, jika kondisi yang diidealkan ini bekerja dengan baik, yakni tidal locking dengan inklinasi sumbu rotasi Uranus yang kecil (maksimum 20-an derajat). Tidal locking itu kasarnya penguncian gravitasi, dimana periode rotasinya bernilai sama dengan periode revolusinya. Namun kondisi semacam ini membutuhkan jarak Uranus-Matahari yang jauh lebih dekat, dimana kira-kira Uranus haruslah berada di dekat posisi Merkurius sekarang.

Sistem tidal locking yang populer misalnya sistem Bumi-Bulan dan Pluto-Charon.

Salam,


Ma'rufin



From: Muhammad Aziz Majidi <aziz.majidi@...>
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thu, February 4, 2010 5:18:32 AM
Subject: Re: [FISIKA] Re: inklinasi bumi

 

2010/2/3 Muhammad Aziz Majidi <aziz.majidi@ gmail.com>

Saya coba mengoreksi kekeliruan Pak Zaenal:

Arah sumbu rotasi setiap planet, termasuk Saturnus adalah tetap. Ini sesuai hukum kekekalan momentum angular, setidak-tidaknya kalau diasumsikan tidak ada kopling antara momentum angular rotasi dan momentum angular revolusi (catatan: kalau di dalam atom ada kopling spin-orbit, sehingga arah spin elektron tidak konstan). 

Arah rumbu rotasi Saturnus yang tetap ini mengarah ke suatu acuan yang tetap di luar sistem tata surya, dalam hal ini, ke arah bintang Sabik di gugusan bintang Ophiucus (seperti kata Pak Ma'rufin). Jadi, jangan dibayangkan kalau arah sumbu rotasi Saturnus itu selalu mengarah ke Matahari. Kalau begitu, malah artinya arah tersebut berubah-ubah terhadap acuan yang tetap di luar tata surya.

----> Catatan tambahan: Agar sebuah bintang bisa dipakai sebagai titik acuan tetap yang baik untuk mendeskripsikan arah sumbu rotasi planet, jarak antara pusat tata surya ke bintang tsb (dalam hal ini bintang Sabik) haruslah jauuuh lebih besar dari jari-jari rata-rata tata surya. Dengan demikian vektor posisi planet-planet terhadap bintang acuan tsb relatif tetap walaupun planet-planet tsb bergerak mengelilingi matahari.
 

Salam,
Aziz





2010/2/3 <zaenal@pudak. com>

 

wah dengan inclinasi hampir 90 derajat maka uranus kutubnya udah ngak
bisa disebut utara-selatan lagi kali ya?? jadi salah satu ujung sumbu
rotasinya akan selalu menghadap matahari sedangkan satunya selalu
gelap, gimana bisa selama berevolusi yg saya asumsikan 84 tahun bisa
terang 42 tahun dan gelap 42 tahun? mohon dijelaskan ..

zaenal



Quoting Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>:

> Inklinasi (kemiringan sumbu Bumi) tidak disebabkan oleh gerak namun
> disebabkan oleh interaksi Bumi dengan anggota tata surya lainnya
> dalam sejarah perkembangan Bumi. Teori yang saat ini diterima luas
> oleh kalangan astrofisikawan dan astrogeologi menyebutkan adanya
> peristiwa Hantaman Besar alias Big Whack milyaran tahun silam, saat
> Bumi baru berusia 100 juta tahun sehingga masih berbentuk
> protoplanet yang cair panas di dalam lingkungan tata surya yang
> kondisinya pada saat itu juga masih sangat chaotic. Pada saat itulah
> Bumi dihantam protoplanet seukuran Mars yang semula berada dalam
> zona kestabilan Lagrangian orbit Bumi, zona kestabilan yang kemudian
> hancur akibat chaotic-nya tata surya. Hantaman menyebabkan
> protoplanet seukuran Mars tersebut masuk melesak ke dalam inti Bumi
> sembari menghamburkan selubung Bumi ke angkasa,yang kelak kemudian
> membentuk Bulan. Sebagai konsekuensinya, sumbu Bumi miring 23,5
> derajat.
>
> Hantaman macam gini adalah hal yang umum di tata surya. Uranus
> misalnya, juga menderita nasib yang sama, bahkan sampai-sampai
> inklinasinya hampir mencapai 90 derajat. Sehingga perubahan musim di
> sana juga dramatik, dimana salah satu kutub akan mengalami musim
> panas selama 42 tahun sementara kutub yang berlawanan akan mengalami
> kegelapan selama 42 tahun pula. Mars juga menderita nasib serupa,
> apalagi posisinya berdekatan dengan kawasan sabuk asteroid.
>
>
> Salam,
>
>
> Ma'rufin
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: IqRo physics <iqro_physics@ yahoo.com>
> To: fisika_indonesia@ yahoogroups. com
> Sent: Tue, February 2, 2010 6:04:10 PM
> Subject: [FISIKA] inklinasi bumi
>
>
> terkait dengan perbncangan sayah dengan seorang teman, dya mnanyakan
> "knp rotasi bumi miring 23 1/2 derajat??
> knp yach???
> apakah ada hbngannya dengan gerak(dalam mekanika)???
>
>
>
>
>
>





#947 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Sat Feb 6, 2010 3:49 pm
Subject: Kala Asteroid "Berciuman"
marufins
Send Email Send Email
 
Catatan iseng saja dari FB, sorry kalo repost :).
-----

KALA ASTEROID "BERCIUMAN"

Tumbukan benda langit? Jangan kaget dulu! Meski kedengarannya serem, sebenarnya ini peristiwa yang rutin terjadi. Tengoklah permukaan Bumi kita, penuh dengan tebaran kawah-kawah bekas tumbukan benda langit yang besar-besar. Hingga kini memang baru 176-an kawah tumbukan benda langit di Bumi yang sudah "diverifikasi" berdasarkan penanda khasnya : jejak mineral metamorfik dinamik alias metamorfik tekanan tingkat tinggi seperti coesite, stishovite, mineral dengan planar deformation features (PDFs) dalam struktur mikro ataupun breksi tumbukan dan shatter cones dalam struktur makro. Namun diyakini jumlah benda langit yang menumbuk Bumi sangat jauh lebih besar ketimbang itu dalam kurun waktu sejarah perkembangan Bumi selama 3,8 milyar tahun terakhir. Mengapa banyak yang lenyap, ya karena dinamika permukaan Bumi kita dengan gerak lempeng tektoniknya dan bekerjanya gaya eksogen.

Benda langit kecil seperti komet atau asteroid menumbuk planet, sepertinya sudah tidak mengherankan lagi. Jupiter baru saja dihantam benda langit pada 19 Juli 2009 silam, perulangan dari peristiwa yang sama tepat 15 tahun sebelumnya (tepatnya pada 16 - 22 Juli 1994). Hanya jika pada 2009 yang menghantam Jupiter diperkirakan adalah sebutir komet dengan diameter < 1 km yang menghasilkan jejak tumbukan seluas Samudera Pasifik, maka pada 1994 yang jatuh adalah rombongan komet Shoemaker-Levy 9 sejumlah 21 buah yang telah terdeteksi setahun sebelumnya dan langsung menggemparkan dunia. Jauh hari sebelumnya, astronom legendaris Cassini juga menemukan bintik-bintik di Jupiter pada 1690, yang pada 1997 diidentifikasi memiliki ciri-ciri jejak tumbukan komet. Berapa energinya? Jangan tanya ! Tumbukan 1994 melepaskan energi kinetik mahadahsyat, sebesar 90 juta megaton TNT, jumlah energi yang lebih dari cukup untuk meludeskan makhluk hidup Bumi dan mentransmigrasikannya ke akhirat.

Dan Bumi? Wow, serial hantaman komet/asteroid pada 65 juta tahun silam memusnahkan 75 % populasi makhluk hidup Bumi, termasuk dinosaurus yang merajai daratan dan lautan saat itu. Ini belum seberapa. Tumbukan sejenis pada 250 juta tahun silam bahkan memusnahkan 96 % populasi makhluk hidup ! Jejak paling terkenal dari tumbukan 65 juta tahun silam adalah Kawah Chicxulub, kawah raksasa berdiameter 180 km yang terkubur di bawah sedimen setebal 300 - 600 meter di Semenanjung Yucatan, Mexico. Meski, penelitian kontemporer menunjukkan kawah Chicxulub mungkin tidak berperan dominan, karena masih ada struktur Shiva yang luar biasa besarnya (diameter kawah 600 km) yang berada di lepas pantai barat India dan diduga terbentuk oleh komet/asteroid berdiameter 40 km. Sementara jejak tumbukan 250 juta tahun silam, saat ini diidentifikasi (salah satunya) sebagai struktur Bedout berdiameter 100-an km yang terletak di lepas pantai barat laut Australia, alias di perairan Samudera Hindia. Satu lagi kawah yang diduga ikut bertanggungjawab adalah struktur Wilkes Land, dengan diameter 500 km.

Nah, tumbukan antar benda langit ternyata tidak hanya terjadi antara komet/asteroid dengan planet saja, namun antar komet maupun asteroid juga bisa terjadi, bahkan dalam frekuensi lebih sering. Terutama di lokasi yang menjadi "sarang" komet maupun asteroid, seperti Sabuk Asteroid Utama (antara Mars - Jupiter), sabuk Kuiper Edgeworth dan awan komet Oort. Para cendekiawan meyakini, meski sampai kemarin belum ada buktinya, bahwa tumbukan antar sesama komet atau asteroid itulah yang membuat suatu calon komet (baca : kometisimal) terlempar dari "sarang"nya dan masuk ke tata surya bagian dalam menghasilkan komet yang memukau. Demikian pula asteroid, yang keluar dari "sarang"nya untuk menjadi asteroid pengelana yang kadang-kadang berdekatan dengan Bumi.

Bukti itu akhirnya datang juga dari obyek kecil yang sejauh ini diberi nama P 2010 A2. Obyek ini awalnya diduga sebagai komet, ditemukan pada 6 Januari 2010 oleh sistem pelacakan benda langit LINEAR yang bersenjatakan teleskop pemantul 1 m. P 2010 A2 dianggap sebagai komet periodik dengan periode orbital 3,47 tahun yang mengedari Matahari pada perihelion 2,00 SA dan aphelion 2,57 SA (1 SA = 150 juta km) pada orbit ellips yang miring 5 derajat terhadap ekliptika. P 2010 A2 menempati perihelionnya pada Desember 2009 lalu dan memiliki 'ekor' sehingga dianggap sebagai komet. Namun anggapan ini meragukan, sebab karakter orbitnya mirip dengan orbit asteroid di Sabuk Asteroid Utama. Belakangan spektroskopi menunjukkan 'ekor komet' ini tidak mengandung uap air atau bahan-bahan yang mudah menguap lainnya sebagaimana yang umum dijumpai di komet-komet. Obyek ini kemudian diklasifikasikan sebagai komet Sabuk Utama, satu klasifikasi yang janggal sebab sejauh ini hanya ada 4 obyek sejenis yang menjadi anggotanya.

Akhirnya misteri terpecahkan ketika mata WFPC 3 (Wide Field and Planetary Camera 3) yang dipasang di teleskop ruang angkasa Hubble menatap tajam ke P 2010 A2. Secara mengejutkan di bagian yang harusnya berupa 'kepala komet' (coma) terdeteksi bentukan mirip huruf X yang aneh. Namun ini bukan 'planet X'. Interpretasi Hubble menunjukkan bentukan X ini adalah pencaran pecahan batuan berukuran sedang sampai kecil yang terbentuk akibat beradu mukanya (head on) dua buah asteroid secara telak sehingga salah satunya hancur lebur sementara P 2010 A2 bisa bertahan, namun kehilangan banyak massa sehingga diameternya menyusut jauh dari semula 500 meter tinggal 150 meter saja. Seperti "ciuman" antar asteroid saja, namun mematikan. Angin Matahari (yakni pancaran proton dan elektron secara konstan dari permukaan Matahari ke segala arah) kemudian menekan debu-debu berukuran milimeter yang terbentuk dari tabrakan ini ke arah menjauhi Matahari, sehingga menampakkan bentuk mirip ekor komet.

Yang lebih mengesankan lagi, analisis orbit lanjutan menunjukkan P 2010 A2 ini merupakan anggota asteroid keluarga Flora. Ini Keluarga asteroid yang palking fenomenal karena berasal dari sebuah asteroid besar (diameter 100-an km) yang pecah berhamburan menjadi asteroid-asteroid lebih kecil akibat tumbukan dengan sesamanya pada 100 juta tahun silam. Simulasi komputer menunjukkan pecahan-pecahan asteroid Flora tersebut terdorong masuk ke tata surya bagian dalam, bergentayangan di orbit planet-planet terestrial sehingga berpotensi bertumbukan dengan Mars, Bumi dan Venus. Simulasi juga menunjukkan puncak tumbukan tersebut (dalam frekuensi yang sangat tinggi sehingga diibaratkan sebagai hujan asteroid) terjadi pada 65 juta tahun silam, tepat saat dinosaurus meregang nyawa.

So, bagaimana kelanjutan kisah P 2010 A2 ini dan keluarganya? Apakah berpotensi jatuh ke Bumi? Mungkin saja, tapi masih jauh lah. Pantauan LINEAR, NEAT, LONEOS, Catalina Sky Survey dll sejauh ini menunjukkan tak ada satupun asteroid/komet berdiameter > 50 m yang mengarah langsung ke Bumi.

Catatan : gambar dimodifikasi dari citra Hubble Space Telescope, STScI, 2010.


1 of 1 Photo(s)

#948 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Sat Feb 6, 2010 3:58 pm
Subject: Membantah Kiamat 2012
marufins
Send Email Send Email
 
Catatan lama dari FB. Sorry kalo repost. Semoga bermanfaat. Bila menuh-menuhin mailbox di-delete saja :).
---
MEMBANTAH KIAMAT 2012

Islam merupakan agama yang senantiasa mendorong penganutnya untuk mempelajari ilmu dan aplikasinya pada teknologi dengan gairah yang menyala–nyala, bahkan setengahnya diwajibkan. Kita mengenal hadits Nabi SAW yang cukup populer, yang artinya “…mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi kaum muslimin dan muslimah.” Ataupun hadits yang lain, yang artinya. “….tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Meskipun hadits terakhir ini dianggap dhaif, namun esensinya (yakni menuntut) ilmu tidaklah kemudian lenyap begitu saja.

Islam menggarisbawahi bahwa ayat–ayat suci yang menjadi kalimah Allah SWT tidak hanya yang tertuang dan tercetak dalam kita suci saja, atau ayat–ayat yang tersurat (qauliyah). Namun juga sangat banyak ayat yang tersirat, yang terpampang di hadapan kita di alam semesta (ayat kauniyah). Berbeda dengan ayat qauliyah, ayat kauniyah ini harus ditelusuri lebih dahulu secara mendetil, kadang lewat jalan yang berliku, sebelum bisa menerjemahkan dan menafsirkan apa maksudnya dan apa pesannya bagi Umat Islam, umat terbaik yang pernah ada di Bumi.

Di dalam al–Qur’an, menurut Syaikh Jauhari Thanthawi pada tujuh dekade silam, terdapat sekurangnya 750 yang membahas tentang alam semesta. Jumlah ini bisa dibandingkan misalnya dengan 150 ayat yang membahas tentang fiqh. Satu hal yang disayangkan, meski jumlah ayat yang membahas alam semesta demikian banyak, namun prioritas pembelajarannya kalah jauh dibandingkan, misalnya, dengan pembelajaran ilmu fiqh. Perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam boleh dikata sedang mengalami masa kejumudan (kebekuan), yang barangkali disebabkan oleh terputusnya mata rantai ilmu pengetahuan akibat invasi Mongol ke Baghdad berabad silam. Namun di sisi lain juga disebabkan oleh kecenderungan “malas” berfikir akibat berkembangnya model–model esoteris yang cenderung eskapis (melarikan diri) dari realitas dunia.

Konsekuensi dari kebekuan ini sungguh luar biasa. Hingga kini hanya ada 2 ilmuwan Muslim yang pernah berdiri di panggung penerimaan hadiah Nobel. Hingga 2004, dari 46 negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam), dana yang dialokasikan untuk aktivitas ilmiah baru mencapai 0,45 % dari PDB (Produk Domestik Bruto). Ini sangat jauh dibanding negara–negara maju yang sudah mencapai angka 2,3 % dari PDB. Demikian pula dengan rasio cendekiawan (ilmuwan, teknisi, insinyur dll) terhadap penduduk keseluruhan. Di negara–negara Islam hanya ada 8,8 cendekia per 1.000 penduduk, bandingkan dengan 139,3 cendekia per 1.000 penduduk negara–negara maju (dinukil dari Dr. Agus Purwanto dalam buku "Ayat-Ayat Semesta").

Implikasi dari ketimpangan ini sungguh luar biasa. Umat Islam tidak bisa berkutik ketika masalah Palestina, Irak, Pakistan dan Afghanistan tidak jua terselesaikan. Umat Islam hanya menjadi pasar yang besar bagi vaksin virus H1N1 dan H5N1 yang sedang dikembangkan raksasa–raksasa farmasi dunia. Bahkan meski menjadi salah satu peletak dasar ilmu astronomi, Umat Islam tidak bisa berbuat banyak ketika astronom sedunia (yang rata–rata non muslim) berpesta pora dengan hasil–hasil bidikan teleskop ruang angkasa Hubble, Spitzer ataupun hasil misi–misi antariksa antarplanet. Di sisi yang lain, Umat Islam juga menjadi pasar yang empuk bagi program pembodohan massal, entah disengaja atau tidak, yang mewujud dalam aneka isu yang sebenarnya tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Seperti isu Kiamat 2012.

Kondisi ini tentu tak boleh dibiarkan berlarut–larut. Mari bangkit, mari memperbaiki diri, mari mulai berubah, mulai dari lingkungan sendiri, mulai dari hal yang kecil–kecil dan mulai dari hal yang sederhana. Kabarkanlah kebenaran meski hanya dari satu ayat.

Isu Kiamat 2012 pada hakikatnya hanyalah reproduksi (pengulangan kembali) isu sejenis yang sudah pernah muncul di masa sebelumnya. Ada isu yang “berhasil” dan banyak pula yang tidak. Di dunia Islam, isu kiamat sering dikaitkan dengan kemahdian (mesianisme), dimana yang menonjol adalah munculnya Gerakan Qadyaniyyah (Ahmadiyyah). Sementara di dunia non Islam, khususnya Kristiani, kaitannya hampir sama tapi lebih ditekankan kepada kedatangan juru selamat.

Seluruh isu kiamat yang pernah muncul, khususnya di masa kontemporer, adalah bohong. Meski di masa kontemporer pula kita mencatat isu kiamat tak jarang mengorbankan jiwa manusia yang tidak memahaminya. Seribu orang tewas bunuh diri massal akibat isu kiamat dalam sekte Kuil Rakyat (People Temple) pimpinan Jim Jones yang bermarkas di Jonestown, Guyana, pada awal 1980–an. 11 orang tewas akibat tebaran gas syaraf (sarin) oleh sekte Aum Shinrikyo pimpinan Shoko Asahara pada 1995 di Tokyo, Jepang. Dan 37 orang anggota sekte Heavens Gate tewas bunuh diri akibat isu kiamat yang berkaitan dengan datangnya komet Hale–Bopp. Nah, kira–kira siapa dan berapakah yang harus tewas sia–sia dengan berkecamuknya isu Kiamat 2012 ?

Isu Kiamat 2012 dinisbatkan kepada kebudayaan Maya, sebuah kebudayaan kuno yang mengagumkan di Amerika Tengah. Namun tetua Suku Maya sendiri tak pernah menyatakan bahwa kebudayaan Maya meramalkan kedatangan kiamat. Suku Maya memang mengagumkan, karena meski tak pernah menemukan roda, mereka bisa membangun piramida dan kota–kota yang sibuk sebelum kemudian berlebihnya jumlah penduduk memicu degradasi lingkungan yang menghilangkan mereka dari pentas peradaban, tepat ketika Nabi SAW mulai berhijrah ke Yastrib.

Ditinjau dari sudut pandang ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, geologi dan geofisika, tak ada satupun aspek dalam isu Kiamat 2012 yang memiliki basis ilmiah kuat, terkecuali badai Matahari (sunstorm), itupun prediksi termutakhir menunjukkan sifat badai Matahari mendatang sangat berlawanan dengan apa yang dibayangkan para "penggemar" kiamat. Gerhana pusat galaksi, yakni tertutupinya pusat galaksi Bima Sakti oleh Matahari selama sesaat pada 21 Desember 2012 pukul 18:11 WIB, ternyata tak pernah bisa terjadi karena Matahari hanya sanggup menjangkau deklinasi - 23,5 sementara pusat galaksi ada di deklinasi -29.  Pun demikian dengan penjajaran (konjungsi) besar planet–planet dalam tata surya, hanya ada Merkurius–Venus dan Venus–Bumi yang berjejeran searah ke Matahari pada dua kesempatan terpisah alias tidak saling bersamaan.

Terbelahnya benua, yang diawali dari lembah Dabbahu di Afrika timur, ternyata merupakan proses kontinyu yang sudah terjadi sejak 5 juta tahun silam sebagai bagian dari siklus Wilson dalam tatanan tektonik global, khususnya terkait dengan pembentukan dasar samudera dan pemekaran lantai samudera akibat pembentukan lempeng–lempeng tektonik baru. Aktivitas di kaldera Yellowstone ternyata lebih menjurus ke aktivitas bradyseismic dan sejarah menunjukkan ada selang waktu ribuan tahun antara bradyseismic dengan letusan besar sebagaimana ditunjukkan oleh perilaku kaldera Campania di Italia. Dan andaikata kaldera Yellowstone meletus pun, dengan volume kubahnya magmatik tersembunyinya (cryptodome) saat ini, letusanya hanya menyamai Galunggung 1982–1983 alias berada di kisaran skala VEI 5.

Tumbukan dengan planet X takkan pernah terjadi, karena bagaimana bisa terjadi tumbukan jika planet X sendiri hanyalah ilusi alias tidak pernah ada. Pun demikian dengan planet Nibiru, yang juga tak pernah ada. Andaikata Nibiru ada, pada hari-hari ini kita sudah akan bisa menyaksikannya dengan jelas sebagai benda langit bermagnitude +6 di belahan langit selatan, berdekatan dengan Awan Magellan Besar. Dengan magnitude tersebut, maka benda langit itu seharusnya sudah nampak dengan mata telanjang. Tumbukan dengan komet dan asteroid, meski potensial, sejauh ini dinisbatkan berada pada probabilitas nol (alias skala Torino nol) karena tidak terdeteksi adanya komet atau asteroid yang langsung mengarah ke Bumi. Dan andaikata siklus Shiva itu benar, dimana terjadi periodisasi hantaman benda langit seukuran +/- 10 km setiap 30 juta tahun sekali, maka tumbukan tersebut diidentifikasi sudah terjadi pada 0,78 juta tahun silam di atas Asia Tenggara.

Juga dengan isu memanasnya inti Bumi oleh neutrino yang dilepaskan Badai Matahari. Itu tak mungkin terjadi karena neutrino selalu dipancarkan setiap saat, tak perlu menunggu peristiwa badai Matahari, dengan jumlah luar biasa banyak (650 milyar neutrino per detik untuk tiap sentimeter persegi permukaan Bumi. Hanya sebagian sangat kecil neutrino yang bereaksi dengan materi, sesuai dengan sifat dasarnya yang sangat sulit bereaksi kecuali dalam proses interaksi lemah, satu dari empat gaya fundamental di alam semesta. Ketika jumlah yang bereaksi sangat kecil, menjadi tidak logis kalau jumlah yang sangat kecil itu mampu memanaskan Bumi, bukan ?

Hanya aspek Badai Matahari yang memiliki basis ilmiah. Itupun harus digarisbawahi bahwa Badai Matahari yang kemungkinan terjadi pada akhir 2012 / awal 2013, dengan prediksi mutakhir bergeser pada April - Mei 2014 lebih berdampak pada sistem elektronis yang ada di Bumi. Prediksi terakhir justru menunjukkan aktivitas Matahari yang kalem, dingin, dan jika mencapai puncaknya pada 2014 tersebut hanya akan nampak 40-an bintik Matahari, sebanding dengan yang dialami Bumi pada masa Dalton minimum dan berpotensi menggiring Bumi ke global cooling yang salah satu gejalanya sudah kita rasakan dalam bentuk penurunan suhu ekstrim di belahan Bumi utara. So, sangat berkebalikan dengan yang dibayangkan para "penggemar" kiamat bukan?

Andaikata badai matahari terjadi dengan kedahsyatan yang menyamai skala Carrington event 1859, kita mungkin akan kehilangan sinyal seluler untuk sementara, mengalami pemadaman listrik untuk sementara, ATM macet, trasportasi sedikit kacau dan sebagainya. Namun keimanan kita, ijtihad kita dan pesan – pesan yang ditinggalkan Baginda Nabi SAW dan para sahabat nabi serta para auliya kita, mengajarkan bahwa kita tak perlu merasa hal itu menjadi sebuah malapetaka, apalagi yang menghancurkan dunia. Satu kalimat hikmah menyebut “…kiamat akan terjadi pada hari Jumat, namun andaikata kiamat terjadi besok pagi, maka sore nanti tetaplah bertanam padi.”


#949 From: "B. Adi Nugroho" <steveadinegoro@...>
Date: Thu Feb 11, 2010 5:17 pm
Subject: Re: [indoskygazer] Fw: [astro_itb] BSCR: Lectures on Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
steveadinegoro
Send Email Send Email
 
#950 From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@...>
Date: Fri Feb 12, 2010 11:21 pm
Subject: Selamat Tinggal Wahana Ulang-Alik
marufins
Send Email Send Email
 
Ada lima kata dalam judul di atas dan highlight saat ini perlu disematkan pada kata pertama : selamat, guna menandai misi STS-130. Inilah penanda untuk awal dari akhir sebuah era, penerbangan wahana antariksa berawak ulang-alik. Tinggal empat dari lima misi antariksa terakhir yang akan dijalankan wahana antariksa ulang-alik di tahun 2010 setelah STS-130 yang sudah meluncur pada 8 Februari silam ke stasiun ruang angkasa ISS untuk menyelesaikan perakitan terakhir dan bakal kembali pada 21 Februari mendatang.

Sebagian besar dari kita, khususnya generasi 80-an dan 90-an, tumbuh dan berkembang dalam bayangan pesawat yang digendong tanki raksasa dan meluncur tegak lurus menembus langit dengan lesatan lebih cepat ketimbang peluru. Tak sedikit pula di antara kita yang bermimpi dan bercita-cita menjadi satu dari ketujuh awak kabinnya yang terbang ke langit, menyaksikan Bumi bulat mengapung di keluasan tata surya, merasakan sensasi gravitasi nol, melayang lebih tinggi dari burung, menatap Matahari yang terbit dan terbenam sekali setiap 90 menit, dan lebih daripada sensasi itu, menyaksikan sendiri kemahakuasaan Allah SWT dalam keluasan jagat raya.

Namun kini era itu hampir berakhir. Peluncuran Endeavour dalam misi STS-130 pada 8 Februari 2010 pukul 16:14 WIB sekaligus juga menandai peluncuran malam terakhir. Pasca 2010 seluruh wahana ulang-alik yang tersisa : Discovery, Endeavour dan Atlantis, segera dipensiunkan (grounded) karena umurnya sudah cukup tua, boros biaya dan sudah ketinggalan zaman. Impian manusia, khususnya Amerika, lebih khusus lagi NASA, untuk mempertahankan supremasi penerbangan antariksa berawaknya yang telah berlangsung selama empat dekade, nampaknya akan segera berakhir setelah administrasi Obama dengan radikal memenggal anggaran US $ 6 milyar bagi Proyek Constellation dan mengalihkannya pada pembiayaan stasiun ISS sembari mendorong konsorsium swasta untuk membangun dan meluncurkan wahana penerbangan antariksa berawak. Bersamanya terpenggal pula impian bagi misi pendaratan manusia lebih lanjut di Bulan dan misi beawak ke Mars. Bagi Obama, dendang lagu yang sedang ditembangkannya adalah privatisasi sektor antariksa, termasuk dalam urusan penerbangan antariksa berawak. Kini tinggal Rusia saja yang masih setia mengangkangi langit dengan Soyuz-nya yang berawak tiga orang, disamping Cina yang mencoba berjaya dengan Shenzou-nya.

Sistem transportasi antariksa ulang-alik merupakan impian Wherner von Braun, kampiun roket kelahiran Jerman yang bersama ratusan ilmuwan Jerman bermutu lainnya dibajak AS dalam operasi super-rahasia Paperclip pasca tumbangnya rezim Nazi Jerman dan berakhirnya Perang Dunia 2. Penerbangan antariksa adalah proyek boros biaya, karena semua perangkat keras seperti roket utama yang berjumlah 3 hingga 4 tingkat, roket-roket pendorong (booster) dan kapsul berisi manusia hanya sekali pakai untuk kemudian terbuang percuma baik di atmosfer Bumi maupun di orbit. Dalam penerbangan antariksa berawak seperti Proyek Mercury, Proyek Gemini hingga puncaknya pada Proyek Apollo, hanya kapsul reentry saja yang kembali ke Bumi dan itupun tak bisa digunakan lagi. Menyadari hal itu, von Braun pada dekade 50-an sudah membayangkan sebuah wahana yang bisa dipakai berulang kali, termasuk booster-nya, yang terbang ke langit layaknya roket seperti biasa namun kembali lagi ke Bumi sebagai pesawat terbang. Mentornya, Walter Dornberger, sigap menyambut gagasan tersebut dan segera membikin proposal beserta detail engineering design yang segera dikirim ke administrasi Eisenhower yang sedang bersiap-siap membentuk NASA.

Namun baru pada puncak pergumulan dan ketegangan Proyek Apollo yang berambisi mendaratkan manusia pertama ke Bulan, ide von Braun dan Dornberger diterima. Administrasi Nixon memutuskan pengembangan wahana antariksa berawak ulang-alik pada 1969. Di belahan dunia yang lain, konsorsium Eropa yang tergabung dalam ESA pun memutuskan untuk memiliki wahana ulang-alik sendiri pada 80-an lewat Proyek Hermes yang bakal didorogn roket Ariane. Namun Hermes mati sebelum terwujud. Sementara Rusia (dulu Uni Soviet), yang juga kepincut, ikut membangun wahana yang dinamakan Bouran, yang energinya demikian luar biasa sehingga sanggup menjangkau orbit Bulan dengan mudah. Bouran sangat mengesankan pada akhir dekade 90-an, ketika digendong pesawat kargo raksasa Antonov An-124-200 berdesain khusus dalam perjalanan dari pusat perakitan di Moskow menuju hanggar penyimpanannya di Star City, Cosmodrom Baikonur, Kazakhstan. Namun ambruknya Soviet membuat Bouran tak pernah terbang. Belakangan bahkan hanggarnya runtuh akibat kekurangan biaya perawatan.

Perancangan dan perakitan wahana ulang-alik dilakukan selama 1 dekade lebih, yang meningkat intensitasnya pasca berakhirnya Proyek Apollo dengan misi Apollo 17 di tahun 1972 dan misi persahabatan ASTP (Apollo-Soyuz Test Programme) di tahun 1975. Wahana berbentuk pesawat terbang yang besarnya separuh Boeing-747 dengan berat kosong 78 ton, dan dilekatkan pada tanki bahan bakar eksternal raksasa dengan berat kosong 26,5 ton yang bakal mengangkut bahan bakar Hidrogen dan Oksigen cair sebanyak 2 juta liter. Tanki eksternal ditopang dua booster berbahan bakar padat dengan berat kosong masing-masing 68 ton sepanjang 45 m. Wahana diluncurkan dalam posisi tegak, dengan dorongan 3 mesin roket utama yang masing-masing bertenaga 185 ton yang menyedot 4.200 liter Hidrogen dan Oksigen cair perdetik. 2 booster berbahan bakar padat masing-masing bertenaga 1.274 ton dan menghasilkan 83 % dari seluruh daya dorong yang dibutuhkan guna mengangkat wahana dari landasannya. Mesin roket utama dan booster-nya bisa digunakan hingga 55 kali, sebelum diganti yang baru. 

Pada ketinggian 46 km, 124 detik pasca peluncuran, kedua booster akan terlepas dan dijatuhkan ke laut, untuk mengambang sebelum diambil kembali dan digunakan dalam penerbangan berikutnya. Di ketinggian 250-300 km, 8 menit setelah peluncuran, tanki bahan bakar eksternal akan dilepaskan dan dibiarkan jatuh terbakar di atmosfer. Semula tanki eksternal dirancang untuk bisa digunakan kembali, dengan dipulangkan ke Bumi secara reentry yang dikendalikan pilot khusus didalamnya untuk kemudian didaratkan di landasan, namun studi lebih lanjut menunjukkan biayanya lebih mahal ketimbang membuat lagi tanki yang baru. Sehingga hanya tanki eksternal ini saja yang digunakan sekali pakai. Untuk masuk dan keluar dari orbit, digunakan 2 mesin orbital yang masing-masing bertenaga 2,7 ton dan mampu beroperasi selama 20,8 menit dengan sistem "pembakaran terputus-putus." Begitu keluar dari orbit, wahana akan memanfaatkan ketebalan atmosfer guna mengerem kecepatannya dan setibanya di troposfir mampu melayang tanpa bantuan mesin hingga sejauh 2.000 km sebelum mendarat di landasan yang telah ditentukan layaknya pesawat terbang biasa. Nampak jelas bahwa wahana antariksa ulang-alik merupakan variasi dari roket bertingkat 2.

Rancangan awal menghendaki wahana ulang-alik bisa diluncurkan kembali dalam 2 minggu setelah kembali ke Bumi, namun pada praktiknya peluncuran hanya bisa dilakukan rata-rata 2 bulan sekali. Berat total wahana ulang-alik ternyata hampir menyamai berat roket pengangkut berat Saturnus 5 dan kapsul Apollo-nya, yakni 2.030 ton. Sehingga wahana ulang-alik tidak begitu hemat dalam biaya peluncurannya. Namun penghematan muncul dari penggunaan berulangnya, selain seluruh infrastruktur perawatan dan peluncuran ulang-alik merupakan warisan dari proyek Apollo, mulai dari gedung VAB (Vehicle Assembly Building), traktor raksasa pengangkut secepat siput yang membawanya ke landasan peluncuran dan landasan peluncuran itu sendiri. Spaceport ditetapkan berada di Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Florida dengan cadangan ditetapkan di Vandenberg Air Force Base, California. Namun Vandenberg dibatalkan pasca tragedi Challenger. Studi NASA pasca tragedi Columbia 2003 menunjukkan infrastruktur warisan di Florida sudah mulai letih dan berkarat dan dari sanalah muncul keputusan memensiunkan seluruh wahana ulang-alik 10 tahun lebih dini dari rencana awal.

Wahana ulang alik muncul sebagai lanjutan ambisi manusia mengangkangi angkasa pasca pendaratan di Bulan, dengan eksplorasi lanjutan dalam bentuk stasiun ruang angkasa. Payload di punggungnya mampu mengangkut muatan 24,4 ton ke orbit rendah (400-600 km) atau 3,8 ton ke orbit geostasioner 36.000 dari permukaan Bumi. Modul laboratorium seperti Spacelab dan Spacehab telah berulangkali diluncurkan dengan serangkaian eksperimen dan observasi didalamnya. Payload-nya juga pernah mengangkut Magellan, wahana penyelidik planet Venus, pada 1989. Juga Hubble Space Telescope yang diorbitkan pada 1990 dan sekaligus diperbaiki di langit dalam rangkaian misi 1993, 1997, 2002 dan 2009. Jangan dilupakan pula satelit komunikasi milik Indonesia, seperti Palapa B1 dan B2 (kemudian menjadi B2-R) yang terbang pada awal 80-an. Ketika keputusan politis AS dan ESA bersama Rusia, Jepang dan Brasil memutuskan membangun stasiun raksasa ISS mulai 1998, wahana ulang-alik juga yang menjadi kuda beban pengangkut materialnya disamping kargo Progress-nya Rusia. Namun pembangunan ISS sekaligus bakal mengakhiri fungsi utama wahana ulang-alik.

Ada lima wahana antariksa ulang-alik yang telah dibangun, seluruhnya berkode OV (Orbital Vehicle atau wahana pengorbit), masing-masing OV-99 Challenger, OV-103 Columbia, OV-103 Discovery, OV-104 Atlantis dan OV-105 Endeavour. Rancangan awal menyaratkan setiap wahana diterbangkan tiap 5 bulan dan setelah 10 tahun perlu diupgrade. Penerbangan pertama (maiden flight) berlangsung 12 April 1981. Pasca meledaknya wahana Challenger 28 Januari 1986, administrasi Reagan memutuskan seluruh wahana hanya boleh digunakan untuk kepentingan Amerika saja. Sebagai pengganti Challenger dibangunlah Endeavour, yang mulai bertugas pada 7 Mei 1992. Dan pasca hancurnya wahana Columbia dalam reentry 1 Februari 2003, administrasi Bush memutuskan wahana yang tersisa hanya boleh digunakan untuk pembangunan ISS saja dan tidak ada pembangunan wahana pengganti.

Hingga kini wahana telah mencetak 129 misi penerbangan dengan 29.970 jam terbang dalam 19.465 orbit mengelilingi Bumi dan telah menempuh jarak 791,6 juta km. Terjadi 2 kegagalan berbentuk total-loss atau 1,6 % yang masih lebih baik dibanding total-loss dalam penerbangan tak berawak yang rata-rata mencapai 10 %, meski total-loss wahana ulang alik telah menelan korban 14 jiwa.

Wahana ulang-alik hanya boleh meluncur ketika suhu lokasi peluncuran dalam rentang 2-37 Celcius dengan jarak pandang minimal 3 km dan tiada peluang munculnya kilat dan petir dalam radius 9 km. Masalah cuaca pula yang membuat Challenger meledak dan menunda peluncuran Endeavour dalam STS-130 saat ini. Wahana ulang-alik pernah ditunda peluncurannya pada 1995 ketika burung pelatuk membolongi penyekat panas di tanki eksternal. NASA juga tak bakal berani meluncurkan wahana ulang-alik dengan durasi tugas melintasi tahun baru (diluncurkan Desember dan kembali Januari), karena komputer IBM dalam wahana, dengan bahasa pemrograman yang kuno akan ngadat pada situasi semacam itu. Ongkos operasional yang mahal, yakni US $ 1,5 milyar per misi membuat wahana ulang-alik menjadi tak kompetitif lagi dibandingkan Soyuz maupun Shenzou.


#951 From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Date: Thu Mar 11, 2010 10:34 am
Subject: Pertemuan BSCR 13.03.2010
hanief.triha...
Send Email Send Email
 
Bandung Society for Cosmology and Religion (BSCR) kembali mengadakan pertemuan kuliah berikutnya dalam seri

Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
Lecturer: Professor David Christian, San Diego State University
(tayangan DVD)

Lecture 19: Evidence on Hominine Evolution
What evidence do anthropologists use to reconstruct how our species evolved? This lecture can only dip into the evidence, describing three major types of evidence. Remains of th epast, including skeletons and objects left by our ancestors can tell us much about the physiology of ancestral species. The most recent approach comes from genetic comparisons of species that exist today.

Leture 20: What Makes Humans Different
Now we cross a new threshold with the appearance of our own species. But before describing the appearance of our species we must ask: What makes us so different?
Put simply, we are different because we keep adapting and finding new ways of extracting energy from the envirinment. Constant adaptation has allowed us to multiply and to create societies more complex than those of any other species on
Earth (and, as far as we know, in our Galaxy).

Lecture 21: Homo sapiens - The First Humans
If it is true that we are different because we keep adapting in new ways, then how we can tell from the archaeological record when the first members of our species appeared? Unfortunately, evidence from the Stone Age is scanty and hard to interpret. Two hominine species, Homo Erectus/ergaster and the Neanderthals, dominate most of the million years. But neither had the revolutionary impact of modern humans. There are currently two competing hypotheses about the origin of Homo sapiens. According to the "multi-regional" hypothesis, we evolved gradually over a million years, througout Afro-Eurasia. According to the "Out of Africa" hypothesis, we emerged somewhere in Africa about 250,000 years ago.

Perkuliahan kemudian akan diikuti dengan diskusi.

Waktu:
Sabtu, 13 Maret 2010
Jam 10:00 - 13:00

Tempat:
Ruang Seminar Program Studi Astronomi, Labtek III Lt. 4 Institut Teknologi Bandung

http://wikimapia.org/#lat=-6.8884802&lon=107.6088122&z=18&l=0&m=s&v=9
----------
Salam,
 
 
Hanief Trihantoro Wasito
 
----------
janganlah lihat siapa yang berbicara, tetapi dengarlah apa yang dibicarakan


#952 From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Date: Thu Feb 11, 2010 2:58 pm
Subject: Fw: [astro_itb] BSCR: Lectures on Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
hanief.triha...
Send Email Send Email
 
ini adalah jadwal pertemuan BSCR berikutnya. barangkali ada yang berminat dan sempat untuk datang silakan, gratis lho :D


----------
Salam,
 
 
Hanief Trihantoro Wasito
 
----------
janganlah lihat siapa yang berbicara, tetapi dengarlah apa yang dibicarakan


--- On Thu, 2/11/10, premadi@... <premadi@...> wrote:

From: premadi@... <premadi@...>
Subject: [astro_itb] BSCR: Lectures on Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
To: dosen@..., astro_itb@yahoogroups.com
Date: Thursday, February 11, 2010, 2:02 PM


Yth. Rekan-rekan sekalian,
Bandung Society for Cosmology and Religion (BSCR) mengundang untuk hadir
pada pertemuan untuk kuliah berikutnya dalam seri kuliah
Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
Lecturer: Professor David Christian, San Diego State University
(tayangan DVD)
Lecture 13 : Darwin and Natural Selection
Lecture 14 : The Evidence for Natural Selection
Lecture 15 : The Origins of Life
Selalu diikuti dengan diskusi, disertai dengan kopi, teh, kue2 :-)
Waktu:
Sabtu,  13 Februari 2010
Jam 10:00 - 13:00
Tempat:
Ruang Seminar Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung
Banyak terimakasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan.
Hormat saya,
atas nama BSCR
Premana W. Premadi

>>>>     *******************************************************************
>>>>     Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
>>>>     Professor David Christian ; San Diego State University     
>>>>     1.    What is Big History
>>>>     2.    Moving across Multiple Scales
>>>>     3.    Simplicity and Complexity
>>>>     4.    Evidence and the Nature of Science
>>>>     5.    Threshold 1 - Origins of Big Bang Cosmology
>>>>     6.    How Did Everything Begin?
>>>>     7.    Threshold 2 - The First Stars and Galaxies
>>>>     8.    Threshold 3 - Making Chemical Elements
>>>>     9.    Threshold 4 - The Earth and Solar System
>>>>     10.    The Early Earth - A Short History
>>>>     11.    Plate Tectonics and The Earth's Geography
>>>>     12.    Threshold 5 - Life
>>>>     13.    Darwin and Natural Selection
>>>>     14.    The Evidence for Natural Selection
>>>>     15.    The Origins of Life
>>>>     16.    Life on Earth - Single-celled Organisms
>>>>     17.    Life on Earth - Multi-celled Organisms
>>>>     18.    Hominines
>>>>     19.    Evidence on Hominine Evolution
>>>>     20.    Threshold 6 - What Makes Humans Different?
>>>>     21.    Home Sapiens - The First Humans
>>>>     22.    Paleolithic Lifeways
>>>>     23.    Change in Paleolithic Era
>>>>     24.    Threshold 7 - Agriculture
>>>>     25.    The Origins of Agriculture
>>>>     26.    The First Agrarian Societies
>>>>     27.    Power and Its Origins
>>>>     28.    Early Power Structures
>>>>     29.    From Villages to Cities
>>>>     30.    Sumer - The First Agrarian Civilization
>>>>     31.    Agrarian Civilizations in Other Regions
>>>>     32.    The World That Agrarian Civilizations Made
>>>>     33.    Long Trends - Expansion and State Power
>>>>     34.    Long Trends - Rates of Innovation
>>>>     35.    Long Trends - Disease and Malthusian Cycles
>>>>     36.    Comparing the World Zones
>>>>     37.    The Americas in the Later Agrarian Era
>>>>     38.    Threshold 8 - The Modern Revolution
>>>>     39.    The Medieval Malthusian Cycle, 500-1350
>>>>     40.    The Early Modern Cycle, 1350-1700
>>>>     41.    Breakthrough - The Industrial Revolution
>>>>     42.    Spread of the Industrial Revolution to 1900
>>>>     43.    The 20th Century
>>>>     44.    The World That the Modern Revolution Made
>>>>     45.    Human History and the Biosphere
>>>>     46.    The Next 100 Years
>>>>     47.    The Next Millennium and the Remote Future
>>>>     48.    Big History - Humans in the Cosmos

-----Inline Attachment Follows-----

---
This message was processed by Kaspersky Mail Gateway 5.6.28/RELEASE running at host mx6.itb.ac.id
Visit our web-site: <http://www.kaspersky.com>, <http://www.viruslist.com>

-----Inline Attachment Follows-----

_______________________________________________
Dosen mailing list
Dosen@...
http://fmipa.itb.ac.id/mailman/listinfo/dosen

-----Inline Attachment Follows-----

---
This message was processed by Kaspersky Mail Gateway 5.6.28/RELEASE running at host mx6.itb.ac.id
Visit our web-site: <http://www.kaspersky.com>, <http://www.viruslist.com>


#953 From: Hanief Trihantoro <hanief.trihantoro@...>
Date: Thu Mar 4, 2010 9:44 am
Subject: Fw: BSCR: Lectures on Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
hanief.triha...
Send Email Send Email
 


--- On Thu, 3/4/10, premadi@... <premadi@...> wrote:

From: premadi@... <premadi@...>
Subject: [astro_itb] BSCR: Lectures on Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
 



Yth. Rekan-rekan sekalian,

Bandung Society for Cosmology and Religion (BSCR) mengundang untuk hadir
pada pertemuan kuliah berikutnya dalam seri kuliah

Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
Lecturer: Professor David Christian, San Diego State University
(tayangan DVD)

Lecture 16 : Life on Earth - Single-celled Organisms
Lecture 17 : Life on Earth - Multi-celled Organisms
Lecture 18 : Hominines

Selalu diikuti dengan diskusi, disertai dengan kopi, teh, kue2 :-)

Waktu:
Sabtu, 6 Maret 2010
Jam 10:00 - 13:00

Tempat:
Ruang Seminar Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung

Banyak terimakasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan.

Hormat saya,
atas nama BSCR
Premana W. Premadi

>
>>>>> ************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* *
>>>>> Big History: The Big Bang, Life on Earth, and the Rise of Humanity
>>>>> Professor David Christian ; San Diego State University
>>>>>
>>>>> 1. What is Big History
>>>>> 2. Moving across Multiple Scales
>>>>> 3. Simplicity and Complexity
>>>>> 4. Evidence and the Nature of Science
>>>>> 5. Threshold 1 - Origins of Big Bang Cosmology
>>>>> 6. How Did Everything Begin?
>>>>> 7. Threshold 2 - The First Stars and Galaxies
>>>>> 8. Threshold 3 - Making Chemical Elements
>>>>> 9. Threshold 4 - The Earth and Solar System
>>>>> 10. The Early Earth - A Short History
>>>>> 11. Plate Tectonics and The Earth's Geography
>>>>> 12. Threshold 5 - Life
>>>>> 13. Darwin and Natural Selection
>>>>> 14. The Evidence for Natural Selection
>>>>> 15. The Origins of Life
>>>>> 16. Life on Earth - Single-celled Organisms
>>>>> 17. Life on Earth - Multi-celled Organisms
>>>>> 18. Hominines
>>>>> 19. Evidence on Hominine Evolution
>>>>> 20. Threshold 6 - What Makes Humans Different?
>>>>> 21. Home Sapiens - The First Humans
>>>>> 22. Paleolithic Lifeways
>>>>> 23. Change in Paleolithic Era
>>>>> 24. Threshold 7 - Agriculture
>>>>> 25. The Origins of Agriculture
>>>>> 26. The First Agrarian Societies
>>>>> 27. Power and Its Origins
>>>>> 28. Early Power Structures
>>>>> 29. From Villages to Cities
>>>>> 30. Sumer - The First Agrarian Civilization
>>>>> 31. Agrarian Civilizations in Other Regions
>>>>> 32. The World That Agrarian Civilizations Made
>>>>> 33. Long Trends - Expansion and State Power
>>>>> 34. Long Trends - Rates of Innovation
>>>>> 35. Long Trends - Disease and Malthusian Cycles
>>>>> 36. Comparing the World Zones
>>>>> 37. The Americas in the Later Agrarian Era
>>>>> 38. Threshold 8 - The Modern Revolution
>>>>> 39. The Medieval Malthusian Cycle, 500-1350
>>>>> 40. The Early Modern Cycle, 1350-1700
>>>>> 41. Breakthrough - The Industrial Revolution
>>>>> 42. Spread of the Industrial Revolution to 1900
>>>>> 43. The 20th Century
>>>>> 44. The World That the Modern Revolution Made
>>>>> 45. Human History and the Biosphere
>>>>> 46. The Next 100 Years
>>>>> 47. The Next Millennium and the Remote Future
>>>>> 48. Big History - Humans in the Cosmos



Messages 924 - 953 of 998   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help