Search the web
Sign In
New User? Sign Up
kimiaITB2003 · kimiaITB 2003
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Show off your group to the world. Share a photo of your group with us.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Pemulung naik krl untuk mengubur anaknya....... ( Astaghfirullah....   Message List  
Reply | Forward Message #1675 of 1853 |

Pemulung naik krl untuk mengubur anaknya

 

Salemba, Warta Kota

 

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat

anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.Penumpang kereta rel listrik (KRL)

jurusan Jakarta - Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38

thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan

memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi

di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor

polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi,

Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum

langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk

diautopsi.

 

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang

muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan

Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya

uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya

hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp

10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong

perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa

sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti

ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai

hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

 

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas

terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang

ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus

yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan

Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain

kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus

menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak

Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke

Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di

Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

 

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang

tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si

kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak

tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung

yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.

 

Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri

Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya

telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar

penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor

polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan

menumpang ambulans hitam.

 

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia

hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari

RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu

Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih

terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.

 

Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen

atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki

menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan

Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos

perjalanan ke Bogor.

 

 

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono

dan Muriski di perjalanan.

 

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar

terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan

aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa

itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk

mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP

atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan

untuk bangsa Indonesia", ujarnya.

 

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu

seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi

orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi

kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.

 

*** mohon maaf karena telah mengutip ulang berita ini***

 

 


Astaghfirullah.........

Apa yang terjadi dengan bangsa ini?????

padahal bangsa ini subur dan mempunyai kekayaan alam yg melimpah.....

sementara rakyatnya tertindas dan tertekan ekonominya.... sampai2 untuk memakamkan anaknya pun kesulitan...... Ya Allah........

Apa yang terjadi pada pemimpin2 bangsa ini?????

 
 My Best Regards
 
 
 
 Asep Rohiman*
"To built my self, To sow advantage/ knowledge"
Menempa Diri, Menebar Manfaat

* Yang masih belajar mengisi/memaknai hidup dan masih memerlukan bimbingan

"Subhanaka la 'ilma lana illa maa 'alamtana"
 "Maha Suci Engkau Yaa Allah, tiadalah ada ilmu pada diri kami kecuali apa2 yang telah Engkau  ajarkan"






Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!

Wed Jul 1, 2009 5:34 am

aseprohiman
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #1675 of 1853 |
Expand Messages Author Sort by Date

Pemulung naik krl untuk mengubur anaknya Salemba, Warta Kota PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak...
asep rohiman
aseprohiman
Offline Send Email
Jul 1, 2009
5:36 am

***heart  trembling --- speechless***   Alex   P  Save a tree. Please do not print this e-mail unless it's really necessary. ...
Alexander S
fluory_09
Offline Send Email
Jul 2, 2009
4:33 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help