Skip to search.
pawitan · Pawitan Indonesia

Group Information

? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Messages

  Messages Help
Advanced
Re: [linkers] HIDUPKAN PADI PADI LOKAL----- Memperkenalkan Blog: Agr   Message List  
Reply Message #25 of 34 |
Harus ada kerelaan utk kembali ke nilai-nilai pawitan!!!
is

2008/7/28 Gun Soetopo <gusto@...>

Ki KDP,
Membaca emailmu, aku seperti menemukan 'Jawadipa" lagi yang kurasa sudah lama sekali menghilang entah kemana.
Mungkin tulisanmu akan dirasa berat dan ungkin bahkan tak bermana apa apa bila kita tak mau /masuk/ kedalam alam Indonesia yang bermakna 'Jawadipa". Mungkin kalo di artiskan kali jadi " Java Diva"..ehek.ehek.ehek...
Sebelumnya aku perlu 'meluruskan' bahwa aku tuh gak bisa melihat yang bukan alamku, jadi kalo sampean 'nggedong' dan digayuti puluhan 'makhluk lain' itu ya karena kebiasaan dan bisa dirasakan saja. Dan di lereng Gn.Halimun itu memang salah satu 'pusat' kongkow2nya yang gitu gitu itu..ehek.ehek.ehek..
 
Tulisanmu dan tulisan mbak Lusi tentang 'Padi' dan reply Prof Iswandi ttg padi hybrida, ada benang merah yang bsia ditarik, dan kalo perlu benang biru kuning hijau dan benang kusut juga lah.
 
 
Jelas, aku gak faham betul tentang perpadian saat ini, karena aku lebih tertarik dengan per-hortikultura-an. Tapi kalo harus di tarik ke kutub perpadian yang pro hybrid atau lokal, maka aku memilih untuk menemukan kearifan lokal yang ada.
Ketika seorang yang punya eselon di Deptan,  main kerumahku di Pakem dan nginep disana serta paginya jalan2 diantara pematang sawah di Pakem, maka keluhan hati yang paling dalam mencuat sebagai ekspresi tekanan bathin antara 'tugas' dan nurani.
 
+ Pak, sampean kok kelihatannnya sekarang idag idig mromosikan padi hybrida yaw ?
= Yups
+ Jadi sampean sudah yakin bahwa kekurangan beras di nuswantoro ini bisa dan hanya bisa diatasi dengan padi hybrida ?
= sopoo yang bilang, aku tuh gak yakin dengan dengan hybrida bisa atasi masalah beras
+ lhoh kok ?
= Lhah benihnya muahal, dan hanya effisien kalo di produksi di Cino sono, maka ketergantungan dengan mereka akan selalu, sementara kalo di produksi benihnya di sini kan cuma 0,6 ton per Ha sajah sudah termehek mehek. Kalo ada yang bilang bisa 2 ton itu ..weehhhh nggedobos lah
belum yang namanya efek dari penggunaan hybrid2 itu kan boros air, pupuk dan tentu hama tertentu akan out break bisa terjadi...iku wis meh jelas....
= Lah iyo, aku dulu kan sudah matur sampean, kalo konsep pembangunan pedesaan dengan PAWITAN yang menggunakan kearifan lokal serta membangun degan kesederhanaan kan malah genah...
+ Masalahnya dengan PAWITAN itu harus ditangani oleh operator yang benar2 sudah arif dan benar2 ngerti arti Pangan, lhah pegawai2ataupun operator dilapangan itu kan 'cuma pegawai' yang terbiasa dengan instruksi dan juklak, pada gak iso mikir apalagi menggunakan hati sing kayak sampean karepke...
= ha..ha.ha.ha.. ya kali sudah kebanyakan makan yang gak gak kali yaw Pak...ehek..ehek.ehek....jadi hatinya gak sensitif lagi..
+ ha.ha.ha.ha.ha
 
Salam dari pakem
/pa' de
 
 
 
 
 
 
 
----- Original Message -----
Sent: Saturday, July 26, 2008 8:06 AM
Subject: [linkers] Memperkenalkan Blog: Agriculturae Bogoriensis

TANI - PADI - SAWAH

Minggu lalu ada PEKAN PADI NASIONAL di BBP-Padi, Sukamandi. Ada berita menggelitik tentang produksi benih padi hibrida oleh suatu perusahaan yang selama ini bergerak di luar pertanian. Pertanyaan besar seharusnya adalah nasib perbenihan lokal, nasib benih-benih rakyat yang selama ini tidak usah mengikuti jalur-jalur dan sistem-sistem perbenihan nasional yang langsung maupun tidak langsung mengadopsi pola dan sistem dari budaya tani dari luar Nusantara. Padahal kata Tani, Padi, Pari, Sawah adalah kata-kata asli Nusantara yang dipergunakan entah sejak berapa ribu tahun yang lalu dalam rangka memroduksi pangan pokok, NASI, SEGA, SEKUL, SANGU… Artinya bahwa pertanian padi (sawah-tegal-huma-lebak) terkait erat dengan budaya setempat. Budaya lahir sebagai suatu sistem efisiensi untuk menyiasati hidup menghadapi kondisi iklim, musim, dan lingkungan. Lingkungan basah kaya air dan sungai melahirkan sawah. Lingkungan agak kering dengan hujan lumayan teratur melahirkan tegalan. Suasana pinggiran hutan melahirkan budaya padi huma dan talun. Lebak rawa-rawa baik pantai maupun bantaran sungai-sungai besar, melahirkan pertanaman padi lebak.
Jumat, 25 Juli 2008, saya diajak meninjau lahan milik seorang "petani buah naga" bersama dengan "peternak domba" di wilayah Sukajaya - Bogor. Tepatnya di dusun Wates desa Kiara Pandak, Sukajaya (pemekaran kecamatan Cigudeg). Alam berlereng pegunungan membuat adanya dua sistem pertanaman padi, pertama persawahan berlereng sampai lebak, kedua padi huma. Kultivar yang berkembang pun sesuai dengan kondisi lingkungannya. Alam pegunungan lembab, memastikan bertahan dan berkembangnya kultivar lokal padi bulu yang gabahnya tidak mudah rontok. Sawah-sawah berlereng pula yang melahirkan budaya ani-ani, sehingga padi cukup dibawa ke lumbung hanya bulir-bulir bernasnya saja. Efisiensi energi transportasi dan memelihara kesuburan lahan dengan jerami padi yang kembali ke dalam tanah.
Malai-malai padi selanjutnya di ikat untuk dapat di-tating dpada para-para penjemuran. Setelah kering padi siap disimpan dalam lumbung rumah tangga dengan menumpuknya bergunung-gunung, atau tetap di-tating pada galah-galah di bawah genting "tritisan" rumah.

Bagaimana untuk pembenihannya? Petani lokal yang dengan pengalaman ribuan tahun turun-temurun tentunya sudah memiliki sendiri mekanisme dan sistem penyediaan benihnya. Di daerah eks Karesidenan Surakarta dan DIY, dikenal upacara MIWIT (saya curiga ini berasal dari kata membibit-kan, atau membuat bibit). Malai-malai padi calon benih diseleksi pada saat masak fisiologi, artinya pada kondisi vigor benih tinggi, dilakukan seminggu sebelum panen, dalam suatu upacara sesaji. Dalam upacara sesaji ada rapal yang menyatakan diri bahwa si empunya sawah menyapa segala makhluk penghuni sawah. Makhluk-makhluk itu diberitahu bahwa yang memiliki sawah akan memanen padinya. Mereka diminta agar tidak mengganggu proses panen, melainkan justru dimintai kesediaannya menjaga kelestarian sawah dan hubungan baik dengan manusia di sekeliling sawah itu, ditandai secara simbolik dibuangi rebusan daun-daun penyubur tanah. Biasanya ada daun turi dan dadap. Yang disuruh memberikan sesaji cukup anak-anak yang pada acara miwit itu sengaja diajak ke sawah untuk dibagi 'nasi urap' berlaukkan ikan asin bakar, tempe bakar dan serpihan-serpihan telor bebek rebus.

Meskipun sederhana acara miwit ini mengandung pendidikan sangat halus dan bijak kepada anak-anak, agar mengenal sawah, bergaul secara baik dengan alam. Paling tidak memberitahu secara tidak langsung bahwa dalam suatu lingkungan (agroekosistem) selalu ada sesama makhluk Tuhan yang tidak kasatmata.

Mau bukti? Saya sering merasakan. Termasuk kemarin waktu berkunjung ke lahan itu, karena kecerobohan tindakan saya, maka ada beberapa penghuni lahan ikut serta. Ah, untung Pak Dhé Gun bisa merasa dan melihatnya, maka diusirnyalah dari badan… Eee, sampai di rumah kebetulan saya mampir ke teman yang punya kelebihan 'melihat' alam lain, lagi-lagi masih ada yang menempel.

Nah, inilah seninya pertanian tradisional dengan kearifan lokalnya. Segala makhluk di lahan perlu disrawungi secara baik. Bagi yang tidak kasat mata, ya sudah dengan cara proaktif menebar sesaji sederhana, dianggap cukup sudah. Mereka tidak diusir, tidak dimarahi, tidak diumpat, hanya diberitahu bahwa lahan itu akan dipanen hasilnya dan akan dipelihara kelestariannya. Dan itulah ciri khas pertanian Nusantara. Sesuatu yang sekarang sering dilupakan, gara-gara pertanian kini hanya ditinjau dari nilai-nilai ekonominya. [2 foto berikut adalah 2 kultivar lokal, yang sayangnya tidak sempat saya tanyakan namanya. Satu berbulu hitam, satunya berbulu sewarna sekamnya]

Nah, tinggal kita sekarang. Mau mengembangkan dan mengembalikan budaya tani dan sawah Nusantara, atau membiarkan pertanian padi kita tergantung kepada perusahaan benih multinasional yang orientasinya melulu kepada LABA. Tidakkah ada usahawan benih berkesadaran sosial di negeri ini? Mudah-mudahan dengan langkah-langkah barunya KOPLINK dapat mengembalikan budaya pertanian tradisional kita.


Ki Denggleng Pagelaran®
Hidup sehat sejahtera - Urip mulyo lan tumonjo
warung biyang propolis dramaga
0819-31101719; 0815-86104617; 0813-17259136




Mon Jul 28, 2008 12:15 am

imam@...
Send Email Send Email

Attachment
1padi gogo halimun.jpg
Type:
image/jpeg
Message #25 of 34 |
Expand Messages Author Sort by Date

Harus ada kerelaan utk kembali ke nilai-nilai pawitan!!! is 2008/7/28 Gun Soetopo <gusto@...> ... Harus ada kerelaan utk kembali ke nilai-nilai...
Imam Soeseno
imam@... Send Email
Jul 28, 2008
12:15 am
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help