Qur'an memberikan landasan filosofisnya.
Dan Hadits Nabi SAW menerjemahkan landasan filosofis menuju ke basis operasionalnya.
Dan ijtihad menerjemahkan basis operasional menjadi aplikasi yang konkret dengan batasan-batasan operasional yang jelas.
Cukup sistematis bukan? Semua saling melengkapi, tidak saling berlawanan. Qur'an menjadi sumber tertinggi. Hadits menjadi derivasi dari Qur'an. Dan ijtihad menjadi derivasi dari hadits. Alur demikian memang baru diapungkan ke permukaan oleh alm. Prof. Ismail Raji' al Faruqi pada 3 dekade silam, namun sejatinya sudah dipraktikkan sejak berabad-berabad lamanya oleh cendekiawan Muslim.
Cukup sistematis, logis dan mudah dipahami, serta sesuai dengan semangat hakiki Islam untuk tidak mempersulit semua urusan.
Disinilah model penalaran anda untuk "mengkonfrontir" Qur'an dengan Hadits menjadi tidak relevan dan tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya tegaskan kata "menkonfrontir" ini, karena anda selalu berkelit dengan mengajak untuk 'kembali ke Qur'an', meski ketika dicermati lebih lanjut gagasan yang anda tawarkan justru mengobrak abrik sistematika dan logika Qur'an - Hadits - Ijtihad. Orang pesantren bilang gagasan anda sepenuhnya mengadopsi talfiq, alias memetik-memetik dalil tanpa mempedulikan sistematika.
Sayang anda tak hadir pada forum HAI Conference di Campus Center Timur di minggu lalu. Padahal itu salah satu forum ilmiah yang pas untuk menguji gagasan anda. Ditelfon juga ndak nyambung, ada nada ponsel tidak aktif. Lagi kemana dok ?
Salam,
Ma'rufin
Dan Hadits Nabi SAW menerjemahkan landasan filosofis menuju ke basis operasionalnya.
Dan ijtihad menerjemahkan basis operasional menjadi aplikasi yang konkret dengan batasan-batasan operasional yang jelas.
Cukup sistematis bukan? Semua saling melengkapi, tidak saling berlawanan. Qur'an menjadi sumber tertinggi. Hadits menjadi derivasi dari Qur'an. Dan ijtihad menjadi derivasi dari hadits. Alur demikian memang baru diapungkan ke permukaan oleh alm. Prof. Ismail Raji' al Faruqi pada 3 dekade silam, namun sejatinya sudah dipraktikkan sejak berabad-berabad lamanya oleh cendekiawan Muslim.
Cukup sistematis, logis dan mudah dipahami, serta sesuai dengan semangat hakiki Islam untuk tidak mempersulit semua urusan.
Disinilah model penalaran anda untuk "mengkonfrontir" Qur'an dengan Hadits menjadi tidak relevan dan tidak sesuai dengan semangat Islam. Saya tegaskan kata "menkonfrontir" ini, karena anda selalu berkelit dengan mengajak untuk 'kembali ke Qur'an', meski ketika dicermati lebih lanjut gagasan yang anda tawarkan justru mengobrak abrik sistematika dan logika Qur'an - Hadits - Ijtihad. Orang pesantren bilang gagasan anda sepenuhnya mengadopsi talfiq, alias memetik-memetik dalil tanpa mempedulikan sistematika.
Sayang anda tak hadir pada forum HAI Conference di Campus Center Timur di minggu lalu. Padahal itu salah satu forum ilmiah yang pas untuk menguji gagasan anda. Ditelfon juga ndak nyambung, ada nada ponsel tidak aktif. Lagi kemana dok ?
Salam,
Ma'rufin
From: pranoto rusmin <pranotohr@...>
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com; mandorsanim@...; nidlol@...
Sent: Fri, October 30, 2009 10:56:14 AM
Subject: Re: [ RHI ] Adakah ahli tafsir & nahwu sharaf pada milist ini?
Assalamu alaikum pak Firdhaus,
terima kasih atas responnya.
Di satu sisi..saya ingin bersikap terbuka dan tidak ingin merasa benar sendiri. Dengan diskusi seperti ini saya jadi lebih banyak masukan. Beberapa hal mesti saya koreksi kembali. Namun demikian, di sisi lain secara bersama bukankah mestinya kita semua membuka diri juga? saya merasa bahwa persoalan kalender hijriah, hanya didasarkan pada hadits Nabi. Al Quran dalam hal ini, tidak dieksplorasi (kecuali QS 2:189, itupun dengan ketidaktepatan terjemah). Karena ini berkaitan dengan penafsiran Quran, sudah tentu kita membutuhkan Nahwu, Sharaf, balaghah, sebagai dasar pemahaman tata bahasa dan variasi kata. Kemudian, kita perlu mencermati tafsir2 yang telah ada seperti tafsir Ibnu Katsir, Jalalain, Al Misbah, dsb.
Jangan lupa, kita perlu melihat yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan sampai saat ini. Kalau seseorang menafsirkan Quran tanpa ilmu pengetahuan, dapat jadi masih meyakini bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan bumi ini seperti karpet yang dibentangkan. Dalam kondisi seperti ini penafsiran justru terjebak pada khayalan, bukan realitas yang ada, yang dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabk an.
Ketika ada seminar mengenai kalender di masjid Salman ITB, saya sempat menanyakan.. .kok para panelis tidak ada yang mengkaji persoalan ini dari AL Quran? (Justru hanya pembaca Quran di awal, yg menjadi satu2nya hadirin yang menyampaikan ayat Quran). Dijawab beliau, kl dengan Al Quran terlalu tinggi.
Saya benar2 jadi heran. Sy coba melihat ke beliau lg, sambil dalam hati bertanya Bapak ini sedang bercanda kali?. Ternyata serius. Ternyata, kita lebih suka menghindari Al Quran. Karena terlalu tinggi, takut salah, bukan tingkatannya, belum memenuhi kriteria sebagai penafsir, atau sejumlah alasan lain, yang pada intinya menjauhkan kita dari Quran.
Sebaliknya, justru di banyak ayat (Surat Ql Qamar) Allah SWT menegaskan bahwa Al Quran ini sudah dimudahkan, adakah yang ingin mengambil pelajaran?
Yang kita diskusikan ini, bukan hal yang sepele. Kalender merupakan bagian penting dari sebuah peradaban. Allah SWT memerintahkan kalender berbasis bulan, berdasarkan keteraturan gerak bulan. Salah satu nilai yang dapat kita pelajari dari kalender ini adalah keteraturan. Mengapa ketaraturan begitu penting???
Tanpa keteraturan, tidak mungkin ada ilmu pengetahuan. Dari keteraturan, akan ada observasi (rukyat), kemudian ada pemodelan yang memungkinkan melakukan prediksi. Dari sistem berpikir inilah ilmu pengetahuan berkembang & sebuah peradaban dapat berkembang lebih baik.
Lebih mendasar dari itu. Adanya keteraturan menandakan adanya penciptaan. Keteraturan tidak dapat ada secara kebetulan. Apalagi, adanya suatu perhitungan (QS 55:5) untuk gerakan matahari dan bulan, menunjukkan keseriusan dalam perancangan. Tidak dibuat dengan sembarangan. Lebih jauh lagi, keteraturan menunjukkan bahwa Yang membuat keteraturan itu hanya satu. Kalau lebih dari satu, mana mungkin ada keteraturan dalam seluruh keberadaan. Sebaliknya, akan terdapat kekacauan dan kehancuran (Al Anbiya 22).
Keteraturan ini sebagai tanda bahwa Tuhan itu adalah Tuhan Yang Esa.
Semoga dalam milist ini ada lebih banyak peserta yang mau berperan lebih aktif, untuk mendiskusikan Al Quran, untuk mencari solusi tentang kalender bagi umat manusia.
Wassalamu alaikum ww
Pranoto
--- On Thu, 29/10/09, Faidzin Firdhaus <mandorsanim@ yahoo.com> wrote:
|
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com