PAK PRANOTO INGIN "MENGENDALIKAN" ATURAN ALLOH.
PAK PRANOTO INGIN "MENGENDALIKAN" WAKTU-WAKTU YANG DITETAPKAN ALLOH.
KARENA PAK PRANOTO ADA DI "LAB KENDALI".
HARUS BERTAUBAT PAK...
Dari: nidlol <nidlol@...>
Kepada: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Dikirim: Selasa, 17 Januari 2012 9:08
Judul: [ RHI ] Re: Durasi sehari scr astronomi
Sejak kapan waktu antara Maghrib-Fajar dan Fajar-Maghrib menjadi tidak lagi bisa diukur..? Lah orang-orang buat jadwal waktu sholat itu pakai apa kalau tidak pakai ukur-mengukur?!
Problemnya adalah.. Pak Pranoto itu maunya 1 hari harus selalu berdurasi sama.. terukur dalam bilangan jam yang sama, menit yang sama, dan detik yang sama. Mengapa gak sekalian saja Pak Pranoto sholat dalam jumlah rakaat yang selalu sama, mbaca surat yang selalu sama, sehingga jumlah ayatnya selalu sama, trus dibaca dengan ritme yang selalu sama, sehingga selesai dalam 'durasi rakaat' yang selalu sama SECARA HITUNGAN MENIT (bahasa Pak Pranoto: "SECARA UKURAN SAINS").
Betul-betul penistaan terhadap makna dan identitas "Sains"!
Bukan begitu, Bapak-bapak?
Saya kira sampai di sini saja tanggapan saya karena sudah gamblang (seperti saya janjikan ke Pak Mutoha).. kecuali bila nanti ada hal baru, hal yang tertinggal, atau hal penting lainnya yang butuh tanggapan.
Terima kasih dan mohon maaf. Wassalam.
--- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@...> wrote:
>
> Salah satu sifat sains adl terukur. Kalau durasi siang malam mau diukur, bgmn mengukurnya lalu keluar angka berapa ?
>
> Justru itu kalau Pak Nidlol mengakuai adanya jam dinding, itu sibuat atas dasar definisi durasi sehari 24 jam. Mau diakui atau tdk Pak ? masih menghindar ?
>
>
>
> ________________________________
> From: nidlol <nidlol@...>
> To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
> Sent: Monday, 9 January 2012, 4:13
> Subject: [ RHI ] Re: Durasi sehari scr astronomi
>
>
> Â
> Lho.. Memangnya definisi SAINS itu apa Pak Pranoto sehingga orang yang mendefinisikan sehari = malam+siang berarti tidak mau mengambil sains sebagai acuan..?? Aneh!
>
> Trus, dari mana itu ceritanya definisi "sehari = malam+siang" tidak bisa dijadikan penghitung dalam sistem waktu. Memangnya selama ini Pak Pranoto Puasa dan Shalat 5 Waktu pake sistem waktu tidak? Pakek Sains tidak?
>
> Jawab Pak ya.. Yang jelas, dan mohon jangan muter-muter nanti takut ketabrak Jam Dinding :D
>
> --- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@> wrote:
> >
> .....
> > Tapi...yg perlu dicermati, pemahaman Pak Nidlol yg tdk mau mendefinisikan durasi sehari, sudah menutup beliau untuk masuk dalam sains kalender. tidak akan dpt mendefinisikan kalender dg pemahaman seharinya Pak Nidlol. Definisi sehari = satu malam satu siang, ya benar, itu tdk salah.
> >
> > tp tdk dpt digunakan sbg penghitung, dlm sistem waktu.
> >
> > Semoga Pak Novi mau memberikan komentar atas hal ini, biar Pak Nidlol dpt menyadari kesalahan pemahamannya, yg tdk mau mengambil sains sbg acuan.
> >
>
Problemnya adalah.. Pak Pranoto itu maunya 1 hari harus selalu berdurasi sama.. terukur dalam bilangan jam yang sama, menit yang sama, dan detik yang sama. Mengapa gak sekalian saja Pak Pranoto sholat dalam jumlah rakaat yang selalu sama, mbaca surat yang selalu sama, sehingga jumlah ayatnya selalu sama, trus dibaca dengan ritme yang selalu sama, sehingga selesai dalam 'durasi rakaat' yang selalu sama SECARA HITUNGAN MENIT (bahasa Pak Pranoto: "SECARA UKURAN SAINS").
Betul-betul penistaan terhadap makna dan identitas "Sains"!
Bukan begitu, Bapak-bapak?
Saya kira sampai di sini saja tanggapan saya karena sudah gamblang (seperti saya janjikan ke Pak Mutoha).. kecuali bila nanti ada hal baru, hal yang tertinggal, atau hal penting lainnya yang butuh tanggapan.
Terima kasih dan mohon maaf. Wassalam.
--- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@...> wrote:
>
> Salah satu sifat sains adl terukur. Kalau durasi siang malam mau diukur, bgmn mengukurnya lalu keluar angka berapa ?
>
> Justru itu kalau Pak Nidlol mengakuai adanya jam dinding, itu sibuat atas dasar definisi durasi sehari 24 jam. Mau diakui atau tdk Pak ? masih menghindar ?
>
>
>
> ________________________________
> From: nidlol <nidlol@...>
> To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
> Sent: Monday, 9 January 2012, 4:13
> Subject: [ RHI ] Re: Durasi sehari scr astronomi
>
>
> Â
> Lho.. Memangnya definisi SAINS itu apa Pak Pranoto sehingga orang yang mendefinisikan sehari = malam+siang berarti tidak mau mengambil sains sebagai acuan..?? Aneh!
>
> Trus, dari mana itu ceritanya definisi "sehari = malam+siang" tidak bisa dijadikan penghitung dalam sistem waktu. Memangnya selama ini Pak Pranoto Puasa dan Shalat 5 Waktu pake sistem waktu tidak? Pakek Sains tidak?
>
> Jawab Pak ya.. Yang jelas, dan mohon jangan muter-muter nanti takut ketabrak Jam Dinding :D
>
> --- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@> wrote:
> >
> .....
> > Tapi...yg perlu dicermati, pemahaman Pak Nidlol yg tdk mau mendefinisikan durasi sehari, sudah menutup beliau untuk masuk dalam sains kalender. tidak akan dpt mendefinisikan kalender dg pemahaman seharinya Pak Nidlol. Definisi sehari = satu malam satu siang, ya benar, itu tdk salah.
> >
> > tp tdk dpt digunakan sbg penghitung, dlm sistem waktu.
> >
> > Semoga Pak Novi mau memberikan komentar atas hal ini, biar Pak Nidlol dpt menyadari kesalahan pemahamannya, yg tdk mau mengambil sains sbg acuan.
> >
>