Sy pernah berdebat dg pak Pranoto, beliau pun pernah menyerang sy utk sesuatu yg bliau salah paham. Namun sy tidak setuju dg kata2 keras dan hujatan yg ditujukan kpd bliau.
Bliau msh saudara kita seiman (tak ada indikasi kekafiran pd tulisan2nya, bliau bagian dari aset intelektual umat, bliau punya ghirah utk kemajuan islam dan umat Islam.
Soal ada kekurangan pd ilmu dan cara berfikir bliau, perbedaan konsepnya dg kita, dan kekurangan / ketidaksempurnaan bliau, tdk cukup alasan bagi kita melontarkan makian dan menampakkan akhlaq rendah di grup ini. Setidaknya, yg p Pranoto lakukan hanyalah kegelisahan intelektual yg mencoba mencari titik temu sistem penanggalan Hijriyah dg mengkritisi konsep2 yg sdh ada selama ini. Tak semua yg diungkapkannya salah. Dan dia pun mengungkapkannya tdk d ruang publik yg dpt menimbulkan kebingungan umat. Beliau tuangkan d forum terbatas ini memang utk diuji kebenarannya. Tantangan juga buat kita, intellectually juga emotionally.
Pak Pranoto, sy tAk selalu sependapat dg Anda, namun ttp respek dg upaya "pencarian" Anda. Semoga hidayah dan keberkahan selalu Allah limpahkan pd kita semua.
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Powered by Telkomsel BlackBerry®
From: albi fitransyah <albi_fit@...>
Sender: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Date: Tue, 17 Jan 2012 10:28:40 +0800 (SGT)
To: rukyatulhilal@yahoogroups.com<rukyatulhilal@yahoogroups.com>
ReplyTo: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Subject: Bls: [ RHI ] Re: Hadits dhoif -menurut Para ULAMA
Benar.
Pak Pranoto segera bertaubat dan diruqyah.
Lalu, coba Pak Pranoto "Masantren di Pondok".
Atau Ngaji di Masjid Salman ITB, kan dekat Pak...
Kalau bisa jadi Aktivis Masjid Salman ITB saja, kaya Prof. Thomas Djamaludin.
Dari: nidlol <nidlol@...>
Kepada: rukyatulhilal@yahoogroups.com
Dikirim: Selasa, 17 Januari 2012 9:00
Judul: [ RHI ] Re: Hadits dhoif -menurut Para ULAMA
Bismillah walhamdulillah
Kemarin2, saya sudah nulis jawaban panjang untuk Pak Pranoto, tetapi mendadak komputer error sehingga postingannya hilang.
Saya akan sebutkan saja intinya:
Hadits tersebut memang tidak ada dalam tafsir Thabari (makanya saya dulu salahkan Pak Pranoto ketika bilang hadits itu ada di sana bahkan menyejajarkan periwayatnya yang 'pendusta' itu dengan beliau).
Adapun riwayat-riwayat yang ada dalam tafsri Thabari terkait dengan ayat tersebut, penjelasannya demikian:
1. Ath-Thabari menyebutkan 8 riwayat. Tetapi hanya 4 riwayat yang berisi sababun nuzul (baik sababun nuzul saja maupun sekaligus tafsir ayat), selebihnya bukan (isinya hanya tafsir shahabat/tabiin, bukan cerita tentang latar belakang turunnya ayat).
2. Empat riwayat sababun nuzul itu berujung pada Qatadah, Ar-Rabi' (ibnu Anas), Ibnu 'Abbas, dan Ibnu Juraij. Riwayat yang berujung pada Ar-Rabi' dan Ibnu 'Abbas dhoif, riwayat yang berujung Qatadah shahih, dan riwayat yang berujung pada Ibnu Juraij saya belum teliti lebih dalam. Akan tetapi, sudah maklum bahwa Qatadah dan Ibnu Juraij ini bukan seorang shahabat, sehingga haditsnya adalah hadits mursal (dari kalangan tabiin langsung meloncat ke kejadian di masa Rasulullah SAW alias ada keterputusan).
3. Keempat riwayat itu sama sekali berbeda dengan riwayat hadits Mu'adz yang sangat-lemah kemarin. Silakan perhatikan kembali buku terjemah tafsir Thabari Pak Pranoto (http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/attachments/folder/2053001166/item/1450607952/view) pada riwayat no.3058 (-Qatadah), no.3059 (-Ar-Rabi'), no.3061 (-Ibnu Juraij), dan no.3064 (-Ibnu 'Abbas).
Bahasa Arabnya berturut-turut bisa dilihat di sini:
Qatadah: http://goo.gl/rdL8D
Ar-Rabi': http://goo.gl/q3ph7
Ibnu Juraij: http://goo.gl/tKNFx
Ibnu 'Abbas: http://goo.gl/a9HDD
Nah, jelas kan...? Riwayat2 itu ternyata nol koma sekian persen pun sama sekali tidak mendukung pernyataan Pak Pranoto!
Apa isi riwayat-riwayat itu?
a. Qatadah: "Mereka bertanya kepada Nabi SAW, mengapa ahillah ini dijadikan (diciptakan)? Maka Allah pun menurunkan (ayat) ..."
b. Ar-Rabi': "Disebutkan (diceritakan) kepada kami bahwasanya mereka bertanya kepada Nabi SAW: Mengapa ahillah itu diciptakan? Maka Allah pun menurunkan (ayat) ..."
c. Ibnu Juraij: "Orang-orang bertanya: Mengapa ahillah ini dijadikan (diciptakan)? Maka turunlah (ayat) ..."
d. Ibnu 'Abbas: "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai ahillah, maka turunlah ayat ini"
Nah tuh! Yang mana riwayat yang mendukung pernyataan Pak Pranoto? Tidak ada! Riwayat-riwayat itu isinya tidak lebih dari isi ayat itu sendiri, yaitu bahwasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai (tujuang penciptaan) ahillah, kemudian Allah menjawab dengan menurunkan ayat tersebut. Mana INFORMASI yang menyatakan bahwa pengertian "ahillah" adalah "bentuk-bentuk muka bulan yang sekaligus mencakup bentuk purnama?" Sama sekali tidak ada!
4. Sekarang, kita lihat apa isi lanjutan dalam riwayat shahih dari Qatadah di atas (lihat riwayat no.3058 dalam buku terjemahan tafsir Thabari Pak Pranoto):
"maka turunlah ayat seperti yang kalian dengar, bahwa ia (AHILLAH itu) adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, dimana ia menjadi waktu puasa bagi umat Islam, waktu berbuka, waktu manasik (menyembelih kurban atau ibadah secara umum), waktu haji, masa 'iddah kaum wanita, dan masa pembayaran hutang mereka.."
Coba peras otak Bapak: Waktu puasa, berbuka (Idul Fitri), dan haji itu terjadi dalam satu bulan (satu periode lunasi) ataukah terjadi dalam banyak bulan..? Tentunya dalam banyak bulan. Dengan kata lain: dalam BANYAK HILAL, karena jelas-jelas hilal puasa tidak sama dengan hilal berbuka.
Penafsiran "ahillah" itu ditafsirkan "variasi bentuk muka bulan" jelas salah karena bentuk muka bulan untuk memulai puasa itu sama dengan bentuk muka bulan untuk mulai berbuka (sama-sama sabit menurut UMAT ISLAM, atau sama-sama tak-terlihat/konjungsi menurut Pak Pranoto).
Jadi, penafsiran "ahillah" yang tepat sesuai dengan tafsiran yang mengiringi sababun nuzul ini adalah "hilal-hilal" dalam banyak bulan alias bulan-bulan sabit muda.
6. Pak Pranoto (entah sengaja maupuan tidak) mengabaikan begitu saja riwayat dari 'Ali (riwayat ke-8, atau no.3065 versi terjemahan tafsir Thabari Pak Pranoto) berisi tafsiran ayat yang berbunyi:
"ia adalah waktu-waktu bulan: begini, begini, dan begini--dan ia menggenggam ibu jarinya--jika kalian melihatnya maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya maka berbukalah, dan jika tertutup awan, maka sempurnakanlah tiga puluh hari."
Nah tuh!
Mana katanya kalender Pak Pranoto didukung oleh AYAT INI...??!
Sababun Nuzul serta penafsiran oleh generasi zaman Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa ayat ini adalah ayat rukyatulhilal, persis seperti nama milis ini dan sama sekali bertentangan dengan konsep-konsep janggal Pak Pranoto!
Dan.. jangan lupa, inti postingan saya dulu (yang Pak Pranoto hebohkan soal kedhoifan haditsnya itu) adalah pembuktian bahwa dengan menafsirkan AHILLAH sebagai BENTUK-BENTUK MUKA BULAN pun, hasilnya justru bertentangan dengan konsep kalender Pak Pranoto.. Sebab kalender Pak Pranoto tidak berpijak pada "bentuk muka bulan", tetapi berpijak pada KONJUNGSI yang umumnya tidak menampakkan bentuk muka apapun!
Ini belum lagi konsep Bapak berupa "penggenapan durasi bulan 29,n menjadi 29 atau 30 hanya dengan fungsi ROUND"
Belum lagi konsep Bapak berupa "penggenapan durasi 24+-0,n jam menjadi genap 24 jam tak kurang tak lebih di seluruh muka bumi"
Belum lagi konsep "jam 06.00 pagi" yang jelas-jelas bertentangan ayat-ayat yang menyatakan bahwa fase "MALAM" itu berakhir ketika terbit FAJAR (yang tidak selalu bahkan nyaris tidak pernah persis jam 6 pagi).
Sudah saatnya Pak Pranoto insyaf dan membuang jauh-jauh kalender yang bertentangan dengan Al-Quran dan kenormalan-berpikir serta hanya membuat sulit umat manusia tersebut... Hadanaallaahu waiyyaakum. Amin.
--- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@...> wrote:
>
> Lho begini Pak Nidlol, baik kalau memang hadits Mu'adz RA itu dhoif, ya kita tinggalkan.
>
> Tp, dlm tafsir Ath-Thabari yg sy sampaikan itu tdk ada hadits tsb.
>
> Ath-thabari mengungkapkan bbrp sanad, tdk ada yg dari Mu'adz RA. artinya ada jalur lain.
>
> Mari kita cermati jalur lain ini. Kalau dari jalur lain ternyata ada & shahih, artinya ahillah sbg wajah2 bulan memang didukung oleh hadits asbabun nuzulnya.
>
> Mari kita kaji dulu lbh dalam dari jalur lain yg disebut oleh ath-thabari.
>
>
>
>
> ________________________________
> From: nidlol <nidlol@...>
> To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
> Sent: Monday, 9 January 2012, 4:05
> Subject: [ RHI ] Re: Hadits dhoif -menurut Para ULAMA
>
>
> Â
> Mana, Pak? Kok tidak ada haditsnya?
>
> Mana...?
>
> Well, nampaknya dugaan saya benar, bahwa Pak Pranoto salah kaprah! Saya membahas hadits Mu'ad bin Jabal RA, eh... dikasihnya malah hadits-hadits yang lain.
>
> Sekadar salah kaprah sih nggak masalah sebelumnya, Pak, karena memang Pak Pranoto tidak membidangi Hadits. Yang bermasalah adalah "sudah salah kaprah, heboh pula menyalahkan orang lain yang tidak sedang salah... bahkan membenturkannya dengan para ulama yang sama sekali tidak berbenturan".
>
> Perhatikan lagi vonis2 Bapak dalam postingan ini:
> http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/3735
>
> Hanya gara-gara menyatakan hadits Mu'adz RA itu [sangat] dhoif, Pak Pranoto dengan semangat empat lima mengatakan saya (secara tidak langsung) telah menyalahkan ulama2 besar.. Padahal justru pernyataan saya itu bersumber dari para ulama besar... Dan, ternyata masalahnya justru ada di Pak Pranoto sendiri, karena tidak bisa membedakan hadits Mu'adz dengan hadits yang lain.
>
> Dalam khazanah sastra bahasa Indonesia, ada pepatah yang sangat tepat untuk perilaku sedemikian. Silakan lihat di link berikut:
>
> http://goo.gl/O0FrX
>
> Semoga Allah memberikan hidayah & kebenaran kepada kita semua... Amin.
>
> --- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@> wrote:
> >
> > Pak Nidlol ini sy sertakan hasil scannya, sdh jelas dibaca.
> >
> >
> >
> > Apakah dlm hadits yg diambil ath-thabari mengandung nama2 yg disebut Pak Nidlol?
> >
> > Mungkin sj hadits yg dari jalur tsb dhoif, Pak Nidlol benar. Tp dari jalur lain yg diacu Ath-Thabari benar. Tdk mungkin kalau Ath-Thabari kalau tahu
> > hadits tsb dhoif masih diacu dlm karyanya.
> > Kalau ternyata ada hadits dari jalur lain yg shahih, tetap dpt dijadikan acuan.
> >
> > Silakan dipelajari dulu.
> >
> > Kalau setelah dipelajari Pak Nidlol dpt menyatakan yg sy kirim dari tafsir
> > ath-thabari itu salah & ada bukti2nya kuat, ini baru dpt dikatakan
> > musibah.
> >
> > Sy tunggu pernyataannya, Ath-Thabari salah atau benar merujuk pd scan tafsir yg sy kirimkan.
> >
> > Salam
> >
> >
> >
> > ________________________________
>
Kemarin2, saya sudah nulis jawaban panjang untuk Pak Pranoto, tetapi mendadak komputer error sehingga postingannya hilang.
Saya akan sebutkan saja intinya:
Hadits tersebut memang tidak ada dalam tafsir Thabari (makanya saya dulu salahkan Pak Pranoto ketika bilang hadits itu ada di sana bahkan menyejajarkan periwayatnya yang 'pendusta' itu dengan beliau).
Adapun riwayat-riwayat yang ada dalam tafsri Thabari terkait dengan ayat tersebut, penjelasannya demikian:
1. Ath-Thabari menyebutkan 8 riwayat. Tetapi hanya 4 riwayat yang berisi sababun nuzul (baik sababun nuzul saja maupun sekaligus tafsir ayat), selebihnya bukan (isinya hanya tafsir shahabat/tabiin, bukan cerita tentang latar belakang turunnya ayat).
2. Empat riwayat sababun nuzul itu berujung pada Qatadah, Ar-Rabi' (ibnu Anas), Ibnu 'Abbas, dan Ibnu Juraij. Riwayat yang berujung pada Ar-Rabi' dan Ibnu 'Abbas dhoif, riwayat yang berujung Qatadah shahih, dan riwayat yang berujung pada Ibnu Juraij saya belum teliti lebih dalam. Akan tetapi, sudah maklum bahwa Qatadah dan Ibnu Juraij ini bukan seorang shahabat, sehingga haditsnya adalah hadits mursal (dari kalangan tabiin langsung meloncat ke kejadian di masa Rasulullah SAW alias ada keterputusan).
3. Keempat riwayat itu sama sekali berbeda dengan riwayat hadits Mu'adz yang sangat-lemah kemarin. Silakan perhatikan kembali buku terjemah tafsir Thabari Pak Pranoto (http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/attachments/folder/2053001166/item/1450607952/view) pada riwayat no.3058 (-Qatadah), no.3059 (-Ar-Rabi'), no.3061 (-Ibnu Juraij), dan no.3064 (-Ibnu 'Abbas).
Bahasa Arabnya berturut-turut bisa dilihat di sini:
Qatadah: http://goo.gl/rdL8D
Ar-Rabi': http://goo.gl/q3ph7
Ibnu Juraij: http://goo.gl/tKNFx
Ibnu 'Abbas: http://goo.gl/a9HDD
Nah, jelas kan...? Riwayat2 itu ternyata nol koma sekian persen pun sama sekali tidak mendukung pernyataan Pak Pranoto!
Apa isi riwayat-riwayat itu?
a. Qatadah: "Mereka bertanya kepada Nabi SAW, mengapa ahillah ini dijadikan (diciptakan)? Maka Allah pun menurunkan (ayat) ..."
b. Ar-Rabi': "Disebutkan (diceritakan) kepada kami bahwasanya mereka bertanya kepada Nabi SAW: Mengapa ahillah itu diciptakan? Maka Allah pun menurunkan (ayat) ..."
c. Ibnu Juraij: "Orang-orang bertanya: Mengapa ahillah ini dijadikan (diciptakan)? Maka turunlah (ayat) ..."
d. Ibnu 'Abbas: "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai ahillah, maka turunlah ayat ini"
Nah tuh! Yang mana riwayat yang mendukung pernyataan Pak Pranoto? Tidak ada! Riwayat-riwayat itu isinya tidak lebih dari isi ayat itu sendiri, yaitu bahwasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai (tujuang penciptaan) ahillah, kemudian Allah menjawab dengan menurunkan ayat tersebut. Mana INFORMASI yang menyatakan bahwa pengertian "ahillah" adalah "bentuk-bentuk muka bulan yang sekaligus mencakup bentuk purnama?" Sama sekali tidak ada!
4. Sekarang, kita lihat apa isi lanjutan dalam riwayat shahih dari Qatadah di atas (lihat riwayat no.3058 dalam buku terjemahan tafsir Thabari Pak Pranoto):
"maka turunlah ayat seperti yang kalian dengar, bahwa ia (AHILLAH itu) adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, dimana ia menjadi waktu puasa bagi umat Islam, waktu berbuka, waktu manasik (menyembelih kurban atau ibadah secara umum), waktu haji, masa 'iddah kaum wanita, dan masa pembayaran hutang mereka.."
Coba peras otak Bapak: Waktu puasa, berbuka (Idul Fitri), dan haji itu terjadi dalam satu bulan (satu periode lunasi) ataukah terjadi dalam banyak bulan..? Tentunya dalam banyak bulan. Dengan kata lain: dalam BANYAK HILAL, karena jelas-jelas hilal puasa tidak sama dengan hilal berbuka.
Penafsiran "ahillah" itu ditafsirkan "variasi bentuk muka bulan" jelas salah karena bentuk muka bulan untuk memulai puasa itu sama dengan bentuk muka bulan untuk mulai berbuka (sama-sama sabit menurut UMAT ISLAM, atau sama-sama tak-terlihat/konjungsi menurut Pak Pranoto).
Jadi, penafsiran "ahillah" yang tepat sesuai dengan tafsiran yang mengiringi sababun nuzul ini adalah "hilal-hilal" dalam banyak bulan alias bulan-bulan sabit muda.
6. Pak Pranoto (entah sengaja maupuan tidak) mengabaikan begitu saja riwayat dari 'Ali (riwayat ke-8, atau no.3065 versi terjemahan tafsir Thabari Pak Pranoto) berisi tafsiran ayat yang berbunyi:
"ia adalah waktu-waktu bulan: begini, begini, dan begini--dan ia menggenggam ibu jarinya--jika kalian melihatnya maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya maka berbukalah, dan jika tertutup awan, maka sempurnakanlah tiga puluh hari."
Nah tuh!
Mana katanya kalender Pak Pranoto didukung oleh AYAT INI...??!
Sababun Nuzul serta penafsiran oleh generasi zaman Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa ayat ini adalah ayat rukyatulhilal, persis seperti nama milis ini dan sama sekali bertentangan dengan konsep-konsep janggal Pak Pranoto!
Dan.. jangan lupa, inti postingan saya dulu (yang Pak Pranoto hebohkan soal kedhoifan haditsnya itu) adalah pembuktian bahwa dengan menafsirkan AHILLAH sebagai BENTUK-BENTUK MUKA BULAN pun, hasilnya justru bertentangan dengan konsep kalender Pak Pranoto.. Sebab kalender Pak Pranoto tidak berpijak pada "bentuk muka bulan", tetapi berpijak pada KONJUNGSI yang umumnya tidak menampakkan bentuk muka apapun!
Ini belum lagi konsep Bapak berupa "penggenapan durasi bulan 29,n menjadi 29 atau 30 hanya dengan fungsi ROUND"
Belum lagi konsep Bapak berupa "penggenapan durasi 24+-0,n jam menjadi genap 24 jam tak kurang tak lebih di seluruh muka bumi"
Belum lagi konsep "jam 06.00 pagi" yang jelas-jelas bertentangan ayat-ayat yang menyatakan bahwa fase "MALAM" itu berakhir ketika terbit FAJAR (yang tidak selalu bahkan nyaris tidak pernah persis jam 6 pagi).
Sudah saatnya Pak Pranoto insyaf dan membuang jauh-jauh kalender yang bertentangan dengan Al-Quran dan kenormalan-berpikir serta hanya membuat sulit umat manusia tersebut... Hadanaallaahu waiyyaakum. Amin.
--- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@...> wrote:
>
> Lho begini Pak Nidlol, baik kalau memang hadits Mu'adz RA itu dhoif, ya kita tinggalkan.
>
> Tp, dlm tafsir Ath-Thabari yg sy sampaikan itu tdk ada hadits tsb.
>
> Ath-thabari mengungkapkan bbrp sanad, tdk ada yg dari Mu'adz RA. artinya ada jalur lain.
>
> Mari kita cermati jalur lain ini. Kalau dari jalur lain ternyata ada & shahih, artinya ahillah sbg wajah2 bulan memang didukung oleh hadits asbabun nuzulnya.
>
> Mari kita kaji dulu lbh dalam dari jalur lain yg disebut oleh ath-thabari.
>
>
>
>
> ________________________________
> From: nidlol <nidlol@...>
> To: rukyatulhilal@yahoogroups.com
> Sent: Monday, 9 January 2012, 4:05
> Subject: [ RHI ] Re: Hadits dhoif -menurut Para ULAMA
>
>
> Â
> Mana, Pak? Kok tidak ada haditsnya?
>
> Mana...?
>
> Well, nampaknya dugaan saya benar, bahwa Pak Pranoto salah kaprah! Saya membahas hadits Mu'ad bin Jabal RA, eh... dikasihnya malah hadits-hadits yang lain.
>
> Sekadar salah kaprah sih nggak masalah sebelumnya, Pak, karena memang Pak Pranoto tidak membidangi Hadits. Yang bermasalah adalah "sudah salah kaprah, heboh pula menyalahkan orang lain yang tidak sedang salah... bahkan membenturkannya dengan para ulama yang sama sekali tidak berbenturan".
>
> Perhatikan lagi vonis2 Bapak dalam postingan ini:
> http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/3735
>
> Hanya gara-gara menyatakan hadits Mu'adz RA itu [sangat] dhoif, Pak Pranoto dengan semangat empat lima mengatakan saya (secara tidak langsung) telah menyalahkan ulama2 besar.. Padahal justru pernyataan saya itu bersumber dari para ulama besar... Dan, ternyata masalahnya justru ada di Pak Pranoto sendiri, karena tidak bisa membedakan hadits Mu'adz dengan hadits yang lain.
>
> Dalam khazanah sastra bahasa Indonesia, ada pepatah yang sangat tepat untuk perilaku sedemikian. Silakan lihat di link berikut:
>
> http://goo.gl/O0FrX
>
> Semoga Allah memberikan hidayah & kebenaran kepada kita semua... Amin.
>
> --- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, pranoto hidaya rusmin <pranotohr@> wrote:
> >
> > Pak Nidlol ini sy sertakan hasil scannya, sdh jelas dibaca.
> >
> >
> >
> > Apakah dlm hadits yg diambil ath-thabari mengandung nama2 yg disebut Pak Nidlol?
> >
> > Mungkin sj hadits yg dari jalur tsb dhoif, Pak Nidlol benar. Tp dari jalur lain yg diacu Ath-Thabari benar. Tdk mungkin kalau Ath-Thabari kalau tahu
> > hadits tsb dhoif masih diacu dlm karyanya.
> > Kalau ternyata ada hadits dari jalur lain yg shahih, tetap dpt dijadikan acuan.
> >
> > Silakan dipelajari dulu.
> >
> > Kalau setelah dipelajari Pak Nidlol dpt menyatakan yg sy kirim dari tafsir
> > ath-thabari itu salah & ada bukti2nya kuat, ini baru dpt dikatakan
> > musibah.
> >
> > Sy tunggu pernyataannya, Ath-Thabari salah atau benar merujuk pd scan tafsir yg sy kirimkan.
> >
> > Salam
> >
> >
> >
> > ________________________________
>