Dear Mutoha and all JAC friend, pertama salam kenal dulu... Panggil saja saya Abah Utun, saya sudah lama menjadi member dari falaknet, syberfalak dan baru-baru ini subscribe di rukyatulhilal. Tujuannya ingin silaturrahmi sesama peminat falak. Dapat koleksi software juga dari milis dan bantuan Akhi Harry Yuniardi di Bandung (apa kabar Kang?) mulai Starrynight, Stellarium, Moonc 60 (Dr. Monzur Ahmed), SalatTimes 2.8 (Ali al Haddad), Accurat Times 4.1 (Dr. M. Odeh JAS), Bughyah, Faidlul, Ittifaq, Win Hisab (Jadwal Shalat & Qiblat buatan Depag), dll. Saya sangat senang dan bangga dengan teman-teman yang dengan serious menekuni bidang ini, sementara saya hanya bisa menyalurkannya sebatas hobby.
Kembali pada topik kita kali ini, ilmu pengetahuan memang berkembang, janganlah menganggap apa yang kita pelajari dan kita ketahui adalah sesuatu yang mutlak. Saya sendiri menganut bahwa kebenaran ilmu pengetahuan adalah relatif untuk suatu masa dan kondisi tertentu. Inilah salah satu hikmah dari ilmu pengetahuan, dimana kita harus menggali dan menggali, dan terus.. dan terus.... Sebelum tahun 30an mungkin jumlah planet juga kurang dari 9, tapi sekarang sudah berkembang, seiring dengan pesatnya alat bantu dan alat analisis astronomi. Adanya perubahan yang sangat besar (revolusi?) itu hanyalah konsekuensi dan menjadi tugas kita-kita untuk mentransformasikannya kepada generasi mendatang.... Memang benar, ternyata semakin kita tahu, semakin kita sadar ternyata kita tidak tahu....
Dulu pernah ada yang mengutak-atik pemahaman jumlah planet ini di-gathuk-gathuk-i dengan mimpinya Nabi Yusuf AS yang disampaikannya kepada ayahnya... "Wahai Ayahanda, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku 11 kaukab (diterjemahkan bintang), dan Matahari dan Bulan semua bersujud kepadaku...". Dari sini, banyak orang memahami bahwa sebenarnya planet itu ada 11, kalau sekarang baru ada 9, mungkin next time akan ketemu juga sisanya... Walaupun penafsiran lain menunjukkan bahwa 11 kaukab itu adalah 11 suku bangsa Israil lainnya selain Yusuf.
Kalau melihat dari prosesnya, masalah per-planet-an ini nampaknya lebih ke arah konsensus. Tapi, konsensus dari sisi science tentu harus berdasarkan atas realitas atau temuan / fakta ilmiah yang ada. Konsensus dengan mengabaikan fakta saya khawatirkan akan nampak lucu, jadi semacam blooper.... Saya pribadi dengan segala konsekuensinya ngikut yang merubah jumlah planet dengan dasar fakta ilmiah tadi. Adanya konsekuensi, itu adalah berkah bagi kita semua... khan jadi banyak lahan pekerjaan dan ladang amal kita.... Sekian dulu...! Salammm...!
Abah Utun Radicalensis.
-----Original Message----- From: rukyatulhilal@yahoogroups.com [mailto:rukyatulhilal@yahoogroups.com]On Behalf Of MUTOHA MMC Sent: Monday, August 21, 2006 12:42 PM To: rukyatulhilal@yahoogroups.com; jogja_astroclub@yahoogroups.com; astronomi_indonesia@yahoogroups.com; haaj84@yahoogroups.com; sains@yahoogroups.com; fisika_indonesia@yahoogroups.com Subject: [Spam:][rukyatulhilal] Petisi..!! Bagi yang masih maniak dengan 9 planet!
Salam,
Dampak keputusan IAU mengenai definisi planet yg mini sedang dibahas tentunya sangat luas. Apalgi kalau keputusan itu justru mengakibatkan berubahnya jumlah planet dalam sisten tata surya kita. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi segala sesuatu yang merujuk kepada perubahan itu misalnya:
- buku-buku (berapa juta buku harus direvisi??)
- ensiklopedia (wajiob juga direvisi!)
- software2 astronomi (jelas perusahaan harus menarik produknya)
- planetarium (Planetarium Jakarta, Kalimantan dan Surabaya juga repot)
- kurikulum pendidikan dsb.dsb. harus direvisi!!!!
Namun kalau kita masih bisa bertahan dengan 9 planet (tentunya kembali kepada definisi yg harus disesuaikan) maka perbahan-perubahan itu tidak perlu terjadi.
Nah di bawah ini kami mohon sdr./sdri. yang masih menginginkan bahwa tidak perlu ada perubahan thd. jumlah planet (tetap 9 saja -- sementara penemuan yg lain tinggal diatur saja definisinya agar sesuai). Untuk itu mohon dapat mengisi petisi di bawah ini sebelum 24 Agustus 2006 dan langsung diterima oleh IAU yg sedang berkongres di Prague.
Bagi yg masih setuju (yang tidak setujupun boleh mengisi) tata surya dengan 9 planetnya dapat memberikan petisi di sini :
Dampak keputusan IAU mengenai definisi planet yg mini sedang dibahas tentunya sangat luas. Apalgi kalau keputusan itu justru mengakibatkan berubahnya jumlah planet dalam sisten tata surya kita. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi segala sesuatu yang merujuk kepada perubahan itu misalnya:
- buku-buku (berapa juta buku harus direvisi??)
- ensiklopedia (wajiob juga direvisi!)
- software2 astronomi (jelas perusahaan harus menarik produknya)
- planetarium (Planetarium Jakarta, Kalimantan dan Surabaya juga repot)
- kurikulum pendidikan dsb.dsb. harus direvisi!!!!
Namun kalau kita masih bisa bertahan dengan 9 planet (tentunya kembali kepada definisi yg harus disesuaikan) maka perbahan-perubahan itu tidak perlu terjadi.
Nah di bawah ini kami mohon sdr./sdri. yang masih menginginkan bahwa tidak perlu ada perubahan thd. jumlah planet (tetap 9 saja -- sementara
penemuan yg lain tinggal diatur saja definisinya agar sesuai). Untuk itu mohon dapat mengisi petisi di bawah ini sebelum 24 Agustus 2006 dan langsung diterima oleh IAU yg sedang berkongres di Prague.
Bagi yg masih setuju (yang tidak setujupun boleh mengisi) tata surya dengan 9 planetnya dapat memberikan petisi di sini :
Minggu-minggu ini jelas akan menjadi revolusi bagi sistem tata surya kita. Sebab hari ini hingga 25 Agustus mendatang, 2500 lebih pakar astronomi dari berbagai negara tengah mengadakan konferensi International Astronomical Union (IAU) di Prague sebuah kota di Republik Czech selatan Jerman. Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah pembahasan mengenai definisi baru planet. Iseng2 saat ngumpul di markas, teman2 anggota JAC ngobrol masalah ini. Berikut rangkumannya. ===================================== Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kecuali Matahari, Planet dan Bulan/Satelit, sistem tata surya juga beranggotakan benda-benda langit yang berukuran kecil yang disebut sebagai "small celestial bodies" serta debu dan gas antar planet. Termasuk dalam small celestial bodies adalah sekumpulan asteroid yang berada di orbit antara Mars dan Jupiter, komet, meteor dan benda langit lain yang berada di Sabuk Kuiper yang
dinamakan Kuiper Belt Object (KBO). KBO, sebagai benda langit yang berada di lintasan setelah Neptunus juga mendapat julukan Trans Neptunian Object (TNO). Pasca deklarasi Pluto menjadi planet ke 9 dalam sistem tata surya pada 1930 menyusul ditemukannya bulan planet ini Charon pada 1978, kini telah ditemukan banyak KBO seukuran Pluto bahkan diantaranya ada yang lebih besar yaitu obyek yang diberi nama 2003UB313 yang ditemukan pada Juli 2005 yl. dan mendapat julukan sementara "Xena" yang juga menjadi kandidat planet ke-10. Ratusan KBO lain yang lebih kecil juga telah banyak ditemukan. Disinilah masalah mulai muncul mengenai status Pluto sebagai planet. Sebab kalau Pluto adalah planet, maka KBO-KBO yang baru ditemukan itu tentunya harus juga dimasukkan ke dalam jajaran Planet. Untuk itulah perlu para ahli merasa perlu untuk menyusun kembali definisi baru mengenai planet. Masalah ini jelas sangat terkait dengan status Pluto apakah masih digolongkan sebagai planet ataukah ia
akan masuk jajaran KBO. Tentunya jawaban ini harus menunggu voting tentang definisi planet yang kini tengah dibahas di forum IAU dan akan diumumkan pada 24 Agustus 2006 yad. Yang jelas para penyusun buku dan ensiklopedi harus bersiap untuk merevisi bahasan mengenai sistem tata surya nantinya.
Bagan susunan sistem tata surya yang baru nantinya sangat dipengaruhi oleh difinisi baru mengenai planet yang nampaknya memberatkan pada syarat ukuran untuk sebuah planet. Kemungkinan itu diantaranya adalah :
1. 12 Planet Dengan disepakatinya definisi bahwa ukuran planet minimal adalah berdiameter 800 km dan memiliki massa diatas 5x10E20 kg serta konsep 'double planet'
dan konsep 'dwarf planet' memunculkan asteroid Ceres dan Xena serta Charon masuk ke dalam jajaran planet. Urutannya: Merkurius-Venus-Bumi-Mars-Ceres-Jupiter-Saturnus-Uranus-Neptunus-Pluto-Charon-Xena (Yg. ini kayaknya yg goal ya..?)
2. 10 Planet
Ukuran Pluto menjadi batas minimal shg. Xena (2003UB313) akan menduduki urutan planet ke-10. Urutannya: Merkurius-Venus-Bumi-Mars-Jupiter-Saturnus-Uranus-Neptunus-Pluto-Xena
3. 9 Planet (tetap)
Pilihan ini tentunya harus mendudukkan definisi planet tidak secara ilmiah melainkan mengembalikannya kepada konsep planet dalam tinjauan sejarah sehingga penemuan susulan diabaikan. Sehingga 'Xena' dan teman-temannya hanya akan dimasukkan ke dalam KBO. Urutannya: Merkurius-Venus-Bumi-Mars-Jupiter-Saturnus-Uranus-Neptunus-Pluto
4. 8
Planet
Dilengserkannya Pluto termasuk 'Xena' dari jajaran planet sebab ia lebih pantas masuk jajaran KBO bersama teman2 KBO yang lain. Urutannya: Merkurius-Venus-Bumi-Mars-Jupiter-Saturnus-Uranus-Neptunus
5. 53 Planet Ya..! memang usulan ini nampak aneh. Tapi justru inilah yang mendapat rekomendasi dari IAU untuk dipilih. Tentunya usulan ini berlandaskan konsep ilmiah mengenai definisi planet dengan syarat ukuran diameter 400 km sehingga jumlah planet menjadi 8 planet klasik Merkurius s.d. Neptunus + 1 Ceres + 44 KBO (termasuk Pluto,Charon,Xena) = 53
planet. Nah! gimana mau ngapalin.. sembilan aja kebolak-balik?
Nah saudara-saudara kira-kira pilih yang mana ya..??
Mengenai hasilnya kita tunggu tanggal 25 Agustus nanti.... bakal ada revolusi...??? Makin pening aja...
Jangan Lewatkan!! Saksikan Hujan Meteor Perseids pada Sabtu (malam Minggu) mulai pukul 11.00 WIB sampai pagi. Hujan Meteor Perseids merupakan salah satu meteor shower terbesar tahun ini. Pada saat ‘peak’ kita dapat menyaksikan hingga 100 lebih meteor dalam setiap jam nya. Ayo cari tempat lapang dan gelap... sambil bermalam Minggu jangan lewatkan..!
Peta radian meteor dapat dilihat di link berikut :
Blog nya bagus pak Ketua, tapi sebaiknya tidak sendirian, cari teman untuk
cari/ngisi artikel dan berita, kalau mungkin dibuat dynamic sehingga
teman-teman bisa kirim berita dari mana saja.
--
Muchlas
Personal web: http://muchlas.ee.uad.ac.id
Office web: http://www.uad.ac.id
> Dalam rangka membantu memasyarakatkan astronomi di Indonesia, seperti yang
> juga telah dilakukan oleh komunitas Astronomi Indonesia dan Klub-klub
> Astronomi Amatir yang telah ada. Perkenankan saya mengenalkan Blog
> Astronomi sederhana semoga dapat bermanfaat. Blog ini berusaha menampilkan
> dan membahas event-event astronomi baik yang telah, sedang dan yang akan
> terjadi khususnya di Indonesia. Semoga keberadaannya dapat turut membantu
> mempopulerkan astronomi secara khusus dan sains Indonesia secara umum.
> Blog ini juga terbuka bagi siapa saja yang berminat mengirimkan artikel
> maupun topik diskusi. Di blog ini juga tersedia Kalender Event Astronomi
> Indonesia yang dapat didownload.
>
> Blog Astronominya di alamat ini : http://mutoha.blogspot.com
>
>
> Salam,
> Mutoha
> Jogja Astro Club (JAC)
> http://groups.yahoo.com/group/jogja_astroclub/
> ==============================================
> Bringing Astronomy to the People
> ==============================================
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta.
Wassalamu'alaikum wr. wb.,
Ya saya sedang usahakan mengumpulkan informasi tsb. Jadi mohon sabar
ya...
Salam,
Mutoha
--- In rukyatulhilal@yahoogroups.com, "Wicaksono" <wicax2020@...>
wrote:
>
> Ass. Wr. Wb.
>
> Saya bergabung dengan Milis ini karena saya memiliki ketertarikan
> terhadap implementasi astronomi, khususnya dalam penentuan awal
bulan
> kalender Hijriyah dalam Islam.
>
> Saya mengajukan beberapa pertanyaan bukan tentang rukyat, namun
tentang
> sholat.
> 1. Berapa sudut twilight yang digunakan di Indonesia umumnya untuk
> menentukan sholat Isya' maupun Shubuh, dan ini mengikuti mazhab
mana?
> Bagaimana dengan NU dan Muhammadiyah?
> 2. Saya ingin tahu bagaimana (algoritma) Depag menentukan waktu
sholat
> saat ini. Di era komputer ini, saya pernah liat di Metro TV,
pegawai
> Depag pusat menentukan jadwal sholat (jadwal imsakiyyah)
menggunakan
> tabel-tabel kuno dan manual.
> 3. Kebetulan masjid di tempat saya menggunakan jadwal dari Depag
untuk
> adzan sholat 5 waktu. Maaf, saya ingin tahu bagaimana dengan masjid
di
> tempat lain, adakah yang masih menggunakan metode "actual
sighting",
> misalnya sang muadzin azan jika telah benar2 mengamati "fajar
shaddiq".
>
> Terima kasih atas penjelasannya.
>
Dalam rangka membantu memasyarakatkan astronomi di Indonesia, seperti yang juga telah dilakukan oleh komunitas Astronomi Indonesia dan Klub-klub Astronomi Amatir yang telah ada. Perkenankan saya mengenalkan Blog Astronomi sederhana semoga dapat bermanfaat. Blog ini berusaha menampilkan dan membahas event-event astronomi baik yang telah, sedang dan yang akan terjadi khususnya di Indonesia. Semoga keberadaannya dapat turut membantu mempopulerkan astronomi secara khusus dan sains Indonesia secara umum. Blog ini juga terbuka bagi siapa saja yang berminat mengirimkan artikel maupun topik diskusi. Di blog ini juga tersedia Kalender Event Astronomi Indonesia yang dapat didownload.
Salam, Mutoha Jogja Astro Club (JAC) http://groups.yahoo.com/group/jogja_astroclub/ ============================================== Bringing Astronomy to the People ==============================================
Jika kebetulan langit cerah..... Jangan lewatkan ... Toton Hujan Meteor (Meteor Shower) Southern Delta Aquarids (SDA) malam ini (28/07). Pusat atau radiantnya berada di Sekitar Rasi Aquarius. Rasi ini terbit si arah Timur pada sekitar 20.00 WIB dan akan mencapai Zenith pada pukul 02.00 WIB dinihari (waktu terbaik untuk pengamatan). Meteor Shower SDA masuk dalam katalog IMO-15 dengan rata2 kecepatan meteor 41 km/detik dengan ZHR sekitar 20 meteor per jam. SDA shower ini sebenarnya mulai diamati pada 12 July s.d. 19 Agustus yad. namun puncaknya adalah pada tanggal 28-29 July. Untuk mengenali Rasi Aquarius asal radiant meteor shower ini dapat dilakukan dengan panduan beberapa bintang terang seperti Altair dan Fomalhaut dengan panduan peta bintang di sini :
Yang tidak sempat mengamati malam ini, maka malam Minggu besok pun masih punya kesempatan... Happy skygazing....
Salam, Mutoha Jogja Astro Club (JAC1 km/detik Yogyakarta - Indonesia http://groups.yahoo.com/group/jogja_astroclub/ ============================================== Bringing Astronomi to the People ==============================================
Ass. Wr. Wb.
Saya bergabung dengan Milis ini karena saya memiliki ketertarikan
terhadap implementasi astronomi, khususnya dalam penentuan awal bulan
kalender Hijriyah dalam Islam.
Saya mengajukan beberapa pertanyaan bukan tentang rukyat, namun tentang
sholat.
1. Berapa sudut twilight yang digunakan di Indonesia umumnya untuk
menentukan sholat Isya' maupun Shubuh, dan ini mengikuti mazhab mana?
Bagaimana dengan NU dan Muhammadiyah?
2. Saya ingin tahu bagaimana (algoritma) Depag menentukan waktu sholat
saat ini. Di era komputer ini, saya pernah liat di Metro TV, pegawai
Depag pusat menentukan jadwal sholat (jadwal imsakiyyah) menggunakan
tabel-tabel kuno dan manual.
3. Kebetulan masjid di tempat saya menggunakan jadwal dari Depag untuk
adzan sholat 5 waktu. Maaf, saya ingin tahu bagaimana dengan masjid di
tempat lain, adakah yang masih menggunakan metode "actual sighting",
misalnya sang muadzin azan jika telah benar2 mengamati "fajar shaddiq".
Terima kasih atas penjelasannya.
Sebuah fenomena yang diyakini sebagai sebuah meteor besar memasuki atmosfer bumi atau yang sering disebut dengan "fireball" terjadi di atas Langit Selatan Yogyakarta atau tepatnya di atas Pantai Parangtritis pada Rabu, 26 Juli 2006 malam. Kejadian itu berlangsung begitu cepat tepat pada pukul 19.31 WIB. Saat itu secara kebetulan beberapa anggota Jogja Astro Club (JAC) sedang mengadakan acara stargazing (observasi langit malam) setelah pada sorenya diadakan kegiatan rukyat hilal di Parangkusumo. Saat meteor melintas tepat di arah zenith (atas kepala) memancarkan cahaya yang amat terang sampai area gelap yang kami tempati mendadak terang benderang dan beberapa saat disusul dengan suara ledakan sebanyak 2 kali. Meteor melintas dari arah Timur menuju Barat sambil meninggalkan jejak asap berwarna menyala kebiruan yang lama-kelamaan hilang sekitar 2 menit.
Sungguh ini merupakan fenomena menakjubkan yang baru
pertama kami lihat. Beruntung beberapa anggota JAC yang mengikuti kegiatan dapa turut melihatnya walaupun tidak sempat mengambil gambar karena kejadiannya begitu cepat. Di perkampungan, wargapun nampak banyak yang cemas setelah melihat fenomena tsb. Maklum, mereka masih trauma betul dengan bencana gempa bumi dan tsunami yang baru saja mereka alami. Namun kami berusaha menenangkan mereka dengan menyampaikan informasi mengenai fenomena tsb. dalam sudut pandang astronomi. Dan bersyukur ini dapat mengurangi kecemasan para warga di Parangtritis yang kebetulan turut melihat langsung peristiwa tsb. Payahnya, kamipun jadi turut khawatir terjadi sesuatu karena berada di Pantai. Maka acara stargazing disudahi pada pukul 20.00 WIB dan kamipun langsung pulang. Melintasnya meteor malam itu bahkan dapat terlihat oleh seorang kawan yang berjarak lk. 40 km lewat sms yg saya terima. Saya belum menyimpulkan kejadian tsb. apa benar2 fenomena meteor atau benda asing yang lain.
Mungkin diantara anggota milis ada yang punya informasi. Terimakasih.
Bersyukur kegiatan memasyarakatkan astronomi yang diselenggarakan oleh Jogja Astro Club (JAC) dapat berjalan sukses. Kami berharap di waktu2 yad. dapat melakukannya lagi demi kemajuan Astronomi Indonesia. Dukungan dari rekan2 sangat kami perlukan.... Terimakasih..
Hari ini.. 16 Juli 2006 jam 16:26 WIB (boleh sampai H-2 atau H+2) merupakan hari yang tepat untuk menentukan arah kiblat di sebagian besar wilayah Indonesia dan beberapa negara tetangga. Peristiwa tsb berkaitan dengan fenomena falak/astronomis yang dikenal dengan istilah Istiwa A'zam yaitu saat dimana posisi matahari tepat berada di atas (Zenith) kota Makkah sehingga tempat-tempat lain di sekitarnya dapat menggunakan kaidah teknik bayangan matahari untuk menentukan arah kiblat secara presisi tanpa bantuan peralatan modern. Info selengkapnya saya tulis di sini :
Mungkin posting ini lebih cocok dibaca bagi para pemula.....
Dear stargazer.. Mari sejenak melupakan masalah2 yang ada...
Coba kita amati benda2 langit saat langit cerah seperti semalam, apalagi saat purnama Sungguh mengasyikan. Sampai2 lupa kalo sudah malam sudah amat larut. Di kawasan Langit Selatan, Rasi Crux dengan pola salib/layang2 dan Centaurus dengan bintangnya yang paling terang 'Rigel' atau Alpha Centauri dan disebelahnya Beta Centauri seolah membentuk sebuah panah yang mengarah ke Rasi Crux. Sementara di kawasan ekliptika (tengah) Rasi Scorpion nampak jelas dengan bintang merahnya 'Antares' dengan mudah dapat kita kenali. Kalau kita telusuri di arah Barat bintang Antares ini akan kita temukan titik cahaya paling terang di langit itulah Planet Jupiter. Planet ini terlihat berada di atas kepala pada sekitar jam 7 malam. Mau lihat bulan2nya Jupiter seperti Galileo?
Bisa..! kalau
kita punya binokuler paling tidak atau teleskop biar lebih jelas. Tidak punya? jangan khawatir sebab sebentar lagi ada pemandangan indah di Langit Timur yaitu Bulan yang sedang terbit dengan bulatnya yang sudah tidak lagi sempurna karena telah melewati fase purnama. Amati permukaannya dengan sedikit konsentrasi dan akomodasi, tatap dalam2 dan gambar apa yang anda lihat di sana?? Nenek2 ? Kepiting? Kelinci?? atau terserah anda membuat gambar pola permukaan bulan. Nah bagi yang pingin tahu detil permukaan bulan serta nama2 tempat di sana bisa dilihat di file berikut :
Akan lebih asyik tentunya kalo kita bisa membuat dokumentasinya dalam bentuk foto apalagi video. Kalau kita memiliki teleskop dan peralatan foto/video
seperti kamera digital, Kamera SLR dan CCD yang tentunya sangat mahal! Bagi kita yang kantongnya pas2 an tentu tidak berhenti sampai di sini khan? Ada ide?
Semalam dan beberapa waktu yang lalu saya mulai belajar astrofotorafi dan astrovideo menggunakan kamera hasil modofikasi Webcam (saya gunakan ORITE 740k) dengan membuang bagian lensa kecilnyanya serta selongsongnya. Sensor webcam ternyata berukuran kecil +/_ 4x3 mm. Dengan sedikit teknik membuat dudukan ke teleskop dari bahan pralon dan tabung tempat film (canister) 'ternyata tabung ini pas ke dudukan eyepiece' (1,25"). Akhirnya lensa webcam kini diganti menggunakan lensa teleskop. Hasilnya... ternyata lumayan... contoh lihat file berikut :
Summer Solstice adalah saat matahari berada di atas titik balik Utara atau sering disebut sebagai Tropic of Cancer yaitu garis paralel 23o 27’ di Utara Katulistiwa (Ekuator) bumi.Dan perhatikan serta amati, terbit/terbenamnya matahari akan mulai bergeser lagi ke Selatan.
Saat peristiwa ini terjadi biasanya kita akan ingat dengan seorang tokoh filsafat, ahli matematika dan astronomi dari Yunani yang hidup sekitar 2200 tahun yang lalu yaitu Eratosthenes yang telah mengukur keliling bumi dengan ‘akurat’ menggunakan metode bayangan matahari antara dua kota yaitu Shine (Aswan) dan Alexandria saat summer solstice.
Nah kalo ada yang mau mengulang sukses Eratosthenes silahkan ikut mencoba.
Yang masih menjadi uneg-uneg saya adalah :
Kenapa istilah Tropic of
Cancer masih dipakai padahal sekarang saat Summer Solstice terjadi, matahari tidak lagi di Rasi Cancer.Begitu juga untuk istilah lain misalnya Winter Soltice (Tropic of Capricorn) dan Vernal Equinox (Titik Aries) serta Autumnal Equinox (Titik Libra?) semuanya sudah tidak pas lagi.
Apakah orang Australia juga menamakan dengan Summer Solstice padahal sekarang mereka sedang musim dingin (Winter) berarti orang Australia akan menamakan Winter Solstice untuk 21 Juni ini?
Kalau ya, kita (Indonesia) akan menyebut yang mana?
Apa sebaiknya istilah2 tersebut diganti yang universal biar bisa dipakai dimana saja dan oleh siapa saja. Siapa yang berhak mengganti?
Ahad tanggal 28 Mei 2006 yad. merupa hari yang tepat untuk menentukan arah kiblat di sebagian besar wilayah Indonesia dan beberapa negara tetangga. Peristiwa tsb berkaitan dengan fenomena falak/astronomis yang dikenal dengan istilah Istiwa A'zam yaitu saat dimana posisi matahari tepat berada di atas (Zenith) kota Makkah sehingga tempat-tempat lain di sekitarnya dapat menggunakan kaidah teknik bayangan matahari untuk menentukan arah kiblat secara presisi tanpa bantuan peralatan modern. Info selengkapnya saya tulis di sini :
-== Sabtu, 6 Mei 2006 == yad. telah dicanangkan sebagai "Hari Astronomi Dunia Tahun 2006" atau Astronomy Day 2006. Seperti halnya tahun2 sebelumnya perayaan ini tetap mengambil tema "Bringing Astronomy to the People" berbagi kesenangan astronomi kepada masyarakat. Perayaan ini dari tahun ke tahun jatuh pada tanggal yang berbeda pada tanggal antara pertengahan April dan pertengahan Mei mengambil hari Sabtu dan saat itu bulan berada pada fase seperempat pertama atau berumur sekitar 7 hari sehingga pada tahun ini perayaan akan jatuh pada Sabtu, 6 Mei 2006. Pekan itu juga akan menjadi "Astronomy Week" dari mulai Senin hingga Minggu-nya yang biasanya diisi dengan bebagai macam kegiatan astronomi.
Saat Astronomy Day nanti diharapkan seluruh komunitas masyarakat pecinta astronomi dari mulai
individu, klub-klub amatir / sains, KIR Astronomi, lembaga pemerintah (LAPAN), planetarium, observatorium, museum, penerbit/toko buku dan seluruh organisasi yang berhubungan dengan astronomi dapat berpartisipasi pada perayaan tersebut dengan mengadakan kegiatan-kegiatan memasyarakatkan astronomi. Kegiatan dapat berupa pameran peralatan, open house, workshop/seminar, petunjukan slide/film/poster, simulasi benda langit, peneropongan matahari/bulan/bintang, star party, pameran buku, lomba mewarna/menggambar planet dan kreasi kegiatan-kegatan lain sejauh masih dalam rangka "bringing astronomi to the people".
Sejauh ini saya belum melihat persiapan perayaan ini di Indonesia, sementara negara-negara tetangga sudah jauh-jauh hari mempersiapkan untuk itu. Lihat di sini ( http://www.astroleague.org/al/astroday/adactiv06.html )
Saya
berkeyakinan bahwa Jakarta dengan HAAJ dan Planetariumnya serta Bandung dengan HAAB dan Observatorium Bosscha-nya serta juga kota-kota lain sudah matang mempersiapkannya sesuai dengan apa yg telah diperoleh dari Pertemuan APRIM tahun lalu di Bali.
Tidak hanya itu teman2 yg punya peralatan astronomi seperti binokuler, teleskop, buku2, software, gambar, film atau apa saja yg berhubungan dg astronomi mungkin bisa merencanakan untuk berbagi kepada orang lain / tetangga pada hari itu secara individu/pribadi cukup di depan rumah / halaman kebun dsb.
Saya di Jogja (Jogja Astro Club) juga sudah berusaha membentuk tim yang akan menyambut Astronomy Day tahun ini walaupun baru yang pertama. Saya juga siap membantu teman-2 yang mebutuhkan info mengenai Astronomy Day ini atau yang mau bergabung dengan tim JAC.
Saya secara pribadi berharap lewat perayaan Astronomy Day ini, astronomi atau falak akan
menjadi bagian ilmu yang banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. "think globally act locally" hanya itu yang bisa saya lakukan.
Saya juga yakin Planetarium Jakarta & Observatorium Bosscha siap membantu masyarakat yang membutuhkan info ttg Astronomy Day tahun ini.
- di manakah batas Internasional dari sistem penanggalan Hijriyah? Apakah sama dengan batas tanggal Internasional (180 BB/BT) yaitu di samudera Pasifik?
- Kajian Astronomis : tempat dimana saat sunset=moonset (berupa garis lengkung) pada saat newmoon
Kajian Syar'i : sesuai kriteria yang diyakini 1) rukyatul hilal/pengamatan langsung 2) kriteria pemerintah (imkanurrukyat) versi MABIMS
3) wujudul hilal/moonset after sunset 4)mengikuti negara Arab (global) 5)atau kriteria2 yang lain.
Di Samudra Pasifik? Bisa Ya bisa Tidak! sebab bisa dimana saja di permukaan bumi ini.. berubah setiap saat setiap bulan >> ini yg menyebabkan sering beda
=====
- apakah batas Internasional tersebut sebuah garis yang tetap
(fix) atau juga berubah mengikuti posisi bulan?
- Ya berubah mengikuti posisi bulan dilihat dari pengamat di bumi
=====
- kalau Pak Haji Baba sholat Jumat di Tokyo, lalu berangkat naik pesawat jam 16:00. Lalu tiba di Honolulu pada hari Jumat, jam 09:00 pagi. Apakah pak Haji Baba sholat Jumat lagi?
- Saya kemarin shalat Jumat di masjid kantor lalu pulang ternyata masjid di rumah masih khutbah, pas shalat saya tidak ikut shalat jumat lagi.
(Kajian secara syar'i saya kurang tahu mungkin ada yang bisa menjelaskan..?)
=====
- kalau pak Haji Baba pada tanggal 4 Ramadan sore berangkat dari Honolulu. Lalu tiba di Tokyo pada tanggal 6 Ramadan pagi. Apakah pak Haji punya hutang puasa satu hari yang "HILANG" (5
Ramadan)?
- Setahu saya : kalender Hijriyah tidak menggunakan acuan tanggal internasional (Samudra Pasifik) tapi menggunakan kriteria visibilitas hilal (crescent) dan berjalan ke arah barat shg konsep yg dicontohkan mungkin tidak cocok. Awal mulainya bukan menggunakan batas jam 00:00 tapi waktu saat sunset di lokasi ybs. Orang yang bepergian (musafir) boleh tidak berpuasa pada hari itu namun wajib meng'qadha' pada hari lain. (Mungkin ada yang lebih bisa menjelaskan??)
Below is a list of ICOP's members, grouped according to the member's country of residence - the latter being sorted by its longitude, beginning from the far East:
-
Australia:-
Mr. Afroz Ali, Al-Ghazzali Centre for Islamic Sciences & Human Development.
Mr. Sam De Francesco, Muslim Village Australia.
Muhammad Nazrul Islam Al-faruque, Muslim Comunity of Bangladesh.
Mr. Rami El Sahmarani.
Indonesia:-
Dr. Fahmi Amhar, ParamadinaMulya University.
Dr. Thomas Djamaluddin, National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN).
Dr. Matondang Ali Yakub, Muhammadiyah.
Mr. Suwandojo Siddiq, Institute of Human Settlemets.
Mr. Isep Cuarsa, Bandung Institute Technology.
Mr. Irfan Madani, Bandung Institute Technology.
Mr. Hendro Setyanto, Bandung Institute Technology.
Mr. Wahyu Iwa Sumantri, Bogor Agriculture Institute.
Mr. Khotib Sholeh, Darul Ulum Islamic University.
Mr. Khairur Rasyidi, Yogyakarta State Institute of Islamic Studies.
Mr. Syaiful Panggabean, Darul Arafah Boarding School.
Mr. Syamsul Siregar, Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor.
Ms. Naura Nisrina, Al Ma'had Ali Lidirasat Ulum Al Islamiyah.
Mr. Mutoha MMC, Jogja Astro Club (JAC).
Mr. Ma'rufin Sudibyo, Jogja Astro Club (JAC).
Mr. Indran Nuryo.
Mr. R.A. Sugardiman.
Mr. Willy Jatmiko.
Mr. Ferry Adrian.
Malaysia:-
Mr. Kassim Bahali, MARA Junior Science Coll. (MRSM).
Mr. Baharrudin Zainal, KUSZA Astronomical Unit.
Dr. Zainol Abidin Ibrahim, University Malaya.
Mr. Mohammad Sharifuddin, College of Pharmaceutical Ministry of Health.
Prof. Mohammad Zambri Zainuddin, Faculty of Science University of Malaya.
Mr. Nordin Radzuan, Kolej Universiti Teknikal Kebangsaan Malaysia.
Dr. Mustafa Din Subari, University Teknologi Malaysia.
Mr. Ibnor Azli Ibrahim, The National University Malaysia.
Mr. Abdul Majid Abdul Wahid, Percetakan Siaran Sdn Bhd.
Mr. Najib Nadzar, National University Of Malaysia.
Ms. Clara Kartini Hamid, Astronomy & Atmospheric Science Research Unit, University Of Science Malaysia
Mr. Handoyo Gunawan, BPMKK PT Kiani Kertas.
Mr. Zainal Abiden bin Hani, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Muhammad Razib bin Muhammad Aris, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Muhammad Khairul bin Othman, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Muhammad Redhwan bin Pandil, Madrasah Ad-Diniah Majidi.
Mr. Muhammad Hudhairi bin Pandil, Madrasah Ad-Diniah Dato' Abdullah Esa.
Mr. Imran bin Othman, Universiti Teknologi Malaysia.
Mr. Saiful Nizam bin Abu, Universiti Teknologi Malaysia.
Mr. Yusman bin Ahmad, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Muhammad Aidil Nor Hakim bin Maliki, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Muhammad Soffian bin Khalid, Madrasah Ad-Diniah Kampung Kastam.
Mr. Muhammad Ali bin Fadhil, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Muhammad Rafie bin Muhammad Nor, Madrasah Ad-Diniah Kampung Pandan.
Mr. Muhammad Zaidi bin Abdullah, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Muhammad Adam bin Embok Wellah, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Abdul Malik bin Abdullah, Custom Department Johor Bahru.
Mr. Buang bin Abdullah, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Affandi bin Abdullah, Madrasah Ad-Diniah Hajjah Rahmah.
Mr. Yus Bakarudin Mohamed Yunus, IBS Technology Snd Bhd.
Mr. Haja Mohideen, Petronas Melaka Astronomy Club.
Mr. Muhammad Ridzuan, University of Malaysia.
Mr. Mohamad Saupi Che Awang, Universiti Teknologi Malaysia.
Ms. Norsofiah Ahmad, University of Malaysia.
Mr. Nik Khusairie, University of Science Penang.
Ms. Nik Zaharah.
Mr. Mohammad Firdaus.
Mr. Ariffazilah Awang.
Philippines:-
Mr. Mama Mangorangca, The Jami'o Mindanao al-Islami.
Ms. Inoray Osop, Women Foundation for Econ. and Env. Development.
Mr. Satar Laguindab, Muslim Youth Center in Philippines.
Mr. Abang Marohomsalic, Bureau of Pilgrimage and Endowment, Office on Muslim Affairs, Office of the President of the Republic of the Philippines.
Mr. Saymaran Jabeer, Institute of Asian and Islamic Studies.
Brunei:-
Mr. Mahadi Mohamad Tahir, Survey Department, Ministry of Development.
Mr. Hazarry Haji Ali Ahmad, Astronomical Society of Brunei Darussalam.
Mr. Hussain Ahmad, Universiti Brunei Darussalam.
Singapore:-
Mr. Firdaus Yahya.
Mr. Muhammad Ridhwan Ibrahim, Islamic Astronomical Society (IAS).
Thailand:-
Mr. Satid Dumrongpol, Muslim Astronomy Forum.
Mr. Alee Damsamut, Rajabhat Institute Phuket.
Mr. Niweateh Hajewaming, Prince of Songkla University Pattani.
Bangladesh:-
Mr. Khandakar A. Azim, North South University.
Sri Lanka:-
Mr. Ashrof Hussain, Sri Lanka Islamic Centre.
Mr. Abdul Wahab Mohamad Hussain, University of Colombo.
Mr. Mohamed Zarook, Sri Lanka Islamic Centre.
Mr. Mohamed Rasheed Mohamed Farook, The Abdul Azeez Foundation.
Mr. Ismail A Azeez, University of Colombo.
Mr. Mohamed Mahis.
Russia:-
Eng. Abdel Rahman Saleh.
Mr. Mikhail Petin,Institute of Philosophy.
India:-
Dr. Ali MM, National Remote Sensing Agency.
Eng. Dhoulath Beegum, TKM college of engineering.
Mr. Mohamed Meeran, The New College.
Mr. Jawaid Ahsan, National Centre For Biological Sciences.
Mr. Ahmad Saroor, Ranchi University.
Mr. Syed Naseer, Osmania Univesity College of Science.
Mr. Aejaz Ahmed, Public Vigilance Service, Chennai.
Mr. Fahad Bin Umar.
Maldives:-
Mr. Ahmed Salih, Member of (National) Committee for Astronomical Calculations/Supreme Council for Islamic Affairs.
Mr. Muthasim Fahmy, Department of Meteorology.
Pakistan:-
Mr. Muhammad Shafiq, Pakistan Space and Upper Atmosphere Research Commission (SUPARCO).
Mr. Omer bin Abdul Aziz, University of Engineering and Technology Lahore, and Lahore Astronomical Society (LAST).
Mr. Saif Qureshi, National Institute of Electronics, Islamabad.
Mr. Umair Asim.
Mr. Azeem Khan.
Mr. Muhammad Rashid.
Mr. Habib Hussain.
Mr. Asad Rasheed.
Mr. Ahmad Raja.
Mr. Mustafa Bilal.
Mr. Muhammad Zubair Qadri.
Mr. Salahuddin Chohan.
Tajikistan:-
Dr. Bahor Irkaev, Academy of Education Network.
Mauritius:-
Mr. Hamade Aubdoollah, City and Guilds of London Institute.
Iran:-
Mr. Asadollah Khoddam Mohammadi, Engineering School of Shiraz University.
Mr. Alireza Mehrani, Adib Astronomical Society.
Mr. Vahab Nafisi, Esfahan University.
Mr. Amir Hasanzadeh, North Star Group.
Mr. Hamid Rahkooi, North Star Group.
Mr. Zolfaqar Daneshi'nasab, The Amateur Astronomy Group.
Mr. Muhammad Ridha Shushtary, Open Islamic University.
Mr. Soheil Khoshbin Far, North Star Group(NSG).
Mr. Saeed Janghorban, Civil Engineering University, Adib Astronomical Society.
Miss. Leila Mir Shamshirgaran, Adib Astronomical Society.
Miss. Soheila Mir Shamshirgaran, Adib Astronomical Society.
Mr. Ardalan Alizadeh, North Star Group (NSG).
Mr. Mousa Zamani, Biruni Observatory.
Mr. Mahdi Motiei, Khorasan Earthquake Center.
Mr. Mohammad Reza Mourounian, Blue Stars Society.
Mr. Masoud Komeily, Adib Astronomical Society.
Mr. Gholamreza Joodaki, Zanjan University.
Mr. Mohammad Ali Haddad, Yazd University.
Mr. Mehdi Golkari, Islamic Azad University.
Mr. Mohammad Baghbani, Islamic Azad University.
Mr. Mohammad Hosein Almasi, Zaferanie Society.
Mr. Mohammad Zahed, Education Ministry of Iran.
Ms. Mahnaz Aminimoghaddam, Islamic Azad Univercity Of Shiraz.
Mr. Reza Amirzadeh, Kavir Amateur Astronomical Society.
Mr. Majid Marzani, Islamic Azad University.
Mr. Mohammadreza Khalilighazi, Academy of Persian language & literature.
Ms. Ziba Zamani, Astronomy Unlimited Boundaries Institute.
Mr. Hashem Kouchakzadeh, Shabahang Astronomy Center.
Mr. Siamak Niktalab, Islamic Azad University of Tehran.
Mr. Moien Uroomiyeh, Kavir Amateur Astronomical Society.
Mr. Saeid Aghaei, Khayyam Astronomy Club.
Mr. Kazem Kookaram, Zafaraneieh Observatory.
Mr. Nima Mossayebi, Isfahan University of Technology.
Mr. Salman Aram.
Mr. Ehsan Fooladi Kia.
Mr. Mahmoud Mokhtari.
Azerbaijan:-
Mr. Rza Safar.
Iraq:-
Mr. Mazin Al-Samaraie, UN.
Mr. Ismaeel Akhlite, Al-Mustanseria University.
Mr. Bacil Moudhaffar, University of Technology.
Yemen:-
Mr. Salem Jaidy.
Dr. Mojahid Najem.
UAE:-
Mr. Mohammad Odeh, JAS.
Dr. David McNaughton.
Mr. Abdulkarim Chalermthai.
Qatar:-
Sheikh Salman Althani.
Bahrain:-
Mr. Fathi Mayoof, University of Bahrain.
Kuwait:-
Mr. Adel Mohamed.
Mr. Hussain Khshaish.
Dr. Jalal Ad-Deen Khanji.
Mr. Ahmad Alattar.
Saudi Arabia:-
Mr. Saleh Al-Saab, King Abdul-Azeez City for Science and Technology/Astronomy Department.
Mr. Anwar Al-Muhammad, Qatif Astronomy Society (QAS).
Mr. Hani Al-Dalee, JAS.
Mr. Mohammed Al-Raddadi, Medina Tecnical College.
Dr. Salah Al-Swailem, King Abdul-Azeez City for Science and Technology.
Mr. Ali Al-Sabti.
Mr. Tariq Al-Betairi.
Mr. Ismail Al-Abdulmohsen.
Mr. Abdul Aziz Khan.
Palestine:-
Mr. Amer Attal.
Eng. Ayman Tirhi, Palestinian Astronomical Society (PAS).
Jordan:-
Eng. Tareq Hadi, JAS.
Dr. Mashhoor Al-Wardat, Al-Hussien Bin Talal University.
Syria:-
Prof. Hasan Bealani, University of Aleppo.
Mr. AbdulKader Hamdo, University of Aleppo.
Mr. Ayman Saddik.
Mr. Loai Skouti.
Lebanon:-
Mr. Farid Nakhle, Center for Study & Research.
Mr. Ahmad Raad, Ministry of Telecommunications.
Egypt:-
Dr. Maher Nofal, R&D Aviation Center.
Mr. Mohammed Abd El-Rasoul, Tanta University.
Dr. Ahmed Fathy, National Research Institute of Astronomy and Geophysics (Helwan Observatory).
Mr. Mohamed Shoshan, Ain Shams University.
Dr. Ali Gamal, National Research Institute of Astronomy and Geophysics.
Dr. Waleed Elsanhoury, National Research Institute of Astronomy and Geophysics.
Sudan:-
Dr. Muawia Shaddad, University of Khartoum.
Libya:-
Mr. Jamal Malhuf, Arab Maritime Tansport Aademy.
Mr. Salem Sahid.
Tunis:-
Mr. Younes Benaissa.
Algeria:-
Mr. Bankih Kacem, AMNIR: Amateur Club of Astronomy.
Dr. Jamal Mimouni, University of Constantine.
Eng. Hamdouche Mourad, University of Constantine.
Dr. Nassim Seghouani, Algiers Observatory.
Mr. Yahia Meghine, National Computer Institute.
Dr. Abdelhamid Bouldjedri, University of Batna.
Mr. Hamdi Zakaria.
Ms. Saleh Bennahia.
Ms. Zakaria Hamdi Hamdi.
Mr. Elyas Abderrahman Haffaf.
Morocco:-
Prof. Hamid Touma, National Research Center Morocco.
Dr. Abdelkhalek Cheddadi, Mohammadia School of Engineering.
Mr. El Arbi Siher, Faculty of Sciences and Techniques.
Mr. Houdoud Hassan.
Ms. Fatima Boularhmane.
Mauritania:-
Dr. Abderrahmane Ould-Beddi, University of Nouakchott.
Dr. Elkhalil Maouloud, University of Nouakchott.
Kenya:-
Mr. MahmoodAli Essa.
Mr. Ali Darani, Islamic Da'wa and Irshad Trust.
Mr. Amir Saary, University of Nairobi.
Mr. Said Athman, National Union of Kenya Muslims.
Tanzania (Zanzibar):-
Mr. Abdulghany Msoma.
Mr. Hamza Rijal, University Of Aberdeen.
South Africa:-
Mr. Hashim Salie, Crescent Observers Society.
Mr. Abdul-Aleem Somers.
Mr. Abdurrazak Ebrahim.
Dr. Muhammad Ashraf Dockrat, Rand Afrikaans University.
Mr. Yusuf Agherdien, Eastern Cape Malayo Cultural Society.
Mr. Eric Khumalo, Anglo American.
Nigeria:-
Mr. Alabi Isiaq, University Of Ibadan.
Mr. Aminu Luqman, University of Ilorin.
Mr. Usman Duhhu, Abubakar Tafawa Balewa University.
Mr. Aminu Yakubu, Abubakar Tafawa Balewa University.
Dr. Mustapha Alimi, Ahmadu Bello University.
Mr. Babangida Imam, Intitute for Islamic & Arabic Studies Kaduna Nigeria.
Mr. Muhammed Ya'sin Qamardeen, Muslim Group For Crescent Sighting.
Eng. Hafiz Suleiman Wali, Education Tax Fund.
Mr. Ashim Sogunro, University of Lagos.
Mr. Ahmad Sa'ad, University of Lagos.
Dr. Mohammed Dlakwa.
Dr. Sani Mustapha.
Mr. Ibrahim Khaleel Maigari.
Mr. Ashim Sogunro.
Mr. Muhammad Manga Aliyu.
Mr. Bashir Muhammad Sani.
Mr. Ahmed Aliyu.
Mr. Adamu Garba.
Mr. Jabar Bibitayo Marouf.
Mr. Sani Dahiru Buba.
Mr. Aliyu S. Bello.
Mr. Oba Ibrahim.
Mr. Abdur Raheem Shuaib.
Mr. Abdulrazak Oke, University of Lagos.
Mr. Shuaib Agbarere, Lajinatul Hilla Islamiyyah.
Senegal:-
Dr. Abdoulaye Gaye, Chairman Committee on Data for Science and Technology (CODATA Senegal) of the International Council for Science (ICSU).
Mr. El Ababacar Ndiaye.
Finland:-
Mr. Syed Muhammad Ashraf, The Finnish Islamic centre.
Bosnia and Herzegovi:-
Mr. Kemal Sehbajraktarevic, Meteorological Institute of Bosnia and Herzegovina.
Germany:-
Mr. Kadir Yucel, Islamic Community Milli Gorus.
Mr. Gerhard Ahmad Kaufmann.
Mr. Syed Farhan Ahmed.
Mr. Moataz Shatta, University of Mainz.
Mr. Andreas Abdelqader Koschler, Intitut für Herzgestaltung.
Denmark:-
Mr. Mahboob Illahi.
Mr. Abdul-Shakir.
Norway:-
Eng. Muhammad Imran Mushtaq, Islamic Council Norway.
▀ Rukyatul Hilal Bulan Shafar 1427 Hijriyah Wilayah Indonesia ▀
Salam,
Bagi para penggemar rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk
menentukan awal penanggalan lunar/komariyah untuk bulan Shafar 1427
H. dapat melihat di link ini :
(IE: klik kanan - Open in New Window saja)
http://rukyatulhilal.tripod.com/shafar1427.html
Saya punya obsesi bagaimana kalo di Indonesia juga punya komunitas
Rukyatul Hilal yang beranggotakan masyarakat dari seluruh penjuru
Indonesia yang peduli dengan ilmu yang satu ini. Anggota itu
nantinya akan membuat laporan kenampakan hilal "yang dapat
dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun syariah" dari lokasi
masing2 di seluruh Indonesia (bukan mau bersaing dg Badan Hisab &
Rukyat lho) dan kepada para anggota akan dibekali dengan ilmu dan
ketrampilan teknik rukyatul hilal dan sistem hisab/perhitungan
astronomis dsb. Selama ini setiap menjelang puasa maupun hari raya,
masyarakat sering dibingungkan dengan perbedaan penentuan awal bulan
Hijriyah, apalagi pemerintah kadang mengesampingkan kriteria ilmiah
terhadap sebuah laporan terlhatnya hilal di Indonesia. Yang sering
terjadi
Dengan ini kita bisa memasyarakatkan Sistem Penanggalan Lunar yang
dipaikai umat Islam dalam rutinitas ibadah khususnya memulai
Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha yang sering menjadi perdebatan
(perbedaan). Saya sangat prihatin ketika melihat kenyataan bahwa
sangat sedikit diantara masyarakat kita yang paham bgmn kalender
Hijriyah disusun, awal puasa, idul fitri & idul ditentukan dan
sangat asing dg istilah rukyat. Malah yg sekarang populer
adalah "ruqyah" badaniah (mengetahui jin/aura yg bersemayam didalam
tubuh kita dsb lho..piye iki!).
Nah, lewat milis ( http://groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/ )
atau website ( http://rukyatulhilal.tripod.com ) kita bisa saling
memberikan informasi mengenai laporan tersbut, perkembangan sistem
hisab dan rukyat sampai informasi sistem global mengenai kenampakan
hilal di seantero belahan dunia lain.
Kita juga bisa bekerjasam dengan Badan Hisab Rukyat (BHR) baik dari
Tingkat Kabupaten sampai BHR Pusat di Jakarta mengenai Teknik Hisab
(program Komputer) yang akurat atau terobosan penggunaan alat bantu
optik (teleskop, binokuler dsb) termasduk kemungkinan
menggunakan "hight technology" untuk mewrukyat hilal tsb.
Kita juga bisa bergabung nantinya di Proyek Rukyat Hilal
Internasional dengan menjadi anggota ICOP ( http://icoproject.org )
dsb. Maaf ngelantur.
Ada yang mau terima tantangan ini.... kami tunggu...
Salam,
Mutoha
JAC-Yogyakarta